Renungan Harian

Puncta 20.11.19 Lukas 19:11-28 / Bertanggungjawab VS Malas

 

MENANGGAPI perkiraan orang tentang datangnya Kerajaan Allah yang segera datang, Yesus menanggapi dengan perumpamaan. Seorang bangsawan yang mempercayakan mina kepada hamba-hambanya.

Masing-masing diberinya satu mina. Hamba yang pertama berhasil mengembangkan menjadi sepuluh mina. Hamba kedua menghasilkan lima mina.

Tuan itu mengganjar mereka dengan mempercayakan kota-kotanya. Yang sepuluh mina diberi sepuluh kota. Yang lima mina diberi ganjaran memerintah lima kota.

Namun hamba ketiga tidak bisa mengembangkan mina itu karena dia beranggapan tuannya kejam, keras, cari untung. Tuan itu marah dan menyuruh mengambil mina itu dan memberikannya kepada yang berhasil mengembangkannya.

Hamba yang jahat itu dihukum oleh tuannya. Kata tuan itu, “Setiap orang yang mempunyai, ia akan diberi; tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.”

Dari pengalaman hidup kita, orang yang menunjukkan sikap tanggungjawab, dia akan lebih banyak diberi kepercayaan. Orang yang bisa diberi tanggungjawab kecil, dia akan diberi kepercayaan yang lebih besar.

Semakin dia dapat dipercaya semakin banyak diberi tanggungjawab. Sebaliknya, ketika kita tidak mampu menunjukkan tanggungjawab, maka dia tidak akan dipercaya. Bahkan tugas-tugas yang ada padanya, akan diberikan kepada orang lain karena dia tidak mampu bertanggungjawab.

Seorang majikan akan menilai pegawainya. Kalau pegawai itu malas, dia tidak akan diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas yang lebih besar. Hasil perbuatan orang malas sudah dapat ditebak. Orang yang malas tidak bisa maju dan berkembang.

Maka majikan pasti akan mencari pegawai yang rajin dan bertanggungjawab. Ketika perkara yang kecil bisa dibereskan, maka dia akan diberi kesempatan yang lebih besar. Begitu seterusnya sampai dia mencapai puncaknya.

Tidak penting Kerajaan Allah itu kapan datangnya. Tetapi hidup yang bertanggungjawab itu lebih penting dibuat untuk mempersiapkannya.

Kapan datangnya Kerajaan Allah itu bukan urusan kita. yang harus kita utamakan adalah bagaimana cara kita menyiapkannya. Apakah kita mau bertanggungjawab atau kita pilih malas-malasan. Buatlah pilihan sekarang, sebelum anda terlambat melakukannya.

Guru ilmu bumiku namanya Pak Wahab
Rumahnya di Magelang utara
Hidup yang bertanggungjawab
Adalah cara menyiapkan kerajaan surga

Cawas, dialog panjang semalam suntuk
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.11.19 Lukas 19:1-10 / Relasi Yang Mengubah

 

DALAM Injil hari ini digambarkan Yesus yang berinisiatif singgah di rumah Zakeus. Yesus menanggapi kerinduan Zakeus yang ingin berjumpa denganNya.

Kehidupan mapan dan nyaman yang dialami oleh Zakeus ternyata tidak memberikan damai di hatinya, masih ada kekurangan yang mendorong dirinya untuk terus mencari.

Maka ketika Yesus berkunjung ke Yerikho, Zakeus tidak membuang-buang kesempatan. Ia berusaha melihat Yesus yang akan lewat di jalan-jalan Yerikho.

Niat Zakeus sangat besar. Ia tidak hanya jalan santai-santai, tetapi dia berlari mendahului orang banyak. Tidak cukup itu saja, ia memanjat pohon ara.

Orang terhormat dan terpandang tidak sungkan dan malu “penekan” memanjat pohon. Statusnya sebagai orang kaya dan terpandang ia tinggalkan. Yang penting hanya satu, bisa melihat Yesus.

Melihat iman Zakeus itu, Yesus menanggapinya dengan meminta Zakeus turun, berjumpa dan mampir ke rumahnya. Tidak hanya bersalaman atau bertegur sapa di jalan. Tetapi Yesus berkenan singgah di rumahnya. Betapa bahagianya Zakeus.

Kalau kita bersungguh-sungguh ingin bertemu dengan Yesus, Dia akan memberi lebih dari apa yang kita harapkan. Allah itu maha pengasih dan pemurah.

Kebaikan dan kemurahan hati Allah itu menghasilkan perubahan dalam diri Zakeus. Ia bertobat. Maka ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Perjumpaan dengan Yesus membuat perubahan hidup. Zakeus yang awalnya mengumpulkan uang pajak rakyat menjadi pembagi harta kepada orang miskin.

Yang tadinya hanya egois mementingkan diri sendiri menjadi altruis mengasihi orang lain dengan murah hati.

Yang awalnya dianggap sebagai orang berdosa, dengan perjumpaan ini menjadi orang terberkati. Yang tadinya berbadan pendek harus naik ke pohon, sekarang boleh berdiri di hadapan Yesus.

Dalam ekaristi, kita juga berjumpa dengan Yesus dalam tubuh dan darahNya, apakah kita juga mengalami perubahan yang membawa berkat? Apakah kita juga semakin mengasihi sesama dan berani berbagi berkat dengan mereka?

Ke Wonosari ikut lebaran ketupat
Dibagi-bagi ke tempat saudara
Mengikuti Yesus itu banyak berkat
Tetapi kita harus mau juga membaginya.

Cawas, pagi yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.11.19 Lukas 18:35-43 / Belajar dari Si Buta

 

KISAH penyembuhan si orang buta ini menggambarkan kasih Allah yang memprioritaskan orang kecil.

Layaknya seorang raja sejati yang memenuhi apa yang dibutuhkan rakyatnya. Orang buta itu digambarkan duduk di pinggir jalan dan mengemis.

Istilah di pinggir sudah menggambarkan status orang yang tidak diperhitungkan. Orang buta itu digolongkan sebagai kelompok yang dipinggirkan.

Pekerjaannya juga sudah jelas sebagai kelompok miskin berkasta rendah. Orang-orang seperti ini tidak punya harapan untuk tampil di muka umum. Mereka kelompok tertindas dan dipinggirkan.

Oleh karena itu ketika dia berteriak-teriak, orang-orang yang di depan menyuruh dia diam. Teriakannya mengganggu saja. Orang seperti itu harus dibungkam.

Tetapi semakin dilarang, semakin kuat dia berseru. “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Terhadap orang-orang seperti itu, hati Yesus justru terpaut.

Dia bertanya, “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu.” Jawab orang itu, “Tuhan, semoga aku melihat.”

Yesus mengambil inisiatif untuk menolong. Orang buta itu dapat melihat karena imannya yang kuat.

Hal itu ditunjukkannya dengan keteguhannya mendekati Yesus walaupun dihalang-halangi orang banyak.

Yang menarik adalah setelah melihat, ia mengikuti Yesus dan memuliakan Allah. Ini penting karena mengandung pesan kepada pembacanya.

Sesudah orang bisa melihat dan berjumpa dengan Yesus, kita diajak untuk mengikutiNya dan memuliakan Allah.

Orang buta itu mengajari kita agar tidak bosan-bosan berseru kepada Tuhan. Hendaknya kita sering menyeru nama Tuhan dalam doa.

Orang buta itu memberi harapan bahwa Tuhan pasti akan mendengarkan doa kita. dan ketika doa kita dikabulkan, jangan lupa untuk berjalan mengikuti Yesus dan memuliakan Allah.

Seringkali kalau doa sudah dikabulkan, kita lupa berterimakasih kepadaNya. Bahkan pergi meninggalkan Yesus. Kita lupa diri.

Kadang orang buta yang cacat fisiknya, tetapi mata hatinya sangat peka terhadap kasih Allah. Kita yang bisa melihat justru sering buta hati kita terhadap Allah dan sesama.

Kalau kita buta, marilah kita berseru kepadaNya. Kalau kita melihat, marilah kita mengikutiNya dan selalu memuji Allah.

Malam-malam bulan purnama
Menikmati bintang-bingtang di angkasa
Tuhan mengasihi orang kecil sederhana
Kita pun diajak meneladan dan mengikutiNya

Wisma OMI, mengakhiri Week End
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.11.19 Minggu Biasa XXXIII Lukas 21:5-19 / Titanic

 

MASIH ingat tregadi kapal Titanic yang megah itu? Ketika kapal itu menabrak gunung es, kapal itu pecah dan terbelah.

Para penumpang tunggang langgang menyelamatkan diri. Rasanya seperti menghadapi hari kiamat.

Semua orang diburu oleh waktu untuk menyelamatkan diri. Ada banyak sikap dan perilaku yang ditunjukkan orang dalam meghadapi kematian atau hari akhir itu.

Ada banyak orang berebut menumpang di kapal sekoci penyelamat. Ada yang masih bertahan di dalam kapal.

Ada sekelompok pemusik yang terus bermain musik di sela-sela kekacauan. Ada sepasang lansia yang tidur berpelukan di ranjang.

Mereka pasrah pada nasib. Mereka berpelukan menjemput maut. Ada pastor yang tetap bertugas melayani pengakuan dosa dan memberkati orang-orang di situ.

Kita melihat tokoh utama dalam film itu, Jack dan Rose, mereka berdua berjuang mempertahankan hidup.

Mereka lari menerjang kerumunan orang. Mereka menembus air yang memenuhi kapal.

Bertahan dari hempasan kapal yang pecah dan menyedot mereka dalam pusaran gelombang dasyat. Mereka berdua berjuang dan bertahan sampai akhir.

Bacaan Injil hari ini, Yesus memperingatkan murid-muridNya untuk berjuang menghadapi hari kiamat untuk tetap bertahan sampai akhir.

Akan ada banyak kesulitan dan penderitaan. “Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi yang dasyat, akan ada penyakit sampar dan kelaparan.”

Selain kedasyatan bumi itu, para murid masih harus mengalami pencobaan berat. Mereka akan diserahkan ke rumah ibadat, dimasukkan ke dalam penjara, dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa. “Beberapa diantaramu akan dibunuh.”

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Menghadapi hari akhir yang dasyat itu, Jack dan Rose tetap bertahan dan berjuang tanpa kenal lelah.

Cinta itu harus diperjuangkan. Kalau kita mengasihi Kristus, maka kasih itu harus diperjuangkan sampai akhir.

Kendati menghadapi tantangan, kesulitan, bahaya bahkan kematian sekalipun, iman kepada Kristus harus diperjuangkan. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu, itulah janji Kristus.

Semua akan mati. Tetapi bagaimana menghadapi itu tergantung dari masing-masing yang mengalami. Jika orang memiliki cinta seperti Jack dan Rose itu, mereka akan berjuang sampai akhir.

Kalau kita memiliki cinta Kristus, kita pun akan tetap bertahan sampai akhir. Cinta mengobarkan semangat untuk tetap berjuang menghadapi apa pun.

Di Titanic aku diam di buritan
Sambil nunggu datangnya perahu
Kalau kamu tetap bertahan
Kamu akan memperoleh hidupmu

Wisma OMI, saat berWeek End
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.11.19 Lukas 18:1-8 / Kita Angkat Tangan, Tuhan Turun Tangan

 

SEORANG ibu divonis dokter punya penyakit ganas di tubuhnya dan harus menjalani operasi.

Ia merasa sedih dan takut. Ia berpikir tentang suami dan anak-anaknya. Ia juga harus memutar otak bagaimana bisa membayar biaya operasi yang pasti mahal.

Ia sangat sedih memikirkan semua ini. Satu-satunya usaha yang dapat dilakukan sekarang hanya berdoa kepada Tuhan.

Ia pasrah. Setiap malam ia berdoa kepada Tuhan lewat Bunda Maria. Ia bertekad untuk berdoa tepat pada jam duabelas malam. Setiap hari tiada henti.

Sebulan berlalu, dan ketika sehari sebelum diadakan tindakan operasi, dokter melakukan pengecekan akhir.

Ternyata penyakit itu hilang. Dokter terheran-heran. Tidak ada lagi yang harus diangkat untuk operasi. Dokter memutuskan tidak perlu ada tindakan operasi.

Ibu itu kaget dan tidak menduga. Doanya selama ini didengarkan Tuhan. Ia sangat percaya Tuhan telah mengambil penyakitnya. Tuhan sungguh luar biasa.

Bacaan Injil hari ini Yesus mengingatkan kepada murid-muridNya untuk selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Yesus memberi contoh dengan menceritakan sebuah perumpamaan. Ada hakim yang lalim. Ia tidak takut akan Allah.

Ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim untuk membela perkaranya. Janda itu terus menerus datang dan meminta bantuannya.

Saking tidak tahan diganggu oleh janda itu, maka sang hakim akhirnya menolong.

Yesus menegaskan, kalau hakim yang lalim dan kejam saja berbelaskasih kepada janda miskin itu, bagaimana Allah tidak akan jatuh belaskasihan kepada kita.

Kalau kita mempunyai beban masalah yang berat, entah itu penyakit kronis, persoalan keluarga atau pekerjaan atau relasi dengan orang lain dan kita tidak mampu mengatasinya.

Kita harus angkat tangan di hadapan Tuhan. Kita pasrah dan serahkan kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang turun tangan membantu kita.

Tapi kalau kita sombong merasa bisa mengatasi sendiri, kita turun tangan membereskan.

Tuhan akan angkat tanganNya dan tidak menolong kita. Kita hanya mengandalkan diri sendiri. Maka Tuhan angkat tangan.

Kalau kita sudah angkat tangan terhadap masalah yang kita hadapi maka jangan berhenti untuk berdoa dan meminta Tuhan untuk turun tangan.

Serahkan bebanmu dan masalahmu kepada Tuhan. Pasti Dia akan bertindak. Kalau kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan.

Tetapi kalau kita yang turun tangan karena kita sombong dan tidak mau mengandalkan Tuhan, maka Tuhan angkat tangan.

Makan sambal cabenya lima
Bikin perut mules dan diare
Janganlah berhenti berdoa
Karena “Gusti boten sare”

Wisma OMI, Week End ME
Rm. A. Joko Purwanto Pr