Puncta 21.06.21 / PW St. Aloysius Gonzaga, Biarawan / Matius 7: 1-5

 

“Kuman Di Seberang Lautan Tampak”

ADA pepatah mengatakan “Gajah di pelupuk mata tiada tampak, kuman di seberang lautan tampak”. Hal ini mau menggambarkan kalau kesalahan sendiri – walaupun sebesar gajah – tidak disadari. Tetapi kesalahan orang lain – walaupun sekecil kuman – mudah sekali dilihat.

Kita cenderung mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak mau melihat kesalahan sendiri.

Apalagi kalau disertai perasaan benci, orang Jawa bilang “dadia banyu emoh nyawuk, dadia godhong emoh nyuwek.” (jadi air gak mau menciduk, jadi daun gak mau menyobek). Tidak mau menyentuh sedikit pun, gak sudi berhubungan lagi. Bahkan bisa-bisa saudara berubah menjadi musuh.

Kesadaran umum, menurut Freud, tokoh psikoanalisa, egoisme pribadi membentuk diri paling benar, paling berkuasa. Orang lain mudah disalahkan. Kesalahan sekecil apa pun dari orang lain akan menjadi pembenaran ego. Kesalahan yang besar akan disembunyikan oleh ego. Tidak akan tampak walau itu ada di depan mata sendiri.

Bagi mereka yang bencinya sampai ke langit tingkat tujuh, keseleo lidah yang kecil bisa dianggap sebagai bom atom yang menghancurkan seluruh negeri. Sementara kesalahannya yang besar ditutup-tutupi dan disembunyikan sampai ke negeri antah berantah.

Yesus berkata, “Janganlah kalian menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Kepada Petrus, Yesus berkata, “Sarungkan pedangmu.” Orang yang menggunakan pedang akan mati oleh pedang. Orang yang menggunakan mulut untuk menghujat akan terjerumus oleh ucapannya sendiri.

Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Janganlah membenci supaya kalian tidak dibenci. Kalau yang diajarkan hanya kebencian, kita tidak akan bisa mengasihi.

Kalau tangan kita menunjuk orang lain, sadarlah dan lihatlah bahwa hanya satu jari telunjuk yang mengarah ke orang lain, tetapi tiga jari (jari tengah, manis, kelingking) dikuatkan oleh jempol menunjuk diri kita sendiri.

Mari kita mengubah cara pandang kita. Jangan hanya pakai kacamata gelap. Supaya dunia kita tidak suram. Gunakan kacamata terang agar kebaikan, keindahan terlihat jelas. Hidup menjadi indah menyenangkan.

Hidup hanya sekali kok cuma disuruh menghapalkan pelajaran membenci. Akibatnya hanya tahu pepatah “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Ada singkatan dari kata Agresip,
Yakni agak grepes tapi masih sip.
Mari kita biasakan berpikir positip.
Jangan menghujat apalagi menggosip.

Cawas, jangan lupa bahagia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.06.21 / Minggu Biasa XII / Markus 4: 35-41

 

“Ombak Menerjang Di Teluk Batang”

PERJALANAN menuju SAGKI November 2015 bikin kecut nyaliku. Bersama rombongan dari Keuskupan Ketapang, kami harus naik longboat dari Teluk Melano ke Pontianak. Waktu itu tidak ada penerbangan Ketapang Pontianak karena kabut asap tebal. Satu-satunya cara harus naik kapal motor.

Longboat penuh terisi penumpang dan muatan di atap kapal. Cuaca mendung dan hujan mulai turun. Suara motor meraung-raung menembus ombak setinggi 3 meter. Tak ada suara manusia. Semua senyap dalam ketakutan. Semua hanya berdoa dalam diam supaya selamat sampai tujuan.

Di Teluk Batang ombak mengamuk. Kapal oleng kanan kiri. Kadang daratan kelihatan, kadang hilang seolah kapal mau ditelan ombak. Hati rasanya miris dan kecut, hanya bisa berdoa.

Aku duduk di pinggir sebelah kiri. Aku bisa melihat ombak bergolak. Nasib seperti di ujung tanduk. Hanya pasrah pada kuasa Tuhan. Aku pernah jatuh dengan motorku di sungai. Masih bisa selamat. Tapi ini di laut….???

“Tuhan kasihanilah kami. Tuhan selamatkanlah kami” hanya kalimat itu yang berulangkali kubisikkan sambil pegang erat-erat rosario.

Para murid bertolak ke seberang dengan perahu pada petang hari. Taufan mengamuk dan ombak menyembur sangat dasyat. Mereka sangat ketakutan dan berteriak-teriak; “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”

Kiranya itu tanda keputus-asaan mereka. Menghadapi ombak badai yang menerjang, para murid sangat ketakutan.

Yesus bangun dan menghardik angin, “”Diam! Tenanglah!” lalu angin reda dan danau menjadi teduh sekali.

Pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya “makjleb”, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Kadang kita hanya sibuk dengan badai kehidupan kita. Kita terlalu ketakutan memikirkan diri sendiri. Sering kita lupa bahwa ada Tuhan di tengah kita.

Masalah kehidupan lebih menakutkan daripada kuasa Tuhan. Kita sering merebut wewenang Tuhan untuk menyelesaikan segala masalah.

Dari bacaan ini kita harus mengakui kemahakuasaan Tuhan. Ia menciptakan alam semesta. Maka Ia berkuasa atas angin, danau, badai taufan dan seluruh alam raya ini.

Kita ini hanya bagian terkecil dari alam semesta. Kita harus tunduk pada kuasa-Nya. Yesus Raja Alam Semesta. Pasti nasib kita juga ada dalam kuasa-Nya. Mari kita percaya dan sujud menyembah-Nya.

Batu mulia batu pualam.
Ditambang dari perut bumi.
Tuhan Raja semesta alam.
Kuasailah seluruh hidup kami.

Cawas, menerjang badai….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.06.21 / Sabtu Biasa XI / Matius 6: 24-34

 

“Tak Perlu Takut; 95% Kekuatiran Tak Terwujud”

DALAM hidup kita ada banyak sekali kekuatiran. Kuatir kalau tidak makan. Kuatir akan masa depan. Kuatir tidak punya uang. Kuatir tidak diterima teman. Kuatir biaya sekolah. Kuatir tidak punya jodoh.

Ada macam-macam kekuatiran. Namun hampir sembilanpuluh lima persen kekuatiran itu tidak pernah terjadi. Pikiran kita terlalu membesar-besarkan kekuatiran itu. Kita harus lawan dan kalahkan pikiran kita.

Suatu kali muncul ketakutan dalam diri saya waktu mau pergi turne ke stasi Kebuai. Langit mendung sangat tebal. Saya pikir hujan besar akan datang. Saya menjadi ragu-ragu, berangkat apa tidak. Pikiran sudah membayangkan jalan berlumpur dan licin, kehujanan naik turun bukit. Belum lagi harus melewati jembatan sebilah kayu melintang. Bahkan kalau nanti macet atau jatuh di jalan bagaimana.

Kemudian logika mulai mencari pembenaran; paling umat akan memaklumi, mereka juga tidak akan datang ke kapel karena cuaca buruk.

Dengan berdoa “ndremimil” Salam Maria sepanjang jalan, hujan rintik hanya di Tayap saja. Lewat kampung Engkadin mendung hilang, cuaca bagus. Apa yang dikuatirkan tak terjadi.

Selama di Kalimantan, saya sering mendapat kiriman makanan; abon, sambel goreng kentang, sambal, bahkan bumbu-bumbu instan dikirim. Romo Bangun bilang, “Mungkin umat di Jawa mengira Romo di Kalimantan kekurangan.”

Padahal Tuhan selalu saja mengurus segala keperluan kita. Mau mancing ke sungai, banyak ikan. Ada umat berburu dapat rusa, babi hutan, romo juga kebagian. “Yen gelem obah mesti mamah.” Kalau mau kerja pasti dapat makan.

Tuhan Yesus berkata, “Janganlah kalian kuatir dan berkata, ‘Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kalian memerlukan semuanya itu. Maka carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Janganlah kuatir akan hidupmu. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Ia yang mengutus pasti Ia juga akan mengurus segala keperluan kita. Tuhan yang mencipta, Tuhan pula yang akan memelihara.

Tak ada yang perlu dirisaukan. Jangan menambahi beban hidup kita dengan kekuatiran yang tidak beralasan.

Di Muntilan ada burung Pelikan.
Kemana-mana selalu berdua.
Percayakan dirimu pada Tuhan.
Semua akan berjalan baik-baik saja.

Cawas, menerawang hari…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.06.21 / Jum’at Biasa XI / Matius 6: 19-23

 

“Kematian Pandawa Lima”

SETELAH perang Baratayuda, Pandawa memerintah di Hastinapura. Lama-lama mereka jenuh dengan kemuliaan istana. Oleh Begawan Abiyasa, mereka disarankan hidup mengembara di alam bebas, menjadi manusia merdeka. Ada seekor anjing setia mengikuti mereka.

Ketika menyusuri padang gurun, Drupadi mati lemas. Ini dikarenakan semasa hidup ia berlaku tidak adil, lebih mengasihi Arjuna daripada yang lain. Lalu Sadewa mati. Semasa hidupnya ia merasa paling pintar sendiri. Lalu Nakula juga mati. Ia sombong karena merasa paling tampan.

Arjuna juga mati. Ia takabur dengan kemampuan dirinya dalam olah senjata. Ia merasa paling bisa. Bima juga tumbang dan mati. Ia merasa paling kuat, suka mencari kenikmatan dan tidak tahu tata krama.

Ketika ajal menjemput Yudistira, ia minta agar anjing sahabatnya diijinkan naik ke surga. Dewa tidak mengabulkan. Namun Yudistira tidak mau jika anjingnya tidak bersama dia.

Karena ketulusan dan kebaikan hati Yudistira itu, si anjing setia berubah menjadi dewa Dharma dan bersabda, “Hai makhluk budiman, kebaikan hatimu kau bawa sampai akhir. Semua manusia kau sayangi, bahkan musuh pun kau kasihi. Kebaikan hatimu itulah yang akan mengantarmu ke surga.”

Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, Janganlah kalian mengumpulkan harta di bumi; ngengat dan karat akan merusakkannya, dan pencuri akan membongkar dan mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga. Karena dimana hartamu berada, di situ pula hatimu berada.”

Harta di surga bukan barang-barang duniawi, bukan prestasi, bukan kekuasaan. Adik-adik Yudistira itu mengandalkan hal-hal duniawi. Sadewa mengagungkan kepintaran. Nakula menyombongkan ketampanan, Arjuna mengandalkan ketrampilan, Bima memburu kekuatan. Semua akan hancur dan ditinggalkan.

Yudistira melakukan darma kebaikan kepada semua makhluk, bahkan anjing pun disayangi dan diperlakukan dengan baik. Dengan darma, Yudistira mengumpulkan harta di surga. Dengan menjunjung nilai-nilai kebaikan bagi semua makhluk, Yudistira menjadi cermin bagi kita agar tidak mengejar harta, tahta dan kenikmatan sementara.

Marilah kita melakukan darma kebaikan agar memperoleh kebahagiaan kekal di surga.

Mendung tebal menutupi matahari.
Bunga-bunga pun layu tidak berseri.
Semua manusia di dunia akan mati.
Hanya dharma bakti akan menyertai.

Cawas, merpati putih terbang….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 17.06.21 / Kamis Biasa XI / Matius 6: 7-15

 

“Belajar Mengampuni; Kisah Kim Phuc”

KISAH mengerikan dialami Phan Thi Kim Phuc pada 8 Juni 1972 di desa Trang Bang, Vietnam. Pesawat menjatuhkan bom napalm dan Kim Phuc yang waktu itu berusia 9 tahun berjalan dengan tangis pilu dan telanjang karena tubuhnya terbakar.

Fotonya menjadi foto ikonic perang Vietnam. Tetapi trauma dan dendamnya juga melekat tak bisa terhapus. Setiap melihat foto dirinya, ia marah, sakit hati dan benci pada siapa pun.

Ia protes, “I don’t like my picture. why he took my picture when I was in agony, naked, so ugly?” Karena luka bakar itu ia sangat menderita. Bukan hanya fisik tetapi juga mentalnya

Sepuluh tahun sesudah kejadian, Ia menemukan dan membaca Kitab Suci di perpustakaan Saigon. Lalu Kim Phuc dibaptis pada Hari Natal 1982. Iman akan Kristus mengubah seluruh hidupnya.

Sejak itu ia mengampuni dan mendoakan musuh-musuhnya, mereka yang membuatnya menderita. “Since I have Faith, my enemies list became my prayer list. Wow.. Kim, you pray your enemies. It means you love. Forgiveness set my heart free. I forgive everyone who caused my suffering. Even the pilot, commander, people controlling me.”

Yesus mengubah dan menyembuhkan Kim Phuc dari luka fisik dan batinnya.

Hari ini dalam Injil Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Doa yang sederhana tetapi daya berkatnya luar biasa. Dalam doa itu Yesus mengajarkan kepada kita untuk berani mengampuni.

“Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Yesus menambahkan, “Jikalau kalian mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kalian juga.”

Itulah yang telah dialami Kim Phuc. Ketika dia berani mengampuni dan mendoakan musuh-musuhnya, hatinya terasa dibebaskan dari beban yang berat. “Forgiveness set my heart free.”

Ia mengampuni orang-orang yang membuatnya menderita sengsara; para pilot yang menjatuhkan bom di desanya, para tentara dan komandan, mereka yang menindas rakyat kecil.

Dengan pengampunan dan kasih, Kim Phuc menjalani hidupnya dengan bahagia. Ia menolong banyak anak korban perang. Ia mendampingi mereka yang punya trauma dan ketakutan. Ia mendirikan sekolah dan rumah sakit serta panti asuhan khusus korban perang. Ia yakin pengampunan akan membawa kesembuhan lahir batin.

Mari kita belajar menerima rasa sakit dan mau mengampuni. Karena dengan mengampuni, kita juga akan diampuni Bapa di surga.

Kasihmu sebening embun pagi.
Berkilau disinari matahari.
Mari kita berani mengampuni.
Agar terkikis segala sakit hati.

Cawas, indahnya mengampuni….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 16.06.21 / Rabu Biasa XI / Matius 6: 1-6.16-18

 

“Ingat HM Damsyik, Ingat Datuk Maringgih”

KITA semua kenal pemain sinetron yang total dalam memainkan watak. Dalam sinetron Baratayuda versi India, kita kenal tokoh Sangkuni yang bikin jengkel, marah, benci para pemirsanya. Praneet Bhaat, pemeran Sangkuni adalah aktor ganteng yang dipuja banyak gadis di seluruh dunia.

Dunia sinetron Indonesia juga punya tokoh HM Damsyik yang piawai memainkan peran Datuk Maringgih dalam sinetron Siti Nurbaya. Ingat Damsyik orang langsung ingat Datuk Maringgih. Peran itu sangat melekat pada diri Damsyik. Ia bangga dengan trade mark itu. Jarang ada aktor yang lekat dengan tokoh yang diperankan. Walaupun semua orang tahu kehidupan sehari-harinya sangat jauh dari tokoh antagonis Datuk Maringgih.

Dalam perikope ini Yesus menyebut kata munafik sebanyak tiga kali. “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang-orang munafik. Apabila kalian berdoa, janganlan berdoa seperti orang munafik. Apabila kalian berpuasa, janganlah muram mukamu, seperti orang munafik.”

Dalam Bahasa Yunani munafik diterjemahkan dari kata Hupokrithes (Hypocrite, Inggris) yang artinya seorang pemain drama. Munafik bisa diartikan seorang yang bermuka dua, suka berpura-pura, berbohong, antara perkataan dan perbuatan tidak sesuai.

Dalam Injil tindakan kemunafikan itu dilakukan dengan pameran kesalehan. Pamer memberi sedekah supaya dilihat orang. Pamer berdoa di rumah ibadah atau di tempat umum, biar dilihat orang. Bila berpuasa, mukanya dibuat ‘memelas’ biar dilihat dan dikasihani orang. Mempertontonkan kehidupan baik agar dipandang dan dipuji sebagai orang saleh, suci, taat beribadah. Tetapi kehidupan sejatinya jauh dari yang dipamerkan.

Yesus meminta kita jika berbuat baik tidak perlu dipertontonkan. Jika memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang dilakukan tangan kananmu. Jika berdoa, masuklah ke dalam kamarmu. Jika berpuasa, hiduplah seperti biasa supaya jangan dilihat orang. Hanya Bapa di surga yang tahu segalanya.

Mari kita belajar tulus. Sekurang-kurangnya tidak perlu marah atau sakit hati kalau tidak dipuji, tidak perlu “ngambek atau merajuk” kalau niat baik kita tidak dihargai.

Katanya puasa nasi.
Tapi tiap hari makan bakmi.
Mari kita belajar rendah hati.
Tidak perlu “gila sensasi”

Cawas, lembayung senja….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr