by gisel | Oct 24, 2020 | Artikel
Sebagai anggota Gereja Katolik, kita mengenal adanya devosi khusus pada bulan-bulan tertentu dalam kalender liturgi Gereja Katolik yang selalu kita rayakan tiap tahunnya. Contohnya, kita mengenal bahwa bulan Mei disebut sebagai bulan Maria, September sebagai bulan Kitab Suci dan Oktober sebagai bulan Rosario. Namun, masih banyak umat yang belum mengetahui, mengapa kita melakukan 2 bulan untuk berdevosi kepada Bunda Maria, yaitu Mei dan Oktober, lalu apa beda dari keduanya ?
Kita mengetahui ada 2 bulan untuk menghormati Bunda Maria, yaitu pada bulan Mei dan bulan Oktober. Sejarah bulan Mei sebagai Tradisi Suci untuk berdevosi kepada Bunda Maria awalnya didedikasikan untuk memperingati pemberian kehidupan yang baru. Di negara-negara yang memiliki 4 musim seperti Eropa dan Amerika, pada bulan Mei, merupakan permulaan musim semi, dimana pada musim ini merupakan musim bunga-bunga bermekaran dan merupakan iklim yang baik bagi pertanian untuk menanam kembali setelah musim salju. Maka pada bulan Mei didedikasikan sebagai ungkapan syukur kepada Yesus melalui Bunda Maria dan ungkapan penghormatan Maria sebagai “Hawa Baru” yang mana ungkapan Hawa adalah “Ibu dari segala yang hidup”. Maka dari itu Devosi pada bulan Mei dinamakan Bulan Maria.
Kapankah Gereja mulai mendedikasikan bulan Mei sebagai Bulan Maria ??
Sejarah tradisi ini mulai dilakukan pada akhir abad ke-13 dan dipopulerkan oleh para Jesuit di Roma pada tahun 1700-an dan kemudian menyebar ke seluruh Gereja. Pengalaman Iman oleh Paus Pius VII menguatkan Tradisi ini ketika pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh serdadu Napoleon dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus berdoa kepada Yesus melalui perantara Bunda Maria agar ia dapat segera dibebaskan dari penjara. Dalam doanya tersebut Paus berjanji jikalau doanya dikabulkan, maka ia mendedikasikan bulan khusus dimana umat berdevosi kepada Bunda Maria. 24 Mei 1814, Paus dibebaskan dari penjara dan kembali ke Roma. Pada tahun berikutnya Paus Pius VII mengumumkan perayaan “Bunda Maria Penolong Umat Kristen”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX mengumumkan dogma “Maria Terkandung Tanpa Noda” dan devosi pada Bunda Maria semakin dikenal.
Lantas apakah perbedaan antara devosi pada bulan Mei dan bulan Oktober ? Mengapa harus 2 kali ?
Berbicara mengenai tradisi selanjutnya yaitu pada Bulan Oktober, kita mundur ke 3 abad sebelumnya yaitu pada tahun 1571. Pada saat itu negara-negara Eropa mendapat ancaman dari Turki dan Kesultanan Ottoman yang melakukan invasi pada negara-negara Eropa. Terdapat ancaman bahwa agama Kristen akan punah di Eropa karena semakin meraja-lelanya kekuasaan Ottoman dan kesempatan negara-negara Eropa bertumpu pada pertempuran Lepanto, untuk menghalau invasi Ottoman di daerah negara-negara di sekitar laut Mediterania, namun jumlah pasukan kesultanan Ottoman melampaui jumlah pasukan Kristen.
Menghadapi ancaman ini, Don Juan dari Austria komandan Armada Katolik, berdoa rosario, memohon pertolongan Bunda Maria. Hal ini kemudian diikuti oleh seluruh pasukan untuk berdoa Rosario. Di Eropa daratan seluruh umat menderaskan doa Rosario melalui seruan Paus Pius V dengan berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Dari subuh hingga petang doa Rosario didaraskan demi kemenangan pertempuran Lepanto. Dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dan nampaknya tidak mungkin memenangkan pertempuran itu, namun pada 7 Oktober 1571 pasukan Katolik memenangkan pertempuran Lepanto.Mendengar kabar itu, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan pada tiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya Paus Gregorius XIII, menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario Suci. Pesta ini awalnya hanya dilakukan oleh gereja-gereja yang altarnya didedikasikan bagi Bunda Maria. Namun pada tahun 1716, Paus Klemens XI menyebarluaskan perayaan ini hingga ke seluruh dunia. Peristiwa Lepanto Battle ini membuktikan bahwa Bunda Maria telah menyertai Gereja dan umat beriman melalui doa Sang Bunda kepada Tuhan Yesus, untuk menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini.
Selanjutnya Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario pada tanggal 1 September 1883. Bapa suci meminta agar seluruh umat berdoa rosario dan Litani Santa Perawan Maria dari Loreto pada setiap hari di bulan Oktober agar Gereja mendapat bantuan Bunda Maria dalam menghadapi aneka bahaya yang mengancam. Pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik October Mense (The Month of October; Bulan Oktober), yang menyatakan bahwa bulan Oktober dikhususkan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.
Jadi, Dimanakah letak perbedaan bulan Mei dan bulan Oktober ?
Setelah menilik dari sejarah masing-masing bulan devosi kepada Bunda Maria ini, kita dapat melihat adanya perbedaan mendasar yang nampak jelas pada 2 bulan devosi ini, dilihat dari tujuan utama dari devosi ini. Bulan Mei memperingati Bunda Maria sebagai “Hawa baru” yang melahirkan kehidupan. Sedangkan bulan Oktober ditujukan sebagai bulan Rosario.
Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Yang perlu kita lakukan sebagai umat beriman adalah untuk meneruskan Tradisi Suci ini sehingga relasi kita sebagai umat yang masih mengembara di bumi dengan para Kudus di surga tidak terputus dan Maria yang dipilih Allah dalam peristiwa inkarnasi, dipilih juga sebagai pendoa bagi anak-anaknya di bumi, menolong serta menyertai anak-anak-Nya. Maka sebaiknya kita sebagai anak-anak-Nya pun tidak ragu untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui perantara Bunda Maria kapanpun dan dimanapun, dan dalam keadaan apapun.
Written by : Dimas
Edited by : Gisella
Sumber :
www.katolisitas.org
parokijetis.com
parokiserpong-monika.org
by gisel | Sep 16, 2020 | Renungan
MENURUT Victor Hugo, Pengarang Les Miserables, gadis cantik ini lahir di Montreuil-sur-Mer tahun 1796. Ia berpacaran dengan seorang mahasiswa kaya, Felix Tholomyes. Namun sayang, Fantine ditinggal sendirian ketika dia hamil. Ia menitipkan anaknya, Cossete kepada keluarga Thenardier agar dapat bekerja untuk membesarkannya. Thernardier ini jahat. Ia memeras Fantine untuk selalu mengirim uang. Ia bekerja di pabrik milik Sang Walikota. Tetapi oleh mandornya, dia diketahui punya anak di luar nikah. Maka Fantine dipecat. Kesulitan hidup semakin menjeratnya. Ia menjual rambutnya yang indah dan giginya yang putih kemilau. Namun semua itu tak mampu memenuhi kebutuhannya. Akhirnya ia melacurkan diri di jalan.
Ia ditangkap polisi dan dijatuhi denda. Sang walikota, Jean Valjean tahu tentang kasusnya. Ia membebaskan Fantine dan merawatnya di rumah sakit amal. Ditumpahkannya semua nasib dan penderitaan kepada Jean Valjean. Mulai saat itu sang walikota jatuh belaskasihan kepadanya.
“Aku ingin hidup bersama putriku. Dialah satu-satunya harta milikku. Tolong jagalah dia” kata Fantine kepada Valjean ketika mereka duduk makan bersama di taman rumah sakit. “Aku akan menjemput Cossete dan membawanya kepadamu” kata Valjean. Namun hal itu tidak terjadi karena Fantine meninggal oleh sakit TBC yang parah. Valjean membawa Cossete ke Paris dan membesarkannya di sekolah asrama susteran. Cossete tumbuh menjadi gadis cantik. Ia menyebut Valjean sebagai papanya.
Yesus datang ke pesta di rumah orang Farisi. Seorang wanita yang terkenal sebagai pendosa datang membawa minyak wangi. Ia mencium dan meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Di depan Yesus, ia menangis menyesali dosa-dosanya. Yesus berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni,sedikit pula ia berbuat kasih.”
Perbuatan kasih akan membawa berkah. Semakin banyak berbuat kasih, semakin berkahnya melimpah. “Dosamu sudah diampuni” kata Yesus. Wanita berdosa itu menunjukkan kasihnya yang tulus kepada Yesus. Ia seperti orang yang berhutang banyak dan dibebaskan oleh Tuhan. Maka balasan kasihnya juga lebih besar.
Kita adalah orang yang berhutang kepada Tuhan. Semakin besar hutang kita semakin besar pula balasan kita kepada-Nya, karena semua hutang dihapuskan Tuhan.
Satu jam menikmati bakso dua.
Masih ditambah telur puyuh tiga.
Kasih Tuhan melebihi dosa kita.
Mari kita membalas belaskasih-Nya.
Cawas, satu jam saja….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by gisel | Apr 21, 2020 | Artikel
Semarang (09/04/2020), Pada hari tersebut seluruh umat Khatolik memperingati Perayaan Kamis putih atau biasa disebut dengan Malam Perjamuan Terakhir Tuhan dalam rangkain perayaan Pekan Suci dan dimalam ini juga kita diingatkan kembali bagaimana Yesus membasuh kaki para rasul dan mengundang orang-orang beriman untuk saling mengasihi dan melayani satu sama lain. Misa Kamis Putih ini dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko selaku Uskup Keuskupan Agung Semarang dan disiarkan secara langsung melalui Platform Youtube Komsos KAS.
Dalam homilinya, monsinyur sempat menyinggung kenapa kita tekun dan setia mengikuti misa secara Online. Sejak Gereja memutuskan untuk meniadakan seluruh kegiatan liturgis maupun non liturgis pada tanggal 21 Maret yang lalu Bapa Uskup telah mengamati para umat yang sangat rajin mengikuti misa online ini. Tidak hanya misa mingguan saja, namum para umat juga rajin mengikuti misa harian juga. Melihat perilaku umat yang begitu aktif dalam mengikuti misa online ini beliau ingin mengetahui apakah motivasi mendasar, mengapa kita sebagai umatnya begitu tekun mengikuti misa. Setelah mencari tahu melalui berbagai sharing yang ada, Bapa Uskup menemukan jawaban yang menarik. Ternyata alasan mereka bukanlah karena gabut ataupun bosan dengan rutinitas yang saat ini banyak dilakukan dirumah saja, melainkan karena perasaan mendasar yang dirasakan ada jauh didalam lubuk hati kita. Apakah perasaan itu ? Jawabannya adalah kerinduan, kita rindu untuk berjumpa dengan Tuhan, untuk mengalami kehadiran-Nya, dan untuk menerima berkat kasih-Nya.
Salah satu sharing dari umat yang begitu menyentuh adalah bahwa karena adanya misa Online, dia bisa merasakan kehadiran Yesus di sekitar mereka. Maka dari itu Yesus pernah bersabda, “dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kehadiran Yesus begitu dirasakan di dalam rumah-rumah yang hening di masa pandemi Covid-19 ini.
Pada saat homili ini, beliau juga bertanya mengenai perayaan Ekaristi, “Sejak kapan toh perayaan ekaristi diadakan?” kata Bapa Uskup kepada para umatnya. Pertanyaan ini membuat kita berpikir kembali kapan sebenarnya Ekaristi mulai diadakan. Dan jawabannya adalah sejak Yesus melakukan perjamuan terakhir bersama-sama dengan murid-Nya. Karena pada saat itu pula, Ia memberikan diri-Nya sebagai anak domba yang harus dikorbankan. Dimana pada saat itu Ia menebus dosa-dosa dunia dengan mengurbankan diri-Nya dikayu salib demi kita.
Dari peristiwa itu, Yesus telah memberikan teladan kasih dan pengorbanan demi keselamatan kita. Kita bisa merenungkan bahwa karena pengorbanan diri-Nya kita selaku manusia berdosa mau bertobat dan tetap mau berdoa kepada-Nya. Dan sebagai umat-Nya, kita diundang untuk meneladani kasih Yesus dengan saling melayani dan berani berkorban demi kebahagiaan orang lain.
Pada kesempatan ini, Bapa Uskup juga berpesan agar kita juga harus menjaga diri kita masing-masing dengan cara melakukan segala aktivitas dirumah guna meminimalisir penularan Virus COVID-19, mengingat saat ini pandemi ini telah masuk ke Indonesia. Kalaupun keluar rumah dikarenakan bekerja ataupun membeli bahan makanan, kita harus menjaga diri dengan tetap menggunakan masker selama keluar dan setelah balik ke rumah jangan lupa untuk mencuci tangan. Momen ini juga membuat kita bisa menghabiskan waktu bersama keluarga dikampung halaman. Saat pandemi belum menyerang, kita sangat jarang meluangkan waktu kita untuk balik ke rumah dikarenakan tanggung jawab yang diemban diluar kampung halaman. Oleh sebab itu pada saat sulit seperti ini waktunya kita membuka kembung kemurahan hati lumbung kepedulian dan tabungan cinta kasih kita agar bisa berbagi satu sama lain dan saling memberikan kasih sayang satu sama lain.
Demikianlah pesan-pesan yang disampaikan oleh Bapa Uskup pada saat Misa Perayaan Ekaristi Kamis Putih tahun 2020. Semoga pesan ini dapat kita renungkan dan kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Written by Kristo
Edited by Gisella
by gisel | Apr 14, 2020 | Artikel
Saat ini masyarakat dunia sedang dibuat panik dengan maraknya penyebaran sebuah virus yang bernama corona (COVID-19). Tercatat hingga tanggal 14 April 2020 terdapat 1,924,635 kasus infeksi yang tersebar di 210 negara di seluruh dunia. Jumlah kasus infeksi terbesar tercatat terjadi di Amerika Serikat yaitu sebanyak 587,173 kasus, kemudian di susul oleh Spanyol dengan jumlah total kasus infeksi sebanyak 170,099 kasus, lalu posisi yang ketiga ditempati oleh Italia dengan jumlah total kasus infkesi sebanyak 159,516 kasus. Sedangkan di Indonesia sendiri jumlah kasus infeksi meningkat dengan pesat, yang awalnya hanya terjadi 2 kasus, meningkat menjadi 96 kasus, kemudian 172 kasus, hingga yang terbaru total 4,557 kasus. (sumber: worldometers.info, 14/04/2020)
Penyebaran virus COVID-19 diduga berasal dari China, yaitu dari sebuah pasar hewan sebagai akibat dari mengkonsumsi daging (kelelawar, ular, dan hewan eksotis lainnya) yang tidak diolah dengan baik. Gejalanya yang mirip dengan penyakit flu biasa dan penyebaran yang begitu cepat membuat infeksi virus ini meningkat dengan pesat. Banyaknya korban yang berjatuhan di berbagai negara akhirnya mendorong WHO (World Health Organization) untuk mengkategorikan virus corona (COVID-19) sebagai epidemi global. WHO berharap dengan ditetapkannya COVID-19 sebagai epidemi global, semua negara menjadi lebih serius dalam menangani kasus penyebaran dan infeksi virus ini. Sebelumnya WHO sangat prihatin dengan sikap dari beberapa negara yang terkesan terlalu lamban dalam menangani kasus infeksi COVID-19. Direktur Jendral WHO Tedros Adhanom dalam sebuah konferensi pers di Jenewa (11/03) mengatakan dengan tegas bahwa serangan virus COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan masyarakat, tetapi juga krisis yang memberikan dampak kepada setiap sektor dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu ia mendesak setiap individu dalam masyarakat untuk terlibat aktif membantu pemerintahan negaranya memerangi penyebaran dan infeksi virus COVID-19.
Penyebaran COVID-19 di Indonesia
Pada awalnya Indonesia merupakan salah satu dari beberapa negara yang belum terkena infeksi COVID-19. Sampai dengan tanggal 1 Maret 2020 kasus infeksi virus COVID-19 di Indonesia belum terdeteksi. WHO dan beberapa negara lainnya sempat meragukan hal ini, mereka mengatakan bahwa infeksi virus COVID-19 sudah masuk ke dalam wilayah Indonesia, hanya saja pemerintah tidak mempunyai peralatan yang cukup untuk mendeteksi penyebaran dan infeksi virus ini. Menanggapi keraguan dari pihak luar, Terawan Agus Putranto selaku Menteri Kesehatan bahkan sempat menantang para ahli dari Harvard untuk meninjau langsung alat serta laboratorium pendeteksi virus COVID-19 yang ada di Indonesia. Terawan mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan pemeriksaan sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku dan hasilnya adalah Indonesia bebas dari wabah virus ini. Sampai dengan tanggal 1 Maret 2020 Indonesia masih bebas dari infeksi COVID-19 dan masyarakat masih melakukan aktivitasnya dengan normal.
Namun semuanya berubah setelah pada tanggal 2 Maret terdeteksi ada 2 orang Indonesia yang positif terjankit virus COVID-19. Dua orang ini merupakan seorang ibu (64 tahun) dan anak (31 tahun) yang berasal dari Depok, Jawa Barat. Kedua orang ini tertular setelah salah satu diantara mereka melakukan kontak dengan seorang WNA asal Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret jumlah korban yang terinfeksi bertambah menjadi 4 orang, meningkat menjadi 6 orang di tanggal 9 Maret, meningkat lagi menjadi 19 orang pada tanggal 10 Maret, dan terus mengalami peningkatan hingga jumlah korban terinfeksi virus menyentuh angka 4,557 orang pada tanggal 14 April. 4,557 orang terinfeksi dan 399 orang meninggal merupakan sesuatu yang buruk bagi pemerintah, lebih khususnya lagi masyarakat Indonesia. Menanggapi hal ini Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menghimbau agar masyarakat Indonesia mengurangi segala aktivitas diluar ruangan dan lebih memperhatikan kebersihan tubuh.
Menyikapi penyebaran dan infeksi virus COVID-19 yang sudah memasuki tahap menghawatirkan, beberapa Universitas mulai meliburkan siswanya serta mengganti sistem pendidikannya menjadi berbasis online. Berbeda dengan lembaga pemerintahan dan lembaga pendidikan seperti universitas, masyarakat awam memiliki respon yang beragam dalam menanggapi situasi ini. Sebagian masyarakat mulai panik, sebagai akibatnya beberapa alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer mulai sulit didapat, jika ada harganya pun sudah menjadi mahal. Sebagiannya lagi meremehkan, menganggap penyebaran dan infeksi virus COVID-19 sebagai sesuatu yang tidak berbahaya, sehingga sikap mereka cenderung santai dan tidak mendengarkan himbauan dari pemerintah. Tentunya sikap masyarakat yang sebagiannya panik dan sebagiannya lagi santai merupakan sesuatu yang buruk. Pencegahan penyebaran dan infeksi COVID-19 akan menjadi susah lantaran sebagian besar alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer menjadi langkah serta mahal. Masyarakat yang bersikap santai, lalu bebas berkeliaran tanpa memperhatikan himbauan terkait standar kesehatan juga semakin mempermudah penyebaran virus antara satu individu kepada individu lainnya. Sikap masyarakat yang seperti ini semakin mempersulit pemerintah dalam memerangi penyebaran virus COVID-19.
Sikap Orang Muda Katolik Babarsari
Pada tanggal 15 Maret 2020 diumumkan satu pasien positif terinfeksi virus COVID-19 di wilayah kota Yogyakarta. Pasien ini merupakan seorang anak laki-laki berumur 3 tahun, dirawat di RSUP Dr. Sardjito. Sedangkan kedua orang tua pasien masuk ke dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP), diisolasi bersama dengan anaknya di dalam sebuah ruangan. Setelah diselidiki ternyata pasien dan kedua orang tua pasien sebelumnya memiliki riwayat pernah berada di Depok, Jawa Barat.
Segera setelah berita tersebut beredar, pengurus paguyuban OMK Paroki Babarsari langsung mengadakan pertemuan. Pertemuan tersebut membahas beberapa hal, yaitu penundaan dan penonaktifan beberapa program kerja OMK, pengurangan dan pembatasan aktivitas orang muda Katolik di area gereja, serta langkah pencegahan penyebaran virus yang dilakukan oleh OMK. Hasil dari pertemuan tersebut tertuang dalam beberapa point kesepakatan yaitu, penundaan dan penonaktifan beberapa program kerja OMK, himbauan kepada seluruh orang muda Katolik untuk membatasi aktivitas di area gereja, melakukan doa bersama untuk memohon keselamatan, serta kesepakatan untuk melengkapi ruang OMK dengan hand sanitizer. Keputusan yang diambil tersebut sangatlah penting untuk menjaga kesehatan serta keselamatan seluruh Orang Muda Katolik Babarsari.
Orang Muda Katolik Babarsari menyikapi situasi epidemi virus COVID-19 dengan tenang. Sebagai bagian dari Orang Muda Katolik Babarsari saya terus memperhatikan dinamika dari teman-teman OMK. Sejak pertama kali terdengar kabar virus COVID-19 memasuki area jogja, respon yang ditunjukan oleh teman-teman OMK begitu tenang, mereka tetap beraktivitas namun intensitas aktivitas dikurangi serta melengkapi diri mereka dengan masker dan hand sanitizer. Teman-teman OMK tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan, mereka terus memantau perkembangan informasi yang ada dan dengan sabar menunggu himbauan-himbauan, baik itu dari pihak pemerintahan, universitas, maupun dari pihak gereja. Media sosial benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh para muda-mudi dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat terkait himbauan, prosedur pengamanan diri, dan informasi lainnya yang berhubungan dengan perkembangan penanganan virus COVID-19. Selain sebagai sarana untuk berbagi informasi, media sosial juga digunakan untuk saling menguatkan. Doa-doa, canda-tawa dan kata semangat sering terlihat di dalam ruang chat mereka. Tidak jarang juga terjadi diskusi diantara mereka, mulai dari topik sederhana sampai dengan topik yang agak berat diperbincangkan bersama. Terdapat dua hal menarik yang saya tangkap dari diskusi yang terjadi baru-baru ini. Hal menarik yang pertama adalah para muda-mudi ini sepakat epidemi virus COVID-19 telah menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya Tuhan bukan hanya berada pada saat misa mingguan di gereja saja, tapi Tuhan itu berada di dalam diri setiap orang yang beriman. Tuhan dapat ditemukan dalam keheningan dan kesendirian. Hal menarik yang kedua adalah para muda-mudi ini sadar bahwa epidemi virus COVID-19 merupakan sebuah cobaan bagi keimanan mereka kepada Yesus Kristus. Walaupun gerak menjadi terbatas dan ancaman penyebaran virus berada dimana-mana, para muda-mudi ini tetap kuat berpegang pada doa.
Berdoa Bersama Memohon Kesembuhan dan Keselamatan
Penyebaran dan infeksi virus COVID-19 telah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Terdapat 197.496 kasus infeksi yang terjadi diseluruh dunia, dengan total korban jiwa mencapai 7.905 orang. Menanggapi hal ini maka tim divisi liturgi OMK Don Bosco Babarsari mengajak semua umat untuk bersama-sama mendoakan kesembuhan dan keselamatan semua pasien virus COVID-19. Rumusan doa tersebut telah disusun lengkap dengan jadwalnya. Doa-doanya adalah sebagai beriku:
Doa setiap jam 15.00
- Doa Kerahiman
Ya Yesus, engkau telah wafat, namun sumber kehidupan telah memancar bagi jiwa jiwa dan terbukalah lautan kerahiman bagi segenap dunia. O sumber kehidupan, kerahiman ilahi yang tak terselami, naungilah segenap dunia dan curahkanlah dirimu pada kami.
- Doa memohon pertolongan dan perlindungan dari Bunda Maria
O Maria, engkau terus bersinar sepanjang perjalanan kami sebagai tanda keselamatan dan harapan. Kami mempercayakan diri kami kepadamu sebagai Kesehatan Orang Sakit, yang di Kayu Salib dekat dengan rasa sakit Yesus, menjaga imanmu tetap teguh.
Engkau keselamatan orang-orang Romawi, tahu apa yang kami butuhkan, dan kami percaya bahwa Anda akan memenuhi kebutuhan itu sehingga, seperti di Kana, di Galilea, sukacita dan perayaan dapat kembali setelah masa pencobaan ini.
Tolong kami, Bunda Cinta Ilahi, untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa dan untuk melakukan apa yang Yesus katakan kepada kami.
Dia yang menanggung penderitaan kita atas diri-Nya sendiri, dan memikul kesengsaraan kami untuk membawa kami, melalui Salib, menuju sukacita tentang Kebangkitan.
Kami mencari perlindungan di bawah perlindunganmu, O Bunda Suci Allah. Jangan meremehkan permohonan kami, kami yang diuji dan bebaskan kami dari setiap bahaya, hai Perawan yang mulia dan diberkati. Amin.
PENUTUP
Diakhir tulisan ini saya ingin menyampaikan kepada teman-teman semua untuk tidak panik menghadapi situasi ini, namun selalu waspada. Kurangi aktivitas di luar rumah, jaga selalu kebersihan tubuh, konsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan jangan lupa berdoa memohon perlindungan dari Tuhan. Jadilah pahlawan untuk diri sendiri dan sesama dengan mematuhi himbauan yang berlaku, jika merasa sakit segera beristirahat. Lihat perkembangannya, jika sampai beberapa hari sakit berlanjut dengan gejala demam 38 derajat celcius, batuk/pilek, disertai dengan kesulitan bernapas maka segeralah berobat ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Urungkan dulu niat untuk pulang ke kampong halaman, jagalah mereka dari kemungkinan terpapar virus yang kita bawa selama perjalan pulang. Salam sejahtera untuk kita semua, Berkah Dalem
Artikel by : Rio OMK
Editor : Gisella
by gisel | Feb 26, 2020 | Artikel
Ada yang sedikit menarik dan berbeda pada misa natal pagi yang diselenggarakan di Gereja Santa Maria Assumpta Babarsari Yogyakarta, Rabu (25/12/2019). Misa yang dimulai pukul 07.30 ini, diwarnai dengan keceriaan koor anak-anak dari komunitas PIA & PIRA. Lagu pembuka yang mereka bawakan berjudul Hai mari berhimpun dengan penuh keceriaan dan sukacita. Tidak hanya koor, lektor dan pemazmur pun juga dibawakan oleh anak-anak. Bacaan pertama yang dibacakan oleh Markho Darmawan, pemazmur Marcellinus Janenino, dan bacaan kedua dibacakan oleh Theresia Afrianti.
Pada perayaan natal kali ini, umat katolik diajak untuk hidup sebagai sahabat bagi semua orang yang sekaligus menjadi tema natal kita pada tahun ini. Ada sedikit pernyataan yang disampaikan oleh Romo Yohanes Iswahyudi Pr. dalam kotbahnya. “Apabila kamu tidak seperti anak-anak, Kamu tidak bisa masuk Surga”. Pernyataan itu pun dengan mengaitkan tema natal kita pada tahun ini, yakni apabila kita memiliki persoalan dengan orang lain, janganlah berlarut-larut, jadilah sahabat bagi orang lain seperti anak kecil yang polos dan tidak memiliki dendam.
Setelah itu romo bertanya kepada anak-anak, “Apa yang tidak boleh dilakukan pada sahabatmu?” Dengan iming-iming hadiah kemudian anak-anak menjawab dari panti koor. “Berantem!” “Tidak boleh mukul!” “Tidak boleh menendang!”. Dengan berbagai jawaban polos dari anak-anak, membuat suasana misa lebih santai dan penuh gelak tawa dari umat.
Di akhir kotbahnya, romo kemudian memberikan beberapa kesimpulan tentang bagaimana Tuhan Yesus bersahabat dengan manusia. Yang pertama sebagai sahabat, kita harus saling mendukung sebagaimana Tuhan Yesus yang selalu mendukung kita di dalam situasi yang tidak mudah. Kemudian yang kedua di dalam persahabatan, kita harus saling memberi dan menerima karena, kita akan terhindar perpecahan sebagai penyebab runtuhnya persahabatan. Lalu yang ketiga, didalam persahabatan harus ada kebebabasan. Bersahabat kalau selalu ada paksaan atau selalu memaksakan kehendak kepada sahabat maka persahabatan tersebut dapat retak.
Lalu dalam poin ke empat romo menyampaikan bahwa dalam persahabatan, terdapat keunikan sehingga keunikan tersebut harus dihargai. Bahkan lewat keunikan itu, kita menjadi kaya sehingga bisa saling melengkapi dalam sebuah persahabatan. Lalu poin terakhir yang disampaikan oleh romo adalah, dalam sebuah persahabatan harus terdapat keterbukaan, disertai dengan sikap bisa dipercaya, agar dapat menciptakan persahabatan yang sehat.
Setelah romo selesai memberikan khotbahnya, umat kemudian melanjutkan perayaan ekaristi. Kemudian, misa ditutup dengan lagu Feliz Navidad dengan sangat meriah dan ceria oleh komunitas PIA dan PIRA. Selain itu, komunitas PIA dan PIRA juga membagikan bingkisan kecil kepada anak-anak yang mengikuti ekaristi di pintu keluar utama gereja.
Liputan : Yobel
Editor : Klara Ega