Puncta 14.02.20 PW. St. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup Markus 7:31-37 / SLB Dena Upakara

 

SEKOLAH Luar Biasa Dena Upakara di Wonosobo adalah tempat mendidik anak-anak berkebutuhan khusus yakni tunarungu. Mereka diajari supaya bisa berkomunikasi dengan orang lain secara oral.

Mereka mempunyai talenta dan kemampuan yang besar. Cuma mereka tidak mampu mengungkapkan dengan bahasa. Maka para pendamping mengajari mereka berbahasa.

Seperti seorang ibu yang sangat bahagia jika anaknya bisa mengucapkan kata “mama atau papa” , begitu juga para pendamping itu merasakan sebuah mukjijat Yesus jika anak-anak didiknya bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka.

Sekolah yang dikelola oleh para suster PMY di Wonosobo ini mendampingi Play Group. TKLB, SDLB dan SMPLB. Ada juga kelas latihan kerja, supaya mereka bisa bekerja di tengah masyarakat umum.

Banyak mutiara terpendam yang dapat digali di tempat ini. Pengalaman itu adalah pengalaman mukjijat sebagaimana Yesus menyembuhkan orang sakit bisu tuli.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap di daerah Dekapolis. Yesus mengajak orang itu sendirian.

Lalu Yesus melakukan ritus penyembuhan dengan memasukkan jari ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah si sakit , menengadah ke langit dan berkata, ”Efata”, maka terbukalah. Terbukalah telinga orang itu dan terlepas pula pengikat lidahnya.

Peserta didik di SLB Dena Upakara itu juga disendirikan, diasramakan, supaya mereka bisa didampingi dalam proses pendidikan, sehingga mereka mampu berbicara.

Ketika mereka melihat dan mendengar anak-anak bisu tuli bisa berbicara. Mereka takjub dan tercengang. Allah menjadikan semuanya baik.

Tuhan itu sungguh maha murah dan mahakuasa. Seperti orang-orang Dekapolis itu memuji Allah, “Ia menjadikan segala-galanya baik. Yang tuli dijadikannya mendengar, yang bisu dijadikannya berbicara.”

Sukacita yang besar itu tak mampu dibendung. Kendati Yesus melarang untuk diberitakan, tetapi mereka menceritakannya kemana-mana dan kepada siapa pun juga.

Kebahagiaan itu tak bisa ditutupi, harus dibagikan kepada banyak orang. Banyak kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Itu harus dibagikan sehingga makin banyak orang mengalami sukacita.

Anak kodok namanya precil
Dijala dengan memakai sarung kain
Hidup ini terdiri dari mukjijat-mukjijat kecil
Kita bisa menularkan kepada orang lain.

Cawas, menunggu hari cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 13.02.20 Markus 7:24-30 / Iman yang Tegar

 

SEORANG ibu datang kepada Rm. Wignyamartaya almarhum. Ia minta tolong kepada romo untuk mengobati anaknya yang sering “tom-tomen” malam-malam.

Tom-tomen itu seperti orang mengigau tidak sadar sambil teriak-teriak kayak ketemu setan. Romo Wignya minta ibu itu menggambarkan denah rumah, kamar dan letak tempat tidur anak itu.

Ibu itu menggambar denah dan membawa ke pastoran. Lalu Romo mencoret-coret kertas bergambar denah rumah dan kamar itu.

Lalu Romo memberi nasehat, “Anakmu harus pindah tidurnya. Jangan di ruangan ini. Di bawah tempat tidur itu ada arus air yang kuat.”

Romo Wignya memang pandai mendeteksi aliran air di bawah tanah. Ibu itu pulang dan mengikuti nasehat Romo Wignya. Sejak saat itu anaknya tidak pernah tom-tomen lagi.

Hati seorang ibu pasti menginginkan anaknya sehat, bahagia dan selamat. Itulah yang dikisahkan dalam Injil.

Seorang Ibu dari Siro Fenisia berkebangsaan Yunani memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan.

Yesus tidak serta merta memenuhi permintaannya. Ia menguji ketekunan dan kerendahan hati ibu itu. Kata-kata Yesus keras dan menyakitkan,

“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Kendati menerima kata-kata yang merendahkan, wanita itu tidak mundur. Ia tetap maju berjuang dan memohon kepada Yesus.

Karena kerendahan hati dan kegigihannya, Yesus memenuhi permintaan ibu itu. “Karena kata-katamu itu, pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Ibu itu pulang dan anaknya sudah terbebas dari kuasa setan.

Meminta kepada Tuhan itu dibutuhkan sikap kerendahan hati dan kegigihan. Kerendahan hati berarti kita mengakui bahwa Allah itu mahakuasa.

Kita adalah manusia lemah yang hanya bisa mengandalkan Tuhan. Kita tidak bisa memaksa dan mendikte Tuhan.

Gigih berarti tidak boleh mundur atau putus asa. Tuhan kadang menguji kita. Tuhan belum mengabulkan doa kita.

Bahkan memberi situasi yang lebih berat kepada kita. Sudah jatuh tertimpa tangga. Iman kita sedang diuji kekuatannya. Apakah kita masih mampu bangkit mengangkat tangga itu?

Seperti wanita Siro Fenisia itu, ia memperoleh rahmat besar yang diharapkannya. Sebagaimana Yesus sendiri yang bertahan memanggul salib dan mau mengorbankan diri, kemuliaan kebangkitan menjadi buah perjuangan.

Mari kita tunjukkan iman kita dengan sikap rendah hati dan gigih berjuang tanpa henti.

Tu wa ga pat tu maju
satu lawan empat hasilnya tetap tujuh
teladan yang gigih adalah ayah ibu
selalu berjuang tidak pernah mengeluh

Cawas, menghitung cicak di dinding
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 12.02.20 Markus 7:14-23 / Halal dan Haram

 

SUATU KALI saya pergi ke Kuching. Saya belanja di supermarket. Di suatu sudut tempat berjualan daging-daging ada tulisan terpampang NON HALAL.

Saya lihat di situ dijual daging babi. Saya bertanya kepada penjaga mengapa daging itu dijual di tempat umum? Penjaga itu mengatakan,

“Kami ini adalah public market, siapa pun boleh belanja di sini. Di sini bebas menjual daging itu, asalkan diberi tulisan seperti yang terbaca itu. Orang sudah tahu sendiri. Kalau tidak mau ya jangan membeli. Kami juga harus melayani mereka yang membutuhkan. Mudah bukan? Kalau di Indon bagaimana?” Saya tidak bisa menjawab.

Yesus mengajarkan kepada orang banyak, “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia. Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

Bagi Yesus apa yang menajiskan seseorang adalah bukan yang masuk tetapi yang keluar dari dalam diri manusia.

“Segala sesuatu yang dari luar masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskan dia, karena tidak masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban.”

Yesus berkata lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Intinya adalah bukan apa yang masuk ke dalam diri seseorang tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang bisa menajiskannya.

Allah menciptakan alam semesta ini dalam keadaan baik. Semua makhluk diciptakan baik adanya. Semua diciptakan agar berguna bagi yang lainnya.

Bagi Yesus, kenajisan bukan ditentukan dari apa yang dimakan, tetapi dari dalam diri manusia sendiri yakni hatinya. Kalau hatinya kotor, maka melihat segala sesuatu dipandang kotor.

Orang Bali itu melihat gadis-gadis di pantai berbikini biasa saja. Tetapi kalau melihat itu lalu air liur kita nyerocos seperti lendir, itu tandanya pikiran kita kotor.

Kalau tidak mau melihat ya jangan ke pantai, pergilah ke Pura. Di Pura melihat gadis-gadis cantik memakai pakaian adat yang ketat, lalu mata kita blingsatan. Itu berarti pikiran dan hati kita yang harus dibersihkan.

Jangan menyalahkan orang lain. Tapi salahkan diri sendiri yang pikirannya kotor. Bukan apa yang dari luar yang menajiskan, tetapi apa yang dari dalam itulah yang menajiskan.

Bersihkan dulu hati dan pikiran yang kotor itu. Jangan cepat-cepat menghakimi orang atau menghukum dan merusak tatanan hidup bermasyarakat.

Cicak cicak bertingkah lawan buaya
Sekali libas dilahap semua
Bukan yang masuk ke dalam diri manusia
Tetapi yang keluar itulah yang menajiskannya

Cawas, suara cicak di dinding menggoda
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 11.02.20 Hari Orang Sakit Sedunia Markus 7:1-13 / Terbelenggu Adat Istiadat

 

PAUS Fransiskus memberi pesan kepada semua orang dalam peringatan Hari Orang Sakit Sedunia hari ini, “Orang harus lebih diprioritaskan daripada sakit.”

Beberapa hari ini kita dihebohkan dengan virus corona di Wuhan, Tiongkok. Ketika ada 243 orang WNI yang akan dipulangkan dan diisolasi di Pulau Natuna, masyarakat Natuna menolak dengan demonstrasi.

Sangat kontras dengan yang dilakukan Pemerintah Jepang. Mereka tidak hanya memulangkan warganya, tetapi justru mengirim obat-obatan, masker dan ratusan relawan medis berjibaku mengulurkan tangan untuk menolong warga Wuhan.

Kita ini hanya memikirkan penyakit akibat virus corona, tetapi tidak menolong orangnya. Orangnya harus diselamatkan. Itu tindakan yang lebih penting.

Bisa jadi mereka yang demo itu tidak tahu persis apa itu virus corona. Mereka hanya terprovokasi oleh berita medsos dan kepentingan tertentu. 243 WNI itu adalah saudara kita yang harus ditolong lebih dahulu.

Seperti dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi memprotes Yesus karena murid-muridNya dituduh melanggar adat istiadat nenek moyang.

“Mengapa murid-muridMu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?”

Yesus menjawab, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik Sebab ada tertulis, Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripadaKu. Percuma mereka beribadat kepadaKu sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Boleh kita takut atau kawatir karena ada virus corona. Tetapi jangan kita tidak menolong saudara kita yang ada di Wuhan.

Tindakan preventif kita lakukan agar tidak tertular penyakit. Tetapi kita tidak boleh mengucilkan mereka.

Dalam hal ini Yesus kemudian membuat perbandingan. Kalau orangtuamu sakit, lalu demi melaksanakan adat istiadat dalam persembahan kurban, hartanya kamu pakai untuk kurban persembahan dan membiarkan orangtuamu menderita.

Apakah itu tidak melanggar Hukum Tuhan? Sabda Allah tidak berlaku demi melaksanakan adat istiadat manusia?

Mari kita mengutamakan manusianya lebih dahulu. Menolong mereka lebih diutamakan daripada melihat sakitnya apa. Hukum Tuhan harus lebih diutamakan daripada adat istiadat buatan manusia.

Suara cicak di dinding
Dengan garang menyergap
Menolong manusia itu lebih penting
Daripada curiga tanpa sebab.

Cawas, hasil pengukuran 15.7
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 10.02.20 PW. St. Skolastika, Perawan Markus 6:53-56 / Relikwi, Simbol Kasih Allah

 

KALAU kita pergi ke Biara Nevers Perancis, kita akan menjumpai relikwi yakni tubuh St. Bernadete Soubirus.

Di Gereja Rotondo Italia kita bisa menjumpai relikwi Santo Padre Pio yang memperoleh stigmata (luka-luka Yesus).

Relikwi adalah suatu benda peninggalan orang-orang kudus. Benda itu bisa bagian dari anggota tubuh santo atau santa, barang yang melekat, menyentuh atau dipakai oleh orang kudus itu.

Misalnya jubah, baju, sepatu,dll. Relikwi dibagi menjadi tiga kelas. Yang pertama adalah semua bagian tubuh dari orang kudus tersebut.

Kedua, adalah pakaian atau semua barang yang dimiliki orang kudus itu. Ketiga, adalah barang-barang yang disentuhkan atau dihubungkan dengan orang-orang kudus itu.

Relikwi berguna untuk semakin mendekatkan kita kepada Tuhan yang melakukan karya-karya agung melalui santo-santa. Dengan melihat, menyentuh relikwi kita semakin mengimani Allah yang mahabesar dan mahakasih.

Dalam bacaan Injil hari ini, banyak orang memburu Yesus. kemanapun Yesus pergi, orang-orang itu membawa orang sakit di pasar, di pinggir jalan, agar mereka diperkenankan menjamah jumbai jubahNya saja. Dan mereka menjadi sembuh.

Menjamah jumbai jubahNya saja sudah bisa menyembuhkan penyakit mereka. Orang-orang itu mengejar Yesus supaya disembuhkan. Maka hanya dengan menjamah jumbai jubahNya saja sudah cukup.

Padahal yang paling penting adalah berjumpa dengan Yesus. Bukan cuma menyentuh jumbaiNya tetapi berjumpa dengan pribadiNya.

Orang-orang sakit itu hanya butuh jumbaiNya bukan Orangnya. Mungkin mereka tidak perlu ketemu atau berbicara dengan Yesus. mereka hanya ingin disembuhkan, asal saja dapat menyentuh jumbaiNya. Mereka percaya pada jubahNya yang mempunyai daya magis.

Percaya seperti itu belum tepat. Seolah-olah yang mempunyai daya penyembuh adalah barang-barangnya. Orang lalu mengkultuskan barang-barang itu menjadi jimat.

Yang dipercaya menyembuhkan bukan barangnya tetapi pribadiNya. Kuasa Yesuslah yang mampu menyembuhkan. Seperti kalau kita mengagumi patung Pieta yang indah.

Kita tidak hanya berhenti pada patungnya, tetapi kita lebih mengagumi Michael Angelo, sang penciptanya.

Begitu juga kita tidak berhenti pada relikwi atau barang-barang suci, tetapi kita lebih mengagumi karya Allah yang membuat orang suci itu bertahan dalam imannya.

Kadang kita seperti orang-orang Genesaret itu. Kita berdoa kusuk mohon penyembuhan. Fokusnya pada kesembuhan kita. Yang penting saya harus sembuh.

Fokus doa bukan pada Allah yang mahakuasa dan mengasihi kita. tetapi egoisme pribadi yang lebih utama.

Akibatnya, kalau tidak sembuh, lalu marah pada Tuhan, menyalahkan Tuhan. Kita sering lupa bahwa fokus doa itu bukan ego kita, tetapi kasih Allah yang tiada habisnya.

Ke sungai mancing ikan sepat.
Ikan yang kecil melompat-lompat.
Jangan hanya mencari mukjijat.
Berimanlah pada Yesus yang hebat

Gua Kerep, di sebuah Paviliun
Rm. A. Joko PurwantoPr

Puncta 09.02.20 Hari Minggu Biasa V Matius 5:13-16 / Garam dan Terang

 

TERANG bulan memberi cahaya yang indah saat malam gulita. Pengalaman romantis dan syahdu itu kualami saat perjalanan pulang dari Ngaliyan – Curug Sewu – Sukorejo.

Waktu itu aku pulang dari pelayanan di Stasi Ngaliyan. Malam yang sepi hanya ditemani oleh terang bulan. Melewati kebun-kebun cengkeh dan bau kembangnya sangat terasa.

Bulan di atas menerangi jalan yang berkelak-kelok. Walau tidak seterang siang hari, tetapi aku bisa mematikan lampu sepeda motor. Jalan-jalan masih jelas terlihat karena sinar bulan.

Sangat indah dan memorable. Terang bulan itu walau hanya redup tetap mampu menerangi langkah kita.

Hari ini Yesus bersabda kepada kita para muridNya, “Kamu adalah garam dunia, jika garam menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

Yesus tidak menyuruh kita menjadi garam atau terang. Tetapi Yesus menyebut bahwa kita ADALAH garam dan terang dunia.

Sama seperti yang dikatakan oleh Mgr. Sugijapranata, bahwa kita ini bukan orang katolik DI Indonesia, tetapi Orang Katolik Indonesia. Jadi 100% katolik, ya 100% Indonesia.

Kita adalah garam. Kita adalah terang. Seperti garam, kita mesti berguna bagi masakan. Garam itu walau sedikit tetapi memberi rasa. Bukan kuantitasnya yang penting tetapi kualitasnya.

Menjadi orang katolik mesti berkualitas. Kalau tidak, kita hanya diinjak-injak. Tidak akan diperhitungkan. Banyak pengalaman di lapangan yang menunjukkan bagaimana orang katolik dipersulit beribadah, naik pangkat, menduduki jabatan.

Maka untuk bisa tetap eksis, kita dituntut hidup berkualitas. Garam dan Terang sangat bagus menjadi gambaran.

Kita adalah terang dunia. Terang atau cahaya akan berguna kalau ditaruh di atas. Tunjukkan kualitasmu, maka kamu akan dilihat orang. kualitas hidupmu adalah cahaya yang menerangi sekitarmu.

Kita baru saja kehilangan Bapak JB. Sumarlin. Pada masanya, bersama LB Moerdani, Cosmas Batubara dan tokoh-tokoh yang lain, mereka menunjukkan kualitas hidup sebagai garam dan terang dunia.

Maka sebagai garam dan terang, kita tidak mengejar banyaknya tetapi mutunya. Sedikit, kecil tetapi bermutu. Banyak tetapi kalau tidak bermutu tidak ada faedahnya.

Garam dan terang itu ada untuk berguna, untuk habis dibagikan. Garam dan terang itu larut habis untuk memberi rasa nikmat dan menerangi sekitarnya.

Hidup ini bukan untuk diri sendiri. Hidup akan berguna kalau kita berbagi dengan yang lain. Ingat Yesus menyebut, “Kamu ADALAH garam. Kamu ADALAH terang.” Sadarkah kita?

Gunting yang tajam bikin merinding
Untuk memotong rambut poninya
Tidak usah ambil pusing
Jadi garam sedikit tetap berguna

Cawas, menggunting pita biru
Rm. A. Joko Purwanto Pr