Sakramen Rekonsiliasi Melalui Video Call, Mungkinkah?

Wawancara dengan Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Oleh: Florence Elisabeth

Sakramen rekonsiliasi merupakan nama lain dari sakramen tobat. Dalam Kanon 959 tertulis bahwa dalam sakramen tobat umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim atau sah, menyesalinya serta berniat memperbaiki diri, lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan itu, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah baptis, dan sekaligus diperdamaikan kembali dengan Gereja yang mereka lukai dengan berdosa. Bapa Uskup menegaskan bahwa Sakramen tobat adalah sakramen dengan peniten (orang yang bertobat) mengaku dosa yang sudah dilakukan kepada pelayan yang legitim atau sah, yakni kepada imam yang telah ditahbiskan secara sah dan telah mendapatkan fakultas/kewenangan dari Uskup Diosesan untuk mendengarkan pengakuan dosa.

Dalam Kanon 959 tertulis bahwa pengampunan Tuhan melalui sakramen tobat hanya akan diberikan jika kita melakukan penyesalan yang serius yakni sikap untuk bertobat meninggalkan dosa dan memperbaiki diri lagi supaya kita lebih dekat dengan Tuhan. Harus ada tekad dan niat untuk mau memperbaiki diri. “Jika kita tidak mengalami penyesalan maka pengampunan itu tidak akan diberikan kepada kita,” kata Bapa Uskup.

Lalu apa yang kita terima setelah mengaku dosa? Menurut Bapa Uskup, melalui absolusi, kita sebagai yang mengaku dosa menerima pengampunan Allah dari semua dosa yang pernah dilakukannya sesudah dibaptis dan belum dilakukan. Dengan demikian, kita akan mengalami pendamaian kembali dengan Allah. Pendamaian ini membawa serta pemulihan  atas semua hak dan kewajibannya sebagai anggota gereja, termasuk menyambut komuni kudus.

“Ini adalah konteks sakramen tobat termasuk rahmat yang terima dalam pengakuan dosa ini,” ujarnya. Lalu bagaimana perayaannya? Dalam Kanon 960 ditegaskan bahwa pengakuan pribadi dan utuh serta absolusi merupakan cara biasa satu-satunya dengan orang beriman yang sadar akan dosa beratnya diperdamaikan kembali dengan Allah dan Gereja; hanya ketidakmungkinan fisik atau moril saja membebaskannya dari pengakuan semacam itu, dalam hal rekonsiliasi dapat diperoleh juga dengan cara lain. Bapa Uskup mengajarkan bahwa pengakuan dosa umum yang dianjurkan gereja adalah datang pada Imam dan mengaku dosa disertai penyesalan yang mendalam. Kemudian, Imam memberikan absolusi dan penitensi atas dosa kita. Dengan cara seperti itu jelas tandanya bahwa kita telah diampuni dan dibebaskan kembali dari dosa. “Terdapat pengecualian jika tidak mungkin dilakukan karena kondisi tertentu dimungkinkan mendapat pengampunan dosa dengan cara lain,” kata Bapa Uskup.

Menurutnya, dalam Surat Edaran Uskup tanggal 16 Maret 2020 yaitu mengenai pengakuan dosa melalui absolusi umum yakni pengakuan dosa secara massal, romo memberikan abosuli atau pengampunan secara umum tanpa didahului pengakuan dosa secara pribadi. Absolusi umum hanya dapat diberikan sejauh tuntutan Kanon 962 terpenuhi, yakni pertama-tama ada penyesalan atas semua dosa sehingga masing-masing berdisposisi atau memiliki  kondisi batin yang layak. Kedua, secara personal membangun semanagat total yang sejati dengan memperbaiki diri dengan tidak mengulang perbuatan dosanya. Ketiga, berniat untuk sesegera mungkin mengakukan dosa-dosa berat satu per satu pada saatnya yang tepat setelahnya.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mungkin lagi untuk mengaku dosa dan menerima absolusi umum dalam keadaan pandemi Covid-19 dan diharuskan untuk jaga jarak? Mungkinkah kita menerima pengampunan dari Tuhan secara langsung? “Dalam tradisi Gereja sangat dimungkinkan kita menerima pengampunan dalam kondisi seperti ini, yaitu dengan tobat batin,” kata Bapa Uskup.

Tobat batin adalah penyesalan yang sungguh-sungguh serius dan mendalam atas semua dosa yang telah dilakukan merupakan salah satu langkah konkret untuk mendapatkan pengampunan Tuhan (lih. KGK 1431). Bapa Uskup mengatakan bahwa pertama, tobat batin sempurna mengandaikan adanya penyesalan yang sungguh-sungguh. Kedua, tekad dan kehendak serius untuk memperbaiki diri. Ketiga, tekad dan kehendak untuk sesegera mungkin menghadap seorang imam dan mengakukan dosa-dosanya.

Ketika kita tidak bertemu dengan romo untuk menerima sakramen tobat secara pribadi dan ada kemungkinan menerima absolusi umum, inilah saatnya kita datang langsung kepada Allah. Berbicara langsung kepada Allah Bapa di surga dan mohon pengampunan. Bapa Uskup menyatakan bahwa dalam tobat batin harus ada penyeselan yang mendalam dengan berbagai cara. Pertama, ibadat pribadi atau bersama di tengah keluarga dengan ada katakesete tertentu sehingga ada penyesalan dan tekad yang serius untuk berbaik kepada Allah. Kedua, mengaku dosa dengan mendoakan doa tobat, membuat penitensi secara bersama-sama, misalnya Doa Rosario, Doa Bapa Kami, dan Doa Salam Maria. Ketiga, mohon pengampunan Tuhan.

Lalu, untuk OMK, bolehkah kita mengaku dosa dengan telepon atau video call? “Secara prinsip mengaku dosa dengan telepon atau video call tidak boleh karena pertama, pengakuan dosa mengandaikan kehadiran fisik guna menampakkan sisi sakramentalilas. Kedua, kewajiban menjaga rahasia sakramental pengakuan dosa sebagaimana diatur dalam Kanon 983 dilanggar yaitu segala sesuatu, termasuk pengakuan dosa yang sudah diunggah di jaringan media sosial  tetapakan tersimpan disana dan dapat diunduh atau diakses oleh siapapun yang mampu. Dengan cara ini kerahasiaan sakramental (sigillum sacramenti) tidak  terjamin dan dapat menimbulkan masalah pastoral dan sosial,” jelas Bapa Uskup.

“Apakah kerahasiaanya terjamin jika kita mengaku dosa kepada romo?” ujar salah satu OMK. Bapa Uskup mejawab bahwa setiap romo yang mempunyai informasi dari pengaku dosa itu tidak boleh membawa rahasia tersebut keluar atau memberitahu ke semua orang. Bahkan, jika romo membocorkan rahasia  pengakuan dosa tersebut maka terdapat hukuman yaitu ekskomunikasi. Dengan demikian, tidak hanya seorang romo yang menjaga rahasia pengakuan dosa. Umat juga harus menjaga rahasia pengakuan dosa yang secara tidak sengaja terdengar dari seseorang yang mengaku dosa. Maka, kita harus benar-benar menjaga kerahasiaan dosa kita.

Bapa Uskup mengajak kita semua untuk membangun sesal tobat yang serius dan sejati. Kemudian jika memungkinkan, hendaknya kita datang kepada romo, mengaku dosa secara langsung. Namun, jika tidak memungkinkan, kita dapat memperoleh absolusi umum dengan datang langsung kepada Allah Bapa dan mohon pengampunan-Nya. Ini persis yang dianjurkan oleh Paus Fransiskus dalam homilinya pada 20 Maret 2020, “Datanglah, bicara langsung dan Allah Bapa akan mengampuni dengan sentuhan,”. Terakhir, Bapa Uskup juga mengimbau agar kita semua harus tetap ceria, tetap gembira, dan jangan lupa untuk selalu bahagia (Flo/Gia).

Hamba yang melahirkan Tuhan

Bulan Mei ditetapkan Gereja Katolik sebagai bulan Maria. Doa-Doa devosi seperti dalam bentuk Rosario dan Novena, dipanjatkan oleh umat beriman terutama dalam bulan ini. Namun terkadang kita bertanya siapakah Maria ? Mengapa Maria begitu dikhususkan dan diistimewakan daripada Santo-Santa lain dalam Gereja Katolik ? Bukankah Maria hanyalah manusia biasa sama seperti kita ? Mengapa kita melakukan devosi dan meminta kepada Maria ? Bukankah hanya kepada Allah saja kita memanjatkan doa-doa kita ?

Maria adalah sama seperti kita manusia biasa, namun Maria dipilih Allah dan Maria memilih mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah dengan menjadi bunda sang Putera Allah. Inilah yang membedakan kita dengan Maria. Maria ikut ambil bagian dalam peristiwa inkarnasi Allah, sedangkan kita tidak. Tetapi keteladanannya dan ketabahannya sebagai hamba patut kita contohkan. Jawaban iman Maria (Fiat Maria) terhadap panggilan Allah (Luk 1:38), bagaimana Maria mengasuh Yesus (Luk 2:51) dan bagaimana Maria tetap setia sampai wafat Yesus di kayu salib (Yoh 19:25-27) menunjukan Maria sebagai model bagi umat beriman dalam hal mendengarkan, merenungkan dan menjawab rencana Allah.

Lalu bagaimana dengan gelar-gelar yang disematkan kepada Maria oleh Gereja Katolik ? Bukankah gelar-gelar seperti Maria yang tetap Perawan, Dikandung tanpa noda dosa, Maria diangkat ke surga dan bahkan Maria Bunda Allah, melambangkan bahwa Maria itu lebih dari manusia biasa dan bahkan dapat disandingkan dengan Allah itu sendiri ?

Ini tidaklah benar, gelar-gelar tersebut disematkan oleh Gereja Katolik, itu semua karena karya Allah terhadap diri Maria. Gelar Maria Bunda Allah disematkan kepada Maria dikarenakan Gereja Katolik melihat siapa yang dikandung dan dilahirkan oleh Maria, yaitu Yesus yang adalah Firman Allah dan Firman Allah itu adalah Allah (Yoh 1:1-14) dan dikatakan juga bahwa yang dikandung oleh Maria adalah berasal dari Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35) hal ini membuktikan bahwa Yesus memang berasal dari Allah dan Yesus itulah Allah. Maka jika Maria diberi gelar Bunda Allah, mau menunjukan keikutsertaan Maria yang mengambil bagian dalam inkarnasi Allah dan sebagai tanggapan Maria atas seruan Allah.

Berkaitan dengan gelar Maria Bunda Allah, Maria yang tetap perawan dapat kita lihat kembali bahwa Maria mengandung dikarenakan kuasa Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35) dan bukan karena campur tangan hubungan biologis manusia. Dari ayat inilah Gereja Katolik memahami bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya. Gelar Maria Dikandung Tanpa Noda, merumuskan bahwa Maria dibebaskan dari segala dosa. Ini menunjukan bahwa Allah yang berkarya dalam membebaskan Maria dari segala dosa. Dalam rumusan doa salam Maria disebutkan “Salam, Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”. Kemudian, Rumusan ini berasal dari Injil Lukas : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1:28).

Hal ini menunjukan bahwa Maria dikaruniai oleh Allah. Ia dibebaskan Allah oleh segala dosa dikarenakan demi kesiapan inkarnasi Allah. Karya penebusan Maria tidak lepas dari penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, Maria ditebus pertama kalinya. Ajaran Maria yang diangkat kesurga, mau menunjukan bahwa Maria sudah sampai pada kepenuhan keselamatan yang diterimanya oleh karena Allah yang berkarya dengan memahkotai seluruh perjalanan hidupnya dengan kepenuhan keselamatan. Setelah Maria menyelesaikan karya kehidupannya di dunia, Maria diangkat dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Kepenuhan keselamatan ini juga menunjukan harapan umat beriman akan kebangkitan bagi semua orang dan harapan bagi kehidupan kekal surgawi.

Baiklah, bahwa semua gelar itu disematkan kepada Maria adalah oleh karena kuasa Allah yang menyiapkan Maria dan tanggapan iman Maria yang adalah sebagai hamba Allah. Namun bagaimana dengan devosi-devosi dan doa-doa yang disampaikan kepada Maria ? Bukankah kita seharusnya berdoa dan meminta kepada Allah saja ?

Kita perlu menyadari bahwa, Gereja Katolik sangat serius dengan “Persekutuan dengan Para Kudus”, hal ini juga tercantum dalam Syahadat Iman Katolik (Syahadat Para Rasul maupun Syahadat Panjang). Persekutuan Para Kudus ini menjadi para pendoa kita kepada Allah oleh karena kesatuannya dengan Kristus dan oleh karena Kristus, mereka menjadi pengantara kita kepada hadirat Bapa (bdk. KGK 956). Dalam kasus Maria, Maria ditunjuk Yesus sebagai ibu para murid (Yoh 19:26-27). Maria tinggal bersama dengan para murid Yesus bahkan Maria juga bertekun dalam doa menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1:12-14) dan para murid-Nya itulah yang saat ini kita kenal sebagai Gereja dan sampai saat ini dikenal bahwa Maria adalah Bunda Gereja. Dikatakan pula bahwa Maria pun terbukti sudah mencapai kepenuhan keselamatan dan mencapai kemuliaan surgawi bersama para kudus lainnya. Penghormatan kepada para kudus pun tidak menggantikan penghormatan kita kepada Allah dan hanya Allah lah yang boleh disembah, sedangkan para kudus dihormati dikarenakan mereka sudah mulia dihadapan Allah. Dilihat dari pemaparan Katekismus Gereja Katolik yang menyatakan bahwa para kudus adalah pendoa kita dan rumusan doa “Salam Maria” pada bagian akhir disebutkan “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Maria adalah pendoa kita kepada Allah. Jika kita umat Katolik berdoa dan berdevosi, maka sebenarnya kita berdoa bersama Maria, mohon kepada Allah, karya keselamatan Maria sebagai hamba Allah terus-menerus taat kepada Allah, mempertanggungjawabkan hidupnya kepada Allah, hingga akhirnya dipermuliakan oleh Allah. Oleh sebab itu Gereja terus-menerus menghormati Maria, karena Allah sendiri mempermuliakan Maria. Maka benarlah dalam kitab suci bahwa Maria disebut sebagai yang berbahagia (Luk 1:48) dan hingga saat ini Gereja menganggapnya sebagai teladan umat beriman dan sebagai contoh bagi umat agar terus tetap taat kepada Allah.

 

Doa Ratu Surga Paus Fransiskus

Perpustakaan Istana Kepausan // Minggu, 3 Mei 2020

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Minggu Paskah Keempat, yang kita rayakan hari ini, dipersembahkan kepada Yesus Sang Gembala Baik. Injil mengatakan demikian : “Domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yoh 10:3). Tuhan memanggil kita menurut nama kita. Ia memanggil kita karena Ia mengasihi kita. Akan tetapi, Injil mengatakan, ada suara-suara lain yang tidak boleh diikuti, yaitu suara orang-orang asing, para pencuri dan perampok yang ingin mencelakakan kawanan domba.

Suara-suara yang berlainan itu bergema didalam diri kita. Ada suara Allah, yang dengan lembut berbicara kepada hati nurani dan ada suara yang menggoda yang menuju kepada kejahatan. Bagaimana kita dapat mengenali suara Sang Gembala Baik dan suara si pencuri, bagaimana kita dapat membedakan inspirasi dari Allah dengan saran dari si jahat? Anda dapat belajar memahami kedua suara ini: sesungguhnyalah mereka berbicara dalam dua bahasa yang berbeda, artinya mereka memiliki cara-cara yang saling bertentangan untuk mengetuk hati kita. Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Sebagaimana kita tahu bagaimana caranya membedakan satu bahasa dari bahasa lainnya, kita juga dapat membedakan suara Allah dan suara si jahat. Suara Allah tidak pernah memaksa kita: Allah menawarkan diri- Nya, Ia tidak memaksakan diri-Nya. Sebaliknya suara si jahat menggoda, menyerang, memaksa: suara itu membangkitkan berbagai ilusi yang menyilaukan, perasaan-perasaan yang menggoda namun sifatnya hanya sementara.

Pada awalnya suara itu menyanjung, membuat kita percaya bahwa kita sungguh berkuasa, kemudian meninggalkan kita dengan kekosongan di dalam diri kita dan menuduh kita: “Engkau sama sekali tidak berharga”. Di lain pihak, suara Allah mengoreksi kita dengan kesabaran yang besar, namun selalu memberi kita semangat, menghibur kita: suara itu selalu membangkitkan pengharapan. Suara Allah adalah suara yang memiliki batas seluas cakrawala, sebaliknya suara si jahat menghadapkan Anda pada sebuah tembok, menyudutkan Anda.

Ada perbedaan lainnya. Suara sang musuh mengalihkan kita dari masa kini dan menginginkan kita berfokus pada ketakutan akan masa depan maupun pada kesedihan masa lalu-musuh kita tidak menginginkan masa kini-: ia membawa kembali kepahitan, kenangan akan ketidakadilan yang membuat kita menderita, akan mereka yang telah melukai kita…, dan banyak kenangan buruk lainnya.

Sebaliknya, suara Allah berbicara tentang masa kini: “Sekarang Anda bisa melakukan kebaikan, sekarang Anda bisa menggunakan daya kreativitas kasih, sekarang Anda bisa melepaskan segala kekecewaan dan penyesalan yang menjadikan hati Anda bagaikan tawanan.” Suara Allah menggerakkan kita, membawa kita maju, namun selalu berbicara dalam konteks masa kini: sekarang.

Sekali lagi: kedua suara tersebut membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda dalam diri kita. Pertanyaan yang dating dari Allah akan berupa : “Apakah yang baik untuk saya?” Sebaliknya, si penggoda akan berkeras menanyakan pertanyaan lain: “Apa yang akan saya lakukan?” Apa yang saya inginkan: suara yang jahat akan selalu berkisar pada diri kita, naluri-nalurinya, kebutuhan-kebutuhannya, semuanya sekaligus.

Itu seperti tingkah anak-anak yang menginginkan semuanya, saat ini juga. Suara Allah, sebaliknya, tidak pernah menjanjikan sukacita dengan harga yang rendah: suara itu mengundang kita untuk melampaui diri kita sendiri dalam menemukan kebaikan yang sejati, dalam menemukan kedamaian. Ingatlah: si jahat tidak pernah memberikan damai, ia menaruh hiruk-pikuk pada awalnya dan meninggalkan kepahitan setelahnya. Inilah gaya si jahat.

Akhirnya, suara Allah dan suara si penggoda berbicara dalam “lingkungan” yang berbeda: musuh kita lebih menyukai kegelapan, kepalsuan, gosip: sementara Tuhan mencintai cahaya mentari, kebenaran, dan kejernihan yang tulus. Musuh akan berkata kepada kita: “Tutuplah dirimu, supaya tak seorang pun mendengarkan dan memahami engkau, janganlah percaya!”

Sebaliknya, suara yang baik mengundang kita untuk membuka diri, untuk bersikap jernih dan menaruh kepercayaan kepada Allah dan sesama. Saudara-saudari terkasih, pada masa ini berbagai keprihatinan dan pemikiran menggiring kita untuk kembali masuk ke dalam diri kita. Kitamemperhatikansuara-suarayang menyentuhhatikita.

Marilah kita bertanya dari mana suara-suara itu datang. Kita mohonkan rahmat untuk mengenali dan mengikuti suara Sang Gembala Baik yang membawa kita keluar dari batasan-batasan mementingkan diri sendiri dan membimbing kita menuju padang rumput kebebasan sejati. Bunda Maria, Bunda Penasehat Baik, sertailah dan tuntunlah upaya kami dalam pembedaan roh ini.

 

Setelah Doa Ratu Surga

Saudara-saudari terkasih,

Hari Doa Sedunia bagi Panggilan dirayakan hari ini. Keberadaan umat Kristiani selalu dan seluruhnya merupakan sebuah tanggapan akan panggilan Allah, dalam segala keadaan hidup. Hari ini mengingatkan kita akan apa yang suatu hari dikatakan oleh Yesus, yaitu bahwa ladang Kerajaan Allah membutuhkan banyak kerja keras, dan bahwa kita harus berdoa kepada Bapa supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk bekerja di ladang-Nya (bdk. Mat 9:37-38). Imamat dan hidup yang dikonsekrasikan membutuhkan keberanian dan kegigihan; dan tanpa doa orang tidak akan mampu melalui jalan ini. Saya mengundang seluruh umat untuk memohonkan kepada Allah karunia berupa pekerja-pekerja yang baik bagi Kerajaan-Nya, dengan hati dan tangan yang terbuka bagi kasih-Nya.

Sekali lagi saya ingin mengungkapkan kedekatan saya dengan mereka yang sakit karena Covid-19, dengan mereka yang mendedikasikan diri mereka bagi perawatan orang-orang sakit tersebut, dan dengan mereka yang dalam cara apapun menderita karena pandemi ini. Pada saat yang sama, saya ingin mendukung dan mendorong kerjasama internasional yang terlaksana berkat berbagai inisiatif untuk menanggapi krisis serius yang sedang kita alami ini dengan baik dan efektif.

Sesungguhnyalah, penting untuk menyatukan berbagai ketrampilan ilmiah dalam cara-cara yang transparan dan tidak memihak, untuk menemukan vaksin-vaksin dan pengobatan-pengobatan, dan untuk menjamin akses universal kepada teknologi-teknologi esensial yang memungkinkan setiap orang yang terinfeksi, di belahan dunia yang manapun, untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.

Saya menujukan suatu ingatan istimewa bagi Asosiasi “Meter,” pelopor diadakannya Hari Nasional bagi anak-anak korban kekerasan, eksploitasi, dan pengabaian. Saya mendorong para penanggungjawab dan para pelaksana untuk meneruskan tindakan-tindakan mereka bagi pencegahan dan pembangkitan kesadaran yang dilakukan bersama-sama dengan berbagai agen pendidikan. Dan saya berterimakasih kepada anak-anak dari Asosiasi tersebut yang mengirimkan kepada saya sebuah kolase dengan ratusan bunga aster yang mereka warnai. Terimakasih!

Kita baru saja memulai bulan Mei, bulan Maria yang terbaik, saat para umat beriman banyak berkunjung ke berbagai tempat ziarah yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Tahun ini, sehubungan dengan situasi kesehatan saat ini, kita pergi ke tempat-tempat iman dan devosi itu secara batin, untuk menaruh segala kekuatiran, harapan, dan rencana-rencana kita bagi masa depan di dalam hati Sang Perawan Suci.

Dan karena doa adalah nilai yang universal, saya telah menerima proposal Komite Tinggi untuk Persaudaraan Umat Manusia supaya penganut semua agama bergabung secara spiritual pada tanggal 14 Mei dalam hari doa, puasa dan karya amal, untuk memohon kepada Allah agar membantu umat manusia mengatasi wabah coronavirus ini. Ingat: tanggal 14 Mei, seluruh umat beriman, penganut berbagai tradisi yang berbeda-beda, diharapkan untuk berdoa, berpuasa dan melakukan karya-karya amal kasih.

Saya mengucapkan selamat berhari Minggu kepada semua orang. Tolong janganlah lupa berdoa bagi saya. Selamat makan siang, dan sampai jumpa.

 

©Copyright – Libreria Editrice Vaticana

Translation – Justine Taroewidjaja

Misa Kok Online?

Wawancara KOMSOS KAS Bersama Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko,

Uskup Keuskupan Agung Semarang

Wabah virus corona yang terjadi semenjak akhir tahun 2019 hingga saat ini, mengubah banyak ritme kehidupan masyarakat tak terkecuali tata cara peribadatan seluruh agama di dunia. Kecepatan penyebaran virus yang mengerikan, membuat semua orang harus mulai memperhatikan jarak pada saat berinteraksi dengan orang lain agar mata rantai penyebaran virus dapat dihentikan. Gereja, sebagai bagian dari masyarakat dunia yang sedang bersama-sama melawan penyebaran virus corona ini, harus membuat kebijakan yang sangat memberatkan hati seluruh umat katolik di dunia yaitu dengan meniadakan misa di gereja dan menggantikannya dengan misa yang diadakan secara streaming melalui jaringan internet.

Pada 23 Maret 2020 Keuskupan Agung Semarang secara resmi melarang segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan liturgi maupun non-liturgi di lingkungan gereja, demi keselamatan segenap umat di Keuskupan Agung Semarang. Keputusan tersebut tentunya membuat banyak hati seluruh umat merasa sedih, karena keputusan tersebut membuat harapan merayakan semarak Paskah tahun ini di gereja masing-masing, menjadi kandas.

Setelah hampir satu setengah bulan berlalu semenjak keputusan tersebut, umat pun mulai merasakan betapa rindunya melaksanakan ekaristi secara langsung dan menerima tubuh dan darah Kristus. Tetapi, dalam wawancara yang dilakukan oleh KOMSOS KAS dengan Bapa Uskup, beliau meminta agar umat tetap bersabar dan terus berdoa agar wabah ini cepat berlalu sehingga umat dapat kembali ke gereja mengikuti ekaristi secara langsung.

Misa online yang dilakukan oleh umat saat ini, diselenggarakan demi mengobati kerinduan umat untuk bertemu dengan Tuhan lewat sakramen ekaristi dan lewat sabda yang kita dengarkan, meskipun sakramen ekaristi saat ini hanya diberikan secara spiritual. Meskipun secara online dan bisa dilakukan dimana saja, tidak berarti umat dapat mengikuti misa online dengan tidak serius. Justru karena ekaristi tersebut dapat diikuti bersama-sama lewat tempat masing-masing, umat diminta untuk secara serius, aktif dari awal sampai akhir mengikuti perayaan ekaristi.

Dalam wanwancara tersebut, Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa begitu banyak umat yang memberikan sharing pengalaman iman mereka dalam mengikuti perayaan ekaristi online. “Saya sungguh terenyuh karena begitu banyak pengalaman iman yang meneguhkan dan bahkan saya juga ikut diteguhkan,”. Begitulah yang dikatakan oleh Bapa Uskup dalam salah satu khotbah yang dikatakan beliau dengan sedikit emosional. Dalam sharing umat yang dibaca oleh Bapa Uskup, umat juga menyampaikan bahwa dengan misa online ini, mereka dapat lebih merasakan kehadiran Tuhan di dalam kebersamaan keluarga, dan dengan kondisi yang seperti ini pula, umat akhirnya merasakan bahwa ekaristi yang diterima secara langsung merupakan suatu hal yang sangat berharga dan bernilai.

Terakhir, Bapa Uskup mengajak segenap umat untuk selalu menjaga kesehatan dan saling memperhatikan sesama yang sedang kesulitan ditengah wabah virus corona ini (Tripleway/Gia).

Yesus dan Dosa Manusia

Ibadat (online) Hari Raya Jumat Agung Keuskupan Agung Semarang disiarkan secara  langsung dari Kapel Wisma Uskup Keuskupan Agung Semarang dan dipimpin oleh Monsinyur Robertus Rubiyatmoko. Ibadat diawali dengan doa mohon perlindungan dari wabah virus corona yang dibuat oleh Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang kemudian dilanjutkan dengan pemberitahuan petunjuk praktis ibadat (online) Hari Raya Jumat Agung kepada umat. Ketika homili, Uskup Agung Semarang mengatakan bahwa “sendirian” adalah sebuah kata yang secara sederhana melukiskan pergulatan Yesus pada akhir kehidupan-Nya. Seuah keputusan bebas dan merdeka yang menyeret Yesus pada kematian di kayu salib. Yesus menanggung sendirian oleh karena orang-orang dekatnya lari meninggalkan-Nya untuk mencari aman dan selamatnya sendiri.

“Mungkinkah ini menjadi gambaran kita yang kadang-kadang melarikan diri ketika ada masalah menghadang kita? Atau ketidakpedulian kita ketika ada teman atau saudara yang mengalami kesulitan?” kata Uskup Agung Semarang Monsinyur Robertus Rubiyatmoko. Orang- orang dekat itu adalah para murid Yesus. Yesus sendirian berjuang untuk mempertahankan diri dan hanya Bunda Maria dan perempuan lain yang setia mengikuti Yesus sejak dari rumah Pilatus sampai Golgota bahkan setia sampai wafat-Nya.

Ia mengatakan bahwa ini adalah pengalaman yang meneguhkan dari seorang ibu terhadap anaknya. Yesus hanaya menerima olok-olok dan cacimaki dengan sendirian dan menanggung penderitaan sendirian. Yesus memanggul salib ke Golgota dengan sendirian. Puncak kesendirian Yesus nampak ketika Yesus berseru “Allahku! Allahku! Mengapa Engkau meninggalakan Aku?” sebuah jeritan yang mengungkapkan kesendirian yang mendalam. Justru di saat akhir kehidupan-Nya, Yesus merasa bahwa Allah meninggalkan-Nya dan tidak peduli dengan Yesus. Tetapi Yesus tetap bertahan  sampai akhir ketika harus wafat di kayu salib. Semua Yesus terima dan jalani sendirian dengan penuh ‘legawa’, merdeka, dan bebas. Uskup Agung Semarang Monsinyur Robertus Rubiyatmoko menjelaskan bahwa malam sebelumnya sudah direnungkan bahwa hal ini adalah ungkapan kasih yang total dan tulus dari Yesus pada manusia yang berdosa. Yesus ingin melaksanakan kehendak Bapa-Nya yakni menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Dosa dan kelemahan kitalah yang ditanggung Yesus sampai menderita dan wafat di kayu salib sehingga kita mengalami keselamatan dan penebusan-Nya. Kematian Yesus menjadi sumber kehidupan bagi manusia yang beriman.

“Pantaslah pada saat ini ketika kita mengenangkan kembali bagaimana Yesus menderita dan wafat di kayu salib. Kita menghaturkan syukur dan terimakasih pada Tuhan yang berkorban hanya untuk keselamatan manusia.” katanya. Yesus telah memberikan teladan bagaimana Ia menjalani tugas panggilan dengan penuh tanggung jawab dan kesetiaan sampai akhir dan membutuhkan pengorbanan yakni hidup-Nya sendiri.

Belajar dari Yesus, kita dipanggil untuk memanggul salib kehidupan kita masing-masing dan menjalani tugas panggilan masing-masing dengan penuh kesetiaan sampai akhir entah sebagai room, bruder, suster, seminaris, orang tua, pasangan, anak, entah bekerja, entah belajar.  Bagaimana kita menanggung panggilan kita masing-masing dengan penuh kesetiaan sampai akhir seperti sebagai orang katolik, ketika menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, dicibir, dicemooh, ditolak, bahkan mungkin dicelakai. Satu hal yang menjadi keyakinan kita seperti Yesus, yaitu kita tidak akan pernah sendirian karena Allah Bapa akan menyertai kita mendampingi kita membopong dan membantu kita sehingga kita dapat menyelesaikan panggilan sampi akhir.

Peristiwa sengsara dan wafat Yesus adalah peristiwa penuh warna karena kita mengalami keselamatan dan ditebus dari dosa-dosa kita. Bapak Uskup mengajak kita untuk selalu bersyukur atas anugerah peristiwa sukacita dan gembira ini karena Tuhan rela menjadi penebus dan penyelamat bagi kita semua. Tak lupa juga dalam kebersamaan seluruh umat di dunia, kita diajak untuk menyampaikan doa syukur dan permohonan kepada Allah untuk kepentingan umat manusia, umat gereja, dan kita bersama.

Live Streaming ini adalah bentuk usaha dari Keuskupan Agung Semarang untuk seluruh umat. Semoga apa yang telah diupayakan dapat membantu kita semua untuk semakin bersyukur kepada Tuhan. Marilah kita memaknai peristiwa ini dengan sungguh-sungguh dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Kita harus berusaha untuk menyikapinya dengan bijaksana dan penuh ketaatan kepada Pemerintah dan Gereja. Semoga dengan doa-doa kebersamaan kita dan seluruh dunia, segala hal yang meghambat akan segera berlalu.

Demikianlah pesan-pesan yang disampaikan oleh Bapak Uskup pada saat Ibadat Jumat Agun tahun 2020. Semoga pesan ini dapat kita renungkan dan kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Pesan Bapa Uskup dalam Perayaan Ekaristi Kamis Putih

Semarang (09/04/2020), Pada hari tersebut seluruh umat Khatolik memperingati Perayaan Kamis putih atau biasa disebut dengan Malam Perjamuan Terakhir Tuhan dalam rangkain perayaan Pekan Suci dan dimalam ini juga kita diingatkan kembali bagaimana Yesus membasuh kaki para rasul dan mengundang orang-orang beriman untuk saling mengasihi dan melayani satu sama lain. Misa Kamis Putih ini dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko selaku Uskup Keuskupan Agung Semarang dan disiarkan secara langsung melalui Platform Youtube Komsos KAS.

Dalam homilinya, monsinyur sempat menyinggung kenapa kita tekun dan setia mengikuti misa secara Online. Sejak Gereja memutuskan untuk meniadakan seluruh kegiatan liturgis maupun non liturgis pada tanggal 21 Maret yang lalu Bapa Uskup telah mengamati para umat yang sangat rajin mengikuti misa online ini. Tidak hanya misa mingguan saja, namum para umat juga rajin mengikuti misa harian juga. Melihat perilaku umat yang begitu aktif dalam mengikuti misa online ini beliau ingin mengetahui apakah motivasi mendasar, mengapa kita sebagai umatnya begitu tekun mengikuti misa. Setelah mencari tahu melalui berbagai sharing yang ada, Bapa Uskup menemukan jawaban yang menarik. Ternyata alasan mereka bukanlah karena gabut ataupun bosan dengan rutinitas yang saat ini banyak dilakukan dirumah saja, melainkan karena perasaan mendasar yang dirasakan ada jauh didalam lubuk hati kita. Apakah perasaan itu ? Jawabannya adalah kerinduan,  kita rindu untuk berjumpa dengan Tuhan, untuk mengalami kehadiran-Nya, dan untuk menerima berkat kasih-Nya.

Salah satu sharing dari umat yang begitu menyentuh adalah bahwa karena adanya misa Online, dia bisa merasakan kehadiran Yesus di sekitar mereka. Maka dari itu Yesus pernah bersabda, dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kehadiran Yesus begitu dirasakan di dalam rumah-rumah yang hening di masa pandemi Covid-19 ini.

Pada saat homili ini, beliau juga bertanya mengenai perayaan Ekaristi, “Sejak kapan toh perayaan ekaristi diadakan?” kata Bapa Uskup kepada para umatnya. Pertanyaan ini membuat kita berpikir kembali kapan sebenarnya Ekaristi mulai diadakan. Dan jawabannya adalah sejak Yesus melakukan perjamuan terakhir bersama-sama dengan murid-Nya. Karena pada saat itu pula, Ia memberikan diri-Nya sebagai anak domba yang harus dikorbankan. Dimana pada saat itu Ia menebus dosa-dosa dunia dengan mengurbankan diri-Nya dikayu salib demi kita.

Dari peristiwa itu, Yesus telah memberikan teladan kasih dan pengorbanan demi keselamatan kita. Kita bisa merenungkan bahwa karena pengorbanan diri-Nya kita selaku manusia berdosa mau bertobat dan tetap mau berdoa kepada-Nya. Dan sebagai umat-Nya, kita diundang untuk meneladani kasih Yesus dengan saling melayani dan berani berkorban demi kebahagiaan orang lain.

Pada kesempatan ini, Bapa Uskup juga berpesan agar kita juga harus menjaga diri kita masing-masing dengan cara melakukan segala aktivitas dirumah guna meminimalisir penularan Virus COVID-19, mengingat saat ini pandemi ini telah masuk ke Indonesia. Kalaupun keluar rumah dikarenakan bekerja ataupun membeli bahan makanan, kita harus menjaga diri dengan tetap menggunakan masker selama keluar dan setelah balik ke rumah jangan lupa untuk mencuci tangan. Momen ini juga membuat kita bisa menghabiskan waktu bersama keluarga dikampung halaman. Saat pandemi belum menyerang, kita sangat jarang meluangkan waktu kita untuk balik ke rumah dikarenakan tanggung jawab yang diemban diluar kampung halaman. Oleh sebab itu pada saat sulit seperti ini waktunya kita membuka kembung kemurahan hati lumbung kepedulian dan tabungan cinta kasih kita agar bisa berbagi satu sama lain dan saling memberikan kasih sayang satu sama lain.

Demikianlah pesan-pesan yang disampaikan oleh Bapa Uskup pada saat Misa Perayaan Ekaristi Kamis Putih tahun 2020. Semoga pesan ini dapat kita renungkan dan kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by Kristo

Edited by Gisella