by editor | Aug 4, 2019 | Renungan
SEDANG beredar di WAG tentang berita kematian. Tulisan di bawah foto seseorang itu berbunyi: “Pengingat hidup. Berita kematian Denni Permadi Gautama, CTO Traveloka di usia 39 tahun menghenyakkan saya.
Betapa tidak. Ia sedang berada di puncak hidupnya. Usia muda. Jabatan tertinggi di perusahaan yang dirintis kemudian jadi terbesar. Apalagi yang tidak?
Tadinya, kantong obat berisi penekan asam lambung, penenang dari kecemasan, aneka vitamin, overdosis cafein yang tidak bisa direhabilitasi, adalah hal biasa.
Temen2 saya juga mengalami hal yang sama seperti saya. Kalau lagi cerita ttg betapa kami stress terjepit antara menghadapi milenials dan tuntutan investor biar segera sukses, kami tertawa dalam sendawa merayakan gas lambung yang naik.
Tapi pagi ini, semesta serius. Jangan bercanda dalam stress. Kamu bukan superman. Tubuhmu ada batasnya. Akhir Juli 2019.”
Inilah yang dihadapi kaum milenials, memburu prestasi dan kesuksesan tertinggi. Tak kenal lelah merintis sebuah perusahaan, menuju puncak karier menjanjikan.
Tuntutan pekerjaan harus mengurbankan private time, relasi keluarga, bahkan kesehatan tak terjaga.
Akhirnya limbung juga oleh keterbatasan tubuh yang ringkih. Mati dalam usia muda dan produktif.
Siapa tidak kenal Steve Jobs pendiri Apple Com, NeTX, dan Pixar Studio yang menghasilkan milyaran dollar. Berada di puncak kesuksesan, kekayaan melimpah ruah.
Kerja sangat keras tak kenal waktu sejak umur 20an. Namun kanker pankreas menggerogoti tubuhnya. Ia wafat di usia 56 tahun.
Nasehatnya menjelang kematiannya sangat bagus, “Waktu hidup anda terbatas. Jangan sia-siakan menjalani hidup dengan orang-orang terdekat yang anda cintai.” Popularitas, kekayaan, kesuksesan bukan segala-galanya.
Hari ini Yesus mengingatkan kepada kita semua, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.”
Uang dan harta memang diperlukan untuk hidup di dunia ini. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhanlah penyelenggara hidup kita. Kaya di hadapan Allah tidak dihitung dari jumlah hartanya di dunia, tapi seberapa besar harta digunakan untuk menolong sesama yang miskin dan menderita.
Sekali lagi Yesus menegaskan, “Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Mutiara yang paling indah adalah keluarga
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 4, 2019 | Renungan
KETIKA orang-orang muda Kurawa yang dipimpin Duryudana memerintah Negeri Hastina, mereka lupa daratan dan mabuk kekuasaan.
Dibuatlah pesta dengan permainan dadu. Pandawa diundang untuk bermain dadu. Sengkuni sebagai bandar licik memimpin pertaruhan.
Pandawa yang jujur dan lugu tak berdaya. Harta benda dipertaruhkan. Kerajaan Indraprasta dan seluruh jajahannya juga disodorkan sebagai taruhan.
Yudistira berani mempertaruhkan saudara-saudaranya, bahkan istrinya sendiri, Drupadi akhirnya dijadikan taruhan. Akhirnya mereka kalah total.
Bahkan harus dibuang di hutan selama 12 tahun. Dursasana mabuk kemenangan. Ia lupa diri dan memprovokasi saudara-saudaranya untuk mempermalukan Pandawa.
Drupadi digelandang ke tengah arena, gelung rambutnya dirampas, kain penutup tubuhnya diblejeti oleh tangan jahil Dursasana.
Ada dewa yang iba melihat perlakuan jahat pemuda seronok itu. Kain yang ditarik itu tak ada putus-putusnya. Dursasana sampai kelelahan melucuti pakaian Drupadi.
Ia jatuh terkulai tak berdaya. Dalam kesusahan dan kepedihan dipermalukan Dursasana, Drupadi bersumpah, “ora bakal ngagem kasemekan yen ora nganggo kulite Dursasana.” (Tidak akan memakai penutup dada kalau tidak pakai kulitnya Dursasana).
Dalam perang Baratayuda, Bima melunaskan sumpah Drupadi dengan menguliti tubuh Dursasana untuk dijadikan pengganti kainnya.
Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana Herodias menyimpan dendam kesumat kepada Yohanes Pembaptis.
Sebagai nabi, Yohanes mengingatkan akan penyelewengan Herodias dengan Raja Herodes. Yohanes menegur Herodes, “Tidak halal engkau mengambil Herodias.” Cinta itu buta. Kalau orang sudah dibutakan, ia bertindak nekad seperti buta/raksasa.
Segalanya diterjang tanpa perhitungan. Kendati diingatkan, namun mata gelap seseorang tak mampu melihat kebenaran. Yohanes Pembaptis ditangkap dan dipenjarakan. Tinggal menunggu waktu pembalasan dendam.
Mabuk oleh pesta pora dan kesenangan membuat pikiran tak terkendali. Herodes terjebak oleh kemabukan dan kata-katanya sendiri.
Ia tak mampu menolak permintaan anak Herodias. “Berikanlah kepadaku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Dendam yang terpendam sejak lama akan segera dipenuhi.
Yohanes menjadi korban kebengisan cinta buta. Pelajaran bagi kita adalah, Jangan pernah menyimpan dendam. Dendam itu seperti gunung es.
Makin lama akan makin besar. Jika ada kesempatan, ia akan meledak menghancurkan. Drupadi dan Herodias contohnya.
Maukah anda diperbudak oleh dendam kesumat? Lepaskanlah dan belajarlah mengampuni. Anda akan menjadi manusia merdeka dan bahagia.
Membeli ikan di Pasar Jum’at
Dimasak asam pedas campur tomat
Mata buta oleh dendam kesumat
Hidup menderita sampai kiamat
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 2, 2019 | Renungan
KITA semua mengenal Basuki Tjahaya Purnama atao Ahok. Kisah hidupnya sungguh luar biasa.
Ia menjadi Gubernur Jakarta yang konsisten berjuang memajukan ibukota. Memberantas korupsi, membuat pemerintahan bersih dan transparan, hasil kerjanya kelihatan dirasakan warga.
Tetapi dia ditolak oleh warga karena isu SARA. Bahkan dia dipenjara karena dituduh menista agama.
Dia mengalami itu semua degan legawa. Tak ada kebencian dan dendam dalam hatinya. Ia berdamai dengan diri sendiri, orang-orang dan situasi di sekitarnya.
Sambil bercanda dia berkata, “Saya sehat dan segar di sini, bahkan berat badan saya bertambah.”
Bagi kebanyakan orang, pegalaman ditolak, dijatuhkan, direndahkan, dihina, dicemooh bisa jadi pengalaman yang traumatis. Orang bisa marah, dendam, sakit hati, benci dan ingin membalas.
Tetapi Ahok beda. Ia menjadi pribadi yang telah “menep” mengendap dalam kebatinan. Ia menguasai dirinya sendiri dan tak terbawa emosi sesaat.
Bacaan Injil hari ini menceritakan Yesus yang ditolak oleh saudara-saudaranya sendiri di Nasaret.
Ia mengajar di rumah ibadat mereka. Tetapi Yesus tidak dipercaya. Mereka kecewa dan menolakNya.
Menyikapi penolakan itu Yesus menanggapi, “Seorang nabi dihormati dimana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”
Karena ketidakpercayaan mereka, maka tidak ada mukjijat yang dibuat Yesus. Ketidakpercayaan membuat kemandegan.
Tidak terjadi kemajuan dan prestasi karena tidak saling percaya. Yesus tidak membuat apa-apa di Nasaret karena mereka menolakNya.
Justru banyak mukjijat terjadi di Kapernaum karena orang-orang mau menerima dan percaya kepadaNya.
Apakah anda percaya kalau Yesus mampu mengubah hidup anda? Kalau tidak percaya, maka tidak akan terjadi mukjijat dalam diri anda.
Sakit ngilu di sekujur badan
Bisa sembuh karena dokter cinta
Marilah kita percaya kepada Tuhan
Maka akan ada mukjijat dibuatNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 31, 2019 | Renungan
“Romo, besuk Minggu misanya libur ya” kata salah satu ketua umat memberitahu saya di Pasturan. “Lho Hari Minggu memang hari libur, tetapi misanya tidak, kenapa pak? Tanya saya.“Hari Minggu besuk ada nuba adat romo. Semua orang pergi ke sungai mencari ikan” kata Pak Ketua menjelaskan.
Di Kalimantan ada adat nuba yaitu seluruh warga kampung dari anak-anak sampai kakek-kakek mencari ikan yang pusing-pusing karena racun tuba (akar pohon yang dipukul/ditumbuk mengeluarkan racun membuat ikan menjadi pusing).
Saya mencari akal. Muncul ide bagaimana sebelum nuba di sungai diadakan misa. Maksudnya supaya hari Minggu umat tetap merayakan ekaristi. Akhirnya disepakati misa di pinggir sungai sebelum acara dimulai. Banyak ikan ditangkap.
Mereka percaya karena kita sembahyang, Tuhan memberi ikan yang banyak. Saking banyaknya, mereka memilih hanya ikan-ikan besar saja yang diambil dan dibawa pulang. Mereka duduk di pinggir sungai memilihi ikan-ikan hasil pesta adat nuba.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menggambarkan hal Kerajaan Allah itu seperti orang yang memilah-milah ikan dari pukatnya. Yang baik akan dimasukkan ke dalam pasu. Yang tidak baik akan dibuang.
Pada akhirnya, kita akan dipilih berdasarkan perbuatan kita. jika kita melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka akan terpilih masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tetapi jika kita melakukan kejahatan, kita akan mendapatkan hukuman, dibuang jauh.
“Ngundhuh wohing pakarti” Itulah kata-kata bijak orang Jawa. Setiap orang akan memetik buah dari perbuatannya sendiri. Kadang kita melihat, mengapa orang jahat hidupnya enak dan nyaman.
Sedang orang baik dan jujur hidupnya justru susah. Orang yang bersih dan baik malah disingkirkan. Orang yang korup dan culas melenggang nyaman hidupnya.
Roda hidup sedang berputar. Nanti pada saatnya, orang akan “ngundhuh wohing pakarti.” Orang akan memetik buah dari perbuatannya. Kalau tidak di dunia ini, nanti di kehidupan berikutnya dia harus mempertanggungjawabkannya.
Sudahkan kita menanam kebaikan hari ini? Kebaikan yang kita taburkan hari ini, suatu saat akan menghasilkan buah kemuliaan bagi kita. kita tunggu, karena hidup itu seperti roda yang berputar.
Jalan-jalan di rerumputan
Bunga indah tumbuh di taman
Kalau kita menanam kebaikan
Kelak akan menuai kebahagiaan
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jul 30, 2019 | Renungan
INIGO Lopez de Loyola bercita-cita tinggi ingin menjadi prajurit pilihan di Kerajaan Kastilia, Spanyol.
Ia sangat tertarik dengan latihan-latihan militer. Ia ingin mencapai ketenaran sebagai prajurit kerajaan Spanyol. Ia ingin menyerahkan hidupnya untuk mengabdi Ratu Spanyol.
Namun perang di Pamplona membuyarkan impiannya. Ia terkena meriam dan kakinya harus dioperasi. Dalam upaya pemulihan kesehatan itulah ia mengalami pencerahan rohani.
Buku Rohani De Vita Christi mengubah hidupnya. Kisah hidup Kristus dalam buku itulah yang mengubah cita-citanya. Ia seperti menemukan harta yang paling berharga.
Sejak saat itu ia tidak ingin mengabdi kepada raja duniawi, tetapi ia ingin memberikan hidupnya bagi Raja Kristus.
Pada bulan Maret 1522, ia mengunjungi biara Benediktin Santa Maria de Montserrat.
Di sana ia melakukan pemeriksaan seksama atas dosa-dosanya di masa lampau, mengakukannya, memberikan pakaiannya yang mahal kepada seorang miskin yang ia jumpai, mengenakan sehelai “pakaian dari kain karung”.
Kemudian menanggalkan pedang dan belatinya di altar Sang Perawan dari Montserrat ketika semalam-malaman berjaga dalam doa di tempat ziarah tersebut.
Hari ini Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah itu seperti harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi.
Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.
Santo Ignatius Loyola menemukan harta pada Kristus yang tersalib. Ia meninggalkan segalanya untuk mengabdi kepada Kristus Raja Semesta Alam.
Ia meninggalkan dinas kemiliteran dan menjadi Tentara Kristus. Ia menanggalkan pedang dan belatinya, dan memakai Kitab Suci sebagai senjata pewartaannya.
Ia memberikan pakaiannya yang mahal dan memakai jubah Kristus sebagai imamNya. Kristus adalah harta yang paling berharga. Ignatius sudah menemukanNya.
Sudahkah kita menemukan harta itu?
Ke Jakarta naik kereta
Salah jalan sampai ke Surabaya
Harta yang paling utama
Kristus ada di hati kita
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr