by editor | Jun 22, 2019 | Renungan
ADA banyak kekawatiran dalam hidup, tetapi selalu saja pertolongan Tuhan tepat pada waktunya.
Saya pernah tergelincir di sungai di jalan Tanjung Pura menuju Ketapang. Namun Tuhan masih menolong.
Motor saya masih bisa dinaiki sampai tujuan. Pernah juga jatuh di Pelang sampai tangki motor pecah dan bensin mengalir tak bisa dihentikan.
Tuhan menolong melalui seorang bapak yang menarik motor saya sampai Ketapang. Pernah juga mengalami tabrakan berantai di Pagar Mentimun, ketika saya menghindari sepeda motor.
Saya berhenti mendadak dan ditabrak mobil di belakangnya. Ada orang-orang yang dengan senang hati menolong dan membereskan.
Kekawatiran dan ketakutan diselesaikan Tuhan sesuai dengan porsinya. Lewat pengalaman itu Tuhan mau berkata, “Jangan kawatir, Aku bisa diandalkan!”
Seorang anak kecil belajar renang dengan menempel di punggung ayahnya. Walaupun ayah itu berenang di tempat yang dalam, tetapi anak itu tidak kawatir karena bergantung pada ayahnya.
Begitulah kita, kalau bergantung pada Allah tidak perlu merasa takut dan kawatir. pertolonganNya datang tepat pada waktunya.
Biasanya kekawatiran itu terlalu berlebihan. Pikiran kita mengaduk-aduk keadaan yang normal menjadi dibesar-besarkan.
Sebagian besar kekawatiran tidak pernah terjadi. Ketika kita disergap kekawatiran, kita tidak berani melangkah.
Kita tidak berbuat apa-apa. Itulah yang kemudian merugikan kita. Tetapi kalau kita berani menepis kekawatiran itu, kita melangkah, maka di perjalanan semua akan berjalan biasa-biasa saja.
Tuhan Yesus berkata, “Janganlah kuatir akan hidupmu, apa yang hendak kalian makan dan minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, apa yang hendak kalian pakai.”
Tuhan akan menyelenggarakan semuanya. Orang Jawa bilang, “Yen gelem obah bakal mamah” (Asal mau bergerak pasti dapat rejeki).
Itu berarti Tuhan sudah menyediakan bagi mereka yang mau berusaha.
Tuhan meneguhkan kita untuk tidak kuatir akan hidup kita. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Maka janganlah kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Yakinlah Tuhan selalu menolong tepat pada waktunya.
Buat apa susah, buat apa susah
Lebih baik kita bergembira
Tidak lama pindah, tidak lama pindah
Dimana pun layani umatNya.
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 21, 2019 | Renungan
PADA suatu hari saya terjadwal misa di suatu lingkungan perumahan. Saya membawa mobil paroki karena takut kalau terjadi hujan.
Saya memasuki jalan-jalan sempit di perumahan itu. Rumahnya kecil dan rapat-rapat.
Mencari tempat parkir agak kesulitan. Akhirnya dapat parkir agak jauh dari tempat misa.
Di perumahan itu ada banyak anak-anak lalu lalang bermain-main di jalan yang sempit, karena tidak ada arena bermain atau lapangan.
Saya berjalan menuju rumah ditemani bapak ketua lingkungan. Saya bertanya menepis kekawatiran, “Parkir di pinggir jalan ini aman Pak?”. Bapak ketua lingkungan bilang, “Aman romo”.
Tetapi selama misa pikiran saya hanya terbayang mobil di pinggiran jalan itu.
Jangan-jangan nanti digesek anak-anak nakal. Jangan-jangan nanti kesundhul mobil atau motor lewat.
Tadi lupa ngunci gak ya? Ada tangan usil yang corat-coret di kaca mobil gak ya?
Pokoknya konsentrasi tidak di dalam misa, tetapi justru di mobil yang terparkir agak jauh.
Hari ini Yesus mengkritik kita, “Janganlah kalian mengumpulkan harta di bumi; ngengat dan karat akan merusakkannya, dan pencuri akan membongkar serta mencurinya. Karena dimana hartamu berada, di situ pula hatimu berada”.
Betapa kita mudah lekat terhadap barang-barang yang kita kumpulkan. Ada rasa takut dan kawatir.
Muncul kecurigaan dan negative thinking terhadap orang lain. Kita cemas jika jauh dari harta benda duniawi itu.
Apakah aman? Apakah tidak dicuri orang? Pikiran-pikiran seperti itu membelenggu hati kita.
Benarlah jika kita terlalu mendewakan harta duniawi, maka sabda Yesus itu menyindir kita. “Dimana hartamu berada di situ pula hatimu berada. Harta benda duniawi ini akan lenyap tak berbekas.
Yesus mengingatkan kalau orang hanya mencari harta duniawi yang akan lenyap, akan ada rasa kecewa dan kehilangan.
Tetapi kalau orang mengumpulkan harta di surga, dia akan mengalami bahagia. Harta di surga itu adalah kebaikan, kejujuran, belas kasih, pengorbanan, kesetiaan, kerendahan hati.
Harta duniawi kalau tidak hati-hati membuat kita egois. Harta di surga membuat kita mau berbagi untuk orang lain.
Harta duniawi itu penting untuk hidup, tetapi jangan sampai kita dibelenggu olehnya.
Kalau kita bisa membebaskan diri dari kelekatan-kelekatan tak teratur, maka kita akan menjadi orang yang merdeka.
Kita bisa hidup tanpa tergantung atau lekat pada suatu barang tertentu, namun tetap menjadi pribadi merdeka di hadapan Allah.
Ad Maiorem Dei Gloriam. Segala sesuatu demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
Kita naik bersama ke Bandungan
Singgah sebentar di Ambarawa
Semua yang dianugerahkan Tuhan
Kita gunakan untuk memujiNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 20, 2019 | Renungan
DALAM sebuah pentas ketoprak, Den Baguse Ngarso bercerita pada Wisben,
“Ben, ngerti ora nek romo-romo kae sembahyang arep dhahar. Aku ngerti wong aku kerep diajak dhahar bareng kok. Dongane romo kuwi miturut sikon. Yen caosan dhahare durung teka, dongane dawa-dawa. Ben cepet dikirim. Yen lawuhe tahu tempe, dongane cekak aos. Nanging yen lawuhe ingkung iwak pitik, cepet-cepet gawe tanda salib, wes wes wes kaya nggusah laler kae. Wis rampung!!”
Wisben bertanya, “lha kok tanda salibe cepet-cepet ngapa?”. “Mengko ndak ndhase pitik selak disaut kancane” jawab Den Baguse Ngarso.
(Den Baguse Ngarso cerita pada Wisben, “Ben, tahu gak kalau romo-romo itu doa sebelum makan. Aku tahu karena sering diajak makan bersama. Doanya itu melihat sikon. Kalau kiriman dari umat belum datang, doanya panjang-panjang. Biar cepat dikirim. Kalau lauknya tahu tempe, doanya singkat saja. Tapi kalau lauknya ayam goreng utuh, doanya cuma tanda salib wes wes wes selesai!!”
Wisben bertanya, “kok cuma bikin tanda salib saja kenapa?” “Biar kepala ayamnya tidak diambil orang lain” jawab Den Baguse Ngarso)
Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya, “Bila kalian berdoa, janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka doanya akan dikabulkan karena banyaknya kata-kata.”
Yesus mengajarkan doa wasiat yakni doa Bapa Kami. Yang pertama harus dilakukan dalam doa adalah memuji Allah dan memuliakan namaNya.
Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Dengan membiarkan kehendak Allah terjadi berarti kita menghadirkan KerajaanNya.
Kedua, membangun relasi baik dengan sesama yakni dengan berani mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Itulah inti doa yang diajarkan Yesus.
Kalau kita mengalami kesulitan berdoa, ucapkanlan doa Bapa kami. Doa itu adalah doa wasiat dan sangat bagus. Tidak perlu banyak kata-kata yang bertele-tele.
Tuhan Allah Maha mengetahui. Tentu saja tidak seperti ceritanya Den Baguse Ngarso, doa singkat hanya karena takut lauknya disambar orang.
