PERANG Baratayuda adalah perang antar saudara, keturunan darah Barata. Antara keturunan Pandu dan keturunan Destarastra.

Mereka ini adalah kakak beradik. Keturunan Pandu disebut Pandawa yang berjumlah lima bersaudara.

Keturunan Destarastra disebut Kaum Kurawa yang jumlahnya seratus. Kendati jumlahnya kecil, tetapi Pandawa hidup dengan baik melakukan darmanya ksatria.

Kaum Kurawa selalu mengarah kematian pandawa. Lima bersaudara itu dianggapnya “klilip” atau musuh mereka. Berbagai upaya tipu muslihat dirancang untuk membinasakan Pandawa.

Namun dalam perang Baratayuda, “sing becik ketitik, sing ala ketara.” Yang baik akan menang dan yang jahat akan kalah.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan arti perumpamaanNya tentang lalang di ladang yang ditaburi benih gandum.

“Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak kerajaan dan lalang ialah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman.”

Perang Baratayuda itu seperti perang akhir zaman antara yang baik dengan yang jahat. Dunia ini ibarat lahan peperangan antara kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia.

Musuh yakni iblis selalu menggoda dan mengarahkan manusia menuju kehancuran. Tetapi orang benar akan bercahaya seperti matahari. Kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

Hidup kita ini ibarat peperangan batin. Antara kebaikan dan kejahatan itu berkecamuk dalam diri kita. seperti lalang yang disebarkan iblis, demikianlah benih kebaikan itu harus bertahan sampai akhir.

Apakah hati kita menjadi tempat yang subur untuk tumbuhnya benih kebaikan? Apakah kita gagah berani berperang melawan benih kejahatan? Semuanya nanti akan terlihat sampai pada akhirnya. “becik ketitik, ala ketara.”

Makan kacang sambil jalan-jalan
Kacangnya habis oleh teman-teman
Barangsiapa menanam kebaikan
Dia akan menuai kebahagiaan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr