Puncta 01.04.20 Yohanes 8:31-42 / Lockdown VS Lauk Daun

 

SEORANG kakek protes pada istrinya. “Tiap hari kok sayurnya hanya daun ubi, daun pepaya, kangkung, kenikir, itu-itu saja ta nek?”

Istrinya menjawab, “Kek, Pak Lurah dan Pak RT , radio, televisi berkali-kali bilang pada warganya, ‘hari-hari ini kita semua warga harus lauk daun di rumah ya. Jangan pergi-pergi. Kita semua sedang ada virus. Semua orang harus lauk daun. Makanya nenek bikin sayur daun-daun saja. Biar sehat ta Kek.” Kakek menjawab, “Itu maksudnya Lockdown nek. Bukan lauk daun.”

Dalam bacaan Injil hari ini terjadi diskusi panjang antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Topiknya satu yaitu Allah Bapa.

Tetapi ada perbedaan paham atau pengertian antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Kesamaan topik itu ada di ayat 41, “Bapa kami satu yaitu Allah.”

Dan Yesus menegaskan, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”

Menurut orang-orang Yahudi Allah itu jauh di luar jangkauan kita, agung mahakuasa dan tak terselami. Bagi Yesus, Allah itu dekat, ada di dalam diri kita dalam tindakan mengasihi, mengampuni, menyelamatkan.

Allah itu adalah kasih. “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku.” Tetapi kenyataannya, orang-orang Yahudi justru hendak membunuh Yesus. itu bertentangan dengan kehendak Allah. Jika mereka berasal dari Allah, mestinya mereka menerima Yesus, karena Dia berasal dari Allah.

Kakek itu menjelaskan apa artinya Lockdown, bukan lauk daun. Kalau kita salah mengerti, – seperti nenek itu yang mendengar lockdown sebagai lauk daun – maka keliru juga dalam mengaplikasikannya.

Orang-orang Yahudi memahami Allah kurang tepat, maka akibatnya mereka membenci Yesus, dan berusaha membunuh-Nya.

Maka sabda Yesus bagi kita, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Marilah kita tetap dalam firman-Nya. Jangan kita menjadi nenek tadi yang mendengar tetapi tidak memahami kebenaran. Kita tinggal dalam firman-Nya dan melaksanakan sabda-Nya. Dengan demikian kita adalah benar-benar murid Yesus.

Katanya corona berasal dari daging kelelawar.
Di Minahasa paniki jadi menu favoritnya.
Marilah kita mengenal Allah dengan benar.
Ngakunya kenal Allah tetapi membenci sesama.

Cawas, lauk daun tetap sehat aja…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 31.03.20 Yohanes 8:21-30 / Siapakah Engkau?

 

DALAM adegan wayang jika ada dua pihak bertemu, selalu yang ditanyakan adalah, “Sapa jenengmu lan saka ngendi pinangkamu.” Yang artinya, siapakah namamu dan dari mana asalmu.

Misalnya pertemuan antara Abimanyu dengan Buta Cakil atau perjumpaan prajurit kera dari Gua Kiskenda dengan para raksasa dari Alengka.

Mengetahui nama dan asalnya itu akan dilanjutkan tahu tentang niat kedatangan atau tujuannya. Kalau tujuannya baik akan diterima tetapi kalau tujuannya jahat akan ditolak bahkan dengan peperangan sekalipun.

Dalam bacaan Injil hari ini, orang-orang bertanya kepada Yesus, “Siapakah Engkau? Dan Yesus memperkenalkan diriNya, bahwa Dia berasal dari atas, kita berasal dari bawah. Yesus berasal dari Allah, kita berasal dari dunia.

Dia berasal dari Bapa, karena itu Dia akan kembali kepada Bapa. Para pendengarnya tidak paham karena mereka tidak mengenal Bapa.

Orang-orang Yahudi bahkan menuduh Yesus menghojat Allah karena Dia menyebut diriNya Anak Allah. Maka mereka menolak kemesiasan Yesus.

Pertanyaan mereka kepada Yesus, “Siapakah Engkau?”, semestinya juga menjadi pertanyaan kita semua. Untuk bisa mengenal Allah, kita mesti mengenal Yesus utusanNya. “Yesus, siapakah Engkau bagiku?”

Agar kita dapat semakin mengenal Yesus, maka kita perlu membaca dan merenungkan Kitab Suci. Di dalam Kitab Suci itu peristiwa, hidup, karya, ajaran kasih Yesus diceritakan.

Di dalam Kitab Suci itu Yesus memperkenalkan diriNya kepada kita. kalau kita senang membaca Kitab Suci, kita akan semakin mengenal siapakah Yesus itu.

Kalau kita mau mengenal seseorang, kita tidak boleh menilai atau menghakimi lebih dahulu. Orang-orang Yahudi tidak mampu mengenal Yesus lebih dalam karena mereka menuduh dan menghakimi Yesus bahwa Dia menghojat Allah.

Orang yang sudah menilai negatif akan sulit untuk mengenal lebih jauh. Apalagi kalau sejak kecil sudah diajari membenci orang, menjauhi sesama, mengkafirkan yang berbeda. Maka sulit baginya untuk membuka diri dan mengenal lebih jauh.

Seperti orang-orang Yahudi sulit menerima Yesus karena mereka tidak mengenal siapa Yesus, dari mana Dia datang.

Marilah kita membuka hati untuk lebih mengenal Yesus dan bagaimana Dia sangat mengasihi kita.

Daun pepaya pahit rasanya.
Buat menangkal sakit malaria.
Mengenal Yesus utusan Bapa.
Kita pasti diselamatkanNya.

Cawas, tetap di rumah jaga kesehatan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 30.03.20 Yohanes 8:1-11 / Menuding Orang Lain

 

ORANG JAWA punya banyak falsafah hidup dari jari jemari kita. Orangtua menasehati anak dengan simbol atau pralambang.

Ada tembang “enthik-enthik si penunggul patenana.” Tembang itu sebenarnya berisi nasehat agar kita hidup rukun dan gotong royong.

Ceritanya begini, Jari manis iri melihat jari tengah berdiri paling tinggi. Ia menyuruh si “enthik” jari kelingking untuk membunuh “Panunggul” yakni jari tengah.

Jari telunjuk mengingatkan, “Aja dhi, aja dhi mundhak kuwalat” (Jangan ya dik nanti kena tulah). Si Jempol meneguhkan, “Iya bener kandamu, lali sumber ketiwasan.” (Ya benar omongmu, orang lupa sumbernya bencana).

Lain lagi falsafah tentang jari telunjuk. Jari ini simbol perintah, kuasa, menuding, menunjuk. Namun dibalik kuasa jari telunjuk, kita harus sadar bahwa empat jari yang lain menunjuk dan mengarah pada diri kita sendiri.

Itu artinya sebelum kita menuding atau menunjuk atau menyalahkan orang lain, tunjuklah atau tudinglah atau lihatlah dirimu sendiri lebih dahulu. Satu jari telunjuk mengarah ke orang lain, tetapi empat jari yang lain menuju pada diri sendiri.

Dalam Injil hari ini, orang-orang banyak menuduh seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Bacaan pertama juga bercerita tentang hal yang sama.

Lebih jelas lagi disebut namanya Susana. Semua orang menuding perempuan itu. Semua ingin menghukum perempuan itu dengan melempari batu sampai mati.

Mereka minta pendapat Yesus. “Apakah pendapatmu tentang hal ini?” Yesus hanya diam menulis di tanah. Orang banyak mendesak Dia.

Lalu Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Kalau tangan kita suka menuding orang lain, hendaklah kita sadar bahwa jari yang lain itu menuding diri kita sendiri. Yesus mengajak kita jangan suka menyalahkan orang lain.

Apakah kamu juga tidak berdosa? Lihat dulu dirimu sendiri. Perkataan Yesus itu membuat semua orang pergi satu per satu mulai dari yang tertua.

Lalu Yesus pun berkata kepada perempuan itu, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Sikap Yesus itu menunjukkan sikap Allah yang berbelaskasih. Allah itu maha pengampun. Pengampunan Allah tak terbatas. Tidak hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.

Namun demikian Yesus mengingatkan agar jangan berbuat dosa lagi. Marilah kita hidup dari pengampunan Tuhan dan gembira karena belaskasihanNya.

Taman bunga warnanya merah kuning.
Ada kupu hinggap di atasnya.
Janganlah kita suka menuding.
Kalau kita sendiri belum sempurna.

Cawas, menanti berita baik….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.03.20 Hari Minggu Prapaskah V Yohanes 11:1-45 / Makin Beriman Dalam Kepedihan

 

KEMARIN ada berita seorang bapak Prodiakon meninggal di rumah sakit karena sakit jantung. Dalam situasi yang serba sulit ini, keluarga harus mengikuti protokol pemerintah tentang pemakaman.

Keluarga sangat sedih tidak bisa memakamkan secara normal. Pedih rasanya karena tidak bisa menghormati yang meninggal selayaknya. Semua serba dibatasi.

Tidak boleh disemayamkan di rumah duka. Harus langsung dibawa ke makam. Malam itu juga harus segera dimakamkan. Para petugas di makam juga dibatasi. Harus memakai pakaian yang steril dari virus.

Biasanya ada doa sampai tujuh hari di keluarga. Tetapi karena dilarang berkumpul, maka tidak diadakan doa arwah. Kita bisa memaklumi betapa sedih dan pilunya keluarga yang ditinggalkan.

Bacaan hari ini tentang kematian Lazarus. Marta dan Maria kehilangan saudaranya, Lazarus. Dialah satu-satunya saudara laki-laki.

Dalam tradisi Yahudi, anak laki-laki adalah pengganti orangtua, sebagai kepala keluarga. Dialah penopang seluruh keluarga. Kaum wanita juga sangat tergantung dari laki-laki dalam keluarga itu.

Seorang janda atau perempuan yang tidak mempunyai laki-laki, tidak lagi diperhitungkan dalam masyarakat. Mereka kehilangan martabatnya.

Yesus pernah membangkitkan anak laki-laki seorang janda di Nain. Sekarang Yesus membangkitkan Lazarus bagi Marta dan Maria. Yesus menegakkan martabat mereka sebagai keluarga.

Peristiwa ini mau mengatakan kepada kita semua tentang dua hal. Pertama, Yesus itu Tuhan yang mahakuasa. Ia mengatasi kematian karena Dialah Sang Sumber Hidup. Kedua, dalam kesulitan dan kesusahan, Tuhan selalu hadir menolong kita.

Dalam situasi sulit sekarang ini, kita diajak rebah tersungkur di depan kaki Yesus. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Ini adalah doa dan pengharapan Maria kepada Yesus. Kalau kita mau tersungkur di depan kakiNya, pastilah Yesus akan bertindak.

“Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah,” kata Yesus. Sabda Yesus itu bukan omong kosong. Kata itu mahakuasa. Ia menghidupkan Lazarus kembali.

Dalam masa yang sulit sekarang ini, iman kita dituntun oleh Marta dan Maria untuk percaya dan bersimpuh di depan kakiNya.

Mari kita berdoa supaya wabah virus corona ini dilenyapkan oleh Tuhan. Kita harus kuat berdoa dan percaya.

Karena iman dan doa Marta dan Maria.
Lazarus dibangkitkan dari kematian.
Dalam menghadapi wabah virus corona.
Kita menguatkan doa dan keyakinan.

Cawas, ganti masker warna biru…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.03.20 Yohanes 7:40-53 / Debat Kusir

 

ZAMAN dulu ada seorang cerdik pandai naik dokar/delman. Di tengah jalan kudanya kentut. Bbrruuuttttt….. suaranya keras. Penumpang itu berkata kepada kusir delman,

“Pak itu kudanya masuk angin.” Tetapi si kusir menjawab, “Kuda saya tidak masuk angin pak, tetapi keluar angin.” Penumpangnya tidak mau kalah, “Itu namanya masuk angin.” “Kuda itu keluarkan angin Pak.”

Sepanjang jalan mereka berdebat tentang masuk angin dan keluar angin. Tidak ada yang mau kalah. Itulah sampai sekarang debat yang tidak ada ujung pangkalnya itu disebut debat kusir.

Kehadiran Yesus dan pengajaranNya di Yerusalem menimbulkan perdebatan. Orang banyak berpendapat Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.

Yang lain berkata, “Dia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea.karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari Kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbulah pertentangan di antara orang banyak karena Yesus.

Orang-orang Farisi dan imam-imam kepala juga berdebat dengan penjaga-penjaga yang mengagumi ajaran dan perkataan Yesus. “Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu.”

Kaum Farisi dan imam kepala malah mencurigai bahwa ada diantara mereka yang telah disesatkan, menjadi pengkhianat.

Lalu mereka mengutuki orang-orang yang berseberangan dengan pandangan mereka. “Orang banyak itu tidak mengenal Hukum Taurat. Terkutuklah mereka.”

Salah seorang ahli Taurat, yaitu Nikodemus mengusulkan supaya Yesus diundang dan didengarkan kesaksianNya. Namun Nikodemus justru dicurigai sebagai penganut dan pengikut Yesus.

“Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi datang dari Galilea.”

Seorang Nikodemus, ahli kitab yang bijaksana saja dilawan, apalagi orang awam. Kaum Farisi dan Imam Kepala adalah kelompok tertutup. Mereka membaca kitab suci secara kaku.

Kalau orang sudah bilang, “Pokoknya titik.” Maka dialog buntu. Orang-orang yang berdebat itu lalu pulang, masing-masing ke rumahnya. Tidak ada titik temu. Itulah debat kusir.

Marilah dalam masa prapaskah ini kita belajar rendah hati dan bijaksana. “beja-bejaning wong luwih beja sing eling lan waspada.”

Artinya lebih beruntunglah kita kalau masih sadar dan waspada. Dari sana kita belajar bijaksana.

Di samping sedang memotong kamboja.
Antre di bank selesai tepat waktunya.
Tuhan itu maha bijaksana.
Dia mengatur semua baik adanya.

Cawas, masker bermotif bunga-bunga…
Rm. A. Joko Purwanto Pr