Renungan Harian

Puncta 13.02.21 // Markus 8:1-10

 

“Pitulungan”

ANGKA tujuh punya banyak makna dalam kehidupan manusia. Di Jawa, angka tujuh disebut pitu bermakna “pitulungan” atau pertolongan. Syukuran bayi di dalam kandungan diadakan setelah tujuh bulan atau “mitoni.”. Begitu juga seorang anak akan mulai menapakkan kakinya di tanah setelah umur tujuh bulan. Ini disebut ritual “tedhak siten.” Ada doa tujuh hari setelah kematian.

Di China angka tujuh dihubungkan dengan kehidupan gadis. Gigi susu seorang gadis tumbuh pada usia tujuh bulan dan lepas pada usia tujuh tahun. 2 x 7 tahun seorang anak gadis mulai masa puber. 7 x 7 tahun seorang perempuan akan mulai menopause.

Angka tujuh dipercaya sebagai angka sempurna, keberuntungan dan penuh makna.

Mungkin itu juga yang membuat Christiano Ronaldo memilih angka 7 sebagai penggocek bola ternama di dunia.

Dalam Kitab Kejadian, kisah penciptaan selesai pada hari ketujuh. Hari ketujuh itu dikuduskan bagi Tuhan sampai sekarang. Sesudah 7 x 7 tahun diadakan tahun Yobel atau tahun pembebasan.

Dalam Kitab Wahyu, Yohanes banyak menulis angka tujuh. Ada tujuh gereja, tujuh sangkakala, tujuh meterai, tujuh cawan dan malaikat.

Dalam Injil hari ini Yesus membuat mukjijat dengan menggandakan tujuh roti. Dari ketujuh roti itu ada sisa tujuh bakul.

Kisah ini menggambarkan peristiwa ekaristi. Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid untuk dibagi-bagikan.

Ekaristi adalah sakramen gereja. Ada tujuh sakramen dalam gereja. Ekaristi adalah sakramen dimana Yesus memberikan diri-Nya bagi keselamatan kita.

Jika hidup kita disemangati oleh ekaristi, maka kita juga tidak segan untuk berbagi. Hidup kita ini adalah pemberian Tuhan.

Hidup kita bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan supaya makin banyak berkat. Mari kita semakin menjadi berkat bagi banyak orang.

Pakai masker menutupi pipi.
Senyum lebar tak kelihatan gigi.
Jika hidup kita semakin ekaristi.
Maka kita pun siap untuk berbagi.

Cawas, Gong Xie Fat Choi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.02.21 / Markus 7:31-37 / “Efata” The Miracle Worker

 

DALAM buku hariannya, Anne Sulivan menulis tentang Helen Keller, “bagaimana bisa mendisiplinkan, tanpa mematahkan semangatnya.” Itulah yang dia kerjakan untuk mendidik Helen yang bisu tuli. Dengan susah payah dia mengajarkan kode-kode agar bisa berkomunikasi dengan Helen. Itulah gambaran kisah Helen Keller dalam Film The Miracle Worker.

Pelajaran yang paling dramatis adalah ketika dia berhasil mengajak Helen mengeja “W-A-T-E-R”. Helen dibopong ke halaman. Dia taruh tangannya di pompa air. Air keluar dari pompa. Helen merasakan dinginnya. Anne mengeja kode-kode huruf di telapak tangan Helen. Pelan-pelan mulut Helen mengeluarkan suara, “WATER.” Dari situ Helen mulai bisa sedikit-sedikit belajar bicara.

Terbukalah dunia luas bagi Helen Keller. Setelah bisa membaca, dia belajar di sekolah dan berhasil menamatkan gelar kesarjanaannya. Helen Keller banyak menulis kisah hidupnya. Ia menjadi dosen, motivator dan inspirasi bagi mereka yang mengalami kendala fisik. Ia dikenang sebagai aktivis bagi para penyandang disabilitas dan dihormati di seluruh dunia.

Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap. Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Lalu Ia berkata dengan suara keras, “Efata” artinya Terbukalah. Orang itu kemudian bisa berkata-kata dengan baik.

Setelah sembuh, orang itu menceritakannya kepada semua orang. Makin dilarang justru makin luas dia menceritakannya. Kebaikan Tuhan harus diwartakan. Apakah anda bisa merasakan kebaikan Tuhan? Apakah anda sudah mewartakannya kepada orang lain? Hal-hal baik jangan disimpan untuk diri sendiri. Tetapi wartakan dan bagikan kepada banyak orang. Itu adalah berkah.

Kita diberi mulut yang baik, sebarkan kebaikan. Kita diberi telinga yang sehat, dengarkan hal-hal yang bermanfaat.

Kita sudah diberi anugerah Allah
Jangan lupa bagikan menjadi berkah

Cawas, merenda waktu…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 11.02.21 / Markus 7:24-30 / Melawan Rasisme

 

KETIKA Barcelona bertanding melawan klub Villareal, bek sayap Dani Alves, pemain Barcelona mendapat perlakuan rasis dari penonton lawan. Ada seorang penonton melempar pisang ke arah Dani Alves.

Tindakan itu adalah penghinaan. Menyamakan manusia dengan makhluk pemakan pisang. Pelecehan rasis seperti itu sangat memalukan. Alih-alih marah, Dani Alves malah mengambil buah pisang itu, mengupas dan memakannya dengan santai di lapangan.

FIFA mengecam tindakan rasis dalam dunia sepakbola. Tidak boleh ada pelecehan berdasarkan warna kulit, suku, ras, kelompok atau agama dalam dunia olahraga modern.

Pemahaman ekslusif tentang keselamatan sangat jelas nyata dalam Kitab Suci. Keselamatan itu hanya milik Bangsa Israel. Orang di luar Israel tidak mendapat bagian. Kisah tentang perempuan Siro Fenisia ini bisa menjelaskannya.

Seorang ibu Yunani berkebangsaan Siro Fenisia datang pada Yesus. Fenisia adalah bagian Siria, provinsi Kerajaan Romawi.

Ia sadar berada di luar karya keselamatan. Tetapi ia percaya kepada Yesus, Sang Sumber Keselamatan. Dengan keyakinannya itu, ia menerobos batas pemahaman umum.

Ia meminta dengan sedikit nekat kepada Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan roh jahat. Kendati Yesus mengatakan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Anak-anak adalah gambaran Israel sebagai anak Allah, sedangkan anjing untuk menggambarkan bangsa lain di luar Israel.

Iman kepada Yesuslah yang membongkar ekslusivitas keselamatan. Yesus membawa keselamatan bagi semua orang tanpa membedakan warna kulit, suku, ras atau agama.

Yesus adalah Tuhan bagi semua. Siapa pun juga diundang untuk percaya kepada-Nya. Mari kita percaya kepada-Nya.

Hari ini tiada sinar mentari.
Hujan turun sepanjang sore.
Hati pedih sahabat tlah pergi.
Selamat jalan Romo Andre.

Cawas, hanya menanti….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 10.02.21 / PW St. Skolastika, Perawan / Markus 7 :14-23

 

– Kosher –

“BOLEH gak Pak Ari, kami bawa sambal terasi ke restoran?” tanya seorang peserta kepada Ariyanto, tour leader, ketika mau sarapan di restoran Grand Park Hotel Ramallah.

“Kalau tidak pakai sambal sendiri rasanya tidak selera” katanya sambil sembunyi-sembunyi bawa sambal terasi dari Indonesia.

Ari kemudian menjelaskan tentang istilah “kosher” dalam aturan Yahudi. Kosher berarti layak. Kosher food artinya makanan yang layak dikonsumsi dalam adat Yahudi. Kosher tidak hanya jenis makanan, tetapi juga cara pengolahannya.

Kosher sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai religius. Orang Yahudi sangat ketat menerapkan aturan keagamaan.

Aturan kosher melarang perpaduan jenis makanan daging dan produk olahan susu. Makanan yang tidak kosher seperti babi, kerang, kepiting dan turunannya tidak boleh dibawa masuk ke restoran. Tidak boleh dikonsumsi. Hal itu akan membuat najis semuanya.

Kepada para murid-Nya, Yesus memberi pemahaman baru. “Segala sesuatu yang dari luar masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskan dia. Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

Yesus menambahkan, “sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat itu timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Bukan apa yang masuk, tetapi yang keluar dari hati yang jahat dan kotor itulah yang akan menajiskan orang.

Merawat hati supaya tetap bersih, suci, murni itulah yang perlu dijaga. Hati yang bersih akan menghasilkan pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih akan berdampak pada tutur kata dan tindakan yang baik.

Mari kita selalu menjaga hati.

Menikmati durian harum rasanya.
Ingat yang jual celananya biru muda.
Lebih baik jaga tindakan dan tutur kata,
Agar tidak menyakiti hati sesama.

Cawas, durian montong….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 09.02.21 / Markus 7:1-13 / Membasuh Tangan

 

PADA masa pandemi ini kita diajak untuk membiasakan diri melakukan 3M bahkan 5M. Mencuci tangan, Menjaga jarak, Memakai masker, Menghindari kerumunan dan Mengurangi bepergian.

Membasuh tangan demi menjaga hidup sehat agar tidak terpapar oleh virus corona yang terus merajalela.Sering membasuh tangan harus menjadi kebiasaan.

Sebenarnya kebiasaan ini sudah ada sejak zaman dulu. Tetapi perkembangan zaman yang makin modern dan invidualis ini, membuat kebiasaan itu luntur.

Dulu di kampung-kampung ada “genthong” berisi air ditaruh di depan rumah. Fungsinya untuk membasuh tangan dan kaki sebelum orang masuk ke rumah. Keluarga yang rumahnya di pinggir jalan juga menyediakan genthong berisi air bersih untuk minum bagi yang dahaga dalam perjalanan.

Sayang sekali, orang zaman ini semakin tidak peduli dan egois. Kebiasaan membasuh tangan itu sudah hilang. Ketika virus corona datang, kita disadarkan kembali pentingnya membasuh tangan demi hidup bersih dan sehat.

Dalam Injil sikap yang sebaliknya nampak dalam diri kaum Farisi. Membasuh tangan menjadi hukum wajib yang harus dilakukan. Melalaikan itu sudah dianggap najis, berdosa.
Kaum Farisi menjadi sangat “skruple” jika melihat orang lain tidak mentaati hukum.

Kaum Farisi melihat murid-murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Mereka gusar dan gelisah ada pelanggaran terhadap adat istiadat nenek moyang.

Mereka skruple dengan memprotes kepada Yesus. “Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?”

Kaum Farisi terlalu menekankan adat istiadat. Lalu dengan itu mereka berhak menilai dan mengadili orang. Adat lalu dijadikan alat untuk mengucilkan orang, menghukum orang. Sementara ada hukum yang lebih utama justru diabaikan.

Yesus mengkritik mereka. “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri.”

Adat istiadat boleh dilakukan, tetapi jangan menghapuskan perintah yang utama. Adat jangan dimutlakkan sehingga mengganggu relasi dengan sesama dan Tuhan. Apalagi meminjam sabda Tuhan untuk mengadili sesama.

Siapakah kita sampai mengatas-namakan Tuhan sendiri?

Makan pisang di pinggir kali.
Terjerembab diserbu kera.
Janganlah suka mengadili.
Karena kita tidak sempurna.

Cawas, celana biru ….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr