by editor | Feb 19, 2020 | Renungan
SEORANG guru bertanya kepada murid-muridnya, siapakah Tuhan itu. Seorang murid maju ke depan kelas dan berkata, “Tuhan itu seperti ayah saya yang Insinyur. Ia menciptakan dunia ini.”
Anak lain berkata, Tuhan itu seperti ayah saya seorang dokter, Ia menyembuhkan orang sakit.” Anak lain lagi berkata, “Tuhan itu seperti ayah saya Pengusaha, Ia mempunyai segala-galanya.”
Semua anak menggambarkan Tuhan seperti ayahnya yang sukses, kaya dan berhasil. Ada seorang anak duduk tertunduk di pojok. Ia tidak berani maju ke depan. Gurunya merayunya agar bisa menceritakan seperti apa Tuhan itu.
Akhirnya anak ini maju tertunduk menjawab dengan lirih, “Tuhan itu seperti Pemulung.” Semua anak gusar dan mencemooh. Mereka ribut menyoraki anak ini.
Bu guru meminta semua anak tenang. Anak ini melanjutkan, “Tuhan itu mengasihi yang kotor dan terbuang, seperti bapak saya. Ia mengambil saya dari tempat sampah dan mencintai saya tanpa pamrih. Ia memungut saya menjadi anaknya sendiri.”
Anak-anak di kelas mulai hening dan meneteskan air mata. Bu guru merangkul anak itu dan semua anak mengelilinginya sambil sesenggukan.
Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Siapakah aku ini?” ada yang mengatakan Elia, Yohanes Pembaptis, ada yang bilang seorang nabi pada zaman dahulu.
Tetapi Yesus bertanya lebih lanjut, “Tetapi menurut kamu, siapakah aku ini?” dengan tegas Petrus menjawab,”Engkau adalah Mesias.”
Siapa seseorang itu bukan hanya nama atau identitas. Siapa itu bisa menggambarkan pengalaman personal yang sangat mendalam.
Petrus langsung menyebut Yesus adalah Mesias, pasti ia punya pengalaman dalam bersama Yesus sehingga Petrus bisa menyimpulkan Yesus adalah Mesias. Gelar Mesias adalah pribadi ilahi yang menjadi harapan semua orang. Mesias adalah penyelamat. Mesias adalah yang terurapi dari Allah.
Seperti anak kecil yang menginterpretasikan Allah sebagai pemulung itu, ia punya pengalaman mendalam dipungut oleh seorang pemulung menjadi anaknya sendiri yang sangat dicintai tanpa pamrih.
Ia yang dibuang di tempat sampah yang kotor tetapi diambil dan dipungut menjadi anaknya sendiri. Begitulah Allah. Ia mengangkat kita dari tempat kotor penuh dosa dan mengangkat kita menjadi anakNya sendiri melalui Yesus Kristus.
Apakah anda mempunyai pengalaman personal dengan Yesus? Jika ya, anda akan mampu menjawab pertanyaan Yesus, “menurut kamu siapakah Aku ini?”
Makan soto lauknya tahu
Bayarnya murah hanya limaribu
Siapakah Yesus bagiku?
Dialah sahabat sejatiku
Cawas, Legawa : digawe lega njur digawa.
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 18, 2020 | Renungan
HATI-HATI ada perusahaan investasi bodong. Tanda yang paling mudah dideteksi adalah menawarkan investasi dengan sedikit modal tetapi hasilnya setinggi langit.
Kalau itu berupa tabungan ya dijanjikan bunga berlipat-lipat. Kita diberi kemudahan-kemudahan fasilitas atau janji-janji yang menggiurkan. Tanpa ada usaha tetapi langsung kaya raya.
Orang tidak mau kerja keras tetapi serba instan langsung mendapat hasil banyak. Kita ingat kasus Dhimas Kanjeng.
Banyak orang percaya kepadanya. Orang ingin cepat menjadi kaya tanpa harus susah-susah. Tidak perlu melalui proses panjang.
Hari ini Yesus menyembuhkan orang buta melalui sebuah proses. Ada berbagai cara Yesus menyembuhkan.
Kadang hanya dengan menumpangkan tangan. Kadang hanya dengan berbicara. Kadang dari jarak jauh. Kadang dari jarak dekat, bertemu dengan orang yang sakit.
Dalam penyembuhan kali ini, ada proses yang dibuat oleh Yesus. Ia memegang tangan si buta, membawanya ke luar kampung. Yesus meludahi mata si buta dan meletakkan tanganNya atas mata orang itu.
Lalu Yesus berdialog dengan si sakit. Bagaimana perkembangannya. Si buta tidak langsung dapat melihat. Yesus meletakkan tanganNya lagi pada mata si buta. Baru kemudian sembuhlah orang itu.
Ada proses yang harus dijalani oleh si buta itu. Dia tidak langsung sembuh seperti yang lainnya. Yesus menyembuhkan orang bisa dengan berbagai macam cara.
Kali ini dengan meletakkan tangan, meludahi dan berdialog dengan si sakit. Yesus mengajak orang itu berproses bersama, berdialog bersama sehingga membutuhkan waktu bersama. Tidak ada yang instan. Ada proses yang harus dilalui.
Dibutuhkan usaha yang keras dan iman yang kuat agar orang mengalami kesembuhan atau pertobatan.
Kita bisa belajar dari Zakeus atau wanita yang sakit pendarahan selama duabelas tahun. Orang buta ini pun juga melalui sebuah proses atau tahap-tahap penyembuhan.
Namun begitu, Tuhan pasti menyembuhkan. Bagaimana dan kapan, itu hanya Tuhan yang menentukan.
Tuhan juga mengajak berdialog. Dialog dengan Tuhan itulah doa. Kalau kita mau disembuhkan tetapi tidak pernah berdialog, berdoa dengan Tuhan, maka susah juga kesembuhan itu terjadi.
Seorang dokter akan mudah menyembuhkan pasien kalau pasien itu mau berdialog terbuka tentang penyakitnya.
Begitu pun kita akan mudah disembuhkan kalau kita mau berdialog dengan Tuhan yaitu berdoa. Marilah kita sering berdialog dengan Tuhan.
Makan rujak pedas sambalnya
Porsinya besar untuk berdua
Kalau kita sering berdoa
Tuhan pasti tahu isi hati kita
Cawas, menjaga level tetap tinggi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 17, 2020 | Renungan
KALAU kita berhenti di palang rel kereta api. Kita akan melihat pemandangan semrawut di kedua sisi rel.
Pertama beberapa orang memenuhi badan jalan. Yang di belakang kemudian mengikutinya, sampai seluruh badan jalan itu penuh berdesakan kendaraan.
Tidak hanya di sisi sebelah sini, tetapi di sisi sebelah sana juga tidak kalah penuhnya. Ketika palang rel dibuka, semua kendaraan berdesak-desakan di tengah jalan membikin kemacetan yang panjang.
Mereka saling berebut menjadi terdepan yang paling cepat. Tidak ada yang mau mengalah. Tak masalah walau melanggar aturan.
Betapa hal buruk itu mudah sekali menular. Keburukan lebih mudah ditiru daripada hal-hal yang baik. Betapa sulitnya mengajari budaya antri.
Yesus memperingatkan kepada murid-muridNya, “Berjaga-jaga dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Ragi membuat adonan roti menjadi besar mengembang. Ragi mempengaruhi adonan. Ragi itu adalah pengaruh, dampak yang menghasilkan sesuatu.
Ragi orang Farisi yang dimaksud Yesus adalah kemunafikan. Ragi Herodes adalah kekuasaan atau kesewenangan.
Yesus memperingatkan murid-muridNya agar waspada terhadap kemunafikan dan kesewenang-wenangan.
Namun para murid tidak memahami apa yang disampaikan Yesus. Mereka berpikir lain. Mereka tidak menangkap apa maksud Yesus.
Para murid hanya melihat dan mendengar yang lahiriah saja. Mereka salah mengerti maksud Yesus. Murid-murid mengira Yesus menegur mereka karena tidak membawa roti.
Kesalah-pahaman ini dipakai oleh Yesus untuk lebih menekankan agar tidak perlu kawatir tentang makanan.
Para murid diingatkan tentang pergandaan lima dan tujuh roti untuk ribuan orang. mengapa harus kawatir tentang makanan.
Yang dikawatirkan Yesus justru ragi orang Farisi yakni sikap munafik dan ragi orang-orang Herodian yakni sikap “adigang, adigung, adiguna.”
Sikap adigang itu diumpamakan dengan kijang yang sombong karena bisa lari kencang. Adigung itu seperti gajah yang sombong karena badannya besar. Adiguna itu seperti ular yang bisanya mematikan.
Kendati kijang larinya kencang, gajah badannya besar dan ular bisanya beracun namun mereka tetap punya kelemahan. Maka jangan sombong.
Ragi atau pengaruh nilai-nilai buruk itulah yang dikawatirkan Yesus, hal-hal buruk itu lebih mudah menular daripada hal-hal yang baik.
Menanam kebaikan itu butuh waktu lama, sementara menabur hal buruk itu sangat cepat dan mudah. Maka kita mesti waspada dan berjaga-jaga senantiasa.
Naik tangga menikmati lorong
Dalam gelap hanya dapat melihat mata
Janganlah kita menjadi sombong
dihadapanNya kita bukan siapa-siapa
Cawas, levelnya masih tak tertandingi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 16, 2020 | Renungan
KARTU Tanda Penduduk menunjukkan identitas seseorang. Ada kartu identitas lain, misalnya SIM, Pasport atau Ijasah.
Dengan SIM (Surat Ijin Mengemudi) berarti seseorang diakui mampu dan diijinkan membawa kendaraan bermotor.
Pasport adalah identitas kewarganegaraan seseorang. Ijasah juga bisa menjadi tanda bahwa seseorang mempunyai status pendidikan atau ketrampilan.
Tanda menunjukan sebuah identitas. Entah itu kedudukan, status, keahlian atau kemampuan tertentu.
Dalam Injil, orang-orang Farisi meminta kepada Yesus suatu tanda dari surga. Dengan tanda itu, orang akan diakui atau diterima statusnya.
Orang-orang Farisi itu baru bisa percaya kepada Yesus kalau dapat melihat suatu tanda “istimewa” yang berasal dari “dunia lain”.
Kira-kira mereka itu ingin agar Yesus bisa membuat semacam ‘atraksi sulapan” yang membuat mereka tercengang. Bagi mereka, tanda-tanda spektakuler itu penting supaya orang diakui atau dihormati.
Yesus merasa heran kepada mereka. Yesus mengeluh dalam hatiNya, “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, Sungguh, kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberikan tanda.”
Tanda itu tidak penting. Yang penting itu apa yang ditandakan atau isinya. Apa artinya orang yang KTPnya Katolik tetapi hidupnya tidak menggambarkan kekatolikannya.
Orang sering bilang, dia itu katolik KTP. Itu artinya kekatolikannya hanya di selembar kecil KTP, tidak di dalam perilaku dan gaya hidupnya.
KTPnya katolik tetapi tidak pernah ke gereja, tidak pernah ikut kegiatan lingkungan, muncul di RT/RW jarang. Makanya tanda itu tidak penting. Yang penting adalah isinya.
Kalau orang memiliki hati yang peka, kehadiran Yesus itu sudah sebuah tanda. Tanda bahwa Allah hadir dan berkarya di tengah-tengah umatNya.
Yesus bergaul dengan orang miskin, berdosa, tersingkir. Yesus menyembuhkan orang sakit. Yesus menerima siapa pun juga.
Karya Yesus itu merupakan tanda Allah hadir mengasihi manusia. Pengorbanan dan kematian Yesus di salib itulah tanda kasih Allah bagi kita. Salib itulah tanda kekatolikan kita. apakah kita bangga dengan salib ?
Dari kelas satu ke kelas tiga
Naik ke level yang lebih tinggi
Ikut Yesus haruslah bangga
Kita berdosa tetapi dicintai
Cawas, menuju level yang lebih tinggi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 15, 2020 | Renungan
APAKAH masih ada yang ingat apa artinya Eka Prasetya Pancakarsa? Masih ingat apa singkatan P4? Pernah mengalami penataran P4?
Kita dulu punya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Pancasila adalah dasar hidup berbangsa. Orang Israel punya Sepuluh Perintah Allah.
Pancasila adalah nilai moral Bangsa kita. Dengan adanya P4 itu dimaksudkan agar nilai-nilai luhur bangsa itu tertanam bagi seluruh lapisan masyarakat.
Maka diadakan penataran, setengah indoktrinasi. Tetapi dengan begitu semua orang tahu bagaimana menghayati nilai-nilai moral bangsa.
Ketika reformasi, penataran P4 itu dihilangkan, kini kita semakin jauh dari nilai-nilai moral bangsa. Jangan heran kalau ada pelajar tawuran, mahasiswa melakukan kekerasan, orang muda tidak hapal Pancasila, banyak orang tidak bisa menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, bahkan ada sekelompok orang tidak mau menghormati bendara Merah Putih.
Nilai luhur Pancasila itu perlu direvitalisasikan lagi, agar kita tidak kehilangan nilai moral kebangsaan.
Bangsa Israel mempunyai Sepuluh Perintah Allah sebagai pedoman hidup bangsa. Kesetiaan Israel sebagai bangsa dapat dilihat dari bagaimana mereka menghayati dan menghidupi Sepuluh Perintah Allah.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus seperti seorang penatar memberi penjelasan dan penekanan bagaimana Perintah Allah itu diwujudkan secara kongkret dalam hidup sehari-hari. Bahkan Yesus memberi tuntutan yang lebih keras lagi.
“Kamu pernah mendengar apa yang telah difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum, tetapi Aku berkata kepadamu, setiap orang yang marah kepada saudaranya harus dihukum.”
Yesus mengutip beberapa isi Perintah Allah. Misalnya, jangan berzina, Jangan bersumpah palsu. Perintah-perintah Allah itu adalah pedoman yang harus dihayati oleh umat Israel. Yesus menjelaskan bagaimana perintah Allah itu dipakai dalam hidup sehari-hari.
Sayang sekali setelah reformasi ini, kita tidak lagi menggali nilai-nilai luhur Pancasila. Seperti ditabukan, kalau kita menggali Pancasila seolah kita ingin menghidupkan kembali orde baru. Ini salah kaprah.
Bukan meniru orde baru, tetapi kita menyegarkan kembali nilai dasar berbangsa yang termaktub dalam Pancasila itu.
Perlu ada revitalisasi nilai-nilai Pancasila ini. Dibutuhkan orang seperti Yesus yang mau menggali nilai luhur Perintah-perintah Allah. Maukah kita menghidupkan nilai luhur bangsa kita?
Ada buaya di atas genting
Makan es krim tiada tersisa
Pancasila itu dasar yang sangat penting
Sebagai pedoman moral berbangsa.
Cawas, anggrek berbuah banyak
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 14, 2020 | Renungan
PERJALANAN manusia dari lahir sampai mati digambarkan dalam tembang macapat. Ada 11 tembang yang menggambarkan tahap-tahap hidup manusia.
Maskumambang gambaran janin yang “kumambang” terapung di rahim ibu. Mijil atau saat lahirnya bayi. Sinom yakni masa anak menuju remaja yang harus banyak belajar.
Kinanthi masa anak “dikanthi” dituntun kepada kebajikan. Asmaradana saat anak mengalami jatuh cinta. Gambuh saat sudah “jumbuh” atau cocok menemukan jodoh hidup dalam tali perkawinan.
Durma atau darma yakni mendarmabaktikan hidupnya bagi orag lain. Pangkur atau “mungkur” tahap orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri dan meninggalkan hawa nafsunya.
Megatruh atau “Megat roh” artinya meninggal. Saat kita harus kembali ke pangkuan Bapa. Pocung artinya orang mati tidak membawa apa-apa kecuali kain penutup tubuh.
Dalam Gereja ada 7 sakramen sebagai jalan menuju keselamatan. Sakramen Baptis, Ekaristi, Tobat, Penguatan, Perkawinan, Imamat, Perminyakan suci.
Sakramen Ekaristi menjadi sumber dan puncak perayaan seluruh sakramen. Injil hari ini menggambarkan bagaimana pemecahan roti menjadi sumber kehidupan bagi semua orang.
Tujuh roti itu melambangkan tujuh sakramen gereja. Tujuh sakramen itulah yang memberi hidup manusia sehingga kita tetap menyatu dengan Kristus.
Dengan ketujuh roti itu Yesus mengadakan ekaristi. Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-muridNya untuk dibagi-bagikan kepada orang bayak sehingga mereka kenyang.
Inilah pola ekaristi awal yang dibuat Yesus saat menggandakan roti untuk banyak orang. Dengan ekaristi Yesus ingin menunjukkan bahwa Allah memelihara hidup manusia. Allah menghidupi manusia sejak awal sampai akhir.
Melalui ekaristi kita mengalami Allah yang mengasihi kita dalam Yesus. Dengan ekaristi kita mengenangkan Yesus yang memberikan diriNya untuk kita.
Roti itu adalah tubuhNya. Anggur itu adalah darahNya yang memberi kehidupan kita. Dengan tujuh roti Yesus memberi makan ribuan orang.
Dengan ekaristi, Yesus memberikan diriNya untuk keselamatan kita. Apakah kita rajin hadir dalam ekaristi?
Bunga anggrek merah warnanya
Tumbuh menjulang ke langit jingga
Kita menerima Tubuh dan DarahNya
Ekaristi adalah santapan jiwa
Cawas, menikmati awan di langit
Rm. A. Joko Purwanto Pr