Puncta 12.11.19 PW. St. Yosafat. Uskup dan Martir. Lukas 17:7-10 / Hamba Sahaja

 

HAMBA yang setia dan tulus itu dipuji tuannya. Ia melakukan kerjanya dengan tulus tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan. Ia hanya melakukan tugasnya saja.

Ia melakukan tugasnya dengan setia tanpa menunggu diperintah oleh atasannya atau tanpa dikontrol oleh pimpinannya. Tugasnya dapat berjalan dengan baik.

Ada karyawan yang bekerja hanya kalau diawasi. Kalau tidak ada pimpinan, ia “leda-lede” seenaknya saja.

Hamba yang baik itu bekerja bukan karena takut pada atasannya. Tetapi karena ia berkomitmen pada tugasnya.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya untuk menjadi hamba yang setia melayani tuannya.

Hamba yang baik senang jika tuannya senang. Bukan dia yang membanggakan dirinya tetapi senang jika melihat tuannya bahagia. Ia tidak egois hanya berpikir untuk dirinya saja.

Saya pernah melihat video yang viral di medsos tentang seorang sopir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Sopir itu bertugas mengantar kemana-mana tuannya.

Ia mengantar ke kantor sang suami. Ia mengantar ke mall sang istri tuannya. Juga ia harus mengantar tuan putrinya pergi kuliah. Semua dilakukan dengan sukacita.

Setiap kali mengantar tuannya selalu mengeluh tentang kekurangan sang istri. Setiap kali mengantar sang istri selalu yang didengar keluhan percekcokan dgn suami.

Setiap kali mengantar tuan putrinya kuliah yang didengan keluhannya tentang keluarganya yang tidak rukun. Sopir itu menjadi tempat curhat mereka. Lalu sang sopir punya ide bagus.

Ia meninggalkan setangkai bunga di kursi mobil. Ketika ia mengantar bapak, ia berkata bahwa bunga itu dari ibu.

Ketika ia mengantar ibu, bunga yang ditaruh di mobil itu dari bapak. Ketika ia mengantar anak majikannya, ia memberikan bunga saat ultahnya dengan pesan itu dari orangtuanya.

Sejak itu keluarga itu menjadi rukun dan peduli satu sama lain. Sopir itu merasa sungguh bahagia. Apakah kita sebagai hamba Tuhan juga telah membuat tuan kita bahagia?

Cawas, sedang menanti hujan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 11.11.19 PW. St. Martius dari Turs, Uskup Lukas 17:1-6 / Iman Romo Van Lith

 

ORANG Jawa suka berbohong. Stereotype itu menjadi salah satu pembicaraan dalam Konggres Kebudayaan (Javaas Cultuur Conggres) di Solo tahu 1918.

Tetapi stereotype itu dibantah justru bukan oleh orang Jawa, melainkan oleh Pastor Van Lith SJ. Dia adalah orang Belanda yang ahli bahasa dan filsafat Jawa.

“Orang Jawa bukan suka berbohong, melainkan tidak suka berterus terang karena tidak ingin menyakiti hati orang.” Orang Barat tidak dapat menyelami tabiat orang Jawa dalam pergaulan masyarakat.

Anak-anak Barat dididik ajaran ‘Lieg Niet’ artinya jangan berbohong. Anak Jawa sejak kecil didoktrin ‘Grief Niet’ artinya jangan menyakiti hati orang. Misalnya, orang Jawa tidak akan berkata langsung menohok ,

“Baumu kecut sekali, jangan dekat-dekat saya. Tetapi dia akan berkata, “Sebaiknya kamu minum air kencur atau mengoleskan kapur sirih di badanmu. Ramuan itu bisa membuatmu lebih segar.”

Pada dasarnya manusia selalu tidak senang mendengar dari orang lain tentang kekurangan atau keburukannya. Tapi bila dikatakan dengan cara yang tidak menyakiti hati, maka saran yang baik akan diterima dengan rasa terimakasih.”

Itulah penilaian Romo Van Lith tentang orang Jawa. Penilaian itu pasti didasari oleh iman keyakinan bahwa orang Jawa itu baik, halus dan menjaga perasaan orang lain.

Dengan keyakinan itu Romo Van Lith masuk ke jantung kehidupan orang Jawa. Maka ia berhasil mengubah stereotype buruk itu menjadi positif dengan pendidikan. Lewat karya pendidikan, Van Lith membuat orang Jawa menjadi manusia merdeka dan bermartabat.

Bacaan Injil hari ini menyatakan bahwa kalau kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja, kita bisa memindahkan pohon ara untuk tertanam di laut. Yesus berkata,

“Jika kalian memiliki iman sebesar biji sesawi, kalian dapat berkata kepada pohon ara ini, “Tercabutlah dan tertanamlah di dalam laut”, maka pohon itu akan menurut perintahmu,”

Romo Van Lith mempunyai iman kepada Yesus. Dengan imannya Ia bisa mengubah paham yang negatif yang tercetak di dalam diri orang Jawa, menjadi positif yang memberi perspektif dan harapan baru bagi orang Jawa sendiri.

Sekarang ini Jokowi berjuang membangun revolusi mental. Mental kita yang buruk harus diubah menjadi baik. Maka dibutuhkan iman keyakinan yang kuat untuk mengubah mental itu. Jika tidak ada iman, tidak mungkinlah ada perubahan, apalagi perubahan mental.

Buah mangga di samping rambutan
Belum masak sudah dimakan
Revolusi mental harus didasari iman
Tanpa itu tidak akan ada perubahan

Cawas, seperti kodok menanti hujan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 10.11.19 Minggu Biasa XXXII Lukas 20:27-38 / Di Hadapan Allah Semua Orang Hidup

 

KISAH nyata yang diceritakan oleh P. Segundo Llorente SJ : Seorang imam di sebuah paroki, setelah misa malam Natal selesai, ia mengunci gereja dan pergi tidur di kamarnya.

Pagi-pagi ia bangun kembali ke gereja untuk berdoa pribadi selama satu jam dalam meditasi. Ia masuk ke sakristi dan menyalakan lampu-lampu gereja. Ia terpaku kaku ketika menuju bangku gereja.

Orang-orang anehb pakaian sangat miskin memenuhi sebagian besar bangku gereja. Semua orang berada dalam keheningan total. Tak seorang pun bergerak dan tidak peduli untuk menoleh kepadanya.

Sekelompok kecil berdiri dekat kandang Natal dalam keheningan total. Imam itu terhenyak dan dengan suara keras bertanya bagaimana mereka bisa masuk gereja. Tak satu pun yang menjawab.

Ia berjalan mendekati mereka dan bertanya lagi, “Siapakah yang mengijinkan kalian masuk?” Seorang perempuan menjawab tanpa ekspresi dan sama sekali acuh tak acuh, “Hal-hal aneh terjadi pada malam Natal.”

Lalu dia kembali tenggelam dalam keheningan total. Sang imam pergi untuk memeriksa pintu utama. Pintu itu terkunci rapat seperti semula saat ia terakhir menguncinya. Dia kaget dan bertekat ingin meminta keterangan dari mereka.

Saat ia memalingkan muka ke arah altar, bangku-bangku itu kosong tak terlihat siapa pun duduk di sana.

Pastor Llorente yakin bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang sudah meninggal yang sedang mengalami api penyucian. Mereka menanti penyelamatan dan menyembah Yesus yang bertahta di dalam tabernakel.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang kebangkitan orang mati. Gereja percaya adanya kebangkitan. Credo mengatakan, “Kebangkitan badan dan kehidupan kekal.”

Kematian bukan akhir kehidupan. Kita akan dibangkitkan pada akhir zaman. Di hadapan Allah kita semua adalah orang hidup. Yesus mengatakan bahwa, “Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”

Apa dasar keyakinan kita itu? Dasarnya adalah iman kepada Yesus yang bangkit. Paulus berkata, “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak akan dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”

Iman akan Yesus yang bangkit itulah yang memberi harapan kepada kita, bahwa kita akan hidup di hadapan Allah setelah kematian duniawi.

Sejak zaman dahulu kala orang sudah percaya bahwa ada kebangkitan. Kitab Makabe menjelaskannya dengan kisah tujuh orang bersaudara dengan ibunya yang disiksa demi iman mereka. Lebih baik mereka mati demi iman karena akan memperoleh ganjaran hidup abadi.

Kalau kita percaya kepada Kristus, maka kita memperoleh jaminan hidup abadi. Sebagaimana Kristus dibangkitkan sebagai yang sulung, kita kelak juga akan bangkit bersama Dia.

Ke Jimbung mau melihat bulus
Pergi ke sana dengan sepeda
Ikut mati bersama Yesus
Akan dibangkitkan bersamaNya juga

Cawas, malam yang hening.
Rm. A. Joko Purwanto Pr.

Puncta 09.11.19 Pesta Pemberkatan Basilika Lateran Yohanes 2:13-22 / Ecclesia Semper Reformanda

 

BAIT suci Yerusalem adalah pusat hidup Bangsa Israel. Di Bait Allah ini segala ibadat dan kurban dilaksanakan. Karena berhubungan dengan kurban maka muncullah pedagang-pedagang dan penukar uang.

Di Bait Suci ada banyak transaksi ekonomi. Di situ juga muncul percaloan dan preman-preman pengatur ekonomi. Bait Suci kemudian berubah fungsi. Tidak lagi fokus untuk peribadatan saja tetapi menjadi pasar.

Yesus ingin mengembalikan fungsi Bait Suci ke asal mulanya. Bait suci adalah tempat kehadiran Allah. Kesetiaan Allah itu mewujud dalam BaitNya yang kudus yang di dalamnya tersimpan tabut perjanjian Allah dengan Israel.

Tindakan Yesus mengusir para pedagang itu juga suatu simbol bahwa Yesus ingin merombak Bait Suci. Bait Suci itu adalah TubuhNya sendiri. Tubuh Yesus akan dihancurkan dalam kematianNya. Tetapi tiga hari kemudian Ia bangkit dan menang,

Hari ini gereja merayakan pesta pemberkatan Basilika Lateran. Di dalam Basilika ini ada tahta uskup Roma. Pemberkatan ini awalnya hanya dirayakan di Roma.

Tetapi karena posisi uskup Roma adalah juga Paus pemimpin gereja tertinggi, maka pesta pemberkatan Basilika Lateran kemudian dirayakan secara meriah di seluruh dunia.

Dengan perayaan ini kita diingatkan sebagai kesatuan Tubuh Mistik Kristus. Gereja Lateran adalah induk bagi seluruh gereja maka kita pun diajak bersyukur atas kasih Allah dalam penebusan Kristus.

Kita ini adalah anggota Tubuh Mistik Kristus. Hidup kita hendaknya diselaraskan dengan Sang Kepala yakni Kristus. Yesus ingin bahwa gereja selalu memperbaharui diri sebagaimaa Dia merombak Bait Suci.

Begitu pun gereja tidak bleh “mandheg” pada kemapanan yang meninabobokan. Gereja perlu merefleksi diri supaya tidak jatuh kepada kesombongan dan keangkuhan rohani. Ecclesia semper reformanda. Gereja harus selalu memperbaharui dirinya.

Denpasar moon penekna blimbing kuwi
Ben lunyu kita tetap gandengan
Marilah selalu memperbaharui diri
Agar gereja tetap jadi sarana keselamatan

Cawas, angin pun tiada bertiup
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.11.19 Lukas 16:1-8 / Hutang Budi Balas Budi

 

ADA seorang bendahara yang dituduh menghambur-hamburkan uang tuannya. Ia dipanggil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Seorang bendahara bertugas mengelola seluruh harta tuannya. Ia dipercaya oleh tuannya atas semua harta kekayaannya. Maka kalau bendahara itu pandai, harta tuannya akan bertambah banyak.

Demikian dia juga ikut menikmati hasilnya. Bendahara itu tidak digaji. Tetapi dia bisa mengambil untung dari pekerjaannya itu. Yang terjadi dengan bendahara ini, ia menghambur-hamburkan harta tuannya. Maka dia akan dipecat.

Ia berpikir pintar sebelum dipecat. Ia berusaha menanam kebaikan kepada orang-orang yang berhutang kepada tuannya. Ia bukan bermaksud memanipulasi.

Tetapi ia ingin menabur kebaikan dengan membuat orang lain berhutang budi kepadanya. Maka dia memanggil satu per satu orang yang berhutang kepada tuannya.

Ia meringankan beban utang orang-orang itu. Yang harusnya membayar seratus tempayan minyak, dia putuskan cuma membayar limapuluh tempayan saja. Yang harusnya membayar seratus pikul gandum, dia buat surat utang hanya delapan puluh pikul saja.

Dengan berbuat seperti itu, dia berharap orang-orang itu akan menolongnya saat dia mengalami kejatuhan. Ketika dia dipecat, akan ada orang yang menolongnya. Orang-orang itu telah berhutang budi kepadanya. Mau tak mau mereka akan menampungnya.

Tuhan Yesus bukan memuji kelicikan bendahara itu, tetapi tindakan menabur kebaikan kepada orang lain, supaya dia ditolong saat mengalami jatuh, itulah yang dipujiNya.

Kita harus bisa menanam kebaikan kepada banyak orang, sehingga hutang budi itu nanti akan dibalas dengan kebaikan pula. Kita tidak akan selamanya kaya, nyaman, sukses.

Hidup itu seperti roda. Kadang di atas tetapi kadang di bawah. Saat kita kaya, bantulah orang miskin. Saat kita sehat, kunjungilah orang sakit. Saat kita sukses, temani orang yang sedang gagal.

Saat kita nyaman, tolonglah mereka yang kurang beruntung. Saat sedang di atas, berbuatlah baik sebanyak-banyaknya. Ketika nanti sedang di bawah, kita akan memetik kebaikan kita itu.

Ke pantai menikmati mentari ke peraduan
Jalan-jalan berdua menikmati senja
Di saat sukses tanamlah kebaikan
Di saat jatuh kita tinggal memetiknya

Cawas, saat hujan belum tiba
Rm. A. Joko Purwanto Pr