BELAJAR MENJADI SAUDARA MENURUT ENSIKLIK FRATELLI TUTTI

 

Vatikan telah merilis suatu ensiklik yang sangat dinantikan dari Bapa Paus Fransiskus.  Namun apakah umat sudah memahami apa itu ensiklik sebenarnya? Ensiklik adalah surat yang diedarkan Bapa Suci kepada umat Katolik di seluruh dunia dan sering ditujukan juga kepada semua orang yang berkehendak baik, yaitu non-Katolik yang mungkin ingin membaca dokumen tersebut.

Ensiklik Kepausan memberikan analisis, dalam terang Injil dan Tradisi Gereja, tentang masalah-masalah yang relevan bagi umat beriman. Paus sebelumnya telah menerbitkan ensiklik tentang berbagai topik, mulai dari studi Kitab Suci (Leo XIII, 1893) hingga penebusan umat manusia di dalam Kristus dan martabat manusia (Yohanes Paulus II, 1979).

Lalu apa hubungannya dengan “Fratelli Tutii”?

“Fratelli Tutti” berarti “semua saudara dan saudari” dan diambil dari nasihat Santo Fransiskus dari Assisi. Nasihat ini merupakan prinsip dan pedoman bagi para biarawan yang termasuk dalam ordo religius yang didirikan oleh Santo Fransiskus. Di awal ensiklik, Paus Fransiskus menarik perhatian kita pada poin 25 dari Nasihat, di mana Santo Fransiskus “menyerukan cinta yang melampaui batasan geografi dan jarak, dan menyatakan diberkati semua orang yang mencintai saudara mereka ‘sebanyak ketika dia jauh darinya seperti saat dia bersamanya ‘.

“Fratelli Tutti” merupakan judul dari ensiklik ketiga yang diterbitkan Paus Fransiskus setelah Laudato si (Puji Bagi-Mu) yang diliris tahun 2015. Ensiklik ini diresmikan di Assisi pada tanggal 4 oktober 2020 bertepatan dengan pesta Santo Fransiskus dari Assisi yang menjadi inspirasi utama dalam pembuatan ensiklik ini. Frasa Fratelli Tutti diambil dari nasihat Santo Fransiskus yang berarti “Semua Bersaudara”. Ensiklik ini bertujuan untuk mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial.

Siapa itu Santo Fransiskus dari Asisi? Dan Mengapa Paus mengambil insprirasi darinya dalam membuat ensiklik ini ?

Santo Fransiskus lahir di Assisi pada akhir abad ke-12 dan lahir dari keluarga yang kaya raya. Saat muda ia sempat memberontak untuk menjalankan bisnis ayahnya dan menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Namun sikapnya itu berubah total setelah dia mengikuti peperangan dan harus masuk penjara selama setahun. Dia menghabiskan waktunya dengan menyendiri dan meminta penerangan kepada Tuhan. Setelah itu, dia memutuskan untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan menyerahkan diri seluruhnya ke kehidupan kemiskinan kerasulan. Bersama dengan Santa Klara dari Assisi, ia mendirikan beberapa ordo religius yaitu  Ordo Fransiskan, ordo  Klara Miskin dan ordo Fransiskan Sekuler. Ordo-ordo ini terdiri dari umat awam yang tidak mengambil kaul religius, tetapi memilih untuk menjalankan prinsip-prinsip Fransiskan dalam kehidupan sehari-hari.

Santo Fransiskus dikenal sebagai santo pelindung ekologi.  Ia juga paling dikenal karena menemukan Tuhan dalam kemiskinan dan kesederhanaan, dalam kontemplasi dan dalam pekerjaan. Dalam lingkungan alam, Santo Fransiskus juga mencari persahabatan dengan semua makhluk Tuhan. Dia sering digambarkan dikelilingi oleh burung dan binatang liar dan mengenakan tunik wol kasar yang biasanya dipakai petani miskin di Umbria tempat asalnya. Seperti yang dikatakan paus dalam Fratelli Tutti, “Kemanapun dia pergi, dia menabur benih perdamaian dan berjalan bersama orang miskin, yang terlantar, yang lemah dan yang terbuang, saudara dan saudari yang paling hina” (FT, 2).

Salah satu inspirasi utama Paus Fransiskus untuk ensiklik baru ini adalah kisah di mana Santo Fransiskus mengunjungi Sultan Malik-el-Kamil di Mesir,  pada saat Perang Salib, sebagai upaya untuk mengakhiri konflik antara Kristen dan Muslim. Ini ditawarkan sebagai model cinta Kristiani, yang juga dijalani oleh “orang miskin Assisi” di tanah airnya. Seperti yang dikatakan paus, “Di dunia pada masa itu, penuh dengan menara pengawas dan tembok pertahanan, kota-kota adalah teater perang brutal antara keluarga-keluarga yang berkuasa, bahkan ketika kemiskinan menyebar ke pedesaan. Namun di sana Fransiskus dapat menyambut kedamaian sejati ke dalam hatinya dan membebaskan dirinya dari keinginan untuk menggunakan kekuasaan atas orang lain.

 

Pesan dari Fratelli Tutti

Paus Fransiskus telah menulis surat ensiklik ini sebelum virus corona menyerang dan mengubah segalanya mulai dari ekonomi global hingga kehidupan sehari-hari. Dia mengatakan bahwa pandemi, bagaimanapun, telah mengonfirmasi keyakinannya bahwa lembaga politik dan ekonomi saat ini harus direformasi untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang paling dirugikan oleh virus corona.

Keadaan darurat kesehatan global akibat pandemi telah membantu menunjukkan bahwa “tidak ada yang dapat menghadapi kehidupan dalam isolasi” dan bahwa waktunya telah benar-benar datang untuk “bermimpi, menjadi satu keluarga manusia” di mana kita semua adalah “saudara dan saudari “(7- 8).

  1. Refleksi tentang distorsi di era komtemporer.

Dalam bab pertama, ensiklik ini merefleksikan tentang banyak distorsi di era kontemporer: manipulasi konsep-konsep seperti demokrasi, kebebasan, keadilan; hilangnya makna komunitas sosial dan sejarah; keegoisan dan ketidakpedulian terhadap kebaikan bersama; logika pasar berdasarkan keuntungan dan budaya pemborosan; pengangguran, rasisme, kemiskinan; disparitas hak dan penyimpangannya seperti perbudakan, perdagangan manusia, pelecehan terhadap perempuan yang dipaksa menggugurkan kandungan dan perdagangan organ (10-24).

 

Hal diatas memaparkan realitas dunia yang digambarkan sebagai suasana gelap. Ketika badai Covid-19 menerpa perahu dunia, tersingkaplah topeng bernama ‘kemajuan global’, suatu kemajuan yang nyatanya tidak mampu menangkal krisis, karena mengutamakan keselamatan individu atau kelompok, tetapi mengabaikan persaudaraan.

 

Kisah Injil utama yang diangkat dalam Fratelli Tutti adalah perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik hati. Kisah menarik tentang orang asing yang bertindak sebagai tetangga sejati bagi pria yang dirampok dan dipukuli di pinggir jalan menawarkan “kriteria untuk menilai setiap proyek ekonomi, politik, sosial dan agama” (FT, 69). Hal ini menggerakkan kita untuk menanggapi saudara perempuan atau laki-laki kita yang membutuhkan, siapa pun mereka, dari mana pun mereka berasal (FT, 72) Kita ditantang untuk keluar, bertindak sebagai tetangga, dan menjangkau semua orang yang membutuhkan.

Sebuah masyarakat yang diwarnai oleh persaudaraan akan menjadi masyarakat yang mempromosikan pendidikan dalam dialog untuk mengalahkan “virus” dari “individualisme radikal” (105) dan memungkinkan setiap orang untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka sendiri.

 

  1. Melindungi para imigran

Sementara itu, sebagian dari bab kedua dan keempat didedikasikan untuk isu migran. Dengan kehidupan mereka yang “dipertaruhkan”, melarikan diri dari perang, penganiayaan, bencana alam, perdagangan yang tidak bermoral, direnggut dari komunitas asalnya, para migran harus disambut, dilindungi, didukung dan diintegrasikan.

 

Paus juga menyerukan untuk membangun dalam masyarakat konsep “kewarganegaraan penuh”, dan menolak penggunaan istilah “minoritas” secara diskriminatif (129-131). Yang paling dibutuhkan di atas segalanya – terbaca dalam dokumen tersebut – adalah tata kelola global, sebuah kolaborasi internasional untuk migrasi yang mengimplementasikan perencanaan jangka panjang.

 

  1. Seni perjumpaan dalam masyarakat.

Dari bab enam, “Dialog dan persahabatan dalam masyarakat”, selanjutnya muncul konsep hidup sebagai “seni perjumpaan” dengan semua orang, bahkan dengan dunia pinggiran dan dengan masyarakat asli, karena “kita masing-masing dapat belajar sesuatu dari orang lain.”

Dialog sejati, memang memungkinkan seseorang untuk menghormati sudut pandang orang lain, kepentingan mereka yang sah dan di atas segalanya kebenaran martabat manusia.

Pembangunan perdamaian adalah “upaya terbuka, tugas yang tidak pernah berakhir” dan oleh karena itu penting untuk menempatkan pribadi manusia, martabatnya, dan kebaikan bersama sebagai pusat dari semua aktivitas (230- 232).

 

Bagaimana umat  Katolik menanggapi ensiklik ini?

Dalam kondisi pandemi seperti ini, tatanan kehidupan kita telah berubah. Bahkan kehidupan menggereja kita pun ikut berubah saat pandemic datang. Di tengah keterbatasan yang ada, umat Katolik diajak untuk menemukan cara baru dalam mengimani Yesus Kristus dan tetap mewartakan sabda-Nya.

Dalam mewujudkan semangat persaudaraan, marilah bersama-sama keluar dan saling membantu satu sama lain layaknya saudara terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan kita. Persaudaraan manusia akan dipupuk dan dipelihara melalui cinta kasih. Paus Francis menulis, “Cinta, pada akhirnya, lebih dari sekadar serangkaian tindakan kebajikan. Tindakan-tindakan cinta bersumber dalam persatuan yang semakin diarahkan kepada orang lain, menganggap mereka sebagai bernilai, layak, menyenangkan dan indah terlepas dari penampilan fisik atau moral mereka”(Fratelli Tutti, nr. 94).

Sebagai umat Katolik, kita juga bisa berdoa untuk persatuan antar bangsa dan kelompok masyarakat, dengan harapan dunia kita  bisa pulih bahkan setelah pandemic dengan semangat perdamaian dan persaudaraaan.

Pesan bagi Kaum Muda

Titik tolak dan spirit dasar Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus ialah persaudaraan universal dalam cara hidup Fransiskus Assisi: Ia memperlakukan segenap makhluk sebagai saudara dan saudari. Santo Fransiskus mengajak kita untuk mencintai sesama baik yang jauh maupun yang dekat. Bagi Santo Fransiskus, semua makhluk adalah saudara. Semua manusia makhluk dari daging.

Sebagai kaum muda yang begitu dekat dengan dunia digital, kita tahu maraknya isu-isu pembullyan, hoax, dan hate speech yang terjadi pada media-media sosial yang ada. Dan sebagai generasi penerus Gereja, hendaklah kita memaknai semangat yang tertuang dalam ensiklik ini dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun hidup dalam bermedia sosial. Kita bisa melakukan hal-hal sederhana dengan terus menyebarkan berita baik, tidak ikut berkomentar buruk, dan menjaga sikap kita di dunia virtual itu, sehingga semangat dasar Fratelli Tutti, dimana kita menganggap semua makhluk adalah saudara, bisa terwujud.

Kita sebaiknya mengupayakan keselamatan sebagai satu persaudaraaan, bukan sebagai individu. Indah rasanya bersolider sebagai saudara. Pandemi corona membuka topeng egoisme, dan menyingkap kenyataan bahwa kita telah mengabaikan harta bersama yang paling berharga, yaitu menjadi saudara satu sama lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber tambahan:

Kompas.com

Cafod.org.uk

 

Written by : Chika

Edited by : Gisella