by editor | Jan 15, 2020 | Renungan
MEMAHAMI kondisi orang yang sakit kusta; Mereka dianggap najis karena penyakitnya itu. Mereka dikucilkan dari tengah-tengah masyarakat.
Tinggal di pinggir agak jauh dari kampung. Mereka tidak boleh mendekat ke orang lain. Mereka minder, takut, terkucil, dijauhi dan dianggap orang yang dihukum Allah.
Mereka dijauhi dan dicap sebagai pendosa. Ketika orang kusta itu datang memohon kepada Yesus, dia berkata, “Kalau Engkau mau. Engkau dapat mentahirkan aku.”
Di satu sisi dapat diterjemahkan sebagai ungkapan orang yang hanya bisa pasrah. Orang yang sudah terlalu lama mengalami keputus-asaan karena sakit fisiknya, tetapi juga lebih-lebih kondisi psikisnya yang dicampakkan oleh masyarakat.
Beban yang ditanggungnya sangat berat, tak punya harapan lagi. Maka dia hanya bisa memohon, “Kalau Engkau mau.”
Di sisi lain, orang ini percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan penyakitnya. Orang yang percaya tidak akan memaksakan kehendak. Ia percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkannya.
Orang mati saja bisa dibangkitkan, apalagi dia yang hanya sakit kusta. Percaya dan pasrah itu dua hal yang menyatu. Orang kusta itu percaya dan pasrah kepada Yesus Sang Juru selamat.
Hati Yesus yang maharahim itu tergerak oleh belaskasihan. Ia mengulurkan tangan dan menjamah orang kusta itu, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Yesus tidak “wigah-wigih” mendekati, menjamah orang kusta itu. Ia tidak sungkan-sungkan mengulurkan tangan kepada orang yang disingkirkan masyarakat.
Kadang kita takut-takut bergaul dengan orang yang dicap sebagai pelacur, gay, banci, narkoba, penderita AIDS/HIV atau penderita penyakit sosial lainnya.
Bahkan kita pusing melihat darah bercucuran. Lalu cepat-cepat menjauh. Dengan berbagai alasan kita menjauhi mereka.
Dalam kutipan ini, Yesus mengajak kita untuk datang mendekati,mengulurkan dan menjamah mereka. Bukan saja secara fisik tetapi juga dengan hati yang berbelaskasih.
Marilah kita meniru Yesus yang mudah berbelaskasih kepada orang sakit, mereka yang lemah, menderita, disingkirkan dan dikucilkan.
Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi orang-orang kecil ini, engkau mengasihi Aku.”
Pergi ke hutan melihat kancil
Ternyata di belakangnya ada singa
Di dalam diri orang-orang yang kecil Yesus menampakkan diriNya
Cawas, pengin punya anggrek
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 14, 2020 | Renungan
KEBUTUHAN dasar manusia yang paling tinggi adalah dihargai. Orang mengejar popularitas supaya bisa dihargai atau dihormati.
Kadang orang menggunakan segala cara agar bisa terkenal. Kita semua tahu bagaimana Michael Jackson, King of Pop dunia mencapai puncak popularitasnya.
Kabar kematiannya yang mendadak menggemparkan jagad musik pop. Diketahui belakangan bahwa raja pop dunia itu over dosis obat penenang.
Begitu pula yang dialami oleh Whitney Houston, teman seprofesi Sang Raja Pop itu. Ketenaran dikejar sampai harus mati karena beban berat dari tuntutan para penggemarnya.
Orang tidak berani mundur karena dituntut terus berjaya oleh fans beratnya. Orang sampai kehilangan karakter aslinya karena harus mengikuti tuntutan kemauan followernya.
Karena tidak tahan menanggung beban berat itu, maka obat adalah pelariannya. Obat juga yang membuat semuanya finished.
Di Kapernaum, tempat ibu mertua Simon, Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang sakit. Ia menyembuhkan mereka sampai menjelang malam.
Banyak orang sakit, dan mereka yang kerasukan setan, disembuhkanNya. Seluruh penduduk kota “ambyuk” di depan pintu.
NamaNya makin dikenal orang banyak. Bahkan setan-setan pun mengenali siapa Dia. Maka Yesus tidak memperbolehkan mereka berbicara.
Orang banyak takjub akan pengajaran dan mukjijatNya. Mereka semua mengikuti Yesus kemana pun Dia pergi.
Ketika pagi-pagi buta, saat Dia masih sembahyang seorang diri, Simon dan kawan-kawannya menyusul dan berkata, “Semua orang mencari Engkau.”
Yesus menjadi bintang baru di antara guru-guru spiritual pada zamannya. Banyak pengikutNya. Banyak orang mencariNya.
Tetapi Yesus tidak mabuk popularitas. Yesus tidak gila hormat. Ia tidak memburu pujian atau prestise. Yesus berkata kepada Simon,
“Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana Aku juga memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
Yesus tidak berhenti pada popularitas, tetapi Ia fokus pada tugas perutusanNya yakni memberitakan Injil kepada semua orang.
Yesus tidak mencari popularitas pribadi, tetapi Ia datang untuk memberitakan Kabar Gembira yang menyelamatkan.
Apakah yang kita cari dalam hidup kita ini? Popularitas semu yang menipu? Atau Kerajaan Allah yang memerdekakan?
Tenggorokan gatal
Sakit menelan air liur
Mari kumpulkan bekal
Untuk perjalanan abadi para sedulur
Cawas, Jurus meredam tongkat ajian
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 13, 2020 | Renungan
DALAM Konperensi pers di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,Uskup Agung Semarang, Mgr. Rubiyatmoko mengakatakan adanya kesulitan besar bagi sekolah-sekolah katolik dewasa ini untuk mengembangkan pendidikan.
Hal itu ditandai dengan menurunnya peserta didik dan beban finansial yang makin berat. Romo Darmin, Ketua MNPK mengatakan bahwa orangtua zaman sekarang tidak mementingkan kualitas sekolah tetapi mencari sekolah gratis dengan kualitas seadanya.
Menurut Uskup Semarang, sekolah katolik harus memiliki kekhasan dan keunggulan. Untuk itu perlu ambil resiko untuk berani melawan arus. Caranya ialah memberi perhatian besar pada pendidikan iman, kepribadian, karakter dan kompetensi.
Sedangkan Rektor USD, Eka Priyatma menawarkan strategy Good School Governance yakni membangun sekolah dengan prinsip transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi dan Fairness (TARIF).
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menjadi guru yang unggul dan berkarakter. “orang-orang takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”
Saya dulu punya dosen yang kalau mengajar hanya membaca diktat. Mahasiswanya pergi keluar kelas pun dia tidak tahu. Yesus mengajar dengan penuh kuasa. Orang-orang takjub dan memperbincangkanNya.
Sekolah katolik mestinya mencari kekhasan atau keunggulannya. Cara-cara lama sudah tidak laku lagi. Harus mencari terobosan baru sesuai dengan zamannya.
Yesus mengajar tidak seperti ahli-ahli Taurat. Berarti Dia mempunyai ciri khas sendiri, tidak meniru ahli-ahli Taurat.
Yesus mengajar penuh kuasa. “Guru ini berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun Ia perintah dan mereka taat kepadaNya.”
Kuasa disini berarti kata-katanya diikuti. Supaya bisa diikuti maka guru harus menjadi contoh teladan. Antara kata dan tindakannya sesuai.
Ahli-ahli Taurat itu tidak punya kuasa karena antara kata dan tindakan tidak sesuai. Mereka tidak bisa menjadi teladan.
Kalau gurunya bisa diteladani, punya kuasa, maka marketing akan berjalan dengan sendirinya. “Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.”
Pasti banyak orang datang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi muridNya. Nah, kita boleh bertanya Quo Vadis sekolah katolik? Bagaimana karakter para guru katolik?
Guru kencing berdiri
Murid kencing bergoyang-goyang
Apa sekolah katolik masih bisa berdiri
Kalau tidak punya keunggulan yang menjulang
Cawas, Mencari inspirasi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 12, 2020 | Renungan
PENDAFTARAN Murid baru sudah dimulai jauh-jauh hari. Sekolah-sekolah favorit biasanya sudah penuh kuotanya. Bahkan mereka sampai menolak siswa.
Banyak orangtua yang ingin anaknya bersekolah sekaligus asrama. Apalagi mereka yang berasal dari tempat-tempat jauh. Sekolah Katolik berasrama menjadi pilihan utama.
Tetapi mungkin hanya satu sekolah katolik berasrama yang tidak terlalu banyak peminatnya, yakni Seminari. Sekolah calon imam.
Mungkin karena prasyarat masuk sekolah ini adalah mereka-mereka yang ingin menjadi imam, bukan pemuda biasa, maka peminatnya tidak seperti sekolah katolik berasrama biasa lainnya. Harus menjadi pemikiran bersama supaya peminat ke Seminari dapat tumbuh makin banyak.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memilih murid-muridNya. Bukan murid-murid yang mendaftarkan diri, tetapi Yesus memilih mereka. Murid pertama adalah Simon dan Andreas.
Mereka sedang menebarkan jala di danau. Mereka dipanggil. Mereka langsung meninggalkan jalanya. Murid berikutnya adalah Yakobus dan Yohanes, kakak beradik.
Mereka meninggalkan perahu, jala dan ayahnya serta orang-orang upahannya. Berarti Yakobus dan Yohanes ini termasuk keluarga berada karena punya perahu dan orang-orang upahan.
Mengapa mereka dengan segera meninggalkan semuanya untuk mengikuti Yesus? Mungkin bisa dilihat dari kata-kata Yesus sendiri.
Tawaran Yesus itu sesuatu yang lain dan menantang. “Mari ikutlah Aku. Kalian akan Kujadikan penjala manusia.”
Ajakan Yesus ini adalah sesuatu yang baru dan menantang. Menjadi penjala manusia. Kalau kita menawarkan sebuah produk, namun tidak ada nilai yang baru dan menantang, orang tidak akan tertarik.
Selain nilai yang ditawarkan, pasti pribadi yang menawarkan itu sangat penting. Menjadi petugas marketing namun tidak mempunyai kualitas daya tarik, ya tidak akan laku. Kualitas pribadi Yesus pastilah seorang yang bukan guru biasa. sabdaNya penuh wibawa.
Bisakah kita melihat pribadi Yesus seperti para murid yang dipanggil itu? Sehingga ketika kita dipanggil juga langsung meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus?
Atau mungkin kita belum sebagaimana Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes melihat pribadi Yesus. Karena kita belum berani meninggalkan semuanya seperti mereka.
Beli baju tidak teliti
Ternyata tidak ada kancingnya
Ikut Yesus harus berani
Meninggalkan segala-galanya
Cawas, pengin minyak kayu putih
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 11, 2020 | Renungan
Hari ini gereja merayakan Pembaptisan Tuhan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes. Peristiwa ini mau menyatakan tentang ketaatan Yesus kepada kehendak Allah dan pemaklumanNya sebagai Putera Allah.
Ketaatan Yesus pada kehendak Allah dinyatakan dalam dialog antara Yohanes dan Yesus. Yohanes merasa tidak pantas membaptis Yesus dengan berkata, “Akulah yang mesti dibaptis olehMu! Masakan Engkau yang datang kepadaku!”
Yohanes menyadari dan tahu diri siapakah dirinya itu. Bahkan untuk membuka tali kasutNya pun, dia tidak layak. Tetapi Yesus meneguhkan bahwa taat pada kehendak Allah jauh lebih utama daripada soal layak dan tidak layak.
Yesus datang untuk menggenapi kehendak Allah. “Biarlah itu terjadi karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yesus mengajarkan kepada kita untuk mentaati kehendak Allah.
Dengan pembaptisan itu, Allah memaklumkan bahwa Yesus adalah PuteraNya yang terkasih. Hal itu dinyatakan dalam rupa Roh Allah yang turun seperti burung merpati ke atasNya.
Dan suara dari Surga yang menegaskan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Dengan pembaptisan ini, Yesus dinyatakan sebagai Putera Allah yang taat kepada kehendak BapaNya.
Kita pun diingatkan akan martabat pembaptisan kita. Pembaptisan menyadarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kalau kita anak, maka kita pun ahli waris surgawi.
Martabat baru sebagai anak Allah itulah yang kita peroleh dengan pembaptisan. Kita bisa menerima itu karena kita disatukan dengan Yesus Kristus dalam pembaptisan.
Status sebagai anak Allah itu akan menjadi sempurna jika kita mampu meneladan Yesus yang taat pada kehendak Allah.
Martabat sebagai anak Allah disertai dengan tanggungjawab untuk setia dan taat menjalankan kehendak Bapa.
Inilah panggilan kita sebagai orang-orang yang sudah dibaptis. Mari kita menjadi anak Allah dengan taat melaksanakan kehendakNya, bukan kehendak kita sendiri.
Baptis tidak menjamin orang masuk surga kalau hidupnya tidak sesuai dengan martabat baptisannya.
Setiap pagi hujan gerimis
Siapkan payung dan jas hujannya
Setiap orang yang sudah dibaptis
Dipanggil mewujudkan kasih kepada sesama
Cawas, saat menanti hujan reda
Rm. A. Joko Purwanto Pr