Puncta 21.06.20 / Minggu Biasa XII / Matius 10 : 26 – 33 / Meng-“iyakan” Yesus yang Ditawarkan dalam Pewartaan

Semoga kita dikuatkan oleh Roh Allah sendiri sehingga setiap hari bisa mengulangi jawaban “ya” untuk Yesus, kebenaran kita -Romo Iswahyudi

Pada Minggu (21/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Yesus Yang Mahakudus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Isyadi, Pr. Melalu live streaming Youtube, Romo Isyadi yang akrab dipanggil Romo Is tersebut mengungkapkan dalam khotbahnya bahwa Injil Matius dikenal sebagai Injil Gerejawi.

Pada Injil tersebut, terlihat bagaimana organisme Gereja ditumbuhkan, katekese dan pewartaan  diolah, liturgi dilakukan dan dihayati. Ketika proses itu telah dijalankan, harapannya jemaat bisa memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Bagi Matius orang harus menjawab dengan mantab, penuh keyakinan, meng “iyakan” Yesus yg ditawarkan dalam pewartaan , yg dirasakan kehadiranNya dalam liturgi, yg menyatukan umat. Meski berbagai macam  rintangan menghadang, iman yg telah diafirmasi dengan kata ” ya ” tidak akan surut.

Pada bacaan Mat 10 : 32  – 33, yang tertulis “Setiap orang yg mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yg di Sorga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yg di Sorga”. Tulisan tersebut dimaknai sebagai, tuntutan yang mendorong manusia untuk memilih dan mengatakan ” ya ” untuk Yesus. Kemantapan iman dan  jawaban “ya” ini pula yg akan membuat orang tidak menyangkal Yesus di hadapan manusia.

Misa Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus : Menyadari Kehadiran Allah Tri Tunggal dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada Minggu (7/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr dan Romo Isyadi, Pr. Melalu live streaming Youtube, Romo Isyadi yang akrab dipanggil Romo Is tersebut mengungkapkan dalam khotbahnya bahwa “tag line yang dimiliki oleh Gereja Maria Assumpta Babarsari, yaitu guyub, rukun, dan terlibat merupakan wujud dari Tri Tunggul Maha Kudus itu sendiri”.

Pada Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus, Tuhan Yesus bersabda “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yohanes 3:16-18). Romo Is mengatakan bahwa keselamatan yang dialami oleh manusia, tidak lepas dari besarnya cinta Tuhan kepada manusia. Hal tersebut diyakini, karena tidak ada keselamatan, selain keselamatan yang berasal dari Allah Tri Tunggal Maha Kudus.

Terdapat tiga info yang ingin disampaikan pada perayaan Tri Tunggal Maha Kudus, yang pertama Allah Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus merupakan bagian dari misteri iman kristiani. Allah yang Esa atau Allah yang Esa, Allah yang satu, menurut injil Yohanes juga merupakan simbol dari Allah yang dimiliki oleh firman dan roh. Info yang kedua, Allah Tri Tunggal Maha Kudus merupakan Allah yang menciptakan dunia dan seisinya. Info ketiga, gereja dalam sendi-sendi kehidupan, dipenuhi oleh Tri Tunggal Maha Kudus.  Allah Tri Tunggal Maha Kudus menjadi daya kekristenan.

Allah Tri Tunggal Maha Kudus, dapat disadari ketika kita mengalami keselamatan, semangat kehidupan menggereja, dan misteri iman kristiani yang dijalani dengan doa-doa harian yang membutuhkan iman sungguh-sungguh.

Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Mensyukuri Peristiwa Iman yang Luar Biasa

Oleh: Giasinta Berlianti

Pada Minggu (14/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr. Romo yang akrab disapa dengan Romo Tri ini ketika homili mengungkapkan bahwa biasanya pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, anak-anak di Paroki Babarsari menerima komuni pertama. “Tetapi karena pandemi, penerimaan komuni pertama belum dapat dilaksanakan. Kita semua berharap supaya pandemi ini segera berakhir agar semua umat, bukan hanya yang menerima komuni pertama, dapat hadir untuk menyambut Tubuh Kristus,” ujarnya.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Tuhan Yesus bersabda “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum daarah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:53-58). Romo Tri mengatakan bahwa jika kita mendengarkan kutipan injil tersebut, berarti kita diundang untuk makan dan minum darah-Nya. “Rasanya memang ngeri ya, kayak film horor. Tetapi, makna sesungguhnya adalah bagaimana kita semua memahami peristiwa ini sebagai iman yang luar biasa sebagai murid Kristus,” lanjut Romo Tri.

Ketika misa berlangsung, umat biasanya mempersembahkan uang, hasil bumi, dan lainnya untuk gereja. “Tetapi sebenarnya, seharusnya kita mempersembahkan semua, baik suka, duka, maupun pengharapan. Semua itu disatukan dengan kurban salib di altar-Nya yang kudus,” kata Romo Tri. Menurutnya, pada saat itulah terjadi peristiwa iman yang luar biasa. “Dalam konsekrasi, roti dan anggur yang dipersembahkan akan berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus,” lanjutnya. Peristiwa itu memberikan makna bagaimana korban Kristus dihadirkan ulang, supaya roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. “Roti itu sejatinya Tubuh Kristus sungguhan. Ketika minum anggur, karena konsekrasi itu berubah menjadi Darah Kristus,” tegas Romo Tri.

Romo Tri juga mengungkapkan bahwa setiap kita sebagai manusia disucikan dan mengalami keselamatan. Ekaristi menjadi perayaan keselamatan bagi setiap manusia yang percaya pada Kristus. “Maka, kita semua diundang untuk mensyukuri ekaristi yang bisa kita rayakan setiap hari, meskipun secara streaming atau virtual,” ujarnya. Menurutnya, setiap umat di masa pandemi pasti berharap bahwa meski secara virtual, esesnsi ekaristi tidak berkurang. “Tuhan memberikan kita kehidupan kekal, membangkitkan kita di akhir zaman, dan melindungi hidup kita,” tambah Romo Tri.

Sebagai manusia, kita semua diundang untuk menyadari pula bahwa ekaristi bukanlah makanan biasa. “Ekaristi adalah pengorbanan Kristus untuk mengalami keselamatan. Oleh karena itu, baiklah kita bersehati dengan Yesus,” ujar Romo Tri. Romo Tri mengatakan bahwa buah ekaristi sama dengan hidup baru. “Maka, aneh rasanya bila orang beriman tidak mau bersatu dengan gerejanya,” tambahnya. Terakhir, Romo Tri mengajak semua umat untuk merayakan ekaristi di masa pandemi ini dengan iman dan penuh rasa syukur.

Sakramen Rekonsiliasi Melalui Video Call, Mungkinkah?

Wawancara dengan Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Oleh: Florence Elisabeth

Sakramen rekonsiliasi merupakan nama lain dari sakramen tobat. Dalam Kanon 959 tertulis bahwa dalam sakramen tobat umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim atau sah, menyesalinya serta berniat memperbaiki diri, lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan itu, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah baptis, dan sekaligus diperdamaikan kembali dengan Gereja yang mereka lukai dengan berdosa. Bapa Uskup menegaskan bahwa Sakramen tobat adalah sakramen dengan peniten (orang yang bertobat) mengaku dosa yang sudah dilakukan kepada pelayan yang legitim atau sah, yakni kepada imam yang telah ditahbiskan secara sah dan telah mendapatkan fakultas/kewenangan dari Uskup Diosesan untuk mendengarkan pengakuan dosa.

Dalam Kanon 959 tertulis bahwa pengampunan Tuhan melalui sakramen tobat hanya akan diberikan jika kita melakukan penyesalan yang serius yakni sikap untuk bertobat meninggalkan dosa dan memperbaiki diri lagi supaya kita lebih dekat dengan Tuhan. Harus ada tekad dan niat untuk mau memperbaiki diri. “Jika kita tidak mengalami penyesalan maka pengampunan itu tidak akan diberikan kepada kita,” kata Bapa Uskup.

Lalu apa yang kita terima setelah mengaku dosa? Menurut Bapa Uskup, melalui absolusi, kita sebagai yang mengaku dosa menerima pengampunan Allah dari semua dosa yang pernah dilakukannya sesudah dibaptis dan belum dilakukan. Dengan demikian, kita akan mengalami pendamaian kembali dengan Allah. Pendamaian ini membawa serta pemulihan  atas semua hak dan kewajibannya sebagai anggota gereja, termasuk menyambut komuni kudus.

“Ini adalah konteks sakramen tobat termasuk rahmat yang terima dalam pengakuan dosa ini,” ujarnya. Lalu bagaimana perayaannya? Dalam Kanon 960 ditegaskan bahwa pengakuan pribadi dan utuh serta absolusi merupakan cara biasa satu-satunya dengan orang beriman yang sadar akan dosa beratnya diperdamaikan kembali dengan Allah dan Gereja; hanya ketidakmungkinan fisik atau moril saja membebaskannya dari pengakuan semacam itu, dalam hal rekonsiliasi dapat diperoleh juga dengan cara lain. Bapa Uskup mengajarkan bahwa pengakuan dosa umum yang dianjurkan gereja adalah datang pada Imam dan mengaku dosa disertai penyesalan yang mendalam. Kemudian, Imam memberikan absolusi dan penitensi atas dosa kita. Dengan cara seperti itu jelas tandanya bahwa kita telah diampuni dan dibebaskan kembali dari dosa. “Terdapat pengecualian jika tidak mungkin dilakukan karena kondisi tertentu dimungkinkan mendapat pengampunan dosa dengan cara lain,” kata Bapa Uskup.

Menurutnya, dalam Surat Edaran Uskup tanggal 16 Maret 2020 yaitu mengenai pengakuan dosa melalui absolusi umum yakni pengakuan dosa secara massal, romo memberikan abosuli atau pengampunan secara umum tanpa didahului pengakuan dosa secara pribadi. Absolusi umum hanya dapat diberikan sejauh tuntutan Kanon 962 terpenuhi, yakni pertama-tama ada penyesalan atas semua dosa sehingga masing-masing berdisposisi atau memiliki  kondisi batin yang layak. Kedua, secara personal membangun semanagat total yang sejati dengan memperbaiki diri dengan tidak mengulang perbuatan dosanya. Ketiga, berniat untuk sesegera mungkin mengakukan dosa-dosa berat satu per satu pada saatnya yang tepat setelahnya.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mungkin lagi untuk mengaku dosa dan menerima absolusi umum dalam keadaan pandemi Covid-19 dan diharuskan untuk jaga jarak? Mungkinkah kita menerima pengampunan dari Tuhan secara langsung? “Dalam tradisi Gereja sangat dimungkinkan kita menerima pengampunan dalam kondisi seperti ini, yaitu dengan tobat batin,” kata Bapa Uskup.

Tobat batin adalah penyesalan yang sungguh-sungguh serius dan mendalam atas semua dosa yang telah dilakukan merupakan salah satu langkah konkret untuk mendapatkan pengampunan Tuhan (lih. KGK 1431). Bapa Uskup mengatakan bahwa pertama, tobat batin sempurna mengandaikan adanya penyesalan yang sungguh-sungguh. Kedua, tekad dan kehendak serius untuk memperbaiki diri. Ketiga, tekad dan kehendak untuk sesegera mungkin menghadap seorang imam dan mengakukan dosa-dosanya.

Ketika kita tidak bertemu dengan romo untuk menerima sakramen tobat secara pribadi dan ada kemungkinan menerima absolusi umum, inilah saatnya kita datang langsung kepada Allah. Berbicara langsung kepada Allah Bapa di surga dan mohon pengampunan. Bapa Uskup menyatakan bahwa dalam tobat batin harus ada penyeselan yang mendalam dengan berbagai cara. Pertama, ibadat pribadi atau bersama di tengah keluarga dengan ada katakesete tertentu sehingga ada penyesalan dan tekad yang serius untuk berbaik kepada Allah. Kedua, mengaku dosa dengan mendoakan doa tobat, membuat penitensi secara bersama-sama, misalnya Doa Rosario, Doa Bapa Kami, dan Doa Salam Maria. Ketiga, mohon pengampunan Tuhan.

Lalu, untuk OMK, bolehkah kita mengaku dosa dengan telepon atau video call? “Secara prinsip mengaku dosa dengan telepon atau video call tidak boleh karena pertama, pengakuan dosa mengandaikan kehadiran fisik guna menampakkan sisi sakramentalilas. Kedua, kewajiban menjaga rahasia sakramental pengakuan dosa sebagaimana diatur dalam Kanon 983 dilanggar yaitu segala sesuatu, termasuk pengakuan dosa yang sudah diunggah di jaringan media sosial  tetapakan tersimpan disana dan dapat diunduh atau diakses oleh siapapun yang mampu. Dengan cara ini kerahasiaan sakramental (sigillum sacramenti) tidak  terjamin dan dapat menimbulkan masalah pastoral dan sosial,” jelas Bapa Uskup.

“Apakah kerahasiaanya terjamin jika kita mengaku dosa kepada romo?” ujar salah satu OMK. Bapa Uskup mejawab bahwa setiap romo yang mempunyai informasi dari pengaku dosa itu tidak boleh membawa rahasia tersebut keluar atau memberitahu ke semua orang. Bahkan, jika romo membocorkan rahasia  pengakuan dosa tersebut maka terdapat hukuman yaitu ekskomunikasi. Dengan demikian, tidak hanya seorang romo yang menjaga rahasia pengakuan dosa. Umat juga harus menjaga rahasia pengakuan dosa yang secara tidak sengaja terdengar dari seseorang yang mengaku dosa. Maka, kita harus benar-benar menjaga kerahasiaan dosa kita.

Bapa Uskup mengajak kita semua untuk membangun sesal tobat yang serius dan sejati. Kemudian jika memungkinkan, hendaknya kita datang kepada romo, mengaku dosa secara langsung. Namun, jika tidak memungkinkan, kita dapat memperoleh absolusi umum dengan datang langsung kepada Allah Bapa dan mohon pengampunan-Nya. Ini persis yang dianjurkan oleh Paus Fransiskus dalam homilinya pada 20 Maret 2020, “Datanglah, bicara langsung dan Allah Bapa akan mengampuni dengan sentuhan,”. Terakhir, Bapa Uskup juga mengimbau agar kita semua harus tetap ceria, tetap gembira, dan jangan lupa untuk selalu bahagia (Flo/Gia).

Hamba yang melahirkan Tuhan

Bulan Mei ditetapkan Gereja Katolik sebagai bulan Maria. Doa-Doa devosi seperti dalam bentuk Rosario dan Novena, dipanjatkan oleh umat beriman terutama dalam bulan ini. Namun terkadang kita bertanya siapakah Maria ? Mengapa Maria begitu dikhususkan dan diistimewakan daripada Santo-Santa lain dalam Gereja Katolik ? Bukankah Maria hanyalah manusia biasa sama seperti kita ? Mengapa kita melakukan devosi dan meminta kepada Maria ? Bukankah hanya kepada Allah saja kita memanjatkan doa-doa kita ?

Maria adalah sama seperti kita manusia biasa, namun Maria dipilih Allah dan Maria memilih mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah dengan menjadi bunda sang Putera Allah. Inilah yang membedakan kita dengan Maria. Maria ikut ambil bagian dalam peristiwa inkarnasi Allah, sedangkan kita tidak. Tetapi keteladanannya dan ketabahannya sebagai hamba patut kita contohkan. Jawaban iman Maria (Fiat Maria) terhadap panggilan Allah (Luk 1:38), bagaimana Maria mengasuh Yesus (Luk 2:51) dan bagaimana Maria tetap setia sampai wafat Yesus di kayu salib (Yoh 19:25-27) menunjukan Maria sebagai model bagi umat beriman dalam hal mendengarkan, merenungkan dan menjawab rencana Allah.

Lalu bagaimana dengan gelar-gelar yang disematkan kepada Maria oleh Gereja Katolik ? Bukankah gelar-gelar seperti Maria yang tetap Perawan, Dikandung tanpa noda dosa, Maria diangkat ke surga dan bahkan Maria Bunda Allah, melambangkan bahwa Maria itu lebih dari manusia biasa dan bahkan dapat disandingkan dengan Allah itu sendiri ?

Ini tidaklah benar, gelar-gelar tersebut disematkan oleh Gereja Katolik, itu semua karena karya Allah terhadap diri Maria. Gelar Maria Bunda Allah disematkan kepada Maria dikarenakan Gereja Katolik melihat siapa yang dikandung dan dilahirkan oleh Maria, yaitu Yesus yang adalah Firman Allah dan Firman Allah itu adalah Allah (Yoh 1:1-14) dan dikatakan juga bahwa yang dikandung oleh Maria adalah berasal dari Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35) hal ini membuktikan bahwa Yesus memang berasal dari Allah dan Yesus itulah Allah. Maka jika Maria diberi gelar Bunda Allah, mau menunjukan keikutsertaan Maria yang mengambil bagian dalam inkarnasi Allah dan sebagai tanggapan Maria atas seruan Allah.

Berkaitan dengan gelar Maria Bunda Allah, Maria yang tetap perawan dapat kita lihat kembali bahwa Maria mengandung dikarenakan kuasa Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35) dan bukan karena campur tangan hubungan biologis manusia. Dari ayat inilah Gereja Katolik memahami bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya. Gelar Maria Dikandung Tanpa Noda, merumuskan bahwa Maria dibebaskan dari segala dosa. Ini menunjukan bahwa Allah yang berkarya dalam membebaskan Maria dari segala dosa. Dalam rumusan doa salam Maria disebutkan “Salam, Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”. Kemudian, Rumusan ini berasal dari Injil Lukas : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1:28).

Hal ini menunjukan bahwa Maria dikaruniai oleh Allah. Ia dibebaskan Allah oleh segala dosa dikarenakan demi kesiapan inkarnasi Allah. Karya penebusan Maria tidak lepas dari penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, Maria ditebus pertama kalinya. Ajaran Maria yang diangkat kesurga, mau menunjukan bahwa Maria sudah sampai pada kepenuhan keselamatan yang diterimanya oleh karena Allah yang berkarya dengan memahkotai seluruh perjalanan hidupnya dengan kepenuhan keselamatan. Setelah Maria menyelesaikan karya kehidupannya di dunia, Maria diangkat dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Kepenuhan keselamatan ini juga menunjukan harapan umat beriman akan kebangkitan bagi semua orang dan harapan bagi kehidupan kekal surgawi.

Baiklah, bahwa semua gelar itu disematkan kepada Maria adalah oleh karena kuasa Allah yang menyiapkan Maria dan tanggapan iman Maria yang adalah sebagai hamba Allah. Namun bagaimana dengan devosi-devosi dan doa-doa yang disampaikan kepada Maria ? Bukankah kita seharusnya berdoa dan meminta kepada Allah saja ?

Kita perlu menyadari bahwa, Gereja Katolik sangat serius dengan “Persekutuan dengan Para Kudus”, hal ini juga tercantum dalam Syahadat Iman Katolik (Syahadat Para Rasul maupun Syahadat Panjang). Persekutuan Para Kudus ini menjadi para pendoa kita kepada Allah oleh karena kesatuannya dengan Kristus dan oleh karena Kristus, mereka menjadi pengantara kita kepada hadirat Bapa (bdk. KGK 956). Dalam kasus Maria, Maria ditunjuk Yesus sebagai ibu para murid (Yoh 19:26-27). Maria tinggal bersama dengan para murid Yesus bahkan Maria juga bertekun dalam doa menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1:12-14) dan para murid-Nya itulah yang saat ini kita kenal sebagai Gereja dan sampai saat ini dikenal bahwa Maria adalah Bunda Gereja. Dikatakan pula bahwa Maria pun terbukti sudah mencapai kepenuhan keselamatan dan mencapai kemuliaan surgawi bersama para kudus lainnya. Penghormatan kepada para kudus pun tidak menggantikan penghormatan kita kepada Allah dan hanya Allah lah yang boleh disembah, sedangkan para kudus dihormati dikarenakan mereka sudah mulia dihadapan Allah. Dilihat dari pemaparan Katekismus Gereja Katolik yang menyatakan bahwa para kudus adalah pendoa kita dan rumusan doa “Salam Maria” pada bagian akhir disebutkan “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Maria adalah pendoa kita kepada Allah. Jika kita umat Katolik berdoa dan berdevosi, maka sebenarnya kita berdoa bersama Maria, mohon kepada Allah, karya keselamatan Maria sebagai hamba Allah terus-menerus taat kepada Allah, mempertanggungjawabkan hidupnya kepada Allah, hingga akhirnya dipermuliakan oleh Allah. Oleh sebab itu Gereja terus-menerus menghormati Maria, karena Allah sendiri mempermuliakan Maria. Maka benarlah dalam kitab suci bahwa Maria disebut sebagai yang berbahagia (Luk 1:48) dan hingga saat ini Gereja menganggapnya sebagai teladan umat beriman dan sebagai contoh bagi umat agar terus tetap taat kepada Allah.

 

Doa Ratu Surga Paus Fransiskus

Perpustakaan Istana Kepausan // Minggu, 3 Mei 2020

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Minggu Paskah Keempat, yang kita rayakan hari ini, dipersembahkan kepada Yesus Sang Gembala Baik. Injil mengatakan demikian : “Domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yoh 10:3). Tuhan memanggil kita menurut nama kita. Ia memanggil kita karena Ia mengasihi kita. Akan tetapi, Injil mengatakan, ada suara-suara lain yang tidak boleh diikuti, yaitu suara orang-orang asing, para pencuri dan perampok yang ingin mencelakakan kawanan domba.

Suara-suara yang berlainan itu bergema didalam diri kita. Ada suara Allah, yang dengan lembut berbicara kepada hati nurani dan ada suara yang menggoda yang menuju kepada kejahatan. Bagaimana kita dapat mengenali suara Sang Gembala Baik dan suara si pencuri, bagaimana kita dapat membedakan inspirasi dari Allah dengan saran dari si jahat? Anda dapat belajar memahami kedua suara ini: sesungguhnyalah mereka berbicara dalam dua bahasa yang berbeda, artinya mereka memiliki cara-cara yang saling bertentangan untuk mengetuk hati kita. Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Sebagaimana kita tahu bagaimana caranya membedakan satu bahasa dari bahasa lainnya, kita juga dapat membedakan suara Allah dan suara si jahat. Suara Allah tidak pernah memaksa kita: Allah menawarkan diri- Nya, Ia tidak memaksakan diri-Nya. Sebaliknya suara si jahat menggoda, menyerang, memaksa: suara itu membangkitkan berbagai ilusi yang menyilaukan, perasaan-perasaan yang menggoda namun sifatnya hanya sementara.

Pada awalnya suara itu menyanjung, membuat kita percaya bahwa kita sungguh berkuasa, kemudian meninggalkan kita dengan kekosongan di dalam diri kita dan menuduh kita: “Engkau sama sekali tidak berharga”. Di lain pihak, suara Allah mengoreksi kita dengan kesabaran yang besar, namun selalu memberi kita semangat, menghibur kita: suara itu selalu membangkitkan pengharapan. Suara Allah adalah suara yang memiliki batas seluas cakrawala, sebaliknya suara si jahat menghadapkan Anda pada sebuah tembok, menyudutkan Anda.

Ada perbedaan lainnya. Suara sang musuh mengalihkan kita dari masa kini dan menginginkan kita berfokus pada ketakutan akan masa depan maupun pada kesedihan masa lalu-musuh kita tidak menginginkan masa kini-: ia membawa kembali kepahitan, kenangan akan ketidakadilan yang membuat kita menderita, akan mereka yang telah melukai kita…, dan banyak kenangan buruk lainnya.

Sebaliknya, suara Allah berbicara tentang masa kini: “Sekarang Anda bisa melakukan kebaikan, sekarang Anda bisa menggunakan daya kreativitas kasih, sekarang Anda bisa melepaskan segala kekecewaan dan penyesalan yang menjadikan hati Anda bagaikan tawanan.” Suara Allah menggerakkan kita, membawa kita maju, namun selalu berbicara dalam konteks masa kini: sekarang.

Sekali lagi: kedua suara tersebut membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda dalam diri kita. Pertanyaan yang dating dari Allah akan berupa : “Apakah yang baik untuk saya?” Sebaliknya, si penggoda akan berkeras menanyakan pertanyaan lain: “Apa yang akan saya lakukan?” Apa yang saya inginkan: suara yang jahat akan selalu berkisar pada diri kita, naluri-nalurinya, kebutuhan-kebutuhannya, semuanya sekaligus.

Itu seperti tingkah anak-anak yang menginginkan semuanya, saat ini juga. Suara Allah, sebaliknya, tidak pernah menjanjikan sukacita dengan harga yang rendah: suara itu mengundang kita untuk melampaui diri kita sendiri dalam menemukan kebaikan yang sejati, dalam menemukan kedamaian. Ingatlah: si jahat tidak pernah memberikan damai, ia menaruh hiruk-pikuk pada awalnya dan meninggalkan kepahitan setelahnya. Inilah gaya si jahat.

Akhirnya, suara Allah dan suara si penggoda berbicara dalam “lingkungan” yang berbeda: musuh kita lebih menyukai kegelapan, kepalsuan, gosip: sementara Tuhan mencintai cahaya mentari, kebenaran, dan kejernihan yang tulus. Musuh akan berkata kepada kita: “Tutuplah dirimu, supaya tak seorang pun mendengarkan dan memahami engkau, janganlah percaya!”

Sebaliknya, suara yang baik mengundang kita untuk membuka diri, untuk bersikap jernih dan menaruh kepercayaan kepada Allah dan sesama. Saudara-saudari terkasih, pada masa ini berbagai keprihatinan dan pemikiran menggiring kita untuk kembali masuk ke dalam diri kita. Kitamemperhatikansuara-suarayang menyentuhhatikita.

Marilah kita bertanya dari mana suara-suara itu datang. Kita mohonkan rahmat untuk mengenali dan mengikuti suara Sang Gembala Baik yang membawa kita keluar dari batasan-batasan mementingkan diri sendiri dan membimbing kita menuju padang rumput kebebasan sejati. Bunda Maria, Bunda Penasehat Baik, sertailah dan tuntunlah upaya kami dalam pembedaan roh ini.

 

Setelah Doa Ratu Surga

Saudara-saudari terkasih,

Hari Doa Sedunia bagi Panggilan dirayakan hari ini. Keberadaan umat Kristiani selalu dan seluruhnya merupakan sebuah tanggapan akan panggilan Allah, dalam segala keadaan hidup. Hari ini mengingatkan kita akan apa yang suatu hari dikatakan oleh Yesus, yaitu bahwa ladang Kerajaan Allah membutuhkan banyak kerja keras, dan bahwa kita harus berdoa kepada Bapa supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk bekerja di ladang-Nya (bdk. Mat 9:37-38). Imamat dan hidup yang dikonsekrasikan membutuhkan keberanian dan kegigihan; dan tanpa doa orang tidak akan mampu melalui jalan ini. Saya mengundang seluruh umat untuk memohonkan kepada Allah karunia berupa pekerja-pekerja yang baik bagi Kerajaan-Nya, dengan hati dan tangan yang terbuka bagi kasih-Nya.

Sekali lagi saya ingin mengungkapkan kedekatan saya dengan mereka yang sakit karena Covid-19, dengan mereka yang mendedikasikan diri mereka bagi perawatan orang-orang sakit tersebut, dan dengan mereka yang dalam cara apapun menderita karena pandemi ini. Pada saat yang sama, saya ingin mendukung dan mendorong kerjasama internasional yang terlaksana berkat berbagai inisiatif untuk menanggapi krisis serius yang sedang kita alami ini dengan baik dan efektif.

Sesungguhnyalah, penting untuk menyatukan berbagai ketrampilan ilmiah dalam cara-cara yang transparan dan tidak memihak, untuk menemukan vaksin-vaksin dan pengobatan-pengobatan, dan untuk menjamin akses universal kepada teknologi-teknologi esensial yang memungkinkan setiap orang yang terinfeksi, di belahan dunia yang manapun, untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.

Saya menujukan suatu ingatan istimewa bagi Asosiasi “Meter,” pelopor diadakannya Hari Nasional bagi anak-anak korban kekerasan, eksploitasi, dan pengabaian. Saya mendorong para penanggungjawab dan para pelaksana untuk meneruskan tindakan-tindakan mereka bagi pencegahan dan pembangkitan kesadaran yang dilakukan bersama-sama dengan berbagai agen pendidikan. Dan saya berterimakasih kepada anak-anak dari Asosiasi tersebut yang mengirimkan kepada saya sebuah kolase dengan ratusan bunga aster yang mereka warnai. Terimakasih!

Kita baru saja memulai bulan Mei, bulan Maria yang terbaik, saat para umat beriman banyak berkunjung ke berbagai tempat ziarah yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Tahun ini, sehubungan dengan situasi kesehatan saat ini, kita pergi ke tempat-tempat iman dan devosi itu secara batin, untuk menaruh segala kekuatiran, harapan, dan rencana-rencana kita bagi masa depan di dalam hati Sang Perawan Suci.

Dan karena doa adalah nilai yang universal, saya telah menerima proposal Komite Tinggi untuk Persaudaraan Umat Manusia supaya penganut semua agama bergabung secara spiritual pada tanggal 14 Mei dalam hari doa, puasa dan karya amal, untuk memohon kepada Allah agar membantu umat manusia mengatasi wabah coronavirus ini. Ingat: tanggal 14 Mei, seluruh umat beriman, penganut berbagai tradisi yang berbeda-beda, diharapkan untuk berdoa, berpuasa dan melakukan karya-karya amal kasih.

Saya mengucapkan selamat berhari Minggu kepada semua orang. Tolong janganlah lupa berdoa bagi saya. Selamat makan siang, dan sampai jumpa.

 

©Copyright – Libreria Editrice Vaticana

Translation – Justine Taroewidjaja