Puncta 20.07.19 Matius 12: 14-21 / Selalu Ada Harapan

“Dulu kalau saya melihat diktat-diktat kuliah, rasanya pengin muntah” kata Romo Agus Kallepe mengawali sharingnya.

“Saya ini kurang pintar dibanding teman-teman lain. Nilai-nilai kuliah hanya pas-pasan saja, tidak terlalu menonjol. Namun saat saya menjalani masa diakonat di paroki, saya mendapat telpon langsung dari Uskup, “Agus, kamu siap-siap, bulan Juli boleh ditahbiskan menjadi imam. ”Para pembimbing dan Bapak Uskup selalu memberi semangat, itulah yang menguatkan sampai saya bisa menjalani imamat saya selama 25 tahun ini” katanya disambut tepuk meriah umat.

Pesta perak imamat di Kapel Seminari St. Petrus Claver Makasar itu sungguh luar biasa. Banyak imam dan umat yang hadir bersama romo-romo yang merayakan 25 tahun imamat. Kendati lemah namun dipilih. Kendati rapuh namun dipanggil.

Dalam bacaan hari ini Yesus ditolak orang Farisi, bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhNya. Yesus tidak melawan.

Ia tetap taat mewartakan Injil. Ia menggenapi nubuat Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu hambaKu yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepadaNya jiwaKu berkenan….. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya.”

Itulah salah satu sifat seorang pemimpin. Memberi harapan dan semangat. Kendati secara pribadi tidak pantas, bodoh, tidak menonjol, namun pemimpin bisa menguatkan dan memberi harapan.

Yesus digambarkan oleh nubuat Yesaya sebagai pemimpin yang tidak memangkas buluh yang patah terkulai. Dia juga tidak memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Dia memberi semangat dan kekuatan. Sekecil apa pun potensi yang ada tetap dihargai dan dikuatkan.

Pemimpin yang baik tidak bisa maju sendirian. Ia membutuhkan yang lain. Kendati kecil peran seseorang namun jika diberi kesempatan hidup, pasti akan tumbuh berkembang.

Tuhan sering menggunakan orang-orang “tak terduga atau tak diperhitungkan”. Misalnya Daud, Petrus, Saulus, Maria Magdalena, dan banyak tokoh lain. Tuhan menggunakan kita walaupun lemah dan rapuh.

Di mata Tuhan kita sangat berharga dan dipakaiNya. Jangan takut dan cemas. Bersama Tuhan selalu ada harapan untuk hidup dan bertumbuh.

Pergi ke pasar membeli pisang
Pisang dijual di pinggir jalan
Janganlah ragu dan bimbang
Tuhan selalu memberi harapan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.07.19 Matius 12:1-8 / Membuat Prioritas

 

Di jalan tol selalu ada peringatan, “mendahului lewat jalur kanan”. Kendaraan tidak boleh mendahului lewat jalur kiri.

Sangat dilarang “mencuri” bahu jalan paling kiri untuk mendahului kendaraan di depannya.

Mengapa bahu jalan sebelah kiri harus dikosongkan dari kendaraan? Bahu jalan sebelah kiri itu diutamakan bagi kendaraan “darurat” seperti ambulan, mobil derek, petugas kebakaran, Dishub, petugas jalan raya, dll.

Mereka boleh mengambil jalan demi kelancaran dan kepentingan mendesak. Begitu juga kendaraan petugas kemanusiaan seperti ambulan, palang merah diperbolehkan tetap jalan kendati lampu traffic menyala merah.

Mereka tidak mengikuti aturan demi kemanusiaan dan kepentingan yang lebih urgen dan mendesak.

Orang-orang Farisi memprotes murid-murid Yesus karena mereka melanggar aturan hari sabat. Mereka mempertanyakan, “Lihatlah, murid-muridMu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari sabat?”

Yesus meluruskan pandangan orang-orang Farisi yang suka menyalahkan orang lain. Mereka menilai aturan adalah segala-galanya.

Orang tidak boleh melanggar sedikit pun aturan yang sudah dibuat. Melanggar berarti berdosa.

Melanggar aturan berarti harus dihukum. Cara pandang mereka bersifat hitam putih. Tidak ada cara pandang lain.

Memang aturan dan hukum perlu untuk mengatur kehidupan bersama, agar keselarasan dapat terjamin. Namun di atas segala aturan ada hukum cintakasih.

Semangat kasih membuat orang tidak terkungkung pada aturan yang kaku. Yesus mengajak orang untuk tidak berpikir sempit.

Melaksanakan kasih tidak perlu diperlawankan dengan aturan. Kisah tentang Daud dan para prajuritnya yang masuk ke Bait Allah dan makan roti sajian yang hanya diperuntukkan bagi para imam, tidak melanggar aturan.

Yang lebih diutamakan adalah belaskasihan bukan persembahan.

Nilai-nilai kemanusiaan dan belaskasih berada di atas segala aturan. Mengapa ambulan “boleh” menerobos lampu merah? Karena kemanusiaan harus lebih diutamakan.

Marilah kita bijaksana agar bisa menempatkan aturan demi pemuliaan manusia. Kepentingan manusia harus diutamakan, di atas segalanya.

Naik dokar menuju ke kota
Membeli baju seribu tiga
Hidup manusia di atas segalanya
Kita bela demi kehidupan bersama

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.07.19 Matius 11:28-30 / Lemah Lembut dan Rendah Hati

 

Membajak sawah dengan menggunakan dua ekor sapi atau kerbau memerlukan “kayu pasangan” yang ditaruh di pundak sapi-sapi itu.

Binatang itu akan menarik bajak dengan kuat. Sambil berjalan mereka menarik bajak dan memikul beban.

Yesus memberi sabda yang melegakan kita, “Datanglah kepadaKu, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah daripadaKu, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu aka medapat ketenangan.”

Agar beban kuk itu tidak berat, kita harus belajar kepada Yesus. Dia memanggul salib penderitaan. Tetapi Ia dengan sabar menanggungNya.

Kesabaran dan kesetiaan itulah yang pantas kita teladani. Dengan belajar bersama Yesus, kita bisa mengarungi jalan hidup seberat apapun. Yesus telah mengalahkan dunia dengan memikul salib kita.

Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati menjadi kunci memanggul salib. Ia lemah lembut dan mudah jatuh berbelaskasihan.

CintakasihNya kepada kita yang membuat Dia siap sedia memanggul penderitaanNya.

Yesus yang rendah hati kepada kehendak Bapa adalah sumber kekuatan untuk tetap setia. Tidak ada Bapa yang akan menjerumuskan anaknya.

Allah adalah Bapa yang baik hati dan suka mengampuni. Bapa yang demikian mengasihi itulah sandaran bagi kita untuk setia.

Bapa yang murah hati itulah tujuan kesetiaan kita. Maka kita belajar dari kerendahan hati Yesus yang taat pada BapaNya. Dengan mengikuti Yesus, kita akan memperoleh kelegaan dan keringanan.

Tuhan Yesus, terimakasih atas kelemahlembutan dan kerendahan hatiMu. Semoga kami bisa belajar daripadaMu,

Bercocok tanam di lahan gambut
Menanam padi dan palawija
Belajarlah dari hati Yesus yang lembut
Pasti cintaNya menguatkan kita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.07.19 Matius 11:25-27 / Semar mBangun Kahyangan

 

Petruk diutus Semar ke Amarta untuk mengundang para Pandawa ke Karang Kadhempel, padepokan Semar.

Para punggawa diminta merestui niat Semar membangun Kahyangan. Namun Kresna marah karena Semar hanyalah seorang abdi berani-beraninya membangun kahyangan.

Petruk diusir oleh para Pandawa. Hanya Ontoseno yang mendukung Petruk. Ontoseno tahu maksud Semar baik.

Para bijak, ksatria dan raja menuduh Semar mau “ngraman” atau memberontak para dewa di Kahyangan. Semar dituduh mau menyaingi para dewa.

Mereka justru ingin melawan Semar dan memusnahkannya. Mereka tidak mengerti arti kahyangan yang dimaksud Semar. Kahyangan adalah tempat yang membahagiakan.

Untuk sampai ke situ harus disiapkan dengan hati yang bersih dan suci. Begitulah orang bijak tidak tahu kebijaksanan hidup.

Justru orang sederhana seperti Semar, rakyat jelata dan abdi yang paling rendah punya kebijaksanaan hidup. Ia ingin menyiapkan surga bagi para Pandawa.

Yesus berdoa, “Aku bersyukur kepadaMu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil.”

Banyak aneka peristiwa yang menunjukkan betapa orang-orang kecil, sederhana, miskin justru memiliki kebijaksanaan hidup yang lebih tinggi daripada mereka yang menyebut dirinya kaum intelektual, kaum rohaniwan, kaum pandai yang bergelar profesor doktor.

Orang-orang sederhana itu hanya memburu kebijakan surgawi. Mereka tidak punya kepentingan atau maksud memburu hal-hal duniawi.

Kebijaksanaan orang-orang sederhana itulah yang berkenan kepada Bapa. Kesombongan seringkali menghalangi kita untuk mencari Kerajaan Allah.

Orang sering hanya mengejar hal-hal yang lahiriah, sehingga nilai-nilai luhur malah tersembunyi tidak kelihatan.

Marilah mohon kepada Tuhan, agar kita diberi hati yang tulus sederhana agar dapat melihat kebijaksanaan Allah yang tersembunyi.

Makan rujak dengan buah mangga
Sambalnya pedas bikin sakit semua
Kebijaksanaan Allah tersembunyi di alam semesta
Kita membutuhkan hati yang suci dan terbuka

Berkah Dalem.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.07.19 Matius 11:20-24 / Siapa Menabur

 

Ketika Kresna bertapa tidur, para Kurawa dan Pandawa berusaha membangunkannya. Duryudana berebut untuk bisa membangunkan yang pertama.

Dengan kata-kata yang sopan Duryudana membujuk Kresna supaya bangun dari tidurnya. Tetapi karena tidak digubrisnya, duryudana marah besar.

Dia merasa terhina, seorang maharaja datang hanya untuk membangunkan orang tidur. Duryudana menghunus keris dan diarahkan ke betis Kresna.

Seketika seperti ada daya keluar dari tubuh Kresna yang terbujur membuat Duryudana terjengkang ke tanah. Kresna berbicara,

“Duryudana raja yang jahat, kelak dalam perang baratayuda, engkau akan dipukul oleh gada di tulang betismu. Itulah tempat kelemahanmu.”

Yesus mengecam dan mengutuk tiga kota; Korazim, Betsaida dan Kapernaum. Di tempat itu Yesus mengajar dan banyak membuat mukjijat. Tetapi mereka tidak mau bertobat.

Mereka tidak mau mendengar pengajaran Yesus. Mereka menolak untuk percaya bahwa Yesus datang membawa keselamatan.

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika Tirus dan Sidon terjadi mukjijat-mukjijat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”

Seperti Duryudana dikutuk oleh Kresna karena dia tidak mau mendegarkan kata-katanya. Kelak Duryudana akan mati dipukul betisnya oleh gada rujak polo milik Bima.

Kalau kita menanam kebaikan, pastilah hasilnya baik. Tetapi kalau kita menanam kejahatan, maka kelak kehancuran dan kematianlah yang jadi akibatnya. Marilah kita bertobat, agar boleh mendapat keselamatan.

Besi dipanaskan akan memuai
Akan dicetak menjadi alat peraga
Barangsiapa menabur dia akan menuai
Berbuatlah baik pasti banyak sahabatnya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr