Puncta 30.07.19 Matius 13:36-43 / Pandawa dan Kurawa

 

PERANG Baratayuda adalah perang antar saudara, keturunan darah Barata. Antara keturunan Pandu dan keturunan Destarastra.

Mereka ini adalah kakak beradik. Keturunan Pandu disebut Pandawa yang berjumlah lima bersaudara.

Keturunan Destarastra disebut Kaum Kurawa yang jumlahnya seratus. Kendati jumlahnya kecil, tetapi Pandawa hidup dengan baik melakukan darmanya ksatria.

Kaum Kurawa selalu mengarah kematian pandawa. Lima bersaudara itu dianggapnya “klilip” atau musuh mereka. Berbagai upaya tipu muslihat dirancang untuk membinasakan Pandawa.

Namun dalam perang Baratayuda, “sing becik ketitik, sing ala ketara.” Yang baik akan menang dan yang jahat akan kalah.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan arti perumpamaanNya tentang lalang di ladang yang ditaburi benih gandum.

“Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak kerajaan dan lalang ialah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman.”

Perang Baratayuda itu seperti perang akhir zaman antara yang baik dengan yang jahat. Dunia ini ibarat lahan peperangan antara kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia.

Musuh yakni iblis selalu menggoda dan mengarahkan manusia menuju kehancuran. Tetapi orang benar akan bercahaya seperti matahari. Kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

Hidup kita ini ibarat peperangan batin. Antara kebaikan dan kejahatan itu berkecamuk dalam diri kita. seperti lalang yang disebarkan iblis, demikianlah benih kebaikan itu harus bertahan sampai akhir.

Apakah hati kita menjadi tempat yang subur untuk tumbuhnya benih kebaikan? Apakah kita gagah berani berperang melawan benih kejahatan? Semuanya nanti akan terlihat sampai pada akhirnya. “becik ketitik, ala ketara.”

Makan kacang sambil jalan-jalan
Kacangnya habis oleh teman-teman
Barangsiapa menanam kebaikan
Dia akan menuai kebahagiaan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.07.19 Pesta St. Marta Matius 13:31-35 / Deus Providebit

 

Kerajaan Allah atau Allah yang meraja itu nyata ada, namun sering tak terlihat. Kita tidak menyadari kehadiran Allah itu.

Seperti kita bernafas setiap hari, bangun dari tidur setiap pagi, hidup mengalir tanpa kita sadari. Seperti air mengalir tiada henti, kita pun mengalir menempuh peziarahan hidup kita sendiri.

Semuanya berjalan seperti biasa tanpa kita menyadari bahwa Allah menyelenggarakan semua bagi kita.

Orang beriman yakin bahwa Allah mengatur semuanya. Dari bangun pagi sampai kita menutup mata lagi, Allah memelihara hidup kita.

Yesus memaparkan hal Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di ladang. Walaupun biji itu kecil namun jika ia tumbuh akan menjadi besar dan burung-burung bernaung di dahannya.

Kerajaan Allah itu selalu tumbuh dan berbuah. Para petani itu selalu mempunyai pengharapan.

Iman mereka tumbuh bersama harapan bahwa sawah mereka akan menghasilkan padi yang subur.

Mereka menanam, memelihara, menyiangi, memupuk dan merawat. Namun pertumbuhan itu datang dari Tuhan.

Mereka menanti dan melihat tanaman padi yang tadinya hijau kemudian menjadi kuning dan masak. Tiba musim panen.

Begitulah musim silih berganti, mengarungi waktu. Selalu ada pengharapan. Tuhan memelihara hidup setiap orang.

Deus Providebit. Tuhanlah yang menyelenggarakan semuanya. Kerajaan Allah tumbuh berkembang seperti benih sesawi yang dipelihara Tuhan.

Percaya pada penyelenggaraanNya itulah yang harus dipupuk dalam diri kita. Dalam segala perkara, Tuhan memegang janjiNya.

Menabur benih di hutan belantara
Benih padi, jagung dan palawija
Tuhan selalu memelihara kita
Dengan cara-cara yang tak pernah kita sangka

Berkah Dalem
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.07.19 Minggu Biasa XVII Lukas 11:1-13 / Nakula dan Sadewa

 

PANDU DEWANATA mempunyai dua anak kembar yakni Nakula dan Sadewa, dari istrinya Madrim.

Madrim punya adik yakni Narasoma yang bergelar Raja Salya di Mandaraka. Salya mempunyai ajimat yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.

Maka saat Baratayuda, si Kembar datang kepada paman mereka untuk minta mati, daripada melihat saudara-saudaranya gugur dikalahkan Salya.

Tetapi Salya tahu bahwa keponakannyalah yang harus hidup meneruskan darah keturunan Mandaraka.

Maka Salya tidak menuruti permintaan mereka, tetapi justru diberinya Kerajaan agar keduanya melanjutkan tahtanya.

Bahkan Salya membuka rahasia kelemahannya. Dia hanya bisa dikalahkan oleh manusia yang berdarah putih, yakni Yudistira, Putra sulung Pandu sendiri.

Bukan hanya kerajaan yang diberikan kepada para Pandawa, tetapi nyawa Salya sendiri dikurbankan demi kemenangan mereka.

Hari ini Tuhan mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-muridya. Doa yang benar pertama-tama adalah memuliaka Bapa di surga.

Sesudah syukur kepada Allah, barulah kita meminta segala keperluan kita. Yesus memberitahu bahwa Bapa itu murah hati. Dia akan memberikan yang paling baik bagi anak-anakNya.

Bapa yang baik tidak akan memberikan batu kalau anaknya minta roti, atau seekor ulat kalau anaknya minta ikan, atau kalajengking kalau anaknya minta telur.

Kita manusia yang jahat saja masih bisa memberi yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Bapa yang di surga, Dia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepadaNya.

Bapa di surga itu sungguh murah hati. Maka Yesus menyuruh kita muridNya untuk datang meminta kepadaNya.

“Mintalah, maka kamu akan diberi. Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan kepadamu.”

Tidak sembarang hal kita minta. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Kadang kita minta tetapi tidak tahu untuk apa hal itu kita mintakan.

Seperti kepada Ibu Zebedeus, Yesus mengoreksi, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” Jadi, jangan asal minta. Mintalah segala sesuatu yang membuat nama Tuhan semakin dimuliakan.

Yang utama adalah nama Tuhan dimuliakan, maka yang lain akan ditambahkanNya kepadamu. Kita yakin bahwa Allah itu maha murah melebihi bapa mana pun.

Nikmatnya minum anggur merah
Tak terasa semburat warna muka
Karena Allah Maha Murah
Tidak pernah kita dikecewakanNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.07.19 Matius 13:24-30 / “Becik Ketitik, Ala Ketara”

 

“Maaasss Andiiiii…,, kamu ini kok gak habis akal ya, selalu menggangu temanmu.” Bu guru TK itu terdengar memperingatkan anak laki-laki kecil yang selalu mengganggu temannya di kelas.

Selang beberapa saat, terdengar lagi teriakan bu guru memanggil nama anak itu. Terlena sebentar saja, anak itu akan mengganggu dan membuat keributan di kelas.

Dia seenaknya merebut mainan temannya. Atau mencoret buku milik teman lainnya. Bahkan tidak segan mencoret muka temannya dengan spidol sampai anak itu menangis keras-keras. Ibu guru itu tetap sabar menghadapi kenakalan anak satu ini.

Sepanjang pelajaran Ibu guru itu mengawasi dengan seksama agar Andi yang nakal itu tidak membuat keributan di kelas. Hati seorang ibu yang penuh kasih mendampingi belasan anak-anak TK yang punya aneka sifat dan karakter.

Ada yang penurut, ada yang bandel dan usil seperti Andi. Ada pula yang tenang, ada yang lincah dan ramah. Semua anak itu didampingi dengan penuh kesabaran.

Dalam bacaan hari ini Yesus membentangkan perumpamaan tentang penabur yang menaburkan benih baik di ladang. Namun pada saat yang sama ada musuh yang menaburkan benih ilalang di antara gandum.

Hamba-hamba tuan itu mengusulkan supaya ilalang yang tumbuh bersama degan gandum itu dicabut. Tetapi tuan itu menjawab, “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba.”

Tuha dengan kemurahanNya membiarkan benih baik dan benih jahat tumbuh bersama, nanti akan kelihatan pada akhirnya mana yang baik, mana yang jahat.

Dalam istilah Jawa ada istilah, “Becik ketitik ala ketara.” Yang baik akan terdeteksi, yang jahat akan terlihat.

Saben wong bakal ngundhuh wohing pakarti. Setiap orang akan menuai apa yang ditaburkannya. Setiap orang akan dinilai dari perilaku dan tutur katanya.

Pada akhirnya yang jahat akan terlihat. Seperti ilalang, dia akan diikat dan dibakar ke dalam api.

Maka hasilkanlah buah yang baik supaya bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Gajah mati meinggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belulang, manusia mati meninggalkan nama.

Bagaimana anda akan diingat jika nanti sudah wafat?

Pagi-pagi sarapan bubur
Lauknya telur dibumbu terik
Benih kebaikan akan tumbuh subur
Kalau jatuh di tanah yang baik

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 26.07.19 Matius 13:18-23 / Catatan Seorang Lelaki

 

SEORANG Bapak mengalami pencerahan hidup setelah mengikuti retret di Camp Kaum Pria.

Dia disadarkan bahwa selama ini hanya mencari kesenangan pribadi tanpa mengerti tanggungjawabnya sebagai laki-laki.

Keluarga, anak dan istri sering ditinggal pergi hanya memburu kesenangan sendiri. Ia sadar sudah begitu lama membuang waktu percuma hanya untuk diri sendiri.

Keluarga menjadi korban. Anak dan istrinya kehilangan cinta dan kasih sayang. Ia menangis sejadi-jadinya ketika istri dan anak-anak datang bersimpuh di kakinya.

Mereka menyatakan kasih sayang dengan memeluknya sebagai seorang ayah yang dirindukannya. Muncullah niatnya yang dia tulis di secarik kertas dengan meterai.

“Aku akan berhenti berjudi. Aku akan menjauhi segala minuman keras dan mabuk-mabukan. Aku akan memberikan waktu lebih banyak di rumah untuk istri dan anak-anakku”

Demikianlah janji yang tertulis sebagai pembaharuan hidup selama retret di Camp itu.

Beberapa waktu setelah retret, Sang istri mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman Camp. Suaminya berubah perilakunya.

Dia sangat perhatian dan peduli pada keluarga. Punya waktu yang banyak untuk bercengkerama dengan istri dan anak-anaknya.

Dia suka menunggui anak-anaknya yang sedang belajar. Juga mau membantu istrinya memasak di dapur .

Benih yang baik akan hidup subur bila jatuh di tanah yang baik. Kalau tanahnya tidak subur, maka benih itu akan mati.

Perumpamaan Yesus tentang seorang penabur menggambarkan bagaimana benih atau firman Tuhan itu hidup dan berkembang.

Tanah yang tandus, berbatu, penuh dengan onak duri akan menyulitkan tumbuhnya benih. Tetapi jika tanah itu subur maka benihnya akan tumbuh dengan lebatnya.

Keluarga yang dibangun dalam suasana kasih, penerimaan, penghargaan, sukacita, akan menjadi tempat subur bagi benih-benih firman Allah.

Bapak itu disadarkan oleh Firman Tuhan dalam retret betapa ia telah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk tumbuh bersama dalam kasih keluarga. Ia menyadari betapa istri dan anak-anaknya sungguh amat mengasihinya.

Firman Tuhan akan berkembang tergantng sikap hati manusia. Jika kita mau terbuka hati, maka firman itu akan berbuah banyak. Sudahkah kita membuka hati kepada Tuhan?

Ke optik membeli kacamata
Untuk bergaya di Pantai Kuta
Siapa menabur benih cinta
Akan menuai damai dan sukacita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr