Renungan Harian

Puncta 28.05.20 Yohanes 17:20-26 / Ukhuwah Insaniyah

 

DALAM perjalanan pulang dari Ketapang ke Tayap. Aku lewat jalan Pelang Indotani. Setelah melewati warung orang Jawa yang sering kami panggil “Pakde”, motorku selip karena pasir.

Aku jatuh dan tangki motor bocor sehingga bensin membanjir terbuang. Jalanan itu sepi. Hanya satu dua orang lewat. Seorang bapak dengan motor butut lewat dan menolong aku. Ia meminjamkan dirigen di warung Pakde untuk menampung bensin yang sisa.

Aku didorong dengan kakinya di pedal belakang motorku. Kami kembali ke Ketapang. Di tengah jalan kami ngobrol memperkenalkan diri. Ketika aku menyebut identitasku sebagai pastor, dia langsung cerita nyerocos tentang Gusdur.

“Saya ini Gusdurian. Saya sering dengar cerita Gusdur punya hubungan dekat dengan seorang romo di Yogya. Beliau pernah singgah dan sholat di pastoran romo itu. Bahkan ada kamar khusus dengan alat sholat lengkap di sana.”

Aku langsung ingat pasti itu Romo Mangunwijaya waktu di Pastoran Jetis. Ketika kusebut nama Romo Mangun, bapak itu dengan cepat mengiyakan. Dia lalu bercerita tentang ajaran Gusdur.

Dia cerita tentang ukhuwah atau persaudaraan. “Kita ini satu ukhuwah yakni ukhuwah insaniyah, sesama umat manusia yang tinggal di bumi sehingga kita bisa saling tolong menolong, hidup rukun dan bersatu padu.” Aku mengalami dan berjumpa dengan “orang Samaria yang baik hati.”

Dalam doa-Nya Yesus tidak hanya berdoa untuk para murid-Nya, tetapi juga bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya oleh karena pemberitaan Kabar Gembira. Orang-orang yang menerima Yesus karena pewartaan murid-murid-Nya.

Contoh hidup Romo Mangun dan Gusdur itu berhasil membangun sebuah persaudaraan yang akrab dan mesra. Relasi itu diceritakan kepada banyak orang. Saya mendapat imbas dari persaudaraan indah itu.

Yesus mendoakan agar para murid-Nya bersatu, hidup rukun dan damai dengan siapa pun. Sama seperti Dia bersatu dengan Bapa, demikian juga murid-Nya dipanggil untuk bersatu dengan semua orang.

Kasih persaudaraan itu tidak mengenal batas-batas. Ukhuwah insaniyah mengundang kita semua sebagai makhluk sesama ciptaan Tuhan hidup rukun bersaudara.

Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar, Ahmed Al-Thayyeb membangun persaudaraan sebagai sesama insan dengan membuat kesepatakan dalam The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together di Abu Dhabi 4 Februari 2019 yang lalu.

Berdasar doa Yesus agar kita semua bersatu sama seperti Dia bersatu dengan Bapa, kita pun diundang membangun persaudaraan dan persatuan dengan siapa pun juga.

Siang-siang minum jus jambu.
Jangan lupa makan buah pepaya.
Marilah kita semua bersatu padu.
Membangun dunia penuh cinta.

Cawas, menanti hari selasa….
Rm. A.Joko Purwanto, Pr

Puncta 27.05.20 Yohanes 17:11b-19 / Not One Less

 

FILM ini bercerita tentang guru pengganti bernama Wei Minshi. Ia terpaksa menggantikan Pak Guru Gao yang harus pulang ke desanya karena ibunya sakit keras. Di desa itu hanya Wei saja yang pernah sekolah kendati tidak lulus SMP.

Kepala desa menjanjikan kepadanya gaji 50 yuan kalau Pak Gao kembali. Ada banyak nasehat bagaimana ia harus mengajar anak-anak. Pesan penting yang dijadikan judul film ini adalah, “Saat saya kembali saya mau tak satu pun murid pergi dari sekolah ini. Apabila saat saya pulang nanti semua murid saya masih ada, kamu boleh meminta 50 Yuan pada Kepala Desa,” kata Pak Guru Gao.

Ketika ada pencari bakat dari kota ingin mengambil satu anak yang pandai berlari, untuk disekolahkan di kota, Wei ngotot menolaknya. Chang Hui Khe, anak laki-laki paling bandel keluar dari sekolah dan cari kerja di kota.

Bu Guru kecil ini bersama murid-murid lain berusaha mengumpulkan uang untuk bisa mencari Chang Hui Khe di kota. Perjuangan mencari murid yang pergi inilah yang mengharukan. Ia ingin muridnya kembali menjadi satu dan tak seorang pun hilang.

Yesus berdoa kepada Bapa, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku telah menjaga mereka dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.”

Yesus mengerti bahwa sepeninggal-Nya pasti ada banyak kesulitan dan penderitaan bagi para murid. Mereka akan tercerai berai. Maka Yesus berdoa bagi mereka agar mereka bersatu.

Yesus minta kepada Bapa-Nya agar melindungi mereka. “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat.”

Seperti sebatang sapu yang terdiri dari banyak lidi tetap kuat jika bersatu dengan “suh” atau pengikatnya, demikian pun Yesus berharap para murid-Nya tetap bersatu dalan nama-Nya.

Marilah kita menjaga kerukunan dan persatuan agar kita tetap kuat, kompak dan bermanfaat. Sebagaimana doa Yesus, “supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”

Keluarga utuh negara kukuh Gereja “bakuh”. Keluarga utuh masyarakat “pengkuh” atau kuat selamat. Mari kita bangun kerukunan dan persatuan di dalam keluarga.

Bangun subuh, mandi airnya keruh.
Keluarga runtuh, negara bisa jatuh.

Cawas, menjahit baju sobek….
Rm. A.Joko Purwanto, Pr

Puncta 26.05.20 PW. St. Filipus Neri, Imam – Yohanes 17:1-11a / Bangunlah Sorga Selagi Di Dunia

 

GAJAH mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belulang. Manusia mati meninggalkan nama. Nama itu akan diingat dengan dua karakter, baik atau buruk.

Jika perbuatannya di dunia itu membawa kebaikan banyak orang, maka nama baik akan dikenang. Namun sebaliknya, jika hidupnya di dunia itu hanya bikin susah orang, tebarkan kebencian dimana-mana, maka nama buruk yang dikenangkan.

Sorga atau neraka yang dibangun ya tergantung bagaimana perbuatannya di dunia dilakukan. Sorga atau neraka itu bukan soal nanti kalau kita mati. Tetapi kita hidup di dunia ini sudah bisa membangun keselamatan kita kelak.

Kita mau memilih litani atau pidato macam apa waktu kematian tiba, tergantung bagaimana kita menjalani hidup di dunia. Tetapi homili atau pidato kematian itu tidak jujur. Yang disebut hanya puji-pujian dan sanjung-sanjungan.

Ketika Yesus akan berpisah dengan murid-murid-Nya, Ia berdoa kepada Bapa-Nya, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan.”

Kemuliaan di sorga itu bagi Yesus adalah dengan melaksanakan pekerjaan yang Bapa berikan. Pekerjaan-pekerjaan di dunia ini kita lakukan demi kemuliaan Allah.

Begitulah Santo Ignatius Loyola merumuskan tujuan manusia diciptakan pertama-tama adalah untuk memuji dan memuliakan Allah. Orang rela hidup menderita, jika dengan itu nama Allah dimuliakan.

Orang memilih sakit daripada sehat, kalau dengan itu ia bisa memuliakan Allah. Orang berani hidup miskin, daripada banyak harta namun tidak bisa memuliakan Allah. Harta itu hanya titipan, nyawa itu hanya pinjaman.

Bagi Yesus yang utama adalah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan Allah. Ia mewartakan nama Allah kepada mereka yang percaya. Allah itu mengasihi orang miskin.

Allah itu mengampuni orang berdosa. Allah itu menyembuhkan orang sakit. Allah itu menguatkan orang putus asa. Allah itu berpihak pada yang kecil. Allah itu teman bagi yang berdukacita.

Kita tinggal memilih mau ikut Yesus atau ikut setan. Membangun sorga atau terperosok ke neraka. Berbuat baik atau berbuat jahat. Meninggalkan nama baik atau dikenang karena kejahatan kita? Apa yang kita lakukan kini menentukan kemuliaan kita kelak.

Orang disuruh sabar diam di rumah sendiri.
Malah jalan-jalan pergi ke sana ke mari.
Sorga dan neraka bukan urusan nanti.
Tergantung bagaimana kita hidup di dunia ini.

Cawas, sabar….sabar….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.05.20 Yohanes 16:29-33 / Kata Kiasan

 

KALIMAT atau kata-kata kiasan adalah ungkapan untuk membandingkan atau mengibaratkan. Kata Kata kiasan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ibarat atau perbandingan.

Sedangkan makna kias artinya sebuah arti atau makna dari ungkapan atau kata yang mengandung pengibaratan atau pengandaian. Contoh kata-kata kiasan misalnya; kecil hati, muka dua, buah bibir, buah tangan, meja hijau, muka masam, empat mata, mata duitan dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan kecil hati bukan hatinya kecil tetapi penakut. Muka masam berarti sedang cemberut atau tidak suka. Empat mata berarti bicara berdua saja.

Yesus sering mengajar dengan perumpamaan atau perbandingan kepada orang banyak. Misalnya, Kerajaan surga itu seumpama pukat, atau ragi. Kerajaan surga digambarkan seperti seorang yang mengadakan pesta perjamuan atau seorang penabur yang keluar menaburkan benih.

Kadang Dia menggambarkan Diri-Nya sebagai Gembala yang baik atau pokok anggur. Allah yang penuh kerahiman digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang. Banyak sekali gambaran perumpamaan, perbandingan atau kiasan yang dipakai oleh Yesus untuk mengajar tentang Allah.

Ketika tiba saatnya Yesus berpisah dengan murid-murid-Nya, Ia tidak lagi berbicara dengan kiasan. Ia berterus terang menyatakan siapa Diri-Nya. Para murid mulai mengenal Dia. Mereka percaya bahwa Yesus berasal dari Allah.

Dia datang diutus oleh Allah untuk mewahyukan siapakah Allah itu. “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” kata para murid.

Semakin dekat relasi seseorang, komunikasinya makin terbuka dan percaya. Dia akan membuka dirinya dengan terus terang dan percaya bahwa sahabatnya akan menerima apa adanya. Yesus membuka diri-Nya bahwa Mesias harus mati dan ditolak oleh penatua, ahli kitab dan orang Yahudi.

Namun bagi Yesus, itu adalah jalan untuk mengalahkan dunia. Para murid diajak untuk tidak takut mengalami derita dan penganiayaan di dunia. Menjadi murid harus berani meneladan gurunya.

Kita sekarang diajak meneruskan karya Yesus, mewartakan kebenaran dan kasih Allah kepada dunia. Kita akan mengalami kesulitan dan penderitaan. Tetapi Yesus meneguhkan kita, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Bersepeda mengejar senja.
Dia tenggelam di balik awan.
Kita diutus menjadi saksi-Nya.
Wartakan kasih dan kebenaran.

Cawas, sendiri ….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.05.20 Yohanes 16:23b-28 / Anak Kesayangan

 

SAYA adalah cucu kesayangan “simbah” di dusun Gondangan. Simbah itu kakek-nenek. Sejak kecil saya ikut simbah sampai masuk sekolah dasar. Setiap pagi saya ikut menyapu halaman yang luas dengan dua pohon mangga yang besar.

Habis nyapu biasanya saya dibelikan nasi “gudhangan” atau nasi urap. Apa pun yang saya minta diberikan oleh simbah karena rajin membantunya. Kalau di keluarga ada istilah “anak kesayangan.”

Di kelas juga ada sebutan murid kesayangan. Entah anak, murid atau cucu kesayangan menunjukkan relasi dekat di antara keduanya. Antara guru dan murid atau orangtua dan anak ada hubungan yang istimewa. Apa yang diminta akan diberikannya.

Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”

Sabda itu menjelaskan bagaimana Dia mempunyai hubungan istimewa dengan Bapa-Nya. Apa saja yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya akan diberikan-Nya kepada kita. Karena kedekatan Yesus kepada Bapa, maka apa pun akan diberikan.

Jika kita yang berdosa saja bisa memberi hal yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Bapa yang di surga, Ia akan memberikan yang terbaik untuk kita semua.

Yesus adalah Anak kesayangan Bapa. Yesus punya relasi mesra dengan Bapa-Nya. Bapa berkenan pada Yesus putra-Nya. Kematian Yesus menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Bapa. Maka Bapa berkenan membangkitkan Dia dari mati.

Kalau Bapa mengasihi Dia, Bapa juga akan mengasihi kita dalam nama Anak-Nya.Yesus menegaskan kepada kita bahwa Bapa juga mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya.

Yesus berkata, “Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; kini Aku meninggalkan dunia lagi dan pergi kepada Bapa.”

Jangan segan untuk minta kepada Bapa, melalui Yesus,Putera-Nya. Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Allah. Dalam doa itulah kita membangun relasi mesra dengan Allah, sebagaimana Yesus selalu berdoa kepada Bapa-Nya.

Marilah kita khususkan waktu untuk Tuhan. Yesus sudah membukakan ruang Bapa untuk kita, mari kita masuk ke hadirat-Nya.

Isap rokok tembakaunya kuat.
Asapnya memenuhi udara.
Jika hidup kita terasa berat.
Jangan lupa langsung berdoa.

Cawas, sehari tujuh kali…..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr