Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Hari Minggu, 24 November 2019, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Dalam kalender Liturgi Gereja, hari minggu ini merupakan minggu terakhir dalam tahun liturgi. Minggu depan, 01 Desember 2019 kita akan memasuki tahun baru liturgi yang akan dibuka dengan Minggu Adven I. Gereja pasti punya maksud tertentu merayakan hari raya ini. Gereja hendak menunjukan keyakinannya bahwa Yesus Sang Allah Putra adalah Raja atas semesta alam. Dialah penguasa jagad raya ini. Karenanya, patutlah orang Kristen berbangga hati; Tuhannya adalah Penguasa segalanya. Dialah yang mengatur segala sesuatu. Keyakinan kita bahwa Yesus adalah Raja lewat Injil hari minggu ini semakin diteguhkan. Kita diajak untuk melihat perspektif lain dimensi Raja Yesus. Injil pada hari minggu inimenampaka figur Yesus yang tersalib sebagai seorang Raja. Gambaran ini tntu sangat berbeda dengan gambaran pemimpin atau raja pada zaman kita ini. Pemimpin atau raja pada zaman kita tidak tergantung di salib. Mereka tidak menderita seperti Kristus, tidak tersentuh bahkan terkontaminasi oleh hujat dan caci maki dari rakyatnya. Raja Kristus adalah Raja yang menderita, Raja yang mau mengorbankan darah-Nya demi menebus rakyat-Nya yang penuh dengan dosa.

itulah kebesaran Raja Kristus. Kebesaran yang ditampakkan dalam kumpulan paradoks. Ia adalah Raja, Penguasa segala sesuatu tapi wafat di kayu salib; Ia bermartabat tetapi direndahkan bahkan dihujat. Inilah kebesaran Raja orang-orang Kristen. Kebesaran yang terselubung, kekuasaan dalam diam serta kemuliaan dalam kerendahan hati.

Menghayati Ekaristi

Umat Kristen merasa solider dengan orang lain. Usahanya ialah meningkatkan dunia pada cita-cita persaudaraan, keadilan dan cinta kasih.Tetapi usaha-usaha itu terhambat oleh kesalahpahaman intern, rintangan-rintangan dari pihak lain, godaan uang, kenikmatan dan lain-lain. Keterbukaan akan kebebasan yang dicanangkan oleh Konsili Vatikan II ingin memberikan kebijaksanaan bertanggung jawab dalam bidang moral. Selain itu pengaruh mentalitas teknik dan ilmiah benar-benar merupakan hambatan bagi pertumbuhan dan perkembangan iman. Dalam menanti kedatangan kembali Penebus kita, hendaknya kita waspada terhadap dua godaan: jangan sampai menyerah secara pasif kepada Tuhan, tetapi sebaliknya juga jangan mencurahkan diri pada aktivisme tak sabar yang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan mudah putus asa karena kegagalan-kegagalan. Konsili Vatikan II telah pula memperingatkan: orang Kristen harus hadir di dunia dengan usaha-usaha dan perjuangannya. Dengan demikian ia menjadi saksi Kristus yang akan datang dan akan meminta kerja sama yang loyal. Dengan doa dan Ekaristi iang mengangkat nilai-nilai manusiawi dan memberinya nilai-nilai kekal di dalam kerajaan-Nya.

RIbuan tahun diperlukan sebelum keperluan setiap hati manusia diakui dan dipenuhi dalam hukum dan adat. Pengakuan martabat manusia pun masih harus diperjuangkan. Kita teringat akan masa perbudakan, yang baru berkahir seabad yang lalu; akan masa diskriminasi warna kulit; akan masa kolonialisme, dan sebagainya. Kapan ‘kapan pernyataan hak-hak azasi manusia dipraktekan ? Hati manusia menjerit cemas minta pembebasan. Orang yang punya persoalan demikian banyak mengenal penderitaan dan perpecahan, tidak menemukan pemecahan untuk keluar dari lembah kesulitan itu. Maka Kristus datang. Ia menerima orang-orang dalam kerajaan-Nya, kerajaan cinta kasih, terang, damai, dan kebenaran. Dengan rahmat-Nya mereka diberi kuasa untuk meningkatkan diri dan diajak ikut serta berkarya. Umat-Nya itu bertugas menyebarluaskan dan menjelaskan kesatuan kerajaanyang didirikan Kristus itu.

Sehat Bersama Umat Gereja Santa Maria Assumpta Paroki Babarsari

Selamat Malam BBC Raguel,

 

Masih dalam rangkaian Perayaan HUT Paroki Babarsari yang ke-10, pada tanggal 14 September 2019 kemarin, Gereja melaksanakan kegiatan Jalan Sehat dan juga Lomba Senam Gemufamire yang diikuti seluruh lingkungan di Paroki Babarsari. Acara di mulai sejak pukul 6.00 WIB, dan Umat dengan semangat memulai berjalan bersama dari gereja menuju SMA N 1 Babarsari, lalu menyebrang jalan ke arah selatan dan menuju Rumah Makan Mbah Dalang, selanjutnya rute berbelok ke arah Barat dan berbelok ke arah Jalan Selokan Mataram, lalu di depan Student Park Hotel ada beberapa OMK yang sudah menunggu untuk membagikan nomor undian Doorprize, dan umat kembali ke Gereja.

Selama perjalanan Romo Iswahyudi yang juga mengikuti kegiatan ini membagikan kuis yang harus diisi dan dikumpulkan kembali saat di Gereja, nantinya kuis ini akan dinilai dan bagi pemenangnya juga telah disiapkan hadiah. Ketika umat sampai di Gereja, telah disiapkan berbagai macam makanan untuk sarapan bersama dan juga bersiap-siap untuk kegiatan selanjutnya yaitu Lomba Senam Gemufamire.

Ada 8 lingkungan yang berpartisipasi dalam Lomba Senam Gemufamire ini. Nantinya dari 8 Lingkungan ini dibagi menjadi 3 kelompok dengan diundi. Untuk Kelompok pertama yang maju dalam lomba ini terdiri dari Lingkungan Santa Maria Immaculatta, Lingkungan Menara Gading, dan Lingkungan Sang Timur Janti. Dilanjutkan oleh penampilan dari Lingkungan Santo Stefanus, Lingkungan Santo Rafael, dan Lingkungan Santo Bartolomeus. Penampilan terakhir berasal dari Lingkungan santo Mikael dan Lingkungan Santo Yusuf Tambak Bayan. Dari 3 kelompok ini akan dipilih 3 Lingkungan lagi yang akan berkompetisi di babak Final. Lomba kali ini dinilai dari segi kekompakan, kostum, dan koreografi. Ada perdebatan seru diantara Juri, dimana ada 2 Lingkungan yang memiliki nilai sama sehingga mereka harus berkompetisi ulang sebelum memasuki babak final. Lingkungan tersebut dari Lingkungan Santa Maria Immaculata dan Lingkungan Santo Bartolomeus. Dari 2 Lingkungan ini yang berhasil masuk ke babak Final adalah Lingkungan Santo Bartolomeus.

Dengan begitu 3 Lingkungan yang berhak masuk ke babak final adalah Lingkungan Santo Yususf Tambak Bayan, Lingkungan Santo Mikael, dan Lingkungan Santo Bartolomeus. Babak finalpun dimulai, masing-masing lingkungan telah menunjukkan penampilan terbaik mereka. Sembari menunggu keputusan juri mengenai pemenang Lomba Senam Gemufamire, Doorprize pun diundi. Doorprize kali ini begitu meriah, karena begitu banyak orang yang dengan senang hati memberikan sumbangan untuk diperebutkan sebagai hadiah hiburan. Hadiah utama dari doorprize kali ini adalah sebuah sepeda.

Tibalah saatnya pengumuman Lomba Senam Gemufamire ini. Dari Juara ke-3 dimenangkan oleh Lingkungan Santo Bartolomeus. Juara ke-2 dimenangkan oleh Lingkungan Santo Mikael. Dan selamat kepada Lingkungan Santo Yusuf Tambak Bayan yang memenangkan Juara Pertama dari Lomba ini.

Keesokan harinya Paroki Babarsari mengadakan Lomba melukis kaos bagi PIA dan PIRA. Lomba ini diikuti oleh 27 anak PIA dan PIRA. Anak-anak ini begitu bersemangat dan antusias. Mereka melukis berbagai macam gambar, ada yang membuat Gereja dan Yesus, ada yang melukis hewan, ada yang melukis abstrak, dan ada juga yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Paroki Babarsari. Lomba ini dimulai dari pukul 09.00 sampa dengan pukil 11.00. Setelah selesai, kaos akan dikumpulkan dan dinilai oleh juri yaitu Romo Iswahyudi dan akan di umumkan pada tanggal 22 September pada saat misa.

Demikianlah rangkaian acara HUT Paroki Babarsari ke-10 di minggu ketiga bulan September ini. Masing-masing acara melibatkan beragam usia baik dari anak-anak sampai para lansia. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat semakin mengakrabkan para Umat di Paroki Babarsari yang dikenal akan keberagamannya.

Peringatan HUT Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-74

74 tahun yang lalu, tepatya pada tanggal 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan setiap tahunnya menjelang tanggal tersebut seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke turut berpartispasi dalam merayakan Hari kemerdekaan  negara kita ini. Ditahun 2019 ini Paroki Santa Maria Assumpta Babarsari merayakan 17 Agustus ini dengan spesial yaitu dengan mengadakan upacara di halaman Gereja Maria Assumpta Babarsari.

Tidak hanya itu, para umat yang menjadi peserta upacara pun turut memeriahkannya dengan menggunakan baju adat. Ada yang menggunakan Kebaya, ada juga yang menggunakan Kain Ulos, ada pula yang menggunakan baju adat yang berasal dari Kalimantan. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam Paroki kita sendiri memiliki umat yang sangat beragam. Tidak heran bahwa paroki kita sering juga disebut sebagai Paroki Indonesia Mini, karena umat yang dimiliki dan terlibat di dalam Paroki kita memang berasal dari Sabang sampai Merauke.

Petugas Upacara pada hari ini pun diambil dari tim Pamja yang bertugas memimpin pasukan, dan Pak Budi sebagai Komandan upacara, juga OMK Don Bosco Babarsari yaitu Peter D Lim, Aldidarichie, dan Birgitha Cindy N.A sebagai Pasukan pengibar Bendera. Pembacaan teks proklamasi oleh Patrisia Jesika. Pembacaan Undang-undang Dasar 1945 dibacakan oleh Rohani Siburian. Dan pembawa Teks Pancasila oleh Jerry Make. Dengan Romo Yohanes Iswahyudi, Pr yang bertindak sebagai Inspektur Upacara yang dengan lantangnya turut membacakan Pancasila. Dalam amanat Upacaranya, Romo Iswahyudi mengatakan bahwa Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka memperingati hari kemerdekaan itu adalah hak semua orang untuk kemerdekaannya. Sehingga ketika kita hadir dalam upacara bukan lagi merupakan suatu kewajiban, namun kita mengambil hak kita sebagai manusia yang merdeka. Romo juga berharap bahwa Upacara memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ini akan menjadi program tetap Paroki sehingga di tahun-tahun selanjutnya upacara seperti ini akan dilaksanakan dan semakin banyak umat yang mengambil haknya sebagai rakyat Indonesia yang merdeka.

Tema Kemerdekaan kita di tahun ini adalah SDM Unggul Negara Maju, setelah selama 5 tahun Presiden Joko Widodo menggenjot dari sisi infrastruktur, maka di 5 tahun yang akan datang Presiden Joko Widodo akan menggenjot SDM kita. Dan Gereja juga memiliki peranan penting dalam membangun SDM-SDM yang unggul sehingga nantinya dengan hadirnya para SDM yang unggul ini indonesia diharapkan menjadi Negara yang kuat, makmur, dan maju. Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh Gereja maupun seluruh umat untuk menjadi bangsa yang unggul ini. Berikut beberapa hal sederhana yang bisa membangun pribadi kita menjadi SDM yang unggul:

  1. Rajin Membaca

Budaya membaca adalah hal yang penting agar kita semua memiliki wawasan yang luas. Buku tidak hanya dibeli namun juga harus dibaca. Kita sebagai umat Katholik juga sepatutnya turut serta dalam menggerakkan Budaya Membaca ini terutama di Kota ini kita cukup dekat dengan tempat-tempat yang dengan mudahnya menyediakan buku. Berbeda dengan umat-umat lain di daerah terpencil yang memiliki kesulitan untuk mengakses buku.

  1. Mengikuti pertemuan-pertemuan yang bersifat menambah pengetahuan (mengikuti komunitas)

Setia tanggal 15 setiap bulannya, Paroki kita mengadakan pertemuan Biji Sesawi dimana didalamnya kita bisa memperkaya pengetahuan kita terutama dalam hal gerejawi. Kita juga memiliki Sekolah Minggu bagi anak-anak yang belum berkomuni sebagai wadah mereka untuk menambah pengetahuan. Selain itu ada komunitas seperti PIRA dan OMK yang sering mengadakan pertemuan-pertemuan rutin untuk menamah wawasan mereka.

  1. Menjadi pribadi yang terbuka dan religius.

Kita harus menjadi pribadi-pribadi yang terbuka dan mudah di tembus oleh banyak orang sehingga kita bisa bertukar wawasan dengan mereka. Dan juga tidak hanya menjadi manusia yang bewawasan luas, namun juga menjadi manusia yang religius. Tidak ada gunanya memiliki banyak pengetahuan jika tidak diikuti dengan rohani yang kuat. Dan Gereja kita memberikan banyak kesempatan untuk mengolah kehidupan rohani kita.

Itulah amanat-amanat yang disampaikan Oleh Romo Yohanes Iswahyudi, Pr yang pada pagi hari ini bertugas sebagai Inspektur Upacara.

Merdeka adalah sebuah kata yang sering kita dengar dan kita sebutkan, bahkan mungkin kita lafalkan, sering kita dengungkan dalam keseharian.

Namun kata itu hanya sekedar kata tanpa makna. Pernahkah kita tahu apa itu Merdeka dalam arti yang sesungguhnya? Merdeka mungkin saja kita artikan berbeda-beda dalam kehidupan kita. Semakin penting suatu peristiwa, maka akan semakin tinggi pula nilai simbolik yang terkandung di dalamnya.

Merdeka adalah sebuah cita-cita yang luhur. Merdeka adalah sebuah tujuan hidup. Bahkan pendahulu kita mempunyai semboyan yang sangat popular di kalangan masyarakat kita yaitu : Merdeka atau Mati. Kata Merdeka disepadankan dan dipertaruhkan dengan nyawa.

Jaman sekarang, pada masa kita kini, pada era globalisasi, apakah kata merdeka masih mempunyai nilai yang sama dengan jaman perjuangan dahulu yaitu disepadankan dengan nyawa kita sebagai taruhannya? Apakah kita masih memperjuangkan kata merdeka dalam kehidupan kita sehari-hari?

Maka dari itu hendaklah kita semua maknai kemerdekaan ini dengan kemerdekaan yang sejati. Sebagai Umat Katholik kita juga merupakan bagian dari bangsa ini, dan sudah selayaknya kita ikut berpartisipasi dalam mewujidkan cita-cita bangsa kita ini.

Ingat kita adalah 100% Katholik 100% Indonesia. Sudah sepatutnya kita ikut ambil bagian dalam memupuk rasa Nasionalisme diantara masyarakat. Penekanan dari semangat Mgr. Soegijapranata adalah pemahaman yang benar dan utuh akan Tuhan dalam keyakinanmu harus direalisasikan dalam kehidupan bernegara. Dengan demikian, melalui peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-74 tahun dapat kiranya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan refleksi nasional, yaitu dengan memaknai kembali nilai-nilai yang terkandung dalam spirit kemerdekaan untuk mewujudkan suatu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Dari Like ke Amin – Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sosial ke-53 bagian ketiga

Gambaran tentang tubuh dan anggota-anggotanya mengingatkan kita bahwa penggunaan “jejaring sosial” merupakan pelengkap bagi sebuah perjumpaan secara fisik, dan perjumpaan semacam itu menjadi kasatmata melalui tubuh, hati, mata, tatapan dan napas orang lain. Jika internet digunakan sebagai perpanjangan atau pengharapan serta kerinduan tentang perjumpaan semacam itu, maka gagasan asli tentang jejaring sosial dari tidak dikhianati dan tetap menjadi sebuah sumber daya bagi persekutuan.

Jika satu keluarga memakai intetnet agar semakin terhubung dan kemudian berkumpul di meja makan dan saling bertatap muka, maka internet menjadi sebuah sumber daya. Jika sebuah komunitas Gereja mengatur kegiatannya melalui internet dan kemudian merayakan Ekaristi bersama, maka internet menjadi sebuah sumber daya.

Jika internet menjadi wahana untuk berbagi aneka kisah dan pengalaman tentang keindahan atau penderitaan dari pribadi-pribadi yang secara fisik jauh dari kita, untuk berdoa bersama, dan bersama-sama mencari kebaikan untuk menemukan kembali apa yang menyatukan kita, maka internet menjadi sebuah sumber daya. Dengan cara ini kita dapat beralih dari sekedar teori menjadi sebuah aksi nyata dan tindakan konkret yang membuka jalan bagi terjadinya dialog, perjumpaan, tersenyum, dan mengungkapkan kelemah-lembutan.

Seperti itulah jejaring sosial yang kita idamkan yaitu sebuah jejaring yang diciptakan bukan unutk menjebak, melainkan untuk membebaskan, untuk melindungi persekutaan priabadi-pribadi yang merdeka. Gereja itu sendiri adalah sebuah jejaring yang diteguhkan bersama melalui Ekaristi, dimana persatuan tidak berdasarkan “like” tetapi dilandasi oleh kebenaran iman dan pernyataan “Amin”.  Dengan demikian masing-masing anggota melekat erat pada Tubuh Kristus dan sekaligus terbuka menyambut orang lain.

 

sumber : komsoskam.com

Kita Adalah Sesama Anggota – Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sosial bagian kedua

Suatu alternatif jawaban dapat dipetik dari metafora ketiga, yaitu tentang tubuh dan anggota-anggotanya. Gambaran ini digunakan oleh Santo Pulus untuk melukiskan hubungan timbal-balik diantara semua bagian yang menyatukan mereka. “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” Efesus 4:35). Menjadi sesama anggota adalah tujuan utama sesama anggota.

Santo Paulus mengajak kita utnuk membuang dusta dan berkata benar. Tuga untuk menjaga kebenaran muncul dari kebutuhan untuk tidak mengingkari hubungan timbal balik yang saling menguntugkan di dalam sebuah persekutuan. Kebenaran terungkap dalam sebuah persekutaan. Di sisi lain, dusta atau kebohongan adalah penolakan yang egois untuk mengakui bahwa kita adalah sesama anggota, bagian dari tubuh yang satu dan yang sama. Dusta atau kebohongan adalah penolakan kita untuk memberikan diri kepada sesama sehingga kita kehilangan satu-satunya cara untuk menemukan diri kita sendiri. Metafora tentang tubuh dan anggota-anggotanya mengantar kita untuk merenungkan jati diri kita, yang berlandaskan persekutuan dan kebinekaan.

Sebagai orang Kristiani, kita semua mengakui diri kita sebagai anggota dari tubuh yang satu dan sama dengan Kristus sebagai kepalanya. Pengakuan ini membantu kita untk melihat orang lain, bukan sebagai pesaing, melainkan sebaliknya mengangap musuh-musuh kita ssebagai pribadi.  Kita tidak lagi membutuhkan musuh untuk mendefinisikan siapa diri kita. Tatapan yang merangkul semua orang seperti yang diteladani dari Kristus menuntun kita untuk menemukan kebinekaan atau  perbedaan dengan cara baru, yaitu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan prasyarat mutlak bagi suatu hubungan dan kedekatan.

Kemampuan untuk memperoleh pemahaman dan komunikasi di antara pribadi-pribadi manusia berlandaskan persekutauan kasih dari antara Pribadi Ilahi. Allah itu bukan Kesendirian, melainkan Persekutuan: Ia adalah kasih dan karenanya komunikasi. Lantaran kasih selalu berkomunikasi.  Bahkan kasih itu mengomunikasikan dirinya untuk menjumpai yang lain. Agar dapat berkomunikasi dengan kita dan untuk mengomunikasikan diriNya kepada kita, Allah bahkan menyesuaiakn diriNya dengan bahasa kita, seraya membangun dialog nyata dengan umat manusia di sepanjang bentangan sejarah (bdk. Konsili Ekomnenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Dei Verbum art. 2).

Kita diciptakan seturut citra dan rupa Allah yang merupakan persekutuan yaitu Allah yang mengomunikasikan diriNya. Kita selamanya membawa serta di dalam hati kita suatu kerinduan untuk hidup dalam persektuan, untuk menjadi bagian dari dan tinggal di dalam sebuah komunitas. “Sesungguhnya, tidak ada yang lebih hakiki dan kodrat,  kita sebagai manusia selain masuk ke dalam sebuah jalinan realasi satu sama lain, dan saling membutuhkan seorang terhadap yang lain”, kata Santo Basilius.

Konteks zaman ini mengajak kita untuk menyemai relasi dan menegaskan corak kemanusiaan kita yang interpersonal, termasuk di dalam dan melalui jejaring sosial. Terlebih lagi, sebagai orang Kristiani, kita dipanggil untuk mewujudkan persekutuan yang menjadi ciri khas jati diri kita sebagai kaum beriman. Sesungguhnya iman itu sendiri adalah sebuah relasi, sebuah perjumpaan. Dari bawah daya dorong kasih Allah, kita dapat berkomunikasi, menyambut dan memahami bakat atau talenta orang lain dan menanggapinya.

Persekutan seturut citra dan rupa Allah Tritunggal jutru adalah hal yang membedakan pribadi dari individu. Bertolak dari iman akan Allah yang adalah Tritunggal, maka jelas bahwa untuk menjadi diriku, aku membutuhkan orang lain. Aku benar-benar manusia, benar-benar pribadi, hanya jika aku berhubungan dengan orang lain. Sesunggunya kata “persona”atau pribadi menandakan manusia sebagai sebuah “wajah”. Wajah ini senantiasa terarah kepada orang lain, terlibat dan bertaut dengan orang lain.

Hidup kita menjadi lebih insani (manusiawi) hanya ketika memiliki sifat dasar yang kurang individual dan lebih personal. Kita melihat jalan autentik ini agar diri seseorang menjadi lebih insani (manusiawi) yang bergerak menjauhkan dirinya menjadi individual, ketika menganggap orang lain sebagai pesaing, dan bergerak menuju pemahaman sebagai seorang pribadi yang mengakui orang lain sebagi rekan seperjalanan.