by editor | Mar 3, 2020 | Renungan
BERITA tentang virus corona telah membius secara global. Dunia dibuat takut dengan merebaknya virus ini.
Kepanikan massal terjadi dimana-mana. Orang menyerbu mall untuk memborong masker, bahan makanan dan minuman.
Orang berusaha menimbun sembako di rumah. Takut keluar rumah. Takut kehabisan barang.
Di tengah kepanikan itu ada oknum-oknum kapitalis yang memanfaatkan kesempatan mencari untung diri sendiri.
Bisa diduga kepanikan massal ini memang diciptakan. Ada orang atau pihak yang menebar ketakutan demi keuntungan pribadi.
Dunia lebih mempercayai berita-berita menakutkan daripada hal-hal baik yang membawa damai.
Ada banyak hal baik dan benar di dunia ini tetapi orang lebih percaya pada berita-berita hoax dan menghancurkan. Akibatnya masyarakat dibuat takut, panik dan brutal.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kepada angkatan dunia ini. Orang banyak meminta tanda kepada Yesus sebagai utusan dari surga.
Tetapi Yesus tidak mau memberi tanda. Sekalipun diberi tanda, orang-orang ini tetap tidak percaya. Maka Yesus mengutip peristiwa di Perjanjian Lama.
Ratu dari selatan itu datang kepada Salomo dan dia percaya pada hikmatnya. Orang-orang Niniwe bertobat ketika mendengar pewartaan Yunus.
Tetapi orang-orang ini tidak percaya pada pewartaan Yesus. Orang yang tidak percaya, diberi tanda apa pun akan sulit menerimanya.
Yang dibutuhkan adalah pertobatan, bukan tanda. Tanda tidak akan berguna apa-apa, kalau orang tidak mau bertobat.
Yunus mengabarkan bahwa Tuhan akan murka jika orang-orang Niniwe tidak bertobat.
Mereka percaya dan melakukan pertobatan, dari orangtua sampai bayi-bayi, dari hewan sampai seluruh ciptaan, dari raja sampai orang biasa. Mereka melakukan pertobatan.
Semestinya munculnya gejala-gejala alam sekarang ini memberi tanda kepada semua orang untuk melakukan pertobatan.
Bertobat dari percaya pada berita-berita hoax kepada berita yang benar. Bertobat menyebarkan hinaan, kebencian, kekerasan, fitnah dan berita bohong.
Bertobat menebarkan ketakutan, teror, dan intimidasi. Mari kita lebih mengedepankan kemanusiaan, kasih sayang, perdamaian, kerukunan, kebersamaan supaya kita hidup dalam damai.
Virus corona menyebar kemana-mana
Dunia menjadi panik dibuatnya
Kita harus tebarkan virus cinta kepada sesama
Agar dunia menjadi damai dan sukacita
Cawas, menunggu berita gembira
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Mar 3, 2020 | Renungan
TIDAK ada sebutan sedekat dan seakrab Yesus yang menyapa Allah sebagai Bapa. Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya untuk menyapa Allah sebagai Bapa.
Bapa bagi Yesus adalah Bapa yang murah hati dan berbelaskasih. Bapa yang maha pengampun.
Seperti digambarkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang dan domba yang sesat. Yesus menyebut Allah sebagai Bapa dan kita diajak menyapaNya sebagai Bapa Kami.
Kita semua dimasukkan dalam relasiNya dengan Bapa. Kita ini adalah saudara-saudara Yesus.
Kasih Bapa kepada Yesus itu diwujudkan oleh Yesus dalam mencintai orang berdosa, orang miskin, tersingkir, orang lemah dan cacat.
Orang-orang kecil itu ada di hati Yesus. Maka Yesus mengajarkan doa yang singkat dan sederhana itu kepada murid-muridNya. Doa Yesus itu pertama-tama untuk memuliakan nama Allah.
Meminta agar Allah meraja di dalam hati kita. mengapa begitu? Karena bagi Yesus, yang ada di hati Allah itu adalah orang berdosa, miskin, hina, tersingkir.
Hati Allah terfokus bagaimana menyelamatkan mereka itu. “Aku datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa.”
