Puncta 30.10.19 Lukas 13:22-30 / Tidak Cukup Jadi Penonton
PERTANYAAN orang kepada Yesus, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” sebenarnya mewakili pertanyaan kita semua.
Orang itu bisa diisi dengan nama siapa pun dari kita. kalau saya nanti mati, apakah saya akan selamat? Bagaimana hidup sesudah kematian? Apakah saya naik ke surga atau masuk ke neraka? Apakah ada hidup bahagia setelah kematian nanti?
Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan kita. siapa yang mengetahui kehidupan sesudah kematian ini?
Keselamatan itu ibarat memasuki sebuah pintu yang sempit. Begitulah Yesus menjelaskannya. Banyak orang berusaha untuk masuk ke dalamnya, tetapi tidak akan dapat.
Untuk mencapai keselamatan itu ternyata tidak mudah. Orang harus berjuang susah payah. Orang tidak cukup hanya menjadi penonton. Orang-orang itu berkata,
“Kami telah makan dan minum di hadapanMu, dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.”
Orang tidak cukup hanya menjadi pendengar dan ikut makan dan minum. Kita dituntut untuk menjadi pelaksana sabdaNya.
Ikut makan dan minum itu bisa disamakan sebagai ekaristi. “Engkau telah mengajar” berarti mendengarkan firman. Mengikuti ekaristi dan mendengarkan sabda saja tidak cukup.
Yang penting adalah perwujudannya. Sesudah ikut ekaristi dan mendengarkan sabda itu apa action kongkretnya? Sesudah ekaristi, imam berkata, “Pergilah kalian diutus”.
Sadarkan kita diutus untuk apa? Untuk mewujudkan buah-buah ekaristi dan pewartaan sabda Allah itu. Untuk menjadi pelaksana sabda.
Sabda Allah itu akan mewujud kalau kita berani melakukan tindakan nyata. Tindakan kebaikan itulah yang akan mempengaruhi keselamatan kita.
Dengan kata lain kita tidak boleh hanya jadi penonton. Tetapi harus berani menjadi pelaku firman. Kalau kita tidak mau melaksanakan, maka akan ada yang merebutnya.
Ada orang datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan. Mereka akan duduk makan dalam Kerajaan Allah. Banyak orang sudah antri.
Kalau kita tidak mau, maka akan ada yang terdahulu menjadi terakhir dan yang terakhir menjadi yang terdahulu.
Keselamatan itu harus dikejar, tidak boleh kita hanya santai-santai saja. Kalau kita terlambat, orang lain di belakang kita akan mendahului. Ayo jangan buang kesempatan untuk memperoleh tiket keselamatan.
Ke Klaten membeli sirsat
Jatuh di jalan kakinya sakit
Kalau kita ingin selamat
Jangan tunda berbuat baik
Cawas, suatu malam remang-remang
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 29.10.19 Lukas 13:18-21 / Dimana Peran Allah ?
DI ANTARA negara-negara Eropa, Belanda adalah negara yang paling parah menjaga nilai-nilai kekristenan.
Negara lain seperti Perancis, Spanyol, Portugal, Italy masih punya tradisi iman Kristen. Di Belanda perkawinan sesama jenis dilegalkan. Aborsi dilindungi undang-undang.
Faktor yang menyebabkan kemunduran itu disinyalir adalah berkembangnya sekularisme. Gereja Belanda dikelola dengan model birokrasi pemerintahan dan pola managemen modern. Semuanya diukur dengan pola pikir duniawi.
Kita lupa bahwa karya Roh Allah itu ada. Gereja sebagai institusi rohani justru meminggirkan peran Roh Allah yang tidak kelihatan dan tak bisa diukur hanya dengan indikasi-indikasi modern dan canggih.
Roh Allah bekerja melalui tangan-tangan yang tidak kelihatan. Gereja ada sampai sekarang itu karena Allah yang bekerja.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan bagaimana Kerajaan Allah itu tumbuh dan berkembang.
“Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya. Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.”
Biji dan ragi itu sama-sama berkembang, namun kita tidak mengetahuinya. Roh Allah itu juga berkarya tetapi kita tidak mampu mengetahuinya. Ia seperti angin.
Kita tidak melihat tetapi hanya bisa merasakan desirannya. Kelemahan kita sebagai manusia hanya bisa mengukur segalanya dengan panca indera. Kita lalu jatuh pada hal-hal yang nampak melalui indera kita saja.
Padahal Roh itu berkarya mengatasi hal-hal yang terserap indera kita. Kalau iman kita hanya diukur dari apa yang nampak, kita membatasi karya Roh.
Di gereja kita juga sedang berkembang bahwa segala sesuatu harus bisa diukur, program harus terukur pasti.
Ada macam-macam istilah outcomes, milestone, indikator, sasaran strategis, roadmap, proyek, resiko, review dan aneka istilah teknis managemen modern.
Dimanakah peran Roh Kudus kita tempatkan? Bisa saja ahli teologi menjelaskan secara teoritis biblis. Tetapi jangan lupa bahwa Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi dan ragi yang tumbuh berkembang.
Allah itu berkarya. Bukan hanya manusia yang bekerja, tetapi Allah dengan caranya yang tersembunyi juga bekerja. Kita tidak boleh memuja teori-teori buatan manusia itu melebihi peran Allah.
Gereja Belanda bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Melupakan peran Allah hanya akan menghancurkan gereja itu sendiri.
Jangan memelihara anak macan
Suatu saat dia akan memangsa kita sendiri
Kalau kita mengabaikan peran Tuhan
Kita akan hancur dan tak lama akan mati
Cawas, malam yang sepi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 28.10.19 Lukas 6:12-19 / Discerment of Spirit
Yesus berdoa semalam-malaman. Ia mau membuat keputusan penting yakni memilih murid-murdNya. Mereka itu akan menjadi perpanjangan karya keselamatan yang Dia wartakan.
Yesus sedang membuat discerment of spirit. Ia membawa doaNya kepada BapaNya. Ia berdialog dengan Bapa tentang siapa saja yang akan menjadi murid-muridNya.
Ia butuh waktu yang panjang untuk berdoa karena hal ini adalah penentuan. Dalam banyak kesempatan Yesus membutuhkan waktu lama dalam doa karena Ia membuat keputusan penting.
Keesokan harinya, Ia memilih dari antara mereka duabelas orang yang disebut Nya rasul. Angka duabelas mengingatkan kita pada duabelas suku Israel.
Pasti Yesus tidak asal memilih duabelas atau sebelas atau sepuluh. Pilihan itu tentu ada maksudNya. Orang Yahudi akan melihat duabelas ini seperti keduabelas suku Israel.
Itu berarti Yesus ingin membentuk “Israel baru”. Seperti Israel yang dibawa Musa keluar dari penjajahan Mesir, Yesus ingin membawa Israel baru menuju kebebasan anak-anak Allah.
Setelah Yesus memilih mereka, langsung Yesus turun bersama mereka dan berhenti di suatu tempat dimana orang banyak yang berkumpul untuk mendengarkan dan mohon disembuhkan dari berbagai penyakit.
Para murid langsung diajak terjun ikut terlibat dalam karya Yesus. Keduabelas murid itu langsung diajak “praktek”, terjun langsung melakukan karya pelayanan.
Yesus mengajar, menyembuhkan orang-orang sakit dan ada kuasa yang keluar dari padaNya. Semua orang ingin menjamahya.
Kita juga sudah dipilih leh Yesus. Kita dibaptis untuk mengikuti Yesus. Baptisan itu membuat kita menjadi muridNya dan diajak ikut berkarya seperti Dia.
Kita juga diundang ikut mewartakan Kabar Gembira kepada orang lain. Sebagaimana Yesus mempunyai kekuatan karya dalam relasi yang khusus dengan BapaNya, kita pun diundang untuk membangun relasi intim dengan Allah.
Kalau doa kita mendalam, maka karya kita juga akan mengena. Daya doa itu sangat kuat sehingga banyak orang berusaha menjamahNya. Jika kita kuat dalam doa, maka juga akan ada kekuatan yang keluar dari karya-karya kita.
Mancing di kali mendapat banyak ikan
Ikan yang besar dijala di tengah lautan
Doa yang mendalam kepada Tuhan
Bisa menumbuhkan pengharapan dan kesembuhan
Cawas, siang yang sangat panas
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 27.10.19 Minggu Biasa XXX Lukas 18:9-14 / Doa Bisa Berbahaya
SEORANG bapak pernah mengeluh mengapa tidak mau pergi ke doa-doa lingkungan. Doa lingkungan kadang disalahgunakan.
Pemimpin menggunakan doa untuk menyindir, memarahi, menunjuk kesalahan orang atau membanding-bandingkan.
Umat yang hadir menjadi tidak nyaman dan akhirnya enggan datang ikut doa-doa di lingkungan.
Bacaan Injil hari ini bercerita bagaimana dua orang berdoa. Orang Farisi merasa paling benar di hadapan Allah.
Ia membenarkan dan membandingkan dirinya bahwa ia tidak sama dengan orang lain. Ia bersyukur karena bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai.
Ia membandingkan dengan orang lain. Ia merasa paling baik hidupnya dibanding pemungut cukai itu.
Doa dipakai untuk membenarkan diri di hadapan Allah. Ia menyombongkan jasa-jasanya di depan Tuhan.
Sementara pemungut cukai itu hanya berdiri jauh dan tidak berani maju ke depan. Ia menyesali semua dosa-dosanya di hadapan Tuhan dan mohon pengampunan.
Bahkan untuk menengadah ke langit saja, ia tidak berani. Ia mengakui ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan. Doanya singkat dalam penyesalan yang mendalam, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Yesus menegaskan pemungut cukai itu pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah. kesimpulanNya disampaikan demikian,
“Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Bacaan pertama juga menggambarkan bagaimana Allah mengasihi orang miskin, yatim piatu, para janda. Orang-orang tertindas selalu ada di hati Tuhan.
Doa mereka membubung tinggi dan didengarkan Tuhan. Allah berpihak kepada mereka. Karena mereka hanya bisa bergantung pada belaskasih Tuhan.
Doa kepada Tuhan bukan tempat untuk membandingkan atau bahkan membenarkan diri. Kita tidak punya jasa apa-apa di hadapanNya. Tidak ada yang bisa kita banggakan di hadapan Tuhan.
Doa adalah sikap hati yang memuliakan Tuhan. Doa adalah tempat kita bersujud dan merendahkan diri karena Allah maha kuasa.
Marilah kita berdoa degan baik, bukan untuk mengadili sesama, bukan untuk menyombongkan diri dan merasa paling benar. Doa adalah tempat memuliakan Allah dan manusia.
Siang-siang minum juice mangga
Buah mangga manis rasanya
Doa itu bisa menjadi senjata
Tetapi bukan untuk memetikan sesama
Cawas, siang yang panas
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 26.10.19 Lukas 13:1-9 / Menari Di atas Penderitaan Orang Lain
KITA kadang melihat dalam suatu pertandingan, jika penonton kecewa terhadap seorang pemain, mereka serentak mencemooh dengan teriakan “huuuuuuuu..”
Hal ini dialami oleh Andritany kapten tim sekaligus penjaga gawang timnas Indonesia yang mengalami kekalahan kedua dari Tim Thailand dalam laga Piala Dunia 2022 Zona Asia Grup G.
Setiap kali memegang bola, Andritany dicemooh oleh penonton kita sendiri di Stadion Bung Karno. Begitu juga pelatih Timnas Indonesia, Mcmenemy juga disoraki oleh penonton.
Tahunya penonton, kita harus selalu menang. Maka kalau mengalami kekalahan, penonton kecewa dan tidak mau terima.
Hal itu tidak hanya terjadi di lapangan. Teriakan cemooh itu sering juga terdengar di panggung atau di depan kelas.
Jika seseorang melakukan kesalahan, spontan dan sontak orang akan berteriak mencemooh.
Yesus menghadapi peristiwa yang sama. Orang-orang datang kepadaNya dengan membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus dan darahnya bercampur dengan darah kurban yang mereka persembahkan.
Orang-orang yang mati secara demikian mereka anggap sebagai orang berdosa. Darah mereka mengotori persembahan.
Atau nasib delapan belas orang yang mati tertimpa menara dekat Siloam dituduh sebagai orang yang dosanya paling berat.
Orang-orang itu “nyokurke” kesalahan dan penderitaan orang lain. Mereka merasa paling benar.
Yesus mengecam tindakan orang-orang ini. “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain karena mereka mengalami nasib itu? Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati tertimpa menara dekat Siloam lebih besar kesalahannya daripada semua orang yang tinggal di Yerusalem? Tidak, kata Yesus. Kalau kalian tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara yang demikian.”
Kita ini mudah sekali menyalahkan orang lain. Menganggap diri paling benar. Kita ini suka menari di atas penderitaan orang lain. Senang jika orang lain salah, jatuh, malu.
Lalu kita menyoraki dengan cemoohan, cibiran, hinaan dengan kata dan sikap yang menyakitkan.
Kita lupa kalau kita juga bisa melakukan kesalahan yang sama. Bagaimana kalau saya atau kita yang diperlakukan seperti itu?
Tindakan Yesus lain. Ia menunjukkan belaskasih Allah. Ia akan memberi kesempatan kepada pohon ara untuk tumbuh berkembang.
Ia seperti pengurus kebun anggur yang mencangkul, memupuk agar pohon ara itu berbuah. Penonton yang mencemooh itu mematikan bukan menghidupkan semangat.
Mereka menari di atas penderitaan orang lain. Kita harus meniru tindakan Yesus yang memberi harapan masa depan agar orang tumbuh berkembang.
Susahnya kalau lagi sakit masuk angin
Obat paling mudah yakni dikeroki
Jangan suka menari di atas derita orang lain
Derita yang lebih parah akan kalian alami.
Cawas, sore yang bersemangat
Rm. A. Joko Purwanto Pr.