Puncta 08.02.21 / Markus 6: 53-56 / Rumah Sakit Apung
ADALAH dr. Lie Dharmawan mengawali sebuah ide gila dengan membangun rumah sakit apung. Ia termotivasi membuat rumah sakit apung karena menghadapi kenyataan betapa sulitnya akses kesehatan bagi masyarakat di pulau-pulau terluar Indonesia. Ia memulai pelayanannya bagi masyarakat miskin pada tahun 2009.
Rumah sakit apung menjangkau daerah-daerah miskin di Indonesia timur, mulai dari Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku. Ia berlabuh di daerah-daerah terpencil seperti Kisar, Miangas dan Yapen Papua. Ia menolong dan menyembuhkan orang-orang sakit di daerah sulit.
Ketika wilayah Mamuju dilanda gempa, rumah sakit apung itu terlihat merapat di sana membantu para korban bencana.
Selama 10 tahun pelayarannya, RSA dr. Lie Dharmawan sudah melakukan 3.549 penyuluhan dan kampanye kesehatan dengan perincian; 331 pelayanan kesehatan untuk ibu hamil, 643 operasi kecil, dan 385 operasi besar. Selain itu, ada 13.368 pasien rawat jalan dan konsultasi kehamilan di bawah tanggung jawab tim dokter RSA dr. Lie Dharmawan.
Yesus naik perahu bersama murid-murid-Nya dan mendarat di Genesaret. Banyak orang datang mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya. Dimana pun Yesus pergi, orang-orang meletakkan orang sakit di pasar atau di jalan yang dilewati Yesus. Mereka percaya, hanya dengan menjamah jumbai jubah-Nya saja, mereka akan sembuh. Kehadiran Yesus membawa sukacita, harapan dan keselamatan.
Yesus didatangi banyak orang untuk minta disembuhkan. Dokter Lie mendatangi banyak orang untuk menolong mereka yang sakit. Intinya semua orang bersukacita dan diselamatkan karena kehadiran mereka.
Di sekitar kita banyak orang menderita, apakah kehadiran kita bisa mendatangkan sukacita dan harapan bagi mereka? Hadir dan menyapa mereka itu bisa memberi rasa aman dan tentram bagi mereka yang punya beban berat.
Ideku terganggu sinar pelangi.
Tenggelam di bukit Wilwatikta.
Mari kita bangun semangat peduli.
Menolong sesama yang menderita.
Cawas, nonton layar tancap….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 07.02.21 – Minggu Biasa V Tahun B/1 – Markus 1:29-39
“Harmonisasi Doa dan Karya”
HIDUP doa dan karya itu adalah dua sisi kehidupan yang selalu diperjuangkan oleh setiap orang. Dalam kisah pewayangan, hidup karya itu dijalani saat menjadi ksatria. Hidup doa dilakukan waktu “madeg” resi atau begawan. Para ksatria yang baik selalu menjaga keseimbangan antara karya dan doanya.
Raden Arjuna menjalani hidup sebagai ksatria, juga “mesu budi” mengolah batinnya dalam doa sebagai Begawan Ciptaning. Raden Werkudara menjadi Begawan Bima Suci di Padepokan Argakilasa. Kakrasana menjalani penyucian diri sebagai Resi Jaladara. Kresna yang titisan Wisnu itu juga mengasah hidup rohaninya dalam diri Resi Padmanaba. Bahkan Hanoman, pahlawan perang Sri Ramawijaya itu “mesanggrah” sebagai Resi Mayangkara di Kendalisada.
Kehidupan ksatria adalah “memayu hayuning bawana” mengabdi kepada kebaikan makhluk. Ksatria selalu menolong mereka yang kecil, miskin, lemah dan tertindas. Resi atau Begawan melambangkan kehidupan doa dalam tapa hening, semadi.
Doa dan karya menyatu mempribadi dalam diri Yesus. Ia berkarya untuk menolong mereka yang sakit, kerasukan setan. Ibu mertua Simon disembuhkan, dan banyak orang datang mohon pertolongan-Nya.
“Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit, dan mengusir banyak setan. Keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Doa dan karya, ora et labora menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Kita diingatkan agar tidak melalaikan doa. Selalu meluangkan waktu, entah pagi atau malam sunyi untuk berdoa.
Dengan begitu kita tidak akan kekeringan atau kehilangan daya untuk berkarya.
Satu jam dalam dua putaran lari.
Nafas terengah karena sudah tua.
Luangkan waktu di malam sunyi.
Menyatukan doa dengan karya.
Cawas, satu jam saja…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 06.02.21 / PW.St. Paulus Miki dkk, Imam dan Martir / Markus 6: 30-34
“Taize, Oase Kasih Persaudaraan”
SEBELUM mengikuti acara World Youth Day di Paris, saya punya waktu istimewa berkunjung di Taize, desa kecil di Burgundy, Perancis. Dari Stasiun Gare Montparnasse Paris saya naik kereta api menuju Stasiun Macon. Dari depan stasiun sudah ada bus yang menuju ke Taize.
Tinggal bersama di komunitas Taize dalam keheningan yang penuh sukacita membuat hati ini terasa tentram dan damai. Doa dengan nyanyian menambah suasana batin meluap penuh kegembiraan. Keheningan Taize seperti sebuah oase yang dalam di tengah padang pasir kehidupan.
Doa hening, meditasi kitab suci dan nyanyian-nyanyian lembut nan syahdu menjadi oase iman yang menyuburkan. Kasih persaudaraan dengan semua orang adalah buah-buah nyata dari oase Taize. Keheningan Taize menjadi sumber pengolahan diri dan tempat menimba inspirasi hidup.
Hari ini Yesus mengajak para murid-Nya untuk masuk dalam keheningan. “Marilah kita pergi ke tempat sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak.”
Kesibukan adalah godaan manusia zaman sekarang. Hiruk pikuk dunia menggoda kita untuk terus bekerja dan bekerja. Kadang kita lupa untuk mengambil waktu hening sebentar. Orang dikejar-kejar oleh pekerjaan.
Seperti seorang penebang kayu, dia butuh waktu sebentar untuk istirahat, agar kekuatannya bertambah. Kayu yang besar itu tidak akan rubuh jika si penebang terus mengayunkan kapaknya. Tenaganya akan habis, sementara kayu tetap tegak berdiri. Jika ia mau berhenti sejenak, diam dan hening, maka tenaga baru akan berlipat ganda.
Keheningan adalah waktu untuk mengambil jarak sebentar dari segala kesibukan. Keheningan adalah oase yang akan memberikan daya kekuatan besar.
Banyak orang zaman sekarang takut masuk ke dalam keheningan. Sebetulnya ia takut berhadapan dengan dirinya sendiri. Dalam hening, orang akan berjumpa dengan dirinya dan Tuhan. Itulah yang kadang menakutkan.
Kesunyian atau keheningan adalah kesempatan untuk mengolah batin. Hening adalah oase dimana kita menimba kekuatan baru untuk tugas dan tanggungjawab kita. Mari kita berani memasuki keheningan batin.
Pergi ke sungai membawa pancing.
Kita tangkap ikan arwana.
Mari masuk ke doa hening.
Kita makin dekat dengan Sang Sabda.
Cawas, jalan-jalan happy….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 05.02.21 / PW. St. Agata, Perawan dan Martir / Markus 6:14-29
“Membela Kebenaran”
AGATHA seorang gadis cantik dari Sisilia. Ia menjadi Kristen sejak kecil. Ia berasal dari keluarga yang saleh. Gubernur Romawi yang kafir tertarik pada kecantikan Agatha. Ia ingin memperistri gadis itu. Tetapi Agatha telah berjanji untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan.
Karena ditolak cintanya, gubernur itu marah dan mengirim Agatha ke tempat pelacuran. Namun Agatha tetap teguh bertahan. Karena makin gelap mata, gubernur itu menyiksa Agatha dengan cambukan ditubuhnya. Ia menyuruh pengawalnya memotong kedua payudara Agatha dan meletakkannya di atas piring.
Agatha dengan tenang berdoa, ““Tuhan Allah, Penciptaku, Engkau telah melindungi aku sejak masa kecilku. Engkau telah menjauhkan aku dari cinta duniawi dan memberiku ketabahan untuk menderita. Sekarang, terimalah jiwaku.” Agatha wafat sebagai martir di Catania, Sisilia, pada tahun 250 masehi.
Kemartiran Agatha mirip juga dengan kematian Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil. Agatha membela imannya. Yohanes Pembaptis membela kebenaran. Ia mengkritik Herodes yang merebut Herodias, istri saudaranya. “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu.”
Kekuasaan dan kecantikan telah membutakan Herodes. Ia bertekuk lutut pada rayuan Herodias. Segala yang diminta melalui anaknya dipenuhi Herodes. Kendati itu melanggar hukum dan etika. Kepala Yohanes Pembaptis dipenggal dan ditaruh di atas talam demi melampiaskan sebuah dendam kesumat.
Pembela kebenaran itu walau gugur satu akan tumbuh seribu. Yohanes gugur, tampillah Yesus yang mengajarkan tentang kebenaran dan kasih. Ia nanti juga akan menyusul Yohanes Pembaptis dalam kematian. Yesus mati di kayu salib membela kebenaran.
Biji itu harus jatuh ke tanah dan mati, supaya bisa tumbuh berkembang menjadi banyak. Kebenaran tidak akan pernah mati.
Buah duren rasanya manis sekali.
Langsung dipetik dari lahan perkebunan.
Para martir berjuang sampai mati.
Berkorban demi membela kebenaran.
Cawas, tetap semangat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 04.02.21 / Markus 6:7-13 / Camino de Santiago de Compostela
DALAM Bahasa Spanyol “Camino” artinya jalan kaki. Jalan kaki menuju ke Santiago Compostela.
Ada apa di sana? Di kota ini ada sebuah katedral dimana St. Yakobus dimakamkan. Yakobus dibunuh menjadi martir di Yerusalem. Jenasahnya dibawa ke Santiago oleh para pengikutnya dengan berjalan kaki. Tradisi jalan kaki itu diteruskan sampai sekarang.
Rute perjalanan bisa dilakukan dari berbagai penjuru. Ada yang dari Perancis, Portugal atau kota-kota di Spanyol yang disebut “The Way of St. James.” Rata-rata perjalanan ditempuh dalam waktu 35 hari. Sehari berjalan kurang lebih 25 km.
Ada banyak orang menjalani ini sebagai retret agung, perjalanan spiritual demi kehidupan rohani pribadi.
Jutaan orang sudah mengalami Camino de Santiago. Dalam perjalanan rohani itu, mereka hanya mengandalkan belaskasih Tuhan. Mereka mengalami sapaan Tuhan melalui teman-teman seperjalanan dari segala penjuru dunia.
Sapaan “Buen Camino” yang berarti “selamat jalan, semoga sampai di tempat” dari penduduk lokal di desa-desa memberi semangat menyelesaikan peziarahan rohani.
Ketika orang hanya mengandalkan Tuhan, tidak ada kekawatiran sedikit pun, kendati orang tidak memiliki bekal apa-apa, Tuhan itu penyelenggara kehidupan.
Hari ini Yesus memanggil keduabelas murid dan mengutus mereka berdua-dua. Mereka dipesan untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian juga bekal dan uang dalam ikat pinggang; mereka boleh memakai alas kaki, tetapi tidak boleh memakai dua baju.
Kita diajak untuk fokus pada tugas perutusan. Tidak usah repot-repot dengan “tetek-bengek” yang remeh-temeh. Fokus saja pada sabda Tuhan. Tuhan akan mengatur segalanya.
Mengandalkan Tuhan saja itulah yang diharapkan. Percaya bahwa Tuhan akan menjaga semuanya. Tuhan yang mengutus, Tuhan juga yang mengurus.
Apakah kita sanggup mempercayakan diri dan hanya mengandalkan Tuhan saja? Apakah kita berani fokus pada tugas perutusan kita?
Menanam bunga melati,
Yang tumbuh bunga kamboja.
Tuhan mengutus kita pergi.
Dia akan mengurus segalanya.
Cawas, pengin durian….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr