Hukum Kasih dalam Fratelli Tutti dan Perayaan Valentine

Oleh: Tripleway

Bulan Februari bagi pasangan muda biasa identik dengan cokelat, hadiah dan ungkapan cinta. Ketiga hal tersebut menjadi nuansa ikonik di bulan Februari karena di bulan ini terdapat perayaan yang diadakan setiap tanggal 14 Februari di seluruh dunia termasuk Indonesia yaitu Hari Valentine. Terdapat beberapa versi sejarah yang mencatat awal mula dari perayaan Hari Valentine ini salah satunya adalah sejarahnya yang berasal dari kisah legenda Santo Valentine.

Ilustrasi Valentine. Sumber: Freepik.

 

Sejarah Hari Valentine

Kisah Santo Valentine ini disebut legenda karena tidak terdapat catatan rinci yang dapat memverifikasi kebenaran dari kisah atau sejarah ini. Legenda ini menceritakan bahwa Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena Imam Valentine dianggap menentang kebijakan seorang Kaisar bernama Claudius II. Dikutip dari Detik.com, Claudius II dikenal kejam setelah membuat Roma terlibat dalam berbagai pertempuran berdarah. Roma harus selalu menang dalam peperangan sehingga Sang Kaisar harus menunjukkan memiliki tentara yang kuat. Sayangnya, hal tersebut ternyata sulit untuk diwujudkan karena menurut Sang Kaisar, bala tentaranya enggan pergi ke medan perang karena terikat pada istri atau kekasih mereka. Untuk mengatasinya Claudius II melarang semua bentuk pernikahan serta pertunangan yang ada pada Roma.

 

Santo Valentine. Sumber: Pinterest.

Imam Valentine ini justru menentang kebijakan tersebut dengan berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Tindakan ini diketahui oleh Kaisar sehingga Imam Valentine ditahan serta dihukum lalu tubuhnya dipukul hingga dipancung. Hukuman ini menjadikan sebuah tanda sebagai peringatan atau perayaan yang dilakukan setiap tanggal 14 Februari. Sejarah Valentine yang sebenarnya ini memang lebih banyak dipercaya sebab legenda yang beredar menyebutkan bahwa Valentine meninggalkan catatan perpisahan untuk putri penjaga penjara yang menjadi temannya. Catatan bertuliskan ‘From Your Valentine’ ini menjadi populer dan banyak menginspirasi. Atas jasanya, Valentine dinobatkan sebagai orang suci hingga disebut sebagai Santo Valentine.

 

Tradisi Valentine Gereja dan Fratelli Tutti

Paus Fransiskus. Sumber: Komkat KWI

Hari Valentine, biasanya juga dikenal dengan hari kasih sayang oleh sebagian orang. Dalam Gereja Katolik, kasih sayang merupakan pokok ajaran yang diajarkan oleh Yesus Kristus kepada para pengikutnya. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (TB Yoh 13:34). Selain dari kitab suci dan ajaran Yesus sendiri, Gereja Katolik juga memiliki sebuah dokumen yang disebut “Fratelli Tutti”. Dokumen yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus pada tanggal 03 Oktober 2020 ini berisi tentang persaudaraan universal dalam cara hidup Fransiskus Assisi yang memperlakukan segenap makhluk sebagai saudara dan saudari. Terdapat beberapa poin yang patut diperhatikan di dalam dokumen ini yaitu:

  1. Ensklik ini dimulai dengan penekanan bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga manusia, anak dari satu Pencipta, berada dalam perahu yang sama, dan karenanya kita perlu menyadari bahwa dunia yang terglobalisasi dan saling berhubungan ini hanya bisa diselamatkan oleh kerja sama kita semua.
  2. Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Hidup Bersama atau Dokumen Abu Dhabi yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar pada Februari 2019 menjadi salah satu inspirasi ensklik ini, yang dikutip berkali-kali.
  3. Salah stau konteks lahirnya ensiklik adalah pandemi Covid-19 yang menurut Paus Fransiskus “meletup secara tak terduga” saat dia “menulis ensiklik”. Ia menyatakan, keadaan darurat kesehatan global akibat pandemi telah membantu menunjukkan bahwa “tidak ada yang dapat menghadapi kehidupan dalam isolasi” dan bahwa waktunya telah benar-benar datang untuk “bermimpi, kemudian, sebagai satu keluarga manusia” di mana kita semua adalah “saudara dan saudari “(7- 8).

Dari beberapa poin tersebut dapat dilihat bahwa terdapat kemiripan permenungan antara perayaan Hari Valentine dan dokumen Fratelli Tutti. Kedua hal tersebut sama-sama menyoroti hal yang sama yaitu tentang cinta kasih. Sebagai orang Katolik, di perayaan Hari Valentine ini kita hendaknya memberikan cinta kasih bukan hanya kepada orang-orang yang kita cintai tetapi kita harus berusaha juga memberikan cinta kasih kepada semua orang seperti cara hidup Fransiskus Assisi yang menjadi dasar dari dokumen Fratelli Tutti.

 

Hari Valentine di Tengah Masa Pandemi

Cinta kasih yang dapat diberikan kepada semua orang pada Hari Valentine pada tahun ini sedikit berbeda jika dibandingkan Hari Valentine yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kita sama-sama berada dalam perjuangan di dalam penderitaan pandemi Covid-19. Meskipun dalam masa pandemi, bukan berarti kita lalu berhenti untuk berbagi kasih dengan orang lain. Justru dalam masa pandemi  kita dituntut untuk semakin menyadari bahwa “tidak ada yang dapat menghadapi kehidupan dalam isolasi” dan bahwa waktunya telah benar-benar datang untuk “bermimpi, kemudian, sebagai satu keluarga manusia” di mana kita semua adalah “saudara dan saudari “ (Fratelli Tutti, 2020, 7- 8).

Lalu, bagaimana cara kita untuk berbagi kasih di masa pandemi? Jika kita melihat kondisi yang terjadi sekarang ini, terdapat segelintir orang yang menganggap bahwa orang yang terkena Covid-19 patut diasingkan dan dijauhi. Bahkan terdapat beberapa kasus yang menolak para jenazah korban Covid-19 untuk dimakamkan di suatu daerah. Tentunya hal-hal yang terjadi tersebut sangat bertentangan dengan nilai kasih yang diajarkan oleh Yesus.

Sebagai seorang pengikut Kristus, sudah sepatutnya kita memperhatikan saudara-saudari yang tertimpa kemalangan, misalnya dengan cara memberikan bantuan makanan bagi orang yang terpaksa melakukan isolasi di rumah, dan tetap memberikan mereka perhatian dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu, dengan taat memakai masker pun kita sebenarnya sudah ikut serta dalam pengamalan kasih kepada sesama karena dengan memakai masker kita dapat memutus rantai penyebaran Covid-19 ini sehingga tidak menyebar dan menambah jumlah penderitanya.

Perayaan Valentine tahun ini memiliki banyak perjuangan dan hambatan. Tetapi justru karena hambatan dan perjuangan tersebut, kita menjadi bisa belajar bahwa kasih itu harus diberikan tanpa syarat kepada semua orang. Mari jadikan Valentine tahun ini sebagai moment pengingat bagi kita untuk terus memberikan kasih kepada semua orang karena kasih itu universal dan diberikan tanpa syarat.

 

Sumber:

Karya Kepausan Indonesia

Komkat KWI

Detik.com

Katolisitas

Congkasae

Menyambut Natal ditengah Pandemi

Tak terasa kita telah melewati Minggu ketiga Adven, yang artinya tak lama lagi Natal pun segera datang. Natal berasal dari bahasa Portugis yang berarti kelahiran. Natal merupakan hari raya kelahiran Yesus Kristus yang diperingati umat Kristen setiap tanggal 25 Desember. Natal dirayakan dalam ibadat pada malam tanggal 24 Desember dan 25 Desember.

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja-gereja mulai sibuk dengan berbagai kegiatan dan tradisi perayaan natal, seperti : menghias pohon Natal, melakukan perjamuan makan bersama, maupun aksi solidaritas natal. Sudah menjadi tradisi di dalam Gereja dalam menyambut Natal yang biasanya selalu meriah dan penuh sukacita.

Namun kita semua mengetahui bahwa kondisi masyarakat dunia di tahun ini sangatlah berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pandemi Virus Covid-19 yang tak kunjung berakhir menjadi penyebabnya. Sudah kira-kira 10 bulan lamanya Virus Covid-19 atau yang biasa kita sebut virus corona ini menyerang berbagai daerah di Indonesia. Selama itu pula, banyak sekali aspek-aspek kehidupan kita terganggu dan mengalami perubahan secara drastis.

Sejak virus corona ini menyebar di Indonesia dan pertambahan kasus orang yang positif semakin banyak. Pemerintah mulai menerapkan berbagai kebijakan untuk mencegah virus ini agar tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Pada awal pandemi ini berlangsung, pemerintah mulai menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), jaga jarak, pengecekan suhu di ruang publik, gerakan mencuci tangan, dan masih banyak lagi.

Kehadiran virus corona ini pun mempengaruhi kehidupan kita sebagai umat beragama. Kita tahu bahwa sejak berkembangnya virus ini di awal tahun 2020, seluruh gereja ditutup. Seluruh kegiatan peribadatan dan misa dilakukan secara virtual melalui Youtube. Menjelang pertengahan tahun, gereja sudah mulai kembali mengadakan misa dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat dan juga membatasi umat yang hadir dalam setiap misa.

Tak berbeda dengan Misa Perayaan Natal yang sebentar lagi akan segera tiba. Kemeriahan untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat kali ini harus dirayakan dengan cukup berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, banyak dari kita yang memilih untuk melakukan misa virtual dari rumah saja.  Walaupun ada beberapa dari kita yang bisa melakukan misa secara langsung, namun tetap saja jumlah umat yang diperbolehkan hadir secara langsung di Gereja tetap dibatasi.

Lantas apakah hal ini harus mengurangi sukacita kita untuk menyambut Natal ? Tentu saja tidak. Walaupun kita semua memiliki kesedihan karena tidak bisa merayakan Natal dengan meriah atau pun dengan beramai-ramai, kita tetap harus menyambut kehadiran Tuhan Yesus dengan sukacita dan syukur yang sama besarnya. Justru dengan adanya kemelut dan kesulitan-kesulitan hidup yang kita alami sejak pandemi ini berlangsung, kita harus memperbesar harapan kita terhadap pertolongan Kristus.

Di masa pandemi ini kita didorong untuk tetap bersyukur dan menyambut Tuhan dengan rendah hati, tanpa perlu acara-acara meriah, tanpa perlu pesta-pesta natal. Namun kita diajak untuk menyambut tuhan dengan kesederhanaan seperti Yesus yang lahir di dalam kandang. Yesus akan tetap datang dan hadir ke dalam hidup kita tanpa kita harus melakukan penyambutan yang mewah. Yang terpenting pada saat ini adalah bagaimana kita mempersiapkan hati kita dengan penuh syukur dan penuh sukacita untuk merayakan kedatangan Tuhan Yesus ditengah kesederhanaan dan kesulitan yang kita hadapi di masa pandemi ini.

Syukur adalah sebuah ungkapan rasa berterima kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan kita berbagai anugerah dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya. Lalu apakah artinya bersyukur di tengah keprihatinan banyak orang di sekitar kita karena pandemi? Tentu saja di tengah masa seperti ini kita diajak berkaca kembali untuk mengucapkan rasa terimakasih kita atas hal-hal sederhana yang telah diberikan Tuhan seperti anugerah kehidupan, anugerah kesehatan, masih memiliki rejeki yang cukup, dll. Tak hanya itu, sesuai dengan tema masa Adven 2020: “Orang Katolik yang semakin erat bersatu dengan Kristus dan berbuah kasih”, kita semua diajak untuk bersyukur dengan cara “berbuah kasih”. Kita bisa “berbuah” salah satunya dengan cara berbagi. Terutama di saat pandemi seperti ini dimana situasi ekonomi memburuk dan banyak orang semakin terpuruk akibat penyakit dan kehilangan pekerjaan, kita diajak mengungkapkan syukur kita dengan berbagi berkat. Kita diajak untuk berbagi dan menghasilkan buah-buah kasih yang dapat menolong sesama kita dan dengan cara itu jugalah kita menyambut kehadiran Tuhan Yesus.

Marilah dengan sukacita kita menyambut Natal 25 Desember 2020 dan Tahun Baru 1 Januari 2021, dengan semangat memberitakan Injil dan terus mengalami penghiburan dari Kristus untuk saling menguatkan satu dengan yang lain dan untuk semakin berbuah kasih. Marilah kita mewarnai Perayaan Natal dan Tahun Baru ini dengan kesederhanaan tetapi dengan limpah sukacita dan penuh rasa syukur, sambil kita terus berdoa bagi seluruh warga bangsa Indonesia agar terbebas dari pandemi Covid-19, agar bangsa kita segera pulih dari berbagai macam kesulitan dan permasalahan yang terjadi di berbagai aspek kehidupan kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by : Gisella

 

Mengenal Tradisi Masa Adven

Oleh: Polycarpus

Memperingati peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, Gereja dan seluruh umatnya tentu harus melakukan persiapan. Persiapan inilah yang kita kenal dengan Masa Adven. Kata ‘Adven’ berasal dari bahasa Latin ‘Adventus’ yang artinya ‘Datang’. Ada dua pengertian kata ‘Adven’. Pertama, menantikan kedatangan Yesus yang dirayakan pada Hari Raya Natal. Kedua, menantikan kedatangan Yesus yang ke dua (parousia) pada akhir zaman. Pengertian ini menandakan Gereja yang berziarah menuju kepenuhannya pada akhir zaman pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Masa Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas (Rasul) pada setiap 30 November. Masa Adven ini berlangsung selama empat minggu persiapan dan empat hari Minggu. Namun, biasanya minggu terakhir Adven terpotong dengan tibanya Masa Raya Natal. Sulit menentukan awal mula adanya Masa Adven.

Ilustrasi Kelahiran Yesus. Sumber: bmvkatedralbogor.org

 

Sejarah Penentuan Masa Adven

Pada abad ke-4, bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja dengan penekanan pada doa dan puasa selama tiga minggu. Kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Sedangkan di Roma Masa Adven belum ada hingga abad keenam. Paus St Gelasius I (wafat tahun 496) merupakan Paus pertama yang menerapkan Liturgi Adven selama 5 hari Minggu. Kemudian pada tahun 1073-1085, Paus St Gregorius VII mengubah jumlah hari minggu dalam Masa Adven menjadi empat hari minggu hingga sekarang. Sekitar abad ke-9, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan liturgi Gereja.

Memang sejarah Adven kurang bisa dijelaskan secara rinci, namun makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus. Pada masa ini, Kristus sangat-sangat dinantikan kedatangan-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Maka, kata ‘Adven’ harus kita maknai sungguh, yakni ‘dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang’.

 

Asal Usul Lingkaran Adven

Selama Masa Adven, kita sering melihat di dekat altar terdapat ‘Lingkaran Adven’ yang terdiri dari empat lilin, yaitu tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven. Setiap minggu, sebatang lilin Adven dinyalakan.

Pemilihan warna-warna lilin ini bukan tanpa alasan. Lilin ungu melambangkan pertobatan. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu ‘Gaudete’ (dalam bahasa Latin berarti sukacita). Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu).

Ilustrasi Lilin Adven. Sumber: ikatolik.com

Pada Hari Natal, keempat lilin digantikan dengan lilin-lilin putih. Lingkaran Adven atau Adven wreath biasanya dibuat dari daun-daun segar berwarna hijau. Hal ini diadaptasi dari kebiasaan orang Jerman sebelum Kekristenan berkembang. Sering beberapa dari kita bertanya-tanya, “Mengapa berbentuk lingkaran?”. Jawabannya adalah karena bentuk lingkaran tidak memiliki awal dan akhir. Lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

 

Makna Setiap Minggu dalam Masa Adven

Setiap minggu dalam Masa Adven, memiliki arti khusus. Sebagai umat Kristiani, kita diajak untuk merenung dengan tema dan ujub tertentu. Minggu Adven I ditandai dengan sebatang lilin ungu yang memiliki arti tidak hanya pertobatan namun juga berarti harapan. Umat menantikan Yesus Kristus dengan penuh harapan dan sukacita. Lilin pertama yang dinyalakan disebut Lilin Nabi yang mengingatkan bahwa para nabi mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias.

Minggu Adven II mempunyai arti kesetiaan dan cinta. Ini mengingatkan kita untuk tetap setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Lilin kedua disebut Lilin Betlehem yang berarti Yesus Kristus Sang Juru Selamat akan lahir di dalam hati kita. Minggu Adven III memiliki arti sukacita yang ditandai dengan dua lilin ungu dan satu lilin merah jambu. Kita bersukacita untuk menyambut kelahiran Yesus. Lilin ketiga disebut Lilin Gembala karena kabar sukacita kelahiran Yesus pertama kali diberitahukan kepada orang-orang yang rendah hati dan tulus.

Minggu Adven IV ditandai dengan tiga lilin ungu dan satu lilin merah muda. Minggu keempat memiliki arti perdamaian. Lilin keempat disebut Lilin Para Malaikat yang melambangkan kebahagiaan dan sukacita menyambut kedatangan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat.

Dari semua yang kita ketahui tentang persiapan menyambut lahirnya Yesus Kristus Sang Juru Selamat atau Masa Adven, sudah sepatutnya kita mempersiapkannya dengan sungguh dan dengan sepenuh hati. Pertobatan dan penyesalan yang kita lakukan sebelum memasuki Masa Adven akan membuat hati kita siap dan layak untuk menerima rahmat keselamatan dari Tuhan.

 

 

Sumber:

Katolisitas.org <https://www.katolisitas.org/seputar-adven-dan-natal/>

PGI.or.id <https://pgi.or.id/asal-mula-masa-adven/>

Katolikpedia.id <https://katolikpedia.id/masa-adven-agama-katolik/>

Devosi Kepada Bunda Maria dibulan Mei dan Oktober, Apa Bedanya ?

Sebagai anggota Gereja Katolik, kita mengenal adanya devosi khusus pada bulan-bulan tertentu dalam kalender liturgi Gereja Katolik yang selalu kita rayakan tiap tahunnya. Contohnya, kita mengenal bahwa bulan Mei disebut sebagai bulan Maria, September sebagai bulan Kitab Suci dan Oktober sebagai bulan Rosario. Namun, masih banyak umat yang belum mengetahui, mengapa kita melakukan 2 bulan untuk berdevosi kepada Bunda Maria, yaitu Mei dan Oktober, lalu apa beda dari keduanya ?

Kita mengetahui ada 2 bulan untuk menghormati Bunda Maria, yaitu pada bulan Mei dan bulan Oktober. Sejarah bulan Mei sebagai Tradisi Suci untuk berdevosi kepada Bunda Maria awalnya didedikasikan untuk memperingati pemberian kehidupan yang baru. Di negara-negara yang memiliki 4 musim seperti Eropa dan Amerika, pada bulan Mei, merupakan permulaan musim semi, dimana pada musim ini merupakan musim bunga-bunga bermekaran dan merupakan iklim yang baik bagi pertanian untuk menanam kembali setelah musim salju. Maka pada bulan Mei didedikasikan sebagai ungkapan syukur kepada Yesus melalui Bunda Maria dan ungkapan penghormatan Maria sebagai “Hawa Baru” yang mana ungkapan Hawa adalah “Ibu dari segala yang hidup”. Maka dari itu Devosi pada bulan Mei dinamakan Bulan Maria.

 

Kapankah Gereja mulai mendedikasikan bulan Mei sebagai Bulan Maria ??

Sejarah tradisi ini mulai dilakukan pada akhir abad ke-13 dan dipopulerkan oleh para Jesuit di Roma pada tahun 1700-an dan kemudian menyebar ke seluruh Gereja. Pengalaman Iman oleh Paus Pius VII menguatkan Tradisi ini ketika pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh serdadu Napoleon dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus berdoa kepada Yesus melalui perantara Bunda Maria agar ia dapat segera dibebaskan dari penjara. Dalam doanya tersebut Paus berjanji jikalau doanya dikabulkan, maka ia mendedikasikan bulan khusus dimana umat berdevosi kepada Bunda Maria. 24 Mei 1814, Paus dibebaskan dari penjara dan kembali ke Roma. Pada tahun berikutnya Paus Pius VII mengumumkan perayaan “Bunda Maria Penolong Umat Kristen”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX mengumumkan dogma “Maria Terkandung Tanpa Noda” dan devosi pada Bunda Maria semakin dikenal.

 

Lantas apakah perbedaan antara devosi pada bulan Mei dan bulan Oktober ? Mengapa harus 2 kali ?

Berbicara mengenai tradisi selanjutnya yaitu pada Bulan Oktober, kita mundur ke 3 abad sebelumnya yaitu pada tahun 1571. Pada saat itu negara-negara Eropa mendapat ancaman dari Turki dan Kesultanan Ottoman yang melakukan invasi pada negara-negara Eropa. Terdapat ancaman bahwa agama Kristen akan punah di Eropa karena semakin meraja-lelanya kekuasaan Ottoman dan kesempatan negara-negara Eropa bertumpu pada pertempuran Lepanto, untuk menghalau invasi Ottoman di daerah negara-negara di sekitar laut Mediterania, namun jumlah pasukan kesultanan Ottoman melampaui jumlah pasukan Kristen.

Menghadapi ancaman ini, Don Juan dari Austria komandan Armada Katolik, berdoa rosario, memohon pertolongan Bunda Maria. Hal ini kemudian diikuti oleh seluruh pasukan untuk berdoa Rosario. Di Eropa daratan seluruh umat menderaskan doa Rosario melalui seruan Paus Pius V dengan berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Dari subuh hingga petang doa Rosario didaraskan demi kemenangan pertempuran Lepanto. Dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dan nampaknya tidak mungkin memenangkan pertempuran itu, namun pada 7 Oktober 1571 pasukan Katolik memenangkan pertempuran Lepanto.Mendengar kabar itu, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan pada tiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya Paus Gregorius XIII, menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario Suci.  Pesta ini awalnya hanya dilakukan oleh gereja-gereja yang altarnya didedikasikan bagi Bunda Maria. Namun pada tahun 1716, Paus Klemens XI menyebarluaskan perayaan ini hingga ke seluruh dunia. Peristiwa Lepanto Battle ini membuktikan bahwa Bunda Maria telah menyertai Gereja dan umat beriman melalui doa Sang Bunda kepada Tuhan Yesus, untuk menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini.

Selanjutnya Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario pada tanggal 1 September 1883. Bapa suci meminta agar seluruh umat berdoa rosario dan Litani Santa Perawan Maria dari Loreto pada setiap hari di bulan Oktober agar Gereja mendapat bantuan Bunda Maria dalam menghadapi aneka bahaya yang mengancam. Pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik October Mense (The Month of October; Bulan Oktober), yang menyatakan bahwa bulan Oktober dikhususkan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.

Jadi, Dimanakah letak perbedaan bulan Mei dan bulan Oktober ?

Setelah menilik dari sejarah masing-masing bulan devosi kepada Bunda Maria ini, kita dapat melihat adanya perbedaan mendasar yang nampak jelas pada 2 bulan devosi ini, dilihat dari tujuan utama dari devosi ini. Bulan Mei memperingati Bunda Maria sebagai “Hawa baru” yang melahirkan kehidupan. Sedangkan bulan Oktober ditujukan sebagai bulan Rosario.

Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Yang perlu kita lakukan sebagai umat beriman adalah untuk meneruskan Tradisi Suci ini sehingga relasi kita sebagai umat yang masih mengembara di bumi dengan para Kudus di surga tidak terputus dan Maria yang dipilih Allah dalam peristiwa inkarnasi, dipilih juga sebagai pendoa bagi anak-anaknya di bumi, menolong serta menyertai anak-anak-Nya. Maka sebaiknya kita sebagai anak-anak-Nya pun tidak ragu untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui perantara Bunda Maria kapanpun dan dimanapun, dan dalam keadaan apapun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by : Dimas

Edited by : Gisella

 

 

 

 

 

 

Sumber :

www.katolisitas.org

parokijetis.com

parokiserpong-monika.org

Beato Carlo Acutis, Sang Pewarta Masa Kini

Reporter: Maria Fransiska

Dalam Gereja Katolik, beatifikasi (dari bahasa Latin “beatus”, yang berbahagia) adalah suatu pengakuan atau pernyataan yang diberikan oleh Gereja terhadap orang yang telah meninggal bahwa orang tersebut adalah orang yang berbahagia. Beatifikasi diberikan kepada orang yang dianggap telah bekerja sangat keras untuk kebaikan atau memiliki keistimewaan secara spiritual. Seseorang yang mendapat beatifikasi diberi gelar beato untuk laki-laki dan beata untuk perempuan. Proses ini merupakan tahap ketiga dari empat tahapan dalam proses kanonisasi yang biasanya dilakukan setelah mendapat gelar venerabilis (yang pantas dihormati) sebelum mendapat gelar santo atau santa.

Carlo Acutis tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Katolik. Acutis yang diberi gelar Beato pada 10 Oktober ini tercatat sebagai remaja yang memberikan pengabdian besar dalam Ekaristi dan menjadi milenial pertama yang diberkati dengan gelar Beato. Dilansir dari Kompas.com, Carlo Acutis dikenal juga sebagai “Santo Pelindung Internet” meskipun sebelumnya sudah ada satu, akademisi abad ke-7, Isidore de Seville. Mari kita mengenali lebih dalam tentang sosok Carlo Acutis.

Hidup Ekaristis

Acutis lahir pada tanggal 3 Mei 1991, di London, Inggris, tempat orang tuanya bekerja. Beberapa bulan kemudian, orang tuanya, Andrea Acutis dan Antonia Salzano, memutuskan untuk pindah ke Milan saat ia berusia 5 bulan. Acutis yang  dibaptis ketika bayi ini belum pernah diajarkan iman Katolik oleh keluarganya. Walaupun begitu, saat masih balita dan belum bersekolah  Acutis sudah menunjukan cintanya kepada gereja. Ibu Acutis bercerita bahwa sejak kecil, setiap melewati gedung-gedung gereja di Milan, Acutis akan meminta ibunya untuk masuk  melihat Yesus dan meminta ibunya meletakan bunga di bawah kaki Bunda Maria. Disinilah awal di mana Acutis menyentuh hati ibunya untuk kembali mempelajari iman katolik dengan mengikuti kursus teologi.

Beato Carlo Acutis. Sumber: Kompas.com

Pada usianya yang ke-7 tahun, Acutis menerima Komuni Pertama di Biara St. Ambrogio ad Nemus. Sejak saat itu, Acutis berusaha menghadiri setiap misa di gereja. Acutis tidak hanya mengikuti misa hari Minggu, tetapi ia juga tidak pernah absen mengikuti misa harian. Ia juga rajin melakukan pengakuan dosa setiap minggunya. Tindakan Acutis yang rajin mengikuti ekaristi membuat hati keluarganya tergerak untuk kembali ke gereja dan rajin mengikuti misa harian. Antonia Salzano, Ibu Acutis terus terang berkata bahwa sebelum Acutis mempengaruhinya untuk mencintai Ekaristi, ia hanya misa tiga kali, yaitu pada saat dilahirkan, saat mendapat komuni pertama, dan saat menikah. Acutis rajin mengikuti Ekaristi bukan berasal dari desakan keluarganya melainkan keinginan dirinya sendiri.

Kekuatan Acutis berasal dari Ekaristi dan Bunda Maria. Sejak remaja, Acutis rutin berdoa Rosario setiap hari dan di samping devosi ke santo-santa. Ia sering menghabiskan waktu di ruang adorasi. Ia pernah berkata, “Ketika kita sering terpapar matahari kulit kita akan menjadi coklat. Ketika kita menempatkan diri di depan Ekaristi, kita akan menjadi orang suci,”.

Internet sebagai Sarana Pewartaan

Acutis dikenang sebagai anak yang periang dan suka membela teman-temannya yang di-bully, terutama anak-anak disabilitas. Ketika orang tua seorang temannya akan bercerai, Acutis juga melakukan upaya khusus yaitu membawa temannya itu ke dalam keluarganya. Layaknya anak remaja lain, Acutis juga suka bermain sepak bola dan video games. Walaupun ia senang bermain play station tetapi ia bisa mengontrol diri untuk bermain hanya satu jam di setiap pekan. Acutis juga menunjukan kegemarannya dalam hal membaca dan mempelajari ilmu komputer. Pada saat usianya yang ke-8 tahun, Acutis sudah memiliki bakat besar sebagai programmer. Hal yang menarik di sini bukanlah dari talentanya saja, tetapi juga perjalanannya menggunakan talenta tersebut sebagai sarana menjadi misionaris internet.

Acutis prihatin melihat umat Kristiani yang makin menjauh dari Gereja dan sakramen. Ia ingin merangkul mereka kembali, menemukan iman dan keperayaan mereka terhadap Gereja Katolik. Acutis lalu membuat riset mendalam tentang mukjizat Ekaristi di seluruh dunia sejak awal kekristenan sampai masa sekarang dan mendokumentasikannya sejak usia 11 tahun. Hasil dari riset tersebut kemudian diterbitkan di website-nya yang mulai dirintis pada usianya ke-14 tahun. Ia menyatakan di website-nya “Semakin kita sering menerima Ekaristi, semakin kita menyerupai Yesus, sehingga kita akan mengecap rasa surga di bumi ini.”. Acutis juga pernah mempopulerkan istilah “Ekaristi adalah jalan tol ke surga.”.

Menghayati Penderitaan

Ketika ia tidak sedang menulis program komputer atau bermain sepak bola, Acutis dikenal di lingkungannya karena kebaikannya terhadap mereka yang hidup di pinggiran. Ia menjadi sukarelawan di dapur umum di Milan. Ibunya juga berkata “Dengan tabungannya, ia membeli kantong tidur untuk para tunawisma dan di malam hari ia membawakan mereka minuman panas.”

Beato Carlo Acutis. Sumber: Twitter Infobae America

Saat usianya yang ke-15, Acutis didiagnosis menderita leukemia. Ia mempersembahkan penderitaannya untuk Paus Benediktus XVI dan Gereja di mana ia mengatakan “Aku mempersembahkan semua penderitaan yang harus aku derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja.” Carlo Acutis menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 12 Oktober 2006 dan dimakamkan di Assisi sesuai permintaannya.

Ditetapkan sebagai Beato, Teladan bagi Milenial

Proses Acutis untuk mendapat gelar suci dimulai pada tahun 2013. Ia ditetapkan sebagai “Yang Mulia” pada tahun 2018. Untuk diterima sebagai Beato, diperlukan suatu mukjizat yang terjadi dan diakui resmi oleh Vatikan. Mukjizat yang mengantar Acutis menjadi Beato adalah mukjizat penyembuhan seorang anak kecil di Brazil yang menderita penyakit kanker pankreas yang jarang terjadi di dunia pada tahun 2013. Pada 14 November 2019, Dewan Medis yang memproses kanonisasi menyimpulkan memang benar terjadi mukjizat penyembuhan lewat perantaraan doa Acutis.

Setelah memenuhi syarat menjadi Beato, akhirnya pada tanggal 10 Oktober 2020 Carlo Acutis dinobatkan sebagai Beato atau yang berbahagia. Paus Fransiskus menjadikan Acutis sebagai teladan bagi para milenial dengan menulis bahwa Acutis mampu menggunakan internet dan teknologi untuk menyebarkan injil. “Memang benar bahwa dunia digital dapat membuat Anda menghadapi risiko ketergantungan, apatis, dan (hanya) kesenangan sesaat. Namun, jangan lupa bahwa ada anak muda, bahkan ada yang menunjukkan kreativitas bahkan jenius. Itulah yang terjadi pada Beato Carlo Acutis,” tulis Paus pada tahun 2018.

Paus melanjutkan, “Carlo sangat menyadari bahwa seluruh perangkat komunikasi, periklanan, dan jejaring sosial dapat digunakan untuk membuai kita, membuat kita kecanduan konsumerisme dan membeli barang terbaru di pasar, terobsesi dengan waktu luang, terjebak dalam hal-hal negatif. Namun, dia tahu bagaimana menggunakan teknologi komunikasi baru untuk menyebarkan Injil, untuk mengomunikasikan nilai-nilai dan keindahan.”

Pesan untuk Kaum Muda

Kita pun sebagai umat Kristiani dapat belajar dari keteladanan hidup Beato Carlo Acutis. Di tengah pengaruh dunia yang begitu mengikat ternyata roh kudus masih bekerja di dalam diri kita jika kita membuka hati untuk kehadiran-Nya dan taat menjalankan ajaran-Nya. Beato Carlo Acutis menjadi bukti nyata bahwa di era sekarang masih ada anak muda yang tekun menjalankan ajaran Yesus dan menggunakan kemajuan teknologi untuk memberitakan injil. Harapannya, generasi muda Katolik juga semakin semangat mengikuti kristus serta berusaha menggunakan teknologi dengan bijak dan menjadikannya sebagai sarana untuk berbagi kebaikan.

Referensi:

Wikipedia
Kompas.com

Pemberitahuan Prosedur mengikuti Perayaan Ekaristi secara langsung Paroki St. Maria Assumpta Babarsari

Sehubungan dengan diadakannya Perayaan Ekaristi secara langsung di Paroki St. Maria Assumpta Babarsari, ada beberapa prosedur yang perlu menjadi perhatian bagi seluruh umat Paroki Babarsari, antara lain :

Untuk Umat Lingkungan

  1. Ketentuan perihal kriteria umat yang diperbolehkan mengikuti Perayaan Ekaristi, mengacu pada Surat Edaran dari KAS 0536/A/X/20-29, yaitu berumur sekurang-kurangnya 10 tahun (atau sudah menerima komuni) dan maksimal 65 tahun dan memiliki kondisi kesehatan yang prima serta tidak memiliki riwayat penyakit yang sangat rentan terhadap penularan virus.
  1. Ketentuan perihal kriteria umat yang diperbolehkan mengikuti Perayaan Ekaristi, mengacu pada Surat Edaran dari KAS 0536/A/X/20-29, yaitu berumur sekurang-kurangnya 10 tahun (atau sudah menerima komuni) dan maksimal 65 tahun dan memiliki kondisi kesehatan yang prima serta tidak memiliki riwayat penyakit yang sangat rentan terhadap penularan virus.
  2. Umat diwajibkan membawa KARTU MISA yang telah diedarkan sebelumnya melalui Ketua Lingkungan. Kartu Misa digunakan sebagai akses masuk untuk mengikuti Perayaan Ekaristi sesuai jadwal masing-masing lingkungan.
  3. Mematuhi dan mengikuti seluruh prosedur yang sudah ditetapkan oleh petugas.
  4. Bagi umat yang tidak dapat mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja, disediakan Misa Live Streaming pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, pukul 09.00 melalui akun Youtube KOMPARI dan dilanjutkan dengan penerimaan komuni di masing-masing lingkungan.

Ketentuan penerimaan komuni diatur sbb :

  1. Yang dilayani untuk menerima komuni di lingkungan adalah umat yang berusia diatas 65 tahun, umat yang sedang sakit, dan umat yang memiliki riwayat penyakit yang rentan terhadap penularan virus. Diluar kategori tersebut disarankan untuk tetap mengikuti perayaan ekaristi sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
  2. Pengaturan tempat/titik kumpul penerimaan komuni dapat diatur oleh masing-masing lingkungan bersama petugas prodiakon lingkungan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
  3. Selama menunggu petugas prodiakon menuju lokasi penerimaan komuni, umat dipersilahkan melakukan doa pribadi, atau bisa menggunakan doa sebelum komuni yang dapat diambil dari Buku Madah Bakti/Puji Syukur atau referensi buku doa lainnya.

 

Untuk Kalangan Mahasiswa/i

  1. Mengacu pada surat edaran dari KAS 0536/A/X/20-29, perihal himbauan agar umat diwajibkan mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki masing-masing, maka Mahasiswa/i yang diperbolehkan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja, adalah mereka yang berdomisili/kos/kontrak di wilayah Paroki St. Maria Assumpta Babarsari.
  2. Mahasiswa/i yang berdomisili di wilayah paroki Babarsari, wajib mendapatkan rekomendasi dari Ketua Lingkungan di tempat domisili masing-masing, untuk kemudian mendapatkan nomor urut dan kartu misa yang akan digunakan untuk registrasi di laman web : gmab.web.id/misa/ . Setelah registrasi di web, masing-masing akan menerima QR Code, yang akan digunakan sebagai akses masuk setiap hendak mengikuti perayaan Ekaristi.
  3. Mahasiswa/i yang berdomisili di wilayah Paroki Babarsari, dapat menghubungi ketua lingkungan masing-masing sbb :

Nomor Handphone Ketua Lingkungan Santa Maria Assumpta, Babarsari, Yogyakarta

  1. Perayaan Ekaristi khusus untuk kalangan mahasiswa/i pada hari Minggu Sore pukul 17.00 akan dibuka setelah proses registrasi di Ketua Lingkungan selesai dilakukan. Pemberitahuan pembukaan Perayaan Ekaristi ini akan disampaikan secara terpisah.

 

 

Demikian surat pemberitahuan ini disampaikan untuk menjadi perhatian bersama. Jika ada hal-hal lain yang ingin ditanyakan, dapat menghubungi kantor sekretariat paroki pada jam kerja atau melalui telephone 0274-487202 atau dapat menghubungi Kabid Liturgi (Lanto) di nomor 085228033982 melalui WA.

 

Semoga Tuhan selalu menyertai kita semua.