Puncta 22.01.21 / Pekan Doa Sedunia / Markus 3:13-19

 

“Loyalitas Kemuridan”

FENOMENA pindah partai menjelang pemilihan calon legislatif marak terjadi akhir-akhir ini. Mereka yang pindah partai sering disebut politisi kutu loncat. Pengamat LIPI Syamsudin Harris mengatakan fenomena ini menunjukkan rendahnya moral politisi dan pragmatisme politik yang sedang berkembang.

Orang-orang pinter itu berhitung apakah ia bisa masuk ke dewan jika menjadi anggota partai A yang tidak memenuhi ambang batas parlemen. Faktor konflik internal partai juga membuat orang loncat pergi dari partainya. Bahkan jika punya pendukung banyak bisa membuat partai baru.

Orang pragmatis hanya berpikir “yang penting selamat dan aman duduk di kursi dewan.” Kekuasaanlah yang dikejar bukan demi menyejahterakan masyarakat umum.

Yesus memilih duabelas murid-Nya bukan untuk mengejar kekuasaan. “Ia menetapkan duabelas orang untuk menyertai Dia, untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan.”

Yesus memilih orang-orang sederhana, bukan orang cerdik pandai. Kebanyakan dari mereka adalah kaum lemah sederhana, kecuali Lewi Matius si pemungut cukai. Kebanyakan adalah nelayan, penjala ikan. Mereka yang setiap hari bekerja berat, diterpa angin badai dan cuaca keras.

Selama kurang lebih tiga tahun mereka dididik untuk menjadi murid yang loyal. Kendati sering tidak mudah. Setelah kebangkitan, mereka mendapat perutusan agung untuk memberitakan Injil ke segala penjuru dunia. Kebangkitan Yesus itulah awal dari loyalitas mereka sebagai murid.

Dari tradisi gereja kita tahu bahwa mereka mati sebagai martir, membela iman akan Yesus Kristus, kecuali St. Yohanes.

Mereka loyal berjuang sampai akhir, mati demi iman dan menjadi pilar-pilar iman gereja sampai sekarang.

Kita semua yang dibaptis juga diutus menjadi rasul Yesus. Maukah kita diutus mewartakan Injil kepada orang lain? Berani setia dan loyalkah kita pada tugas perutusan ini?

Kehujanan sepanjang hari badan jadi menggigil.
Kepala pusing badan jadi terasa meriang.
Kita yang dibaptis menjadi murid yang dipanggil.
Mewartakan kabar gembira kepada semua orang.

Cawas, hujan gagal piknik…
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr

Puncta 21,01,21 / Pekan Doa Sedunia // PW St. Agnes, Perawan dan Martir / Markus 37-12

 

“Jebakan Batman”

KITA sering nonton Film Batman. Ada beberapa judul. Salah satunya “Batman Return.” Batman sebenarnya bukan superhero seperti Superman, Spiderman dll. Batman pandai membuat trik atau jebakan sehingga musuhnya masuk dalam perangkapnya. Trik-trik canggih dan idenya yang briliant itulah kelebihan Batman.

Jebakan Batman bermakna suatu trik yang menggiring orang lain untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki Batman. Biasanya trik itu sesuatu yang menarik yang tidak diduga bahwa itu adalah jebakan yang akan menghancurkan.

Jika seseorang tanpa sadar masuk ke dalam pancingan itu, maka di disebut masuk jebakan Batman.

Yesus berkarya kemana-mana. Ia mengajar dan menyembuhkan banyak orang sakit. Orang dari mana-mana mengikuti Dia. Orang dari Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea, dari seberang Sungai Yordan, orang Sidon dan Tirus. Banyak orang percaya akan kuasa-Nya.

Setan atau roh jahat tahu tentang hal itu. Mereka juga datang jatuh tersungkur dan berteriak-teriak, ”Engkaulah Anak Allah.” Inilah yang disebut jebakan Batman.

Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Allah setan ingin menggiring Yesus untuk mengikuti kemauannya.

Sama seperti setan menggoda Yesus saat berpuasa, sekarang setan menggiring Yesus masuk ke perangkapnya.

Tetapi Yesus lebih lihai dan tahu tipu muslihat setan. Maka Dia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Yesus tidak mau masuk ke jebakan setan. Belum saatnya Dia mewahyukan diri sebagai Anak Allah. Di kayu saliblah tempat yang tepat bagi Yesus disebut Anak Allah. Yesus tidak mau digiring oleh setan masuk ke jebakannya. Dia menghardik dengan keras dan roh-roh jahat itu gagal.

Pernahkan anda digiring masuk ke jebakan Batman? Bagaimana anda menolaknya?

Bunga mawar tumbuh di rimba raya.
Semerbak harum menyebar di mana-mana.
Setan menggoda kita dengan mulut manisnya.
Jika terlena kita akan masuk ke jebakannya.

Cawas, pengin piknik…
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr

Puncta 20.01.21 / Pekan Doa Sedunia / Markus 3:1-6

 

“Mencari-cari Kesalahan”

ADA sebuah pengalaman. Orang kesasar masuk ke simpang susun Semanggi. Dia jadi gusar dan marah-marah. Karena kesasar dia harus berputar balik. Akibatnya waktu tempuh menjadi jauh dan lama. Dia lalu menyalahkan si pembuat simpang susun. Karena kesasar, orang itu menjadi marah dan jengkel, lalu mencar-cari kesalahan megaproyek zaman Ahok itu. Proyeknya disalahkan. Si pembuat kebijakan disalahkan. Semua disalahkan.

Di rimba lalu lintas Jakarta, mestinya orang pandai membaca rambu-rambu. Atau di zaman google maps sudah canggih gini, kenapa tidak minta bantuan “mbah Google” untuk dipandu.

Mencari kesalahan orang itu memang paling mudah, tetapi tindakan itu justru menunjukkan seberapa tingkat kepribadian orang. Banyak orang menjadi sok pandai, sok ahli. Pinter merangkai kata-kata, menyalahkan pemimpin, kebijakan ini salah, kebijakan itu salah. Seorang perempuan di dewan dengan menggebu-gebu menyalahkan kebijakan vaksinasi.

Mengkritik kebijakan boleh, tetapi berilah solusi. Jangan asal ngomong saja. Ingat nasehat Bu Tejo, “Jadi orang itu mbok yang solutif.” Bu Tejo yang perempuan desa saja bisa berpikir solutif, masak para elite hanya bisa menyalahkan.

Orang-orang Farisi itu mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Yesus tidak ambil pusing. Bagi Yesus keselamatan orang lebih penting dari segala aturan-aturan.

Ia mengundang orang yang sakit sebelah tangannya. Ia bertanya kepada mereka; “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang? Mereka diam tak menjawab.

Orang-orang Farisi itu mencari-cari kesalahan Yesus. Melanggar aturan demi menyelamatkan orang itu bisa dilakukan. Mobil ambulance itu boleh melanggar aturan lalu lintas demi menyelamatkan nyawa orang. Mereka itu sebenarnya tahu, tetapi degil hatinya.

Mari kita tidak degil hati supaya tidak mudah mencari-cari kesalahan orang lain.

Sinar mentari muncul di cakrawala.
Memberi terang bagi seluruh umat manusia.
Tidak ada orang atau kebijakan sempurna.
Tetapi lebih baik jika kita membantu sesama.

Cawas, piknik ke taman anggrek….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.01.21 / Pekan Doa Sedua / Markus 2:23-28

 

“Ora Ilok”

DAHULU nenek pernah melarang cucunya, “Ora ilok nglungguhi bantal, mengko wudunen.” (Tidak baik duduk di atas bantal, nanti bisulen). Ada banyak larangan dengan ungkapan ”ora ilok”. Misalnya, “Ora ilok gadis duduk di depan pintu, nanti jadi perawan tua”, “Ora ilok dolanan beras, mengko drijine kithing” (Tidak baik mempermainkan beras, nanti jarinya cacat melekat). “Ora ilok ngidoni sumur mengko lambene guwing” (tidak baik meludah di sumur nanti bibir jadi sumbing).

Ada banyak aturan atau nasehat orangtua dengan ungkapan “ora ilok”. Larangan itu disertai dengan akibat yang menakutkan, walaupun belum tentu terjadi. Tetapi bagi anak kecil harus dibuat takut supaya tidak melanggar aturan.

“Ora ilok dolanan nganti surup, mengko digondhol wewe” (Dilarang bermain sampai petang hari nanti bisa diculik hantu).

Larangan itu kemudian diterima sebagai pamali, sesuatu yang harus dihindari. Kepercayaan komunal di masyarakat seperti itu diyakini secara irrasional. Lalu terbentuklah “gugon tuhon”, keyakinan bersama. Jika dilanggar akan menimbulkan bencana.

Orang Yahudi punya aturan tentang hari Sabat. “Shabbat” artinya istirahat atau berhenti bekerja. Dari kata Yahudi itu diturunkan menjadi Sabbath (Inggris), Sabt (Arab), Sabtu (Indonesia). Pada hari Sabat, orang harus berhenti bekerja.

Tetapi para murid Yesus berjalan sambil memetik gandum pada hari Sabat. Orang Parisi yang taat hukum memprotes mereka.

Yesus menaggapi hal ini dengan berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Jadi Anak Manusia adalah Tuhan, juga atas hari Sabat.”

Hukum dan aturan memang harus ditaati agar kehidupan selaras. Tetapi aturan harus manusiawi. Martabat manusia harus berada di atas hukum. Kemanusiaan lebih tinggi daripada hukum.

Manusia jangan diperbudak oleh aturan yang justru akan menindas. Hukum tidak boleh untuk menindas atau menyengsarakan. Berhadapan dengan kemanusiaan, hukum harus dikawal oleh cinta kasih.

Permen lolipop enak dikulum-kulum.
Rasanya legit melebihi gula Jawa.
Hidup bersama memang ada hukum.
Cintakasih jadi ujung tombaknya.

Cawas, pamer parabola baru…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.01.21 / Pekan Doa Sedunia / Markus 2:18-22

 

“Bukan Demi Aturan”

“KALAU masa puasa tuh saya rajin ikut misa di gereja, pendalaman KS di lingkungan, juga menyisihkan uang di kotak APP, bahkan kami dipaksa oleh mama untuk baca Kitab Suci di rumah bersama-sama,” demikian sharing Maria.

“Tapi nanti kalau sudah selesai masa puasa ya udah deh kembali seperti biasa, malas ke gereja, enak bangun siang-siang kalau hari Minggu. Boro-boro baca Kitab Suci, nyentuh aja kagak.” Imbuhnya dengan tersenyum malu.

Masa puasa adalah masa yang istimewa. Masa ketika kita diajak kembali menjadi manusia bersih. Ibarat laptop atau HP yang sedang diupgrade, default setting, menjadi baru lagi, bersih dari virus-virus atau aplikasi yang tidak berguna.

Bagi kita puasa kadang hanya sekedar menjalankan kewajiban, mengikuti aturan atau ajakan karena gereja mengajarkan demikian. Buah-buah dari puasa dapat dinilai ketika kita menjalani hidup harian.

Kalau kehidupan kita setelah puasa itu biasa-biasa saja, kita seperti kembali menempatkan anggur baru ke dalam kantong yang lama.

Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi menjalankan ibadat puasa. Tetapi murid-murid Yesus tidak. Maka orang-orang bertanya, “Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?”

Yesus menjawab, “Selama pengantin itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang, pengantin itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Kita harus memperbaharui cara berpikir kita seperti Yesus. Menempatkan anggur baru di kantong yang baru. Cara hidup baru semestinya juga didukung dengan cara berpikir dan kondisi hidup yang baru pula. Misalnya, melakukan puasa bukan sekedar menjalani aturan, takut dosa tetapi demi kehidupan yang lebih baik.

Minggu pagi naik sepeda.
Sepeda kecil tuasnya tiga.
Kalau kita jalankan puasa.
Demi hidup yang berbahagia.

Cawas, jadwal disuntik…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr