Renungan Harian

Puncta 21.12.20 / Lukas 1:39-45 / Berbagi Sukacita

 

AWAL Desember yang lalu, saya mengirim komuni kepada para lansia dan orang sakit di lingkungan-lingkungan. Sejak munculnya covid, mereka tidak dapat ikut misa di gereja. Para lansia yang biasanya rajin ke gereja, karena ada pandemi, tidak dapat berkumpul di gereja, mengikuti perayaan ekaristi.

Para prodiakon memang setiap minggu mengirim komuni. Tetapi ketika romo sendiri yang melayani mereka, mereka sangat bersukacita. “Sampun kapang pengin sowan Gusti, romo.” Sudah rindu ingin mengikuti ekaristi di gereja, begitulah ungkapan mereka.

Menerima kunjungan sapaan dari gembalanya, sungguh mengobarkan semangat iman mereka. Saya juga ikut bergembira melihat mereka mengalami sukacita. Saya hanya bisa mendengarkan cerita-cerita mereka. Menghibur sambil menjelaskan situasi pandemi ini yang belum memungkinkan kita semua untuk berkumpul.

Saking gembiranya dikunjungi romo, mereka menjamu dan memberi oleh-oleh buat saya. Ada yang memberi pisang rebus, ubi, tiwul, tempe bacem, sambel goreng krecek. Bahkan tidak diduga dan disangka, Pak Dedi memberi saya sepeda Gazelle kuno yang jadi koleksinya.

“Silahkan romo pilih yang mana, saya merasa bersyukur karena romo berkunjung mengirim komuni di keluarga saya.”

Hari ini Maria mengunjungi Elisabet saudaranya yang sedang mengandung. Ia masuk ke rumah dan memberi salam. Ketika mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya. Lalu Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus dan bersukacita. Juga anak yang di dalam rahimnya melonjak kegirangan.

Maria datang membawa sukacita. Sukacita itu mengalir dan menular kepada semua yang ada. Elisabet dan anak yang dikandungnya pun merasakan kegembiraan. Kegembiraan yang dibagikan akan bergulung seperti bola salju. Semakin membesar dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Mari kita bersukacita karena Tuhan mengasihi kita dalam Yesus. Yang paling penting kita dulu harus mempunyai sukacita itu. Baru kemudian kita bagikan kepada orang lain. Mungkin hanya kunjungan, sapaan, senyuman, itu akan mengalirkan sukacita kepada orang lain.

Terlihat Merapi Merbabu di kejauhan.
Ditutupi bunga hijau dan dedaunan.
Kalau kita mau berbagi kegembiraan.
Dunia terasa indah penuh kedamaian.

Cawas, sapaan mendebarkan….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.12.20 / Lukas 1:26-38 / Fiat Voluntas Tua

 

KETIKA suaminya sedang pergi ke TPS untuk mencoblos, seorang ibu tega membunuh tiga anaknya yang masih balita. Peristiwa itu terjadi di desa Banua Sibohou, Nias Utara. Ibu berinisial MT (30) membunuh tiga anaknya sendiri dengan motif kesulitan ekonomi. Kemiskinan dan himpitan ekonomi sering membuat suami istri itu bertengkar. Tidak kuasa menahan kesulitan yang diderita, ibu itu bertindak nekat. Bahkan dia sendiri juga berniat bunuh diri setelah melakukan perbuatan keji itu. Beban derita dan himpitan persoalan sering membuat gelap mata. Orang mudah mencari solusi jalan pendek.

Bunuh diri bukanlah jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit setiap orang. Tukang gembok pasti menyediakan kuncinya. Begitu pun setiap permasalahan, pasti ada jalan keluarnya. Mengakhiri hidup bukan kunci menyelesaikan sebuah persoalan dan beban derita.

Maria seorang perawan muda dihadapkan pada suatu permasalahan yang pelik. Ia mendapat berita menggembirakan sekaligus membebani dirinya. Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”

Maria bingung karena ia belum bersuami. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Persoalan ini pasti sungguh berat. Sebagai seorang perempuan, pastilah ia bercita-cita menjadi ibu yang wajar dan normal. Tidak dengan cara di luar pikiran manusia sederhana ini. Rencana Tuhan memang sering tak terjangkau oleh pikiran manusia yang serba terbatas.

Menghadapi kesulitan dan beban hidup yang berat itu, Maria tidak menghindar. Kendati masa depan masih gelap, namun ia percaya pada rencana Tuhan. Ia berani menyerahkan diri dan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

Tuhan pasti mahatahu. Seberapa kekuatan dan daya tahan kita. Tuhan tidak akan menumpangkan beban di pundak melebihi batas kekuatan kita. Di luar kemampuan kita, Tuhan pasti bertindak. Tuhan selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong.

Kepasrahan dan kepercayaan seperti Maria itulah yang menguatkan. Berlindung pada kebaikan Allah itu saja yang membuat kita bisa melintasi jalan sulit dan terjal. Mari bersama Maria kita berseru kepada Tuhan, “Fiat Voluntas Tua.”

Menjentik butir kacang dengan jari dua.
Dimasukkan ke mulut yang sudah menganga.
Janganlah kita lunglai dan putus asa.
Bersama Maria kita bisa menanggung derita.

Cawas, pakai dua jari….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.12.20 / Lukas 1:5-25 / Kelahiran Anak Membawa Sukacita

 

SETIAP pasangan suami istri pasti mengharapkan kelahiran seorang anak di dalam keluarga. Ada pasangan yang harus menunggu lama, baru dikaruniai keturunan. Setiap orangtua berharap diberi “momongan” oleh Tuhan. Betapa sedihnya jika belum mendapatkan keturunan. Bahkan ada yang putus asa dan tak bersemangat dalam hidup. Anak adalah mahkota bagi pasangan suami istri.

Adalah Maria Rosaria Veneruso dan Enzo suaminya merasa sangat bahagia. Betapa tidak, penantian lama akan hadirnya seorang anak itu akhirnya terwujud ketika Maria melahirkan anak pertamanya pada usia 61 tahun. Bayi seberat 3,5 kg itu lahir secara alami tanpa intervensi medis tambahan di sebuah rumah sakit Campania, barat daya Italia.

“Saya telah memenuhi impian saya. Masa depan tidak membuat saya takut,” ujarnya, dikutip dari Kidspot.

Tuhan dapat diandalkan. Bagi orang yang percaya, tidak ada hal yang mustahil. Tuhan selalu bertindak tepat pada waktunya. Kegembiraan suami isrti itu sangat luar biasa. mereka selalu bersyukur kepada Tuhan.

Bacaan hari ini menggambarkan kisah kelahiran Simson dan Yohanes Pembaptis. Ibu mereka dipandang sebagai perempuan mandul. Elisabet sendiri sudah uzur. Tak mungkin bisa melahirkan anak. Tetapi Manoah dan Zakharia selalu berdoa di bait Allah. Zakharia hanya “melongo” tidak percaya ketika malaikat mengabarkan bahwa Elisabet akan mengandung.

“Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua, dan istriku pun sudah lanjut umurnya.” Memang untuk percaya itu tidak mudah. Butuh ketulusan dan penyerahan diri kepada Allah.

Allah tidak pernah ingkar akan janji-Nya. Pada saatnya Dia akan bertindak. Ketika itu kita baru menyadari bahwa Allah sungguh bekerja. Demikianlah Elisabet menyadari anugerah Allah dengan berseru, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku! Sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”

Jika kita tetap percaya, Allah akan bertindak tepat pada waktunya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Mari kita tetap percaya kendati belum ada kepastian yang jelas.

Memilih nasi padang atau bubur.
Sama-sama enak dinikmati berdua.
Allah mengasihi orang tulus dan jujur.
Dia akan bertindak pada waktunya.

Cawas, bubur yang lembut…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.12.20 / Matius 1:18-24 / Ketaatan Dan Ketulusan

 

KEPUTUSAN Yusuf menerima Maria yang sudah mengandung mungkin suatu hal yang sulit dipahami. Waktu mereka menjalani masa pertunangan, Yusuf mengetahui bahwa Maria sudah mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Sebagai laki-laki normal, pasti Yusuf kecewa, marah, jengkel dan bingung. Namun ia masih berpikir jernih dan tenang, tidak mau merugikan Maria. Ia tidak mengumbar atau melaporkan peristiwa itu kepada orang banyak. Ia tidak ingin mencemarkan Maria di muka umum. Maka ia berencana meninggalkan Maria dengan diam-diam.

Menceraikan Maria dengan diam-diam mungkin adalah keputusan terbaik baginya. Kalau dia mencemarkan Maria di depan umum, bisa jadi Maria dihukum rajam sampai mati. Yusuf adalah pribadi yang tulus hati. Ia berpikir demi kebaikan Maria, bukan demi kepuasan diri sendiri. Segala keputusannya dipertimbangkan baik-baik.

Ketika sedang mempertimbangkan itu, Yusuf mendapat peneguhan dari malaikat dalam mimpinya. “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”

Peristiwa itu dihayati sebagai kebenaran ilahi oleh Yusuf. Itu adalah kehendak Allah. Maka sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya. Itulah ketaatan seorang Yusuf. Segera sesudah bangun, ia langsung berbuat tanpa menunda-nunda waktu.

Kesediaan Yusuf menerima Maria adalah tindakan seorang yang tulus hati untuk menolong Maria, sekaligus ketaatan kepada kehendak Allah yang sepenuhnya belum bisa dipahami. Iman memang sebuah misteri, yang tidak mungkin kita pahami sepenuhnya. Hanya butuh sebuah ketaatan mutlak kepada kehendak Allah.

Dalam hal ini Yusuf memberi contoh kepada kita ketaatan iman kepada kehendak Tuhan. Tanpa menoleh ke belakang lagi, ia maju mengambil Maria sebagai istrinya. Tanpa ragu-ragu, ia segera melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.

Pernahkah kita memiliki iman seperti Yusuf itu? Dengan berani mengambil resiko untuk bertanggungjawab demi kebaikan bersama? Mau memikirkan kebaikan orang lain di atas kepentingan sendiri?

Sungguh indah main di pojok kampus.
Mengibarkan layang-layang dari kain.
Kalau kita mempunyai hati tulus.
Tak mungkin merugikan orang lain.

Cawas, indah malam purnama….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 17.12.20 // Matius 1:1-17

 

“Anak Manusia”

MASA Advent dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama masa awal Advent sampai tanggal 16 Desember. Fokus permenungan kita adalah penantian eskatalogis, yakni menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Bagian kedua dari hari ini tanggal 17 sampai dengan 24 Desember yang berfokus pada kelahiran Yesus. Kedatangan Yesus sudah di depan mata. Perayaan natal sudah makin dekat.

Kelahiran Yesus mulai diperkenalkan oleh Matius dengan urut-urutan silsilah. Dari Yesus ditarik mundur ke Daud sampai ke Abraham. Ada tiga kali empatbelas generasi. Bukan soal jumlah dan urut-urutannya yang penting, tetapi penginjil mau meyakinkan bahwa Yesus sungguh manusia. Janji Allah kepada Abraham dan Daud akan dipenuhi dalam diri Yesus Kristus.

Dari silsilah yang kebanyakan adalah nama laki-laki, dimunculkan beberapa nama perempuan yakni Tamar, Rut, Istri Uria (Bersyeba) dan Maria. Latar belakang mereka ini dapat dinilai “cacat” atau tidak sempurna. Tamar adalah perempuan sundal. Rut adalah perempuan asing, orang luar, bukan asli Israel. Istri Uria direbut Daud dengan cara keji penuh dosa. Maria mengandung sebelum ia bersuami dengan Yusuf.

Yesus sungguh hadir di tengah kondisi manusia yang hina, cacat, tidak sempurna. Dari situ sudah nampak bagaimana Allah sungguh mengasihi manusia. Allah melihat ketidak-sempurnaan manusia dan mempergunakannya untuk pewahyuan Putera-Nya. Ia lahir menjadi manusia lemah dan hina.

Allah dengan kemahakuasaan-Nya bisa saja menggunakan kesempurnaan-Nya untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Tetapi kemahakuasaan Allah itu justru memilih kelemahan dan ketidak-sempurnaan manusia. Perempuan-perempuan yang dianggap tidak layak oleh dunia, namun dipakai Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan. Inilah universalitas keselamatan.

Dari perempuan, manusia jatuh dalam dosa. Dari perempuan juga Allah menyelamatkan manusia. Yesus anak Maria hadir ke dunia untuk menyelamatkan dosa-dosa kita. Mari kita songsong kelahiran-Nya dengan hati suci dan gembira.

Kemarin minum pil tiga kali sehari.
Ditambah suntik kecil di ujung jari.
Allah menjelma jadi manusia di bumi.
Supaya kita selamat sampai akhir hayat nanti.

Cawas, tanduk setengah….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr