Puncta 31.10.19 Lukas 13:31-35 / Kota Damai yang Tidak Damai

 

Yerusalem berasal dari dua kata, yakni Shalem, Shalom yang berarti damai dan Yarah yang berarti mengajar, mengabarkan.

Yerusalem berarti mengabarkan damai atau Warta damai. Namun melihat sejarah, dari zaman dahulu kala, kota ini selalu tidak damai.

Sepanjang sejarahnya yang panjang, Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali.

Bagian tertua kota ini menjadi tempat permukiman pada milenium ke-4 SM. Pada tahun 1538 dibangun tembok di sekitar Yerusalem dalam pemerintahan Raja Salomo.

Saat ini tembok tersebut mengelilingi Kota Lama, yang mana secara tradisi terbagi menjadi empat bagian—sejak awal abad ke-19 dikenal sebagai Kawasan Armenia, Kristen, Yahudi, dan Muslim.

Ntrik dan perang selalu mewarnai kota itu. Kota Damai yang tidak pernah merasakan damai.

Dalam Injil hari ini, Yesus sedikit meramalkan masa depan Yerusalem. Yesus berkata,

“Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, tetapi kalian tidak mau. Sungguh rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”

Nampaknya perjalanan Yesus ke Yerusalem sudah ditengarai orang menuju kepada bahaya. Beberapa orang Farisi memberitahuNya bahwa Herodes hendak membunuhNya.

Yesus sangat paham bahwa kehadiranNya di Yerusalem berarti menantang maut. Karena banyak nabi-nabi yang dibunuh di Yerusalem,

Bagi kaum politisi kehadiran Yesus bisa menimbulkan intrik kekuasaan. Mereka merasa terganggu dengan pengajaran-pengajaran Yesus yang berpihak kepada orang kecil.

Rakyat kecil percaya pada Yesus dan mereka mendengarkan perkataanNya. Hal ini pasti mengganggu hegemoni Herodes di Yerusalem.

Kendati ada ancaman akan dibunuh, Yesus tidak takut, ia tetap menuju ke Yerusalem.”Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem”.

Kebenaran harus diwartakan kendati menghadapi ancaman dan teror. Warta kebenaran itu dihayati oleh Yesus sebagai panggilan hidupNya.

Kendati harus mati di Yerusalem, Ia tetap menjalaniNya demi menegakkan kebenaran sejati. Beranikah kita tetap setia pada kebenaran kendati menghadapi bahaya?

Menanti taxi di pinggir jalan
Penumpang banyak sampai berebutan
Berani menjadi saksi kebenaran
Harus berani menghadapi aneka ancaman

Cawas, menghadapi tantangan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 30.10.19 Lukas 13:22-30 / Tidak Cukup Jadi Penonton

 

PERTANYAAN orang kepada Yesus, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” sebenarnya mewakili pertanyaan kita semua.

Orang itu bisa diisi dengan nama siapa pun dari kita. kalau saya nanti mati, apakah saya akan selamat? Bagaimana hidup sesudah kematian? Apakah saya naik ke surga atau masuk ke neraka? Apakah ada hidup bahagia setelah kematian nanti?

Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan kita. siapa yang mengetahui kehidupan sesudah kematian ini?

Keselamatan itu ibarat memasuki sebuah pintu yang sempit. Begitulah Yesus menjelaskannya. Banyak orang berusaha untuk masuk ke dalamnya, tetapi tidak akan dapat.

Untuk mencapai keselamatan itu ternyata tidak mudah. Orang harus berjuang susah payah. Orang tidak cukup hanya menjadi penonton. Orang-orang itu berkata,

“Kami telah makan dan minum di hadapanMu, dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.”

Orang tidak cukup hanya menjadi pendengar dan ikut makan dan minum. Kita dituntut untuk menjadi pelaksana sabdaNya.

Ikut makan dan minum itu bisa disamakan sebagai ekaristi. “Engkau telah mengajar” berarti mendengarkan firman. Mengikuti ekaristi dan mendengarkan sabda saja tidak cukup.

Yang penting adalah perwujudannya. Sesudah ikut ekaristi dan mendengarkan sabda itu apa action kongkretnya? Sesudah ekaristi, imam berkata, “Pergilah kalian diutus”.

Sadarkan kita diutus untuk apa? Untuk mewujudkan buah-buah ekaristi dan pewartaan sabda Allah itu. Untuk menjadi pelaksana sabda.

Sabda Allah itu akan mewujud kalau kita berani melakukan tindakan nyata. Tindakan kebaikan itulah yang akan mempengaruhi keselamatan kita.

Dengan kata lain kita tidak boleh hanya jadi penonton. Tetapi harus berani menjadi pelaku firman. Kalau kita tidak mau melaksanakan, maka akan ada yang merebutnya.

Ada orang datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan. Mereka akan duduk makan dalam Kerajaan Allah. Banyak orang sudah antri.

Kalau kita tidak mau, maka akan ada yang terdahulu menjadi terakhir dan yang terakhir menjadi yang terdahulu.

Keselamatan itu harus dikejar, tidak boleh kita hanya santai-santai saja. Kalau kita terlambat, orang lain di belakang kita akan mendahului. Ayo jangan buang kesempatan untuk memperoleh tiket keselamatan.

Ke Klaten membeli sirsat
Jatuh di jalan kakinya sakit
Kalau kita ingin selamat
Jangan tunda berbuat baik

Cawas, suatu malam remang-remang
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.10.19 Lukas 13:18-21 / Dimana Peran Allah ?

 

DI ANTARA negara-negara Eropa, Belanda adalah negara yang paling parah menjaga nilai-nilai kekristenan.

Negara lain seperti Perancis, Spanyol, Portugal, Italy masih punya tradisi iman Kristen. Di Belanda perkawinan sesama jenis dilegalkan. Aborsi dilindungi undang-undang.

Faktor yang menyebabkan kemunduran itu disinyalir adalah berkembangnya sekularisme. Gereja Belanda dikelola dengan model birokrasi pemerintahan dan pola managemen modern. Semuanya diukur dengan pola pikir duniawi.

Kita lupa bahwa karya Roh Allah itu ada. Gereja sebagai institusi rohani justru meminggirkan peran Roh Allah yang tidak kelihatan dan tak bisa diukur hanya dengan indikasi-indikasi modern dan canggih.

Roh Allah bekerja melalui tangan-tangan yang tidak kelihatan. Gereja ada sampai sekarang itu karena Allah yang bekerja.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan bagaimana Kerajaan Allah itu tumbuh dan berkembang.

“Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya. Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.”

Biji dan ragi itu sama-sama berkembang, namun kita tidak mengetahuinya. Roh Allah itu juga berkarya tetapi kita tidak mampu mengetahuinya. Ia seperti angin.

Kita tidak melihat tetapi hanya bisa merasakan desirannya. Kelemahan kita sebagai manusia hanya bisa mengukur segalanya dengan panca indera. Kita lalu jatuh pada hal-hal yang nampak melalui indera kita saja.

Padahal Roh itu berkarya mengatasi hal-hal yang terserap indera kita. Kalau iman kita hanya diukur dari apa yang nampak, kita membatasi karya Roh.

Di gereja kita juga sedang berkembang bahwa segala sesuatu harus bisa diukur, program harus terukur pasti.

Ada macam-macam istilah outcomes, milestone, indikator, sasaran strategis, roadmap, proyek, resiko, review dan aneka istilah teknis managemen modern.

Dimanakah peran Roh Kudus kita tempatkan? Bisa saja ahli teologi menjelaskan secara teoritis biblis. Tetapi jangan lupa bahwa Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi dan ragi yang tumbuh berkembang.

Allah itu berkarya. Bukan hanya manusia yang bekerja, tetapi Allah dengan caranya yang tersembunyi juga bekerja. Kita tidak boleh memuja teori-teori buatan manusia itu melebihi peran Allah.

Gereja Belanda bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Melupakan peran Allah hanya akan menghancurkan gereja itu sendiri.

Jangan memelihara anak macan
Suatu saat dia akan memangsa kita sendiri
Kalau kita mengabaikan peran Tuhan
Kita akan hancur dan tak lama akan mati

Cawas, malam yang sepi
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.10.19 Lukas 6:12-19 / Discerment of Spirit

 

Yesus berdoa semalam-malaman. Ia mau membuat keputusan penting yakni memilih murid-murdNya. Mereka itu akan menjadi perpanjangan karya keselamatan yang Dia wartakan.

Yesus sedang membuat discerment of spirit. Ia membawa doaNya kepada BapaNya. Ia berdialog dengan Bapa tentang siapa saja yang akan menjadi murid-muridNya.

Ia butuh waktu yang panjang untuk berdoa karena hal ini adalah penentuan. Dalam banyak kesempatan Yesus membutuhkan waktu lama dalam doa karena Ia membuat keputusan penting.

Keesokan harinya, Ia memilih dari antara mereka duabelas orang yang disebut Nya rasul. Angka duabelas mengingatkan kita pada duabelas suku Israel.

Pasti Yesus tidak asal memilih duabelas atau sebelas atau sepuluh. Pilihan itu tentu ada maksudNya. Orang Yahudi akan melihat duabelas ini seperti keduabelas suku Israel.

Itu berarti Yesus ingin membentuk “Israel baru”. Seperti Israel yang dibawa Musa keluar dari penjajahan Mesir, Yesus ingin membawa Israel baru menuju kebebasan anak-anak Allah.

Setelah Yesus memilih mereka, langsung Yesus turun bersama mereka dan berhenti di suatu tempat dimana orang banyak yang berkumpul untuk mendengarkan dan mohon disembuhkan dari berbagai penyakit.

Para murid langsung diajak terjun ikut terlibat dalam karya Yesus. Keduabelas murid itu langsung diajak “praktek”, terjun langsung melakukan karya pelayanan.

Yesus mengajar, menyembuhkan orang-orang sakit dan ada kuasa yang keluar dari padaNya. Semua orang ingin menjamahya.

Kita juga sudah dipilih leh Yesus. Kita dibaptis untuk mengikuti Yesus. Baptisan itu membuat kita menjadi muridNya dan diajak ikut berkarya seperti Dia.

Kita juga diundang ikut mewartakan Kabar Gembira kepada orang lain. Sebagaimana Yesus mempunyai kekuatan karya dalam relasi yang khusus dengan BapaNya, kita pun diundang untuk membangun relasi intim dengan Allah.

Kalau doa kita mendalam, maka karya kita juga akan mengena. Daya doa itu sangat kuat sehingga banyak orang berusaha menjamahNya. Jika kita kuat dalam doa, maka juga akan ada kekuatan yang keluar dari karya-karya kita.

Mancing di kali mendapat banyak ikan
Ikan yang besar dijala di tengah lautan
Doa yang mendalam kepada Tuhan
Bisa menumbuhkan pengharapan dan kesembuhan

Cawas, siang yang sangat panas
Rm. A. Joko Purwanto Pr