by editor | Jan 5, 2020 | Renungan
PRABU Ramawijaya sedang sendu hatinya oleh kerinduan terhadap kekasih hatinya, Rekyan Wara Sinta yang diculik Rahwana ke Alengka. Ia ingin melihat keadaan kekasihnya itu sekaligus menjajagi kekuatan Alengka.
Maka ia ingin mengutus seorang duta ke Alengka. Jaya Anggada dan Anoman saling bersaing menjadi duta Sang Ramawijaya. Anoman sanggup menjelajah Alengka selama satu hari dan sanggup memberi warta tentang keberadaan Dewi Sinta.
Jaya Anggada marah karena disaingi oleh Anoman. Ia sakit hati dan menantang Anoman. Oleh Anoman, Jaya Anggada diajak berlomba, siapa yang kuat naik ke puncak Gunung Himawat dan kembali dengan selamat, dialah yang akan menang.
Belum sampai separo naik gunung, Jaya Anggada sudah kepayahan dan kelelahan. Dia jatuh pingsan di depan Anoman. Sementara Anoman menunjukkan kebolehannya, dia berlari sekencang mungkin naik ke puncak Gunung Himawat dan turun dengan cepat tanpa ngos-ngosan. Jaya Anggada bertobat dan mengakui kehebatan Anoman.
Dalam bacaan Injil, Yesus tinggal di Kapernaum di daerah Zebulon dan Naftali, wilayah bangsa-bangsa lain. Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. Di Kapernaum itu Yesus mewartakan pertobatan kepada semua orang.
Ia menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan. Pertobatan pertama-tama yang diwartakan Yesus. agar orang bisa mengalami kasih Allahdibutuhkan hati yang terbuka pada pertobatan.
Orang-orang Kapernaum mau bertobat dan percaya kepada Yesus. Maka banyak terjadi penyembuhan. Semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan lumpuh, mereka disembuhkan oleh Yesus. mereka mengikuti perkataan Yesus. mereka mau bertobat.
Jaya Anggada itu sombong dan tidak mau mengalah. Ia tak bisa memenuhi dan meringankan beban Sri Rama. Anoman datang dan mampu menyelesaikan masalah.
Keangkuhan dan kesombongan kita kadang justru menghalangi tumbuhnya kebaikan. Semangat kerendahan hati dan pertobatan membuka jalan terwujudnya kebaikan Allah.
Seperti orang-orang Kapernaum itu,mereka lebih terbuka, mau percaya kepada Yesus daripada orang-orang Nasaret tempat Yesus tinggal.
Marilah kita membuka hati dan percaya kepada Yesus supaya karya Allah menjadi nyata dalam hidup kita.
Orang Jakarta ngungsi ke Surabaya
Belajar nanggulangi banjir kaya Bu Risma
Mari kita hidup dengan percaya
Kebaikan Tuhan akan tiba pada waktunya
Cawas, masih ada mendung
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 5, 2020 | Renungan
BETLEHEM hancur pada masa pemberontakan Bar Kokhba (132-135 M) dan orang-orang Romawi membangun sebuah tempat suci untuk Adonis di tempat kelahiran Yesus.
Baru pada tahun 326 gereja Kristen pertama dibangun, ketika Helena, ibunda Kaisar Kristen pertama, Konstantin, mengunjungi Betlehem.
Pada masa pemberontakan Samaria pada 529, Betlehem dirampok, dan tembok-tembok kota serta Gereja Kelahiran dihancurkan, namun semuanya itu segera dibangun kembali berdasarkan perintah Kaisar Yustinianus.
Pada 614, Persia menyerbu Palestina dan merebut Betlehem. Kisah yang diceritakan dalam sumber-sumber yang terpercaya mengatakan bahwa mereka membatalkan rencana menghancurkan Gereja Kelahiran ketika mereka melihat gambar orang majus yang dilukiskan mengenakan pakaian Persia dalam salah satu mosaik di Gereja itu.
Gereja kelahiran Tuhan Yesus tetap utuh terpelihara sampai sekarang karena ada gambar mosaik orang-orang Majus yang menyembah Yesus.
Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang tiga orang Majus yang mencari Raja orang Yahudi yang baru lahir. Mereka itu adalah orang cerdik pandai, bijaksana.
Ada yang menyebut mereka adalah tiga raja dari Timur. Mereka dibimbing oleh bintang menuju ke Betlehem. Ketika sampai, mereka melihat Anak dan ibuNya serta menyembahNya.
Mereka mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Emas melambangkan raja. Kemenyan biasa dipakai untuk pemujaan harum mewangi kepada Tuhan. Mur sejenis kemenyan tetapi pahit rasanya untuk mengawetkan jenasah.
Juga dipakai untuk obat. Ketiga persembahan itu melambangkan Yesus adalah Tuhan dan Raja orang Israel yang nanti akan mati menyelamatkan kita.
Hari Raya Penampakan Tuhan ini mau mengatakan kepada kita bahwa Yesus yang lahir itu adalah raja penyelamat bagi siapa pun juga. Bangsa-bangsa dari Timur datang menyembah kepada Yesus yang adalah Raja Ilahi.
Orang Majus itu mewakili bangsa-bangsa lain yang datang menyembah. Keselamatan Kristus bersifat universal. Keselamatan Tuhan itu ditujukan kepada semua makhluk.
Yesus datang untuk semua orang. Ia mengasihi siapa pun bahkan mereka yang miskin, berdosa, tersingkir, lemah dan menderita.
Kita dipanggil untuk menjadi bintang penunjuk, yang membawa banyak orang kepada keselamatan yakni Yesus.
Fungsi bintang adalah memberi terang dan penunjuk dalam kegelapan. “Bangkitlah, menjadi teranglah….” kata Nabi Yesaya. Mari kita menjadi bintang bagi kegelapan di sekitar kita.
Sekecil apa pun bintang
Sinarnya tetap memberi terang
Hidup kita bahagia dan senang
Karena Yesus telah datang
Cawas, menunggu Kanjeng Mami
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 3, 2020 | Renungan
SALAH satu cara mempromosikan barang atau hasil produksi adalah dengan “gethok tular” atau menceritakan nilai plus suatu produk dari mulut ke mulut. Cara ini sangat efektif dan murah biayanya.
Tentu saja kualitas barang atau produk harus benar-benar terjamin. Orang akan bercerita dari mulut ke mulut tentang suatu produk dan ini akan menyebar kemana-mana sehingga produk itu menjadi terkenal.
Misalnya, kalau anda ke Cawas, belum afdol kalau belum mencicipi sate Mbah Warti. Kalau saya ketemu romo-romo, mereka selalu berkata, “sudah mampir warunge Mbah Warti belum?” Anda tinggal milih mau sate, gulai, tongseng atau thengkleng khas Cawas.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes memproklamirkan Yesus sebagai Anak Domba Allah kepada dua orang muridnya.
Mereka lalu mengikuti Yesus. Yesus bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?” Dua orang murid itu balik bertanya kepadaNya,”Guru, dimanakah Engkau tinggal?”
Yesus mengajak mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka tinggal bersama-sama dengan Dia.
Dua orang murid itu, yang satu disebut namanya yakni Andreas. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon saudaranya. Ia mengatakan kepada Simon bahwa ia sudah bertemu dengan Mesias.
“Kami telah menemukan Mesias.” Peristiwa “gethok tular” terjadi di sini. Andreas kemudian membawa Simon kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya Petrus).”
Perjumpaan dengan Yesus membuat Simon berubah menjadi Kefas atau Petrus, Batu Karang. Mengenal Kristus berarti berubah. Inilah fokus pastoral umat Allah Keuskupan Agung Semarang,
“Umat Katolik yang transformatif.” Berjumpa dengan Kristus berarti menjadi pribadi yang baru. Andreas mengajak saudaranya untuk diperbaharui dalam Kristus.
Murid yang menjadi teman Andreas tidak disebut namanya. Ia bisa diberi nama siapa saja; bisa Paijo, Slamet, Ngadimanto, Sarino, Wagimin atau siapa pun.
Siapa pun juga yang sudah berjumpa dengan Kristus dipanggil untuk mengajak teman-temannya datang kepada Kristus seperti Andreas itu.
Mari kita “gethok tular” menceritakan siapa Kristus kepada semua orang agar mereka mengalami perubahan menuju keselamatan dalam Kristus.
Di Pantai Baron gelombangnya naik
Semua pengunjung diminta waspada
Kita harus bisa jadi sales promotion yang baik
Agar Kristus dikenal oleh siapa pun juga
Cawas, menanti senja pantai Drini
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 2, 2020 | Renungan
HUMILITATE, kata Bahasa Latin ini berarti kerendahan hati. Kata ini mengingatkan kita pada motto tahbisan Mgr. Ignatius Suharyo menjadi uskup. “Serviens Domino cum Omni Humilitate.”
Humilitate mengambil kata dasar humilis, turunan dari kata humus yang berarti tanah yang subur. Orang yang rendah hati ibaratnya tanah yang subur, dapat menghasilkan buah keutamaan yang berlimpah.
Tanah yang subur dapat menumbuhkan dan mengembangkan berbagai jenis tanaman. Tanaman yang hidup di tanah yang subur akan menghasilkan banyak buah. Begitu juga kerendahan hati. Orang yang rendah hati akan menghasilkan banyak keutamaan hidup.
Bacaan Injil hari ini memberikan insight bagi kita tentang Yohanes Pembaptis yang rendah hati. Kemarin dia mengungkapkan dengan jujur bahwa dirinya bukan Mesias.
Bahkan untuk membuka tali kasutnya pun tidak layak. Sikap rendah hati. Dalam bacaan hari ini, Yohanes menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah.
Dengan jujur dan rendah hati ia menunjuk kepada Yesus, “Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dia itulah yang akan membaptis dengan Roh Kudus.”
Ketika Bapak Yustinus Kardinal Darmoyuwono turun tahta sebagai uskup dan kardinal, semua orang kaget dan terbengong-bengong.
Banyak orang menyayangkan kenapa jabatan yang sangat terhormat itu dilepaskan dan memilih pensiun serta “hanya” menjadi pastor rekan di Paroki Banyumanik, pinggiran kota Semarang.
Banyak alasan yang disampaikan sebagai jawaban. Tetapi akar dari semua jawaban itu adalah sikap dasar Bapak Kardinal yakni kerendahan hati.
Orang yang rendah hati, memberi kesempatan kepada orang lain tumbuh berkembang. Beliau memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengembangkan umat di KAS.
Bagi orang beriman, uskup atau kardinal itu bukan jabatan karier, tetapi tugas pelayanan. Kekuasaan itu bukan segala-galanya.
Seperti Yohanes Pembaptis, ia membiarkan Yesus makin besar, dan ia menjadi semakin kecil. Ia dengan rela dan ikhlas hati mundur dan membiarkan Anak Allah tampil ke depan.
Inilah semangat kerendahan hati. Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis untuk menjadi humus, tanah yang subur bagi orang lain.
Banjir bandang sedang melanda Jakarta
Banyak mobil terseret oleh air
Mari kita ikut membantu dan berbela rasa
Agar rakyar kecil tidak susah dan kawatir
Cawas, Pray for Jakarta
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jan 2, 2020 | Renungan
Seorang wanita asal Thailand telah kehilangan tasnya yang berisi uang dan benda berharga. Wanita bernam Nukhlia Sangkaew ini kehilangan tasnya usai mengambil uang dari bank.
Uang senilai Rp 50 juta itu rencananya akan digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit. Namun malang, saat perjalanan pulang Nukhlia malah terjebak hujan deras dan tasnya terjatuh.
Menyadari tasnya hilang, Nukhlia pun melapor ke kantor polisi. Di dalam tas itu tidak cuma ada uang tetapi juga emas seberat 90 gram. Dengan harta itu ia akan melunasi biaya rumah sakit karena beberapa waktu lalu dia harus opname di sana.
Tak lama kemudian Nukhlia menerima telpon dari seorang gadis yang menemukan tasnya. Nukhlia menjumpai gadis itu, ternyata ia adalah seorang bocah perempuan berusia 9 tahun, bernama Piyarat. Gadis ini dengan kejujurannya mengembalikan semua milik Nukhlia.
Kejujuran adalah nilai yang sangat mahal di dunia ini. Hal ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang meneliti tentang kesuksesan seseorang.
Ia memetakan ada 100 faktor kesuksesan seseorang. Kesuksesan seseorang bukan ditentukan oleh nilai ujian yang baik seperti NEM, IPK atau rangking di kelas (Urutan 30).
Juga bukan oleh faktor IQ yang tinggi (urutan 21) atau menempuh study di universitas/sekolah favorit ( urutan 23). Faktor yang paling menentukan dalam kesuksesan seseorang ternyata adalah :
1. Kejujuran, 2. Disiplin tinggi, 3.Mudah bergaul, 4.Dukungan pendamping/motivator, 5. Kerja keras, 6. Cinta pada tugas, 7.jiwa kepemimpinan, 8. Kepribadian kompetitif, 9. Hidup teratur dan 10. Kemampuan menawarkan ide briliant.
Kejujuran itulah yang diajarkan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini. Ia jujur mengatakan bukan Mesias, bukan salah seorang nabi, bukan Elia.
Walaupun kalau ia mau,ia bisa mengatakan itu karena orang banyak percaya kepadanya. Tetapi ia memilih mengatakan kejujuran kepada orang-orang yang diutus untuk menanyakan siapa dirinya.
Bahkan dia dengan rendah hati mengaku,”Membuka tali kasutnya pun aku tidak layak.” Inilah semangat jujur dan rendah hati yang diteladankan oleh Yohanes Pembaptis.
Marilah kita berlaku jujur karena semangat itu adalah juga perwujudan iman kita. kita tanamkan semangat jujur sejak awal kepada anak-anak.
Dimana pun kita semoga selalu membawa sikap jujur karena sikap itulah yang akan menunjukkan siapa kita.
Makan malam menunya bubur
Ditambah krupuk ikan tenggiri
Marilah kita bersikap jujur
Biar kita jadi ahli waris surgawi
Cawas, walau mendung tetap ronda
Rm, A. Joko Purwanto Pr