Maka Yesus mengajak kepada kita untuk memiliki hati seperti Allah. Kalau kita sudah “klik” dengan hati Allah, maka perwujudannya muncul dalam tindakan mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
“Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.”
Kita tidak boleh seperti perumpamaan orang yang berhutang kepada raja. orang itu berhutang banyak kepada raja dan raja menghapuskannya.
Tetapi sebaliknya dia tidak mau menghapuskan hutang sesamanya yang hanya sedikit. Kalau kita tidak mengampuni sesama, maka Bapa juga tidak akan mengampuni kita.
Doa Bapa Kami itu menggambarkan relasi vertikal dan horisontal. Kalau relasi kita dengan Tuhan (vertikal) baik, maka hubungan dengan sesama (horisontal) juga menjadi baik.
Kalau salah satu terganggu, maka yang lain akan terpengaruh. Jikalau kita berani mengampuni sesama, maka Bapa juga akan mengampuni kita. Jika tidak, Bapa juga tidak mengampuni kita.
Sudahkan anda berdamai dengan diri sendiri dan mau mengampuni orang lan?
Taman Bunga kering tidak disirami
Bunga merah kuning menjadi layu
Kalau kita berani mengampuni
Maka Bapa juga mengampuni dirimu
Cawas, Meratapi bunga yang layu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 29, 2020 | Renungan
Setan menggoda manusia agar jatuh dalam dosa. Setan itu sangat pandai. Mungkin dia juga lulusan S3. Apa yang ditawarkan setan bukan barang yang buruk, jelek, kawe-kawe, apkiran, atau second.
Setan itu ngerti banget merk-merk branded lho ya, jangan dikira. Tawaran setan adalah sesuatu yang bagus, indah, menarik, yang disukai manusia.
Setan membawa Hawa kepada buah yang ada di tengah taman, bukan di pinggiran. Buah pohon itu baik untuk dimakan, sedap dipandang dan menarik hati.
Bahkan setan mengatakan bahwa kalau Hawa mau makan buah itu akan menjadi seperti Allah. Poin pertama yang harus kita ingat, godaan itu selalu baik, menarik dan indah.
Poin kedua, dosa itu bersifat sosial, menular dan berkembang. Pada waktu kecil diawali dengan suka mencontek. Ketika dewasa sudah pandai mencuri.
Waktu kecil suka ambil uang di dompet ibu. Ketika besar bisa korupsi bermilyar-milyar. Hawa memetik buah itu, lalu memakannya.
Ia tidak mau menikmatinya sendiri dan diberikannya juga kepada suaminya. Tidak heranlah kita kalau ada korupsi berjamaah. Dosa itu bisa berkembang, beranak-pinak.
Poin ketiga adalah godaan itu sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan dasar manusia adalah makan minum. Maka setan menggoda Yesus lewat kebutuhan dasarnya.
Yesus lapar, maka Dia butuh roti. Setan meminta Yesus mengubah batu menjadi roti. Kebutuhan kedua adalah harga diri atau prestasi. Setan mengajak Yesus ke bubungan Bait Allah. Jatuh dari atap Bait Allah dan tidak terluka sedikit pun itu sebuah prestasi, penghargaan diri, dikagumi.
Kebutuhan ketiga adalah kekuasaan atau power. Setan mengajak Yesus naik ke sebuah gunung dan ditunjukkan seluruh kerajaan dunia. “Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku.”
Menghadapi godaan-godaan itu, Yesus hanya mengandalkan Allah. Pertama adalah firman Allah. Kedua adalah kuasa Allah.
Jangan meragukan kuasa Allah dan ketiga setia berbakti kepada Allah. Mengandalkan firman Allah, percaya pada kuasa Allah dan setia berbakti kepada Allah itulah cara menghadapi godaan setan.
Mau berwisata ke Negeri Balkan.
Bekalnya sambal goreng dan mie instan.
Godaan setan itu sangat menggiurkan.
Tapi pada akhirnya akan menjerumuskan.
Cawas, Teguh berdiri di Sabar Menanti
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 28, 2020 | Renungan
BUKAN virus korona yang menakutkan, tetapi virus “ignorance” atau kedunguan publik itulah yang lebih menakutkan. Zaman sekarang orang tidak butuh kebenaran.
Kebenaran malah tidak dipercayai. Informasi instan penuh sensasi justru yang diterima, entah itu benar atau salah, hal itu tidak penting.
Contoh paling nyata viralnya pernyataan komisioner KPAI yang mengatakan bahwa perempuan bisa hamil saat berenang di kolam bersama laki-laki.
Pernyataan itu jelas tidak ada dasarnya, tetapi orang percaya. Ada lagi seorang ustad yang mengaku mantan pastor, lulusan S3 Vatikan.
Jelas itu bohong dan ngawur, tetapi orang percaya. Orang masa bodoh bahwa dia sedang dibodohi. Asal informasi itu dilempar ke jagad maya, orang meyakininya.
Dulu ada kasus Ratna Sarumpaet. Dokter Tompi yang ahli di bidangnya menjelaskan bahwa lebam di wajah Ratna itu bukan karena dipukuli orang tetapi bekas operasi plastik.
Orang tidak percaya pada ahli bedah kulit, tetapi lebih percaya pada politikus. Penyakit dungu, masa bodoh terhadap kebenaran itulah yang membahayakan sekarang.
Dalam Injil hari ini Yesus memanggil Lewi Mateus untuk mengikutinya. Lewi bersukacita karena boleh mengikutNya. Ia mengadakan pesta bersama para teman-temannya yakni pemungut cukai.
Tetapi hal itu membikin gusar para ahli Taurat. Yesus dituduh bergaul dengan orang-orang berdosa. Tetapi jawaban Yesus membungkam mulut mereka.
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.”
Di zaman informasi digital ini banyak orang sakit masa bodoh atau dungu. Mereka tidak tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang bohong mana yang benar, mana yang menipu mana yang tulus.
Penyakit masa bodoh dan dungu seperti ini membutuhkan tabib yang mumpuni. Yesus justru datang kepada orang-orang berdosa, agar mereka bertobat. Orang sakit didatanginya agar mereka bisa disembuhkan.
Yesus mau bergaul dengan para pemungut cukai, orang-orang “berdosa”, kaum tersingkir, supaya mereka bertobat kembali kepada Allah.
Mungkin kita juga sedang sakit dungu atau masa bodoh. Kalau kita asal ngeshare berita tanpa memfilter dulu apakah berita itu benar atau bohong. Kita juga membutuhkan pertobatan pribadi.
Hati-hati dengan investasi bodong
Yang bonusnya tiket wisata ke Oslo
Hati-hati dengan berita bohong
Jangan kita jadi orang bodo
Cawas, Ingat core of the core
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 27, 2020 | Renungan
NASEHAT PUASA dari Paus Fransiskus adalah Puasa mengeluarkan kata-kata yang menyerang dengan kata-kata yang manis dan lembut. Puasa kecewa atau tidak puas, dan penuhilah dirimu dengan rasa syukur.
Puasa marah, dan penuhilah dirimu dengan sikap taat dan sabar. Puasa pesimis, penuhilah dengan optimis. Puasa khawatir dan penuhilah dirimu dengan percaya pada Tuhan.
Puasa meratap/mengeluh dan nikmatilah hal-hal sederhana dalam kehidupan. Puasa stress dan penuhilah dirimu dengan doa. Puasa dari kesedihan dan kepahitan, penuhilah hatimu dengan sukacita.
Puasa egois dan gantilah dengan belarasa pada yang lain. Puasa dari sikap tidak bisa mengampuni dan balas dendam, gantilah dengan pendamaian dan pengampunan.
Puasa ngomong banyak dan penuhilah dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.
Hari ini dalam bacaan Injil, murid-murid Yohanes bertanya kepada Yesus tentang waktu puasa. “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa tetapi murid-muridMu tidak?”
Yesus menerangkan bahwa saat berpuasa itu adalah saat dimana tidak ada mempelai. Ketika mempelai diambil dari mereka maka saat itulah mereka berpuasa, prihatin.
Mempelai itu adalah Yesus sendiri. Ketika Yesus bersama dengan kita, kita bersukacita. Fokus utamanya adalah Yesus yang membawa keselamatan dan sukacita.
Kita perlu berpuasa ketika kita jauh dari Yesus. maka saat berpuasa itu tidak dibatasi oleh waktu. Kapan saja kita bisa berpuasa. Lebih-lebih ketika kita mengalami jauh dari Tuhan.
Hidup terasa kering dan hambar. Hidup dipenuhi dengan nafsu dan kepentingan diri pribadi. Hidup terasa “nggrangsang, ngoyo” dan egois.
Pada saat itulah kita membutuhkan waktu untuk berpuasa. Ketika kita merasa jauh dari Tuhan, disitulah kita perlu berpuasa.
Maka nasehat Paus Fransiskus di atas, bisa dilakukan kapan saja. Kita bisa berpuasa. Puasa itu bukan soal aturan atau kewajiban. Puasa itu soal niat kita untuk memperbaiki diri dan berbuat baik.
Waktu ini hanya sarana. Tujuan kita berpuasa adalah memperbaiki diri kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.
Apa yang disampaikan Paus itu bisa kita buat tanpa harus menunggu waktu puasa. Kapan saja kita boleh berpuasa.justru di saat kita merasa jauh dari Tuhan, waktu itu kita butuh puasa.
Hari ini usiaku limapuluh lima
Seringkali lupa-lupa tanda bahwa sudah mulai tua
Mohon maaf saya mengirim dua puncta
Yang di awal tadi untuk renungan hari berikutnya
Cawas, hari ini penuh candatawa
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Feb 26, 2020 | Renungan
SETELAH permainan dadu selesai, Pandawa diusir dari negaranya dan harus hidup di hutan selama duabelas tahun.
Semua harta, tahta, wanita ludes habis dipertaruhkan dalam permainan. Pandawa dibuang dan harus menderita dalam pengembaraan, “dadi sudra sampali”.
Yang setia menemani mereka adalah Kunti sang ibu, dan Drupadi, istri Yudistira. Sebelum melepas mereka, Kresna bertanya kepada Drupadi, “Bagaimana rasamu harus mengikuti suami yang menderita dan dibuang di tengah hutan?”
Drupadi wanita yang lembut hati itu menjawab, “Cintaku tak sedikit pun berubah. Justru sekarang aku makin melihat Yudistira yang sesungguhnya. Kasihku tidak didasari pada harta, kuasa atau kedudukan seseorang. Aku akan mengikutinya sampai akhir, walau harus menderita sekali pun.”
Hari ini Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”
Drupadi adalah perempuan yang sadar akan hal itu. Ia mengikuti suaminya meskipun harus menderita di hutan.
Cintanya kepada suami justru makin bersinar cemerlang ketika suaminya tidak lagi memiliki segalanya. Yudistira tidak punya kuasa dan kerajaan lagi.
Semuanya hilang musna saat kalah dalam permainan dadu dengan Kurawa. Ia dihina, diejek, dicemooh dan direndahkan oleh musuhnya.
Tetapi Drupadi tetap menerima Yudistira dan mengikutinya dalam penderitaan di hutan. Ia ikut memikul penderitaan suami tercinta.
Prasarat untuk menjadi murid Yesus ditentukan bukan untuk mengikuti Yesus yang telah bangkit, tetapi dari kesetiaan kita menyangkal diri dan memikul salib setiap hari.
Orang sering menegasikan salib Kristus. Yang dikejar adalah Kristus yang bangkit. Yang dicari adalah kesuksesan, kebangkitan, keberhasilan, kemewahan. Tetapi saat jatuh, ia menyalahkan Tuhan.
Teman sejati bukan orang yang mengerubungi kita saat sukses, berhasil, di puncak, kaya-raya. Teman sejati adalah mereka yang datang pertama kali dan menemani kita saat jatuh, terpuruk, menderita, susah dan tak jadi apa-apa.
Maukah kita mengikuti Yesus dengan memanggul salib kita setiap hari?
Membeli jagung rebus setelah misa.
Untuk sarapan di pagi hari.
Kalau kita mau menjadi muridNya.
Harus bisa memikul salib dan menyangkal diri.
Cawas, menghormati masa puasa tidak ada pesta.
Rm. A. Joko Purwanto Pr