Puncta 17.04.21 / Sabtu Pekan Paskah II / Yohanes 6:16-21

 

“Melihat Hantu”

ACARA penerimaan jubah baru selesai. Frater Bambang, sebut saja namanya begitu, menggantung jubah barunya di pintu.

Kamar frater itu berukuran 3×4 meter. Di situ ada tempat tidur, almari kecil, rak buku dan meja belajar. Kamar mandi ada di ujung unit berjejer menjadi satu dengan unit yang lain. Kalau mau mandi atau mencuci harus keluar kamar, melewati lorong-lorong unit.

Malam pertama penjubahan itu Frater Bambang tidur nyenyak saking bahagianya sudah dipanggil “romo muda.” Tengah malam gelap ia terbangun mau ke kamar mandi.

Ia terkejut setengah mati karena melihat hantu putih di kamarnya. Matanya diusap-usap siapa tahu hanya bayangan saja. Hantu itu makin jelas.

Ia mulai ketakutan. Ia berlutut “dremimil” berdoa Salam Maria. Tetapi hantu itu tidak bergeming. Malah ia melihat seolah hantu itu terbang, kakinya tidak menyentuh di tanah.

Ia ketakutan sampai basah celananya. Karena tak tahan menahan kencing, ia meraba-raba sandalnya dan dilemparkan ke arah sang hantu. “Glodak…..” suaranya keras. Jubah putih dan hangernya jatuh ke lantai.

Ia terduduk di lantai menyadari kebodohannya. Ia lupa, ternyata jubah putih tergantung itu yang membuatnya takut sampai terkencing-kencing.

Ketika hari sudah mulai malam, para murid naik perahu menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari gelap, Yesus belum datang. Laut bergelora karena angin kencang.

Dalam situasi yang parah itu, Yesus datang berjalan di atas air. Mereka ketakutan. Mungkin mereka mengira ada hantu datang.

Tetapi Yesus berkata, “Ini Aku, jangan takut.” Lalu mereka mempersilahkan Yesus naik ke perahu, dan mereka sampai tujuan dengan selamat.

Di tengah perjalanan hidup, pasti kita pernah mengalami kesulitan. Kita takut, sedih, cemas dan putus asa. Dalam gejolak seperti itu, kita perlu mendengarkan sabda Tuhan, “Jangan takut.”

Tidak cukup hanya mendengarkan, tetapi mempersilahkan Tuhan masuk ke bahtera kita. Jika Tuhan bersama kita, seberapa besar badai hidup kita, pasti dapat dilalui. Maukah kita mengundang Tuhan?

Jubah putih bikin gelisah.
Dikira melihat hantu.
Kalau hidup kita susah.
Hadirkan Tuhan bersamamu.

Cawas, selalu bersyukur….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 16.04.21 / Jum’at Pekan Paskah II / Yohanes 6:1-15

 

“Jangan Ada Yang Terbuang,” Menghargai Orang Kecil.

“YEN mangan kudu resik, ora kena sisa, mengko mundhak pitike mati.” Itu adalah nasehat orang-orang tua kepada anaknya. “Kalau makan harus bersih, tidak ada sisa, nanti ayamnya mati.”

Tentu saja saya waktu itu tidak tahu apa hubungannya makan tidak habis dengan ayam yang mati. Saya menuruti saja yang disampaikan orangtua.

Sejak kecil saya dididik orangtua untuk menghargai sebiji nasi yang ada di piring.

Kalau kita makan, orangtua selalu menasehatkan agar apa yang sudah diambil di piring dihabiskan.

Tidak boleh ada yang dibuang sedikit pun. Setiap kali makan, piring harus bersih, tak boleh ada nasi berceceran.

Setelah bisa berpikir, nasehat orangtua itu banyak manfaatnya. Kita diajak menghargai rejeki pemberian Tuhan. Kita juga menghargai jerih payah orangtua yang bekerja keras agar keluarga bisa makan.

Selain itu kita juga belajar “ngukur” kemampuan diri. Kalau kita hanya bisa makan sedikit, jangan mengambil banyak-banyak, karena nanti hanya dibuang. Mengambil makanan seperlunya saja.

Paus Fransiskus pernah bilang, “Membuang makanan berarti kita merampas hak orang miskin.” Itulah sebabnya jangan sampai ada makanan yang dibuang sia-sia.

