Puncta 10.03.20 Matius 23:1-12 / GURU, “Digugu lan Ditiru”

 

Hakekatnya menjadi guru adalah diteladani. Dedikasi dan pengorbanannya pantas dihargai karena dilakukan dengan tulus demi masa depan murid-muridnya.

Banyak guru yang harus berkorban demi murid-muridnya. Kendati masih harus menghidupi keluarganya karena gajinya sedikit, namun para guru tidak menyerah.

Walau sarana dan prasarana mengajar sangat minim, namun mereka tetap kreatif. Walau gedung sekolah hampir roboh, namun semangat mereka tetap teguh berdiri.

Di pundak para guru, nasib bangsa ini dipercayakan. Ada banyak guru yang jujur, tidak korupsi. Ada banyak guru yang miskin hidupnya, tidak berkelimpahan.

Ada banyak guru yang disiplin kerjanya, tidak seperti anggota Dewan yang digaji tinggi tetapi sering mangkir.

Masih ada pribadi-pribadi guru teladan, yang bisa “digugu lan ditiru.” Mereka itulah Pahlawan tanpa tanda jasa.

Berlawanan dengan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi, Yesus mengingatkan murid-muridNya untuk tidak mencontoh atau meneladan mereka.

Mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya. Mereka meletakkan beban yang berat di pundak orang tetapi mereka sendiri tidak menyentuhnya.

Mereka suka pamer dan minta dihormati. Mereka ingin dilihat orang. suka memakai asesoris sembahyang dan jumbai yang panjang, biar dilihat saleh dan suci.

Suka berada di tempat-tempat terhormat di dalam perjamuan atau di rumah ibadat. Mereka itu “ora bisa digugu lan ditiru.” (Mereka tidak bisa dicontoh dan diteladani).

Spiritualitas kepemimpinan yang diajarkan Yesus adalah pelayanan. Jangan suka disebut Rabi. Jangan suka disebut pemimpin. Karena semua itu adalah status atau jabatan saja.

Yang penting bukan statusnya, tetapi karya nyata dari jabatan itu yakni pelayanan. Maka Yesus menghendaki agar kita tidak mencari kedudukan, popularitas, jabatan atau kehormatan.

Pelayanan, kejujuran dan dedikasilah yang membuat kita dihargai. Merendahkan diri menjadi pelayan itulah yang akan diapresiasi. Yesus mengajarkan kepada kita untuk merendahkan diri, mau menjadi pelayan bagi yang lain.

“Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Maukah kita melayani sesama kita? Maukah kita mengutamakan orang lain?

Gelap malam karena listrik mati.
Tersandung barang di kamar mandi.
Kalau kita mau merendahkan diri.
Banyak orang akan memberi apresiasi.

Cawas, Menatap Gondang Tower
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 09.03.20 Lukas 6:36-38 / Murah Hati

 

DALAM awal pertunjukan wayang ki dalang menggambarkan raja yang memimpin kerajaan dengan sifat-sifat baik dan bijaksana.

Sifat raja itu diterangkan oleh dalang dengan sebutan; “Remen hageganjar kawula, misuda kang sepi ing pamrih. Paring payung wong kodanan. Paring tudhung wong kepanasan. Paring boga wong kaluwen. Paring toya wong kasatan. Paring teken wong kalunyon. Maluyakaken wong sakit lan akarya sukaning wong prihatin.”

Raja yang murah hati itu suka memberi ganjaran kepada rakyat dan memberi penghargaan kepada mereka yang berkarya tanpa pamrih. Memberi payung bagi yang kehujanan. Memberi pelindung bagi yang kepanasan. Memberi makan bagi yang kelaparan. Memberi minum bagi yang kehausan. Memberi tongkat bagi mereka yang berjalan di tempat licin. Menyembuhkan orang sakit dan memberi kegembiraan bagi mereka yang sedang prihatin.

Belum lama viral di media sosial, seorang ibu yang punya toko, bernama Susana di Teluk Gong Jakarta Utara yang menolak menjual masker dengan harga mahal.

Dia bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan karena orang memburu masker. Tetapi dia tidak mau mencari untung di atas penderitaan orang lain.

Ibu Susana itu seorang yang bijak dan murah hati, karena dia lebih mementingkan orang miskin yang lebih memerlukan masker daripada orang kaya yang ingin menimbun untuk dirinya sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengajak murid-muridNya, “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati.”

Kemurahan hati itu dalam bahasa Latin adalah Humilitate. Kata ini berasal dari akar kata “Humus” yang artinya tanah yang subur. Tanah yang subur itu memberi hidup banyak tanaman.

Begitu pun orang yang murah hati. Kemurahan hati memberi kesempatan hidup bagi yang lainnya. Kemurahan hati memungkinkan yang lain berbuah banyak.

Oleh Yesus kemurahan hati itu diwujudkan dalam tindakan kongkret tidak menghukum orang lain dan mau berbagi dengan memberi. “Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum. Berilah, dan kamu akan diberi.”

Orang yang murah hati tidak akan mudah menghukum, tetapi akan lebih suka memberi. Marilah kita meneladan Allah Bapa kita yang murah hati.

Membeli soto di Sabar Menanti.
Bersama teman yang sedang ke luar negri.
Marilah kita menjadi murah hati.
Seperti Mentari yang tidak lelah memberi.

Cawas, senja yang ceria
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.03.20 Minggu Prapaskah II / Dewa Ruci

 

Bima berguru pada Durna. Dia ingin mencari sejatinya hidup. Dia akan diwejang kebenaran sejati kalau dapat menemukan banyu suci perwitasari.

Bima harus menuju dasar samudera. Di dasar samudera itu ia berjumpa dengan Dewa Ruci. Sang Hyang Marbudeng Rat. Bima diminta masuk ke diri Dewa Ruci.

Di dalam diri Dewa Ruci itu, Bima mengalami kebahagiaan hidup yang sejati. “manunggaling kawula Gusti yakni menyatunya Allah dan manusia.

Perjumpaan dengan Allah itu membuat kebahagiaan sejati. Bima tidak ingin kembali ke dunia nyata. Tetapi Dewa Ruci memerintahkan Bima keluar karena dia harus memenuhi tanggungjawabnya sebagai ksatria yang harus berjuang membela keadilan dan kebenaran.

Bima harus keluar dari samudera raya dan kembali hidup di tengah dunia nyata. Seorang ksatria harus menjalani kewajibannya menegakkan keadilan dan kebenaran.

Petrus dan dua temannya diajak Yesus naik ke sebuah gunung. Di situ mereka melihat kemuliaan Tuhan yang bersinar seperti matahari. Lalu nampaklah Musa dan Elia bersama dengan Yesus.

Petrus sangat bersukacita. Ia ingin mendirikan tiga kemah untuk Yesus, Musa dan Elia. Kegembiraan yang meluap itu sering membuat lupa.

Harusnya kemahnya enam, bukan hanya tiga. Saking gembiranya Petrus sampai lupa diri. Kegembiraan yang memabukkan.

Dalam luapan kegembiraan kita harus tetap waspada, sadar diri, menguasai panca indera dan hati kita. Peristiwa itu mau menyatakan atau mewahyukan sesuatu.

Sesuatu itu adalah suara yang keluar dari awan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Yesus menyatakan diri siapakah Dia sesungguhnya. Dialah Anak Allah yang terkasih.

Kita diperintahkan untuk mendengarkan Dia. Pesan yang paling penting adalah mendengarkan Yesus, Anak Allah yang dikasihi Bapa.

Yesus masih berpesan, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Pengalaman transendental itu tidak boleh diobral sembarangan. Karena Yesus yang mulia itu hanya dapat dimengerti lewat peristiwa salib.

Para murid diajak kembali ke dunia nyata karena di dunialah kita diajak berkarya demi keadilan dan kebenaran.

Bersusah-susah naik Galunggung
Pulang kembali lewat Tasikmalaya
Yesus yang mulia di atas gunung
Mengajak kita kembali ke dunia nyata

Cawas, sing eling lan waspada
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 07.03.20 Matius 5:43-48 / Puntadewa yang Berdarah Putih

 

KETIKA Baratayuda sudah memasuki hari ke enambelas, Salya maju berperang membela Kurawa. Prabu Salya adalah paman dari para Pandawa, karena Nakula dan Sadewa adalah anak Dewi Madrim, istri Pandu.

Madrim adalah adik Salya. Salya punya aji Candabirawa yang sangat ampuh. Tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya. Penasehat Pandawa,

Prabu Kresna harus bisa membujuk agar Puntadewa mau maju perang. Selamanya Puntadewa tidak pernah perang karena hatinya dan darahnya putih lambang kesucian hidupnya. Ia mengasihi semua tanpa pamrih.

Kurawa dan siapapun dikasihinya tanpa membeda-bedakan. Dialog Kresna dan Puntadewa sangat dalam karena berisi tentang kasih tanpa batas dan cinta tanpa pamrih.

Kresna menyimpulkan,”Paduka adalah raja binatara. “Wong becik dibeciki, wong ala dibeciki.” Orang baik dibaiki, orang jahat tetap dibaiki.

Yesus mengajarkan kasih tanpa pamrih dan cinta kepada siapa pun tanpa batas, bahkan jika itu adalah musuh kita. “Kamu telah mendengar firman.”

Kata Yesus, “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuh-musuhmu.” Yesus mengutip isi hukum Taurat.

Namun Yesus memperbaharui ajaran kasih itu dengan berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu, Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Ajaran ini pasti sulit sekali. Bagaimana mungkin mengasihi orang yang membenci kita. Bagaimana mungkin mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita?

“Sakitnya tuh di siniiiii…di dalam hatiku…” kata penyanyi Cita Citata. Menurut ukuran dunia, tidak mungkin mengasihi orang yang membenci kita.

Dunia mengarahkan kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Yesus ingin memutus balas dendam ini dengan balas kasih. Dendam tidak akan ada habis-habisnya.

Maka Dia mengajak kita untuk mengasihi dan mengampuni musuh. Kalau kita ini sebagai manusia diciptakan secitra dengan Allah. Segambar dengan Allah.

Kalau Allah adalah kasih, maka kita pun secitra atau serupa dengan Allah yang mengasihi. Hidup dan karya Yesuslah yang menjadi pola dan pedoman hidup kita.

Dengan kematian di salib, Yesus memutus pola balas dendam. Dengan salib, Yesus membalas kejahatan dengan kebaikan. Dendam dengan pengampunan. Itulah pola hidup yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya.

Naik lambreta keliling negeri Italia
Boncengin mertua untuk mengambil hati
Kasih Yesus itu adalah kasih yang sempurna
Mengasihi tanpa pamrih dan mau mengampuni.

Cawas, hati yang gembira adalah obat
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 06.03.20 Matius 5 : 20-26 / Bermental “Magis”

 

ZAMAN dulu kalau anak mau diterima di sekolah favorit harus berjuang sekuat tenaga, belajar tekun dan rajin supaya hasil kelulusan dapat nilai tertinggi.

Harus bersaing dengan banyak calon dan kalau bisa masuk di sekolah favorit itu suatu kebanggaan. Sekarang suasana seperti itu lenyap karena kebijakan zonasi yang diberlakukan pemerintah.

Maksudnya sih supaya ada pemerataan. Anak-anak pinter jangan menumpuk di satu tempat saja. Anak tidak perlu bersusah-susah bersaing dengan orang lain, asal dia masuk di zonasi sekolah itu, pasti diterima.

Apalagi kalau sekolah itu kekurangan murid, dia akan menerima siapa pun dan berapa pun nilai raportnya.

Tidak ada semangat “magis” untuk mencapai sesuatu yang maksimal. Yang ada adalah semangat minimalis. Tidak mau berusaha lebih tekun, giat, kerja keras dan bermental baja.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menuntut murid-muridNya bermental “magis”. Dia berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.”

Untuk masuk kedalam kerajaan surga itu memang sulit. Kondisi itu diumpamakan seperti seekor unta masuk ke dalam lubang jarum. Maka kalau kita tidak bisa menjadi yang terbaik, kita akan tergerus dan hanyut terlindas.

“Jika hidup keagamaanmu TIDAK LEBIH BENAR,” itulah mental magis yang diajarkan Yesus. kita harus berusaha lebih dari orang lain.

Lebih baik, lebih jujur, lebih murah hati, lebih mengasihi dan banyak hal-hal lebih lainnya. Tolok ukur menjadi lebih tidak hanya kaum ecrek-ecrek saja.

Tolok ukurnya adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang memang jago dalam soal keagamaan.

Kalau mereka itu ahlinya, maka kita harus menjadi ahlinya para ahli, “core of the core” (Istilahnya Pak Ndul).

Kalau jadi orang Katolik di Indonesia, yang jumlahnya hanya sedikit, mentalnya kaum ecrek-ecrek seperti mental Inlander, habislah kita.

Jadilah garam. Jadilah terang. Tunjukkan mental magismu. Jangan mudah menyerah. Jangan mudah putus asa dan jangan manja.

Jika hidup kita tidak lebih baik dari orang lain, jangan harap kita akan didengar atau dipakai. Begitulah jadi orang katolik. Begitulah tuntutan Yesus pada para muridNya.

Di depan ada anggrek merah
Anggrek putih ada di samping rumah
Jadi orang jangan mudah menyerah
Tuntutan Yesus memang sagatlah susah

Cawas, menatap hari cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 05.03.20 Matius 7:7-12 / Pengorbanan Sang Bagaspati

 

RESI Bagaspati punya anak perempuan cantik namanya, Pujawati. Puterinya ini jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Narasoma.

Pujawati meminta ayahnya untuk mencari dimana Narasoma berada, dan membawanya ke pertapaan Argabelah. Permintaan Pujawati disanggupi.

Narasoma diminta supaya mau menerima Pujawati sebagai istrinya. Terpikat oleh kecantikan Pujawati, Narasoma menerima kemauan gadis cantik itu.

Namun dia minta sebuah syarat yakni kematian Bagaspati. Karena Narasoma tidak suka mempunyai mertua seorang raksasa.

Demi kebahagiaan anak dan menantunya, Bagaspati menyerahkan nyawanya kepada Narasoma.

Bahkan sebelum meninggal Bagaspati memberi ajian sakti yang dimilikinya yakni Candabirawa kepada Narasoma. Ia minta kepada Narasoma agar anaknya tidak dimadu, disia-siakan, disengsarakan.

Narasoma menepati janjinya. Ia mengubah nama istrinya menjadi Dewi Setyawati. Mereka hidup bahagia di Kerajaan Mandaraka.

Yesus bercerita tentang siapa Allah itu. Allah adalah Bapa yang baik. Bapa itu akan memberikan apa yang diminta oleh anaknya.

Maka Yesus menyuruh kepada murid-muridNya untuk berani meminta kepada Bapa.

“Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Seperti Resi Bagaspati itu, anaknya minta dicarikan jodoh, ia mencarikan sampai mendapat.

Bahkan sampai sang menantu yang meminta nyawanya pun, diberikan demi kebahagiaan anaknya. Nyawanya dikurbankan demi kebahagiaan mereka.

Tidak ada seorang ayah yang tega memberikan batu kepada anaknya, jika ia minta roti. Tidak ada seorang ayah rela memberi ular kalau anaknya minta ikan. T

Tidak ada seorang ayah tega melihat anaknya menderita. Jika kita manusia tahu memberi yang terbaik, betapa Allah juga akan memberikan yang paling baik kepada kita semua.

Allah kita bukan Allah yang sedikit-sedikit menghukum, atau mengutuk, atau menakut-nakuti. Allah kita adalah Allah yang baik dan murah hati, suka mengampuni dan sangat peduli.

Allah kita adalah seorang Bapa yang hanya memikirkan kebahagiaan anaknya. Itulah wajah Allah yang ditunjukkan Yesus kepada kita semua. Kasih Allah itu nampak dalam kasih Yesus kepada kita semua.

Ke Menchester membeli setangkai anggur
Tanpa plastik cukup dibungkus kertas
Pantaslah kita sebagai anak-anak bersyukur
Punya Allah Bapa yang mengasihi tanpa batas

Cawas, kabar beritanya menggembirakan
Rm. A. Joko Purwanto Pr