Doa Yesus itu mendorong kita berbuat secara vertikal dan horisontal. Vertikal yakni memuji Allah. Horisontal yakni berani mengampuni kesalahan orang lain.
Kalau hidup kita dengan Allah baik, maka juga akan nampak kebaikannya kepada sesama.
Jika kita mau mengampuni sesama, Bapa di surga juga akan mengampuni kita.
Ke Cawas lewat Karangwuni
Tujuan utama ke Surakarta
Kalau kita mau mengampuni
Bapa di surga akan mengganjar kita
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 19, 2019 | Renungan
SAYA harus mengucapkan banyak terimakasih kepada Grup Ayo Baca Alkitab (ABA) Lectio Divina G4 yang memberi inspirasi tentang berbagi.
Ada 66 peserta aktif membaca Kitab Suci per 2 bab setiap hari. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga punya kepedulian sosial.
Sambil membaca, mereka menabung Duaribu rupiah per hari untuk dikumpulkan dan diserahkan kepada mereka yang membutuhkan.
Mereka tidak saling bertemu, hanya komunikasi WA. Tetapi mereka kompak mau membantu dengan gerakan duaribu rupiah.
Gerakan ini sudah berlangsung selama dua tahun. Sekarang ini sumbangan yang terkumpul akan disatukan dengan gerakan Kevikepan Semarang yang peduli pada pendidikan Katolik.
Ada banyak orang menyumbang atau membantu sesama dengan tidak mau disebut identitasnya.
Mereka menamakan diri murid Tuhan, hamba Allah, atau NN. Mereka tak ingin diketahui namanya. Ada yang menyumbang sedikit.
Ada yang menyumbang banyak. Itu diberikan secara tulus tanpa butuh publikasi supaya diketahui orang banyak.
Nampaknya mereka yang menyumbang itu mewujudkan sabda Yesus, “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya.’ Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan secara tersembuyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Janganlah berhitung tentang apa yang sudah engkau berikan kepada orang lain. Tetapi hitunglah kebaikan-kebaikan yang telah engkau terima dari orang lain.
Kita tidak perlu mengingat-ingat jasa kita. Biarlah orang lain yang akan mengingatnya. Tetapi ingatlah jasa orang lain yang telah menanam kebaikan kepada kita. Supaya kita mampu bersyukur dan tidak jatuh pada kesombongan diri.
Begitupun dalam hal berdoa dan berpuasa. Yesus mengingatkan kita untuk tidak pamer supaya dilihat orang.
Kita berdoa keras-keras supaya didengar orang. Tidak terpuji lagi kalau doa justru dipakai untuk menjelekkan orang lain seperti orang Farisi yang berdiri tegak di Bait Allah.
Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepada kita. Marilah kita berbuat baik dengan tulus ikhlas tanpa pamrih.
Biarlah nama Allah dipuji karena perbuatan kita dan orang lain akan memuliakan namaNya.
Bendera kita merah putih
Indonesia nafas hidup kita
Marilah berbuat baik tanpa pamrih
Biarlah Bapa di surga yang mengganjarnya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 18, 2019 | Renungan
KALAU kita berjalan dan tidak sengaja menginjak duri di kaki, rasanya nyeri dan sakit sekali.
Kalau kita biarkan duri itu menancap lama di kaki, akan membuat bengkak dan bisa bernanah. Duri itu harus segera dicabut dan kaki dibersihkan.
Ibarat duri dalam daging, kita sering menemui pribadi-pribadi yang sulit dalam kehidupan kita.
Entah di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, organisasi atau perusahaan, bahkan dalam paroki, pastoran atau gereja, selalu saja ada “duri dalam daging”.
Dalam bersosialisasi dengan orang lain, kita sering berhadapan dengan orang yang sulit diatur, dinasehati, diberitahu, sulit hidup berkomunitas, semau-maunya sendiri, suka bikin aturan sendiri, bahkan tindakannya sering menyakitkan.
Kalau itu duri beneran, bisa dicabut dan dibuang. Tetapi kalau duri itu adalah pribadi, saudara, atau teman sendiri bagaimana kita menghadapinya.
Yesus menasehatkan kepada murid-muridNya, “Kalian telah mendengar bahwa disabdakan, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian.karena dengan demikian kalian menjadi anak-anak Bapamu di surga’
Menurut Yesus jalan yang harus ditempuh adalah mengasihi musuhmu. Saya jadi ingat dengan Film Les Miserables.
Jean Valjean selalu diburu oleh Inspektur Javert. Walaupun Jean sudah berubah menjadi orang baik, namun bagi polisi itu, Jean tetaplah penjahat.
Menghadapi Inspektur Javert itu, Jean selalu bersikap baik. Tak pernah ada dendam di hatinya. Bahkan ketika ada kesempatan untuk membalas pun, Jean mengampuni dan memberi kesempatan dia hidup.
Mengampuni, mengasihi, mendoakan dan tetap bersikap baik itulah kunci ajaran Yesus. Hanya dengan cara itu kualitas iman kita tumbuh berkembang.
Dengan cara itu, kita menampakkan wajah Bapa di surga. Kasih dan pengampunan itulah wajah Allah sesungguhnya.
Jika kita mau menjadi anak Bapa, maka kita harus berani mengampuni dan mengasihi.
Ke sawah memanen padi
Padi masak langsung diketam
Lebih baik kita mengasihi
Daripada menyimpan dendam
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 16, 2019 | Renungan
KISAH Kerajaan Singosari tidak terlepas dari keris Mpu Gandring. Suksesi berdarah kerajaan Singosari menimbulkan jatuh kurban karena kutukan Mpu Gandring.
Nyawa ganti nyawa terus berjatuhan seiring dendam kesumat pemegang keris pembawa maut. Ken Arok percaya ramalan; siapa yang bisa memperistri Ken Dedes akan menjadi raja.
Padahal Ken Dedes sudah punya suami, Tunggul Ametung. Untuk memenuhi hasratnya itu, Ken Arok memesan Mpu Gandring membuatkan keris.
Ahli keris itu menyanggupi setahun keris akan jadi. Tetapi sebelum waktu yang disepakati, Ken Arok memaksa Mpu Gandring menyerahkan kerisnya.
Ken Arok merebut keris dan menusukannya kepada Mpu Gandring. Sebelum ajal, Mpu Gandring mengutuk keris itu akan meminta balas 6 nyawa.
Begitulah keris itu memakan korban dari keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. Nyawa ganti nyawa; mulai dari Mpu Gandring, Tunggul Ametung, Ken Arok, Ki Pengalasan, Anusapati, Tohjaya.
Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian mendengar bahwa dahulu disabdakan, “Mata ganti mata; gigi ganti gigi.”
Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.’
Sabda Yesus itu sangat ekstrem dan melawan arus jaman. Pada waktu itu keadilan diartikan ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi.Dengan demikian rantai balas dendam tak akan pernah berakhir.
Yesus melawan hukum yang tidak benar itu. Ia mengajarkan tentang kasih dan pengampunan. Paling tidak memutus rantai balas dendam dengan tidak melawan.
Bahkan Yesus meminta muridnya, berikanlah pipi kirimu bagi orang yang menampar pipi kananmu. Kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan.
Perwujudan ajaran kasih dan pengampunan itu memang sulit. Bagi Yesus hal itu bisa dilakukan.
Ia memberi contoh saat tergantung di kayu salib dengan mendoakan musuh-musuhNya, “Ya Bapa, Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Kalau kita mau meniru Yesus, kita bisa. Adakah kemauan dari kita? atau kita sombong dan egois menganggap diri paling benar dan berkuasa?
Yesus sendiri sudah memberi contoh. Kita yang mengaku orang Kristen justru tidak berani mengampuni dan mengasihi yang membenci kita.
Jangan sampai kutukan Mpu Gandring itu justru menimpa kita karena kita tak mau memutus rantai kekerasan dengan pengampunan.
Candi Mendut ada di Mungkid
Borobudur ada di sebelah baratnya
Mengampuni itu tidak sulit
Kalau kita mau membuka hati kita
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr