Puncta 13.05.21 / HR Kenaikan Tuhan / Markus 16:15-20

 

“Kenaikan Tuhan di Hari Idul Fitri; Pesan Persaudaraan”

HARI ini sungguh istimewa. Dua agama merayakan hari besar bersamaan. Umat Muslim merayakan Idul Fitri. Umat Katolik/Kristen merayakan Hari Kenaikan Yesus ke surga. Selamat merayakan Idul Fitri bagi saudaraku kaum Muslim. Mohon maaf lahir batin. Hari raya ini menyatukan kita semua sebagai saudara dalam Tuhan.

Di Yerusalem ada tempat suci yang juga menyatukan tiga agama; yakni Kristen, Islam dan Yahudi. Tempat itu adalah Bukit Zaitun. Dalam bahasa Ibrani disebut Har HaZeitim yang punya arti Har: Bukit dan Ha-Zeitim: Zaitun. Dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Jebel az-Zeitun.

Dari bukit ini kita bisa melihat kota Yerusalem dengan Dome of the rock dan Kubah masjid yang berkilauan.

Yesus dan para murid sering pergi ke bukit ini. Yesus sering berdoa dan menyendiri di sini. Ia juga mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya.

Ketika akan naik ke surga, Ia pergi ke Bukit Zaitun dan mengutus murid-murid-Nya untuk pergi dan memberitakan Injil ke seluruh dunia.

Di atas bukit ini ada kapel kecil berkubah. Di dalamnya ada batu. Di atas batu itu menurut cerita ada bekas telapak kaki Yesus yang naik ke surga.

Namun yang paling penting adalah perintah Yesus kepada para murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

Sabda Yesus itu bergaung sampai sekarang. Setiap orang yang percaya akan dibaptis dan mereka diberi tugas mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang.

Mereka memberitakan Injil dengan berbagai tanda-tanda; menyembuhkan orang sakit, berbicara dengan beraneka bahasa, membawa sukacita dan damai kepada siapa pun.

Apakah anda percaya pada Yesus? Apakah anda sudah dibaptis? Apakah anda juga merasa kalau diutus Yesus mewartakan Kabar Gembira?

Menginjili tidak harus door to door bawa Kitab Suci, mengajak debat tentang keyakinan. Mewartakan Kabar Gembira itu bisa dengan menjadi sahabat baik bagi semua orang, mengunjungi yang sakit, membangun sikap toleransi dan menghormati perbedaan, hidup rukun dan damai dengan tetangga.

Mari kita wujudkan perutusan Yesus ini dalam tindakan konkret kita setiap hari.

Empek-empek ikan tenggiri.
Tidak cocok pakai ikan patin.
Selamat hari Raya Idul Fitri.
Mohon maaf lahir batin.

Cawas, semoga alam semesta damai…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.05.21 / Rabu Paskah VI / Yohanes 16: 12-15

 

“Kebenaran VS Kebohongan”

HATI-HATI dengan berita di medsos. Ada banyak berita bohong yang disebar dengan maksud-maksud tertentu. Contoh yang sangat fatal terjadi di Perancis. Seorang siswi berumur 13 tahun yang suka membolos mengarang cerita bohong bahwa Samuel Paty, gurunya melakukan tindakan yang berbau SARA.

Orangtua anak itu tidak terima. Ia menulis berita di medsos. Banyak orang terprovokasi. Terjadi kekacauan di Perancis. Sepuluh hari setelah kejadian, Samuel Paty dibunuh oleh Abdulakh Anzorov, yang termakan isue oleh berita bohong pada 16 Oktober 2020 di Conflant-Saint-Honorine, Perancis.

Kebohongan kecil mengakibatkan kekacauan besar dan meluas.

Kita juga masih ingat bagaimana seorang artis berkata bohong di medsos dan kemudian dibesar-besarkan seolah itu sebuah kebenaran. Wajah lebam karena operasi plastik dikatakan habis dianiaya oleh orang tak dikenal.

Masyarakat menjadi terpecah saling curiga dan bermusuhan. Maka berhati-hatilah membaca berita di medsos. Jangan langsung percaya karena belum tentu mengandung kebenaran.

Yesus berjanji akan mengutus Roh Kebenaran. “Roh itu akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”

Ia akan memberitakan segala sesuatu yang didengar dari Yesus. Roh itu berasal dari Bapa dan juga Yesus, sebab apa yang dimiliki Bapa juga dimiliki Yesus.

“Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah kepunyaan-Ku, sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang Dia terima daripada-Ku.”

Memahami kebenaran itu harus melalui proses panjang. Tidak semudah membalik tangan. Sebab pikiran dan pengetahuan kita terbatas. Oleh karenanya kita harus selalu dibimbing oleh Roh Yesus Kristus yakni Roh Kebenaran.

Orang yang dituntun oleh kebenaran akan menjunjung kebaikan, kedamaian dan kesejahteraan bersama. Sedangkan kebohongan akan membawa malapetaka dan kehancuran.

Seperti Bima yang harus terjun ke dalam samudera dan menjelajah dalamnya hutan yang lebat, begitulah orang yang mencari kebenaran harus tekun berjuang mengatasi berbagai rintangan.

Kita bersyukur karena Roh Kebenaran diutus Yesus untuk menuntun kita. Marilah kita peka mendengar bisikan Roh Yesus itu agar kita dapat hidup seturut kebenaran-Nya.

Selamat merayakan lebaran.
Tanpa ketupat dan opor ayam.
Jika kita hidup dalam kebenaran.
Hati akan damai dan cinta kebaikan.

Cawas, mohon maaf lahir batin…
Rm.Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 11.05.21 / Selasa Paskah VI / Yohanes 16: 5-11

 

“Perpisahan Mengharukan”

LEGENDA Pesepak bola Italia, Del Piero berhasil membuat para pendukung si Nyonya Tua, Juventus jatuh hati. Kharisma dan kesetiaan yang ditunjukkan oleh Del Piero membuat para fansnya begitu mencintainya.

Dedikasi dan pengabdiannya kepada Juventus tak perlu diragukan lagi. Dalam kondisi krisis yang dialami Bianconeri yang jatuh bangun di Liga Italia, Del Piero tetap setia memakai kaos putih hitam. Ia tidak pergi meninggalkan klubnya, namun setia membela si Kuda Jingkrak.

Sangat wajar jika para fans menangis sedih saat ia berpisah dengan Juventus. Lambaian tangan perpisahan Del Piero disambut linangan air mata para penggemarnya.

Yesus mengungkapkan sabda perpisahan dengan para murid. Hal ini membuat mereka menjadi sangat sedih. Mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Sangat berdukacita.

“Sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku,” kata Yesus. Hal ini membuat hati para murid berdukacita.

Memang perpisahan selalu membawa kesedihan. Apalagi kalau di antara mereka punya ikatan emosi yang sangat kuat. Pengalaman berjuang, jatuh bangun bersama. Menjadi teman seperjalanan senasib sepenanggungan akan sangat terasa jika harus berpisah.

Perpisahan itu harus terjadi agar kita bisa mandiri, dewasa dan berkembang. Seperti bayi yang ada dalam kandungan harus keluar dan berpisah dengan rahim ibunya, agar anak itu tumbuh menjadi mandiri dan dewasa.

Memang ada saat-saat dimana kita harus berani melepaskan. Sungguh sangat berat. Seperti anak yang “nangis kekejer” ditinggal ibunya.

Yesus tahu apa yang dialami para murid. Maka Ia berkata, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang kepadamu; sebaliknya jika Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Ia menjanjikan Roh Kudus, Roh Penghibur yang diutus untuk menuntun langkah para murid-Nya yakni Gereja. Dengan hadirnya Roh Kudus, Gereja dibimbing dan makin berkembang. Kesedihan dan keharuan itu terbayar sudah. Yesus mengutus Roh Penghibur bagi kita.

Lebaran tanpa tatap muka.
Bermaafan bisa lewat WA.
Yesus kembali kepada Bapa.
Roh Kudus dianugerahkan pada kita.

Cawas, selalu bahagia….
Rm.Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 10.05.21 / Senin Paskah VI / Yohanes 15:26- 16: 4a

 

“Motif Teroris”

MENANGGAPI kasus teror pada Minggu Palma di depan Gereja Katedral Makasar dan kemudian di Mabes Polri, dalam kurun waktu kurang sepekan, pengamat terorisme, Ridlwan Habib mengatakan ada tiga motif yang mendasari. Pertama adalah balas dendam. Pasangan suami istri itu dendam kepada aparat karena ustad yang menikahkan mereka ditembak karena tersangkut jaringan JAD Makasar.

Motif kedua adalah mati syahid. Mereka percaya dengan mati demikian akan masuk surga. Ridlwan mengatakan bahwa pemahaman ini menyesatkan, tetapi kelompok ini mempunyai keyakinan demikian. Bunuh diri adalah jalan mulia membela allah.

Motif ketiga adalah menciptakan konflik horisontal dalam negara. Kalau negara konflik maka ada pihak ketiga yang akan mengambil keuntungan. Kelompok-kelompok yang punya kepentingan itu akan muncul di saat konflik dan bertindak seolah menjadi pahlawan. Mereka akan mengambil alih kekuasaan.

Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya, “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan; bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Semua ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”

Yesus sudah menubuatkan jauh ke depan bahwa akan datang saatnya para murid menghadapi tantangan yang berat.

Yesus sudah “wanti-wanti” bahwa kamu akan dikucilkan, bahkan dibunuh. Mereka yakin dengan berbuat demikian mereka berbakti kepada allahnya.

Tidak perlu takut dan kawatir karena Yesus akan mengutus Roh Penghibur. Roh itu akan menolong dan membimbing kita. Roh itu akan menuntun kita menjadi saksi Kristus.

Kita diminta oleh Yesus untuk bersaksi tentang kebenaran. Mari kita mohon karunia Roh Kudus, agar kita dapat menjadi saksi Kristus.

Sukacita dekat hari raya lebaran.
Walau tidak kumpul saudara dan teman.
Ikut Yesus mewartakan kebenaran.
Harus berani hadapi kematian.

Cawas, selamat menyiapkan lebaran….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 09.05.21 / Minggu Paskah VI / Kasih Murni Quasimodo

 

VIKTOR HUGO adalah penulis dan sastrawan terkenal di Perancis. Namanya tertulis harum sebagai jalan utama di Paris sejajar dengan Champs Elysees yang terkenal. Banyak karya Viktor Hugo yang berpengaruh bagi kehidupan manusia. Misalnya tentang cinta kasih, keadilan sosial, kemiskinan dan derita, penindasan, demokrasi, romantisme.

Dalam novel “Les Miserables” sangat jelas bagaimana Viktor Hugo menggambarkan tentang belas kasih. Kasih tanpa pamrih diberikan Jean Valjean kepada orang miskin, pelacur. Bahkan dia mengampuni orang yang membencinya, Kolonel Javert.

Beda lagi cinta model Quasimodo kepada gadis cantik gipsy nan molek Esmeralda dalam karya “Si Bongkok dari Notre Dame.”

Cinta Si Bongkok ini murni. Kasih yang tanpa pamrih, hanya memberi, tak ingin memiliki. Ia hanya ingin membahagiakan Esmeralda walau tak mungkin memilikinya. Cukup puaslah jika ia bisa melihat senyum gadis yang dipujanya.

Yesus mengajarkan tentang kasih. Dasar kasih itu adalah Bapa yang telah mengasihi Anak-Nya. Begitu pula, Anak-Nya itu mengasihi kita tanpa pamrih. Maka Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Dasar tindakan kasih tidak ada yang lebih tinggi daripada kasih Yesus. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Kasih yang paling besar adalah kasih yang memberi.

Memberi itu ibarat matahari atau rembulan. `Matahari itu hanya memberikan sinar, terang dan panasnya. Begitu pula Bulan hanya memberi terang dan hangatnya bagi malam yang gelap.

Matahari dan Bulan tidak mengharap imbalan atau balasan. Ia mengasihi tanpa imbalan atau pamrih apa pun.

Apakah anda merasa dikasihi oleh Tuhan Yesus? Yesus tidak minta balasan apa-apa. Ia hanya berpesan pada kita, “Kasihilah seorang akan yang lain.”

Sebentar lagi Idul Fitri.
Untuk sementara tetap disini.
Mari kita mulai memberi.
Tanpa berharap kembali.

Cawas, sabar tidak ketemu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr