Puncta 28.01.20 Markus 3:31-35 / Memperluas Lingkaran Kekeluargaan

 

MINGGU kemarin Paguyuban Minggu Panggilan Paroki Cawas dan Kebonarum berkunjung ke rumah saya dan merayakan ekaristi bersama.

Kelompok doa ini mendukung dan mendoakan para romo, bruder dan suster serta berdoa untuk tumbuhnya benih-benih panggilan.

Ada seorang ibu yang berbisik, “Sungguh membahagiakan dan membanggakan ya ibu punya dua anak menjadi imam.”

Ibu saya menjawab, “Ya ada rasa bahagia, tetapi yang sering menghantui itu rasa was-was, “ketar-ketir”, takut nanti terjadi apa-apa karena sekarang godaan makin banyak. Bisanya ya hanya berdoa dan berdoa, semoga diberi kelancaran dalam pelayanan dan tugasnya.”

”Ya bu, apalagi romo-romo sekarang itu ganteng-ganteng bu” celoteh seorang ibu. Dalam hati aku berkata, “Wajah kayak Bajuri gini kok ganteng, ibu itu sakit katarak kali.”

Kekawatiran seorang ibu itu sangat wajar ketika anak-anaknya mulai menanjak dan harus melewati jalan terjal.

Maria dan saudara-saudara Yesus mulai kawatir dengan hidup dan pengajaran Yesus.

mereka pasti memantau dan mendengar bagaimana orang-orang di sekitar bersikap terhadap Yesus.

Ada yang memujaNya tetapi ada pula yang membenciNya. Bahkan sudah mulai ada kelompok-kelompok bersekongkol ingin membunuhNya.

Hal ini pasti sangat mengkawatirkan Maria. Maka Maria datang ingin menemui Yesus. Barangkali Maria ingin mengungkapkan kekawatirannya.

Sebagai manusia dan ibu, pasti Maria peka terhadap situasi yang terjadi di luar. Bagaimana orang banyak mempergunjingkan Yesus.

Namun jawaban Yesus sungguh di luar dugaan. Yesus berkata, “Siapa ibuku? Siapa saudara-saudaraKu? Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.”

Seolah-olah Yesus menafikan keberadaan Maria yang ingin berjumpa denganNya.

Yesus mengartikan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan tidak sebatas hubungan darah. Tetapi lebih luas daripada itu, yakni siapapun yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara Yesus.

Dalam tradisi Muslim ada ukhuwah/persaudaraan. Ada 3 ukhuwah yakni Islamiah (Persaudaraan sesama Muslim), Wathaniyah (Persaudaraan sesama anak bangsa) dan Basyariah (Persaudaraan sesama insan di bumi).

Yesus juga mengajarkan ukhuwah, siapapun yang melakukan kehendak Allah, dia adalah sesama saudara.

Asal orang itu melakukan kehendak Allah, siapapun mereka, walau beda agama, suku, bangsa, ras, budaya dan keyakinan, mereka adalah saudara-saudara kita.

Ayo kita belajar melihat kebaikan-kebaikan orang lain.

Di hari raya Imlek pakai baju baru
Rumah-rumah dihias dengan meriah
Siapakah saudara-saudariku?
Mereka yang melakukan kehendak Allah

Cawas, Selamat jalan pembimbing rohaniku yang rendah hati
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.01.20 Markus 3:22-30 / Kuah Bakso dari Tuyul Gundul

 

SERING terdengar kalau ada orang berhasil dalam usahanya, entah dia laris buka toko atau tenar jadi selebritis, lalu muncul orang-orang yang iri hati.

Orang yang iri ini kemudian menyebarkan cerita bahwa kesuksesan warung makan itu karena memelihara tuyul, kuntilanak atau jin.

Dia tenar jadi artis karena pakai susuk dan jampi-jampi. Cerita-cerita seram disebarkan kepada orang lain agar menjatuhkan usaha orang itu.

Ada yang berkisah warung bakso itu laris karena mangkoknya dikencingi tuyul gundul. Atau cerita lain, warung soto itu laris karena ada genderuwo bermata merah menjaga di depan pintu.

Pokoknya ada saja yang iri melihat kesuksesan usaha orang lain. Mereka tidak berusaha meniru atau membuat terobosan untuk meningkatkan kualitas usahanya tetapi malah nyinyir menjatuhkan orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, para ahli-ahli Taurat dari Yerusalem melihat keberhasilan Yesus dalam mengajarkan sabda Allah. Yesus adalah guru yang baik. B

Banyak murid datang kepadaNya, ingin mendengarkan ajaranNya. Banyak tanda-tanda dibuat Yesus yang menunjukkan kuasa Allah ada padaNya.

Orang-orang berbondong-bondong datang kepadaNya. Mereka berasal dari mana-mana ingin mendengarkan Yesus dan mohon disembuhkan dari berbagai penyakit.

Hal ini tentu saja menimbulkan kegelisahan bagi para ahli Taurat dan guru-guru orang Yahudi. Murid-murid mereka berpindah kepada Yesus.

mereka tidak lagi dipercaya atau diikuti oleh orang banyak. Banyak orang lebih percaya kepada Yesus. Karena mereka tidak mampu menandingi Yesus, maka mereka iri hati kepada Yesus.

Tidak kuasa menandingi popularitas Yesus, maka mereka membuat cerita-cerita “miring” agar Yesus jatuh.

Mereka mengatakan bahwa Yesus menggunakan kuasa penghulu setan. Yesus kerasukan Beelzebul.

Berita hoax itu dicounter atau dipatahkan Yesus dengan penjelasan logis realistis. Bagaimana bisa mengusir setan kalau memakai penghulu setan?

Kalau setan berperang melawan setan, bagaimana kerajaan mereka akan kuat? Kalau anggota keluarga malah saling bertengkar, bagaimana keluarga itu akan tetap utuh?

Kita bisa belajar dari bacaan hari ini, kalau ada orang sukses atau berhasil, tirulah dia. Belajarlah bagaimana dia bisa mencapai keberhasilan itu.

Jangan iri hati karena sikap ini mudah sekali melahirkan pikiran dan tindakan negatif selanjutnya.

Menunggu datangnya angpao
Di awal tahun baru tikus
Hati tak perlu kacau balau
Karena di hati selalu ada Yesus

Cawas, selalu ingat tendangan pojok
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 26.01.20 HR MINGGU BIASA III Matius 4:12-23 / Capernaum, The City of Jesus

 

ADA sebutan-sebutan untuk kota atau daerah tertentu. Muntilan itu disebut Betlehem van Java.

Karena dari Muntilan kemudian lahir benih-benih iman Katolik yang kemudian menyebar kemana-mana pada zaman Romo Van Lith.

Jogjakarta pernah disebut sebagai The city of tolerance. Tetapi kejadian beberapa waktu yang lalu seperti, orang Katolik tidak boleh dimakamkan di tempat umum, salib di makam dipotong, penganiayaan terhadap Rm. Prier SJ yang sedang memimpin misa, orang Katolik tidak boleh tinggal di sebuah kampung dan diusir dari rumahnya, lalu baru saja terjadi pembina pramuka mengajarkan tepuk pramuka yang diskriminatif.

Jogjakarta tidak lagi menyandang sebagai kota toleran. Toleransinya sudah luntur. Bandung disebut sebagai Paris van Java, karena keindahan dan asrinya kota itu ibaratnya Paris di Eropa.

Walaupun banjir, kemacetan dan sampah menjadi masalah pelik di sana. Surabaya kini bisa disebut sebagai Venesia dari Timur.

Yesus berdiam di Kapernaum. Kota Kapernaum disebut sebagai The City og Jesus karena disini Yesus hidup dan berkarya.

Ia meninggalkan Nasaret karena orang-orang Nasaret tidak mau menerimaNya. Di Kapernaum Yesus banyak mengajar dan melakukan mukjijat.

Orang Kapernaum lebih terbuka pada pewartaan Kabar Gembira. Orang dari mana-mana datang ke Kapernaum untuk mendengan pengajaran Yesus dan mohon disembuhkan dari berbagai penyakit.

Yesus mengajarkan Injil kasih Allah. Sesuatu yang baru dan menarik daripada ahli-ahli kitab orang Yahudi.

Pengajaran Yesus disertai dengan karya nyata yakni menyembuhkan orang sakit. Allah sungguh-sungguh hadir dan menyapa umatNya.

Akhirnya semakin banyak orang berbondong-bondong datang mengikuti Yesus. oleh karena itu, Dia membutuhkan murid-murid yang bisa membantu mewartakan Injil. Maka dipanggilnya duabelas orang menjadi kawan terdekatNya.

Simon dan Andreas, Yakobus dan Yohanes dipanggil untuk menemaniNya. Mereka diajak untuk menjala manusia. Mereka inilah murid-murid awal yang menjadi soko guru bagi gereja.

Bersama mereka, Yesus berkeliling ke seluruh Galilea, mewartakan Injil Kabar sukacita dan melenyapkan segala penyakit. Kabar Sukacita itu sungguh dapat dirasakan oleh banyak orang.

Kita yang sudah dibaptis juga dipanggil ikut melaksanakan tri tugas Kristus yakni menjadi nabi, imam dan raja. Apakah kita sudah ikut ambil bagian di dalam tugas itu?

Mari kita terlibat menjadi murid-murid Yesus di zaman milenial ini.

Semangat berkobar di Tahun Baru Imlek
Nonton lampion merah di tengah kota
Jangan kita malas dan berhati lembek
Ikut Yesus mewartakan Kabar Sukacita

Cawas, sepak pojok dengan tendangan gunting
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 25.01.20 Pesta Bertobatnya St. Paulus, Rasul Kis. 9: 1-22. Markus 16:15-18 / Mbah Sadiman

 

PRIA dengan rambut dan jenggot sudah memutih ini sangat bersemangat ketika menceritakan perjuangannya menghijaukan Bukit Gendol dan Bukit Ampyang di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri.

Ia berjuang sendirian selama 23 tahun menanam pohon beringin di kedua bukit itu. Kini sudah ada 11.000 pohon menghijaukan bukit yang dulu gundul itu. Ia dianggap edan/gila oleh masyarakat sekitarnya.

Dia mengajak kami naik ke bukit dan menanam 4 pohon beringin. Ia membawa kertas kardus dan spidol untuk ditulisi sebagai penanda peristiwa penanaman itu.

Di kertas itu ditulis, “23 Januari 2020. Romo Pastor UNIO KAS se-Indonesia.” Mbah Sadiman adalah orang sederhana tetapi cita-cita dan kemauannya tinggi, visioner dan tanpa pamrih.

Ia berjuang demi menyelamatkan lingkungan alam yang rusak. Berkat kerja kerasnya yang tak kenal lelah, kini penduduk tidak mengalami kekurangan air walau musim kemarau panjang.

Hari ini Gereja merayakan pertobatan Santo Paulus. Ia yang dulunya bernama Saulus adalah orang yang getol enganiaya jemaat Kristen perdana.

Ia mengejar, menangkap dan memenjarakan siapa saja yang mengikuti Yesus. dengan kuasa wali negeri, ia mengejar mereka sampai di Damsyik.

Di kota itu dia mengalami penglihatan. Ia berjumpa secara pribadi dengan Yesus yang sudah bangkit.

Yesus berkata, Saulus, Saulus, mengapa Engkau menganiaya Aku?”

Saulus bertanya, “Siapakah Engkau Tuhan?”

Kata-Nya “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.”

Ada banyak tokoh besar mengalami pertobatan dalam hidupnya. Saulus berubah dari orang yang menganiaya menjadi pewarta iman yang hebat. Ia menjadi orang yang tergila-gila kepada Kristus.

Bagaimana Paulus berubah total. Dahulu ia membenci dan bahkan ingin memusnahkan para pengikut Kristus.

Namunsetelah ditangkap oleh Yesus, ia berani dengan gagah berkata, “Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil.”

Seperti Mbah Sadiman yang getol ingin menyelamatkan alam yang rusak, berjuang sampai dianggap seperti orang gila, menanam pohon demi keselamatan lingkungan dan anak cucu.

Demikianlah orang yang mengalami dikasihi oleh Allah berusaha sekuat tenaganya untuk membalas kasihNya.

Apakah anda merasa dikasihi sedemikian besar oleh Allah? Lalu apa balasan yang anda buat untuk Allah?

Nonton si Doel anak Betawi
Bingung oleh cinta Zaenab dan Sarah
Kalau kita sudah ditangkap oleh cinta ilahi
Kita hanya bisa pasrah dan menyerah

Cawas, tendangan sudut membuat goal sangat indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.01.20 PW. St, Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja Markus 3:13-19 / Panakawan

 

DALAM sharing iman dengan teman medior kemarin, kami berkisah tentang perjalanan selama menjalani panggilan imamat.

Teman sharing itu berkisah bahwa menjalani panggilan itu seperti mengayuh biduk di tengah lautan.

Kadang tenang, tetapi kadang harus menghadapi gelombang yang keras. Kalau bukan Tuhan yang mengarahkan, mungkin biduk itu sudah tenggelam.

Tuhan dirasakan selalu hadir dalam saat-saat kritis yang menentukan. Tuhan itu seperti seorang teman dalam perjalanan.

Dia merasakan kasih Tuhan sangat kuat. Dia yang memanggil, Dia pula yang akan menggenapinya.

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Tuhan Yesus yang memanggil duabelas rasulNya. Tidak semua muridNya adalah orang-orang hebat.

Mereka adalah nelayan kampung yang sederhana, miskin dan mungkin kurang terdidik.

Namun Yesus memilih bukan menurut pandangan atau penilaian manusia. Tetapi Dia memilih mereka agar menyertaiNya.

Menjadi murid pertama-tama adalah menyertai Dia. Itu berarti dimana Yesus berada, murid-muird harus berada.

Menyertai berarti juga bersatu dengan Kristus. Tinggal bersama dan semakin mengenalNya.

Maka Yesus tidak menuntut orang hebat, pandai dan terpandang. Tetapi orang yang bisa setia menyertaiNya.

Dalam pewayangan, tokoh ksatria selalu disertai oleh abdi “panakawan”. Panakawan itu berarti kawan yang sungguh-sungguh mengerti karena selalu menyertai.

Pana artinya tahu, kenal, mengerti betul. Kawan itu artinya sahabat. Panakawan berarti orang yang mengerti, sehati seperasaan dengan yang diikutinya. Yesus memanggil murid-muridNya supaya menjadi panakawanNya.

Kendati mereka sering jatuh bangun dalam menyertai Yesus, bahkan ada satu yang “cidro” atau mengkhianatiNya, namun Dia tetap memilihNya.

BagiNya karya Allah harus terlaksana daripada memikirkan diriNya sendiri. Murid-murid itu tetap diberi kebebasan dan kepercayaan,

kendati kepercayaan itu tidak dibalas dengan kebaikan seperti Yudas yang mengkhianatiNya.

Kepercayaan itu memang mengandung resiko. Tetapi lebih baik mempercayai seseorang daripada kita tak berani berbuat apa-apa.

Membeli durian seratus ribu tiga
Dibuka bersama kawan di bawah tenda
Memilih sahabat tak semudah orang berbicara
Orang harus berani percaya walau banyak resikonya

Cawas, hari yang panjang
Rm. A. Joko Purwanto Pr