Puncta 03.06.20 / PW. St. Karolus Lwanga dkk, Martir / Markus 12:18-27 / New Normal Life
DENGAN adanya pandemi covid19 ini, memunculkan istilah baru yakni new normal. Mulai sekarang kita harus berdamai dan mempunyai pola hidup yang baru. Misalnya jaga jarak dengan orang lan, sering cuci tangan, selalu pakai masker, selalu di rumah dan hindari kerumunan.
Kehidupan sosial akan dipengaruhi oleh protokol kesehatan. Kebiasaan hidup yang lama mungkin masih ada, tetapi akan disikapi dengan pola atau gaya baru. Hidup terus berjalan namun dengan cara dan sikap yang serba baru. Kita harus siap diri terhadap perubahan ini.
Orang-orang Saduki tidak percaya kepada kebangkitan. Mereka mengajukan kasus dan bertanya bagaimana solusinya di dalam kehidupan baru nanti. Ada seorang perempuan yang kawin dengan tujuh laki-laki bersaudara. Pada hari kebangkitan, siapakah yang akan menjadi suami dari perempuan itu?
Yesus menjelaskan bahwa pada hari kebangkitan, kita akan hidup seperti para malaikat. Ada kehidupan baru dimana orang tidak lagi terikat pada aturan-aturan duniawi.
Mereka sudah hidup di sorga bersama Allah. Tidak dibutuhkan lagi relasi inderawi seperti kawin dan dikawinkan. Orang yang menyatu dengan Allah tidak lagi memikirkan dan membutuhkan hal-hal duniawi. Mereka hidup tetapi dengan cara baru.
Sebagaimana corona membuat kita hidup secara baru. Demikian juga kematian akan membuat kita bangkit dan hidup secara baru pula. Hidup lama yang terikat pada hal-hal duniawi akan berlalu. Kita hidup di hadapan Allah dengan cara baru. Di hadapan Allah, kita mencapai kebahagiaan sempurna.
Yesus menegaskan hal itu, “Mengenai kebangkitan orang mati, tidakkah kalian baca di dalam Kitab Musa, yaitu dalam ceritera tentang semak berduri, bahwa Allah bersabda kepada Musa: Akulah Allah Abraham, Allah Iskhak dan Allah Yakub? Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”
Sebagaimana corona adalah gerbang kepada new normal life, maka kematian adalah pintu menuju kehidupan baru bersama Allah. Hidup kekal adalah bersatunya manusia dengan Allah. Hidup seperti malaikat yang mengalami kebahagiaan sempurna bersama Allah.
Dalam melewati pandemi ini kita memakai new normal life. Dalam melewati kematian kita juga akan hidup dengan cara yang baru.
Bintang kejora bersinar di langit.
Menikmati senja penuh pesona.
Ikut Yesus kita akan bangkit.
Bahagia bersama Allah di sorga.
Cawas, berharap dan berdoa….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 02.06.20 Markus 12:13-17 / Abu Nawas Gusar
ABU NAWAS gusar karena rumahnya digali oleh pegawai istana. Raja menduga ada emas berlian di bawah rumah Abu Nawas. Rumah Abu Nawas hancur berantakan, ia berpikir keras bagaimana membalas perbuatan raja.
Abu Nawas tidak makan berhari-hari sampai makanannya dihinggapi banyak lalat. Lalu muncul ide cemerlang. Ia menutupi makanan yang penuh lalat dan membawanya ke istana. Tak lupa ia membawa tongkat besi.
“Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba.”
“Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?” sergap Baginda kasar.
“Lalat-lalat ini, Tuanku.” kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
“Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini.”
“Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?”
“Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.”
Baginda Raja tidak bisa mengelak, ia membuat surat ijin kemudian diberikan kepada Abunawas. Setelah itu Abunawas membuka penutup makanannya.
Lalat-lalat itu terbang kemana saja dan langsung dipukul oleh Abu Nawas. Hinggap di dinding kaca, keramik hias, tempayan mahal, vas bunga, patung emas yang mahal.
Bahkan ada lalat yang hinggap di pipi baginda, Abu Nawas tidak sungkan memukulnya dengan tongkat besi. Raja tidak bisa mengelak dari titahnya sendiri. Ia malu telah melakukan kesalahan terhadap Abu Nawas.
Orang Farisi dan Herodian ingin menjebak Yesus dengan pertanyaan sulit. Kalau Yesus sampai salah menjawab, Ia bisa ditangkap dan diadili.
Kalau Yesus menjawab tidak boleh, Ia akan dituduh melawan Kaisar. Kalau Ia menjawab boleh, Ia tidak berpihak kepada bangsa-Nya dan dianggap anteknya penjajah.
Yesus minta uang pajak itu. Ia bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.”
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.” Mereka terdiam.
Negara mempunyai hak untuk mengatur hidup kita demi kebaikan bersama (Bonum Commune). Kita harus mentaatinya. Allah juga punya hukum dan aturan-aturan demi keselamatan kekal kita. kita wajib mentaatinya juga.
Tidak haram bagi kita untuk mentaati aturan demi kebaikan bersama. Justru aneh bagi kita, kalau hidup di Indonesia tetapi tidak mau diatur dan bahkan membenci pemerintah.
Maunya hanya diatur oleh hukum nenek moyangnya sendiri. Apa yang menjadi hak negara, berikan kepada negara. Apa yang menjadi hak Allah berikan kepada Allah.
Tanam rumput liar, tumbuhnya bunga aneka warna.
Disiram air mawar, semerbak wangi harumnya.
Cinta pada Indonesia, taati aturan dan pemimpinnya.
Kalau mau bikin negara, pergi ke Planet Crypton sana.
Cawas, bunga warna-warni….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 01.06.20 / PW Maria Bunda Gereja / Yohanes 19:25-34 / Maria Bunda Kita Semua
PANDU DEWANATA mempunyai dua istri, yaitu Kunti dan Madrim. Kunti mempunyai anak; Puntadewa, Werkudara dan Arjuna. Madrim punya anak kembar yakni Pinten dan Tangsen.
Ketika Pandu dan Madrim mati, Pinten dan Tangsen masih bayi. Anak kembar ini kemudian diserahkan kepada Kunti untuk diasuh. Maka si kembar ini kelak melengkapi Pandawa yang berjumlah lima anak laki-laki.
Ketika dewasa mereka diberi nama Nakula dan Sadewa. Kendati ia tidak melahirkan si kembar, Kunti sangat mengasihi si kembar seperti anaknya sendiri.
Ketika mereka harus mengembara di hutan selama 12 tahun, Kunti menemani mereka. Saat Pandawa harus menyamar di Wirata menjadi abdi raja, Kunti ikut menyamar menjadi pembantu permaisuri raja. Nama lain Kunti adalah Dewi Prita atau Shakuntala. Dia adalah ibu yang setia mendampingi putra-putranya dalam suka dan duka.
Hari ini kita merayakan Santa Maria Bunda Gereja. Di bawah salib, Yesus menyerahkan murid yang dikasihi-Nya kepada Maria. “Ibu, inilah anakmu.” Yohanes adalah wakil dari kita semua yaitu murid-murid Kristus. Kita adalah Gereja yakni umat beriman kepada Yesus Kristus.
Maria bunda Yesus juga menjadi bunda kita. Setelah Yesus naik ke surga, Maria selalu berkumpul bersama dengan murid-murid Yesus. Maria berjalan bersama dengan gereja. Maria mendampingi umat Allah sepanjang masa.
Setelah Yesus naik ke sorga, Maria senantiasa bersama para murid (Gereja muda) berkumpul dan berdoa. Maria mendampingi lahirnya persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus oleh pewartaan rasul-rasul.
Pantaslah kalau Maria kita sebut Bunda Gereja, karena Maria mendampingi dan berjalan bersama jemaat perdana hingga sekarang menjadi kepercayaan kita.
Bunda Maria juga tetap mendampingi kita. Oleh Yesus, kita diserahkan kepada Maria sebagai bunda kita. Yohanes, murid yang dikasihi-Nya menjadi wakil para murid dan mewakili kita juga, diserahkan kepada Maria di bawah salib-Nya.
Tiada henti-hentinya kita berdoa dengan perantaraan Maria, karena Maria adalah Bunda kita, Bunda Gereja. Marilah kita datang kepada ibu yang senantiasa mengasihi kita. Bunda Maria, doakanlah kami selalu.
Pantai kenangan yakni Pantai Glagah.
Duduk termenung di bawah Akasia.
Tiada tempat yang paling indah.
Selain bersimpuh di pangkuan Maria.
Cawas, Bunda Maria doakanlah kami…..
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
Puncta 30.05.20 Yohanes 21:20-25 / Nasudin dan Keledai
NASRUDIN pergi ke pasar bersama anaknya menjual keledai. Mereka menuntun keledainya. Orang-orang di jalan berseloroh, “Orang tolol pergi jauh kok keledainya hanya dituntun, kan bisa dinaiki.”
Mereka berdua lalu naik ke punggung keledai. Ibu-ibu di jalan berkomentar, “Mereka itu keterlaluan, keledai kecil gitu kok dinaiki dua orang kuat. Apa tidak kasihan keledainya.” Lalu Nasrudin turun. Anaknya yang naik keledai.
Orang-orang berkomentar, “Anak tidak sopan, bapaknya disuruh berjalan, dia enak-enak naik keledai.” Anaknya turun dari keledai, Nasrudin naik ke atas keledai. Orang-orang berkomentar lagi, “Bapak tak tahu malu, dia tidak kasihan sama anaknya yang kelelahan.”
Nasrudin turun dan berjalan bersama anaknya. Anak itu bertanya, “Apa yang akan kita lakukan pak?” Nasrudin menjawab, “Mari kita gendong bersama keledai ini ke pasar.”
Seperti kebanyakan orang, kita ini sibuk menilai, menghakimi dan mengomentari apa yang dilakukan oleh orang lain. Kalau hanya mengikuti kemauan orang banyak, kita akan bingung sendiri.
Buat ini salah, buat itu salah. Jika ada seratus kepala, maka akan ada seratus pikiran yang berbeda-beda. Orang nonton dalam bahasa Jawa disebut ‘ndelok” bisa berarti “kendel alok” atau hanya pandai berkomentar.
Ketika Petrus dipanggil untuk mengikuti Yesus, Petrus bertanya kepada Yesus tentang nasib Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”
Yesus menjawab, “Jikalau Aku menghendaki, supaya dia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau ikutlah Aku.” Petrus diingatkan untuk fokus pada tugasnya yaitu mengikuti Yesus dan tidak perlu mengurusi nasib orang lain.
Kita seringkali sibuk “ngerumpi”, ngurusi orang lain sampai-sampai tugas utama kita terabaikan. Banyak membicarakan orang lain daripada fokus pada tugas kita masing-masing. Orang banyak sibuk mengomentari apa yang dilakukan Nasrudin.
Sebaliknya kalau kita mengikuti Nasrudin, kita akan pusing sendiri mendengar kemauan dan pikiran orang banyak. Kita diingatkan oleh sabda Yesus kepada Petrus, “Tetapi engkau ikutlah Aku.”
Marilah kita fokus pada perutusan kita masing-masing. Kalau ada teman yang sukses, janganlah iri, pelajari dan tirulah dia. Kalau ada teman gagal, jangan dicemooh, tapi lihatlah dirimu dan introspeksi diri, bagaimana kalau kita ada di posisi tersebut.
Kembang tebu jenenge glagah.
Dibawa angin sampai ke Pare.
Wong sing sabar gelem ngalah.
Bakal kasembadan sedyane.
Cawas, tetep kudu sabar….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 29.05.20 Yohanes 21:15-19 / S O S
Dalam situasi bahaya atau kritis kita sering mengenal istilah SOS. Ini adalah kata sandi dalam morse. S itu ditulis … (titik tiga). O ditulis – – – (garis tiga). Itu adalah sandi dalam pelayaran bahwa orang minta tolong.
Pilot punya istilah “Mayday.” Kata itu diulang-ulang untuk menandakan berita genting dan pentingnya. Lama kelamaan SOS menjadi singkatan Save Our Soul. SOS pertama digunakan oleh tentara Jerman dalam perang 1 April 1905.
Kemudian sandi itu menjadi populer saat kapal Titanic tenggelam 15 April 1921. Sandi itu diulang terus menerus agar menjadi perhatian siapapun. Kapal Carpatia yang menangkap sandi itu langsung mendekat untuk membantu Titanic.
Yesus bertanya kepada Petrus diulang-ulang sampai tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku.” Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pesan itu kepada Petrus. Kasih kepada Yesus itu penting untuk para murid.
Jika ada kasih maka orang mau berkurban apa saja bagi yang dikasihinya. Tugas perutusan untuk menjadi gembala harus didasari dengan semangat kasih. Bukan karena kewajiban, keterpaksaan atau karena takut. Pesan “apakah engkau mengasihi Aku” diulangi sampai tiga kali karena isinya sangat penting.
Tugas penggembalaan dengan landasan kasih itu penting. Menggembala demi keuntungan pribadi itu mungkin. Menggembala untuk cari ketenaran itu bisa. Menggembala sambil lalu hanya demi mengembangkan hobbi itu tidak aneh. Tetapi menggembala dengan penuh kasih itu yang dikehendaki Yesus. Maka itu ditanyakan berulang-ulang. “Dibolan-baleni” seperti suara sirine.
Petrus sadar bahwa ia tidak pantas. Tiga kali juga ia pernah menyangkal Gurunya. Ia merasa sedih hati karena ditanya sampai tiga kali. Petrus diingatkan bahwa ia pernah gagal dalam membangun kesetiaan pada Gurunya.
Yesus tidak memilih orang hebat atau yang tidak pernah gagal. Yesus tahu bahwa mereka tidak sempurna. Orang yang pernah gagal akan belajar dari pengalaman dan berusaha bangkit dari keterpurukan. Yesus tetap percaya kepada mereka dan mengutus-Nya, “Ikutlah Aku.”
Apakah kita sadar bahwa tugas penggembalaan itu sangat penting? Menjadi gembala bukan hanya milik para imam. Kepemimpinan itu bagian dari tri tugas Kristus yakni Imam, Nabi dan Raja. Tugas raja adalah memimpin.
Kita semua adalah pemimpin. Minimal untuk diri sendiri dan keluarga. Apakah kita sungguh-sungguh menjadi gembala yang baik bagi orang-orang di sekitar kita? Bagaimana jawabmu jika Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?
Ke Pasar Minggu
Membeli buah mangga.
Aku mengasihiMu
Walau aku tidak sempurna.
Cawas, menanti lagi…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr