Puncta 27.02.21 / Matius 5:43-48 / Kasihilah Musuhmu

 

GELANGGANG Kurusetra riuh rendah oleh sorak sorai penonton. Mereka melihat latihan perang antara Pandawa dan Kurawa. Ketika lomba memanah, hanya Permadi yang mampu memanah kepala burung dengan tepat. Kartamarma, Durmagati, Puntadewa, bahkan Jaka Pitana, putra sulung raja Hastina pun gagal.

Penonton mengelu-elukan Permadi laksana pahlawan. Hal ini menimbulkan iri hati dan kebencian dalam diri Kurawa. Lebih-lebih Karna Basusena, ia sangat marah semua orang memuja-memuji kehebatan Permadi. Kebencian dan kemarahan itu dilampiaskan dengan menantang kelahi. Tetapi Permadi mengatakan, “Walau pun engkau membenci aku, namun aku justru mengasihimu.”

Mereka berdua tidak tahu kalau darah yang mengalir dalam tubuh mereka adalah darah Kunti, sang ibu. Namun karena Karna ada di pihak Kurawa, ia selalu dibujuk untuk memusuhi adik-adiknya para Pandawa. Kendati dimusuhi, namun Pandawa tidak membalas. Mereka tetap mengasihi Kurawa sebagai saudara-saudaranya.

Hari ini Yesus menekankan lagi pelaksanaan hukum kasih. Kasih bukan hanya ditujukan kepada mereka yang mengasihi kita. tetapi kasih juga tertuju pada mereka yang membenci kita.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Yesus memperbaharui hukum Taurat. Tuntutan Yesus lebih besar dan berat dari apa yang tertulis di kitab Taurat.

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?”

Yesus mengajak para murid-Nya untuk berbuat yang beda dan lebih dari yang lain. Kalau kita bisa mengusahakan yang optimal, mengapa tidak?

Menjadi murid Yesus jangan hanya standar-standar saja, atau seperti pada umumnya. Kita harus di atas standar atau di atas rata-rata, bahkan yang optimal.

Memang target yang dicita-citakan Yesus tidak biasa-biasa saja. Ia menghendaki kita mencapai kesempurnaan sebagaimana Bapa sempurna adanya.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapa yang di surga sempurna adanya.” Apakah itu mungkin? Bagi Allah semua itu mungkin.

Oleh karena itu mari kita terus dan selalu mengusahakan. Jika kita gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi. Gagal, kita terus mencoba lagi.

Ulangtahun hadiahnya gelas.
Isinya juice strawberry.
Jangan kita berhenti berbelas.
Mari kita terus mengasihi.

Cawas, menunggu suntikan kedua….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 26.02.21 / Matius 5:20-26 / AMDG

 

SESANTI atau motto yang dicanangkan oleh St. Ignatius Loyola berbunyi “Ad Maiorem Dei Gloriam.” Ini adalah Bahasa Latin. Istilah Jawanya berbunyi “Amrih Mulya Dalem Gusti.”

Di situ ada kata “maiorem.” Ini berasal dari kata magnus-maior-maximus. Magis artinya besar. Komparatifnya menjadi lebih besar. Namun yang tepat sebetulnya “semakin besar.”

Kemuliaan Tuhan menjadi semakin besar. Kata “semakin” menggambarkan proses, dinamika yang terus menerus.

Semangat magis menunjukkan tindakan atau usaha yang lebih. Bukan soal kuantitas (banyaknya) tetapi menunjuk pada kualitas (mutunya).

Magis adalah sebuah sikap. Sebuah tindakan untuk melakukan yang lebih baik. Kalau sudah baik akan ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Lagi, lagi dan lebih lagi.

Contoh keliru yang sering terjadi dan ini adalah kelemahan kita. Misalnya kita punya produk yang sudah terkenal, laris, menjadi viral, kita bukannya meningkatkan kualitas produk, tetapi justru mencampur dengan bahan lain demi mengejar keuntungan banyak.

Kualitas diturunkan demi mengejar kuantitas. Mutu produk dikurbankan. Akibatnya pelanggan lari karena kualitas rasa berkurang. Seharusnya mutu semakin ditingkatkan lagi.

Hari ini Yesus mengajak para murid-Nya untuk bersikap magis. Memiliki semangat lebih dalam bertindak. “Jika hidup keagamaanmu tidak LEBIH benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sudah merasa ahli. Mereka sudah puas dan bangga disebut ahli-ahli kitab. Mereka tidak punya semangat magis. Kualitas hidup mereka mandeg. Hanya mengikuti standar yang ditentukan.

Yesus mengajak para murid untuk mengejar yang LEBIH, punya sikap magis. Kalau tidak, “kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Apakah kita mau dituntut LEBIH oleh Yesus? atau kita sudah merasa puas dengan hasil yang sekarang ini?

Pergi ke pasar membeli manggis.
Buahnya segar hasil dipetik.
Mari kita punya semangat magis.
Agar hidup menjadi lebih baik.

Cawas, bahagia itu sederhana saja…..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.02.21 / Matius 7:7-12 / Aladin Dan Jin Kartubi

 

LAGU A Whole New World yang cantik menjadi music theme Film Aladin. Aladin adalah pemuda miskin, “tikus jalanan” yang suka mencuri roti di pasar demi hidupnya. Ia jatuh cinta kepada Puteri Jasmine yang cantik jelita. Seperti pungguk merindukan bulan. Cinta yang berbeda kasta dan harta jelas tak mungkin berpadu.

Adalah Jafar, perdana menteri yang ambisius ingin menjadi sultan di Agrabah. Ia memanfaatkan Aladin untuk mengambil lampu ajaib di sebuah gua. Di dalam lampu itu ada jin yang akan mengabulkan segala permintaan.

Aladin tidak sengaja mengusap lampu itu dan keluarlah jin. Jin Kartubi bersujud kepada Aladin, “Hamba siap memenuhi permintaan Tuanku. Ada tiga permintaan yang boleh tuan minta.”

Aladin minta kekayaan. Jin memenuhinya dengan segala harta berlimpah ruah. Karena dia sedang jatuh cinta kepada Puteri Sultan, Aladin minta kepada jin untuk mengubahnya jadi pangeran. Jin langsung mengubah Aladin jadi pangeran instan.

Karena status pangeran abal-abal hasil quick count lembaga survey alam gaib, Aladin harus berbohong dan berpura-pura di hadapan Jasmine.

Justru Puteri Jasmine ingin agar Aladin jadi pria ‘gentleman’, jujur apa adanya. Cintanya kepada Aladin, bukan karena kasta dan harta.

Permintaan ketiga yang dibuat Aladin adalah mengubah Jin Kartubi menjadi manusia normal biasa.

Sabda Yesus kali ini sering disalah-artikan. Seolah-olah kita seperti Aladin yang mengajukan permintaan kepada jin, dan langsung dikabulkan.

Yesus berkata, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Yesus menekankan bahwa Allah itu bapa yang baik hati. Seorang bapa tidak akan tega jika anaknya meminta sesuatu. Doa yang dikabulkan itu adalah kemurahan Tuhan semata.

Jika belum dikabulkan, karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan. Keinginan dan kebutuhan itu beda. Tuhan ingin memberi yang kita butuhkan.

Mintalah, kamu akan diberi. Tuhan tidak berbicara tentang kapan diberi. Yang memilih waktu adalah Tuhan. Bisa sekarang, bisa seminggu, sebulan atau bertahun-tahun baru dipenuhi. Tergantung usaha kita untuk terus meminta.

Apakah kita menganggap Tuhan seperti Jin Kartubi, atau percaya kepada kuasa dan kemurahan Tuhan semata?

Ke pesta memakai baju merah.
Turun ke arena ikut berdansa ria.
Tuhan itu Bapa yang maha murah.
Ia mengasihi kita anak-anak-Nya.

Cawas, menuju hari bahagia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 24.02.21 / Lukas 11:29-32 / Membaca Tanda-Tanda

 

KEPALA BMKG, Dwikorita Karnawati telah memberi tanda berupa peringatan dini akan terjadinya cuaca ekstrem dan hujan lebat di Jakarta pada tanggal 18-19 Februari yang lalu dan bisa meningkat lagi pada 23-24 februari nanti.

Tanda-tanda ini berdasarkan pemantauan satelit agar warga berjaga-jaga dan waspada jika terjadi curah hujan tinggi.

BMKG sudah memberi “warning”, tinggal bagaimana pembuat kebijakan menyikapi supaya warga tidak terendam banjir.

Alam selalu memberi tanda sebagai peringatan kepada kita. Jika gunung Merapi akan meletus, selalu ada tanda-tanda yang mengawalinya. Warga sekitar sangat paham dan peka melihat apa yang terjadi di sekitarnya.

Kalau suhu di sekitar kawah naik, sumber air menjadi kering, ada suara gemuruh disertai gempa kecil-kecil, tumbuhan menjadi layu dan banyak binatang turun ke pemukiman warga, itu adalah tanda “mBah Merapi mau batuk-batuk.”

Orang-orang Yahudi yang mengerumuni Yesus meminta suatu tanda dari surga. Mereka baru akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias kalau Ia membuat suatu tanda yang besar dari surga. Mereka menuntut Yesus membuktikan diri-Nya sebagai utusan Allah.

Yesus berkata, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bai orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini.”

Orang-orang Yahudi itu harus belajar dari masyarakat lereng Merapi. Mereka tidak butuh tanda yang heboh dan sensasional.

Dengan melihat keanehan yang terjadi di sekitar mereka, seperti tumbuhan layu, binatang turun gunung, hawa panas atau mata air kering, mereka paham bahwa Merapi sedang “punya gawe.” Mereka percaya tanda-tanda itu dan siap-siap mengungsi supaya selamat.

Orang Yahudi tidak paham. Yesus yang memelekkan orang buta, membuat orang lumpuh berjalan, orang bisu berbicara, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengar kabar gembira, itu bukan tanda Allah hadir bagi mereka. Mereka butuh tanda besar dan luar biasa dari langit.

Kedegilan dan ketidakpercayaan mereka itulah yang membuat Yesus jengkel. Orang orang Yahudi tertutup hatinya terhadap karya pelayanan Yesus.

Sulit mengubah orang yang tidak mau percaya. Apakah kita masih kurang percaya dan menuntut Yesus membuat tanda-tanda menurut kaca mata manusia?

Rencananya mau pergi ke Jakarta.
Semua transport terhalang hujan.
Bukalah hati melihat tanda-tanda.
Agar kita bisa melihat karya Tuhan.

Cawas, hari-hari sepi……
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.02.21 / Matius 6:7-15 / Belajar Dari Pak Koswara

 

“ALHAMDULILAH akhirnya sepakat damai,” kata Hamidah setelah keluar dari kantor Pengadilan Bandung.

Beberapa waktu lalu, ayahnya Koswara (85) digugat oleh Deden dan Nining yang adalah anaknya sendiri ke meja hijau sehubungan dengan masalah tanah. Tidak tanggung-tanggung Deden menggugat ayahnya ganti rugi sebesar tiga milyar.

Namun setelah melalui mediasi antar keluarga, mereka sepakat berdamai dan saling memaafkan. Deden minta maaf dan bersujud kepada Koswara, ayahnya.

Bapak itu pun dengan meneteskan airmata mengampuni anaknya. Mereka saling berpelukan dan menangis. Masalah diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

Pengampunan itu berkah, besar pahalanya di surga. Saling memaafkan dan mengampuni adalah tindakan paling luhur dari seorang manusia.

Yesus menegaskan hal itu dalam pengajaran tentang doa Bapa Kami. Ia mengajarkan kepada para murid-Nya untuk saling mengampuni. ”Ampunilah kami atas kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Pengampunan itu akan naik ke surga. Kata Yesus, “Jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.”

Berani mengampuni itu sudah langkah maju bagi kita. Ada banyak orang yang tidak mau melangkah untuk mengampuni. Hidup dalam kebencian dan dendam itu seperti burung hantu yang tidak mampu melihat indahnya siang. Ia lebih suka hidup dalam kegelapan malam.

Kalau kita mau mengampuni, kita akan melihat keindahan hidup, penuh damai dan sukacita. Mengampuni itu memang sakit. Tetapi jika kita bisa melewatinya, kita akan hidup secara baru.

Seperti rajawali, ia bisa hidup selama 70 tahun jika ia mau melewati masa sulit yakni transformasi diri. Ia harus melepaskan paruhnya yang lama. Kemudian dengan paruh baru akan melepaskan cakar-cakarnya yang lama. Bulu-bulu yang tebal akan dilepaskan agar tumbuh bulu yang baru. Proses melepaskan itu sungguh menyakitkan. Tetapi jika mampu melewatinya, ia akan hidup panjang.

Begitu juga mengampuni itu berani melepaskan segala dendam. Jika kita mampu membuangnya, kita akan hidup lama dan bahagia.

Pak Koswara itu pasti hidup bahagia, karena dia bisa mengampuni dan melepaskan belenggu dendam dan benci.

Maukah kita melewati masa transformasi diri yakni melepaskan dendam dan benci dengan pengampunan?

Beli susu sapi di Boyolali.
Bikin soda gembira satu porsi.
Mari kita berani mengampuni.
Agar hidup bebas dan damai di hati.

Cawas, persiapan HUT…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 22.02.21 / Pesta Tahta St. Petrus, Rasul / Matius 16:13-19

 

“Rindu Sosok HB IX”

SITUASI prihatin sedang melanda Indonesia. Ada pandemi, ada banjir, gempa dan longsor. Dibutuhkan orang yang mau bekerja, bukan demi pencitraan, tetapi tulus untuk rakyat. Orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, “selesai dengan kepentingan pribadi”, hanya demi rakyat.

Dibutuhkan seorang negarawan, bukan politikus yang suka naik panggung membangun citra diri. Ada banjir malah foto Selfi.

Gusti Raden Mas Dorojatun atau HB IX adalah seorang raja Ngayogjakarta Hadiningrat yang naik tahta sejak 1940-1988. Beliau adalah seorang raja yang “ngayomi” rakyat dan bijaksana. Selain itu beliau juga seorang negarawan yang hanya berpikir untuk kesejahteraan rakyat.

Beliau adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri dengan NKRI. Beliau menentang penjajahan Belanda dan mendukung Republiken. Keraton Jogja menjadi tempat perlindungan bagi pejuang-pejuang NKRI.

Ketika awal kemerdekaan RI, kas negara kosong dan beban ekonomi buruk akibat perang, beliau menyumbangkan kekayaannya sebanyak 6.000.000 gulden untuk membiayai pemerintahan yang kolaps.

Tahta Keraton Jogjakarta bukan diduduki untuk diri sendiri, tetapi untuk memuliakan alam semesta, “Hamengku Buwana”. Tahta keraton adalah tahta untuk rakyat.

Semangat mengabdi dan melayani rakyat itu nampak dalam hidup Sri Sultan HB IX. Rindu punya pemimpin seperti beliau sekarang ini.

Hari ini Gereja memperingati Tahta Santo Petrus. Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan surga.”

Petrus menerima tugas ini dengan setia dan penuh derita. Ia menjaga umat sampai mati sebagai martir di Roma. Kepemimpinan Petrus dilanjutkan oleh para paus sampai sekarang.

Tahta Petrus itu adalah tugas melayani, bukan menguasai tetapi menjaga dan menggembalakan jemaat dengan cintakasih.

Apakah para imam, uskup dan pimpinan gereja sungguh menghayati pelayanan ini?

Banjir melanda di Bukit Duri.
Banyak warga lari mengungsi.
Kita dipanggil untuk mengabdi.
Bukan untuk mengejar citra diri.

Cawas, selamat melayani….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr