Puncta 09.06.20 Matius 5:13-16 / Jadilah Bintang
SUATU malam pulang dari Stasi Ngaliyan, saya naik Jeep taft bersama bruder. Kami melewati kebun cengkeh yang luas. Waktu itu belum ada listrik masuk desa.
Gelap sepanjang perjalanan. Tetapi malam itu bulan purnama sedang bulat-bulatnya menyinari kesunyian malam. Saya bisa mematikan lampu mobil dan bisa melihat jalan karena terang bulan. Bulan purnama itu sangat indah dan menakjubkan.
Di pedalaman Kalimantan saya sering menikmati indahnya cahaya bulan dan bintang di depan halaman pastoran. Ketika cuaca cerah dan bulan bersinar penuh, malam itu terasa syahdu dan magis.
Teringat cerita nenek dulu di kampung. Di bulan yang indah itu konon ada bidadari cantik sedang duduk di bawah pohon rindang memangku seekor kucing.
Beberapa kali terlihat meteor melesat di langit. Galaksi Bima sakti terlihat jelas. Ada bintang salib di selatan penunjuk arah bagi para nelayan. Cahaya-cahaya di langit itu hiburan gratis di saat malam sepi.
Yesus berkata, “Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.”
Kita diminta oleh Yesus menjadi cahaya yang menerangi kegelapan. Cahaya sekecil apa pun akan sangat berguna bagi kegelapan sekitarnya.
Kalau kamu tidak bisa menjadi matahari, jadilah bulan. Jika tidak bisa menjadi bulan, jadilah bintang. Kerlap-kerlip bintang di langit akan mewarnai kegelapan.
Yesus mengajak kita, “Hendaklah cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.”
Perbuatan-perbuatan baik kita itu akan membuat nama kita dicatat seperti bintang di langit. Kebaikan itu akan menjadi teladan yang bercahaya di saat hidup terasa gelap.
Kebaikan itu seperti bintang yang menjadi patokan di saat jalan terasa gelap. Kebaikan sekecil apapun akan bercahaya seperti bintang. Mari kita sebarkan kebaikan-kebaikan agar banyak cahaya seperti bintang di langit.
Sebagaimana kalau kita melihat keindahan bintang-bintang, kita hanya bisa mengagumi keagungan Tuhan. Begitu pula kebaikan-kebaikan kita akan membuat banyak orang memuliakan Tuhan. Jadilah bintang. Jadilah cahaya. Taburkan kebaikan. Kita akan memetik berkat.
Mengharapkan jatuhnya bulan.
Bintang-bintang indah bertebaran.
Kalau kita menanam kebaikan.
Nama Tuhan akan dimuliakan.
Cawas, menunggu dan menunggu…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 08.06.20 Matius 5:1-12 / Gandhi dan Sabda Bahagia
MAHATMA Gandhi pernah dibuang di Afrika Selatan. Ia sangat terinspirasi oleh Injil yang dia baca. Salah satunya adalah kutipan sabda bahagia. Ia pernah mengatakan,
“Ini adalah sabda seorang suci yang pernah ada, beruntunglah orang Kristen yang memiliki guru yang demikian hebat. Dan seandainya semua orang Kristen mengikuti perkataan ini dengan baik, saya yakin sekali 90% manusia di dunia ini akan menjadi Kristen, termasuk saya.”
Sabda Yesus itu memberikan pengharapan kepada orang-orang kecil, miskin dan tertindas. Miskin di hadapan Allah, lemah lembut kepada semua makhluk di bumi serta hidup dengan sikap murah hati kepada sesama akan memberikan kebahagiaan yang sempurna. Orang yang suci hatinya, kemana-mana membawa damai dan sukacita akan disukai Allah dan manusia.
Mahatma Gandhi berjuang bagi kemerdekaan bangsanya dengan sikap damai, tanpa kekerasan. Gandhi merumuskan perjuangannya dalam tiga matra; satyagraha (berjuang demi kebenaran), Swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri, mandiri) dan ahimsa (berjuang dengan damai tanpa kekerasan). Sabda bahagia itulah dasar inspirasinya.
Apa yang diucapkan Gandhi itu sebenarnya kritik bagi kita semua orang Kristen. Sabda bahagia itu bukan hanya kalimat suci di dalam Injil, tetapi harus sampai pada tindakan nyata bagi para pengikut Kristus.
Seandainya kata-kata Yesus itu sungguh mewujud dalam diri orang Kristen, Gandhi mau menjadi Kristen. Sayangnya, sabda Yesus itu tidak nampak dalam hidup orang-orang Kristen.
Dalam catatan hariannya, Gandhi menulis, “Saat itu tak ada orang Eropa yang bersedia membantu membalut luka mereka…
Kami harus membersihkan luka-luka orang Zulu yang tidak dirawat setidaknya setelah lima atau enam hari yang lalu, karena itu luka-lukanya membusuk dan sangat menakutkan. Kami menyukai pekerjaan kami.”
PR bagi kita semua adalah mempraktekkan apa yang diajarkan Yesus dalam delapan sabda bahagia itu. Tidak cukup hanya dihapal, tetapi terwujud dalam tindakan nyata.
Kalau ada teladan hidup Kristen yang baik, dengan sendirinya mereka akan mengakui dan mengimani Kristus.
Menanti mekarnya kelopak bunga.
Di taman bunga-bunga beraneka warna.
Sabda bahagia bukan cuma kata-kata.
Tetapi harus menjadi teladan hidup bagi sesama.
Cawas, purnama telah tiba….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 06.06.20 Markus 12:38-44 / Ketulusan Seorang Janda
KETIKA Hanoman menjadi duta ke Alengka, dia ditangkap oleh Indrajid, anak Dasamuka. Hanoman diikat dan dijemur di alun-alun sepanjang hari.
Togog seorang abdi raja yang baik dan sederhana memberi “kendi atau tempayan” berisi air untuk menghilangkan dahaga Hanoman. Hanoman sangat berterimakasih kepada Togog dan berpesan supaya pintu rumahnya dipasang janur kuning.
Dasamuka memerintahkan para prajurit untuk membakar Hanoman hidup-hidup di tengah alun-alun. Perapian yang besar disiapkan dan api menjilat seluruh tubuh Hanoman.
Mereka mengira Hanoman sudah mati. Tetapi dia justru hidup dan meloncat kesana kemari dengan api ditangan membakar seluruh istana. Ia melihat satu pondok yang diberi janur kuning.
Itulah pondok Togog Tejamantri abdi yang baik hati. Hanya pondok Togog itu saja yang luput dari amukan api Hanoman.
Dalam Injil dikisahkan dua tokoh kontras, ahli-ahli Taurat dan janda miskin. Ahli-ahli Taurat itu berperilaku sombong.
Mereka suka pamer dan menerima penghormatan di pasar, suka duduk di tempat terhormat dalam rumah ibadat dan perjamuan.
Mereka merampas rumah janda-janda dengan mengelabuinya memakai ayat-ayat Kitab Suci. Mereka pandai mengutip ayat-ayat dan berdoa dengan mulut berbuih-buih.
Sedangkan janda miskin itu seperti abdi sederhana Togog Tejamantri. Ia tidak punya apa-apa. Hanya dapat memberi sumbangan kecil uang dua peser.
Togog itu hanya memberi seteguk air untuk menyegarkan Hanoman. Janda miskin itu tidak punya apa-apa dibandingkan orang-orang kaya yang menyumbangkan uangnya ke peti persembahan.
Allah melihat keikhlasan dan ketulusan hati janda miskin itu. Walaupun sedikit tetapi itu adalah nafkah hidupnya untuk sehari. Orang-orang kaya itu memberikan dari kelimpahannya, sedangkan janda itu memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.
Yang dilihat Allah bukan jumlahnya, tetapi kerelaan untuk mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah.
Kalau berdoa kepada Allah biasanya kita minta yang banyak, besar, berlimpah dan berlebih. Tetapi kalau kita mempersembahkan kepada Tuhan, terlalu sedikit dan dihitung-hitung.
Marilah kita belajar dari janda miskin yang tulus ikhlas mempersembahkan kepada Tuhan. Berkat melimpah pasti Tuhan berikan.
Pohon pisang diukur panjangnya.
Buah pisang dijual mahal harganya.
Bagi Tuhan kita berikan semuanya.
yang penting dengan tindakan nyata.
Cawas, memburu senja….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 05.06.20 / PW. St. Bonifacius, Uskup dan Martir Markus 12:35-37 / Keturunan Bangsawan
SAUDARA sepupu saya punya garis darah biru. Dia adalah generasi ke 15 keturunan Sultan Pajang, Pangeran Hadiwijoyo. Ada sertifikat atau kekancingan resmi yang menunjukkan garis keturunan itu.
Walau demikian hidupnya tetap sederhana, jauh dari tradisi kraton. Kalau diruntut kebenarannya mungkin juga sulit karena minimnya data-data.
Sertifikat semacam itu sekarang ya hanya sebatas kebanggaan saja, bahwa ada bukti keluarga ini mempunyai garis keturunan bangsawan. Kalau sertifikatnya bisa saya pakai untuk jaminan kredit, mau saya pinjam. He…he…he…
Orang-orang Yahudi berpendapat bahwa Mesias berasal dari garis keturunan Daud. Ahli-ahli Taurat yakin bahwa akan datang Sang Pembebas yang berasal dari Wangsa Daud.
Yesus menjelaskan bahwa Mesias itu datang dari Allah. Dia itu Putra Allah. Makanya Dia mengutip kata-kata Daud sendiri, “Tuhan telah bersabda kepada Tuan-Ku: Duduklah di sisi kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.”
Para pengarang Injil mau meyakinkan kepada para pembacanya bahwa Yesus adalah sungguh Anak Allah. Markus mengawalinya dengan menyebut, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.”
Di akhir Injilnya, Markus menyimpulkan status Yesus itu di dalam kata-kata kepala pasukan yang menyalibkan-Nya, “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.”
Matius berbeda dengan Markus. Ia menuliskan daftar silsilah panjang dari Abraham sampai Yesus. Mateus mau menunjukkan kepada para pembacanya yang kebanyakan orang Yahudi bahwa Yesus itu berasal dari keturunan Daud.
Daud adalah raja paling besar dan dihormati oleh Bangsa Yahudi. Silsilah itu dipakai untuk meyakinkan mereka tentang siapakah Yesus itu.
Lukas menceritakan siapa Yesus melalui kabar Malaikat kepada Maria. Malaikat itu berkata, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya.”
Gelar itu mau menunjukkan kuasa atau kedudukan tinggi pribadi Yesus. Ia pantas dihormati dan disembah karena berasal dari Allah, melalui garis keturunan Daud, leluhur-Nya.
Kita percaya bahwa Allah mengutus Putra-Nya menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Kalau kita percaya, kita akan diselamatkan-Nya.
Pasang antene TV di teras rumah.
TV ditaruh di atas almari.
Kita percaya Yesus Putera Allah.
Yang membawa kita pada hidup abadi.
Cawas, menunggu senja….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Puncta 04.06.20 Markus 12:28-34 / Perintah Utama
KALAU dasar negara kita adalah Pancasila, orang Yahudi mempunyai Dekalog atau sepuluh Perintah Allah. Perintah Allah itu ditulis di dalam dua loh batu yang diterima Musa di Gunung Sinai.
Berdasarkan Sepuluh Perintah Allah itu kemudian dikembangkan aturan-aturan hidup bersama dalam Hukum Musa. (Keluaran 24:3) Hukum Musa berisi lebih dari 600 perintah.
Salah satu perintah yang terkenal adalah Syema, atau pengakuan iman Yahudi. Salah satu bagian Syema menyatakan, ”Engkau harus mengasihi Yehuwa, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap tenaga hidupmu.” (Ulangan 6:4-9) Yesus berkata bahwa itu adalah ”perintah yang terbesar dan yang pertama”
Oleh karena ada begitu banyak perintah dalam Kitab Taurat, masih dikembangkan lagi dalam Misnah dan Talmud, maka seorang ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “perintah manakah yang paling utama?”
Yesus mengutip syema, atau pengakuan iman Yahudi. “Tuhan Allah kita itu Tuhan yang Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu.” Yesus menambahkan, “Dan perintah yang kedua ialah, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”
Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama itu seperti dua sisi dalam keping mata uang. Tidak bisa dipisahkan, tetapi keduanya menyatu-padu. Kasih kepada Allah terwujud dalam tindakan kasih kepada sesama.
Begitu pula mengasihi sesama menjadi jalan untuk mengasihi Tuhan yang tidak nampak. Kasih itu harus sampai pada tindakan nyata. Maka mengasihi Allah itu bisa diwujudnyatakan dalam tindakan mengasihi sesama yang kelihatan.
Yesus mengatakan kepada ahli Taurat itu, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Ahli Taurat itu dinilai bijaksana karena ia mengamini dan menegaskan kembali apa yang dikatakan Yesus.
Kebijaksanaan seperti itu hanya membuat ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. Ia belum masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bagaimana supaya bisa masuk atau sampai ke dalam Kerajaan Allah? Mewujudkan dalam tindakan nyata yakni dengan mengasihi sesamanya.
Mengasihi Allah tidak cukup hanya dengan pengakuan di bibir tetapi harus terwujud nyata. Kita bisa sampai ke dalam Kerajaan Allah kalau kita bisa mewujudkan kasih kepada sesama. “Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”
Cukur rambut di teras rumah.
Sambil minum wedang tape di sofa.
Mengasihi Tuhan Allah.
Sama dengan mengasihi sesama.
Cawas, tetap bahagia…..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr