Menyambut Natal ditengah Pandemi

Tak terasa kita telah melewati Minggu ketiga Adven, yang artinya tak lama lagi Natal pun segera datang. Natal berasal dari bahasa Portugis yang berarti kelahiran. Natal merupakan hari raya kelahiran Yesus Kristus yang diperingati umat Kristen setiap tanggal 25 Desember. Natal dirayakan dalam ibadat pada malam tanggal 24 Desember dan 25 Desember.

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja-gereja mulai sibuk dengan berbagai kegiatan dan tradisi perayaan natal, seperti : menghias pohon Natal, melakukan perjamuan makan bersama, maupun aksi solidaritas natal. Sudah menjadi tradisi di dalam Gereja dalam menyambut Natal yang biasanya selalu meriah dan penuh sukacita.

Namun kita semua mengetahui bahwa kondisi masyarakat dunia di tahun ini sangatlah berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pandemi Virus Covid-19 yang tak kunjung berakhir menjadi penyebabnya. Sudah kira-kira 10 bulan lamanya Virus Covid-19 atau yang biasa kita sebut virus corona ini menyerang berbagai daerah di Indonesia. Selama itu pula, banyak sekali aspek-aspek kehidupan kita terganggu dan mengalami perubahan secara drastis.

Sejak virus corona ini menyebar di Indonesia dan pertambahan kasus orang yang positif semakin banyak. Pemerintah mulai menerapkan berbagai kebijakan untuk mencegah virus ini agar tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Pada awal pandemi ini berlangsung, pemerintah mulai menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), jaga jarak, pengecekan suhu di ruang publik, gerakan mencuci tangan, dan masih banyak lagi.

Kehadiran virus corona ini pun mempengaruhi kehidupan kita sebagai umat beragama. Kita tahu bahwa sejak berkembangnya virus ini di awal tahun 2020, seluruh gereja ditutup. Seluruh kegiatan peribadatan dan misa dilakukan secara virtual melalui Youtube. Menjelang pertengahan tahun, gereja sudah mulai kembali mengadakan misa dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat dan juga membatasi umat yang hadir dalam setiap misa.

Tak berbeda dengan Misa Perayaan Natal yang sebentar lagi akan segera tiba. Kemeriahan untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat kali ini harus dirayakan dengan cukup berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, banyak dari kita yang memilih untuk melakukan misa virtual dari rumah saja.  Walaupun ada beberapa dari kita yang bisa melakukan misa secara langsung, namun tetap saja jumlah umat yang diperbolehkan hadir secara langsung di Gereja tetap dibatasi.

Lantas apakah hal ini harus mengurangi sukacita kita untuk menyambut Natal ? Tentu saja tidak. Walaupun kita semua memiliki kesedihan karena tidak bisa merayakan Natal dengan meriah atau pun dengan beramai-ramai, kita tetap harus menyambut kehadiran Tuhan Yesus dengan sukacita dan syukur yang sama besarnya. Justru dengan adanya kemelut dan kesulitan-kesulitan hidup yang kita alami sejak pandemi ini berlangsung, kita harus memperbesar harapan kita terhadap pertolongan Kristus.

Di masa pandemi ini kita didorong untuk tetap bersyukur dan menyambut Tuhan dengan rendah hati, tanpa perlu acara-acara meriah, tanpa perlu pesta-pesta natal. Namun kita diajak untuk menyambut tuhan dengan kesederhanaan seperti Yesus yang lahir di dalam kandang. Yesus akan tetap datang dan hadir ke dalam hidup kita tanpa kita harus melakukan penyambutan yang mewah. Yang terpenting pada saat ini adalah bagaimana kita mempersiapkan hati kita dengan penuh syukur dan penuh sukacita untuk merayakan kedatangan Tuhan Yesus ditengah kesederhanaan dan kesulitan yang kita hadapi di masa pandemi ini.

Syukur adalah sebuah ungkapan rasa berterima kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan kita berbagai anugerah dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya. Lalu apakah artinya bersyukur di tengah keprihatinan banyak orang di sekitar kita karena pandemi? Tentu saja di tengah masa seperti ini kita diajak berkaca kembali untuk mengucapkan rasa terimakasih kita atas hal-hal sederhana yang telah diberikan Tuhan seperti anugerah kehidupan, anugerah kesehatan, masih memiliki rejeki yang cukup, dll. Tak hanya itu, sesuai dengan tema masa Adven 2020: “Orang Katolik yang semakin erat bersatu dengan Kristus dan berbuah kasih”, kita semua diajak untuk bersyukur dengan cara “berbuah kasih”. Kita bisa “berbuah” salah satunya dengan cara berbagi. Terutama di saat pandemi seperti ini dimana situasi ekonomi memburuk dan banyak orang semakin terpuruk akibat penyakit dan kehilangan pekerjaan, kita diajak mengungkapkan syukur kita dengan berbagi berkat. Kita diajak untuk berbagi dan menghasilkan buah-buah kasih yang dapat menolong sesama kita dan dengan cara itu jugalah kita menyambut kehadiran Tuhan Yesus.

Marilah dengan sukacita kita menyambut Natal 25 Desember 2020 dan Tahun Baru 1 Januari 2021, dengan semangat memberitakan Injil dan terus mengalami penghiburan dari Kristus untuk saling menguatkan satu dengan yang lain dan untuk semakin berbuah kasih. Marilah kita mewarnai Perayaan Natal dan Tahun Baru ini dengan kesederhanaan tetapi dengan limpah sukacita dan penuh rasa syukur, sambil kita terus berdoa bagi seluruh warga bangsa Indonesia agar terbebas dari pandemi Covid-19, agar bangsa kita segera pulih dari berbagai macam kesulitan dan permasalahan yang terjadi di berbagai aspek kehidupan kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by : Gisella

 

Hari Raya Semua Orang Kudus

Ilustrasi Yesus bersama Para Kudus

Hari raya semua orang kudus adalah suatu perayaan yang dirayakan pada tanggal 1 November di sebagian Kekristenan Barat, dan pada hari Minggu pertama setelah Pentakosta di Kekristenan Timur, untuk menghormati semua orang kudus baik yang dikenal, maupun yang tidak dikenal. Perayaan ini dimulai saat matahari terbenam pada tanggal 31 Oktober (dirayakan sebagai Halloween) dan selesai saat matahari terbenam pada tanggal 1 November. Perayaan ini diperingati satu hari sebelum perayaan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Dalam teologi Kristen Barat, perayaan ini bertujuan untuk memperingati semua orang yang telah mencapai visi beatifis (keyakinan Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur bahwa manusia menjadi semakin serupa dengan Allah) di surga. Perlu diketahui, Hari Raya Semua Orang Kudus merupakan hari libur nasional di negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Katolik.

Sejarah Perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus

Hari Raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usaha mereka menyebarkan iman Kristiani. Di lingkungan Gereja Barat khususnya di Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadah kafir untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah Gereja. Gereja ini dipersembahkan kepada Santa Maria bersama Para Rasul. Dahulu di Roma, hari raya ini biasanya diperingati pada hari Minggu setelah Pentakosta. Lama-kelamaan pesta ini menjadi populer untuk menghormati Para Kudus, baik mereka yang sudah diakui secara resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum dan tidak diketahui.

Bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap perayaan ini ?

Pesta hari ini dirayakan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat-jemaat perdana disebut “Persekutuan para Kudus”, yakni persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus pada hari raya ini kita memperingati rombongan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah, karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai pada akhir pertandingan di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran yang besar di surga.

Lantas, apakah arti “Persekutuan Para Kudus” ?

            Ungkapan ini terutama menunjukkan seluruh anggota gereja yang hidup dengan saling berbagi dengan hal suci (sancta), iman, Sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi, karisma-karisma, dan anugerah-anugerah spiritual yang lainnya. Akar terdalam dari persekutuan ini adalah cinta yang “tidak mencari keuntungan sendiri”(1Kor13:5), tetapi mendorong umat beriman untuk mempunyai sikap hidup bahwa “segala sesuatu adalah kepunyaan bersama”(Kis4:32), bahkan menyediakan barang-barangnya untuk yang miskin dan yang paling membutuhkan. Persekutuan Para Kudus juga memiliki arti lain, ungkapan ini juga menunjuk pada kesatuan antara orang-orang suci (sancti), yaitu antara mereka yang berkat rahmat Allah dipersatukan dengan Kristus yang mati dan bangkit, ada yang msaih berjuang di dunia ini, yang lainnya sudah melewati hidup di dunia dan sedang mengalami proses pemurnian yang membutuhkan bantuan doa-doa kita. Yang lain lagi sudah masuk dalam kemuliaan Allah dan mendoakan serta menjadi pengantara kita. Semua anggota ini bersama-sama membentuk satu keluarga di dalam Kristus, yaitu Gereja, untuk memuji dan memuliakan Allah Tritunggal.

Bagi Umat Kristen yang merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, mereka melakukannya dengan dasar keyakinan bahwa terdapat ikatan spiritual doa antara umat yang berada dalam api penyucian (Ecclesia Penitens), umat yang berada di surga (Ecclesia Triumphans), serta umat yang masih hidup (Ecclesia Militans). Oleh karena itu tampilah para Santo-Santa dan Beato-Beata yang mendoakan agar kita tekun dalam perjuangan dan tabah dalam penderitaan di dunia. Sehingga apabila akhirnya Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan, kita manusia akan menjadi serupa dengan Dia. Pada saat itulah akan terjalin kesatuan yang sempurna antara kita manusia dengan Kristus dan dengan semua saudara kita. Dan dalam tradisi Gereja Katolik dan banyak kelompok Gereja Anglikan, satu hari setelah perayaan tersebut digunakan untuk memperingati orang-orang beriman yang meninggal namun belum dimurnikan dan belum masuk surga.

Kebahagiaan dan kemuliaan mereka tak bisa kita lukiskan dengan kata-kata manusiawi. Sehubungan dengan itu Santo Paulus berkata: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor 2:9) Ganjaran yang diterimanya dari Kristus adalah turut serta di dalam Perjamuan Perkawinan Anak Domba Allah. Air mata mereka telah dihapus sendiri oleh Yesus. Dan tentang itu Yohanes menulis: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan perkawinan Anak Domba.” (Why 19:9) “Dan Dia akan menghapus segala air mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau berdukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Oleh sebab itu “Kita, mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Hibr 12:1-2).

 

 

 

 

 

 

Penulis: Tripleway

Editor: Gisella

 

Sumber:

id.wikipedia.or g/wiki/Hari_Raya_Se mua_Orang_Kudus

www.imankatolik.or.id/kalender/1Nov.html

www.katolisitas.org/hari-raya-orang-kudus-hari-arwah/

 

 

Devosi Kepada Bunda Maria dibulan Mei dan Oktober, Apa Bedanya ?

Sebagai anggota Gereja Katolik, kita mengenal adanya devosi khusus pada bulan-bulan tertentu dalam kalender liturgi Gereja Katolik yang selalu kita rayakan tiap tahunnya. Contohnya, kita mengenal bahwa bulan Mei disebut sebagai bulan Maria, September sebagai bulan Kitab Suci dan Oktober sebagai bulan Rosario. Namun, masih banyak umat yang belum mengetahui, mengapa kita melakukan 2 bulan untuk berdevosi kepada Bunda Maria, yaitu Mei dan Oktober, lalu apa beda dari keduanya ?

Kita mengetahui ada 2 bulan untuk menghormati Bunda Maria, yaitu pada bulan Mei dan bulan Oktober. Sejarah bulan Mei sebagai Tradisi Suci untuk berdevosi kepada Bunda Maria awalnya didedikasikan untuk memperingati pemberian kehidupan yang baru. Di negara-negara yang memiliki 4 musim seperti Eropa dan Amerika, pada bulan Mei, merupakan permulaan musim semi, dimana pada musim ini merupakan musim bunga-bunga bermekaran dan merupakan iklim yang baik bagi pertanian untuk menanam kembali setelah musim salju. Maka pada bulan Mei didedikasikan sebagai ungkapan syukur kepada Yesus melalui Bunda Maria dan ungkapan penghormatan Maria sebagai “Hawa Baru” yang mana ungkapan Hawa adalah “Ibu dari segala yang hidup”. Maka dari itu Devosi pada bulan Mei dinamakan Bulan Maria.

 

Kapankah Gereja mulai mendedikasikan bulan Mei sebagai Bulan Maria ??

Sejarah tradisi ini mulai dilakukan pada akhir abad ke-13 dan dipopulerkan oleh para Jesuit di Roma pada tahun 1700-an dan kemudian menyebar ke seluruh Gereja. Pengalaman Iman oleh Paus Pius VII menguatkan Tradisi ini ketika pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh serdadu Napoleon dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus berdoa kepada Yesus melalui perantara Bunda Maria agar ia dapat segera dibebaskan dari penjara. Dalam doanya tersebut Paus berjanji jikalau doanya dikabulkan, maka ia mendedikasikan bulan khusus dimana umat berdevosi kepada Bunda Maria. 24 Mei 1814, Paus dibebaskan dari penjara dan kembali ke Roma. Pada tahun berikutnya Paus Pius VII mengumumkan perayaan “Bunda Maria Penolong Umat Kristen”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX mengumumkan dogma “Maria Terkandung Tanpa Noda” dan devosi pada Bunda Maria semakin dikenal.

 

Lantas apakah perbedaan antara devosi pada bulan Mei dan bulan Oktober ? Mengapa harus 2 kali ?

Berbicara mengenai tradisi selanjutnya yaitu pada Bulan Oktober, kita mundur ke 3 abad sebelumnya yaitu pada tahun 1571. Pada saat itu negara-negara Eropa mendapat ancaman dari Turki dan Kesultanan Ottoman yang melakukan invasi pada negara-negara Eropa. Terdapat ancaman bahwa agama Kristen akan punah di Eropa karena semakin meraja-lelanya kekuasaan Ottoman dan kesempatan negara-negara Eropa bertumpu pada pertempuran Lepanto, untuk menghalau invasi Ottoman di daerah negara-negara di sekitar laut Mediterania, namun jumlah pasukan kesultanan Ottoman melampaui jumlah pasukan Kristen.

Menghadapi ancaman ini, Don Juan dari Austria komandan Armada Katolik, berdoa rosario, memohon pertolongan Bunda Maria. Hal ini kemudian diikuti oleh seluruh pasukan untuk berdoa Rosario. Di Eropa daratan seluruh umat menderaskan doa Rosario melalui seruan Paus Pius V dengan berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Dari subuh hingga petang doa Rosario didaraskan demi kemenangan pertempuran Lepanto. Dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dan nampaknya tidak mungkin memenangkan pertempuran itu, namun pada 7 Oktober 1571 pasukan Katolik memenangkan pertempuran Lepanto.Mendengar kabar itu, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan pada tiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya Paus Gregorius XIII, menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario Suci.  Pesta ini awalnya hanya dilakukan oleh gereja-gereja yang altarnya didedikasikan bagi Bunda Maria. Namun pada tahun 1716, Paus Klemens XI menyebarluaskan perayaan ini hingga ke seluruh dunia. Peristiwa Lepanto Battle ini membuktikan bahwa Bunda Maria telah menyertai Gereja dan umat beriman melalui doa Sang Bunda kepada Tuhan Yesus, untuk menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini.

Selanjutnya Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario pada tanggal 1 September 1883. Bapa suci meminta agar seluruh umat berdoa rosario dan Litani Santa Perawan Maria dari Loreto pada setiap hari di bulan Oktober agar Gereja mendapat bantuan Bunda Maria dalam menghadapi aneka bahaya yang mengancam. Pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik October Mense (The Month of October; Bulan Oktober), yang menyatakan bahwa bulan Oktober dikhususkan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.

Jadi, Dimanakah letak perbedaan bulan Mei dan bulan Oktober ?

Setelah menilik dari sejarah masing-masing bulan devosi kepada Bunda Maria ini, kita dapat melihat adanya perbedaan mendasar yang nampak jelas pada 2 bulan devosi ini, dilihat dari tujuan utama dari devosi ini. Bulan Mei memperingati Bunda Maria sebagai “Hawa baru” yang melahirkan kehidupan. Sedangkan bulan Oktober ditujukan sebagai bulan Rosario.

Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Yang perlu kita lakukan sebagai umat beriman adalah untuk meneruskan Tradisi Suci ini sehingga relasi kita sebagai umat yang masih mengembara di bumi dengan para Kudus di surga tidak terputus dan Maria yang dipilih Allah dalam peristiwa inkarnasi, dipilih juga sebagai pendoa bagi anak-anaknya di bumi, menolong serta menyertai anak-anak-Nya. Maka sebaiknya kita sebagai anak-anak-Nya pun tidak ragu untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui perantara Bunda Maria kapanpun dan dimanapun, dan dalam keadaan apapun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by : Dimas

Edited by : Gisella

 

 

 

 

 

 

Sumber :

www.katolisitas.org

parokijetis.com

parokiserpong-monika.org

Pemberitahuan Prosedur mengikuti Perayaan Ekaristi secara langsung Paroki St. Maria Assumpta Babarsari

Sehubungan dengan diadakannya Perayaan Ekaristi secara langsung di Paroki St. Maria Assumpta Babarsari, ada beberapa prosedur yang perlu menjadi perhatian bagi seluruh umat Paroki Babarsari, antara lain :

Untuk Umat Lingkungan

  1. Ketentuan perihal kriteria umat yang diperbolehkan mengikuti Perayaan Ekaristi, mengacu pada Surat Edaran dari KAS 0536/A/X/20-29, yaitu berumur sekurang-kurangnya 10 tahun (atau sudah menerima komuni) dan maksimal 65 tahun dan memiliki kondisi kesehatan yang prima serta tidak memiliki riwayat penyakit yang sangat rentan terhadap penularan virus.
  1. Ketentuan perihal kriteria umat yang diperbolehkan mengikuti Perayaan Ekaristi, mengacu pada Surat Edaran dari KAS 0536/A/X/20-29, yaitu berumur sekurang-kurangnya 10 tahun (atau sudah menerima komuni) dan maksimal 65 tahun dan memiliki kondisi kesehatan yang prima serta tidak memiliki riwayat penyakit yang sangat rentan terhadap penularan virus.
  2. Umat diwajibkan membawa KARTU MISA yang telah diedarkan sebelumnya melalui Ketua Lingkungan. Kartu Misa digunakan sebagai akses masuk untuk mengikuti Perayaan Ekaristi sesuai jadwal masing-masing lingkungan.
  3. Mematuhi dan mengikuti seluruh prosedur yang sudah ditetapkan oleh petugas.
  4. Bagi umat yang tidak dapat mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja, disediakan Misa Live Streaming pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, pukul 09.00 melalui akun Youtube KOMPARI dan dilanjutkan dengan penerimaan komuni di masing-masing lingkungan.

Ketentuan penerimaan komuni diatur sbb :

  1. Yang dilayani untuk menerima komuni di lingkungan adalah umat yang berusia diatas 65 tahun, umat yang sedang sakit, dan umat yang memiliki riwayat penyakit yang rentan terhadap penularan virus. Diluar kategori tersebut disarankan untuk tetap mengikuti perayaan ekaristi sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
  2. Pengaturan tempat/titik kumpul penerimaan komuni dapat diatur oleh masing-masing lingkungan bersama petugas prodiakon lingkungan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
  3. Selama menunggu petugas prodiakon menuju lokasi penerimaan komuni, umat dipersilahkan melakukan doa pribadi, atau bisa menggunakan doa sebelum komuni yang dapat diambil dari Buku Madah Bakti/Puji Syukur atau referensi buku doa lainnya.

 

Untuk Kalangan Mahasiswa/i

  1. Mengacu pada surat edaran dari KAS 0536/A/X/20-29, perihal himbauan agar umat diwajibkan mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki masing-masing, maka Mahasiswa/i yang diperbolehkan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja, adalah mereka yang berdomisili/kos/kontrak di wilayah Paroki St. Maria Assumpta Babarsari.
  2. Mahasiswa/i yang berdomisili di wilayah paroki Babarsari, wajib mendapatkan rekomendasi dari Ketua Lingkungan di tempat domisili masing-masing, untuk kemudian mendapatkan nomor urut dan kartu misa yang akan digunakan untuk registrasi di laman web : gmab.web.id/misa/ . Setelah registrasi di web, masing-masing akan menerima QR Code, yang akan digunakan sebagai akses masuk setiap hendak mengikuti perayaan Ekaristi.
  3. Mahasiswa/i yang berdomisili di wilayah Paroki Babarsari, dapat menghubungi ketua lingkungan masing-masing sbb :

Nomor Handphone Ketua Lingkungan Santa Maria Assumpta, Babarsari, Yogyakarta

  1. Perayaan Ekaristi khusus untuk kalangan mahasiswa/i pada hari Minggu Sore pukul 17.00 akan dibuka setelah proses registrasi di Ketua Lingkungan selesai dilakukan. Pemberitahuan pembukaan Perayaan Ekaristi ini akan disampaikan secara terpisah.

 

 

Demikian surat pemberitahuan ini disampaikan untuk menjadi perhatian bersama. Jika ada hal-hal lain yang ingin ditanyakan, dapat menghubungi kantor sekretariat paroki pada jam kerja atau melalui telephone 0274-487202 atau dapat menghubungi Kabid Liturgi (Lanto) di nomor 085228033982 melalui WA.

 

Semoga Tuhan selalu menyertai kita semua.

Jadwal Perayaan Ekaristi Paroki St. Maria Assumpta Babarsari

Berkah dalem,

Setelah berkoordinasi dengan tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Paroki St. Maria Assumpta Babarsari, Dewan Paroki menginformasikan kepada seluruh umat Paroki Babarsari, bahwa Perayaan Ekaristi secara langsung di Paroki St. Maria Assumpta Babarsari akan kembali dibuka dengan jadwal sebagai berikut :

Jadwal Misa

Aturan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

Aturan

Peta lingkungan yang tersebar di wilayah Paroki Babarsari :

Peta Lingkungan

Nomor handphone ketua lingkungan yang bisa dihubungi :

No Handphone Ketua Lingkungan

Prosedur pemberian kartu misa untuk mahasiswa oleh ketua lingkungan :

Prosedur Pemberian Kartu Misa Untuk Mahasiswa