Puncta 30.11.19 Pesta St. Andreas Rasul Matius 4:18-22 / Umat Katolik Yang Transformatif

 

BEBERAPA waktu lalu sedang diadakan TEPAS (Temu Pastoral) dari masing-masing kevikepan di Keuskupan Agung Semarang. Fokus yang dibahas adalah Umat Katolik yang transformatif.

Umat Katolik adalah kita semua yang sudah dibaptis dan disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus. Transformatif berarti berdaya ubah bagi diri sendiri dan sesama.

Tokoh-tokoh dalam Kitab Suci yang telah mengalami transformasi adalah Wanita Samaria, Zakeus, Paulus dan para murid Yesus, seperti Petrus dan Andreas.

Hari ini kita merayakan pesta St. Andreas, rasul. Bersama dengan Petrus saudaranya, ia mengalami transformasi. Awalnya mereka adalah penjala ikan.

Ketika berjumpa dengan Yesus, mereka menjadi penjala manusia. Mereka hanya hidup di sekitar perahu dan danau. Kini mereka hidup di dekat Yesus berkeliling kemana-mana untuk menyelamatkan manusia.

Perjumpaan dengan Yesus membuat hidup mereka berubah. Mereka tidak lagi hanya mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, tetapi mengupayakan kebahagiaan bagi sesama yakni keselamatan kekal.

Setiap orang Katolik yang dibaptis semestinya mengalami transformasi diri, pertobatan menjadi manusia baru. Baptis itu adalah kunci untuk perubahan diri.

Sebagaimana Andreas meninggalkan perahu dan pekerjaannya, lalu menjadi murid Yesus, begitulah orang katolik yang dibaptis telah berjumpa dengan Yesus. Ia meninggalkan cara hidup lama (perahu) menuju cara hidup baru (Anak Allah).

Transformasi itu adalah gerak keluar kita untuk menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Daya baptis yang kita terima mengarahkan langkah kita untuk mampu berdaya ubah bagi sesama.

Misalnya, kita bisa memberi teladan untuk disiplin, budaya antri, membuang sampah pada tempatnya, tidak memakai plastik demi kelestarian lingkungan hidup.

Dalam dunia yang diracuni sikap intoleran kita kembangkan semangat kasih. Dalam dunia politik yang disusupi nafsu kuasa, kita kembangkan budaya melayani.

Kita semua dipanggil dalam kapasitas kita masing-masing untuk berdaya ubah. Marilah kita menjadi garam dan terang. Itulah panggilan kita sebagai orang Katolik.

Maka kalau menjadi Katolik berarti mau berubah dan mengubah. Siapkah anda berubah?

Jalan-jalan pakai batik bermotif
Hiasan kepala pakai kain terikat
Kalau jadi umat Katolik yang transformatif
Harus berani menggarami masyarakat

Cawas, udara tetap panas
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.11.19 Lukas 21:29-33 / SabdaNya Kekal Selamanya

 

SUDAH duapuluh abad sabda Yesus itu menggema di relung hati manusia, dari generasi ke generasi.

Dunia terus berubah, tetapi sabdaNya tetap untuk selamanya. sabdaNya tetap up to date menjawab segala zaman.

Langit dan bumi akan berlalu. Dari orde lama ke orde baru. Dari zaman serba manual menuju zaman digital. Dari zaman batu mengarah ke generasi milenial.

Tetapi sabda Tuhan tak pernah berubah. Ia tetap menunjukkan kasih setiaNya kepada manusia.

Hal itu dikatakan Yesus kepada murid-muridNya, “Sungguh angkatan ini takkan berlalu sebelum semuaya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabdaKu takka berlalu.”

Kesetiaan Tuhan adalah abadi. JanjiNya kekal untuk selamanya. Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya. Ia terus membimbing umatNya.

Kendati kita harus jatuh bangun dalam memperjuangkan kesetiaan, tetapi Tuhan tetap sabar dan setia. sabdaNya sekali terucapkan berlaku selamanya.

Itulah sebabnya ketika Petrus ditantang untuk mengundurka diri, seperti yang dibuat oleh orang-orang, dengan lantang ia berkata,

“Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? SabdaMu adalah sabda hidup dan kekal.” St. Paulus juga meyakini sabda Yesus itu dengan menegaskan, “Scio qui credidi” (Aku tahu kepada siapa aku percaya).

Kedua tokoh itu tidak meragukan akan sabda Yesus. sabdaNya memberikan kehidupan kekal dan sugguh dapat dipercaya. Makanya mereka berani mengorbankan hidup mereka demi mewartakan Yesus.

Karena adanya pribadi-pribadi yang terpikat pada Kristus itulah sabdaNya menggema sampai sekarang, menyebar ke segala penjuru bumi.

Apakah kita yang telah terpikat oleh Kristus dan sudah dibaptis dalam NamaNya juga berani mewartakan sabdaNya kepada orang-orang di sekitar kita? sehingga kendati bumi berlalu namun sabda Kristus kekal selamanya.

Kalau kita mau makan nangka
Pasti kita akan kena getahnya
Kalau kita sudah terpikat sabdaNya
Mewartakan kasihNya adalah panggilan kita

Cawas, selalu semangat dalam cita
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Hari Minggu, 24 November 2019, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Dalam kalender Liturgi Gereja, hari minggu ini merupakan minggu terakhir dalam tahun liturgi. Minggu depan, 01 Desember 2019 kita akan memasuki tahun baru liturgi yang akan dibuka dengan Minggu Adven I. Gereja pasti punya maksud tertentu merayakan hari raya ini. Gereja hendak menunjukan keyakinannya bahwa Yesus Sang Allah Putra adalah Raja atas semesta alam. Dialah penguasa jagad raya ini. Karenanya, patutlah orang Kristen berbangga hati; Tuhannya adalah Penguasa segalanya. Dialah yang mengatur segala sesuatu. Keyakinan kita bahwa Yesus adalah Raja lewat Injil hari minggu ini semakin diteguhkan. Kita diajak untuk melihat perspektif lain dimensi Raja Yesus. Injil pada hari minggu inimenampaka figur Yesus yang tersalib sebagai seorang Raja. Gambaran ini tntu sangat berbeda dengan gambaran pemimpin atau raja pada zaman kita ini. Pemimpin atau raja pada zaman kita tidak tergantung di salib. Mereka tidak menderita seperti Kristus, tidak tersentuh bahkan terkontaminasi oleh hujat dan caci maki dari rakyatnya. Raja Kristus adalah Raja yang menderita, Raja yang mau mengorbankan darah-Nya demi menebus rakyat-Nya yang penuh dengan dosa.

itulah kebesaran Raja Kristus. Kebesaran yang ditampakkan dalam kumpulan paradoks. Ia adalah Raja, Penguasa segala sesuatu tapi wafat di kayu salib; Ia bermartabat tetapi direndahkan bahkan dihujat. Inilah kebesaran Raja orang-orang Kristen. Kebesaran yang terselubung, kekuasaan dalam diam serta kemuliaan dalam kerendahan hati.

Menghayati Ekaristi

Umat Kristen merasa solider dengan orang lain. Usahanya ialah meningkatkan dunia pada cita-cita persaudaraan, keadilan dan cinta kasih.Tetapi usaha-usaha itu terhambat oleh kesalahpahaman intern, rintangan-rintangan dari pihak lain, godaan uang, kenikmatan dan lain-lain. Keterbukaan akan kebebasan yang dicanangkan oleh Konsili Vatikan II ingin memberikan kebijaksanaan bertanggung jawab dalam bidang moral. Selain itu pengaruh mentalitas teknik dan ilmiah benar-benar merupakan hambatan bagi pertumbuhan dan perkembangan iman. Dalam menanti kedatangan kembali Penebus kita, hendaknya kita waspada terhadap dua godaan: jangan sampai menyerah secara pasif kepada Tuhan, tetapi sebaliknya juga jangan mencurahkan diri pada aktivisme tak sabar yang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan mudah putus asa karena kegagalan-kegagalan. Konsili Vatikan II telah pula memperingatkan: orang Kristen harus hadir di dunia dengan usaha-usaha dan perjuangannya. Dengan demikian ia menjadi saksi Kristus yang akan datang dan akan meminta kerja sama yang loyal. Dengan doa dan Ekaristi iang mengangkat nilai-nilai manusiawi dan memberinya nilai-nilai kekal di dalam kerajaan-Nya.

RIbuan tahun diperlukan sebelum keperluan setiap hati manusia diakui dan dipenuhi dalam hukum dan adat. Pengakuan martabat manusia pun masih harus diperjuangkan. Kita teringat akan masa perbudakan, yang baru berkahir seabad yang lalu; akan masa diskriminasi warna kulit; akan masa kolonialisme, dan sebagainya. Kapan ‘kapan pernyataan hak-hak azasi manusia dipraktekan ? Hati manusia menjerit cemas minta pembebasan. Orang yang punya persoalan demikian banyak mengenal penderitaan dan perpecahan, tidak menemukan pemecahan untuk keluar dari lembah kesulitan itu. Maka Kristus datang. Ia menerima orang-orang dalam kerajaan-Nya, kerajaan cinta kasih, terang, damai, dan kebenaran. Dengan rahmat-Nya mereka diberi kuasa untuk meningkatkan diri dan diajak ikut serta berkarya. Umat-Nya itu bertugas menyebarluaskan dan menjelaskan kesatuan kerajaanyang didirikan Kristus itu.

Puncta 28.11.19 Lukas 21:20-28 / Bangkitlah dan Angkatlah Mukamu

 

KETIKA Prabu Kresna diundang ke Wirata untuk membahas kembalinya Kerajaan Hastina Indrapasta dan seluruh jajahannya kepada Pandawa, Raja bijaksana itu menyediakan diri untuk menjadi duta para Pandawa.

Ia beranggapan bahwa duta ini adalah yang terakhir dan harus berhasil. Jika para Kurawa tidak mau mengembalikan negara yang menjadi hak para Pandawa, maka perang baratayuda pasti terjadi.

Kresna menggambarkan perang ini bukan hanya perang darah Barata, tetapi perang batin antara semua manusia di bumi. Perang menegakkan kebenaran antara sifat manusia yang merusak (Kurawa) dan yang memelihara kehidupan (Kresna dan para Pandawa).

Perang dalam batin manusia antara nafsu jahat dan kebaikan. Pandawa dan Kurawa itu hanyalah wakil dari umat manusia sendiri yag selalu mengalami peperangan dalam batinnya. Kejahatan harus ditumpas oleh kebaikan.

Dalam bacaan Injil hari ini,Yesus menggambarkan masa kedatangan Anak Manusia. Sebelum waktu itu tiba, ada berbagai macam peristiwa dunia yang menggemparkan.

Ada tanda-tanda di langit yang membingungkan. Masa ketika keruntuhan Yerusalem akan segera tiba. Orang diajak untuk menyiapkan diri saat Anak Manusia datang. Itulah saatnya Baratayuda.

Itulah saat yang menentukan. Orang diajak untuk siap siaga. Yesus berkata, “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Menghadapi hari-hari akhir saat Anak Manusia datang, orang harus menyiapkan diri seperti ksatria yang siap ke medan perang. Kematian itu harus dihadapi.

Orang tidak bisa menghindarinya. Sama seperti para Pandawa dan Kurawa harus menghadapi baratayuda. “Becik ketitik, ala ketara” kebaikan dan kejahatan akan kelihatan.

Hanya ada dua hal itulah yang ada dalam diri manusia ketika menghadapi kematian yakni kebaikan dan kejahatan.

Maka pertolongan kita hanyalah pada Tuhan. “Bangkitlah dan angkatlah mukamu.” Seperti seorang ksatria yang menang dalam peperangan, ia bangkit tegak dengan muka yang tegar, demikianpun kita harus berjuang mengalahkan kejahatan dan tegak berdiri di hadapan Anak Manusia.

Dia akan memberi kita mahkota kemenangan. Penyelamatan itu sudah dekat di depan kita.

Dunia ini adalah arena baratayuda bagi kita. marilah kita dengan gagah berani berjuang membela kebaikan agar bisa mengalahkan kejahatan. Bersama Kristus Sang Anak Manusia kita pasti menang.

Pergi piknik ke waduk sarangan
Singgah ke Tawangmangu membeli mangga
Baratayuda adalah arena perjuangan
Mengalahkan kejahatan adalah cita-citanya

Cawas, mendung hanya menggoda
Rm. A. Joko Purwanto Pr