Yesus mempergandakan lima roti dan dua ikan dari seorang anak kecil. Bagi para murid lima roti dan dua ikan apalah artinya bagi sekian ribu orang. Tetapi jika yang sedikit itu disyukuri pastilah akan cukup bagi banyak orang.

Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikan kepada mereka semua.

Bila kita mampu bersyukur, maka akan cukup, bahkan bisa lebih. Maka Yesus berkata, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih, supaya tidak ada yang terbuang.”

Mari kita menghargai dan mensyukuri rejeki pemberian Tuhan. Janganlah boros dengan membuang makanan.

Masih ada banyak saudara kita yang tidak bisa makan. Kalau kita membuang makanan berarti kita tidak punya rasa syukur dan belarasa terhadap mereka yang kelaparan.

Pagi-pagi makan bubur,
Bubur babi di jalan supratman.
Kalau kita punya rasa syukur,
Hidup kita akan berkelimpahan.

Cawas, marilah bersyukur….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 15.04.21 / Kamis Pekan Paskah II / Yohanes 3:31-36

 

“Lebah dan Lalat”

PERNAHKAH anda memperhatikan naluri kedua serangga ini? Mata lebah akan selalu mencari bunga yang indah walau ia berada di tempat yang kotor.

Sedang lalat akan fokus pada kotoran walau di situ ada bunga yang indah.

Lebah fokus pada bunga yang indah agar menghasilkan madu yang manis.

Sedang lalat tertarik pada kotoran dan membawa kuman serta penyakit.

Lebah hidup dalam komunitas. Mereka kompak bekerja sama. Mereka punya tata aturan dan hirarki yang rapi.

Sedangkan lalat lebih individualistis dan mencari makan sendiri-sendiri.

Yohanes Pembaptis bersaksi tentang Yesus kepada murid-murid-Nya, “Siapa yang datang dari atas ada di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga ada di atas semuanya.”

Yesus itu seperti lebah. Ia mencari bunga yang indah dan menghasilkan madu yang manis. Ia mewartakan yang baik dan menghasilkan keselamatan.

Yesus datang dari surga dan memberi kesaksian tentang hal-hal yang baik.

Barangsiapa memelihara lebah, ia akan memperoleh madu. “Barangsiapa percaya pada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.”

Beda dengan lalat. Ia lebih tertarik pada yang kotor walau di situ ada bunga indah.

“Siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.”

Walau ada yang indah dari surga, tetapi manusia yang nalurinya seperti lalat tetap berada di bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.

Lalat tidak akan dipelihara seperti lebah. Ia akan dipukul dan mati.

“Barangsiapa tidak taat pada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Kalau anda mau hidup, pilihlah cara hidup lebah. Kalau anda ingin melihat hidup, percayalah kepada Yesus Anak Allah.

Hiduplah berkomunitas seperti lebah. Hiduplah dalam paguyuban gereja agar tidak terpisah.

Jadilah lebah penghasil madu yang manis. Jadilah anak Allah agar hidupmu tetap romantis dan kebaikanmu tak pernah habis.

Pilihlah lebah karena kita adalah anak Allah.
Jangan memilih lalat karena kelakuannya jahat.

Cawas, tetap setia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 14.04.21 / Rabu Pekan Paskah II / Yohanes 3:16-21

 

“A Story of Father’s Love”

Kisah nyata ini terjadi tahun 1938. John L.Griffith Sr. adalah penjaga jembatan Sungai Mississippi. Ia bertugas mengangkat tuas supaya kapal bisa lewat, dan menurunkannya agar jembatan turun dan kereta api bisa melintas. Waktu bertugas ia mengajak Lajo, anaknya yang sangat dia sayangi.

John berada di pos kontrol. Telpon berbunyi, mengabarkan bahwa sebuah kapal akan lewat. John menaikkan jembatan.

Tidak lama dari kejauhan Lajo melihat datangnya kereta api. Ia berteriak-teriak memanggil ayahnya. Namun John tidak mendengar.

Kereta api makin mendekat. Lajo berusaha menarik tuas yang ada di bawah jembatan. Malang, ia terpeleset dan jatuh.

John terperanjat ketika tahu Kereta Expres dari Memphis melaju kencang. Ia berada dalam suatu dilema.

Menarik tuas untuk menyelamatkan 400 penumpang di dalam kereta, tetapi ia harus mengorbankan anaknya mati tertindih jembatan. Pilihan yang sulit.

Pada detik-detik terakhir, dengan tangannya yang gemetar, ia menarik tuas. Jembatan itu turun menindih anaknya. Kereta api itu melaju aman di atasnya dan semua penumpangnya diselamatkan.

Yesus berkata kepada Nikodemus, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Allah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan dunia. Seperti John mengorbankan anaknya yang dikasihi untuk menyelamatkan para penumpang kereta api, demikianlah Allah mengorbankan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia.

Kita ini seperti para penumpang kereta; mereka adalah orang-orang yang kesepian, kecanduan, egois, dikuasai amarah, hawa nafsu, ketegaran hati.

Mereka adalah orang yang hidup dalam kegelapan. Yesus datang sebagai terang yang menghalau gelap.

Ia mati untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Itulah wujud kasih Allah yang paling besar. Putera-Nya sendiri dikurbankan bagi kita.

Marilah kita syukuri hidup ini, karena hidup kita ini sangat berharga di mata Tuhan. Sedemikian Ia mengasihi kita, sampai Anak-Nya sendiri mati untuk kita.

Janganlah sia-siakan waktu hidup kita ini.

Tengak-tengok angka tanggalan.
Hitung-hitung angka merahnya.
Hidup kita berharga di mata Tuhan.
Ia kurbankan Anak-Nya untuk kita.

Cawas, ngemong, momong, mbopong……
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 13.04.21 / Selasa Pekan Paskah II / Yohanes 3: 7-15

 

“Beroleh Hidup Yang Kekal”

Kawruhana sejatining urip (ketahuilah sejatinya hidup ini).
urip ana jroning alam donya (hidup di dalam alam dunia),
bebasane mampir ngombe (ibarat orang yang singgah untuk minum),
umpama manuk mabur (ibarat burung terbang)
lunga saka kurungan neki (pergi dari kurungannya),
pundi pencokan benjang (dimana hinggapnya kelak).
awja kongsi kaleru (jangan sampai keliru).
umpama lunga sesanja (umpama orang pergi bertandang),
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih (saling bertandang, yang pasti bakal pulang),
mulih mula mulanya (pulang ke asal mulanya).

Kitab dalam bahasa Jawa itu menerangkan bahwa hidup yang kekal itu tidak ada di dunia ini. Dunia ini hanya tempat manusia singgah untuk minum.

Ibarat burung yang terbang, ia akan hinggap ke tempat asalnya. Ibarat orang bertamu, ia akan kembali ke asal mula atau rumah abadinya.

Yesus dan Nikodemus saling berdiskusi untuk membuka rahasia kehidupan kekal. Nikodemus hanya membaca huruf-huruf dalam Kitab Taurat, tetapi dia tidak memahami dan mendalaminya.

Maka ia bertanya kepada Yesus, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Nikodemus ibarat Resi Durna yang bertanya tentang “sejatining urip” kepada Bima Suci, muridnya.

Yesus balik bertanya, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?”

Kemudian Yesus “mbabar kawruh sejatining urip” atau menjelaskan rahasia hidup yang kekal. Yesus berbicara tentang hal-hal surgawi karena Ia berasal dari surga, bukan dari dunia.

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.”

Manusia itu aslinya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Identik dengan ungkapan saudara-saudara kita Muslim, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojii’un. Yang artinya “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Salah besar jika kita memutlakkan hal-hal duniawi ini sebagai sesuatu yang langgeng dan sempurna.

Hidup kekal atau hidup yang sempurna itu tidak ada di dunia ini. Dunia kita ini adalah tempat berjuang agar mencapai hidup yang kekal.

Bagaimana caranya? Jawaban Yesus adalah, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

Dengan percaya kepada Yesus yang disalib (ditinggikan), maka kita akan mendapat hidup yang kekal. Apakah anda sudah memahami iman yang sangat dalam ini?

Di Jimbung ada legenda bulus,
Yang hidup di batu kerakal.
Dengan percaya pada salib Yesus,
Kita sampai ke hidup kekal.

Cawas, tetap semangat….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr