KETELADANAN BUNDA MARIA BAGI ORANG MUDA KATOLIK

Bunda Maria adalah pribadi yang begitu dihormati oleh Gereja Katolik dan dinobatkan sebagai Bunda Gereja. Bunda Maria diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Penebus. Ia dianugerahi karunia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di surga maupun di bumi.

Bunda Maria pun menerima salam sebagai anggota Gereja yang  unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Teladan Bunda Maria tampak bukan hanya pada saat dirinya dipilih Allah sebagai perawan yang melahirkan sang Juruselamat, akan tetapi juga tampak dalam seluruh pemberian hidup bunda Maria kepada dunia. Keteladanan bunda Maria senantiasa relevan bagi kita, kaum muda. Mari kita merefleksikan keteladanan bunda Maria bagi kaum muda.

 

Reaksi Maria dalam menerima kabar gembira

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

(Luk 1: 28 – 30)

Dalam potongan perikop injil Lukas diatas, kita dapat merasakan bagaimana reaksi Bunda Maria terhadap orang asing yang ternyata merupakan malaikat pembawa kabar karunia. Tidak ada reaksi berlebihan seperti meloncat atau langsung menolak karena takut akan munculnya orang asing. Maria yang terkejut justru memilih untuk diam dan tetap tenang. Dia memilih berusaha memahami keadaan yang terjadi dengan imannya. Perawan dari Nazaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang sangat istimewa. Maria menerima salam malaikat pembawa warta dengan sebutan “penuh rahmat”. Kepada utusan dari surga itu ia menjawab: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk. 1:38). Demikianlah perawan Maria menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan. Maria membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan dan mengabdikan diri kepada misteri penebusan Ilahi.

Reaksi perawan Maria terhadap kedatangan kabar mengejutkan yang dibawa oleh orang asing, begitu tenang. Maria tetap mendengarkan malaikat itu berbicara mengenai karunia yang Ia dapatkan. Lantas bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kondisi saat ini dimana teknologi semakin canggih, dan akses informasi begitu mudah diakses?  Ketenangan Maria dapat menjadi contoh bagaimana sikap kita dalam menerima segala jenis informasi atau berita bisa diakses dengan cepat terutama informasi-informasi tersebut terkadang bisa memprovokasi kita. Banyak dari para kaum muda saat ini langsung bereaksi dengan berkomentar nyiyir dan menjatuhkan tanpa tau cerita yang terjadi sebenarnya.

Sebagai orang muda Katolik, kita diajak untuk mencontoh sikap Bunda Maria dalam menerima sebuah informasi, yaitu dengan diam terlebih dahulu dan belajar memahami keadaaan dan informasi yang sebenarnya. Kita jangan cepat terhasut oleh pemberitaan yang kenyataanya tidak benar atau bisa dikatakan hoax.

Seperti pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 pada 16 Mei 2021, Paus mengajak para junalis dan pengguna sosial media untuk kembali kejalan yang benar. Artinya, kita diajak untuk tidak reaktif menyebarkan berita yang kita tidak tau kepastiannya, melainkan reflektif dengan “datang dan lihatlah”. Kita harus mengecek dan memverifikasi secara lebih mendalam apakah berita yang kita sebar sesuai di lapangan atau tidak. Hal ini tentu akan membawa kita menjadi pewarta kabar berita yang baik dan bisa membantu menyelesaikan salah satu tantangan dunia ini.

 

Peran bunda Maria dalam mukjizat pertama Yesus

Teladan Bunda Maria juga bisa kita lihat dari kedekatan relasi yang dia jalin bersama Yesus putranya. Kita bisa melihatnya pada kisah pernikahan di Kana saat Yesus membuat mukjizat-Nya yang pertama (Yoh 2:1-11).

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2 : 3 – 5)

Kutipan perikop injil Yohanes di atas menunjukan bahwa di balik penyataan bunda Maria kepada Yesus, tersirat  kedekatan relasi seorang ibu kepada anaknya. Bunda Maria sangat mengenal Yesus, dan percaya bahwa Yesus mampu membuat mukjizat. Dari sanalah terjadi mujizat Yesus yang pertama yaitu berubahnya air menjadi anggur. Kisah tersebut menunjukkan relasi yang sangat dekat antara bunda Maria dan Yesus.

Bagi kita, para kaum muda, ada masa dimana kita mengalami keterpurukan dan kesulitan di dalam hidup. Disaat tak ada lagi orang yang membantu, satu-satunya tumpuan dan batu karang yang bisa kita pegang hanyalah Tuhan Yesus Kristus Sang Juruselamat. Sebagaimana teladan bunda Maria, kita berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan. Meskipun doa kita belum tentu langsung dijawab oleh-Nya, kita wajib tetap percaya dan menunggu. Seperti yang dilakukan bunda Maria, walaupun Yesus berkata “ini belum waktunya”, namun Bunda Maria tetap percaya bahwa Yesus akan melakukannya. Kita mungkin akan bertanya-tanya mengapa doa kita belum terjawab, atau kita berpikir mungkinkah Tuhan tak lagi sayang kepada kita. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya kita meneladani sikap bunda Maria, yakni tetap percaya dan setia kepada rencana Tuhan walaupun terkadang rencananya sulit dimengerti dan sulit kita terima dalam kacamata kita sebagai manusia.

Bunda Maria yang berkedudukan sebagai seorang ibu, tidak serta-merta memaksakan kehendaknya kepada Yesus padahal hal tersebut bisa saja dilakukannya. Bunda Maria justru memilih memposisikan dirinya sebagai hamba dan murid Yesus dan menuruti setiap perintah-Nya. Sungguh sikap ketaatan dan kerendahan hati yang sangat luarbiasa dan patut diteladani.  Karena pada akhirnya Yesus akan menjawab doa setiap umat-Nya, pada waktu yang tepat. Begitu pula dengan kita, sebagai orang muda yang begitu dikasihi oleh Tuhan, kita perlu bercermin dari kepasrahan bunda Maria.

Dalam penderitaan hingga wafat Yesus di salib, bunda Maria merelakan Sang Anak yang begitu ia cintai. Bunda Maria pun mengalami duka dan penderitaan yang begitu mendalam.  Namun, di tengah duka yang ia hadapi, di tengah penderitaan dan kehilangan yang ia alami, bunda Maria tetap teguh pada imannya akan rencana Tuhan. Kita pun perlu meneladani keteguhan iman bunda Maria ketika dia harus mengalami penderitaan yang begitu dahsyat, dan ketika harus mengalami duka kehilangan Sang Putra yang begitu ia cintai demi rencana Tuhan. Di dalam keterpurukan, kita perlu berpegang teguh pada iman kita, pada rencana Tuhan yang lebih besar daripada rencana kita. Kita harus setia dan percaya bahwa Tuhan begitu mencintai kita umatNya dalam keadaan suka maupun duka hidup kita.  Bunda Maria mengajarkan bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan jalan rencana karya keselamatan bagi banyak orang. Sikap inilah yang patut kita contoh dan kita imani sebagai generasi muda Katolik penerus Gereja.

Semoga kita semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman, terutama dalam menghadapi masalah dan gejolak kehidupan yang terjadi saat ini. Kita harus menjadi anak-anak muda yang ambil bagian dalam karya keselamatan yang telah Tuhan sediakan bagi kita dan bagi orang-orang di sekeliling kita.

Sumber :

Youtube Channel : Bible Learning with Father Josep Susanto

 

 

 

 

 

Written by : Chika

Edited by : Gisella

Hari Raya Semua Orang Kudus

Ilustrasi Yesus bersama Para Kudus

Hari raya semua orang kudus adalah suatu perayaan yang dirayakan pada tanggal 1 November di sebagian Kekristenan Barat, dan pada hari Minggu pertama setelah Pentakosta di Kekristenan Timur, untuk menghormati semua orang kudus baik yang dikenal, maupun yang tidak dikenal. Perayaan ini dimulai saat matahari terbenam pada tanggal 31 Oktober (dirayakan sebagai Halloween) dan selesai saat matahari terbenam pada tanggal 1 November. Perayaan ini diperingati satu hari sebelum perayaan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Dalam teologi Kristen Barat, perayaan ini bertujuan untuk memperingati semua orang yang telah mencapai visi beatifis (keyakinan Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur bahwa manusia menjadi semakin serupa dengan Allah) di surga. Perlu diketahui, Hari Raya Semua Orang Kudus merupakan hari libur nasional di negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Katolik.

Sejarah Perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus

Hari Raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usaha mereka menyebarkan iman Kristiani. Di lingkungan Gereja Barat khususnya di Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadah kafir untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah Gereja. Gereja ini dipersembahkan kepada Santa Maria bersama Para Rasul. Dahulu di Roma, hari raya ini biasanya diperingati pada hari Minggu setelah Pentakosta. Lama-kelamaan pesta ini menjadi populer untuk menghormati Para Kudus, baik mereka yang sudah diakui secara resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum dan tidak diketahui.

Bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap perayaan ini ?

Pesta hari ini dirayakan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat-jemaat perdana disebut “Persekutuan para Kudus”, yakni persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus pada hari raya ini kita memperingati rombongan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah, karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai pada akhir pertandingan di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran yang besar di surga.

Lantas, apakah arti “Persekutuan Para Kudus” ?

            Ungkapan ini terutama menunjukkan seluruh anggota gereja yang hidup dengan saling berbagi dengan hal suci (sancta), iman, Sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi, karisma-karisma, dan anugerah-anugerah spiritual yang lainnya. Akar terdalam dari persekutuan ini adalah cinta yang “tidak mencari keuntungan sendiri”(1Kor13:5), tetapi mendorong umat beriman untuk mempunyai sikap hidup bahwa “segala sesuatu adalah kepunyaan bersama”(Kis4:32), bahkan menyediakan barang-barangnya untuk yang miskin dan yang paling membutuhkan. Persekutuan Para Kudus juga memiliki arti lain, ungkapan ini juga menunjuk pada kesatuan antara orang-orang suci (sancti), yaitu antara mereka yang berkat rahmat Allah dipersatukan dengan Kristus yang mati dan bangkit, ada yang msaih berjuang di dunia ini, yang lainnya sudah melewati hidup di dunia dan sedang mengalami proses pemurnian yang membutuhkan bantuan doa-doa kita. Yang lain lagi sudah masuk dalam kemuliaan Allah dan mendoakan serta menjadi pengantara kita. Semua anggota ini bersama-sama membentuk satu keluarga di dalam Kristus, yaitu Gereja, untuk memuji dan memuliakan Allah Tritunggal.

Bagi Umat Kristen yang merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, mereka melakukannya dengan dasar keyakinan bahwa terdapat ikatan spiritual doa antara umat yang berada dalam api penyucian (Ecclesia Penitens), umat yang berada di surga (Ecclesia Triumphans), serta umat yang masih hidup (Ecclesia Militans). Oleh karena itu tampilah para Santo-Santa dan Beato-Beata yang mendoakan agar kita tekun dalam perjuangan dan tabah dalam penderitaan di dunia. Sehingga apabila akhirnya Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan, kita manusia akan menjadi serupa dengan Dia. Pada saat itulah akan terjalin kesatuan yang sempurna antara kita manusia dengan Kristus dan dengan semua saudara kita. Dan dalam tradisi Gereja Katolik dan banyak kelompok Gereja Anglikan, satu hari setelah perayaan tersebut digunakan untuk memperingati orang-orang beriman yang meninggal namun belum dimurnikan dan belum masuk surga.

Kebahagiaan dan kemuliaan mereka tak bisa kita lukiskan dengan kata-kata manusiawi. Sehubungan dengan itu Santo Paulus berkata: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor 2:9) Ganjaran yang diterimanya dari Kristus adalah turut serta di dalam Perjamuan Perkawinan Anak Domba Allah. Air mata mereka telah dihapus sendiri oleh Yesus. Dan tentang itu Yohanes menulis: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan perkawinan Anak Domba.” (Why 19:9) “Dan Dia akan menghapus segala air mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau berdukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Oleh sebab itu “Kita, mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Hibr 12:1-2).

 

 

 

 

 

 

Penulis: Tripleway

Editor: Gisella

 

Sumber:

id.wikipedia.or g/wiki/Hari_Raya_Se mua_Orang_Kudus

www.imankatolik.or.id/kalender/1Nov.html

www.katolisitas.org/hari-raya-orang-kudus-hari-arwah/

 

 

Puncta 21.06.20 / Minggu Biasa XII / Matius 10 : 26 – 33 / Meng-“iyakan” Yesus yang Ditawarkan dalam Pewartaan

Semoga kita dikuatkan oleh Roh Allah sendiri sehingga setiap hari bisa mengulangi jawaban “ya” untuk Yesus, kebenaran kita -Romo Iswahyudi

Pada Minggu (21/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Yesus Yang Mahakudus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Isyadi, Pr. Melalu live streaming Youtube, Romo Isyadi yang akrab dipanggil Romo Is tersebut mengungkapkan dalam khotbahnya bahwa Injil Matius dikenal sebagai Injil Gerejawi.

Pada Injil tersebut, terlihat bagaimana organisme Gereja ditumbuhkan, katekese dan pewartaan  diolah, liturgi dilakukan dan dihayati. Ketika proses itu telah dijalankan, harapannya jemaat bisa memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Bagi Matius orang harus menjawab dengan mantab, penuh keyakinan, meng “iyakan” Yesus yg ditawarkan dalam pewartaan , yg dirasakan kehadiranNya dalam liturgi, yg menyatukan umat. Meski berbagai macam  rintangan menghadang, iman yg telah diafirmasi dengan kata ” ya ” tidak akan surut.

Pada bacaan Mat 10 : 32  – 33, yang tertulis “Setiap orang yg mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yg di Sorga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yg di Sorga”. Tulisan tersebut dimaknai sebagai, tuntutan yang mendorong manusia untuk memilih dan mengatakan ” ya ” untuk Yesus. Kemantapan iman dan  jawaban “ya” ini pula yg akan membuat orang tidak menyangkal Yesus di hadapan manusia.

Misa Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus : Menyadari Kehadiran Allah Tri Tunggal dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada Minggu (7/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr dan Romo Iswahyudi, Pr. Melalu live streaming Youtube, Romo Iswahyudi yang akrab dipanggil Romo Is tersebut mengungkapkan dalam khotbahnya bahwa “tag line yang dimiliki oleh Gereja Maria Assumpta Babarsari, yaitu guyub, rukun, dan terlibat merupakan wujud dari Tri Tunggul Maha Kudus itu sendiri”.

Pada Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus, Tuhan Yesus bersabda “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yohanes 3:16-18). Romo Is mengatakan bahwa keselamatan yang dialami oleh manusia, tidak lepas dari besarnya cinta Tuhan kepada manusia. Hal tersebut diyakini, karena tidak ada keselamatan, selain keselamatan yang berasal dari Allah Tri Tunggal Maha Kudus.

Terdapat tiga info yang ingin disampaikan pada perayaan Tri Tunggal Maha Kudus, yang pertama Allah Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus merupakan bagian dari misteri iman kristiani. Allah yang Esa atau Allah yang Esa, Allah yang satu, menurut injil Yohanes juga merupakan simbol dari Allah yang dimiliki oleh firman dan roh. Info yang kedua, Allah Tri Tunggal Maha Kudus merupakan Allah yang menciptakan dunia dan seisinya. Info ketiga, gereja dalam sendi-sendi kehidupan, dipenuhi oleh Tri Tunggal Maha Kudus.  Allah Tri Tunggal Maha Kudus menjadi daya kekristenan.

Allah Tri Tunggal Maha Kudus, dapat disadari ketika kita mengalami keselamatan, semangat kehidupan menggereja, dan misteri iman kristiani yang dijalani dengan doa-doa harian yang membutuhkan iman sungguh-sungguh.

Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Mensyukuri Peristiwa Iman yang Luar Biasa

Oleh: Giasinta Berlianti

Pada Minggu (14/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr. Romo yang akrab disapa dengan Romo Tri ini ketika homili mengungkapkan bahwa biasanya pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, anak-anak di Paroki Babarsari menerima komuni pertama. “Tetapi karena pandemi, penerimaan komuni pertama belum dapat dilaksanakan. Kita semua berharap supaya pandemi ini segera berakhir agar semua umat, bukan hanya yang menerima komuni pertama, dapat hadir untuk menyambut Tubuh Kristus,” ujarnya.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Tuhan Yesus bersabda “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum daarah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:53-58). Romo Tri mengatakan bahwa jika kita mendengarkan kutipan injil tersebut, berarti kita diundang untuk makan dan minum darah-Nya. “Rasanya memang ngeri ya, kayak film horor. Tetapi, makna sesungguhnya adalah bagaimana kita semua memahami peristiwa ini sebagai iman yang luar biasa sebagai murid Kristus,” lanjut Romo Tri.

Ketika misa berlangsung, umat biasanya mempersembahkan uang, hasil bumi, dan lainnya untuk gereja. “Tetapi sebenarnya, seharusnya kita mempersembahkan semua, baik suka, duka, maupun pengharapan. Semua itu disatukan dengan kurban salib di altar-Nya yang kudus,” kata Romo Tri. Menurutnya, pada saat itulah terjadi peristiwa iman yang luar biasa. “Dalam konsekrasi, roti dan anggur yang dipersembahkan akan berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus,” lanjutnya. Peristiwa itu memberikan makna bagaimana korban Kristus dihadirkan ulang, supaya roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. “Roti itu sejatinya Tubuh Kristus sungguhan. Ketika minum anggur, karena konsekrasi itu berubah menjadi Darah Kristus,” tegas Romo Tri.

Romo Tri juga mengungkapkan bahwa setiap kita sebagai manusia disucikan dan mengalami keselamatan. Ekaristi menjadi perayaan keselamatan bagi setiap manusia yang percaya pada Kristus. “Maka, kita semua diundang untuk mensyukuri ekaristi yang bisa kita rayakan setiap hari, meskipun secara streaming atau virtual,” ujarnya. Menurutnya, setiap umat di masa pandemi pasti berharap bahwa meski secara virtual, esesnsi ekaristi tidak berkurang. “Tuhan memberikan kita kehidupan kekal, membangkitkan kita di akhir zaman, dan melindungi hidup kita,” tambah Romo Tri.

Sebagai manusia, kita semua diundang untuk menyadari pula bahwa ekaristi bukanlah makanan biasa. “Ekaristi adalah pengorbanan Kristus untuk mengalami keselamatan. Oleh karena itu, baiklah kita bersehati dengan Yesus,” ujar Romo Tri. Romo Tri mengatakan bahwa buah ekaristi sama dengan hidup baru. “Maka, aneh rasanya bila orang beriman tidak mau bersatu dengan gerejanya,” tambahnya. Terakhir, Romo Tri mengajak semua umat untuk merayakan ekaristi di masa pandemi ini dengan iman dan penuh rasa syukur.

Puncta 5.4.20 Hari Raya Minggu Palma Mat 27:11-54 / Siapa Sebenarnya Yesus Bagi Kita?

15) Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16) Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. 17) Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” 18) Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. 19) Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Matius 27:15-19

Hari ini kita merenungkan peristiwa yg istimewa, yaitu Yesus yang masuk ke kota yerusalem. Yesus mengajak kita semua untuk merenungkan siapa sebenernya Yesus bagi kita masing-masing. Dia adalah sang raja, bukan raja duniawi yang hadir dengan segala kemewahannya, keperkasaannya, kemegahannya, namun seorang raja yang hadir dan tinggal di antara kita dengan penuh kesederhanaan, kelembutan, dan bahkan rela menderita bagi kita.

Orang-orang yahudi sebangsanya mengharapkan Yesus menjadi raja duniawi yang mampu membawa kesejahteraan, mengalahkan penjajahan romawi, dan membawa pembebasan bagi mereka. Namun bukan seperti itu yang ditampilkan oleh Yesus sebagai raja. Yesus memang raja yang mengalahkan kuasa, namun bukan kuasa penjajah melainkan kuasa kegelapan, yaitu dosa. Dia hadir di tengah-tengah kita sebagai seorang raja yang penuh kesederhanaan namun berani berkorban demi keselamatan umat manusia.

Terhadap kehadiran Yesus ini, terdapat sikap yang berbeda, yang dapat kita tampilkan pada saat ini. Yang pertama adalah sikap mereka yang tulus menerima dan penuh keyakinan mengakui bahwa Yesus adalah nabi, mesias, raja, anak Allah yang menyelamatkan umat manusia. Mereka adalah para rasul dan para murid yang setia mengikuti Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya. Kelompok kedua ialah mereka yang sangat mengharapkan Yesus sebagai raja duniawi dengan keperkasaan-Nya mampu mengalahkan penjajah sekaligus membawa pembebasan dan kemakmuran duniawi. Maka, mereka nantinya akan mengalami kecewa yang berat ketika Yesus tidak berdaya saat dihadapkan dengan cemoohan, ejekan, dan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa dan tokoh agama. Mereka-lah yang tadinya mengelu-elukan Yesus, “Hosana bagi anak daud!”. Namun yang tak lama kemudian menyorakinya “salibkan dia, salibkan dia, salibkan dia!”.

Bisa kita katakan, ini adalah kelompok orang yang hanya mencari keuntungan diri sendiri. Lalu, kelompok yang ketiga adalah mereka yang dari awal tidak senang dengan Yesus,  menganggap Yesus sebagai “duri dalam daging” karena dianggap selalu mengganggu keberadaan mereka. Kritiknya, teladan kehidupannya, sungguh-sungguh menyakitkan bagi kelompok ini yaitu orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat. Itulah sebabnya mereka selalu melawan Yesus dan mencoba menjatuhkan Yesus dengan berbagai cara. Mereka-lah yang akhirnya menyeret Yesus ke hadapan Mahkamah Agung dengan tuduhan penghujatan kepada Allah dan kemudian membawa Yesus ke hadapan wali negeri dengan tuduhan pemberontakkan kepada kaisar.

Namun Pilatus sendiri mengatakan bahwa Yesus dibawa ke hadapannya bukan karena penghujatan kepada Allah dan bukan karena pemberontakkan kepada kaisar, namun karena kedengkian yang ada di dalam diri mereka. Lalu, mengapa Yesus hanya diam ketika disidang di hadapan mereka dan tidak memberikan pembelaan terhadapa diri-Nya? Yesus menerima perlakuan itu dengan kerelaan dan menapaki jalan penderitaan menuju salib dengan kemerdekaan. Bukan karena dia merasa kalah dan tidak berdaya, melainkan Yesus dengan bebas memilih jalan salib, untuk menyelamatkan umat manusia.

Ia rela menderita, rela disalibkan, rela wafat, demi melaksanakan kehendak bapa –Nya yang ingin menyelamatkan kita umat manusia yang berdosa. Yesus menyadari bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan dan menebus dosa manusia kecuali dengan jalan salib. Penderitaan dan wafatnya di kayu salib menjadi tanda solidaritas yang nyata bagi kita dari Allah bapa kepada kita manusia yang penuh dengan kesulitan dan kedosaan, sebagaimana kita mendengara pada bacaan kedua yakni surat rasul paulus kepada jemaat di filipi. Allah adalah Allah yang peduli, yang memiliki perhatian yang besar kepada kondisi kemanusiaan kita. Ia solider kepada ketidakberdayaan manusia dan ingin manusia terbebas dari kuasa dosa yang membelenggu, maka dia rela untuk terjun langsung dalam wujud Yesus kristusdan rela menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita manusia. Maka pantaslah kita untuk bersyukur bahwa Yesus rela mengorbankan diirnya hanya untuk menyelamatkan kita manusia. Allah telah peduli kepada kita dengan mengutus Yesus sebagai penebus bagi kita semua maka marilah kita mengimbanginya dengan solidaritas kita kepada sesama kita yang mebutuhkan uluran tangan kita. Semoga uluran tangan kita bagi mereka menjadi tanda kasih solidaritas Allah kepada mereka.

 

Mgr. Robertus Rubiyatmoko