by editor | Aug 19, 2020 | Renungan
“Undangan Pesta”
KETIKA bertugas di Nanga Tayap, beberapa kali saya mendapat undangan pernikahan dari orang tak dikenal. Undangan itu nampaknya disebar untuk umum. Karena pernah juga saya mendapat undangan supitan atau akikoh dari tetangga orang melayu.
Siapa pun diundang. Tidak peduli kita kenal dengan yang mengundang atau tidak. Ketika saya datang di pesta itu, rasanya kikuk juga karena saya tidak mengenal mereka, juga para undangan yang lain. Tidak nyaman juga rasanya.
Saya ngobrol sebentar dengan tuan rumah, setelah memasukkan amplop sumbangan lalu menyalami tuan rumah, langsung pulang. Mereka lalu “rasan-rasan”, bapak pastor itu suka kondangan juga. Pernah juga saya disapa, “Bapak Pastor mana istrinya kok sendirian saja.”
Hari ini Yesus memberi perumpamaan kepada para imam kepala dan pemuka rakyat. “Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya.”
Mereka yang diundang tidak mau datang. Mereka tidak mengindahkannya. Ada yang pergi ke ladang. Ada yang pergi mengurus usahanya. Bahkan ada yang menangkap, menyiksa dan membunuh hamba-hamba itu.
Karena tidak ada yang datang, maka hamba-hamba itu diminta mengumpulkan siapa pun yang dijumpai di jalan-jalan. Orang jahat dan orang baik dimasukkan ke dalam perjamuan pesta.
Tentu saja ada orang yang tidak siap berbaju pesta. Maka orang itu dicampakkan keluar. Yesus berkata, “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”
Dalam sebuah pesta, kita tidak boleh datang asal datang. Kita mesti menyesuaikan dresscode yang dipakai. Baju pesta berbeda dengan baju melayat atau berkabung. Jangan sampai kita saltum alias salah kostum.
Kita mesti menyesuaikan aturan yang dibuat oleh orang yang mengundang pesta. Ada standing party, “piring terbang”. Ada pesta dengan aturan dan tata adat yang ketat.
Kalau tidak bisa menyesuaikan, kita akan bermasalah. Tuan yang empunya pesta itu mengusir orang yang datang tidak menyesuaikan baju pesta.
Tuhan itu murah hati, mengundang siapa pun juga. Tetapi kita mesti berusaha menyesuaikan kehendak-Nya.
Kalau kita mau ikut masuk ke dalam pesta perjamuan-Nya, kita harus mau mengikuti sang empunya pesta. Tuhan itu baik, tapi kita mesti juga tahu diri.
Pesta meriah dengan tari begendang.
Semua ikut berputar menari-nari.
Tuhan itu baik, kita semua diundang.
Namun kita harus bisa menyesuaikan diri.
Cawas, skenario kedua….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 18, 2020 | Renungan
SEORANG pemuda duduk di gereja untuk mengikuti misa. Pada waktu kotak kolekte diedarkan, ia mengambil dompet dari sakunya. Ia memasukkan ke kotak kolekte selembar duaribuan.
Tiba-tiba seorang bapak yang duduk di belakangnya, menepuk pundaknya. Ia memberikan lembaran seratus ribu kepada pemuda itu. Pemuda itu tersenyum dan memasukkan uang seratus ribu itu ke kotak kolekte.
Ia kagum pada bapak yang sangat murah hari itu. Pada waktu salam damai, bapak yang di belakang itu mengucapkan salam damai sambil berbisik, “Nak, uang yang seratus ribu tadi jatuh dari saku celanamu.”
Yesus memberi perumpamaan tentang pekerja kebun anggur yang diupah sedinar sehari. Rombongan pertama mulai bekerja pukul sembilan. Rombongan berikut mulai bekerja pukul duabelas dan tiga sore.
Masih ada rombongan terakhir yang mulai bekerja pukul lima sore. Ketika hari sudah malam, mereka semua menerima upah yang sama yakni satu dinar.
Bersungut-sungutlah mereka yang bekerja lebih awal dan lama. Mereka mengira akan mendapat upah lebih banyak daripada yang datang terakhir.
Tetapi Tuan itu berkata, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah Aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
Tuan itu murah hati. Logika kita, pekerja pertama akan memperoleh lebih banyak daripada pekerja terakhir yang hanya bekerja satu jam saja. Manusia murah hati untuk dirinya, tetapi untuk orang lain tidak.
Seperti pemuda tadi, hitung-hitung dulu untuk kolekte. Murah hati itu memberikan lebih daripada apa yang diwajibkan. Kesepakatannya adalah sedinar sehari. Tuan itu telah melakukan kewajibannya. Ia bermurah hati kepada pekerja lain yang datang terakhir pada jam lima sore.
Allah itu juga murah hati. Iri hati malah membuat kita tidak bersyukur. Iri hati membuat kita membanding-bandingkan dengan orang lain. Lalu menuduh Allah tidak adil memperlakukan kita.
Allah itu maha kuasa. Ia mempunyai kebebasan mutlak. Semestinya kita bersyukur dan berterimakasih karena kita diberi hidup. Mari kita mohon agar dijauhkan dari sikap iri hati.
Bekasi tidak terlalu jauh dari Jakarta.
Bisa ditempuh sekali jalan dengan kereta.
Iri hati munutup kebaikan terhadap sesama.
Bersyukur akan membuat hati lebih bahagia.
Cawas, nyepeda yuk…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 17, 2020 | Renungan
PENDUDUK Afrika mempunyai cara sederhana menangkap monyet. Mereka memasang botol dengan leher panjang dan sempit dan ditanam di dalam tanah. Di dalam botol itu ditaruh kacang kegemaran para monyet.
Mereka memasang pada sore hari. Esoknya mereka menemukan monyet terjebak yang tangangnya tidak bisa lepas dari botol itu. Kenapa?
Ketika mencium aroma kacang, tangan monyet masuk ke leher botol yang sempit.
Ia menemukan kacang dan menggenggamnya. Karena tangan menggenggam kacang maka dia tidak bisa lepas dari botol itu dan terjebak “kethap-kethip” sepanjang malam. Ia ditangkap dan tidak selamat.
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata, “Sungguh, sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor untuk masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Ini adalah gaya sastra peribahasa. Kita perlu mengerti konteks pemukiman atau kota pada zaman Yesus.
Kota zaman dulu dikelilingi oleh benteng. (Ingat di Kraton Yogya ada “Pojok Beteng Kulon” dan “Pojok Beteng Wetan”). Ini bentuk strategi perang untuk melindungi diri dari musuh.
Selain ada gapura utama, benteng itu juga ada jalan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu orang, seekor unta atau keledai.
Beban atau barang yang dibawa unta harus diturunkan dahulu supaya dia bisa masuk ke kota. Jalan kecil itu disebut “lubang jarum.” Unta akan mudah masuk lubang jarum jika bawaannya dilepaskan.
Sama seperti monyet yang tidak bisa mengeluarkan tangannya karena ia tidak mau melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya.
Begitu juga kita tidak akan selamat dan masuk ke dalam Kerajaan Surga kalau kita masih menggenggam dosa-dosa kita; kebencian, irihati, dengki, sakit hati, kesombongan, “jahil methakil, dahwen panasten”, serakah, egois.
Selain itu, kita juga diingatkan bahwa harta kekayaan itu tidak akan dibawa mati. Harta itu seumpama beban yang harus dilepaskan dari punggung unta agar bisa masuk ke dalam kota.
Kekayaan juga harus ditinggal supaya kita masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bukan harta melimpah, tetapi kebaikanlah yang kita bawa masuk ke hidup abadi. Semakin harta banyak semakin sulit masuk ke lubang jarum.
Menyeberang di bundaran.
Menuju ke Stasiun Tugu.
Taburkanlah kebaikan.
Maka pintu surga dibuka untukmu.
Cawas, tak jadi ke barat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 16, 2020 | Renungan
“Berikan Kepada Kaisar”
“SEBUTKAN nama-nama pahlawan dan asalnya.” Bu guru memberi perintah lewat pelajaran daring kepada murid-muridnya. Mereka menjawab lewat HP mereka; Cut Nyak Dien dari Aceh. Imam Bonjol dari Padang. Raden Inten dari Lampung. Dewi Sartika dari Jawa Barat. Agustinus Adisucipto dari Yogyakarta. Basuki Rahmat dari Jawa Timur. I Gusti Ngurah Rai dari Bali. Rahadi Oesman dari Ketapang. Cilik Riwut dari Palangkaraya. Martha Christina Tiahahu dari Maluku. Mayor John Lie atau Lie Tjeng Tjoan dari Sulawesi Utara. Robert Walter Monginsidi dari Sulawesi Selatan. Marthen Indey dari Papua.
Bu guru dengan bijak menyimpulkan jawaban mereka. Rumah kita Indonesia ini dibangun atas darah para pahlawan dari berbagai suku, agama dan daerah. Indonesia adalah rumah bersama, bukan rumah satu golongan.
Kita harus membangun bersama dalam keberagaman. Ada Aceh, Bugis, Minangkabau, Dayak, Jawa, Papua, Flores, Bali. Ada Islam, Katolik, Hindu, Budha, Kepercayaan dan Kristen. Semua menyumbangkan darahnya untuk Indonesia.
Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia. Bacaan Injil berbicara tentang membayar pajak kepada kaisar. Orang Farisi mencobai Yesus dengan bertanya, “Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?”
Yesus memberi jawaban jitu. “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Apa yang wajib diberikan kepada negara, tidak bertentangan dengan perintah agama. Menghormati negara bisa menjadi perwujudan mengasihi Allah. Pada peringatan kemerdekaan Indonesia ini kita bisa merenungkan sejauhmana kewajiban negara itu kita tunaikan.
Ada orang Katolik yang tidak mau terjun di tengah masyarakat. Mereka tidak mau ikut ronda, iuran kampung, srawung atau muncul di acara-acara kampung. Hal-hal kongkret seperti itulah yang harus kita berikan kepada “kaisar.”
Semua orang dari berbagai kalangan bisa menyumbangkan apa pun untuk Indonesia. Tantangan kita bersama adalah membangun kerukunan dan persatuan.
Rumah bersama ini perlu dijaga. Mari kita sumbangkan dan kembangkan budaya rukun hidup bertetangga, berbangsa dan bernegara.
Rukun agawe santosa,
Crah agawe bubrah.
Merdeka….
Merdeka….
Merdeka….
Cawas, hormat senjata….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 16, 2020 | Renungan
“Munificentissimus Deus”
PAUS Pius XII mengeluarkan ajaran berjudul Munificentissimus Deus yang memuat dogma tentang Maria diangkat ke surga pada tanggal 1 Oktober 1950. Ajaran itu bukan sesuatu yang baru.
Tetapi dirumuskan berdasarkan kepercayaan umat yang sudah berlangsung berabad-abad. Sumber kepercayaan Katolik bukan hanya Kitab Suci, tetapi juga tradisi-tradisi yang hidup di tengah umat. Sebelum Kitab Suci ditulis, sudah ada kisah-kisah lesan yang diceritakan turun temurun.
Begitu juga keyakinan tentang Bunda Maria yang mempunyai iman istimewa dan unik dalam karya keselamatan sudah mendarah daging di hati umat. Maria diyakini ikut terlibat secara langsung dalam karya Kristus.
Umat percaya bahwa Maria adalah Bunda Allah, karena Kristus adalah Putera Allah. Kristus sebagai Putera Allah tidak berdosa, maka Maria yang melahirkan-Nya diyakini sebagai Bait Suci Allah yang tak bernoda.
Maria juga ikut menderita bersama Puteranya yang memanggul salib. Maria menerima pemenuhan janji Kristus. St. Paulus menulis, “….jika kita menderita bersama-sama dengan Dia….kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”
Dan karena Bunda Maria adalah yang pertama menderita bersama Yesus dengan sempurna, maka layaklah bahwa Tuhan Yesus memenuhi janji-Nya ini dengan mengangkat Bunda Maria dengan sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, segera setelah wafat-Nya.
Dogma atau ajaran resmi Gereja bahwa Maria diangkat ke surga sebenarnya sudah tertanam lama dalam keyakinan umat. Paus Pius XII merumuskan keyakinan itu sebagai ajaran resmi gereja. Inilah bunyi dogma itu :
“…. dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (MD 44)
Ajaran ini bagi umat Katolik meneguhkan bahwa siapa pun yang taat setia seperti Bunda Maria akan “diangkat” atau dipersatukan dengan Kristus di surga.
Maria adalah teladan iman yang sempurna. Siapa yang imannya seperti Maria, akan mengalami kemuliaan kekal di surga. Marilah kita meneladan Bunda Maria.
Mimpi pegang ATM di balik pintu.
Ternyata tersimpan di dalam saku.
Mengikut Maria kerinduanku.
Menjadi abdinya cita hidupku.
Cawas, jalan-jalan hanya mimpi….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr