Puncta Senin, 12.08.19 Matius 17:22-27 / Batu Sandungan
BATU yang semestinya menjadi penopang bangunan yang kokoh, namun kalau dia salah tempat akan menjadi pengganggu jalan.Bisa-bisa malah mencelakakan orang yang lewat.
Itulah yang dimaksudkan dengan batu sandungan. Karena salah menempatkan diri, batu yang semestinya menjadi kekuatan namun justru menjadi sandungan.
Orang dianggap sebagai batu sandungan jika tingkah laku atau sikap hidupnya tidak sesuai dengan posisi atau kedudukannya.
Seorang yang semestinya dihormati secara moral tetapi hidupnya justru menyimpang dari nilai-nilai moral yang dianut masyarakat.
Misalnya seorang anggota dewan yang harusnya memberi contoh taat pajak, namun melaporkan LHKPN saja enggan.
Seorang pemimpin yang mestinya tidak korupsi, namun bisa kena tangkap tangan KPK karena korupsi. Seorang aparat yang seharusnya taat pada peraturan lalu lintas, tetapi malah melanggarnya.
Sikap atau tindakan seseorang yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip moral bisa menjadi batu sandungan bagi kehidupan bersama.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Yesus taat pada aturan masyarakat. Ia menyuruh Simon untuk membayar pajak kepada negara. “Tetapi agar kita jangan menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutna, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambilah itu dan bayarlah kepada mereka, bagiKu dan bagimu.”
Tindakan itu diharapkan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kita diharapkan berlaku jujur dan lurus. Dapat menjadi contoh bagi orang lain.
Jika rakyat berlaku demikian, apalagi para pemimpin yang dituntut lebih dari orang kebanyakan. Seorang tokoh masyarakat semestinya dapat menjadi teladan hidup.
Janganlah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jika kita minim teladan hidup, maka kita mengalami kesulitan menemukan role model hidup baik.
Marilah kita menciptakan tokoh-tokoh panutan di dalam kehidupan masyarakat. Kita semua ikut bertanggungjawab menjadi role model bagi sekitar kita.
Hitung satu dua tiga empat
Gerak jalan berbaris rapi
Menjadi contoh teladan di masyarakat
Bisa dimulai dari keluarga sendiri
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta Minggu 11.08.19 Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga Lukas 1: 39-56 / Maria Ratu Surgawi
DOGMA Maria diangkat ke surga jiwa dan raganya diumumkan Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.
Dogma adalah ajaran tertinggi Gereja yang berisi tentang keyakinan iman. Dogma ini tidak datang serta merta, tetapi diyakini dan sudah hidup di tengah umat sejak lama.
Aneka keyakinan, devosi, penyembahan, penghormatan secara khusus diberikan kepada Maria yang adalah Bunda yang melahirkan Penebus sudah berkembang di tengah umat.
Seratus tahun sebelumnya, Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanda dosa” kepada Bernadette. Makin dalamlah keyakinan umat kepada Maria.
Keprihatinan Paus akan situasi dunia memasuki abad 20 yang dikuasai oleh nafsu peperangan, perampasan hak hidup, penodaan terhadap martabat manusia.
Manusia sebagai cira Allah tidak dihromati lagi. Dogma Maria diangkat ke surga ini mau mengembalikan penghargaan manusia sebagai ciptaan luhur.
Bercermin dari kesetiaan dan kerendahan hati Maria, kita diundang untuk menjunjung martabat manusia.
Bacaan Injil hari ini mengungkapkan bagaimana Maria menghargai sesamanya, Elisabet, yang sedang mengandung. Ia datang mengunjunginya.
Ia memberi kegembiraan bukan saja kepada Elisabet, tetapi juga untuk bayi yang dikandungnya. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, dan Elisabet pun penuh dengan kuasa Roh Kudus.
Kidung Magnificat adalah ungkapan seorang perawan yang suci dan rendah hati di hadapan Tuhan. Ia adalah orang yang percaya penuh kepada penyelenggaraan Tuhan.
Allah yang mahakasih itu mendengarkan dan peduli kepada orang yang rendah. Maria menyusuri jalan kehidupannya dengan tersembunyi, hening penuh kekhidmatan dan tawakal di hadapan Allah.
Ketulusan dan kerendahan hatinya dimuliakan oleh Allah dengan kehidupan abadi di surga. Seperti yang diberitahukannya kepada Bernadete, bahwa Ia tidak menjanjikan kebahagiaan di dunia ini, tetapi bahwa kebahagiaan itu akan menunggunya di surga. Dengan demikian kita yakin bahwa Maria adalah Ratu mulia di surga.
Maria adalah ibu kita. berdoalah kepadanya, kita akan mengalami kuasa kasihnya. Bunda Maria yang bertahta di surga, doakanlah kami semua.
Berziarah ke Gua Sriningsih
Bersimpuh doa di bawah pohon angsana
Maria adalah ibu yang penuh belaskasih
Tidak ada doa yang kembali kosong hampa
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta Sabtu, 10.08.19 Pesta St. Laurensius Yohanes 12:24-26 / Martir Putih
DIAKON Laurensius menjadi pelayan Paus Sixtus II (257-258). Ketika Paus ditangkap oleh Perfek Roma untuk menyerahkan harta kekayaan Gereja, Laurensius berkata,
“Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya.” Sixtus terharu mendengar kata-kata Laurensius itu.
Lalu ia berkata: “Janganlah sedih dan menangis, anakku! Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi”.
Ketika Perfek Roma tahu bahwa yang mengurus harta Gereja adalah Laurensius maka dia juga ditangkap. Waktu diinterogasi, Laurensius bersedia menyerahkan seluruh harta Gereja.
Maka dia diberi waktu tiga hari. Ketika hari tiba untuk menyerahkan seluruh harta Gereja, Laurensius membawa seluruh umat yang miskin, terlantar, sakit, dan cacat.
Ia berkata kepada Perfek Roma, “Inilah harta Gereja yang saya jaga selama ini. Terimalah dan peliharalah mereka dengan baik.”
Kata-kata Laurensius ini dianggap mengolok Perfek Roma. Maka dia ditangkap dan dibakar hidup-hidup sampai mati.
Hari ini Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku, dan dimana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Barangispa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”
Sanguis Martyrum semen Christianorum, darah para martir adalah benih subur kekristenan. Kematian Santo Laurensius menyuburkan iman umat.
Karena pengorbanannya, iman umat justru berkembang subur. Benih yang mati akan menghasilkan banyak buah. Laurensius tidak menyayangkan nyawanya sendiri.
Ia justru memperoleh kehidupan abadi. Namanya dikenang untuk selamanya. Laurensius memberi contoh kesetiaan sebagai pelayan Kristus. “dimana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada.”
Zaman kini masih dibutuhkan semangat kemartiran. Pengikut Kristus dituntut menyangkal diri, memanggul salib dan mengikuti Dia.
Martir sekarang tidak harus menumpahkan darah, tetapi berani menjadi pelayan bagi sesamanya. Mari kita wujudkan dalam hidup nyata.
Di jalan banyak bendera putih dan merah
Untuk peringatan hari proklamasi
Martir zaman ini bukan dengan darah
Namun berani berkorban dan menyangkal diri
Berkah Dalem,
Rm. A Joko Purwanto Pr
Puncta Jum’at, 09.08.19 Matius 16: 24-28 / Berani Memanggul Salib
“Dadi wong Katolik iku ora gampang” kata mBah Bayan sambil minum teh panas di kapel Paulus. Setelah misa pagi kami masih ngobrol-ngobrol di gereja.
“Mengapa tidak mudah mBah? Saya bertanya. “Kita ini kecil, harus bisa menjadi contoh teladan di tengah masyarakat supaya diterima dan diakui. Untuk bisa jadi teladan harus mau berkorban, tidak memikirkan diri sendiri dan berani menghadapi kesulitan.”
Begitu ceritanya. Beliau sebenarnya sudah tua, ingin melepaskan tugas sebagai pelayan masyarakat. Tetapi rakyat masih menghendaki beliau menjadi tokoh panutan yang bisa menyatukan seluruh warga.
“Dalam melayani masyarakat, saya berdiri di atas semua warga. Saya tidak memamerkan identitas agama saya. Saya ini milik semua. Itulah penyangkalan diri saya.” Kata mBah Bayan sambil nyeruput teh panas.
Hari ini Yesus memberikan syarat bagi para pengikutNya. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.”
Ada banyak peluang dan kesempatan untuk mengikuti Yesus. Tetapi memang tidak mudah menjadi muridNya. Ada banyak kesulitan dan tantangan.
Padahal zaman ini orang lebih suka mencari yang mudah, cepat, serba instan, sukses, berhasil, tak perlu susah-susah berjuang. Hal-hal yang berbau “sosial”, relawan, kerja bakti, dengan mudah dihindari.
Menyangkal diri mengandung arti mau mengorbankan diri, tidak mencari popularitas, melayani dengan dedikasi tanpa menuntut pamrih. Memanggul salib berarti mau menderita dan berjuang dengan sabar.
Mengikuti Yesus berarti mau hidup seperti Dia. Menjadi Alter Christus. Semua tingkah laku, tutur kata, pola pikir dan gerak langkah mengikuti Yesus sendiri. Yesus yang menjadi pola langkah kita.
Memang tidak mudah. Tetapi tidak ada yang mustahil. Ada banyak contoh-contoh di sekitar kita, orang-orang yang dengan tekun dan sabar memanggul salib dan mengikutiNya.
Kalau kita yakin, kita pasti bisa. Beranikah anda memanggul salib dan mengikutiNya?
Ke Kaliurang membeli jadah
Jangan lupa dengan tempe bacemnya
Mengikuti Yesus tidak mudah
Harus menyangkal diri dan memanggul salibNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta Kamis, 08.08.19 Matius 16:13-23 / Suster Ludgardis
SAYA mempunyai guru agama di sekolah, namanya Sr. Ludgardis OSU. Saya pernah mendapat hadiah sebuah gambar foto pemandangan dengan tulisan “life is beautiful.”
Gambar itu saya jadikan sekat buku dan menjadi penyemangat belajar saya. Hidup itu indah. Hadiah itu saya terima karena ulangan agama saya baik.
Suster itu memberi tugas kepada kami untuk membuat karangan yang judulnya cita-citaku. Entah kenapa, saya menuliskan di kertas tugas itu dan bercerita bahwa saya ingin menjadi imam.
Suster itu memberi komentar di bawah karangan saya, “Joko, kamu pasti bisa. Doaku selalu.” Suster itu sekarang sudah di surga.
Ketika saya masih di Seminari, saya mendengar berita bahwa Sr. Ludgardis mengalami kecelakaan dengan anak-anak asramanya di Flores. Saya yakin dia masih tetap mendoakan saya di surga sampai saat ini.
Dalam bacaan Injil hari ini, Simon menjawab pertanyaan Yesus dengan tepat. Yesus bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Maka jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Karena jawaban itu, Simon mendapatkan reward dari Yesus,
“Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaatKu, dan alam maut tak akan menguasainya.”
Iman itu bertumbuh. Begitu juga panggilan. Ketika para murid ditanya Yesus tentang kata orang, mereka mudah menjawabnya. Maka nyerocos mereka menjawab pertanyaan itu.
Ada yang menyebut ini kek, itu kek, siapalah, yang begitulah, yang inilah. Pokoknya mereka fasih mengulang jawaban orang.
Tetapi ketika ditanya menurutmu sendiri, siapakah Aku ini? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang berisi pengalaman pribadi.
“Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” adalah pengalaman iman yang personal antara Petrus dengan Yesus.
Saya alami panggilan menjadi imam muncul karena dorongan eksternal. Tetapi panggilan itu berkembang menjadi pengalaman personal karena merasa dicintai Allah dan ketika mengalaminya adalah sesuatu yang indah.
Life is beautiful memang benar-benar indah. Seperti menikmati langit berwarna keemasan di waktu senja.
Petrus bertumbuh imannya karena berjumpa dengan Yesus. Ia yang seorang nelayan kampung menjadi batu karang kuat dimana Gereja hidup sampai sekarang. Apakah iman anda juga bertumbuh ketika berjumpa dengan Yesus?
Menikmati senja di ufuk barat
Dari sore sampai pukul enam seperempat
Iman akan tumbuh menjadi kuat
Kalau kita berpegang pada Yesus Sang Juru Selamat
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr