Puncta 29.09.20 / Pesta St. Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung / Yohanes 1:47-51

 

“Malaikat Pelayan Allah”

GEREJA Katolik mengakui dan percaya adanya malaikat. Mereka adalah pelayan atau pesuruh Allah. “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang itu bersifat sama jelas” (KGK 328).

Keberadaan malaikat itu adalah kebenaran iman, tertulis dalam Kitab Suci dan diyakini turun temurun dalam tradisi gereja. Para malaikat ditugaskan Allah untuk melindungi, menjaga, menuntun dan menolong manusia dari lahir sampai matinya.

Ada tiga malaikat agung yakni Mikael, Gabriel dan Rafael yang kita rayakan hari ini. Ada empat malaikat surga dalam kelompok kerubim yakni; St. Uriel, St. Yehudiel, St. Barachiel dan St. Sealtiel.

St. Mikael adalah panglima bala tentara surga. Ia berperang melawan iblis dan mengusir mereka dari surga. Dalam Kitab Wahyu dikatakan, “Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan seekor naga, …..naga besar itu, si ular tua yang disebut iblis atau setan yang menyesatkan seluruh dunia. Mikael artinya “Siapakah seperti Tuhan.”

St. Gabriel, artinya “Kekuatan Allah.” Dalam Injil Lukas dikisahkan Malaikat Gabriel datang ke rumah Maria dan memberi kabar sukacita tentang kelahiran Juruselamat yakni Kristus, Tuhan.

St. Rafael berarti “Tuhan yang menyembuhkan.” Dalam Kitab Tobit dikisahkan Malaikat Rafael mendampingi Tobias dalam mencari obat bagi kesembuhan mata ayahnya, Tobit. Malaikat Rafael mengusir setan Asmodeus yang telah membunuh tujuh calon suami Sara. Akhirnya Sara diperistri Tobias berkat pertolongan St. Rafael.

Kepada Natanael, Yesus berkata,”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.” Dan Natanael berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” Natanael percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah. Karena imannya itu, Yesus menanggapi, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka, dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Iman kepada Yesus itu membuat kita bisa melihat karya-karya besar Allah. Syaratnya hanya satu yakni iman kepada Yesus. Karya agung Tuhan, bahkan para malaikat pun akan kita jumpai jika kita mengimani Kristus tanpa syarat.

Menulis puisi di malam yang pekat.
Sambil menatap rembulan bersegi empat.
Tuhan mengutus para malaikat.
Menolong kita agar bisa selamat.

Cawas, no touch experience…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 28.09.20 / Lukas 9:46-50 / Rivalitas

 

KEHIDUPAN di dunia ini dipenuhi dengan persaingan. Kalau dalam dunia binatang, persaingan bertujuan untuk menguasai wilayah, kelompok dan rebutan hak keturunan.

Singa terkuat berhak memilih pasangan, menguasai kelompok dan wilayah. Begitu pun manusia, saling berebut kuasa, popularitas, sumber daya alam dan hegemoni.

Dalam dunia wayang, Pandawa dan Kurawa, walaupun mereka itu bersaudara, saling berebut kekuasaan, wilayah dan kemenangan. Karna dan Arjuna berusaha saling mengalahkan, siapa yang paling mahir dalam memanah di medan perang.

Deutschland, Deutschland über alles,
Über alles in der Welt,
Wenn es stets zu Schutz und Trutze
Brüderlich zusammenhält.

(Jerman, Jerman di atas segalanya,
segala yang ada di dunia,
Apabila tiba masanya, untuk berlindung dan bertahan,
Persaudaraan kita tegakkan bersama)

Lagu kebangsaan Jerman ini dieksploitasi oleh Nazi Hitler untuk kepentingan kekuasaanya sehingga disalahartikan Jerman ingin menguasai dunia. Jerman berada di atas segala bangsa.

Dalam komunitas kecil para murid Yesus juga timbul persaingan. Mereka bertengkar berebut siapa yang terbesar di antara mereka. Bahkan mereka melarang orang di luar komunitas mereka untuk mengusir setan. “Guru, kami melihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, dan kami telah mencegahnya, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus melarang mereka.

Tetapi Yesus mengajarkan yang sebaliknya, “Siapa yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.” Demikian juga berhadapan dengan kelompok lain. “Barangsiapa tidak melawan kalian, dia memihak kalian.”

Jangan ada rivalitas atau persaingan berebut kekuasaan dan popularitas. Semangat cintakasih dan persaudaraan di atas segalanya.

Bagi Yesus yang mengajarkan cintakasih, rivalitas bukan dipakai untuk kepentingan keselamatan pribadi, tetapi bersaing untuk mengasihi dan berbuat baik bagi sesama. Mari kita berlomba untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Beli batik kainnya halus.
Warnanya menarik juga bagus.
Kita ini homo homini salus.
Bukan homo homini lupus.

Cawas, senja yang indah…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 27.09.20 / Minggu Biasa XXVI / Matius 21:28-32

 

“Komitmen”

SEKARANG ini kita menghadapi masa Pilkada. Ada 270 wilayah akan memilih gubernur, bupati atau walikota. Dari jumlah itu 52 calon disinyalir berbau politik dinasti. Tidak menjamin kalau anak pejabat akan berhasil memimpin rakyat.

Justru orang-orang “luar” yang punya modal kepemimpinan kuatlah yang berhasil memajukan daerahnya. Mereka itu bukan pemimpin “karbitan” tetapi berjuang dari bawah. Jiwa leadershipnya sudah diasah sejak awal. Komitmen dan dedikasinya sudah teruji.

Salah satu tahapan dalam Pilkada itu adalah kampanye. Dalam kampanye banyak calon mengumbar janji-janji. Janji kepada rakyat itu manis-manis. Tetapi setelah duduk manis menjadi kepala daerah lalu lupa pada janjinya.

Orang Jawa menyindir halus dengan berkata, “inggih, inggih ora kepanggih.” Kalau ada maunya banyak memberi janji, tetapi kalau sudah “nak kepenak” lupa pada janjinya. Berkata ya, ya tetapi tidak pernah berbuat apa-apa.

Yesus berdiskusi dengan para imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi tentang komitmen. “Bagaimana pendapatmu? Ada orang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada yang sulung dan berkata, “Anakku, pergilah bekerja di kebun anggur hari ini.”

Jawab anak itu, “Baik, Bapa.” Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu berkata, “Tidak mau” Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang anak itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang terakhir.”

Yesus mengibaratkan para imam kepala dan tua-tua Yahudi itu seperti anak sulung. Pemungut cukai dan pelacur orang berdosa itu anak bungsu. Anak sulung itu mengatakan iya, iya iya tetapi tidak melakukan. Anak bungsu kendati berkata tidak, kemudian menyesal dan melakukan.

Orang-orang saleh bangsa Yahudi itu tahu kalau Yohanes Pembaptis adalah nabi yang datang menunjukkan jalan kebenaran. Tetapi mereka tidak percaya. Justru para pemungut cukai dan pelacur orang berdosa itu percaya kepadanya.

Kadang kita ini juga seperti orang-orang saleh itu. Merasa paling benar sendiri dan tidak mau membuka hati kepada mereka yang mewartakan kebenaran.

Kalau dikritik marah. Suka memerintah tapi menyentuh aja ogah. Menuntut orang lain disiplin tetapi dia sendiri plan plin. Hidup di luar nampaknya baik, padahal munafik.

Mari kita belajar supaya tidak menjadi anak sulung yang “inggih, inggih ning ora kepanggih.”

Teman Superman namanya Wonder Women.
Orangnya cantik, trengginas dan perkasa.
Jadilah orang yang punya komitmen.
Bisa bertanggungjawab dan dapat dipercaya.

Cawas, batal pelajaran….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 26.09.20 / Lukas 9:43b-45 / Pemimpin Dengan Visi

 

SALAH satu ciri seorang pemimpin adalah mampu berpikir jauh ke depan. Ia dapat memprediksi apa yang akan terjadi kemudian berdasarkan fenomena dan gejala-gejala yang terjadi sekarang. Orang Jawa bilang, “Ngerti sadurunge winarah.” Ia mampu melihat tanda-tanda zaman. Arah pandangannya adalah ke depan. Ia mempunyai visi yang jauh melampaui perkiraan orang lain.

Saya jadi ingat debat capres dalam pilpres beberapa waktu lalu. Dalam sesi tanya jawab antar calon. Calon nomer satu bertanya kepada paslon nomer dua. “Jika bapak memimpin, strategi apa yang akan dibuat untuk peningkatan unicorn?”

“Unicorn? Apa yang dimaksud Unicorn,” dia malah balik bertanya. “Apa itu unicorn, yang online-online itu?” Kelihatan sekali dari gesturenya bahwa paslon ini gugup dan bingung ditanya tentang unicorn. Jawaban yang keluar sangat menggemaskan.

Orang yang bertanya itu jelas mengetahui persoalan di masa depan. Dari pertanyaan itu, jelas bahwa masa depan akan dipengaruhi oleh munculnya teknologi digital dan ini adalah dunianya kaum milenial. Oleh Jokowi, kaum muda milenial ini digandeng untuk menuju Indonesia masa depan. Ia berpikir dengan visi ke depan. “Ngerti sadurunge winarah.” Orang yang tidak punya visi hanya “plonga-plongo”

Yesus adalah pemimpin dengan visi ke depan. Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Yesus berbicara tentang masa depan-Nya. Ia tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia berpikir jauh melampuai pengertian para murid-Nya. Dikatakan, “mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.”

Yesus tahu bagaimana masa depan yang akan dihadapi-Nya. Ia akan ditolak oleh para tua-tua, imam kepala dan ahli Taurat. Karena perutusan-Nya ini, Ia harus menanggung sengsara, wafat dan bangkit pada hari ketiga. Sebagai pemimpin, Yesus “ngerti sadurunge winarah”. Ia bertindak berdasarkan visi ke depan. Mari kita meneladan visi Yesus.

Jalan-jalan sehat di pagi hari.
Sampai keringat jatuh bercucuran.
Jadilah manusia yang punya visi.
Masa depan pasti ada di genggaman.

Cawas, cross over the sea…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.09.20 / Lukas 9:18-22 / Menghindari Kata “Jangan”

 

SAYA sering melihat ibu-ibu memilih duduk di depan pintu atau di kursi belakang jika mengikuti doa lingkungan, misa atau latihan koor. Kita sering melarang mereka dengan berkata, “Jangan duduk di depan pintu” atau “Jangan duduk di belakang.”

Kendati dilarang tetap saja hal itu dilakukan kembali. Selain menghalangi orang yang akan masuk, juga membuat orang enggan duduk di depan. Mereka beralasan pengin mendapat udara segar, pengin cepat pulang atau takut nanti ditanya macam-macam oleh romo dan aneka alasan lain.

Dalam pola pendampingan modern, para orangtua diharap menghindari kata “Jangan”, karena berkesan negatif. Anak sering tidak peduli dengan larangan itu. Yang diingat justru hal yang dilarang seperti; “duduk di pintu”, “pergi”, “main-main”, bukan perintah “jangan”.

Beberapa alasan mengapa kata “jangan” perlu dihindari untuk melarang anak: Pertama, hal itu menghambat kesenangan anak. Larangan ini membuat si kecil jengkel dan marah. Kedua, menghambat kreativitas anak. Si kecil jadi terhalang untuk mengungkapkan hasratnya.

Ketiga, mempersempit pilihan. Ketika dilarang, si kecil hanya mengingat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Maka dia tidak punya pilihan lain. Keempat, Tidak memberi solusi. Bu Tejo menasehati, “Jadi orang itu mbok yang solutif.” Kalimat larangan, “Jangan berhujan-hujan ya,” tidak memberi solusi. Berbeda dengan ajakan, “Yuk kita main di dalam rumah saja biar tidak sakit.”

Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Kata orang banyak siapakah Aku ini?” Mereka langsung menjawab dengan mudah. Orang banyak mengira Yohanes Pembaptis, Elia atau salah seorang nabi zaman dulu hidup kembali.

Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kalian, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkaulah Kristus dari Allah.” Dengan keras Yesus melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapapun. Yesus tidak berkata “Jangan bilang-bilang begitu.” Nanti kalau dibilang “Jangan”, para murid malah akan mengatakan apa yang dilarang.

Yesus menjelaskan alasan mengapa melarang mereka. Paham tentang Mesias atau Kristus yang diyakini Petrus dan teman-temannya bisa keliru, belum seutuhnya tepat.

Ia memberitahu paham Kristus yang sebenarnya. “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh para tua-tua, oleh para imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Yesus melarang tetapi dengan memberi alasan yang benar. Para murid diajak berpikir dan memahami siapa Mesias sesungguhnya. Mari kita menyempurnakan iman kita terus menerus.

Superman tidak bisa terbang.
Karena dia lupa pakai celana.
Kalau anak-anak banyak dilarang.
Sering malah ingin melanggarnya.

Cawas, mirip cerita Conan….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr