Puncta 31.12.19 Yohanes 1:1-18 / Sabda Sudah Menjadi Manusia

 

SEBUAH kisah persahabatan yang indah. Sindu, seorang anak perempuan berumur 8 tahun. Dia tidak suka makan curd rice. Orangtuanya membujuk Sindu agar memakannya.

Sindu berkata, “Aku mau makan semua nasinya, tapi papa mama harus memenuhi sebuah permintaanku, mau?” Orangtuanya menyetujui.

Sindu menghabiskan nasinya. Kemudian ia mengajukan sebuah permintaan yakni agar rambutnya dicukur gundul. Mamanya langsung menolak. Mana ada anak perempuan gundul?

Papanya menawari yang lain. Tetap ditolak oleh Sindu. Akhirnya mereka menyerah. Sindu digunduli rambutnya. Waktu masuk sekolah, Sindu dengan tenang berjalan di antara teman-temannya yang mengamati kepalanya yang plonthos.

Lalu ada seorang anak laki-laki yang juga gundulmuncul, berjalan mendampingi Sindu. Anak laki-laki itu bernama Haris. Sudah sebulan dia tidak masuk sekolah karena malu, takut diejek karena kepalanya gundul akibat chemo teraphy.

Dia divonis kena kanker leukimia. Sindu ingin membantu Haris agar dia tidak diejek teman-temannya. Mama Haris mengucapkan terimakasih kepada orangtua Sindu,

“Anak anda berhati mulia. Anda pantas bersyukur memiliki anak yang mau berkurban demi sahabatnya, yakni anak saya, sehingga dia mau sekolah lagi.”

Mata kedua orangtua itu berkaca-kaca setelah mengetahui kenapa anaknya ngotot minta digunduli. Malaikat kecil itu telah mengajarkan arti nyata tentang kasih dan persahabatan.

Yohanes dalam Injil hari ini berkata bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. firman itu adalah Yesus Sang Putra.

Mengapa Ia mau menjadi manusia? Karena Allah ingin solider dengan kita. Allah ingin dekat dan mengalami suka duka dan kelemahan kita. Allah yang maha kasih itu tidak diam di tempat jauh yang tak tersentuh oleh manusia.

Tetapi Allah itu mewujud dalam diri Yesus Sang Putra. Allah yang mengasihi manusia itu lahir di tengah-tengah kita. Yesuslah tanda kasih Allah itu.

Seperti Sindu yang ingin membantu Haris agar tidak diejek oleh teman-temannya karena botak, maka dia membuat kepalanya juga dibotakin. Ia solider dengan Haris.

Allah ingin menyelamatkan manusia, maka Allah menjelma menjadi manusia, sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Itulah solidaritas Allah.

Allah sudah solider dengan kita, marilah kita membangun solidaritas, persahabatan dengan sesama kita. Selamat mengakhiri Tahun 2019.

Jalan-jalan ke kota Pacet
Membeli oleh-oleh bunga mawar
Daripada malam tahun baru jalanan macet
Lebih baik ngumpul-ngumpul dengan sobat ambyar.

Cawas, waktunya ronda
Rm. A. Joko Purwanto Pr