Puncta 26.05.19 Minggu Paskah VI Kisah 15:1-2.22-29. Inji Yohanes 14:23-29 Buah Roh Kudus

DALAM dunia pewayangan kita mengenal dua kelompok yakni Kurawa dan Pandawa. Masing-masing mempunyai penasehat agung, di pihak Kurawa yang menjadi penasehat adalah Pandita Durna dan Sengkuni.

Di pihak Pandawa yang menjadi penasehat adalah Kresna. Para penasehat itu membimbing mereka dengan kebijaksanaannya. Namun kalau kita lihat hasilnya ternyata berbeda.

Durna dan Sengkuni justru mengarahkan Kurawa kepada kehancuran. Sedangkan Kresna membimbing Pandawa pada kedamaian, kerukunan dan kemenangan.

Buah bimbingan yang baik akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya buah bimbingan jahat akan menghasilkan kejahatan.

Yesus mengatakan kepada para muridNya, “Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”

Roh Kudus adalah Roh Yesus Kristus sendiri. Dialah yang akan mengajarkan dan mengingatkan segala sesuatu yang dikatakan Yesus.

Buah pengajaran Roh Kudus pasti membawa kebaikan. Buah Roh itu adalah kasih, damai sejahtera, sukacita, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan.

Dalam Bacaan pertama, para rasul mengadakan sidang di Yerusalem untuk mencari solusi terhadap permasalahan iman umat.

Konflik antara orang Kristen Yahudi dan bukan Yahudi harus diselesaikan. Pandangan tentang keharusan sunat adat Yahudi dan tidak sunat harus dicarikan jalan keluar.

Akhirnya mereka memutuskan, “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu”.

Buah dari karya Roh Kudus itu adalah jemaat bersukacita, hidup rukun dan damai. Mereka bersekutu dalam iman dan berkembang dalam bimbingan Roh Kudus.

Kehadiran kita semestinya membawa kuasa Roh Kudus. Tandanya ialah jika kehadiran itu membawa damai, sukacita, kerukunan, kebahagiaan, kelemah-lembutan dan kebaikan bagi sesama.

Apakah kehadiran kita sungguh berdampak positif dan subur bagi orang lain?

Sungguh nikmat makan pisang rebus
Ditemani dengan secangkir kopi arabica
Jika kita membawa Roh Kudus
Buahnya adalah kebaikan bagi sesama

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 25.05.19 Yohanes 15:18-21 Post-truth Era

Imam di desa terganggu doanya karena anak-anak ramai bermain-main di sebelah rumahnya.

Untuk menghalau anak-anak itu ia berseru: ‘Hai, ada raksasa mengerikan di sungai di bawah sana. Bergegaslah ke sana! Nanti kamu akan melihatnya sedang menyemburkan api lewat lubang hidungnya.’

Sebentar saja semua orang di kampung sudah mendengar tentang munculnya raksasa itu. Mereka cepat-cepat berlari menuju sungai.

Ketika imam melihat hal ini, ia ikut bergabung bersama banyak orang. Sambil berlari sepanjang jalan menuju ke sungai yang enam kilometer jauhnya, ia kembali berpikir: ‘Memang benar, aku sendiri yang membuat cerita. Tetapi, barangkali benar juga, … siapa tahu.’ (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ)

Kisah di atas menggambarkan kehidupan masyarakat yang dikuasai oleh era post-truth/pasca-kebenaran. Esensi kebenaran tidaklah terlalu penting.

Post-truth adalah suatu upaya menggiring opini publik, bahkan emosi massa, dengan mengesampingkan dan mendegradasikan fakta dan data obyektif.

Lihatlah di medsos, ada banyak data dan fakta yang tidak benar berseliweran, orang yang tidak kritis mudah mempercayainya sebagai kebenaran. Dunia sekarang lebih suka mencari pembenaran daripada kebenaran.

Yesus pernah berkata, Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Sabda dan tindakan Yesus adalah kebenaran karena berasal dari Allah sendiri.

Ia tidak memainkan politik post-truth, tetapi mewartakan kebenaran. Karena mewartakan kebenaran, maka Yesus dibenci oleh dunia.

Dunia lebih percaya pada cerita kebohongan seperti kisah Raksasa di sungai itu.

Oleh karenanya, para murid diingatkan oleh Yesus, “Jika dunia membenci kalian, ingatlah bahwa dunia telah membenci Aku lebih dahulu. Sekiranya kalian dari dunia, tentu dunia menyayangi kalian sebagai miliknya. Tetapi karena kalian bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kalian dari dunia, maka dunia membenci kalian”.

Kita dibenci oleh dunia karena kita mengikuti Yesus yang cinta kebenaran. Yesus adalah kebenaran itu sendiri. Murid Kristus harus berani mewartakan kebenaran.

Maka kita harus kritis di era post-truth ini. Jangan mudah percaya pada berita bohong, fitnah, hoax. Apalagi malah langsung menyebarkannya.

Tidak masalah kita dibenci oleh dunia, karena Yesus telah lebih dahulu dibencinya. Kita ini bukan dari dunia karena telah ditebus oleh Sang Kebenaran sejati yakni Yesus sendiri.

Naik becak pergi ke kota Kendal
Karena ngantuk tersesat sampai ke Gombong
Janganlah diperbudak oleh media sosial
Dengan menyebarkan berita-berita bohong

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.05.19 Yohanes 15:12-17 Sumantri – Sukrosono

SALAH satu syarat agar Sumantri diterima mengabdi di Kerajaan Maespati adalah memindahkan Taman Sriwedari atas permintaan Prabu Harjuna Sasrabahu.

Ini syarat yang sangat sulit. Namun oleh kesaktian Sukrosono, adik Sumantri yang berwajah raksasa, Taman Sriwedari dapat dipindahkan.Sebelum itu terjadi, Sumantri diminta berjanji untuk tidak meningalkan Sukrosono.

Tidak menghina dan menyia-nyiakannya karena wajahnya yang buruk rupa. Sumantri mau berjanji untuk tidak berpisah sekejap pun dengan Sukrosono.

Ketika Dewi Citrawati memeriksa taman, ia terkejut ketakutan karena ada raksana jelek berwajah menakutkan berada di dalam tamannya.

Sumantri marah kepada Sukrosono dan menyuruhnya untuk meninggalkan taman. Tetapi Sukrosono bersikukuh ingin tetap tinggal bersama Sumantri.

Sumantri menakut-nakuti adiknya itu dengan panah terkekang. Tapi Sukrosono tetap mengiba ingin bersamanya. Hati yang marah membuat lupa diri.

Panah di tangan Sumantri terlepas dan mengenai dada Sukrosono. Ia mati untuk kakaknya yang ingin mengabdi di Maespati. Ia rela mati demi kebahagiaan kakaknya.

Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu hamba. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”

Yesus mengorbankan hidupNya demi keselamatan kita para sahabatNya. Ia mati karena cintaNya kepada kita manusia.

Yesus mengangkat martabat kita melalui kematianNya. Kita manusia yang berdosa, berkat kematianNya, diangkat menjadi anak-anak Allah.

Kita yang bukan siapa-siapa menjadi sahabat-sahabat Yesus. Kita yang seharusnya dihukum karena dosa, tetapi mendapat belaskasih Allah berkat kematian Yesus. Tidak ada kasih sebesar kasih Yesus yang memberikan nyawaNya untuk kita.

Sukrosono merelakan hidupnya demi Sumantri kakaknya. Sumantri yang semestinya gagal mengabdi di Kerajaan Maespati, karena kematian Sukrosono, akhirnya diangkat menjadi Mahapatih.

Berkorban adalah tindakan luhur dan mulia. Berani mengorbankan diri demi kebahagiaan orang lain itulah panggilan murid-murid Kristus. Beranikah kita berkorban ?

Ke Kopeng mengendarai Vespa
Habis minyak Vespa merana
Berani mengorbankan diri bagi sesama
Meniru Kristus yang wafat demi sahabatNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 23.05.19 Yohanes 15:9-11 Kerinduan Sinta

KETIKA Hanoman datang di Taman Argosoka sebagai utusan Prabu Rama, hati Sinta sangat bersukacita. Hanoman mengabarkan keadaan Rama yang sangat merindukan kekasihnya.

Untuk itu ia menitipkan cincin untuk Sinta. Jika cincin itu dipasang di jari manis Sinta dan ukurannya pas, maka Rama yakin akan cintanya kepada Sinta.

Benarlah cincin itu diserahkan Hanoman kepada Sinta dan terpasang cocok di jari manis kekasih Sang Rama.

Sinta berbahagia dengan hati yang berbunga-bunga mengetahui Rama masih merindukannya. Ia ingin segera bertemu dengan Rama.

Untuk itu ia menitipkan “cunduk” gelung rambutnya kepada Hanoman agar diserahkan kepada Rama. Cunduk gelung itu sebagai lambang ikatan cinta yang tak tercerai bagi Rama.

Kerinduannya sangat menggelegak untuk segera bersatu kembali dengan kekasihnya. Waktu penantian itu dirasa sangat begitu lama.

Taman Argosoka yang indah tak mampu menggantikan kesepiannya tanpa kehadiran Rama yang sangat dikasihinya. Tinggal di dalam kasih membawa sukacita bagi kehidupan.

Yesus mengatakan, “Tinggallah dalam kasihKu. Jika kalian menuruti perintahKu, kalian tinggal dalam kasihKu sebagaimana Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal dalam kasihNya. Semua itu Kukatakan kepadamu, agar sukacitaKu ada dalam kalian dan sukacitamu menjadi penuh”.

Sinta sangat bersukacita ketika Hanoman menghaturkan tanda cinta Rama kepadanya yakni berupa cincin. Betapa rindunya Sinta untuk bisa bersatu dengan Rama karena dialah yang menjadi kepenuhan harapan hidupnya.

Sinta ingin tinggal bersama Rama. Walaupun harus tinggal di tengah hutan, tetapi bersatu dengan Rama lebih indah daripada tinggal sendirian di Taman Argosoka.

Yesus sangat ingin tinggal bersama kita. Maka Dia mengundang kita untuk datang kepadaNya agar kita dapat bersatu denganNya. Tinggal bersama Yesus dapat kita alami kalau kita ikut ekaristi.

Dengan menyambut Tubuh dan DarahNya, kita tinggal dalam kasihNya. Dalam ekaristi, Yesus hadir memberikan diriNya dan bersatu dengan kita menjadi makanan dan minuman kehidupan.

Janganlah kita sia-siakan ajakan Yesus itu untuk tinggal bersamaNya. Kapan lagi kita akan mengalami sukacita yang penuh jika tidak tinggal bersamaNya?

Indah sekali kisah Rama dan Sinta
Berkasihan selalu berdua
Yesus mengajak tinggal dalam kasihNya
Maka penuhlah kita dengan sukacita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 22.05.19 Yohanes 15:1-8 Pokok Anggur dan Kita Rantingnya

Pada suatu kali Pak Tono, ketua umat di Selupuk datang ke pasturan. Ia minta ijin untuk memanen buah jengkol di kebun pasturan.

Saya berpesan supaya cara memetik buah jengkol tidak dipangkas pohonnya tetapi dipetik satu per satu dengan arit. Selain itu saya juga minta supaya ranting-ranting kecil dibersihkan supaya tahun depan masih bisa berbuah.

Ia bisa memanen buah jengkol sampai 5 karung dalam satu pohon. Sebuah hasil yang luar biasa karena waktu itu 1 kg jengkol dihargai Rp. 17,000.

Pak Tono berkata kepada saya, “Benar kata romo. Dengan membersihkan ranting-ranting pohon, buahnya makin banyak dan hasilnya makin berlimpah. Tuhan memberi rejeki lewat pohon jengkol di pasturan ini”.

Saya menimpali, “Kalian memanen jengkol dengan menebang pohonnya, bagaimana tahun depan bisa panen lebih banyak kalau pohon itu ditebang habis? Jangan hanya cari mudahnya, tetapi berusahalah memeliharanya.”

Hari ini Yesus menyebut, “Akulah pokok anggur yang asli dan BapaKulah pengusahanya. Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotongnya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkannya supaya berbuah lebih banyak”

Kita diajak untuk tinggal di dalam Yesus sebagai pokok anggur. Kita ini adalah ranting-rantingnya. Kalau kita tinggal di dalamNya, maka kita akan berbuah banyak.

Dengan menempel di dalam diri Yesus, kita mendapat kehidupan. Jika kita terlepas dan meninggalkan Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan akan mati dan dibakar habis menjadi debu saja.

Ketika kita mencintai dan memelihara pohon yang kita tanam, dia akan memberi hasil yang banyak. Tetapi kalau kita tak pernah menyiraminya, menyianginya, menjaganya, maka pohon itu lama-lama akan mati kekeringan.

Begitu pun iman kita. Jika kita tak memelihara dan mengembangkannya, maka lama-lama iman itu pun akan mati kering. Marilah kita tetap bersatu dengan pokok anggur yang asli yaitu Yesus sendiri.

Berteduh di bawah pohon munggur
Sambil menikmati segarnya udara
Yesus adalah Pokok Anggur
Kita semua adalah ranting-rantingNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr