Puncta 31.10.20 / Lukas 14:1.7-11 / Abimanyu dan Buta Cakil
PEPATAH tong kosong nyaring bunyinya mau mengatakan bahwa tong yang bunyinya nyaring, keras dan lantang biasanya tidak ada isi sama sekali. Ibarat orang yang banyak omong tetapi tidak ada isinya. Orang menyombongkan dirinya tetapi ternyata kosong tidak sesuai dengan kenyataannya.
Pernah melihat adegan perang kembang dalam pewayangan? Disitu diceritakan seorang ksatria menghadapi Buta Cakil. Ksatria itu tenang, diam, tak banyak bicara, menguasai diri. Tetapi Buta Cakil itu “pethakilan” banyak tingkah, banyak bicara, menyombongkan dirinya. Ketika perang, yang banyak tingkah, ”pethakilan” yang sombong itu dengan mudah dikalahkan oleh ketenangan ksatria.
Orang sombong, omongannya tinggi-tinggi, muluk-muluk, mengaku anak pejabat atau orang kaya, ngaku punya barang mewah, mahal bermerek, cerita sering bepergian ke luar negeri, tetapi kalau diajak iuran, keluar sepeser pun tidak. Suka reuni ngumpulin teman-teman di rumah makan, tapi waktunya membayar di kasir, dia ngumpet ke WC alasannya sakit perut.
Kesombongan diri sebetulnya hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Terlalu banyak bicara tetapi tidak ada kenyataannya hanyalah tong kosong. Lebih baik berbicara sesuai dengan faktanya. Itu akan membuat seseorang dipercaya. Tetapi terlalu banyak bicara yang tidak ada kenyataannya, justru tidak akan dipercaya dan orang lain tidak akan menghargainya.
Yesus membuat perumpamaan untuk orang-orang yang suka mengejar penghormatan diri. “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin ada undangan yang lebih terhormat daripadamu.”
Orang mengira kalau berada di depan itu akan dihormati. Kalau tampil di muka dan banyak bicara itu akan dihargai. Bukan penampilan dan banyaknya kata-kata, tetapi justru tindakan nyata tanpa banyak kata-kata itulah yang akan membuat kita dihormati.
Jadi bukan apa yang nampak – penampilan lahiriah itu sering menipu – yang menumbuhkan harga diri. Tindakan nyata itulah yang paling penting.
Yesus menasehatkan supaya kita merendahkan diri. “Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Orang yang merendahkan diri di hadapan teman-temannya justru akan disegani dan dihormati. Tetapi orang yang suka menyombongkan diri justru tidak akan dipercaya dan dijauhi.
Jalan pagi memakai topi.
Biar tidak hitam kulitnya.
Marilah kita merendahkan diri.
Supaya kita banyak temannya.
Cawas, berkah melimpah..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 30.10.20 / Lukas 14:1-6 / Titanic, Penyelamatan Yang Dilematis
TENTU kita masih ingat kisah Titanic yang romantis itu. Di balik tragedi itu ada kisah-kisah yang luar biasa. Cinta dan kesetiaan, perjuangan dan pengorbanan. Menyelamatkan diri atau setia sehidup semati dengan pasangan. Ada dilema kehidupan yang harus dihadapi.
Rosalie Ida Straus dan Isidor Straus, suaminya baru saja menikmati liburan musim dingin di Cape Martin, Perancis selatan. Ia berencana kembali ke New York tempat bisnisnya dengan menumpang kapal super mewah RMS Titanic.
Tragedi datang ketika Titanic menabrak gunung es di tengah samudera. Kepanikan dan ketakutan terjadi. Perempuan dan anak-anak diselamatkan lebih dulu dengan sekoci. Ida Straus mendapat bagian di sekoci 8. Isidor sebagai orang kaya ditawari bangku istimewa di sisi istrinya. Tetapi dia berkata, “Tidak, aku tidak akan pergi dulu dari pria-pria lain ini.” Isidor tetap tinggal di dek bersama para lelaki.
Rosalie dibimbing masuk ke sekoci. Sekejap ada kebimbangan di hatinya. Masuk sekoci, selamat namun sendirian atau tetap bersama suami menghadang kematian. Secepat kilat ia berbalik dan memeluk suaminya. Ia dibujuk oleh petugas agar masuk ke sekoci. Tetapi ia justru memberikan bangkunya kepada pembantunya, Ellen Bird dan memberikan jaket mantelnya yang mahal. Ia tak mau berpisah dengan pria yang dicintainya. Ia tidak mau naik sekoci kendati menyelamatkan. Ia tidak ingin selamat sendiri.
“Aku tidak akan berpisah dengan suamiku. Hidup atau mati kami akan bersama-sama.” Kata Rosalie Ida Straus yang terlihat terakhir di dek kapal sedang bergandengan tangan dengan suaminya.
Yesus menghadapi sebuah dilema bersama orang-orang Farisi. Ia sedang makan di rumah orang Farisi. Datanglah seorang yang sakit busung air. Hari itu adalah hari sabat. Yesus bertanya, “Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka semua diam saja. Mereka bingung tidak bisa menjawab karena masalah yang dilematis.
Orang Farisi taat pada hukum Taurat. Pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Di lain pihak ada orang sakit yang harus diselamatkan. Yesus makin mempertajam masalah dengan berkata, “Siapakah di antara kalian yang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur, tidak segera menariknya keluar, meski pada hari Sabat?”
Bagi Yesus nyawa orang lebih penting daripada taat hukum namun membiarkan orang menderita. Keselamatan orang di atas segalanya. Bagaimana sikap anda jika harus menghadapi masalah dilematis seperti itu? Pilihan mana yang akan anda ambil?
Malam-malam gelap gulita.
Sulit sekali memejamkan mata.
Jangan bingung menghadapi dilema.
Keselamatan orang adalah yang utama.
Cawas, Jumat berkat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 29.10.20 / Lukas 13:31-35 / The Burning Season, Perjuangan Tanpa Kekerasan
KEPALA kambing yang baru dipenggal itu tergantung di depan pintu rumah Wilson Pinheiro, pimpinan serikat pekerja di Chacoeira. Wilson dan teman-temannya menentang program pemerintah dan investor yang menebang hutan hujan Amazon, Brasil. Kepala kambing itu adalah teror, peringatan bagi Wilson dan serikat pekerja agar menghentikan perlawanan. Benar saja, ketika sedang mandi di biliknya yang sederhana, Wilson ditembak oleh orang tak dikenal.
Francisco Alves Mendes Filho Cena, atau yang lebih dikenal sebagai Chico Mendes di dilahirkan di Chacoeira, Brasil pada tanggal 15 Desember 1944. Dialah yang melanjutkan perjuangan Wilson dan kaum pekerja dari penindasan pejabat korup dan pengusaha tamak, Darly Alves da Silva. Intimidasi, teror dan ancaman pembunuhan juga dialami oleh Chico Mendes tetapi dia terus berjuang tanpa kekerasan. Chico Mendes pernah diingatkan oleh seorang wartawan, sahabatnya agar pergi meninggalkan desanya, karena anak buah Darly Alves mengincar nyawanya.
“…Hanya satu hal yang saya inginkan, kematian saya akan menghentikan impunitas terhadap para pembunuh yang dilindungi oleh polisi Acre…Seperti saya, para tokoh penyadap karet telah bekerja menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan membuktikan, kemajuan tanpa penghancuran adalah mungkin”, katanya.
Chico Mendes hanya mengandalkan kata-kata, ide gagasan, pikiran jernih dan loby-loby sebagai senjata melawan penindasan terhadap petani karet. Ia terus berjuang di Chacoeira melawan penguasa korup dan pengusaha licik, kendati nyawa Chico Mendes menjadi taruhannya. Pada akhirnya Ia ditembak oleh preman Darly Alves. Namun perjuangannya terus menggema seantero Amerika selatan. Namanya diabadikan menjadi nama Taman Nasional Hutan Amazon di Brasil.
Yesus diperingatkan orang akan munculnya ancaman, teror dan intimidasi oleh penguasa.”Pergilah, tinggalkan tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Namun Yesus tak gentar dengan ancaman itu. Dia menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu, Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan esok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.”
Herodes digambarkan sebagai serigala, karena binatang itu kejam, rakus dan menakutkan. Serigala membunuh mangsa tanpa ampun.
Yesus tidak melawan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih dan kebaikan. Pejuang kemanusiaan memang harus menghadapi resiko kematian. Nyawanya sendiri menjadi taruhan. Begitulah Yesus berjuang sampai mati di salib. Perjuangan-Nya menjadi inspirasi bagi Chico Mendes, Martin Luther King, Munir, Marsinah.
Makan tengkleng isinya balungan.
Yang paling enak otak isi kepala.
Mari kita berjuang tanpa kekerasan.
Itulah ajaran Yesus kepada kita.
Cawas, mau beli tabernakel…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 28.10.20 / PW. St. Simon dan Yudas,Rasul / Lukas 6:12-19
“Ende dan Pancasila”
SELAMA empat tahun (1934-1938) Sukarno diasingkan di Pulau Ende. Ia dipisahkan dari sahabat dan para pendukungnya. Ia diisolasi dan dijauhkan dari politik. Ia tidak bisa berhubungan dengan para pejuang di Jawa. Tetapi dia punya dua teman diskusi yakni Pastor Johanes Bouma SVD dan Pastor Gerardus Huijtink SVD. Mereka menjalin persahabatan yang erat.
Karena itu Sukarno sering keluar masuk biara dan perpustakaan Nusa Indah untuk membaca buku. Di tempat yang hening dan tenang itu, Sukarno banyak merenung tentang ideologi bangsa. Buah-buah pikirannya didiskusikan dengan dua pastor itu. Kita bisa menggali kisah Sukarno ini dalam Buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara.
Dalam keheningan biara di Flores, dengan berdiskusi bersama para rohaniwan, dan diasingkan dari dunia luar, Sukarno merumuskan mutiara yang indah untuk Indonesia yakni Pancasila yang kita warisi sekarang ini.
Dikisahkan dalam Injil, Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Lalu keesokan harinya, Ia memilih duabelas murid yang dipanggil untuk menjadi rasul.
Yesus pergi dari keramaian. Ia mendaki bukit. Ia mencari keheningan untuk berdoa, berdialog dengan Allah. Pasti Ia berdiskusi dengan Bapa-Nya tentang perutusan-Nya ke depan. Yesus mengasingkan diri mencari tempat sunyi dan berdialog dengan Tuhan.
Sukarno itu diasingkan ke tempat sunyi, jauh dari hiruk pikuknya politik. Tetapi di tempat sunyi itu ia berjumpa, berdiskusi, berdialog dengan para pastor sahabatnya. Dari situ butir-butir Pancasila itu lahir.
Hasil dari diskusi Yesus dengan Bapa-Nya di tempat sunyi adalah duabelas rasul. inilah cikal bakal Gereja, Israel Baru, umat Allah yang berziarah yakni kita sekarang ini.
Begitu pun kita. Untuk memutuskan hal-hal penting demi masa depan, kita perlu mencari tempat sunyi untuk berdoa. Doa dalam hening, sendiri bersama Allah itu penting supaya kita dengan hati jernih bisa membuat keputusan yang benar.
Sesekali waktu anda perlu mengasingkan diri, mengambil jarak dari keramaian dan kesibukan sehari-hari untuk hening berdoa. Kita sering menyebutnya “retret”, kalwat atau rekoleksi supaya kita bisa menemukan mutiara-mutiara indah dalam hidup kita.
Pelangi warnanya hijau kuning merah.
Terbayang-bayang menyanyi salah.
Dalam hening kita bertemu Allah.
Percayalah, pasti ada mutiara yang indah.
Cawas, tertawa renyah sepanjang hari…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 27.10.20 / Lukas 13:18-21 / Petani Itu Adalah Bapakku
BAPAK saya adalah pegawai Kementrian Pertanian yang paling rendah yakni petani dusun. Tidak digaji oleh pemerintah, tapi oleh Tuhan sendiri. Pekerjaan itu diturunkan dari kakek nenek saya. Musim-musim dulu masih teratur. Para petani tahu kapan harus mulai bercocok tanam. Ada siklus yang terus menerus dikerjakan secara rutin. Dulu ada upacara “wiwit” untuk bersyukur atas panenan dan mulai memetik padi yang bernas untuk dijadikan bibit padi baru. Upacara wiwit itu sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak karena akan rebutan mendapat makanan yang enak.
Bibit padi yang akan dijadikan benih mesti direndam dulu selama 3-4 hari. Air rendaman itu diberi garam yang cukup sehingga bisa melihat benih yang jatuh di dasar air, benih yang melayang di tengah atau “kampul-kampul” di atas. Yang dipilih adalah benih yang jatuh di dasar karena itulah yang paling bernas.
Sambil menunggu benih muncul akarnya, bapak menyiapkan “ler-leran” atau lahan persemaian. Dicari area yang subur, cukup pengairannya. Tanah dibuat lembut, kerikil atau akar-akaran yang ada dibuang. Benih yang sudah direndam tadi kemudian ditaburkan di lahan tempat persemaian. Selalu dipantau agar air tersedia untuk pertumbuhan bibit. Kira-kira 25-30 hari bibit itu sudah siap ditanam di sawah.
Ketekunan dan kesabaran itulah falsafah para petani. Bapak selalu bilang, “bekerja dengan tekun dan berdoa dengan rajin itulah yang terus dilakukan sebagai seorang petani. Tentang hasil, kalau kita bekerja dengan baik dan tekun, semuanya kita serahkan kepada Tuhan. Pasti akan berlimpah.”
“Bapak ini tidak hanya menaburkan benih padi, tetapi juga benih panggilan,” katanya. “Aku bangga dengan umat di daerah Pasang Surut Palembang, sekarang mulai memetik panenan panggilan, ada yang jadi romo, bruder atau suster.” Kata bapak mengenang perjuangannya di daerah transmigrasi Pasang Surut. Ya, buah ketekunan dan kesabaran bapak itu menghasilkan dua imam di keluarga kami.
Tuhan Yesus memberi perumpamaan Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di kebun, dan tumbuh menjadi pohon dan burung-burung bersarang di rantingnya. Juga diumpamakan seperti ragi yang dicampur ke dalam tepung terigu dan membuat tepung itu mengembang.
Allah bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Manusia menjadi benih yang ditaburkan. Dengan kemampuan atau talenta kita masing-masing benih itu akan tumbuh berkembang menghasilkan buah. Sebagai benih semoga kita jatuh di tempat yang subur. Kita jaga benih hidup ini dengan baik, terbebas dari kekeringan, hama dan musim yang jelek.
Tekun, sabar dan percaya kepada pemeliharaan Tuhan, itulah yang kita lakukan.
Di malam penuh bintang bertaburan.
Kita nikmati dengan penuh canda tawa.
Kasih dan kebaikan ditanam oleh Tuhan.
Kita diajak menjaga dan memeliharanya.
Cawas, Alleluia versi pelangi pelangi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr