by editor | Feb 25, 2020 | Renungan
SUATU kali saya diminta mengantar sekelompok ibu-ibu untuk memberikan sumbangan ke panti asuhan. Sumbangannya sih tidak seberapa.
Tetapi yang heboh adalah mereka membawa peserta banyak sampai harus menyewa bus besar. Lalu ada yang usul supaya mengundang wartawan biar acara ini diliput dan diberitakan ke media.
Seksi konsumsinya juga sibuk mengurus menu untuk sekian puluh orang yang ikut. Seksi acara mengusulkan supaya ibu-ibu memakai seragam. Dibuatlah kaos seragam.
Habis berkunjung ke panti asuhan ada yang usul piknik ke pantai. Saya menolak ikut acara itu. Tujuan membantu anak-anak panti asuhan sudah melenceng jauh.
Dan lagi biaya penyelenggaraan “Bakti Sosial” lebih besar sekian kali lipat dibandingkan dengan bantuan yang akan disumbangkan.
Hari ini adalah awal masa puasa bagi umat Katolik. Kita semua menerima abu di dahi sebagai tanda pertobatan. Bagaimana pertobatan itu harus dijalankan?
Yesus menjelaskannya dalam bacaan Injil. “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Tetapi apabila kamu berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Intinya adalah JANGAN PAMER. Begitu juga kalau memberi atau bersedekah. Jangan pamer. Kalau sedang berdoa, juga jangan pamer.
Baik berdoa, memberi atau bersedekah atau sedang berpuasa, lakukanlah dengan tidak diketahui orang. Jangan dipamer-pamerkan.
Kadang kita tergoda untuk menunjukkan kepada orang lain, kalau kita bersedekah. Kita pengin dilihat orang kalau sedang berpuasa, “klelat-klelet kaya wong kaliren”. Kita pengin dianggap suci makanya berdoa di tempat-tempat umum.
Yesus menginginkan supaya kita melakukan hal-hal itu secara tersembunyi. Jangan mencari pujian orang tetapi biarlah Bapa di surga yang melihatnya.
Yang penting bukan kulitnya, tetapi isinya. Jangan jatuh pada sikap formalisme, tetapi substansinya yang harus diutamakan.
Selamat memasuki masa prapaskah, masa puasa. Semoga puasa kita menjadi lebih berguna bagi orang lain.
Di meja disajikan jagung dan baby potato
Padahal itu sering disebut kentang kleci
Berbuat baik itu tidak perlu berpidato
Biarlah diketahui oleh Tuhan sendiri
Cawas, patangpuluh dina pasa.
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 24, 2020 | Renungan
ANDA pecinta lagu-lagu atau konsernya Yanni? Saya adalah salah satu penggemar musiknya. Setelah selesai mengadakan konser di AIUla Arab Saudi yang sukses, dalam perjalanan pulang, seluruh crew dan pemain konser itu dilayani oleh Yanni di dalam pesawat.
Layaknya seorang pramugara, Yanni dengan sukacita membagikan coklat kepada mereka semua sebagai tanda terimakasih karena pertunjukkan di Arab sangat bagus dan sukses.
Kedua tangannya membawa nampan berisi permen coklat aneka warna, dan dibagikan kepada seluruh crew dari depan sampai ke belakang.
Yanni artis yang sangat terkenal itu – yang selalu menjadi ikon dalam setiap konsernya – melayani semua dengan wajah ceria.
Orang yang selalu di depan dalam setiap pertunjukannya itu mau menjadi pelayan bagi seluruh backstage crewnya,
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata kepada keduabelas muridNya, “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan semuanya.”
Ajaran Yesus ini bertolak belakang dengan pikiran para murid. Mereka justru mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
Kita pun pada umumnya juga seperti para murid itu, ingin menjadi yang pertama, terdahulu, paling depan, paling berkuasa, paling hebat.
Yesus punya pandangan lain. Yang ingin menjadi terdahulu harus menjadi yang terakhir dan menjadi pelayan bagi semua.
Kehebatan seseorang bukan dilihat dari kedudukannya tetapi dari tindakan pelayanannya. Keunggulan seseorang bukan karena dinomorsatukan, tetapi karena ia lebih mengutamakan yang lain daripada dirinya sendiri.
Kehormatan seseorang dapat dinilai dari bagaimana ia suka melayani orang lain. Misalnya ada kakek tua yang berdiri di dalam kereta api atau bus umum, lalu ada pemuda yang merelakan tempat duduknya untuk kakek itu.
Ada banyak tindakan-tindakan sederhana yang bisa kita lakukan untuk menjadi pelayan bagi orang lain. Melayani itu bukan hal yang hina, tetapi justru punya nilai luhur.
Yesus mempertentangkan sikap orang dewasa (murid-murid) dengan anak kecil. Orang dewasa justru berebut siapa yang terbesar.
Anak kecil punya jiwa yang polos, suka menolong, melayani dan berbagi dengan yang lain. Anak kecil hatinya masih jujur dan murni.
Yesus mengajak kita mencontoh hati yang tulus, jujur, polos dan murni dari seorang anak kecil. Yesus sendiri datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Bagaimana dengan kita?
Raden Mas Nangkring Binuka
Berpasangan dengan Raden Ayu Plangkaningrum
Kalau kita mau menjadi yang terkemuka
Hendaklah mau melayani dengan penuh senyum
Cawas, tawaria bersama
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 23, 2020 | Renungan
SAHABAT saya dulu pernah menawarkan sebuah produk investasi dana pensiun. Dia menasehati saya supaya punya dana pensiun agar kita mempunyai tabungan yang cukup untuk mengcover diri kita ketika kita sudah tidak produktif.
Dia memberi contoh sendiri. Dia menyisihkan duapuluh persen gajinya untuk investasi. Sekarang ketika usia sudah memasuki pensiun, dia tinggal memetik investasinya itu. Buah dari ketekunan yang sudah lama disimpan itu menghasilkan kebaikan.
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus dihadapkan pada kasus orang sakit ayan. Mereka membawa si sakit itu kepada murid-muridNya. Namun para murid itu tidak mampu menyembuhkannya.
Ayah dari anak itu menceritakan bagaimana anaknya diserang setan yang membuatnya sakit demikian.
“Setiap kali roh itu menyerang, anakku dibantingnya ke tanah. Lalu mulutnya berbusa, giginya berkeretakan, dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah minta kepada murid-muridMu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.”
Ketika Yesus berhasil menyembuhkan anak itu, para murid bertanya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”
Jawab Yesus, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” Yesus menegaskan bahwa berdoa itu memiliki daya guna yang kuat.
Doa adalah senjata kekuatan orang beriman. Supaya kita mempunyai daya yang kuat, maka kita harus mengumpulkan waktu untuk berdoa.
Seperti sebuah investasi, doa itu harus dibiasakan dan dilakukan terus menerus. Kalau kita tekun dan rutin menyisihkan duapuluh persen dana kita untuk investasi, kita juga bisa menginvestasikan duapuluh persen waktu kita untuk Tuhan.
Kita diberi waktu oleh Tuhan duapuluh empat jam sehari. Apakah kita mau menginventasikan duapuluh persen dari duapuluh empat jam hidup kita untuk berdoa?
Yesus menginvestasikan waktuNya untuk berdoa. Ia mencari tempat yang sunyi untuk menyendiri yakni berdoa. Ia banyak menginvestasikan waktuNya.
Maka Dia bisa berkata kepada murid-muridNya, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” Kalau kita banyak berdoa, maka setan sekuat apa pun dapat kita kalahkan.
Maukah anda berinvestasi doa kepada Tuhan? Sisihkan duapuluh persen waktu anda untuk berdoa setiap hari.
Pagi-pagi sudah diajak bersepeda
Disuruh naik motor listrik mengikuti
Kalau kita banyak berinvestasi doa
Kesulitan apa pun dapat kita hadapi
Cawas, saatnya menikmati investasi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 22, 2020 | Renungan
KISAH Nelson Mandela sangat menyentuh. Ia pernah dipenjara oleh lawan politiknya selama 27 tahun. Di penjara yang gelap itu dia disiksa oleh sipirnya.
Bahkan pernah Nelson digantung dengan kepala di bawah dan kemudian dikencingi oleh sipir penjara itu setiap pagi. Nelson hanya berkata, “Tunggu saatnya akan tiba.”
Ketika dia dibebaskan dan kemudian terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari sipir penjara itu. Ia menyuruh pengawalnya untuk membawa sipir itu ke hadapannya.
Sipir tersebut sangat ketakutan mengira Mandela akan membalas, menyiksa dan memenjarakannya, tapi ternyata Nelson malah merangkul dan berkata, “Hal pertama yang ingin saya lakukan ketika menjadi presiden adalah memaafkanmu”.
Mandela mengajarkan bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih.
Yesus mengajarkan hukum kasih kepada para muridNya. Ia membongkar hukum balas dendam, “mata ganti mata, gigi ganti gigi. Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.”
Tidak ada gunanya balas dendam. Sikap balas dendam hanya akan menambah daftar panjang kejahatan. Tidak akan selesai.
Maka Yesus meminta, “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Apakah itu mungkin? Tidak mustahil. Santo Yohanes Paulus II berhasil mengampuni Mehmet Ali acha yang pernah menembaknya.
Karena diampuni, Mehmet sekarang menjadi orang Katolik dan dia beberapakali berziarah ke makam Santo Yohanes Paulus di Vatikan.
Pengampunan menunjukkan kualitas hidup seseorang. Orang yang berjiwa besar adalah orang yang mampu mengampuni. Tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Nelson Mandela mengundang sipir penjara yang setiap pagi mengencinginya dan memberinya tempat duduk di kursi undangan terhormat. Mandela berkata, “Karena anda, saya menjadi pribadi seperti sekarang ini.”
Apa yang kita lakukan ketika kita sudah begitu dilukai oleh seseorang dan kini kita memiliki kesempatan untuk membalas dendam?
Mampukah kita mengampuni? Seberapa luas dan lapang ukuran hati kita? orang yang bisa mengampuni adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Ia mengasihi bukan ada pamrih apa pun. Ia mengasihi karena memang demikianlah kita seharusnya.
Di teras atas melihat langit paling tinggi.
Menggenggam bulan yang indah berseri.
Yesus mengajari nilai yang sangat ilahi.
Mengasihi dengan mengampuni mereka yang membenci.
Cawas, menghadang banjir
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 22, 2020 | Renungan
Telah beredar berita bahwa Paus Fransiskus akan berkunjung ke Indonesia bulan September tahun ini. Semoga dapat terlaksana.
Paus adalah pengganti Petrus, pemimpin para rasul. Paus memimpin umat Katolik seluruh dunia. Ia menduduki tahta Petrus di Roma.
Hari ini kita rayakan Tahta St. Petrus lambang kepemimpinan gereja universal. Bacaan hari ini menggambarkan bagaimana succesio apostolica itu terjadi.
YESUS berkata, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”
Jelas, Yesus menunjuk Petrus untuk memimpin jemaatNya. Ia memberikan kuasa kepada Petrus. Apapun yang dilepaskan di dunia akan terlepas di surga. Itulah otoritas yang diberikan Yesus kepada Petrus, pemimpin keduabelas rasul.
Gereja bersifat apostolik berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu.
Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sejak zaman Gereja perdana sendiri.
Iman dari para rasul itu terus menerus diwariskan dari Yesus sampai sekarang dan untuk selama-lamanya.
Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan gereja Perdana, yakni Gereja para rasul.
Dimana hubungan historis ini jangan dilihat sebagai pergantian orang, melainkan sebagai kelangsungan iman dan pengakuan.
Hari ini Gereja merayakan Tahta Santo Petrus. Tahta itu menjadi lambang kelangsungan yang terus menerus akan pewarisan iman dari para rasul sampai sekarang dan untuk masa datang.
Petrus dan para penggantinya ditunjuk Yesus untuk menjaga keaslian iman. Hirarkhi gereja dipertahankan untuk menjaga kemurnian iman dari zaman ke zaman.
Konsekuensi dari gereja yang mempertahankan sifat Apostolik adalah mempunyai suksesi apostolik. Dengan adanya suksesi Apostolik maka kedudukan para rasul dan Petrus sebagai kepala dewan para rasul dapat tergantikan.
Maka kelangsungan Gereja dapat terjamin sesuai kehendak Yesus sendiri kepada GerejaNya. Semoga Paus sungguh bisa mengunjungi umat Katolik Indonesia. Selamat datang Paus Fransiskus…..
Bunga anggrek di pohon pinus.
Sungguh indah dipandang mata.
Tuhan memilih Santo Petrus.
Untuk memimpin jemaatNya.
Cawas, menanti hujan tiada henti
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 20, 2020 | Renungan
PENGALAMAN hidup Steve Jobs sangat inspiratif. Pendiri Perusahaan Apple ini memiliki segalanya. Kekayaannya ada 5,1 milyard dollar pada 2009 dengan 4000 karyawan perusahaan.
Ketika dia berada di puncak kejayaan, dokter memvonis Steve kena kanker pankreas. Hidupnya mendekati kematian. Ia selalu berpikir jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup, apa yang harus dilakukan?
Hidup dalam segala kelimpahan itu ternyata tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Kematian sangat dekat di depan mata.
Dia menulis, ”Waktu anda sangat terbatas, jangan sia-siakan untuk menjalani hidup bersama dengan yang lain, mereka yang anda sayangi. Jagan biarkan omongan orang menguasai anda sehingga anda tidak mendengar suara hati anda. Milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi.”
Tidak ada kata yang lebih indah selain bahwa hidup ini perlu berbagi. Berbagi cinta, berbagi perhatian, berbagi kebahagiaan, berbagi apa pun yang anda miliki.
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?”
Steve Jobs, Bill Gate, Rockkefeller adalah orang-orang kaya yang memiliki segalanya. Michael Jackson, Whitney Houston adalah artis-artis terkenal sebagai raja pop dunia. Hitler,
Mussolini adalah diktator paling berkuasa. Apakah mereka menikmati semuanya itu? Mereka memperoleh seluruh dunia. Tetapi mereka kehilangan semuanya.
Jalan memperoleh kehidupan ditawarkan Yesus kepada murid-muridNya yakni dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus.
Menyangkal diri menurut Injil berarti menjadi senasib dengan Yesus. Hidup menurut Yesus. Kalau kita mau menyangkal diri berarti kita mencintai Yesus sepenuh-penuhnya.
Menyangkal diri berarti juga tidak mementingkan diri sendiri. Tetapi lebih mementingkan orang lain. Hidup untuk kebahagiaan orang lain.
Memanggul salib berarti mau berkurban demi keselamatan sesama. Kesulitan bukan sebagai beban tetapi jalan kesabaran, kesetiaan dan kerendahan hati.
Kalau kita melakukan sesuatu demi cinta, semua akan terasa ringan. Tetapi jika demi kewajiban, maka akan berat. Kita bahagia bukan karena memiliki segalanya. Kita bahagia karena bisa berbagi dengan sesama.
Merawat anggrek dengan penuh cinta.
Tumbuh bunganya beraneka warna.
Kalau kita bisa berbagi dengan sesama.
Kebahagiaan datang sungguh luar biasa.
Cawas, wawanhati mendewasakan
Rm. A. Joko Purwanto Pr