PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA

 Hari Minggu XVIII/A/2017

Dan 7:9-10.13-14; 2 Ptr 1:16-19; Mat 17:1-9;

PENGANTAR 
Hari ini Injil Matius (Mat 17:1-9) menceriterakan bagaimana Yesus menampakkan perubahan diri atau mengadakan transfigurasi kemuliaan-Nya kepada tiga rasul-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes di gunung Tabor. Tetapi sebelumnya di dalam Injil Matius (Mat 16:21-18) Yesus justru telah mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia akan pergi ke Yerusalem, dan disana Ia akan menderita dan mati dibunuh. Namun pada hari ketiga akan bangkit kembali.

HOMILI
Sebelum pergi untuk naik gunung yang lazim disebut gunung Tabor bersama dengan ketiga murid-Nya Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus sekitar sepekan sebelumnya sudah memberitahukan kepada segenap murid-Nya, bahwa Ia harus menderit, dibunuh namun akan bangkit kembali. Dan pada saat itu Yesus dengan tegas mengatakan kepada murid-murid-Nya: “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut” (Mat 16:24).

    Murid-murid-Nya kecewa mendengar ucapan Yesus itu. Maka Petrus menegur Yesus, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (ay. 22). Jawab Yesus sangat tegas: “Enyahlah Iblis, Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay.22).

    Inilah latar belakang kehendak Yesus mengajak Petrus bersama dengan Yakobus dan Yohanes naik ke gunung Tabor, di mana Yesus memperlihatkan diri-Nya dalam keadaan-Nya yang mulia! Yesus mau memperlihatkan dan meneguhkan hati murid-murid-Nya siapakah Diri-Nya itu sesungguhnya!

    Sangat penting kita perhatikan, bahwa nanti pada kesempatan lain, ketiga murid-Nya itu, yakni Petrus,Yakobus dan Yohanes, akan diajak juga oleh Yesus untuk pergi ke taman Getsemani untuk berdoa bersama sebelum memasuki masa kesengsaraan-Nya. Di Getsemani mereka melihat Yesus bergulat dalam batin menghadapi tugas-Nya yang berat sebagai Almasih. Ternyata Yesus, Guru mereka, yang telah berbuat baik, menolong banjak orang, dan yang sebelumnya telah mereka saksikan sendiri kemuliaan-Nya di gunung Tabor, ternyata memang harus menderita.

    Patut kita perhatikan, bahwa suara dari awan di langit yang terdengar di gunung Tabor, yang berbunyi: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia“, adalal ulangan suara dari surga, yang terdengar ketika Yesus dibapis di sungai Yordan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

    Apakah pesan Yesus yang disampaikan Yesus kepada kita dalam Injil Matius hari ini?

    Kita harus selalu terbuka untuk mendengarkan sabda Tuhan dan selalu bersedia melaksanakannya dengan jujur dan setia! Sabda Tuhan itu ialah meperhatikan dan melaksanakan hunungan antara perjuangan dan kemenangan. Dengan bahasa alkitabiah kristiani: antara penderitaan dan keselamatan atau kemuliaan! Petrus, Jakobus dan Yohanes sudah mendengarkan sabda Yesus, menyaksikan kemuliaan Yesus di gunung Tabor, tetapi kemudian juga menyaksikan pergulatan batinmYesus di taman Getsemani, bahkan juga penderitaan fisik dan maut di Golgota. Karena itu barangsiapa pun, seperti ketiga murid Yesus itu, mau ikut mengambil bagian dalam kemuliaan Yesus kelak di surga, harus bersedia juga mengambil bagian dalam penderitaan-Nya!

    Ceritera Injil Matius tentang transfigurasi Yesus hari ini mengingatkan kita untuk selalu mendengarkan sabda Allah di dalam hidup kita. Kita sering mendengarkan sabda Yesus, namun sering tidak taat untuk melaksanakannya dalam kata dan perbuatan dalam hidup kita sehari-hari. Di atas gunung Tabor wajah Yesus memang “bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat 17:2). Tetapi ketika tergantung di kayu salib di bukit Golgota, wajah-Nya suram dan tubuh-Nya nyaris total telanjang! (lih.Mat 27:35). Mungkin kita akan bertanya: “Mengapa Allah menyembunyikan kemuliaan-Nya di gunung yang tinggi, sehingga banyak orang tidak dapat melihatnya? Mengapa Allah tidak menyelamatkan Dia dari hukuman-Nya di kayu salib“. Jawaban kita manusia ialah: Kebijaksanaan ilahi bukanlah kebijaksanaan manusiawi!

    Agar sungguh mampu memahami kemuliaan Allah dalam diri Yesus, kita harus bersedia memperhatikan dan memahami apa yang terjadi di kedua gunung atau bukit ini: baik Tabor maupun Golgota! Transfigurasi atau perubahan penampakan diri Yesus dapat kita lihat dan kita pahami sebagai suatu modus atau cara kehadiran Kristus, yang memperhatikan segalanya, seperti yang dapat kita alami dan membingungkan diri kita, sehingga kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi Kristus selalu menunjukkan wajah-Nya, yang sebenarnya dalam menghadapi situasi dan kondisi yang dialami-Nya. Wajah Kristus yang girang gembira maupun yang sedih, bersinar ataupun suram, dan senyum, lembut dan penuh kasih, tetapi juga marah, namun selalu setia akan sabda dan kehendak Bapa-Nya, yang selalu mau memberikan hiburan dan perdamaian.

    Semoga apapun yang kita lihat dalam pengalaman Yesus di Golgota, selalu kita satukan dengan apa kita lihat seperti Petrus,Yakobus dan Yohanes dalam pengalaman Yesus di gunung Tabor!

 Penderitaan bukanlah sesuatu yang kita cari, bukanlah pula nasib definitif kita, melainkan merupakan suatu jalan menuju kebahagiaan, seperti telah ditempuh oleh Yesus Kristus sendiri!

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

http://www.imankatolik.or.id/