Puncta 25.07.19 Pesta St. Yakobus Rasul Matius 20:20-28 / The Last Emperor

 

ADALAH Tzu Hsi sang ibu suri yang sangat berpengaruh menaikkan Pu Yi menjadi kaisar China saat usianya baru 3 tahun.

Tzu Hsi yang awalnya hanyalah salah satu selir dari Kaisar Hsien Feng namun kekuasaanya bisa mempengaruhi kebijakan kaisar.

Tzu Hsi adalah janda permaisuri berpengaruh. Sepak terjangnya terlihat ketika ia berkehendak menggulingkan Kaisar Kuang Hsu yang masih terhitung keponakannya.

Bersama dengan Jenderal Yuan Shih Kai mengambil langkah-langkah menangkap Kaisar bersama sekondannya yang dikenal telah mereformasi tahta Cina, Liang Chi Chao tahun 22 September 1898.

Tzu Hsi adalah penentang langkah-langkah pembaruan Cina yang ditawarkan Kuang Hsu. Baginya keterbukaan dan pembaharuan yang ditawarkan Kuang Hsu dapat merusak sendi-sendi nilai tradisional Cina.

Kuang Hsu ditahan dan dibuang sampai wafatnya. Ibu Suri Tzu Hsi mengangkat Pangeran Pu Yi menjadi kaisar China pada 2 Desember 1908. Pu Yi hanyalah Kaisar bayangan. Yang memerintah sesungguhnya adalah Ibu Suri Tzu Hsi.

Sejak zaman Yesus, kekuasaan itu sungguh menggoda, bukan hanya untuk kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan.

Ibu Zebedeus datang kepada Yesus supaya anak-anaknya didudukkan masing-masing di sebelah kanan dan di sebelah kiri Yesus saat nanti berkuasa sebagai raja.

Namun Yesus justru berpikir lain dan inilah yang menjadi inti ajaranNya. “Barangsiapa ingin menjadi besar di natara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia; Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kekuasaan itu bukan tujuan, hanya sarana untuk melayani. Yang utama adalah mereka yang dilayani. Seperti istilah DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

Para anggota dewan itu hanyalah wakil rakyat. Yang utama adalah rakyatnya. Jika anggota dewan melupakan rakyat yang diwakilinya, ia seperti kacang lupa kulitnya. Tidak pantas menjadi wakil rakyat lagi. Maka tidak perlu dipilih.

Kita diingatkan oleh Yesus, untuk siap melayani dan menjadi hamba. Pelayanan kitalah yang menentukan kualitas hidup kita.

Gua Pindul ada di Wonosari
Menikmati ombak menggunung di Pantai Drini
Kalau mau menjadi pemimpin yang dicintai
Jadilah pelayan rakyat dengan tulus hati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.07.19 Matius 13:1-9 / Moringa Oleifera

 

DALAM suatu perjumpaan dengan Mgr. Pujasumarta almarhum, saya diberi benih kelor (Moringa oleifera).

Beliau meminta saya untuk mencoba mengembangkannya di Paroki Tayap. Beliau bercerita bahwa pohon kelor ini banyak manfaatnya.

Daunnya bisa untuk obat berbagai penyakit. Akarnya bisa menahan dan menyiman air di tanah. Bencana dan tanah longsor bisa dihindari dengan menanam pohon kelor.

Saya bawa benih itu ke Tayap. Saya coba tanam, namun ternyata tidak dapat tumbuh dengan baik. Kadar keasaman tanah sangat tinggi sehingga tida bisa berkembang. Yang tumbuh subur justru pohon jengkol dan hasilnya lebat.

Dalam bacaan hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan seorang penabur yang menaburkan benih di beberapa tempat; di pinggir jalan, di tanah berbatu, di tanah yang penuh semak duri, dan di tanah yang baik.

Benih yang jatuh di tanah yang tidak baik menghadapi berbagai tantangan; di makan burung, layu karena terik matahari, dililit oleh semak duri.

Tetapi benih yang jatuh di tanah yang baik bisa menghasilkan berlipat-lipat. Ada yang seratus kali, enampuluh atau tigapuluh kali lipatnya.

Iman yang kita terima itu sumpama benih yang ditaburkan Tuhan. Iman itu bisa berkembang baik tergantung dari jenis tanah dimana dia ditaburkan.

Lingkungan dimana kita hidup bisa mempengaruhi pertumbuhan benih itu. Jika lingkungan ada toleransi, penghargaan, saling hormat, penerimaan dan tepa selira, iman akan tumbuh dengan baik juga.

Kita bisa bertanya, apakah diri kita ini tempat yang baik bagi benih iman yang ditaburkan Tuhan ? apakah iman kita dapat tumbuh berkembang di lingkungan dimana kita hidup?

Lingkungan macam apa benih kita ini tumbuh? Apakah di pinggir jalan? Apakah di tanah gersang? Apakah di tengah semak berduri? Ataukah di tanah yang subur?

Marilah kita mengidentifikasi diri agar kita bisa mengembangkan benih itu berlipat ganda.

Mancing di sungai dapat ikan sepat
Biar hidup dilepaskan ke dalam sumur
Iman dapat berkembang pesat
Kalau hati kita adalah tanah yang subur

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 23.07.19 Matius 12:46-50 / Keluarga Pelangi

 

HARI Senin, 22 Januari 2018 saya mimpin misa di Tayap untuk perpisahan dengan umat karena saya dipanggil pulang ke Jawa.

Misa diadakan di rumah ketua umat, Pak Herman. Esok paginya saya pamitan dengan keluarga ini. Kami berpelukan dan tak terasa air mata menetes di sudut mata.

“Romo, jangan lupakan kami ya. Romo sudah jadi bagian keluarga kami.” Katanya berkaca-kaca. Saya menyebutnya keluarga Pelangi karena punya warung juice dan bengkel Pelangi.

Saya meninggalkan Tayap dengan perasaan kehilangan. Hampir delapan tahun saya tinggal di Tayap. Saya menemukan keluarga baru di perantauan. Mereka sangat baik, ikut terlibat melayani gereja.

Saya tak bisa melupakan ini. Saat menulis ini pun saya merindukan mereka. Mempunyai keluarga yang bisa menerima kita sungguh menggembirakan.

Dalam bacaan hari ini Yesus menegaskan siapa yang menjadi keluargaNya. “Siapakah IbuKu? Dan siapakah saudara-saudaraku?”

Dan sambil menunjuk ke arah murid-muridNya, ia bersabda: “Inilah ibuKu, inilah saudara-saudaraKu! Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudaraKu, dialah saudariKu, dialah ibuKu.”

Yesus mengartikan hubungan persaudaraan secara baru. Bukan berdasarkan garis keturunan atau aliran darah, tetapi berdasarkan ketaatan melaksanakan kehendak BapaNya.

Setiap orang yang melaksanakan kehendak Bapa adalah saudara Yesus. Relasi kekerabatan diperluas dengan menjadi pelaksana kehendak Allah. Ia menunjuk para muridNya, berarti Ia menegaskan kalau mau menjadi murid Yesus harus bersedia melaksanakan kehendak Bapa, seperti Yesus sendiri.

Kalau kita melaksanakan kehendak Allah, maka kita akan memperoleh saudara. Ada rumah, ada keluarga, ada ibu bapak yang akan menerima kita. Saya mengalami itu.

Dimana pun ditugaskan, saya menemukan saudara-saudara dan orangtua yang baik. Marilah kita setia melaksanakan kehendak Bapa, maka Dia akan memberikan berkat berlipat-lipat.

Berkat saudara-saudari, berkat rejeki, berkat pekerjaan, berkat rumah dan keluarga akan mengalir mengikutinya.

Ke swalayan membeli jamu
Untuk mengobati sakit kepala
Siapakah saudaraku, siapakah ibuku?
Mereka yang melakukan kehendak Bapa

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 22.07.19 Pesta St. Maria Magdalena Yohanes 20:1-2.11-18 / Apalah Artinya Sebuah Nama?

 

DRAMA Cinta Romeo dan Juliet sungguh terkenal. Ada banyak kalimat yang bagus di dalam dialog kisah cinta itu.

Tetapi yang paling terkenal adalah kata-kata Juliet, “Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri dimataku, bukan Montague. Apa itu Montague? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah atau apapun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain. Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalaupun mawar berganti dengan nama yang lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimumu. Ambilah diriku seluruhnya.”

Nama Romeo menjadi penghambat cinta yang tumbuh diantara mereka. Keluarga Juliet tidak mau menerima Romeo yang berasal dari Suku Montague.

Sedang Juliet berasal dari keluarga Capulet. Kedua suku ini bermusuhan. Nama bukan hanya sekedar nama. Nama adalah identitas. Nama mempunyai makna yang dalam.

Seseorang dipanggil Slamet atau Bejo tentulah ada makna yang terkandung di dalamnya. Sekali lagi nama adalah karakter, ciri, identitas bagi seseorang.

Hari ini kita merayakan Pesta St. Maria Magdalena. Nama ini sangat dekat dengan Yesus. Ada relasi kuat diantara keduanya.

Maka ketika Yesus mati, Maria sangat sedih. Ia kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Lirik lagu Maria Magdalena ini menggambarkan bagaimana cintanya kepada Yesus.

I don’t know how to love him. What to do, how to move him. I’ve been changed, yes really changed. In these past few days. When I’ve seen myself. I seem like someone else.

Maka ketika dia dalam keadaan bingung, galau, frustrasi, putus asa, Yesus memanggil namanya, “Maria.” Dia langsung hapal dengan suara khas itu. Dia langsung mengenali siapa yang menyebut namanya. Dia langsung menjawab, “Rabuni.”

Orang yang tahu nama panggilan kita pastilah orang itu sangat dekat dan kenal dengan kita. kita sangat bersukacita kalau orang memanggil nama kita.

Itu menunjukkan relasi kuat diantara keduanya. Apakah kita juga punya relasi yang akrab dengan Yesus seperti Maria Magdalena?

Rujak mangga pakai merica
Dijual di pasar Mangga Dua
Betapa sukacita hati kita
Kalau dicintai seseorang yang merindukan kita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 21.07.19 Minggu Biasa XVI Lukas 10:38-42 / Kopi Toraja

 

Menikmati kopi Toraja di Mentirotiku Batutumonga sungguh luar biasa. Sambil duduk di teras menikmati hamparan luas sawah yang lagi menguning, udara sejuk dan langit sedikit berawan menambah indah panorama.

Ada pisang goreng panas menjadi teman minum kopi siang itu. Dan lebih sensasional lagi makan pisang sambil dicocol di atas cobek sambal. Ini yang agak beda. Tapi yang mau saya renungkan adalah kopinya.

Minum kopi terasa nikmat setelah bubuk-bubuknya mengendap tenang di dasar. Ketika diaduk dengan sendok, kopi “pating sliwer” membuat keruh seluruhnya.

Namun ketika didiamkan sebentar dan tenang, ia akan mengendap barulah kopi diseruput terasa nikmat. Mata terbelalak, gairah hidup mengalir ke sekujur tubuh.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang Marta dan Maria. Marta sibuk melayani Yesus dan rombongan. Ia lari ke sana kemari menyiapkan dan menghidangkan segala yang diperlukan agar tamu-tamu puas.

Maria duduk tenang di dekat kaki Yesus dan mendengarkan sabdaNya. Marta seperti kopi yang diaduk-aduk, berlari kesana kemari “pating sliwer.”

Maria seperti kopi yang sudah mengendap. Ia duduk tenang di bawah kaki Yesus. Tidak ada yang salah pada tahap ini, karena semua itu adalah proses agar bisa menjadi kopi yang enak.

Menjadi salah ketika Marta tidak fokus melayani tetapi ia mengeluh dan iri melihat saudarinya duduk tenang saja. “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Bahkan ia mempertanyakan Tuhan yang tidak peduli atas segala usaha dan jerih payahnya. Kita juga sering berlaku seperti Marta.

Sudah berjuang mati-matian, berdoa sepanjang tahun, membanting tulang ibaratnya kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Tuhan diam saja. Dengan mudah kita menyalahkan Tuhan. Inilah yang keliru.

Ketika kita fokus melayani dengan tulus ikhlas dan tidak menuntut pujian, penghargaan, sanjungan orang, maka disitulah nilai luhur pelayanan kita, seperti Maria yang telah memilih bagian yang terbaik.

Fokus saja pada pelayanan dan pada saatnya semua akan mengendap tenang dalam kehidupan kita. Pada saat itulah kita duduk tenang menikmati kopi dan bersatu dengan keindahan alam. Rasanya makin dekat dengan Tuhan Sang Pencipta. Duduk bersimpuh dekat pada kakiNya.

Minum kopi di teras Ge’ tengan
Sambil menunggu pisang panas dari wajan
Karya pelayanan terasa membahagiakan
Jika didasari hati tulus dan ikhlas tanpa tuntutan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr