Puncta 06.08.20 / Matius 17:1-9 / Naik Gunung Merbabu

 

SETELAH mengadakan camping di Plantungan, Kendal, kami berencana langsung naik gunung Merbabu. Waktu itu ada beberapa teman mendaftar. Tetapi pada hari H-nya mereka mengundurkan diri.

Tinggal aku dan Fr. Budiharyana (Sekarang Romo Vikep Solo).
“Bagaimana Bud, tinggal berdua nih, jadi gak?” tanyaku mencari penegasan.
“Ayo, berani gak kita berdua naik Merbabu besuk?” dia malah menantang.

Akhirnya hanya berdua saja kami sampai di Puncak Merbabu pagi-pagi masih gelap. Dalam keheningan pagi, dingin menusuk tulang, kami menikmati matahari terbit.

Ada pengalaman bahagia yang tak bisa dilukiskan. Langit biru membentang dan semburat jingga mengubah gelap menjadi terang. Perubahan rupa itu adalah moment sangat luar biasa.

Tetapi pendaki gunung yang sukses itu bukan ketika berada di puncak, namun ketika dia bisa turun gunung dengan selamat. Ada banyak pendaki Himalaya mati saat mereka berusaha turun. Ada yang kelelahan, kelaparan, kedinginan membeku, jatuh dari tebing.

Pengalaman luar biasa dialami ketiga murid, Petrus, Yakobus dan Yohanes, ketika mereka diajak naik gunung oleh Yesus. Mereka melihat Yesus berubah rupa di atas gunung. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Ini pengalaman rohani yang luar biasa, konsolasi.

Pengalaman kebahagiaan yang membuat lupa diri. Petrus berkata, “Tuhan betapa bahagianya kami di tempat ini.” Ia ingin tetap tinggal dengan membuat tiga kemah, padahal mereka berenam.

Pengalaman itu dimahkotai dengan penegasan akan perutusan Yesus sebagai anak Allah. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah dia.” Petrus ingin tetap tinggal dalam pengalaman rohani yang menakjubkan itu.

Tetapi Yesus mengajak mereka turun, menuju pada pengalaman hidup yang biasa dan sederhana. Maka retret atau mengasingkan diri itu penting, supaya kita mengalami konsolasi, dan mengambil jarak dengan kehidupan riil. Dengan semangat baru kita menjalani kehidupan nyata dengan gembira.

Sebagaimana para pendaki itu harus turun ke dunia nyata, begitu pula kita diajak mencintai panggilan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita dikuatkan bahwa Yesus senantiasa menyertai kita dari zaman dulu, sekarang dan di masa depan.

Tuhan menemani kita. Ia turun ke dunia nyata. Renungkan pengalaman konsolasi yang membuat anda bersemangat dalam menjalani hidup ini bersama Tuhan.

Pagi-pagi jalan ke embung.
Sambil menikmati hangatnya mentari.
Pengalaman indah di atas gunung.
Membakar gairah jalani hidup sehari-hari.

Cawas, tetap semangat….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 05.08.20 / Matius 15:21-28 / Tersinggung

 

ANDA pernah tersinggung? Saya yakin anda pernah merasakannya. Saya pernah mengalami. Waktu itu saya ikut rombongan naik ke menara Eiffel di Paris. Banyak pengunjung yang antri naik lift karena jam kunjungan turis. Kami naik sampai di lantai dua tempat yang bagus memandang keindahan kota Paris. Di situ juga ada toko souvenir yang ramai dikunjungi turis. Saya memilih beberapa gantungan kunci, patung menara Eiffel dan kaos untuk oleh-oleh. Pada waktu bayar di kasir, saya tidak dilayani karena jam 12.00 adalah jam istirahat padahal banyak yang antri mau bayar. Saya tetap berdiri di depan mesin kasir. “Please miss, hurry up. I’ll be late” kata saya mendesak karena dikejar-kejar rombongan yang harus segera pergi. Perempuan itu mukanya masam merasa terganggu. “You’re impolite” katanya menggerutu. Dikatakan tidak sopan, saya merasa tersinggung. Akhirnya dengan wajah ditekuk dan mulut terkatup dia melayani juga.Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kalau di tempat kita, ada orang banyak mau bayar itu malah senang, artinya rejeki mengalir. Gak mikir waktu istirahat. Di Barat, orang tidak mau diganggu saat sedang istirahat, walau itu mendatangkan untung sekalipun. Saya tersinggung tetapi saya cuek saja. Yang penting apa yang saya mau sudah kudapat.

Dalam bacaan Injil hari ini, wanita Kanaan itu datang kepada Yesus, mohon supaya anaknya yang kerasukan setan disembuhkan. Tetapi Yesus tidak menjawab. Wanita itu terus mengikuti-Nya sambil teriak-teriak mohon belaskasihan. Para murid mungkin sampai risih terganggu, “Suruhlah wanita itu pergi, sebab ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.”

Sekali lagi Yesus menolak dengan halus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba umat Israel yang hilang.” Ia menyebut orang Israel sebagai domba-domba. Tetapi wanita itu mendekat dan menyembah. Dia tidak berhenti memohon. Yesus berkata dengan keras, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Wanita itu disamakan dengan anjing. Tetapi ia tidak tersinggung. Ia menjawab, “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Imannya yang teguh itu membuat hati Yesus luluh. “Hai ibu, sungguh besar imanmu. Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.”

Jangan mudah tersinggung tetapi teguhkan dan kuatkan hati, pasti Tuhan akan berbelas kasih. Tersinggung akan merugikan diri sendiri dan hanya akan menambah beban di hati. Hadapilah semua dengan senyum.

Kepala pusing belum terima bayaran.
Perut mual-mual ternyata kelaparan.
Orang yang penuh dengan pengharapan.
Akan dimudahkan semua jalan.

Cawas, menunggu jadwal….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 04.08.20 / Matius 15:1-2.10-14 / Netilat Yadayim – Ritual Mencuci Tangan

 

KARENA virus corona yang menyebar kemana-mana, kini membasuh tangan menjadi aturan wajib dilakukan dimana-mana. Selain pakai masker dan jaga jarak, orang harus sesering mungkin mencuci tangan. Ini dilakukan demi kesehatan.

Dahulu kala membasuh tangan sudah biasa dilakukan karena itu adalah aturan hidup dan ibadah. Cuci tangan bukan soal higienis tetapi sudah menjadi ritual keagamaan untuk mencucikan diri. Tidak mencuci tangan berarti najis. Seperti halnya kalau orang mau berdoa harus mencuci anggota badan supaya suci bersih. Kebersihan dan kesucian dituntut bagi orang yang beribadah kepada Allah. Dalam Kitab Talmud Yahudi bahkan dikatakan orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan disamakan dengan orang yang berzinah dengan pelacur.

Membasuh tangan juga menjadi tanda “tidak bersalah” (Ulangan 21.6). Hal ini juga dibuat oleh Pontius Pilatus yang merasa tidak bersalah dengan kematian Yesus. Ia membasuh tangannya di tengah orang banyak. Dalam tradisi Yahudi, pembasuhan tangan tidak sekedar untuk kesehatan (higienis) tetapi sudah menjadi ritual aturan yang mengikat perilaku orang.

Dari dasar tersebut, orang-orang Farisi mempersoalkan kepada Tuhan Yesus Kristus, mereka mempertanyakan murid-murid-Nya yang melangkahi tradisi orang-orang Yahudi dengan tidak mencuci tangan mereka sebelum makan. Yang dimaksudkan bukanlah pencucian tangan biasa dengan tujuan higienis melainkan sesuatu yang bersifat ritual. Sebab, orang-orang Farisi dan semua orang Yahudi tidak makan sebelum mencuci tangan mereka sampai ke siku.

Pandangan Yesus berbeda dengan orang Farisi. “Dengarkan dan camkanlah, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Bukan tindakan lahiriah atau yang nampak dari luar yang bisa menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya. Pikiran kotor, niat jahat, tutur kata yang buruk dan perilaku yang tidak baik kepada sesama itulah yang bisa menajiskan orang. Bukan karena tidak cuci tangan, basuh kaki, cuci muka lalu orang jadi najis.

Ibarat orang buta membimbing orang buta, Orang Farisi merasa paling benar. Maka mereka memprotes murid-murid Yesus yang tidak melakukan adat hukum Taurat. Padahal mereka sendiri hanya bisa mengajarkan tidak mau melaksanakannya.

Orang datang memberi kwitansi.
Kita sepakat tanda sudah jadi.
Jadi orang jangan senang menghakimi.
Nanti kamu hanya meniru orang Farisi.

Cawas, pelajaran matematika…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 03.08.20 / Matius 14: 22-36 / Menerjang Badai Di Sukadana

 

BEBERAPA kali mengadakan perjalanan lewat air sungguh menyenangkan. Tetapi tidak demikian ketika mengadakan perjalanan mau ikut SAGKI di Jakarta. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah lewat laut sebelum mencapai Pontianak.

Penerbangan Ketapang-Pontianak tidak ada karena kabut asap tebal. Lewat jalan darat membutuhkan waktu yang panjang. Kami terpaksa mengambil jalan lewat laut dengan naik speedboat dari Sukadana ke Pontianak.

Kursi di dalam speedboat penuh sesak. Barang-barang juga menumpuk penuh di atapnya. Mendung tebal tanda akan hujan. Cuaca sedang tidak bersahabat.

Tidak ada pilihan lain. Mesin speedboat itu mulai meraung-raung menembus gelombang tinggi. Hujan, mendung gelap, gelombang menggoncang membuat miris juga. Kami semua diam tepekur, tidak ada yang bersuara.

Kadang terlihat garis pantai. Tetapi kadang hilang karena tingginya gelombang. Kami dihempaskan. Perjalanan terasa lama sekali. Waktu itu aku sudah pasrah. Jika harus mati, semoga masih bisa ditemukan terdampar di pinggir pantai.

Semua penumpang “ndremimil” berdoa mohon keselamatan. Saya tidak lepaskan rosario di jari saya. Kami sampai di Batuampar. Gelombang masih tinggi, tetapi hujan mereda. Kami baru tenang ketika sudah masuk ke muara Kapuas. Gedung-gedung menjulang sudah kelihatan. Itulah Pontianak.

Para murid naik perahu diterjang angin sakal. Mereka diombang-ambingkan gelombang. Gelap gulita di tengah malam, perahu mereka dihempaskan angin kencang. Mereka sangat ketakutan.

Yesus tiba-tiba datang berjalan di atas air. Mereka mengira melihat hantu. Rasa takut membutakan hati mereka. Yesus berkata, “Tenanglah, Akulah ini, jangan takut.”

Petrus masih tidak percaya.Ia ingin membuktikan bahwa itu adalah Tuhan. Ia ingin mendekat dan berjalan di atas air. Yesus memanggilnya. Tetapi karena angin kencang, Petrus takut dan tenggelam. Yesus menarik tangannya dan berkata, “Orang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Yesus masuk di dalam perahu mereka dan seketika itu juga redalah angin dan gelombang. Mereka aman karena Yesus ada di tengah-tengah mereka. Murid-murid mengakui Yesus sungguh Anak Allah.

Kita ini seperti orang yang naik perahu menempuh samudera kehidupan. Kadang ada badai dan prahara dalam hidup. Kadang ada gelombang dalam keluarga. Kita diminta untuk mengundang Tuhan dalam biduk kita.

Kalau mengandalkan diri sendiri kita tidak akan mampu. Tetapi jika Tuhan ada di dalam perahu kita, pasti aman. Jangan pernah meninggalkan Tuhan supaya biduk kita aman dan tenteram.

Senja telah datang.
Bulan Purnama bersinar temaram.
Jika kita bersama Tuhan.
Hidup kita akan aman tenteram.

Cawas, purnama penuh harap….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.08.20 / Minggu Biasa XVIII / Matius 14:13-21

 

“Didi Kempot”

CORONA sungguh menghancurkan sendi-sendi kehidupan banyak orang. perekonomian lumpuh, banyak pengangguran, pariwisata, sekolah, tempat ibadah ditutup. Korban berjatuhan tidak hanya orang awam, tenaga medis, dokter banyak yang meninggal.

Penderitaan dan beban hidup mencekik semua. Tergerak oleh kesusahan banyak orang, prihatin dengan suasana mudik menjelang hari raya Idul Fitri tiba, Didi Kempot membuat konser amal dari rumah tanggal 11 April 2020 yang lalu.

Didi Kempot mengajak Sobat Ambyar dan banyak orang untuk berbagi dalam kesusahan karena virus corona.

Antusias penonton luar biasa. Dalam waktu dua jam sudah langsung terkumpul 4 milyar rupiah. Didi Kempot membagun rasa solidaritas warga.

Di running text KompasTV ada yang menyumbang sepuluh ribu rupiah, duapuluh ribu, limapuluh ribu. Mereka adalah kaum kecil yang senang berempati dan tergerak hati untuk menolong.

Konser ditutup pukul 22.26 wib. Donasi yang terkumpul sebesar 5.3 milyar rupiah. Ini adalah warisan fenomenal seorang Didi Kempot. Tidak lama setelah itu, kita semua dibuat ambyar atas kepergiannya yang mendadak.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbelarasa dengan orang banyak yang mengikuti-Nya. Lima ribu fans menyertai-Nya, belum wanita dan anak-anak. Mereka kelaparan.

Kata Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan.” Para murid mau lari cuci tangan, tidak mau bertanggungjawab untuk menolong mereka. “Suruhlah orang banyak itu pergi.” Mungkin kita juga begitu. Kalau ada masalah, kita lepas tangan dan tak mau direpotkan.

Tidak dengan Yesus. Dia tergerak hati oleh belas kasihan melihat kesusahan mereka. “Tidak perlu mereka pergi.” Tetapi para murid masih mencari-cari alasan untuk menghindar.

Mereka masih mengeluh dengan kekurangan. “Pada kami hanya ada lima roti dan dua ikan.” Mengeluh atas kekurangan itu paling mudah. Tetapi tidak menyelesaikan masalah. Yesus mengambil inisiatif. “Bawalah kemari.”

Ia mengucapkan doa syukur dan membagi-bagikan lima roti dan dua ikan itu kepada para murid untuk dibagikan kepada orang banyak. Bahkan kemudian sisa dua belas bakul. Kalau kita mengeluh, beban itu makin berat.

Tetapi kalau kita mau bersyukur, selalu ada jalan dan hidup menjadi penuh berkah. Ketika hidup disyukuri, terbuka lebar jalan dari Allah. Ketika mau berbagi, pertolongan datang tak terduga.

Didi Kempot mempraktekkan ajaran lima roti dua ikan. Bagi orang beriman Katolik, lima ditambah dua bukan tujuh, tetapi limaribu dan duabelas bakul. Hidup itu harus disyukuri selalu. Lalu akan muncul anugerah berlimpah.

Jalan pagi dengar suara burung tekukur.
Tetap jaga jarak dan rajin cuci tangan.
Seberat apa pun hidup tetap ada syukur.
Jangan pernah mengeluh, Tuhan beri jalan.

Cawas, menunggu jadwal kuliah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr