by editor | Jun 15, 2019 | Renungan
SINETRON berjudul Keluarga Cemara ditayangkan mulai tahun 1996 sampai akhir Februari 2005.
Film yang dibintangi Adi Kurdi ini berkisah tentang keluarga sederhana yang dipenuhi dengan prinsip kasih antara abah, emak dan anak-anaknya.
Kendati tinggal di gubug sederhana, namun sukacita, kegembiraan dan kasih sayang sangat mewarnai relasi seluruh anggotanya.
Abah ingin mewujudkan prinsip keluarga adalah harta yang paling berharga dan mutiara yang paling indah.
Segala sesuatu dilandasi oleh sikap cintakasih dan penghargaan terhadap semua anggota keluarga.
Arswendo Atmowiloto ingin menterjemahkan ajarah kasih itu di dalam film yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Kasih adalah bahasa universal. Relasi kasih seperti dalam sinetron itu bisa menjadi role model pembinaan hidup berkeluarga.
Hari ini Gereja merayakan Tritunggal Mahakudus, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Inti dari perayaan ini adalah persekutuan cinta Allah Tri Tunggal Mahakudus. Relasi kasih yang sempurna antara Bapa dan Putera dalam Roh Kudus.
Bapa yang mangasihi manusia. Ia rela mengutus PuteraNya untuk menyelamatkan kita. Roh Kudus diutus Bapa dan Kristus untuk membimbing kita tetap setia menuju Bapa.
Setiap hari kita mengimani Allah Tritunggal dengan membuat tanda salib. Moga-moga membuat tanda salib bukan hanya tindakan rutinitas belaka.T
etapi kita melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa kita diselamatkan dan dikuasai oleh Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam segala tindak-tanduk kita.
Kita sudah dibaptis juga dalam nama Allah Tri Tunggal. Baptis itulah yang mempersatukan kita dalam persekutuan kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Orang yang mengimani Allah Tritunggal berarti mempercayakan diri sekaligus menghayati hidup dalam kasih.
Di dalam Allah Tritunggal ada kasih yang sempurna. Yesus menegaskan itu ketika Ia berkata kepada Filipus, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam Aku. Dialah yang melakukan pekerjaanNya”
Allah Tritunggal tidak bisa dilogika dalam pikiran dan ide-ide, tetapi dihayati, disadari dalam relasi kasih dengan orang lain.
Kalau kita mengasihi orang lain dan kita rela berkorban demi orang yang dikasihi, kita akan memahami relasi Allah Tritunggal Mahakudus. Ayolah kita bernyanyi; “Ajarilah kami Tuhan bahasa cintakasih”.
Kotak persegi namanya kubus
Segitiga warnanya biru
Allah Tritunggal Mahakudus
Jiwailah hidup kami selalu
Berkah Dalem
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 14, 2019 | Renungan
SAYA pernah diundang oleh Pemda untuk mengikuti sumpah jabatan. Saya diminta mewakili rohaniwan Katolik, mendampingi pejabat-pejabat yang beragama Katolik yang akan disumpah.
Mereka maju berbaris di depan. Saya mendampingi dengan membawa Kitab Suci. Sambil tangan kiri ditaruh di atas Kitab Suci, mereka mengucapkan sumpah jabatan.
Diawali dengan kata, “Demi Allah, saya bersumpah”. Dan diakhiri dengan kata, “Semoga Tuhan menolong saya”.
Salah satu kalimat yang diucapkan dalam sumpah adalah: “Bahwa saya, untuk diangkat dalam jabatan ini, baik langsung maupun tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun juga, tidak memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun juga”.
Dan masih ada kalimat sumpah lain yang diucapkan. Misalnya akan taat dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melihat oknum-oknum yang berurusan dengan penegak hukum, saya menjadi heran. Bermunculan nama-nama; Yohanes, Markus, Antonius, Barnabas, Daniel, Matius, dan masih bisa ditambah lagi.
Mereka dulu bersumpah “Demi Allah”. Tetapi kok? Apakah doa yang diucapkan di akhir sumpah, “Semoga Tuhan menolong saya” masih diimbuhi harapan di dalam hati yang tak terucapkan, “menolong saya untuk kembali modal?”.
Yesus berkata kepada para muridNya, “Jangan sekali-sekali bersumpah. Jika ya hendaklah kalian katakan ya, jika tidak, hendaklah kalian katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat”.
Ada banyak peristiwa kita bersumpah. Waktu kita mau dibaptis, kita berjanji atau bersumpah. Waktu menerima sakramen perkawinan, kita berjanji kepada pasangan.
Waktu mau mengucapkan kaul kekal, kita berjanji untuk setia kepada tuhan seumur hidup. Waktu menerima jabatan pelayanan masyarakat, kita diangkat sumpah.
Banyak sekali kita bersumpah. Namun kenyataan berkata lain. Realitas di lapangan sangat berbeda.
Kita diingatkan dan ditegur oleh Yesus. Jangan mudah bersumpah. Kalau ya katakan ya. Kalau tidak katakan tidak.
Santo Paulus juga mengingatkan bahwa daging ini lemah, namun Roh itu kuat. Maka kita perlu terus menerus minta kekuatan Roh Kudus agar menuntun kepada kebenaran.
Mengandalkan kekuatan sendiri tidaklah cukup. Setan menggoda kita dengan beraneka cara yang menggiurkan. Janganlah segan untuk berdoa minta bimbingan Roh Kudus.
Awan di langit namanya kumulus
Awan hitam turunkan hujan lebat
Mohonlah kekuatan Roh Kudus
Biar dijauhkan dari yang jahat
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 14, 2019 | Renungan
SHARING Desy Kartika Sari sewaktu bikin skripsi tersebar di medsos. Dia punya hipotesis bahwa selibat yang dihidupi para pastor adalah menyalahi kodrat.
Untuk melengkapi data-data skripsinya, dia membuat wawancara langsung dengan pastor Katolik.
Dia menulis, “Gue keluar masuk gereja, baca Injil dan Kitab Hukum Kanonik, nonton misa, ke perpustakaan Katolik, ngumpulin jurnal dan tentunya menghubungi para pastor yang akan jadi responden gue. Sampai akhirnya gue mulai wawacara. Awalnya, pertanyaan gue seputar cobaan duniawi terberat. Gue yakin 100% jawaban mereka pasti terkait hasrat sexual, kan mereka laki-laki. Bukan! Ternyata buat mereka, cobaan terbesar hidup selibat adalah: Kesepian. Sejak saat itu pandangan gue berubah.”
Ada pandangan baru muncul dalam diri Desy. Pandangan soal manusia lain, jadi beda. Pandangan soal agama, jadi beda. Pandangan soal perbedaan, jadi beda. Soal cinta dan komitmen juga.
Yesus mengajak murid-muridNya untuk memandang aturan Taurat secara berbeda. “Kalian telah mendengar sabda, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu, “Barangsiapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya dia sudah berbuat zinah dalam hatinya.”
Seperti Desy, ia punya hipotesis bahwa laki-laki pasti tidak bisa lepas dari hasrat sexual. Godaan paling berat bagi para pastor yang selibat menurutnya adalah nafsu sexual.
Ternyata itu keliru. Kesepianlah yang menjadi godaan dalam menghidupi selibat. Akhirnya melalui cara hidup selibat, pandangannya tentang cinta, relasi, martabat manusia, agama dan komitmen menjadi baru.
Yesus membaharui cara pandang dan cara sikap para muridNya untuk tidak hanya kaku melihat hukum, tetapi mengembangkannya secara baru.
Perintah ‘tidak berzinah’ tidak cukup hanya tidak melakukan perbuatan per se tetapi memandang wanita dan menginginkannya dalam hati adalah sudah perbuatan dosa.
Jika pandangan baru itu tertanam dalam hati kita, maka cara pandang, cara sikap kita pasti akan berubah.
Marilah kita membuka diri agar punya pandangan terbuka dan luas yang akan berguna bagi kita untuk memandang dunia dan manusia yang unik dan kaya.
Jangan seperti katak dalam tempurung
Tetapi belajarlah terbang tinggi seperti rajawali
Jangan pernah ragu dan bingung
Bukalah pikiran agar selalu membaharui diri
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 13, 2019 | Renungan
Hari ini Gereja memperingati Santo Antonius Padua. Ia lahir di Lisabon Portugal tahun 1195. Sejak kecil sudah tertarik untuk hidup saleh.
Pada umur lima belas tahun sudah menjadi anggota Konggregasi Reguler St. Agustinus. Doa dan matiraganya sangat kuat.
Ia sangat ingin dikirim menjadi misionaris di Afrika. Maka ia masuk ke Ordo Santo Fransiskus. Ia diberi karunia untuk berkotbah. Ia sangat pandai berbicara dan fasih dalam mengulas Kitab Suci secara sederhana.
Banyak orang bertobat karena mendengar kotbahnya. Suatu kali saat ia mau berkotbah di tengah-tengah orang sesat, mereka pergi meninggalkannya.
Antonius lalu pergi ke pinggir pantai. Ia berkata, “Berhubung orang-orang itu pergi tidak mau mendengarkanku, apakah kalian mau datang ke sini dan mendengarkan kotbahku?”
Tiba-tiba serombongan ikan datang mendongakkan kepalanya mendengarkan kotbah Antonius.
Tugas dan kerja yang sangat keras, doanya begitu kuat dan mendalam serta matiraganya yang melebihi orang biasa, membuatnya jatuh sakit. Ia wafat pada tanggal 13 Juni 1231 di Padua dalam usia masih muda 36 tahun.
Banyak doa-doa terkabul lewat pertolongan St. Antonius maka ia disebut Santo Pembuat Mukjijat. Antonius pernah berkata, “Perbuatan baik berbicara lebih lantang daripada kata-kata.”
Yang dimaksud perbuatan baik adalah kerendahan hati, kemiskinan, kesabaran dan ketaatan. Seorang pewarta harus melakukannya lebih dahulu sebelum ia berkata-kata.
Hal ini sesuai dengan tuntutan Yesus, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.
Ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengajarkan dengan teliti tetapi mereka tidak melakukannya.
Seperti Antonius yang berkata, “perbuatan baik berbicara lebih lantang daripada kata-kata”, itulah yang dikehendaki Yesus.
Satu keteladanan akan lebih diingat oleh orang daripada seribu kata-kata nasehat. Antonius sebagai pengkotbah lebih banyak memberi contoh hidup baik kepada para pengikutnya.
Apa yang dia kotbahkan dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga hidupnya menjadi teladan. Kita bersyukur mempunyai teladan St. Antonius yang kuat doanya, mendalam hidup rohaninya, berisi kotbahnya, tekun matiraganya.
Gereja memberinya gelar doktor dan pujangga Gereja. Jangan lupa berdoa mohon perantaraannya.
Beli benang untuk main layang-layang
Sekali tarik benangnya putus
Kalau ada barang-barang yang hilang
Berdoalah melalui Santo Antonius
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 11, 2019 | Renungan
PEPATAH itu berarti timun wungkuk (buah mentimun yang bengkok) , jaga imbuh (dipakai untuk jaga-jaga kalau timbangannya kurang sebagai tambahan).
Timun yang bengkok disiapkan untuk tambahan bagi pembeli. Pepatah ini menggambarkan seseorang yang dianggap punya kekurangan dan hanya diperhitungkan sebagai pelengkap.
Hal ini bisa dipandang secara positif dan negatif. Kalau dianggap negatif jika seseorang dinilai berbeda atau tidak dihargai setara dengan yang sempurna.
Dipandang positif jika yang tidak sempurna ini diberi kesempatan yang sama dengan yang lainnya. Kendati mempunyai kekurangan namun di baliknya juga ada kelebihan.
Walaupun secara lahiriah ada cacat, namun kepribadiannya bisa punya kelebihan-kelebihan yang berharga.
Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadaka hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.
Menggenapi disini bukan seperti timun wungkuk yang hanya tambahan saja. Kata menggenapi berarti mewujudkan suatu nubuat atau firman Allah.
Menggenapi juga berarti melaksanakan sesuatu secara sempurna. Menggenapi menurut Matius di sini menyangkut kedua-duanya.
Tidak ada nas yang dibatalkan atau disingkirkan. Tak satu pun ayat yang dihapus atau ditiadakan.
Yesus menggenapi berarti membuat sesuatu terjadi. Apa yang dahulu dinubuatkan sekarang terlaksana dalam diri Yesus.
Kita juga bisa menjadi alat Yesus untuk menyempurnakan sabdaNya menjadi tindakan nyata. Misalnya sabda Yesus tentang mengasihi sesama terutama yang kecil, lemah dan tersingkir.
Bagaimana kita bisa mendahulukan atau mengutamakan yang cacat untuk mengakses fasilitas-fasilitas umum. Di situlah kita ikut menggenapi sabda Yesus. Kalau ada orangtua yang sudah lanjut dan ringkih, kita buru-buru menolongnya.
Ke Jogja membeli bakpia
Gathot thiwul ada di Wonosari
Mengikuti Yesus selamanya
Wujudkan cintaNya setiap hari
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 11, 2019 | Renungan
KITA sering melihat film-film detectif seperti Charlie’s Angels, Hawaian Five O, CHIPS, atau Star Trek. Para detectif itu bekerja dengan partnernya.
Ada yang dua atau tiga orang saling menolong dan bekerjasama. Dalam Star Trek ada Kirk, Kapten Spock, Ayel. Di film tiga cewek cantik Charlie ada Natalie, Dylan dan Alex.
Dalam CHIPS ada dua polisi bernama “Ponch” dan Jon Baker. Mereka disebut sebagai partner karena saling bekerjasama dan mengisi kekurangan yang lain.
Dalam saat-saat kritis, partner akan muncul sebagai penolong dan penyelamat. Mereka sungguh dapat saling menguatkan sehingga tugas yang diemban dapat tercapai dengan baik.
Hari ini kita memperingati Santo Barnabas, Rasul. Dialah yang menjadi partner dan teman bagi Paulus. Barnabaslah orang yang bisa menerima Paulus sesudah ia bertobat.
Saulus yang pada awalnya adalah pengejar pengikut Kristus, di Damaskus, ia “ditangkap” oleh Kristus. Ia berbalik menjadi percaya.
Tentu saja jemaat perdana tidak mudah menerima dia begitu saja. Paulus pulang kembali ke Tarsus. Ia tidak langsung bergabung dengan Petrus dan teman-temannya ke Yerusalem.
Paulus tidak langsung diterima begitu saja. Masih ada “perasaan” curiga dari jemaat, seperti yang dikatakan Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudusMu di Yerusalem”.
Jemaat perdana tidak percaya bahwa Saulus bertobat. “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?”
Dalam situasi tidak dipercaya, dicurigai dan dijauhi jemaat, Barnabas datang mencari Paulus.
Barnabaslah orang yang bisa menerima dan membesarkan hati Paulus sehingga mereka menjadi partner yang mendukung Paulus mewartakan Injil Yesus Kristus.
Kita bisa belajar dari kebesaran hati Barnabas. Jika Barnabas tidak mau menerima Paulus, sejarah gereja pasti berbeda.
Kita membutuhkan Barnabas-Barnabas untuk membangun gereja. Kita tidak boleh curiga dan berprasangka buruk lebih dulu.
Kita jauhkan sikap menghakimi atau mengecap jelek terhadap orang lain. Orang banyak awalnya mencurigai Saulus, tetapi Barnabas mencari dan melihat segi positifnya sehingga mereka menjadi partner yang handal dalam pewartaan iman.
Burung gereja bermain dengan burung gelatik
Mereka terbang di bubungan Bait Suci
Agar kita mampu menjadi parter yang baik
Jangan mudah menilai jelek da menghakimi
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr