Puncta 21.05.19 Yohanes 14:27-31a Salam Tempel

DAHULU istilah “damai” sering kita konotasikan sedikit miring. Istilah itu sering kita dengar di jalan-jalan saat terjadi “tilang”. Polisi mengadakan operasi pelanggaran lalu lintas. Banyak pengendara yang terkena operasi karena tidak membawa SIM, tidak memakai helm atau melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Agar tidak disidang di pengadilan, pengendara yang kena “tilang” memohon kebijakan Pak Polisi dengan minta damai. “Damai saja ya Pak” katanya sambil menyodorkan amplop berisi uang agar kasusnya tidak dibawa ke pengadilan.

Damai dalam hal ini sama dengan menyuap. Damai itu bermakna TST yakni tahu sama tahu. Pelanggar lalu lintas tahu bahwa ia salah. Pak Polisi diharapkan sama tahu agar ia tidak menghukumnya dengan menerima sejumlah imbalan.

Tindakan “salam tempel” seperti itu mungkin tidak saja terjadi di jalan, tetapi merambah di segala bidang kehidupan. Penerimaan siswa, karyawan, tenaga kerja, pegawai, tidak luput terjadi salam tempel. Pembuatan perijinan berbagai urusan, dari ijin usaha sampai ijin mendirikan rumah ibadah tidak terlepas adanya salam tempel.

Hari ini dalam Injil Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahteraKu yang Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan bukan seperti yang diberikan dunia kepadamu”.

Kalau damai seperti yang terjadi di jalan, kantor, atau di manapun di dunia ini berarti salam tempel, itu bukan yang diberikan oleh Yesus. Damai yang diberikan dunia itu berarti membiarkan kejahatan atau kesalahan tetap berlangsung asal kita aman-aman saja. Pada akhirnya dunia akan menjadi kacau balau jika damai seperti itu terus terjadi.

Damai sejahtera yang diberikan Yesus adalah damai keselamatan yang utuh. Damai yang benar di dunia ini dan damai yang menyelamatkan sampai di surga. Damai yang dibawa Yesus adalah bersatunya kita yang menjadi muridNya dengan Bapa di surga.

Maka Yesus mengajak kita bersukacita ketika Yesus pergi kepada Bapa. “Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kalian mengasihi Aku, kalian tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih agung daripada Aku”.

Damai yang dibawa oleh Yesus adalah bersatunya kita dengan Allah Bapa. Yesus pergi kepada Bapa untuk menyediakan tempat bagi kita. Di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal. Yesus nanti akan kembali ke dunia untuk membawa kita ke rumah Bapa. Itulah damai yang kita nantikan yakni kita berada di rumah Bapa.

Pergi ke Pontianak melihat gawai
Para pemuda-pemudi menari bersukaria
Yesus datang membawa damai
Agar kita bersatu dengan Bapa di surga

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 20.05.19 Yohanes 14:21-26 Tuyem dan Unyil

KAMI mempunyai 3 ekor anjing di pasturan. Yang jantan warnanya coklat namanya Browni. Yang betina warnanya hitam namanya Tuyem. Mereka beranak, diberi nama Unyil. Dengan para penghuni pasturan, anjing-anjing ini sangat jinak.

Setiap kali kami pulang mereka menyambut dari gerbang dan mengikuti sampai ke garasi. Mereka sangat mengenal “tuannya”, apalagi si Unyil sering bermanja-manja mengajak bermain sambil mengibas-ibaskan ekornya. Seperti orang yang rindu ditinggal kekasihnya.

Tetapi Tuyem sangat galak, apalagi dengan Pak Mur. Setiap kali Pak Mur datang, Tuyem selalu menyalak dengan keras. Segala gerak gerik Pak Mur diikuti dengan gonggongan seperti protes. Itu berlangsung beberapa bulan. Kami menganjurkan supaya Pak Mur sering memberinya makan.

Dengan diberi makan, disayang, disapa dengan lembut, lama kelamaan Tuyem ini melunak. Sekarang dia tak pernah lagi menggonggong galak. Hanya kepada orang asing, anjing-anjing ini, apalagi kalau digoda, mereka mengejar sambil menyalak keras. Anjing itu tahu disayang, dikasihi. Jika ia disayangi, maka ia akan menuruti perintah kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus bersabda, “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadaNya.” Ada hubungan erat antara mengasihi Allah dan melaksanakan perintahNya. Kalau orang mengasihi Allah pastilah dia dengan sukacita melaksanakan perintahNya.

Yesus menegaskan, “Jika orang mengasihi Aku, ia akan menuruti sabdaKu. BapaKu akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama dia.” Kami sangat mengasihi Tuyem, Browni dan Unyil.

Mereka tahu kalau dikasihi, mereka pun juga mengasihi kami, menjaga kami dan menuruti perintah kami. Mungkin pada awal mulanya Tuyem punya trauma terhadap Pak Mur. Tetapi ketika Pak Mur mulai mengasihinya, Tuyem melunak dan tak lagi mencurigainya. Tak lagi garang seperti dulu.

Kasih itu membuat perubahan. Orang yang merasa dikasihi Allah, hidupnya berubah. Ia akan mengasihi dan menuruti perintah-perintahNya. Anjing saja bisa setia menuruti perintah tuannya, bagaimana kita tidak setia kepada Allah yang mengasihi kita sedemikian rupa.

Pag-pagi pergi ke sawah
Pulang sore membawa ketela
Barangsiapa dengan setia mengasihi Allah
Ia akan menuruti segala perintahNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.05.19 Minggu Paskah V Yohanes 13:31-33a. 34-35 Belajar dari Angsa

SEGEROMBOLAN Angsa terbang untuk menghindari musim dingin dan mencari tempat yang lebih hangat. Mereka terbang bergerombol dalam jumlah yang besar. Kebanyakan formasi terbang mereka membentuk “V”.

Ternyata ada banyak pelajaran bisa dipetik dari formasi angsa terbang ini. Seperti moncong pesawat, kereta api, kapal yang runcing di depan, fungsi angsa pertama paling depan adalah membelah udara. Sang pemimpin harus berani ambil resiko pertama.

Kepakan sayap angsa di depan memberi daya dukung atau motivasi bagi yang di belakangnya. Dengan formasi terbang seperti itu memungkinkan jarak terbangnya menjadi 71% lebih jauh. Dengan kata lain kekompakan dan kerjasama dalam tim memberi daya 71% lebih kuat.

Seperti halnya ranting yang selalu bersatu dengan pokoknya akan menghasilkan buah banyak. Kalau angsa di depan lelah, dia akan terbang ke belakang dan digantikan dengan yang lain supaya formasi tetap terjaga.

Angsa mengeluarkan suara riuh rendah untuk saling menguatkan. Seperti para tentara yang berbaris sambil bernyanyi saut-sautan, mereka saling mendukung dang memberi semangat. Jika ada satu yang terluka, dua angsa lain akan menemani terbang bersama. Inilah sebuah solidaritas dan toleransi.

Yesus memberi warisan kepada murid-muridNya, Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”.

Seperti angsa yang tahu ada temannya sedang mengalami kelelahan, angsa yang lain akan menemaninya, bukan Cuma satu ekor tetapi dua ekor sekaligus, sampai mencapai tempat yang dituju.

Kasih itu nampak dalam saling mendukung, menolong, kompak bekerja bersama, saling menguatkan satu sama lain.

Angsa juga menjadi simbol kesetiaan. Kalau kita memberkati perkawinan, cincin perkawinan ditaruh di patung 2 angsa putih. Angsa adalah binatang monogam. Dia setia dengan pasangannya. Maka binatang ini dipilih dalam upacara perkawinan.

Kasih itu nampak dalam kesetiaan dengan pasangannya. Tuhan mengajak kita untuk saling mengasihi. Kasih itu menjadi tanda bahwa kita adalah murid-muridNya. Kristus telah memberi contoh tentang kasih dengan wafatNya di kayu salib.

Marilah kita saling menaruh cinta kasih.

Angsa terbang tidak sendiri
Mereka bergerombol menembus awan
Kalau kita saling mengasihi
Kita menunjukkan sebagai murid-murid Tuhan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.05.19 Yohanes 14:7-14 “Anake Sridadi!”

ROMO Jayasewaya sangat terkesan dengan Bapak saya. Beliau pernah berkunjung ke Daerah Pasang Surut di Palembang. Waktu itu Bapak ikut transmigrasi ke sana pada tahun 1981. Romo Jaya sebagai Delsos KAS waktu itu mengunjungi umat katolik di daerah trasmigrasi.

Oleh Bapak, beliau diantar ke sampai ke Pasang Surut. Di rumah beliau dijamu oleh ibu dengan makanan-makanan tradisional, seperti ubi, sayur lodeh, nasi jagung dan lain-lain. Beliau sangat menikmati dan terkesan.

Sekarang beliau sudah lanjut usia. Tinggal di Wisma Lansia, duduk di kursi roda dan selalu dibantu oleh pramuladi. Kalau ketemu dengan saya, beliau lupa nama saya. Tetapi kalau saya sebut Sridadi, nama Bapak saya, Wajahnya berbinar dan langsung berkata lirih, “Pasang Surut, Romo Joko anake Sridadi!”.

Beliau lebih mengenal dan ingat Bapak, kalau berjumpa dengan saya. Saya pun juga, akan menyebutkan nama Bapak saya lebih dahulu kalau memperkenalkan diri di hadapan beliau.

Dalam amanat perpisahanNya, Yesus berkata, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal BapaKu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia”. Yesus adalah Putera Bapa.

Kalau kita mengenal Yesus, kita juga mengenal Bapa. Apa yang dilakukan oleh Yesus adalah melaksanakan kehendak BapaNya. Perbuatan dan sabda Yesus berasal dari BapaNya sendiri.

Dalam pepatah Jawa dikataka, “Kacang mangsa ninggala lanjaran”. Pohon kacang itu tumbuh dengan menjalar di “lanjaran” atau tonggak bambu yang ditancapkan untuk menopang tumbuhnya kacang panjang dan daun-daunnya.

Tak mungkin kacang bisa tumbuh kalau tidak ada lanjarannya. Pepatah itu mau mengatakan, seorang anak akan tumbuh mengikuti bimbingan, teladan, nasehat, ajaran dan petuah orangtuanya.

Yesus menjawab Filipus, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku.

Dialah yang melakukan pekerjaanNya.” Nah, kalau kita mengenal Yesus, kita mestinya juga mengenal BapaNya. Begitu sebaliknya, kalau Yesus mengenal kita, BapaNya pasti juga mengenal kita. Mari kita mendekati Yesus, supaya BapaNya mengenali siapa kita.

Kalau kita tak mau mendekatiNya, BapaNya nanti tidak akan mengenal kita. Nanti di surga, Bapa akan menanyai kita, “kamu mengenal AnakKu tidak? Kok Aku tidak pernah berjumpa denganmu?”. Nah lho, gimana tuh?

Beli mobil mereknya Lexus
Gak bisa dinaiki sampai ke Tembelina
Kalau kita mengenal Yesus
Kita juga akan mengenal BapaNya.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.05.19 Yohanes 14:1-6 Akulah Jalan

KEJADIAN ini belum lama berselang. Belum lama ini ada sanak yang meninggal. Masih saudara dengan keluarga kami. Yang meninggal ini sejak lama mengikuti Yesus. Beriman secara katolik. Namun pada saat beliau sakit, tinggal di rumah anaknya yang tidak katolik.

Dia dimakamkan dengan cara lain. Belum ada 40 hari selang beliau meninggal. Adiknya yang katolik selalu didatangi arwah kakaknya. Orang yang meningal ini mengatakan bahwa tidak nyaman dengan baju yang baru. Dia minta baju yang lama, yang biasa digunakan.

Setelah berembug dengan keluarga, akhirnya diadakan doa dan mohon ujub misa di gereja. Sesudah didoakan itu, orang yang meninggal ini tidak pernah lagi datang ke rumah. Dalam mimpi, adiknya berjumpa dengan kakak yang sudah meninggal ini telah bahagia di alam sana.

Yesus berkata kepada kepada murid-muridNya, “Janganlah gelisah hatimu; ercayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Sebab Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu”.

Sabda Yesus ini sungguh menjadi jaminan bagi kita. Percaya kepada Yesus menjamin kita memperoleh keselamatan kekal.

Kejadian di atas semakin menguatkan iman kita, bahwa beriman kepada Yesus itu tak tergantikan. Iman kepada Yesus memberi jaminan keselamatan. Ketika ibu yang meningal itu diberi baju baru, ternyata dia tidak nyaman dan tenteram di sana.

Dia mendatangi adiknya minta diberi baju yang biasa dipakai sewaktu masih hidup. Baju itu adalah iman akan Yesus. Ketika keluarganya mengadakan misa dengan ujub mendoakannya, ibu itu tak pernah lagi datang ke rumah.

Ia telah memakai baju yang menyelamatkan, yakni Yesus yang telah bangkit. Ia telah masuk ke tempat yang telah disediakan Yesus. Tempat itu adalah tempat yang damai abadi di surga.

Yesus telah berkata, “Akulah Jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Ibu yang meninggal itu telah menemukan jalan yang benar yakni Yesus Kristus. Yesus adalah Jalan karena Ia mengantarkan kita menuju Bapa.

Kata-kataNya adalah kebenaran karena Yesus tidak hanya berkata-kata kosong, tetapi Ia mewujudkannya sampai mati di salib. Yesus adalah kehidupan, barangsiapa percaya kepadaNya akan memperoleh hidup kekal. Setialah selalu mengikuti Yesus.

Ke pasar membeli timus
Kalau besuk pergi bisa jadi bekal
Kalau kita setia mengikuti Yesus
Kita dijamin memperoleh hidup kekal

Berkah Dalem,
Rm, A, Joko Purwanto Pr