Puncta 15.08.18. Matius 18:15-20. Etika dalam Pergaulan.

APABILA dalam pergaulan dengan teman, kita harus menegur, mengingatkan atau menasehati, itu adalah sesuatu yang baik dan mulia.

Kita sering sungkan bila harus menegur teman. Sikap itu justru akan menjerumuskan. Jika harus menegur, Tuhan memberi jalan pada kita tahap demi tahap.

Pertama, membicarakan masalahnya secara pribadi, empat mata. Jika tidak berhasil, ajaklah satu atau dua orang saksi. Jika belum berhasil, langkah ketiga, bawalah soalnya kepada jemaat. Dengan tahap tahap seperti itu persoalan dapat dicarikan solusinya.

Namun kalau hal itu tidak berhasil, serahkanlah kepada waktu. Tuhan sendiri yang akan menyelesaikan. Ada masalah yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek. Dibicarakan dari hati ke hati secara terbuka.

Tetapi kadang ada masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh waktu. Masing-masing menyerahkan diri pada Sang Waktu diberi kesempatan untuk mengambil discretio spirituum mohon bimbingan Roh Kudus.

Memberi ruang kepada Tuhan dalam doa. “Jika dua orang diantaramu di dunia ini sepakat meminta apapun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga”.

Maka jika terjadi masalah, bersepakatlah untuk berdoa bersama minta kepada Bapa. Niscaya Bapa di surga akan mengabulkan. Tuhan memberkati.

Berkah Dalem.

Salam Obor Asian Games yang sudah memasuki Jabodetabek. Selamat berjuang Tim Indonesia.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 13.08.18. Matius 17:22-27. TAX AMNESTY.

Pemerintah mengeluarkan UU nomor 11 tahun 2016 tentang pengampunan pajak. Dengan kebijakan ini Presiden Joko Widodo mampu menarik uang ke dalam negri, menghidupkan dunia usaha, menopang naiknya indeks harga saham gabungan (ISHG).

Tax amnesty juga menumbuhkan semangat nasionalisme. Orang diajak bangga menanamkan modal di dalam negri. Ikut berpastisipasi dan bertanggungjawab membangun ekonomi bangsa.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajak Petrus membayar pajak. “Bayarlah kepada mereka, bagiKu dan bagimu”. Semboyan orang bijak taat bayar pajak bergema di sini.

Pajak dipakai pemerintah untuk membangun. Kalau kita peduli kehidupan bersama menjadi lebih baik, mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan taat bayar pajak.

Dalam situasi bangsa kita yang merayakan hari kemerdekaan, kita tidak boleh hanya berhenti pada selebrasi hura-hura, lomba-lomba, tetapi harus sampai pada aksi. Salah satunya adalah taat bayar pajak. Itu juga salah satu wujud nasionalisme kita.

Salam Obor Asian Games. Indonesia bisa. Eh selamat bagi penggemar nomor motor 99 Jorge Lorenzo ya.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 12.08.18. HR ST. MARIA ASSUMPTA. Lukas 1:39-56.

Cinta adalah pencapaian tertinggi manusia. BUNDA MARIA menunjukkan cinta yang total kepada Allah sejak awal mula dengan berkata, “Fiat Voluntas Tua”.

Sejak itu Bunda Maria menunjukkan cinta kepada Allah dengan rendah hati, tulus ikhlas, penuh pengorbanan. Cinta dan pengorbanan berpuncak saat Maria memangku Tubuh Kristus yang mati di kayu salib.

Kasih yang total itulah pencapaian martabat tertinggi manusia. Karena itu Allah mengangkat Maria ke surga jiwa raganya.

Dari Kidung Maria (Magnificat) kita melihat Allah yang mahakuasa. Ia mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya dan menurunkan orang yang kuasa serta meninggikan orang-orang yang rendah.

Rahmat Allah itu diberikan kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya. Jadi kita sekarang ini pun generasi yang memperoleh rahmatNya. Bersyukurlah kita karena dikasihiNya.

Selamat untuk kesebelasan Indonesia U-16 yang Juara di AFC. Kado manis buat HUT Kemerdekaan RI ke 73. Salam kita bisa.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 11.08.18. Matius 17:14-20. Nyantrik.

DALAM episode pewayangan sering ada episode Bambangan, yakni seorang ksatria nyantrik di Padepokan seorang Begawan untuk menuntut ilmu.

Setelah selesai ia bersama punakawan pergi mengembara dan menghadapi kesulitan-kesulitan ( perang dengan raksasa “Buto Cakil” dan wadyabalanya ). Ksatria itu “nyantrik” pada gurunya untuk memperoleh ilmu kehidupan.

Dalam kisah Injil hari ini, para murid juga “nyantrik” / belajar pada Yesus Sang Guru. Namun mereka gagal menyembuhkan seorang yang sakit ayan.

Para murid bertanya, “mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Yesus menjawab, “karena kalian kurang percaya”.

Percaya menjadi syarat mutlak untuk mengusir setan atau kejahatan. Percaya mempunyai daya kuat. “Jika kalian memiliki iman sebesar biji sesawi saja, kalian bisa memindahkan gunung”. Iman sungguh luar biasa. Hal yang tidak mungkin, karena iman, bisa menjadi mungkin.

Marilah kita mohon iman kepada Tuhan. Anda pasti punya pengalaman bagaimana iman mampu membuat yang mustahil menjadi nyata dalam kehidupan. Syukur pada Allah. Selamat menekuni iman itu.

Selamat merenung.

Salam Obor Asian Games. Makin Indonesia Jaya.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 10.08.19. Pesta St. Laurensius. Diakon dan Martir. Yohanes 12:24-26.

BIJI GANDUM yang jatuh ke tanah dan mati akan menghasilkan banyak buah. Laurensius adalah gambaran yang hidup untuk bacaan Injil hari ini. Ia menjadi diakon dan pelayan Paus Sixtus di Roma.

Ketika Paus ditangkap oleh penguasa Roma, Diakon Laurensius berkata, “Aku akan menyertai Bapa, kemanapun engkau pergi. Tidaklah layak seorang Imam Agung Kristus pergi tanpa didampingi oleh diakonnya”.

Dalam Injil Yesus berkata, “dimana Aku berada, disitupun pelayanKu berada”. Inilah kesetiaan Laurensius. Paus Sixtus II menjawab, “tiga hari lagi engkau akan melihat kemuliaan Allah”.

Ketika penguasa Roma tahu bahwa Laurensius diserahi tugas mengurus harta gereja, maka dia dipaksa menyerahkan harta itu.

Namun Laurensius justru membawa orang-orang miskin di kota Roma dan berkata, “Tuanku raja, inilah mereka harta kekayaan gereja. Terimalah dan peliharalah mereka”.

Dianggap menghina penguasa, Laurensius dipanggang hidup-hidup di atas terali besi yang membara. Ia dengan gagah mati membela imannya.

Sabda Yesus “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memelihara nyawanya untuk kehidupan kekal”.

Diakon Laurensius doakanlah kami.

Salam Obor Asian Games. Salam Indonesia.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 09.08.18. Matius 16:13-23. Salah Paham.

Suatu kali seorang istri marah-marah kepada suaminya karena ketika ia telpon ke hp suami,  yang menjawab suara perempuan yang menyebut namanya Veronika.

Ia melabrak suaminya yang dituduh selingkuh dengan Veronika. Suaminya menjelaskan bahwa Veronika adalah operator HP.

Salah paham itu sering terjadi. Petrus pun juga salah memahami siapa Yesus sebenarnya. Saat ditanya oleh Yesus, “Siapa Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”.

Namun saat Yesus menubuatkan bahwa Dia harus menderita, mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, Petrus menampik itu dan Yesus berkata, “Enyahlah Iblis, engkau duatu batu sandungan bagiKu”.

Petrus salah memahami kemesiasan Yesus. Baginya Mesias adalah Raja Agung yang mahakuasa yang duniawi. Mesias politis yang membebaskan Israel dari penjajahan Romawi.

Sedang Mesias menurut Yesus adalah Mesias yang menderita demi keselamatan abadi semua manusia. Petrus masih harus belajar menyesuaikan pahamnya dengan paham Yesus. Baru setelah Yesus bangkit dari mati, Petrus berani berkata, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”.

Kita juga butuh proses untuk mengenal Yesus. Kendati sering jatuh bangun, kita pun diharapkan setia mengasihi Yesus.

Semoga kita makin mengenal Tuhan Yesus. Siapakah Yesus menurutmu pribadi ?

Selamat merenung. Salam Obor Asian Games.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)