Puncta 13.07.20 / Matius 10:34-11:1 / Tidak Egois, Rela Berkorban

 

SEORANG pengemis mengumpulkan makanan untuk hidupnya. Namun selalu dicuri oleh tikus. “Hei tikus, kenapa kamu mencuri makananku.”

Tikus itu menjawab, “kamu tidak akan punya lebih dari tiga jenis makanan, itulah takdirmu. Tanyakan kepada Sang Budha.” Kata tikus.

Pengemis muda itu mengembara mencari Sang Budha. Ia menginap di suatu rumah. Tuan rumah punya anak gadis yang tidak bisa bicara. “Anak muda jika kamu ketemu Budha, tanyakan kenapa anakku tidak dapat bicara.”

Pengemis itu berterimakasih atas tumpangan dan melanjutkan perjalanan. Ia harus melewati gunung dan lembah. Ia bertemu dengan penyihir yang sudah hidup ribuan tahun dengan tongkatnya. Ia membawa pengemis itu terbang melintasi gunung dengan tongkatnya.

Penyihir juga meminta, “Tanyakan kepada Budha, seharusnya saya sudah masuk surga, kenapa saya belum juga bisa pergi ke sana?”

Lalu pengemis itu tiba di pinggir sungai yang lebar. Ia berjumpa dengan kura-kura raksasa yang bersedia menyeberangkan pengemis itu.

Sambil berenang kura-kura itu berkata kepada anak muda itu, “Coba tanyakan juga kepada Sang Budha, saya sudah hidup sangat lama, seharusnya saya sudah menjada naga, kenapa belum bisa menjadi naga?”

Akhirnya pengemis itu ketemu Sang Budha. Sang Budha hanya mau menjawab tiga pertanyaan. Pengemis itu punya empat pertanyaan.

Ia merasa kasihan kepada kura-kura, penyihir dan gadis malang yang tidak bisa bicara. Ia sadar beban masalahnya tidak sebesar yang mereka hadapi. Ia memutuskan untuk bertanya tentang masalah mereka.

Budha menjawab, “Kura-kura tidak mau meninggalkan tempurungnya. Kalau ia mau, ia bisa menjadi naga. Penyihir itu tidak mau melepaskan tongkatnya. Tongkat itu menghalangi dia ke surga. Dan gadis itu bisa bicara kalau dia ketemu belahan jiwanya.”

Pengemis itu kembali kepada kura-kura. “Apa kata Sang Budha?” Jawab pengemis itu, “Kamu harus mau melepaskan tempurungmu.”

Kura-kura melepaskan tempurungnya. Di dalamnya ada banyak mutiara. Ia berikan mutiara itu kepada pengemis. “Aku tidak membutuhkan semua ini.” Lalu ia berubah menjadi naga.

Pengemis itu bertemu dengan si penyihir. “Apa kata Sang Budha?” Jawab pengemis, “Kamu harus melepaskan tongkatmu. Tongkatmu itu seperti jangkar yang menghambat engkau ke surga.” Ia memberikan tongkatnya kepada si pengemis. Ia pergi ke surga. Pengemis itu membawa mutiara yang sangat berharga dan tongkat ajaib.

Pengemis itu singgah di pondok orangtua yang anak gadisnya bisu. “Apa kata Sang Budha?” Jawab pengemis itu, “Ia bisa bicara kalau ketemu belahan jiwanya.”

Si gadis keluar dan menemui pengemis muda itu dan berkata, “Bukankah engkau yang singgah di sini seminggu yang lalu?” Akhirnya mereka menemukan cintanya dan hidup dalam damai sejahtera.

Ketika kita berani meninggalkan segalanya, kita akan memperoleh semuanya. Pengemis itu mengorbankan pertanyaan dirinya sendiri untuk diajukan kepada Sang Budha.

Namun ia justru mendapatkan semua jawaban dari pertanyaannya. Yesus berkata, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperoleh kembali.”

Tiup lilin di perantauan.
Berdendang riang sambil tepuk tangan.
Kalau kita rela berkorban.
Kita akan mendapat lebih dari yang diharapkan.

Cawas, meniup lilin..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.07.20 / Minggu XV / Matius 13:1-9 (singkat)

 

Lingkungan Membentuk Karakter Seseorang

KARAKTER seseorang banyak dibentuk dari lingkungan dimana dia tinggal. Ada orang yang karakter pribadinya keras, lembut, pemarah, disiplin, rajin, tekun, egois, suka menolong.

Karakter itu dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Kalau anak memperoleh teladan hidup yang baik, maka karakternya akan tumbuh dengan baik.

Begitu pula sebaliknya, kalau lingkungan hidupnya keras, kejam dan senang berontak, maka dia bisa terbentuk seperti itu.

Karna Basusena sebetulnya putera bangsawan. Ia keturunan Raja Mandura dari Dewi Kunti. Tetapi karena sejak remaja dia bergaul dengan para Kurawa, yang bertabiat buruk, licik, kejam, “adigang, adigung, adiguna” maka dia membela Kurawa daripada bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa.

Di tanah macam apakah benih itu jatuh, akan sangat berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan perumpamaan tentang benih yang jatuh di tanah. Lingkungan dimana benih itu jatuh mempengaruhi karakter benih itu sendiri.

Yesus berkata, “Ada seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung-burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tumbuhan itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak berduri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus ganda, ada yang enampuluh ganda, ada yang tigapuluh ganda.”

Ada orangtua yang memberi nasehat, “aja cedhak kebo gupak.” Harafiahnya berarti jangan mendekati kerbau yang penuh lumpur, nanti akan terkena lumpurnya.

Kalau tidak mau menjadi kotor maka jangan bergaul dengan lingkungan yang kotor. Lingkungan dimana benih itu jatuh akan sangat berpengaruh. Kalau jatuh di tanah yang baik, maka akan menghasilkan berlipat-lipat.

Kita bisa menelusuri latar belakang pribadi seseorang dengan melihat dari mana dia berasal. Kalau orang itu berasal dari keluarga yang keras, orangtua suka menghukum dengan cambuk, saudara-saudaranya penuh dengan kompetisi, maka situasi seperti itu akan membentuk kepribadiannya.

Relasi dengan orang lain dipengaruhi oleh karakter itu. Kalau di keluarga tidak ada komunikasi, masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, tiap hari hanya pegang HP, maka orang akan cenderung menyendiri dan menjauhi sosialita sekitarnya.

Maka bijaksanalah memilih lingkungan pergaulan. Pandai-pandailah bergaul dengan orang-orang di sekitar kita. Jangan sampai jatuh di tanah tandus, berbatu atau penuh semak duri. Engkau akan menyesal nanti.

Naik kuda kaki menjejak.
Berkelejat tak kenal lelah.
Di tanah mana kita berpijak.
Tanah baik hasilnya melimpah.

Cawas, hari bahagia….
Rm. A. Joko Purwanto,Pr

Puncta 11.07.20 / Matius 10:24-33 / Jangan Takut

 

DENGAN adanya jaringan internet semua hal menjadi terbuka. Kejadian kecil di kampung bisa diunggah dan diketahui oleh semua orang.

Apa yang ditutup-tutupi atau disembunyikan dengan cepat akan terkuak. Kebohongan akan mudah terbongkar, cepat atau lambat semua akan terbuka.

Orang Jawa berkata, “Becik ketitik, ala ketara.” (yang baik akan kelihatan, yang buruk akan ketahuan). Kebohongan, pembodohan, penipuan, rekayasa apa pun lambat laun akan tercium dan terkuak.

Akhir-akhir ini ada banyak orang ngaku mantan pastor, suster biarawati, frater, bahkan anak kardinal. Kenapa tidak anak Paus sekalian. Ada yang ngaku lulusan sekolah tinggi teologi, lulusan Injil School Vatican Roma, bahkan tinggal di basement basilika St, Petrus.

Apa dia tidak tahu kalau basement Basilika St.Petrus itu kuburan para paus? Kalau cerita punya rumah luas di Bergota Semarang, saya percaya, wong itu memang kompleks kuburan yang dijadikan pemukiman. Serapi-rapinya orang menyimpan bangkai, lama-lama ketahuan juga baunya.

Yesus bersabda,”Janganlah kalian takut kepada mereka yang memusuhimu, karena tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi, yang takkan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah dari atas atap rumah.”

Kita sangat bersyukur kepada Tuhan karena kita diajari untuk mengampuni musuh-musuh. “Berdoalah bagi mereka yang membenci kamu.”  Kita tidak perlu takut. Kita tidak perlu balik memusuhi atau membenci.

Tuhan berkata, “Janganlah kalian takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Tetapi takutilah Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”

Dengan adanya dunia internet, orang-orang yang suka berbohong, membodohi, menipu, memfitnah, memusuhi itu gampang diketahui, seperti asap yang tertiup angin membubung tinggi.

Sekarang ini banyak orang pintar yang tidak mudah dibodohi. Hanya orang bodoh yang mau dibodohi. Maka jadilah orang pintar dan bijaksana agar tidak mudah dibodohi.

Jangan takut jika karena kebenaran, kita dimusuhi. Memang berjuang demi kebenaran itu tidak mudah. Banyak yang menentang dan melawan.

Tetapi kebenaran pada saatnya akan menang. Kebenaran akan membuka tabir-tabir kebohongan, kelicikan, kemunafikan. Kebenaran akan bergulung seperti ombak.

Ada umbi mirip buah rambutan.
Hidupnya liar di tengah hutan.
Jangan takut membela kebenaran.
Musuh mengintai dari segala jurusan.

Cawas, new ngopi dgn pijakan…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 09.07.20 / Matius 10:7-15 / Pangkalan Suka; Tempat Mangkal Bikin Hati Suka

 

SETIAP kali turne ke Stasi Kebuai atau Sungai ingin, saya pasti singgah di rumah Pak Anang di Pangkalan Suka. Bu Anang selalu menyiapkan kamar istirahat, makan minum untuk pastor yang turne.

Mereka dengan senang hati menyambut kami dan melayani bila kami pulang dari Kebuai. Jalan ke Kebuai sangat buruk, apalagi kalau musim hujan.

Kami singgah di rumah Pak Anang untuk mandi, karena jalan berlumpur kalau hujan dan berdebu kalau musim kemarau. Bu Anang pasti menyediakan kopi dan makan yang lezat untuk kami.

Bu Anang pandai memasak. Kalau jalur Turne ke Camp Harjon dan Beginci, tempat singgah pasti di Tigal. Ada rumah penginapan Pak Yosep yang asri di pinggir danau kecil di tengah hutan.

Semua keperluan sudah tersedia untuk para pastor yang melayani umat di pelosok. Pelayanan ditempuh dalam tiga hari, tetapi kami sungguh dicukupi oleh Tuhan melalui orang-orang yang sangat mengasihi kami.

Dalam bacaan hari ini, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Mereka diminta untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan yang mati, mengusir setan dan memberi dengan cuma-cuma.

“Kalian telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berilah pula dengan cuma-cuma.”

Tuhan juga meminta kepada para murid-Nya untuk tidak kawatir dan takut terhadap segala fasilitas dan sarana-sarana pendukung tugas mereka.

“Janganlah kalian membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kalian membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapatkan upahnya.”

Selama bertugas di pedalaman Kalimantan, saya tidak pernah merasa kekurangan dan kelaparan. Rasanya Tuhan sudah melengkapi semua keperluan.

Suatu kali saya pulang dari Tanjung Bunga. Baju dan tas ransel saya penuh lumpur. Tanah liat merah melekat di roda sepedamotor, membuat saya jatuh berkali-kali.

Saya singgah di Engkadin di rumah Pak Ignatius. Saya disuruh mandi, makan dan istirahat di kamar. Tak diduga Pak Ignatius mencuci motor saya sampai bersih. Sungguh luar biasa pemeliharaan Tuhan bagi saya.

Kita tidak perlu kawatir. Tuhan akan menjamin kita dan menyediakan apa pun juga yang menjadi keperluan kita. Asalkan kita bersungguh-sungguh mewartakan Kerajaan-Nya.

Kadang kita takut dengan fasilitas-fasilitas. Kalau ditugaskan di pedalaman, pertanyaan pertama adalah, ”ada signal gak ya?”

Orang di pedalaman tidak makan signal. Mereka bisa hidup tanpa signal. Justru karena itu mereka sangat peduli, suka menolong, terbuka dengan siapapun.

Karena ada banyak kebaikan umat itulah maka kita tidak perlu takut dan kawatir. Tuhan sangat bisa diandalkan. Yesus, Engkau andalanku.

Tengah malam bulan purnama.
Melihat bintang di teras atas rumah kita.
Tuhan telah memberi dengan cuma-cuma.
Kita tak perlu ragu untuk membagikannya.

Cawas, pengin gelali dan gembili…
Rm. A. Joko Purwanto,Pr

Puncta 08.07.20 / Matius 10:1-7 / Diutus Membawa Damai

 

WALAUPUN di Foshan banyak perguruan silat bermunculan, tapi Yen Wen atau lebih dikenal dengan Ip Man tidak tertarik mendirikan perguruan.

Ia mahir dalam beladiri Win Chun. Tetapi ia tidak menonjolkan kemahirannya itu. Ketika Jepang menjajah China, Jepang banyak menindas rakyat dan sering berlaku kejam. Kehidupan Yen Wen berubah.

Ia menjadi buruh tambang yang sering menerima perlakuan tidak adil. Ia harus membela teman-temannya yang dibunuh tentara Jepang.

Jendral Miura menantang dia berduel. Yen Wen menunjukkan kemahiran beladirinya dan berhasil mengalahkan Jendral Miura.

Orang-orang mendaulat dia untuk mengajari ilmu beladiri win chun. Ia berpesan kepada murid-muridnya bahwa kungfu bukan untuk menebar kekerasan dan permusuhan.

Ia punya banyak murid. Murid-muridnya dinasehati untuk selalu membawa damai dan welasasih. Keahlian beladiri bukan dipakai untuk menebar permusuhan atau kesombongan.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberi kuasa kepada murid-murid-Nya untuk mengusir roh-roh jahat dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Kuasa atau keahlian mereka itu diberikan dalam perutusan akan datangnya Kerajaan Allah.

Yesus mengutus mereka, “Pergilah dan wartakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat.” Kemampuan mengusir roh-roh jahat dan melenyapkan segala penyakit itu dipakai dalam rangka tugas perutusan, bukan untuk kesombongan pribadi atau mencari kehebatan diri.

Kalau kemampuan beladiri hanya untuk mengalahkan orang lain dan keangkuhan pribadi, maka dia akan hancur.

Demikian dialami Jin Shan Zhao yang menantang Ip Man untuk bertarung. Ia dengan sombong mencari musuh yang dapat mengalahkannya.

Ingatlah pepatah, “Di atas langit masih ada langit.” Intinya jangan sok kuasa dan jagoan. Kemampuan diri bukan untuk kesombongan pribadi, tetapi sejauhmana keahlian atau kuasa itu digunakan untuk kebaikan hidup bersama.

Para murid diberi kuasa dan kemampuan oleh Yesus untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan segala penyakit. Kuasa itu diberikan demi pewartaan Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah itu adalah damai sejahtera bagi semua orang. kuasa itu diberikan agar Allah semakin dirasakan dan dimuliakan oleh segala makhluk.

Kuasa itu bukan untuk kesombongan para murid sendiri. Keliru kalau orang menyombongkan bahwa ia pandai berkotbah, pandai ini pandai itu, followernya banyak dan disanjung dimana-mana.

Orang itu mewartakan dirinya sendiri atau Kerajaan Allah yang diutamakan? Jangan terkecoh…

Riuh rendah pestanya ramai.
Orang menari berputar-putaran.
Kita diutus membawa damai.
Agar nama Allah dimuliakan.

Cawas, hati-hati ada grenjul grenjul..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr