by editor | Feb 20, 2021 | Renungan
“Sisyfus Jatuh Lagi”
BELUM ada seminggu masa puasa dimulai. Rabu Abu kemarin kita menerima abu sebagai tanda pertobatan. Hari Selasa aku bilang ke ibu rumah tangga pastoran kalau mau puasa dan pantang daging selama empatpuluh hari.
Kemarin ada tamu dari jauh mengajak makan siang karena dia belum sarapan. Aku mengantarnya ke Warung Sate terkenal di Cawas. “Satenya rekomended, dagingnya empuk dan bumbunya maknyuss” kataku pamer pada teman dari jauh. Ketika sate terhidang dihadapanku, aku tersentak kaget karena baru hari Selasa kemarin aku mencanangkan mau pantang daging.
Mau mundur gak enak sama teman yang mengajak. Mau terus kok aku melanggar pantangku sendiri. Akhirnya dengan alasan menemani teman aku menikmati sate kambing itu. Malamnya aku merenung, untuk apa kita berpuasa, bertobat, kalau toh akhirnya jatuh lagi? Itu sama dengan pertanyaan, “mengapa saya makan kalau toh akhirnya lapar lagi?”
Adalah Sisyfus dari Efira yang membangkang kepada dewa dan bertindak licik dan kejam. Dia dianggap berdosa karena membocorkan rahasia Dewa Zeus. Dia masuk ke neraka dan dihukum. Sisyfus harus mendorong sebongkah batu ke puncak bukit. Ketika sudah sampai di puncak, batu itu menggelinding ke bawah. Dia harus mendorongnya lagi dan lagi, tak pernah selesai. Rasanya seperti sia-sia saja. Tak ada hasil dan selalu gagal.
Hari ini Yesus menguatkan motivasi kita untuk berpuasa. Yesus berpuasa empatpuluh hari di padang gurun. Setelah puasa Dia memberitakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Pertobatan dihubungkan dengan percaya pada Injil.kalau tobat haya berfokus pada usaha diri sendiri, maka kita akan gagal. Pertobatan harus terhubung dengan keyakinan pada Injil yakni Sabda Tuhan.
Injil adalah Kabar Gembira. Kabar yang mana? Kabar tentang kasih setia Allah yang tidak berubah sepanjang zaman. Kendati kita gagal, jatuh, berdosa lagi, tetapi Allah tetap setia. Seperti perjanjian-Nya dengan Nuh bahwa untuk selamanya Allah akan selalu mengasihi manusia.
Puasa atau tobat kita bukan berfokus pada usaha manusiawi kita, melainkan pada kasih setia Allah yang tidak ada habis-habisnya. Kita makan bukan karena kita lapar, tetapi karena kita ingin hidup. Kita puasa bukan karena kita berdosa lagi, tetapi karena Allah tetap setia mengasihi kita. kasih setia Allah tidak berhenti walau kita gagal dan berdosa lagi.
Air menggenang sampai di Bekasi
Hujan terus di wilayah Jakarta
Kalau kita jatuh dan gagal lagi
Allah tetap mengulurkan tangan-Nya
Cawas, menunggu saja….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 20, 2021 | Renungan
SAYA mengagumi dan tidak bosan-bosan membaca kisah hidup St. Yohanes Maria Vianney seorang pastor sederhana di Ars. Ketika belajar di seminari, dia dijuluki mahasiswa yang bodoh. Beberapa kali tidak lulus ujian dan hampir saja tidak bisa ditahbiskan.
Tetapi hidup doa dan devosinya sangat tinggi. Ia mengembangkan kesalehan rohani sepanjang waktu.
Ia dikirim di paroki terpencil di desa Ars, Perancis. Mungkin semacam “dibuang” dan dianggap tidak mampu melayani paroki kota besar karena kurang pintar.
Desa Ars hanya berpenduduk 230 jiwa. Mereka bodoh dan tidak memperhatikan kehidupan beriman. Mereka punya kebiasaan buruk minum dan mabuk di kedai-kedai kopi, dansa-dansi dengan pakaian seronok. Banyak keluarga berantakan. Anak-anak kurang kasih sayang. Mereka miskin dan tidak berpendidikan.
Yohanes Maria datang mengunjungi mereka, bergaul dan menyapa mereka. Hidup doanya yang kuat dan tutur katanya yang lembut menarik banyak orang.
Banyak orang mulai tersentuh. Gereja mulai penuh. Kamar pengakuan tidak pernah sepi. Yohanes Maria makin khusuk berdoa bagi pertobatan jiwa-jiwa. Kesalehan hidupnya menggetarkan hati.
Kampung Ars yang awalnya hanya ratusan jiwa berkembang menjadi ribuan jiwa. Orang dari seluruh Perancis datang ingin bertemu dengan pastor yang saleh, untuk mengaku dosa.
Uskup dulu pernah melarang Yohanes Maria memberi pengakuan dosa, karena dia dianggap bodoh. Tetapi karena kesalehannya, ia duduk di kamar pengakuan, melayani orang sampai 18 jam sehari.
Yesus berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Lewi Mateus yang dianggap orang berdosa dipanggil Yesus. Lewi meninggalkan pekerjaan dan hidupnya. Ia mengikuti Yesus.
Yohanes Maria membuat banyak orang bertobat dan kembali ke pangkuan Gereja. Ia datang untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.
Yohanes Maria pernah berkata, “Menderita dengan penuh kasih, adalah tidak lagi menderita.” Pelayanan, pengorbanan, waktu hidupnya dicurahkan untuk Tuhan demi keselamatan umat.
Pastor yang dianggap bodoh oleh dunia, ternyata dipakai Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Tuhan memang senang bercanda dan bergurau.
Yohanes Baptis Maria Vianney
Imam yang suci gembala jiwa.
Doakanlah kami orang yang berdose,
Agar selamat sampai ke surga.
Cawas, masih terasa kadonya….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 18, 2021 | Renungan
UNTUK mengubah dirinya, dua binatang ular dan ulat ini berpuasa. Ketika akan “nglungsungi” atau melepaskan kulit lama, ular berpuasa. Ia bersembunyi dan tidak makan beberapa waktu. Ada pesan yang bisa dipelajari dari puasanya ular.
Wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Nama ular sebelum dan sesudah berpuasa tetap sama. Makanan ular sebelum dan sesudah puasa juga sama. Cara bergerak sebelum dan sesudah puasa masih sama. Tabiat dan sifatnya sebelum dan sesudah puasa ya tetap sama.
Berbeda dengan ular, ulat binatang paling rakus, suka makan. Tetapi setelah bosan makan, ia lakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasanya sungguh disiapkan secara khusus untuk mengubah kualitas hidupnya. Ia mengasingkan diri, menutup dirinya dengan kepompong yang kuat.
Setelah berminggu-minggu tidak makan, mengasingkan diri, retret pribadi, ulat berubah menjadi makhluk baru yang sangat mempesona yakni kupu-kupu.
Hal apa yang bisa dipetik dari puasanya ulat?
Wajah ulat sesudah puasa berubah menjadi cantik mempesona. Nama ulat berubah menjadi kupu-kupu. Makanan ulat yang sebelumnya daun, kini berubah mencari madu.
Cara bergeraknya, ulat sebelumnya merayap, kini dia terbang tinggi. Tabiat dan sifatnya berubah total, waktu jadi ulat dia merusak alam dengan makan daun sebanyak-banyaknya. Setelah jadi kupu dia membantu penyerbukan, membantu kelangsungan hidup tumbuhan dan bunga. Hidup menjadi lebih indah, semarak dan menyenangkan.
Puasa yang dikehendaki Yesus adalah niat suci yang muncul untuk memperbaharui diri, bukan karena aturan semata atau mencari pujian orang.
Puasa adalah bentuk pertobatan dan pembaharuan diri seperti yang dilakukan ulat. Puasa menghasilkan perubahan dan pembaharuan.
Ulat menjadi kupu-kupu. Dari merusak menjadi membangun dan menghidupkan. Dari wajah buruk menakutkan menjadi cantik menyenangkan. Dari mengkonsumsi makanan yang merusak memilih makanan yang sehat berkualitas. Dari jalan pelan malas merayap, jadi terbang lincah dan tinggi.
Semoga puasa kita sungguh mengubah diri kita. Anda mau berpuasa model ulat atau cara ular?
Pagi-pagi mencari sarapan.
Makan di warung pinggir bypass.
Puasa bukan untuk dipamerkan.
Tetapi mengubah diri jadi berkualitas.
Cawas, hadiah ultah…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 18, 2021 | Renungan
RODRIGO MENDOSA masuk ke bilik kamar pengakuan. Pastor Gabriel dengan tenang mendengarkan pengakuan Mendosa bahwa ia telah membunuh adiknya karena cemburu dan sakit hati.
Untuk menebus dosanya, Mendosa diminta ikut serta para misionaris melayani suku-suku Indian Guarani di pedalaman Brasil.
Biasanya dia naik kuda menangkap orang Indian dijadikan budak. Kini dia berjalan dengan membawa beban berat di pundaknya.
Di tengah medan yang amat sulit, dia memikul segala peralatan besi yang dia pakai untuk mencari budak dan membunuh adiknya.
Dengan memanggul beban berat Mendosa berjalan melewati bukit-bukit berlumpur dan air terjun yang terjal.
Pertobatan Mendosa dijalani dengan meninggalkan pekerjaannya, memburu dan menjual budak.
Sebagai silih dia memikul beban berat serta mengikuti para misionaris mewartakan Injil ke pelosok Suku Indian.
Setelah hidup bersama dengan para misionaris dan melihat bagaimana pelayanan mereka kepada suku-suku Indian, akhirnya Mendosa memutuskan bergabung dalam komunitas dan menjadi imam.
Dalam Injil Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Kenikmatan dunia, kekayaan, kekuasaan ternyata tidak mampu menyelamatkan. Mendosa mengejar hal-hal duniawi. Namun hidupnya tidak bahagia. Dia baru mengalami kebahagiaan ketika berani meninggalkan semua itu dan mencurahkan hidupnya demi Kristus di antara suku Indian.
Bahkan dia berani mati membela iman yang telah ditaburkan di tengah suku-suku Indian yang dia layani.
Beranikah kita memenuhi tuntutan Yesus agar kita pantas menjadi murid-Nya? Maukah kita menyangkal diri, memanggul salib setiap hari dan mengikuti Kristus?
Katanya pada takut kena virus corona.
Tapi pada pergi ke mall-mall dan wisata.
Mari kita berpantang dan berpuasa.
Ikut solider dengan mereka yang menderita.
Cawas, bahagia itu sederhana….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 16, 2021 | Renungan
“Don Diego de la Viega”
ADALAH seorang bangsawan Spanyol yang prihatin terhadap rakyat Meksiko yang terjajah. Ia miris melihat perlakuan penjajah.
Banyak rakyat miskin hidupnya, menderita, dijadikan budak, diperlakukan tidak adil, hidup sengsara. Ia tergerak menolong mereka dengan diam-diam.
Namun supaya orang tidak mengenali dirinya, Diego memakai topeng hitam, pakaian dan jubah serba hitam, topi sombrero lebar. Ia pandai bermain pedang dan berkuda. Ia menjadi pahlawan bagi rakyat kecil.
Semua orang tidak mengenal Don Diego de la Viega. Yang mereka kenal adalah Zorro. Baginya tidak penting siapa Don Diego de la Viega. Yang penting dapat melakukan kebaikan demi rakyat miskin yang tertindas tanpa harus diketahui siapa orangnya.
Hari ini adalah awal masa puasa. Yesus menasehatkan kepada murid-murid-Nya agar tidak melakukan kebaikan supaya diketahui banyak orang.
Ada tiga hal tindakan yang tidak boleh dipamer-pamerkan; Memberi sedekah, berdoa dan berpuasa.
“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.” Demikian juga dalam hal berdoa. “Berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Bahkan kalau sedang berpuasa, janganlah orang sampai tahu kalau kamu sedang berpuasa. “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Kalau kita hanya mengejar pujian dari manusia, kita akan kehilangan berkah dari Tuhan. Pujian manusia tidak akan dibawa mati. Kemurahan Tuhanlah yang akan menyelamatkan kita.
Kita melakukan kebaikan bukan karena pujian. Tetapi karena Allah telah mengasihi kita lebih dahulu.
Mari kita gunakan masa empatpuluh hari ini untuk berbagi kebaikan dengan sesama kita, khususnya mereka yang menderita karena pandemi covid19 ini.
Gunakan waktu ini untuk berbagi, berdoa dan berpuasa. Hidup menjadi berkah bagi sesama.
E-Relasi adalah majalah keluarga,
Bisa didownload dimana saja.
Mari kita berdoa dan berpuasa.
Hidup damai dan berbahagia.
Cawas, senandung doa….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Feb 15, 2021 | Renungan
TAHU GORENG, tempe goreng, pisang goreng, “molen”, ubi goreng banyak dijual di kaki lima pinggir jalan. Di daerah Seturan atau di sepanjang jalan Kaliurang seputaran kampus-kampus, banyak warung tenda berjualan gorengan. Makanan kecil yang murah meriah ini sangat nikmat dimakan sambil ngobrol bareng teman-teman. Gorengan-gorengan ini sangat afdol menjadi teman ngobrol.
Namun ada juga orang atau kelompok yang senang bukan pada gorengan tahu atau pisang, tetapi gorengan isue.
Ada orang yang suka menggoreng-goreng isue, menyebar fitnah dan kebencian, lalu timbul chaos di masyarakat. Isue tentang SARA mudah digoreng untuk mengobarkan permusuhan.
Ketika teroris diberantas, pemerintah dinilai otoriter, melanggar HAM, bertindak kejam. Ketika berita-berita hoax ditertibkan, pemerintah dianggap membungkam kebebasan berpendapat. Gorengan-gorengan isue disebar, bahkan ada yang bermain peran playing victim. Berposisi sebagai korban agar dikasihani.
Dalam perjalanan,Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar berhati-hati. “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Para murid tidak paham dan kurang peka terhadap pengaruh orang Farisi dan Herodes yang merongrong karya pelayanan Yesus.
Dua kelompok ini jelas tidak senang dengan kehadiran Yesus yang mendobrak tatanan agama dan kemasyarakatan. Orang Farisi yang taat hukum Taurat tidak senang dengan Yesus. Kaum Herodian (Kelompok Herodes) merasa diusik posisi kedudukan mereka.
Kedua kelompok ini bersekongkol menjatuhkan Yesus. mereka menjebak Yesus soal pajak. Murid-murid Yesus dituduh melanggar aturan Sabat.
Mereka menggoreng isue untuk menjatuhkan Yesus. Ragi kaum Farisi dan Herodes disebar agar masyarakat terpengaruh lalu menolak Yesus. Kaum Farisi dan Herodian menyebar opini untuk menggagalkan karya Yesus.
Gorengan mereka ya gorengan isue, padahal lebih enak gorengan tahu. Pilih isue atau tahu?
Jokowi bangun waduk di Pacitan.
Di sana juga ada museum dan galeri.
Jangan mudah bermain jadi korban.
Agar banyak orang mengasihani.
Cawas, bersama kita bangkit…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr