by gisel | Jun 2, 2019 | Artikel
“Kita adalah sesama anggota”
(Efesus 4:25)
Berkah dalem BBC Raguel.
Setiap tahun Gereja Katolik Semesta merayakan Hari Komunikasi Sosial dan hari ini merupakan hari komunikasi sedunia yang ke-53. Kita diingatkan oleh Tuhan agar mampu mengembalikan makna komunikasi sesungguhnya. Komunikasi bukan semata-mata masalah bicara. Lebih dari itu, komunikasi adalah saat dimana kita saling menguatkan, saling menyapa, dan saling mengungkapkan kasih.
Sejak adanya internet, Gereja selalu berupaya mendorong pemanfaatannya untuk melayani perjumpaan dan membangun solidaritas antapribadi. Saya sekali lagi ingin mengajak Anda untuk merenungkan fondasi dan makna mendasar tentang keberadaan kita yang terbentuk melalui relasi.
Metafora Tentang Jejaring Dan Komunitas
Cakupan media dewasa ini sudah merambah dan menyebar dan menjadi semakin tidak terpisahkan dari ranah kehidapan sehari-hari. Internet dewasa ini menjadi sumber daya dan pengetahuan, serta relasi yang berkat teknologi mengakibatkan terjandinya tranformasi yang paling hakiki dan berdampak pada proses produksi, distribusi serta penggunaan konten.
Sejumlah ahli menyoroti faktor risiko yang mengancam pencarian, penerusan dan penyebaran informasi pada skala global. Meskipun internet pada satu sisi menyajikan sebuah kemungkinan yang luar biasa menyangkut akses pada pengetahuan, akan tetapi pada sisi lain, internet juga terbukti menjadi arena yang banyak terpapar informasi sesat, penyimpangan fakta dan distrosi relasi antarpribadi yang dilakukan sengaja untuk mendiskreditkan orang atau pihak tertentu.
Harus diakui bahwa jejaring sosial sungguh membantu kita untuk lebih mudah terhubung, saling membantu sama lain. Meskipun juga disadari bahwa di sisi lain, jejaring sosial menjadi sarana dimana mudah terjadi upaya memanupulasi data pribadi demi mendapatkan keuntungan politik atau ekonomi tanpa menaruh hormat pada pribadi seseorang, termasuk hak-haknya.
Data menunjukkan bahwa satu dari empat orang di kalangan kaum muda terlibat dalam kasus perisakan di dunia maya (cyber bullyng). Dalam skenario yang kompleks ini barangkali bermanfaat untuk merenungkan kembali metafora tentang “net” atau jejaring, yang merupakan dasar dan pijakan awal agar internet dapat mulai menemukan kembali potensi positifnya. Gambaran tentang jejaring mengajak kita untuk merenungkan begitu banyaknya lini dan persimpangan yang menjamin stabilitas, meskipun tidak ada satu titik pusat, tidak ada satu struktur hierarkis, dan bahkan tidak ada satu bentuk organisasi yang bercorak vertikal di dalam jejaring.
Jejaring berfungsi justru karena semua elemen di dalamnya saling berbagi tanggung jawab. Dari sudut pandang antropologi, metafora tentang jejaring ini mengingatkan kita pada sebuah citra atau gambaran lain yang sarat makna, yaitu komunitas. Sebuah komunitas niscaya menjadi jauh lebih kuat apabila bercorak kohesif (melekat satu dengan yang lain) dan suportif (saling memberi dukungan dan semangat), apabila digerakkan oleh rasa saling percaya dan mengupyakan pencapaian tujuan-tujuan bersama. Komunitas sebagai jejaring solidaritas menuntut dilibatkannya elemen saling mendengarkan dan dialog, dilandasi dengan penngunaan Bahasa secara bertanggung jawab. Dalam skenario ini, kita semua dapat memahami bahwa berbagai kelompok jejaring sosial tidak selalu sama bentuknya dengan komunitas.
Sangat boleh jadi bahwa kelompok-kelompok di dalam dunia maya ini mampu menunjukkan kohesi dan solidaritas, tetapi seringkali tidak lebih daripada sekedar kelompok-kolompok individu yang yang saling mengenal karena memiliki minat yang sama atau kepedulian bersama yang dicirikan oleh ikatan-ikatan antarpribadi yang lemah. Lebih dari itu identitas atau jati diri dalam jejaring sosisal seringkali hanya didasarkan oleh adanya sikap pertetangan dengan pihak lain, yaitu pribadi pribdi di luar kelompok: kita mendefinisikan diri dengan mengawalinya dari apa yang memisahkan kita.
Alih-alih mengawali dari yang apa yang menkita, sehingga memunculkan kecrigaan dan terwujudkan dalam beragam jenis prasangka (etnis, jenis kelamain, agama dan lainnya). Kecenderungan ini mebiakkan kelompok-kelompok yang menafikan keberagaman, seedemikian rupa sehingga bahkan dalam dunia maya pun bertumbuh subur individualisme yang tidak terkendali dan tidak jarang berujung pada berkobarnya spiral kebencian.
Melalui cara demikian, apa yang seharusnya menjadi tingkap untuk melongok dunia, malah justru berubah menjadi tontonan di dunia maya untuk memerkan narsisme pribadi. Internet membuka peluang untuk memajukan perjumpaan dengan orang lain, tetapi dapat juga memperparah isolasi atau keterasingan diri, laksana perangkap yang dapat menjebak kita.
Kaum muda adalah kelompok yang paling terpapar dapa angan-angan atau ilusi bahwa jejaring sosial dapat sepenuhnya memuaskan mereka pada ranah relasional. Ini merupakan fenomena yang sangat berbahaya, bahwa anak-anak muda pelan-pelan menjadi seperti “petapa sosial” yang beresiko mengasingkan diri mereka sepenuhnya dari masyarakat. Situasi dramatis ini mengungkapkan sebuah keretakan serius dalam jalinan-jalinan relasional masyarakat, yang tidak dapat kita abaikan.
Realitas yang beragam dan berbahaya ini menimbulkan berbagai pertanyaan yang bersifat etis, sosial, yurudis, politis, dan ekonomis sekaligus juga menjadi tantangan bagi gereja. Para pemimpin negara sedang berupaya menyusun regulasi seputar dunia maya dan melindungi tujuan pertamanya tentang jejaring yang bebas, tebuka dan aman. Pada saat bersamaan kita semua sebagai gereja memiliki peluang dan tanggung jawab untuk mendorong pemanfaatan dunia maya secara positif.
Jelas bahwa tidaklah memadai untuk sekadar melipagandakan koneksi daring guna meningkatkan saling pengertian. Lalu, bagaimana kita dapat menemukan identitas komunitarian atau jadi diri kita dalam persekutuan yang sejati, seraya menyadari tanggung jawab kita antara satu terhadap yang lain dalam koneksi daring tersebut?
sumber : komsoskam.com
by gisel | May 30, 2019 | Artikel
Selamat siang BBC Raguel, hari ini Kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Selama Masa Paskah, Kita sering kali mendengarkan Injil yang menceritakan penampakan Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan Kristus itu sendiri telah kita rayakan selama empat puluh Hari yang lalu. Dan pada Hari ini kita merayakan kenaikanNya ke surga.
Kenaikan Yesus sudah dikatakan sebelumnya dalam penampakan yang merupakan sarana penebusan Kita. Sumber kenaikan ini diambil dari Injil Lukas dan Kisah Para Rasul yang adalah juga tulisannya. Kedua kitab ini saling melengkapi informasi satu dengan yang lain untuk perayaan ini. Peristiwa Kenaikan Yesus Kristus adalah bagian dari rencana penyelamatan Tuhan kepada kita, karena setelah peristiwa itu, Roh Kudus yang menyertai Gereja diutusNya, yang akan dirayakan sepuluh hari kedepan. Dengan demikian, Kita di dunia selalu memiliki arahan hidup yang akan membimbing ke jalan yang benar. Kita yang saat ini merayakan Kenaikan Yesus, sebenarnya juga merayakan kita kelak, karena perayaan ini memberikan Kita harapan hidup bahwa ada kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini. Yesus Kristus telah membuktikan itu dengan kenaikanNya. Cara hidup Kita yang baik dan beriman saat ini, kemudian akan dikaruniai dengan kenaikan kita ke surga Yang merupakan tujuan Kita hidup di dunia ini.
Pada saat kenaikanNya ke surga, Yesus Kristus mengatakan kepada Para Rasul bahwa mereka adalah saksi akan peristiwa iman ini,sehigga sampai saat ini kita mempoleeh makna perayaan ini. Kemudian kata-kata yang sama telah disampaikan kepada Para Rasul, juga kita dengarkan dari Yesus Kristus yang menyatukan bahwa kita adalah juga saksi akan kenaikanNya. Apa yang bisa kita lakukan sebagai saksi kenaikanNya? Berkat bimbingan Roh Kudus yang telah kita terima dari Pembaptisan ( diterima juga oleh mereka yang akan dibaptis ), tugas yang telah diterima Para Rasul juga kita emban. Tugas ini tidak gampang dan merupakan satu tanggung jawab setiap orang Kristiani. Kita memang bukan saksi mata seperti yang dialami oleh Para Rasul. Akan tetapi kita menjadi saksi akan nilai dari kenaikanNya yang lebih mengarahkan harapan hidup kita dan orang lain saat ini. Paling tidak, ada dua hal perlu diperhatikan di dalam hidup ini, agar bisa menjadi saksi akan nilai dari kenaikanNya, bahkan menjadi dasar seorang Kristiani. Sebenarnya menjadi Kristiani itu sangat gampang dan mudah, karena cukup menghayati dan melakukan keduanya.
Peraturan pertama adalah kasih, baik itu kepada Tuhan maupun sesama. Yang kedua adalah cara hidup yang sesuai dengan iman. Melaksanakan kedua hal ini saja sudah cukup. Siapa yang memiliki cara hidup seperti ini, pasti telah menjadi pengikut Kristus yang baik dan sesuai dengan panggilannya di dunia ini. Bahkan jawaban paling sempurna dari pertanyaan sebelumnya yaitu hidup sesuai dengan iman dan menjadi saksi Kenaikan Yesus Kristus.
by gisel | May 23, 2019 | Artikel
SABTU SUCI
Pada hari Sabtu {askah Gereja tinggal di makam Tuhan, namun merenungkan penderitaan, wafat dan turunNya ke alam maut (Bdk, Nissale Romanum, Sab-bato sancto; Symbolum Apostolorum; 1PTE 3:19) dan menantikan kebangkitanNya dengan puasa dan doa. Amat dianjurkan, untuk merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat (Bdk. PPP no.40). Dimana hal ini tak mungkin, hendaknya diadakan ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini. Gambar Kristus – pada salib, beristirahat di makam atau turun ke alam maut, yang menjelaskan misteri Sabtu Paskah, atau juga Gambar Bunda berduka, dapat dipasang dalam gereja untuk dihormati kaum beriman. Pada hari ini Gereja tak merayakan Kurban Misa. (Missale Roma-num, Sabbato Sancto). Komuni suci hanya dapat diberikan sebagai bekal suci. Perayaan sakramen perkawinan dan sakramen-sakramen lain, kecuali sakramen tobat dan orang sakit, tak boleh diberikan. (Perayaan Paskah dan Persiapannya no. 73-75)
MALAM PASKAH
Malam Paskah dalam tradisi kuno adalah “malam tirakatan (vigili) bagi Tuhan”; tirakatan yang diadakan mengenang malam kudus Tuhan bangkit dan karena itu dipandang sebagai “induk semua tirakatan”(St. Agustinus Sermo 219, PL38, 1088). Di malam ini Gereja menantikan dalam doa Kebangkitan Tuhan dan merayakannya dengan sakramen baptis, penguatan dan ekaristi. (CE n.332) Malam Pesta Paskah yang dijalani orang-orang Ibrani dalam menantikan peralihan Tuhan yang membebaskan mereka dari perbuatandari perbudakan Firaun, dijadikan kenangan tahunan akan peristiwa ini; ia adalah gambar yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar permedekaan sejati: “ Kristus mematahkan rantai kematian dan naik dari alam mau sebagai pemenang” (Bdk Missale Romanum, Vigilia Paschalis, n.19 praeconium paschale). Sejak semula Gereja menjalani paskah tahunan, hari raya tertinggi, dalam perayaan malam. Karena Kebangkitan Kristus adalah dasar iman kita dan harapan kita; oleh baptis dan Krisma kita dimasukkan ke dalam misteri paskah; mati bersama Dia, dimakamkan bersama Dia, dibangkitkan bersama Dia dan akan ikut berkuasa bersama Dia juga. Malam Paskah mempunyai struktur sebagai berikut: Setelah perayaan cahaya pendek dan madah Paskah (bagian I) Gereja Kudus merenungkan karya agung yang dilaksanakan Allah tuhan pada umatnya sejak mulua (bagianII, Liturgi Sabda), sampai ia bersama anggota-anggota baru yang dilahirkan kembali dalam baptis (bagian III), diundang Tuhan ke merja yang disediakanNya bagi umatNya, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitanNya, sampai Ia datang kembali (bagian IV). (bdk. Missale Romanum, Vigilia Paschalis, n.2.). Urutan tata perayaan ini tak boleh diubah atas kuasa sendiri. Perayaan Malam Paskah yang baik menuntut agar para gembala sendiri lebih memahami teks dan Ritus, sehingga mereka mampu sebagai pendidik menghantar kaum beriman kepada misteri ini. (Perayaan Paskah dan Persiapannya Np. 77, 79, 80, 81, 86)
by gisel | Apr 23, 2019 | Artikel
Hari Jum’at Agung menjadi salah satu hari raya umat Kristiani dan Katolik. Apa sih sebenarnya makna dari hari Jumat Agung bagi umat Kristiani dan Katolik sehingga hari Jumat Agung dijadikan sebagai hari besar ?
Berikut beberapa ulasannya :
- Hari Kematian Tuhan Yesus
Inilah peristiwa yang terjadi beberapa ribu tahun silam sehingga sekarang kita menyebutnya hari Jumat Agung. Dalam hal ini Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah Bapa harus mati dengan cara disalibkan. Dimana Ia disalibkan diantara orang berdosa, padahal diriNya tidak berdosa. Hal ini, sesuai dengan nubuat yang disampaikan oleh Nabi Yesaya dalam kitab Perjanjian Lama. Peristiwa kematian Tuhan yesus juga sudah tertulis di Kitab Perjanjian Baru terutama dibagian Kitab Injil ( Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes)
- Penebusan Umat Manusia
Apa yang mengharuskan Tuhan Yesus mati ? Kenapa Allah Bapa menyerahkan anak-Nya yang Tunggal untuk mati diatas kayu salib ? Pada dasarnya setiap umat manusia sudah jatuh dalam dosa. Dimana seperti tertulis dalam Alkitab, upah dosa ialah maut. Tuhan sangat menyayangi umat-Nya, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk menggantikan posisi kita yang seharusnya menanggung penderitaan. Tujuannya, agar dosa setiap manusia dihapuskan melalui darah suci Yesus Kristus yang tercurah dan setiap manusia kembali lahir baru dan dapat bertobat mendekat kepada Tuhan.
- Pengorbanan dari Sang Raja dan Sang Juru Selamat
Sebagai seorang raja pada masa kini, tentunya harus dilindungi. Adakah raja yang rela mati di atas kayu salib demi rakyatnya ? Dimana penyaliban adalah hukuman yang paling menakutkan saat itu. Hanya Yesus Kristus satu-satunya Raja yang mau mati dan menderita di atas kayu salib untuk menyelamatkan setiap umat yang percaya kepadaNya agar dapat hidup masuk ke dalam Kerajaan Surga yang Kekal bersamaNya.
Demianlah makna-makna hari Jumat bagi Umat Kristiani secara keseluruhan. Jadi, apa makna hari Jumat Agung bagi kalian pribadi ?
† † †
“Lihatlah kayu salib, tempat bergantung Juruselamat dunia. Marilah kita menyembahnya.’ Inilah undangan yang disampaikan oleh Gereja kepada semua orang di senja Jumat Agung”
(St. Yohanes Paulus II)
by gisel | Apr 8, 2019 | Artikel
Selamat malam BBC Raguel yang terkasih dalam Kristus, dimulai dengan hari Rabu Abu pada tanggal 6 Maret lalu kita telah memasuki masa Prapaska yang artinya kitapun sudah memasuki masa retret agung demi mengenang Sengsara Tuhan Yesus.
Setiap masa Prapaska, kita diajak oleh Gereja untuk bersama-sama berpantang dan berpuasa. Puasa dan pantang yang disyaratkan oleh Gereja Katolik sebenarnya tidak berat, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Namun, meskipun kita melakukannya, tahukah kita arti pantang dan puasa tersebut bagi kita umat Katolik?
Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan ini yang dapat berbicara lebih lantang dari pada khotbah yang berapi-api sekalipun, dan dengan kekudusan inilah kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Allah begitu mengasihi dan menghargai kita, sehingga kita diajak oleh-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini. Caranya, dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih, dan sesungguhnya inilah yang bersama-sama kita lakukan dalam kesatuan dengan Gereja pada masa Prapaska.
Jangan kita lupa bahwa masa puasa selama 40 hari ini adalah karena mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebelum memulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat 4: 1-11; Luk 4:1-13). Yesus berpuasa di padang gurun dan pada saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Yesus mengalahkan godaan tersebut dengan bersandar pada Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka, kitapun hendaknya bersandar pada Sabda Tuhan untuk mengalahkan godaan pada saat kita berpuasa. Dengan doa dan merenungkan Sabda Tuhan, kita akan semakin menghayati makna puasa dan pantang pada Masa Prapaska ini.
Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.
Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:
• Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.
• Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan jugamasa prapaskah.
• Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.
• Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.
• Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.
Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :
• Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
• Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.
• Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.
Maka penerapannya adalah:
1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang setiap hari selama Masa Prapaska.
2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.
4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).
5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)
7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.
Demikian ulasan mengenai pantang dan puasa menurut ketentuan Gereja Katolik. Semoga bermanfaat.
Sumber dari katolisitas.org