Puncta 18.06.19 Matius 5:43-48 / Duri Dalam Daging

 

KALAU kita berjalan dan tidak sengaja menginjak duri di kaki, rasanya nyeri dan sakit sekali.

Kalau kita biarkan duri itu menancap lama di kaki, akan membuat bengkak dan bisa bernanah. Duri itu harus segera dicabut dan kaki dibersihkan.

Ibarat duri dalam daging, kita sering menemui pribadi-pribadi yang sulit dalam kehidupan kita.

Entah di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, organisasi atau perusahaan, bahkan dalam paroki, pastoran atau gereja, selalu saja ada “duri dalam daging”.

Dalam bersosialisasi dengan orang lain, kita sering berhadapan dengan orang yang sulit diatur, dinasehati, diberitahu, sulit hidup berkomunitas, semau-maunya sendiri, suka bikin aturan sendiri, bahkan tindakannya sering menyakitkan.

Kalau itu duri beneran, bisa dicabut dan dibuang. Tetapi kalau duri itu adalah pribadi, saudara, atau teman sendiri bagaimana kita menghadapinya.

Yesus menasehatkan kepada murid-muridNya, “Kalian telah mendengar bahwa disabdakan, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian.karena dengan demikian kalian menjadi anak-anak Bapamu di surga’

Menurut Yesus jalan yang harus ditempuh adalah mengasihi musuhmu. Saya jadi ingat dengan Film Les Miserables.

Jean Valjean selalu diburu oleh Inspektur Javert. Walaupun Jean sudah berubah menjadi orang baik, namun bagi polisi itu, Jean tetaplah penjahat.

Menghadapi Inspektur Javert itu, Jean selalu bersikap baik. Tak pernah ada dendam di hatinya. Bahkan ketika ada kesempatan untuk membalas pun, Jean mengampuni dan memberi kesempatan dia hidup.

Mengampuni, mengasihi, mendoakan dan tetap bersikap baik itulah kunci ajaran Yesus. Hanya dengan cara itu kualitas iman kita tumbuh berkembang.

Dengan cara itu, kita menampakkan wajah Bapa di surga. Kasih dan pengampunan itulah wajah Allah sesungguhnya.

Jika kita mau menjadi anak Bapa, maka kita harus berani mengampuni dan mengasihi.

Ke sawah memanen padi
Padi masak langsung diketam
Lebih baik kita mengasihi
Daripada menyimpan dendam

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.06.19 Matius 5:38-42 / Keris Mpu Gandring

 

KISAH Kerajaan Singosari tidak terlepas dari keris Mpu Gandring. Suksesi berdarah kerajaan Singosari menimbulkan jatuh kurban karena kutukan Mpu Gandring.

Nyawa ganti nyawa terus berjatuhan seiring dendam kesumat pemegang keris pembawa maut. Ken Arok percaya ramalan; siapa yang bisa memperistri Ken Dedes akan menjadi raja.

Padahal Ken Dedes sudah punya suami, Tunggul Ametung. Untuk memenuhi hasratnya itu, Ken Arok memesan Mpu Gandring membuatkan keris.

Ahli keris itu menyanggupi setahun keris akan jadi. Tetapi sebelum waktu yang disepakati, Ken Arok memaksa Mpu Gandring menyerahkan kerisnya.

Ken Arok merebut keris dan menusukannya kepada Mpu Gandring. Sebelum ajal, Mpu Gandring mengutuk keris itu akan meminta balas 6 nyawa.

Begitulah keris itu memakan korban dari keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. Nyawa ganti nyawa; mulai dari Mpu Gandring, Tunggul Ametung, Ken Arok, Ki Pengalasan, Anusapati, Tohjaya.

Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian mendengar bahwa dahulu disabdakan, “Mata ganti mata; gigi ganti gigi.”

Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.’

Sabda Yesus itu sangat ekstrem dan melawan arus jaman. Pada waktu itu keadilan diartikan ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi.Dengan demikian rantai balas dendam tak akan pernah berakhir.

Yesus melawan hukum yang tidak benar itu. Ia mengajarkan tentang kasih dan pengampunan. Paling tidak memutus rantai balas dendam dengan tidak melawan.

Bahkan Yesus meminta muridnya, berikanlah pipi kirimu bagi orang yang menampar pipi kananmu. Kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan.

Perwujudan ajaran kasih dan pengampunan itu memang sulit. Bagi Yesus hal itu bisa dilakukan.

Ia memberi contoh saat tergantung di kayu salib dengan mendoakan musuh-musuhNya, “Ya Bapa, Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kalau kita mau meniru Yesus, kita bisa. Adakah kemauan dari kita? atau kita sombong dan egois menganggap diri paling benar dan berkuasa?

Yesus sendiri sudah memberi contoh. Kita yang mengaku orang Kristen justru tidak berani mengampuni dan mengasihi yang membenci kita.

Jangan sampai kutukan Mpu Gandring itu justru menimpa kita karena kita tak mau memutus rantai kekerasan dengan pengampunan.

Candi Mendut ada di Mungkid
Borobudur ada di sebelah baratnya
Mengampuni itu tidak sulit
Kalau kita mau membuka hati kita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.06.19 HR. Tritunggal Mahakudus Yohanes 16:12-15 / Keluarga Cemara

 

SINETRON berjudul Keluarga Cemara ditayangkan mulai tahun 1996 sampai akhir Februari 2005.

Film yang dibintangi Adi Kurdi ini berkisah tentang keluarga sederhana yang dipenuhi dengan prinsip kasih antara abah, emak dan anak-anaknya.

Kendati tinggal di gubug sederhana, namun sukacita, kegembiraan dan kasih sayang sangat mewarnai relasi seluruh anggotanya.

Abah ingin mewujudkan prinsip keluarga adalah harta yang paling berharga dan mutiara yang paling indah.

Segala sesuatu dilandasi oleh sikap cintakasih dan penghargaan terhadap semua anggota keluarga.

Arswendo Atmowiloto ingin menterjemahkan ajarah kasih itu di dalam film yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Kasih adalah bahasa universal. Relasi kasih seperti dalam sinetron itu bisa menjadi role model pembinaan hidup berkeluarga.

Hari ini Gereja merayakan Tritunggal Mahakudus, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Inti dari perayaan ini adalah persekutuan cinta Allah Tri Tunggal Mahakudus. Relasi kasih yang sempurna antara Bapa dan Putera dalam Roh Kudus.

Bapa yang mangasihi manusia. Ia rela mengutus PuteraNya untuk menyelamatkan kita. Roh Kudus diutus Bapa dan Kristus untuk membimbing kita tetap setia menuju Bapa.

Setiap hari kita mengimani Allah Tritunggal dengan membuat tanda salib. Moga-moga membuat tanda salib bukan hanya tindakan rutinitas belaka.T

etapi kita melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa kita diselamatkan dan dikuasai oleh Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam segala tindak-tanduk kita.

Kita sudah dibaptis juga dalam nama Allah Tri Tunggal. Baptis itulah yang mempersatukan kita dalam persekutuan kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Orang yang mengimani Allah Tritunggal berarti mempercayakan diri sekaligus menghayati hidup dalam kasih.

Di dalam Allah Tritunggal ada kasih yang sempurna. Yesus menegaskan itu ketika Ia berkata kepada Filipus, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam Aku. Dialah yang melakukan pekerjaanNya”

Allah Tritunggal tidak bisa dilogika dalam pikiran dan ide-ide, tetapi dihayati, disadari dalam relasi kasih dengan orang lain.

Kalau kita mengasihi orang lain dan kita rela berkorban demi orang yang dikasihi, kita akan memahami relasi Allah Tritunggal Mahakudus. Ayolah kita bernyanyi; “Ajarilah kami Tuhan bahasa cintakasih”.

Kotak persegi namanya kubus
Segitiga warnanya biru
Allah Tritunggal Mahakudus
Jiwailah hidup kami selalu

Berkah Dalem
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 15.06.17 Matius 5:33-37 / Sumpah Jabatan

 

SAYA pernah diundang oleh Pemda untuk mengikuti sumpah jabatan. Saya diminta mewakili rohaniwan Katolik, mendampingi pejabat-pejabat yang beragama Katolik yang akan disumpah.

Mereka maju berbaris di depan. Saya mendampingi dengan membawa Kitab Suci. Sambil tangan kiri ditaruh di atas Kitab Suci, mereka mengucapkan sumpah jabatan.

Diawali dengan kata, “Demi Allah, saya bersumpah”. Dan diakhiri dengan kata, “Semoga Tuhan menolong saya”.

Salah satu kalimat yang diucapkan dalam sumpah adalah: “Bahwa saya, untuk diangkat dalam jabatan ini, baik langsung maupun tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun juga, tidak memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun juga”.

Dan masih ada kalimat sumpah lain yang diucapkan. Misalnya akan taat dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Melihat oknum-oknum yang berurusan dengan penegak hukum, saya menjadi heran. Bermunculan nama-nama; Yohanes, Markus, Antonius, Barnabas, Daniel, Matius, dan masih bisa ditambah lagi.

Mereka dulu bersumpah “Demi Allah”. Tetapi kok? Apakah doa yang diucapkan di akhir sumpah, “Semoga Tuhan menolong saya” masih diimbuhi harapan di dalam hati yang tak terucapkan, “menolong saya untuk kembali modal?”.

Yesus berkata kepada para muridNya, “Jangan sekali-sekali bersumpah. Jika ya hendaklah kalian katakan ya, jika tidak, hendaklah kalian katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat”.

Ada banyak peristiwa kita bersumpah. Waktu kita mau dibaptis, kita berjanji atau bersumpah. Waktu menerima sakramen perkawinan, kita berjanji kepada pasangan.

Waktu mau mengucapkan kaul kekal, kita berjanji untuk setia kepada tuhan seumur hidup. Waktu menerima jabatan pelayanan masyarakat, kita diangkat sumpah.

Banyak sekali kita bersumpah. Namun kenyataan berkata lain. Realitas di lapangan sangat berbeda.

Kita diingatkan dan ditegur oleh Yesus. Jangan mudah bersumpah. Kalau ya katakan ya. Kalau tidak katakan tidak.

Santo Paulus juga mengingatkan bahwa daging ini lemah, namun Roh itu kuat. Maka kita perlu terus menerus minta kekuatan Roh Kudus agar menuntun kepada kebenaran.

Mengandalkan kekuatan sendiri tidaklah cukup. Setan menggoda kita dengan beraneka cara yang menggiurkan. Janganlah segan untuk berdoa minta bimbingan Roh Kudus.

Awan di langit namanya kumulus
Awan hitam turunkan hujan lebat
Mohonlah kekuatan Roh Kudus
Biar dijauhkan dari yang jahat

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 14.06.19 Matius 5:27-32 / Bahasa Cinta

 

SHARING Desy Kartika Sari sewaktu bikin skripsi tersebar di medsos. Dia punya hipotesis bahwa selibat yang dihidupi para pastor adalah menyalahi kodrat.

Untuk melengkapi data-data skripsinya, dia membuat wawancara langsung dengan pastor Katolik.

Dia menulis, “Gue keluar masuk gereja, baca Injil dan Kitab Hukum Kanonik, nonton misa, ke perpustakaan Katolik, ngumpulin jurnal dan tentunya menghubungi para pastor yang akan jadi responden gue. Sampai akhirnya gue mulai wawacara. Awalnya, pertanyaan gue seputar cobaan duniawi terberat. Gue yakin 100% jawaban mereka pasti terkait hasrat sexual, kan mereka laki-laki. Bukan! Ternyata buat mereka, cobaan terbesar hidup selibat adalah: Kesepian. Sejak saat itu pandangan gue berubah.”

Ada pandangan baru muncul dalam diri Desy. Pandangan soal manusia lain, jadi beda. Pandangan soal agama, jadi beda. Pandangan soal perbedaan, jadi beda. Soal cinta dan komitmen juga.

Yesus mengajak murid-muridNya untuk memandang aturan Taurat secara berbeda. “Kalian telah mendengar sabda, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu, “Barangsiapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya dia sudah berbuat zinah dalam hatinya.”

Seperti Desy, ia punya hipotesis bahwa laki-laki pasti tidak bisa lepas dari hasrat sexual. Godaan paling berat bagi para pastor yang selibat menurutnya adalah nafsu sexual.

Ternyata itu keliru. Kesepianlah yang menjadi godaan dalam menghidupi selibat. Akhirnya melalui cara hidup selibat, pandangannya tentang cinta, relasi, martabat manusia, agama dan komitmen menjadi baru.

Yesus membaharui cara pandang dan cara sikap para muridNya untuk tidak hanya kaku melihat hukum, tetapi mengembangkannya secara baru.

Perintah ‘tidak berzinah’ tidak cukup hanya tidak melakukan perbuatan per se tetapi memandang wanita dan menginginkannya dalam hati adalah sudah perbuatan dosa.

Jika pandangan baru itu tertanam dalam hati kita, maka cara pandang, cara sikap kita pasti akan berubah.

Marilah kita membuka diri agar punya pandangan terbuka dan luas yang akan berguna bagi kita untuk memandang dunia dan manusia yang unik dan kaya.

Jangan seperti katak dalam tempurung
Tetapi belajarlah terbang tinggi seperti rajawali
Jangan pernah ragu dan bingung
Bukalah pikiran agar selalu membaharui diri

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr