Puncta 15.12.19 Minggu Advent III Matius 11:2-11 / Aku Berharap PadaMu

 

SAYA dulu mengikuti kuliah proyek teologi harapan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari. Di situ kami menghadapi berbagai tipe orang yang sedang sakit.

Ada yang sakit ringan sampai yang tergolong berat. Dari ibu-ibu yang akan melahirkan sampai kakek-kakek yang hampir meninggal. Mereka yang sedang meregang nyawa karena kecelakaan atau mereka yang sakit karena usia.

Ada banyak sikap orang menghadapi penyakitnya. Ada yang meronta, menolak, tidak terima dan protes kepada Tuhan, kenapa diberi penyakit seperti ini.

Tetapi ada juga orang yang pasrah, menyerah, berharap ada penyembuhan dari Tuhan. Biasanya orang pada awalnya menolak dan memberontak atau tidak menerima sakitnya.

Tahap berikutnya menerima keterbatasannya dan tahap terakhir adalah pasrah penuh pengharapan. Ketika orang sampai pada tahap pengharapan, mereka mengalami cepat sembuh.

Pengharapan adalah kekuatan. Orang yang mempunyai pengharapan hidup untuk masa depan.

Bacaan Injil hari ini mengungkapkan nuansa pengharapan itu. Yohanes Pembaptis mempunyai pengharapan bahwa Yesus yang hadir dan berkarya itu adalah Mesias yang telah dinanti-nantikan.

Yohanes menyuruh muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Di tengah kesedihan, kegalauan dan ketidak-pastian, Yohanes Pembaptis mempunyai pengharapan kepada Yesus. Dialah Mesias yang dinantikan. Dialah Juru Selamat yang dia siapkan datangNya.

Yesus tidak langsung menjawab. Tetapi Dia menunjukkan karya-karya Allah dalam diri orang buta yang melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengar kabar baik.

Itulah tanda nyata Allah yang hadir dan meraja. Melalui karya Yesus, Allah hadir nyata di tengah-tengah manusia. Mendengar jawaban itu, kiranya Yohanes Pembaptis merasa lega. Dia telah menyiapkan jalan bagi kedatangan Almasih.

Yesus menjunjung tinggi Yohanes Pembaptis. Dia menghormati Sang Perintis Jalan. Bagi Yesus, Yohanes lebih daripada nabi.

“Aku berkata kepadamu, bahkan lebih daripada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau! Ia akan mempersiapkan jalan di hadapanMu.”

Yohanes Pembaptis dengan legawa mempersilahkan Yesus tampil ke depan. “Dia harus makin besar, dan aku harus makin kecil.”

Beranikah kita meniru Yohanes Pembaptis? Orang yang selalu mempunyai pengharapan dan optimis. Ia dengan rendah hati menyiapkan jalan bagi orang lain untuk menjadi besar.

Kuch Kuch Hota Hai digoyang merdunya
Nyanyi bersama dengan Dewi Kunti
Yohanes dicontoh karena rendah hatinya
Menyiapkan jalan bagi Sang Putra Ilahi

Cawas, minum degan sampai deg-degan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 14.12.19 PW. St. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja Matius 17:10-13 / Elia Baru

 

YOHANES PEMBAPTIS adalah penjelmaan Nabi Elia. Yohanes Pembaptis menghadirkan warta pertobatan sebagaimana

Elia melakukannya dahulu kepada Raja Ahab dan Ratu Izebel. Oleh mereka Israel dibawa kepada penyembahan dewa-dewa Baal.

Israel berpaling dari Yahwe Allah mereka. Maka Allah mengutus Elia untuk mengingatkan bangsanya. Yohanes Pembaptis berpakaian jubah bulu unta dan berikat pinggang kulit, seperti Elia. Makanannya belalang dan madu hutan.

Ini adalah cara hidup asketis, mati raga demi kehendak Allah. Yohanes Pembaptis mengajak umat bertobat dan kembali kepada Allah. Ia menyiapkan Allah yang akan melawat umatNya.

Para ahli Taurat sebenarnya tahu, karena mereka mempelajari Kitab Suci, bahwa Elia akan dating lagi. Yesus paham siapa yang dimaksud para ahli Kitab itu. Dialah Yohanes Pembaptis.

Elia sudah menampakkan diri lagi dalam diri Yohanes Pembaptis. Tetapi orang-orang tidak mengenalnya dan para ahli kitab pura-pura tidak mengetahuinya.

Padahal mereka membaca dan mempelajari kitab suci. Tulisan kitab suci itu ditafsirkan sendiri menurut kehendak dan kemauan mereka. Kalau tidak sesuai dengan kemauan mereka, maka isi kitab suci itu dibelokkan dan diberi makna sendiri.

Betapa sering kita mengabaikan nasehat, anjuran, teguran, ajakan baik dari orang-orang yang diutus Tuhan.

Orangtua menasehati, kita cuekin. Para guru mengajar yang baik, kita acuhkan. Pastor mengajak hidup baik dan saleh, kita sepelekan. Teman-teman memberi teguran, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Tuhan Allah mengutus orang-orang baik dan bijaksana untuk mengingatkan kita melangkah di jalan yang benar. Tetapi seringkali kita mengabaikan dan membuangnya.

Perkataan Yesus itu tidak hanya ditujukan kepada orang-orang sebangsaNya. Tetapi juga masih relevan bagi kita. Yesus mengingatkan bahwa Yohanes datang untuk mengarahkan umat ke jalan yang benar, menyembah Allah dan mematuhi perintahNya.

Tetapi orang-orang tidak mempercayainya. Bahkan Yesus sendiri juga ditolak sehingga Ia harus menderita sengsara dan mati di kayu salib. Itu karena hati orang sudah bebal membatu.

Masa Advent ini warta tentang pertobatan digemakan lagi lewat tokoh Yohanes Pembaptis.

Apakah kita seperti orang-orang pada waktu itu yang tidak percaya dan mengabaikan pertobatan? A

kita cuek-cuek saja dan tidak mau menanggapi kedatangan Almasih?

Yesus berkata, “Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Temanku suka tahu pong, aku suka tahu bacem.
Hai teman janganlah bengong, siapkan hati untuk Natal yang adem

Cawas, latihan tari gidal gidul
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 13.12.19 PW. St. Lusia, Perawan dan Martir Matius 11:16-19 / Matematika Kehidupan

 

Hiduplah tiap hari seperti rumus matematika :
Mengalikan (X) kegembiraan
Mengurangi (-) kesedihan
Menambahkan (+) semangat
Membagi (:) kebahagiaan
Mengkwadratkan (2) kasih sayang

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengkritik sikap orang-orang yang menilai tindakan Yohanes Pembaptis dan Yesus hanya menurut kacamata mereka sendiri.

Yohanes hidup dengan sederhana dan miskin serta mati raga dituduh orang yang kerasukan setan. Yesus dekat dengan orang miskin, makan dan minum bersama pemungut cukai dinilai pelahap dan peminum, sahabat orang berdosa.

Orang-orang itu tidak bisa menerapkan rumus matematika. Mereka tidak bisa mengalikan kegembiraan. Orang-orang itu tidak bisa mengalami kebahagiaan bersama mereka yang bahagia. Tetapi justru mencurigai dan berprasangka buruk terhadap orang lain.

Mereka menuntut orang lain untuk mengikuti kemauan mereka. Kalau mereka sedih, orang lain tidak boleh bahagia. Kalau saya menderita, orang lain harus ikut menderita. Tetapi kalau saya senang, nasib orang lain bukan urusan mereka.

Dengan sikap mereka seperti itu, orang tidak berusaha mengurangi kesedihan tetapi justru menambah beban penderitaan. Yang seharusnya mereka bisa menambahkan semangat kepada orang lain, tetapi justru merecoki dan mengganggu orang-orang di sekitarnya.

Orang yang berprasangka buruk terhadap orang lain, sebenarnya merugikan dirinya sendiri. Prasangka itu menjadi beban pikiran yang terus membelenggunya. Sehingga pikirannya menjadi sempit, egois dan tertutup.

Hari ini Gereja memperingati Santa Lucia, perawan dan martir. Nama Lucia berasal dari kata LUX yang artinya cahaya, terang, sinar. Hidup Lucia menjadi terang dan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Keteguhan imannya kepada Yesus sungguh luar biasa. Ia berani mengikrarkan diri tidak menikah dan mempersembahkan hidupnya kepada Kristus sampai mati.

Sikap ini adalah sebuah sinar bagi kesalehan hidup Kristen. Saking sucinya keteguhan Lucia, ia tegar menjalani penderitaan dan penganiayaan.

Ia mati sebagai martir membela keyakinannya. Namanya diabadikan dalam doa syukur agung pertama yang selalu disebut bersama orang-orang kudus lainnya.

Marilah kita menjadi terang seperti St. Lucia yang mampu menerapkan rumus-rumus matematika kehidupan di atas sehingga semakin banyak orang bersukacita, bersemangat, berbahagia dan mau berbagi dengan yang lain.

Membeli besek di Pasar Blok Q
Walau hidungku pesek, tetap menarik hati

Cawas, GT tegak menjulang
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 12.12.19 Matius 11:11-15 / Sang Perintis

 

YOHANES PEMBAPTIS tampil mendahului kedatangan Sang Juru Selamat. Ibaratnya pasukan perintis, ia membuka jalan bagi kedatangan yang lain.

Yohanes bertugas menyiapkan kedatangan Mesias. Ia mempersiapkan umat Allah. Maka pewartaannya berisi tentang pertobatan. Ia mengajak umat untuk bertobat, mempersiapkan diri bagi Kristus.

Orang-orang diajak menyiapkan diri sebaik-baiknya demi datangnya Sang Mesias. Yohanes mencontohkan dirinya sendiri bagaimana harus menyiapkan kedatangan Sang Mesias.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini menegaskan tidak ada orang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Yesus menyamakan Yohanes dengan Nabi Elia, seorang nabi besar yang dihormati oleh bangsa Israel.

Cara hidup Yohanes meniru apa yang dilakukan oleh Elia. Pewartaan Yohanes mirip dengan pewartaan Elia agar Israel berpaling kembali kepada Allah. Yohanes membaptis orang di Sungai Yordan agar mereka hidup secara baru demi kedatangan Allah.

Karena peri hidup Yohanes yang baik itulah, Yesus menegaskan, “Sesugguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.”

Seluruh hidup Yohanes diabdikan kepada Allah. Ia hidup dengan ketaatan tinggi kepada kebenaran Allah. Kendati harus mati dipenggal kepalanya, tetapi kebenaran harus diwartakan.

Yohanes Pembaptis konsekwen dengan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Kebenaran itu dibela sampai mengorbankan nyawanya.

Itulah sebabnya Yesus sangat menghargai peran Yohanes Pembaptis. Tidak ada orang yang lebih besar selain Yohanes Pembaptis.

Orang baik selalu dirongrong untuk dijegal dan dijatuhkan. Begitu pun dengan Yohanes Pembaptis. Ada banyak pihak yang tidak suka pada kritik pedas Yohanes.

Karena kepetingan dan kedudukannya dirongrong, mereka berusaha menyingkirkannya. Bahkan Herdes pun tidak suka kepada Yohanes. Maka dia berusaha menghilangkan jejak Yohanes.

Beranikah kita meniru Sang Perintis yakni Yohanes Pembaptis? Ia menyiapkan diri dan mengajak orang banyak untuk mempersiapkan kedatangan Almasih dengan semangat tobat yang besar.

Pagi-pagi minum jus tomat
Bikin pikiran melayang-layang
Marilah kita bertobat
Sang Almasih akan segera datang

Cawas, pagi yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 11.12.19 Matius 11:28-30 / A Shoulder To Cry On

 

KETIKA Jean Valjean keluar dengan bebas bersyarat dari penjara. Ia harus pulang ke kotanya di Vigou. Perjalanan jauh ke kotanya memaksa dia menginap di kota-kota yang dilewatinya.

Ia mencari penginapan tetapi tak ada yang mau menampungnya karena dia hanya membawa selembar kertas pembebasannya dari kantor polisi.

Malam gelap sudah menjelang, ia hampir putus asa karena tak ada tempat bermalam. Seorang ibu tua menghampirinya ketika ia tertidur tanpa selimut di emper toko.

Ibu itu menyarankan untuk mengetuk pintu pastoran. Karena cuma pintu itu yang belum diketuknya. Akhirnya dia memberanikan diri mengetuk pintu pastoran.

Pastor tua Myriel di Dijon membukakan pintu dan Jean menerangkan siapa dirinya dengan menunjukkan surat identitasnya. Tanpa mempedulikan apa yang diomongkan Jean, pastor itu menerimanya.

Dipersilahkan tamunya untuk makan malam dengan soup hangat. Diberikannya kamar tidur nyaman dengan selimut tebal untuk bisa beristirahat dengan tenang.

Beban beratnya untuk sementara dapat disandarkan kepada pastor tua yang malam ini memberi tumpangan. Peristiwa malam itu mengubah seluruh hidupnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberi kata-kata indah penuh harapan kepada semua orang yang mempunyai beban berat.

“Datanglah kepadaKu, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

Sabda Yesus itu memberi harapan kepada siapa pun yang mempunyai beban berat dalam hidupnya. Yesus menyediakan diri menjadi tempat bersandar bagi beban hidup setiap orang.

Yesus bersabda, “belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.” Sabda yang menyejukkan ini sungguh menguatkan kita untuk datang berlindung kepadaNya.

Yesus tidak pernah mengecewakan siapa pun yang dengan terbuka memohon pertolonganNya. Siapa pun yang datang kepada Yesus, selalu diterima dengan kasih dan tangan terbuka.

Maukah kita juga seperti Yesus, membuka tangan dan hati bagi siapapun tanpa pilih-pilih? Hati Yesus itu bagai samudera yang luas, mampu menerima segala apapun yang masuk di dalamnya.

Ibarat samudera, semua yang baik-buruk, kotor-bersih, keruh-jernih, besar-kecil, ditampung dan diterima dengan legawa. Marilah kita datang kepada Yesus dan belajar daripadaNya.

Di Kalimantan ada lahan sejuta gambut
Sayang sekali sering terjadi kebakaran
Marilah datang kepada Yesus yang lembut
Hidup kita akan mendapat ketenangan

Cawas, senja yang mempesona
Rm. A. Joko Purwanto Pr