Puncta 10.10.19 Lukas 11:5-13 / Julio Iglesias yang terus berdoa

 

BANYAK pengalaman saya dalam doa sering dikabulkan. Terus terang saya sering berdoa melalui Bunda Maria.

Bisa jadi karena saya dipengaruhi oleh kedekatan dengan ibu. Doa-doa saya rasanya lebih masuk melalui Bunda Maria.

Saya sering berdoa Salam Maria, rosario atau novena-novena Bunda Maria. Waktu dulu sering turne ke pedalaman, sambil naik sepeda motor, mulut saya “ndremimil” mengucapkan doa Salam Maria.

Selain menghilangkan rasa takut dan kawatir – apalagi kalau musim hujan – juga bisa menghilangkan rasa capek. Perjalanan panjang dan melelahkan bisa hilang karena dilakukan sambil berdoa.

Apa yang saya minta dalam doa, sering terwujud. Saya yakin bahwa Allah itu maharahim seperti seorang ibu yang baik hati.

Hari ini Yesus berkata kepada murid-muridya, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Sabda Yesus itu bukan isapan jempol belaka. Saya sudah sering mengalaminya. Bahkan pada saat-saat kritis, tidak ada kekuatan yang lebih ampuh kecuali doa.

Masih ingat Julio Iglesias, penyanyi bersuara emas asal Spanyol, mantan pemain sepakbola dari Real Madrid yang kecelakaan mobil dan mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah?

Dalam keputusasaannya, dia berdoa kepada Tuhan. Lalu datanglah perawat yang membawa gitar saat dia terapi di rumah sakit. “Mainkan gitar dan bernyanyilah” kata perawat itu.

Mulai saat itu Julio Iglesias berlatih vokal dan akhirnya menjadi penyanyi terkenal di seluruh dunia. “Kalau Tuhan menutup pintu, pasti Dia akan membuka jendela” katanya untuk menegaskan supaya kita tidak pernah berhenti meminta kepada Tuhan.

Tuhan itu mahabaik. Bapa manakah di antara kalian, yang memberi anaknya sebuah batu, kalau anak itu minta roti? Atau seekor ular kalau anaknya minta ikan?

Atau kalajengking, kalau yang diminta telur? Begitulah Bapa di surga. Ia akan memberi apa yang diminta anak-anakNya. Masalahnya maukah kita meminta?

Di Parangtritis menyewa kuda
Menyusur pantai indah suasana
Janganlah berhenti untuk berdoa
Janganlah malu untuk meminta

Dari Fatima sore yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 09.10.19 Lukas 11:1-4 / Pater Noster

 

DOA yang paling sering kita ucapkan adalah doa Bapa Kami. Doa itu mudah diucapkan tetapi kita kadang tidak sadar dan sering lupa melakukanya.

Kalau kita kupas satu per satu, kita akan tahu segala konsekuensinya.

Dikuduskalah namaMu; apakah kita rajin dan setia memuliakan nama Tuhan?

Bagaimana kita menguduskan nama Tuhan? Apakah perkataan dan tindakan kita bisa menjadi cermin kekudusan nama Tuhan?

Datanglah KerajaanMu; Kerajaan Allah datang dalam wujud damai sejahtera, kasih, sukacita. Apakah kehadiran kita membawa damai di tengah keluarga, masyarakat?

Apakah kita menolong sesama agar mereka merasakan sejahtera? Kerajaan Allah terwujud jika kita membawa kasih di sekitar kita. apakah kehadiran kita di tengah keluarga sungguh dirindukan?

Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya; apakah kita mensyukuri rejeki pemberian Tuhan? Apakah kita sering membantu orang lain dengan rejeki Allah ini?

Apakah kita hidup boros atau banyak membuang makanan? Apakah kita serakah dan merasa tidak cukup dengan pemberian Tuhan?

Ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; apakah kita tidak menyimpan dendam kepada orang lain?

Benarkah kita sungguh mengampuni orang lain? Sesering apa kita menerima sakramen pengampunan dosa?

Percayakah anda bahwa Allah maha pengampun? Kapan terakhir anda mengampuni orang lain?

Jaganlah membawa kami ke dalam pencobaan : Tuhan yang mahakasih itu tidak akan membawa kita kepada pencobaan.

Justru sebaliknya, kitalah yang suka mencoba-coba kepada pencobaan. Seperti Hawa yang makan buah terlarang, padahal Tuhan sudah mengingatkannya karena Tuhan tidak mau membawa manusia ke dalam pencobaan. Begitulah manusia jatuh dalam dosa.

Kalimat terakhir dalam doa Bapa Kami ini telah diperbaharui terjemahannya. Paus Fransiskus menyetujui perubahan pada penerjemahan satu kalimat Doa Bapa Kami, dari semula

“janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” menjadi “jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan.” Coba dirasakan isi kalimat itu, maknanya sangat berbeda.

Menyusuri jalan di Fatima
Menengok keluarga Suster Lucia
Doa adalah mantra
Kata-kata yang mempunyai daya

Dari Salamanca ke Fatima
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.10.19 Lukas 10:38-42 / Ora Et Labora

 

DOA dan kerja itu seperti dua sisi dalam sekeping mata uang. Keduanya tak bisa dipisahkan. Ketika hidup doa dan karya tidak seimbang, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Dalam sebuah komunitas hidup biara hal itu sangat mudah dideteksi. Ada orang yang sangat sibuk dengan karya pastoralnya. Mulai pagi sampai malam sibuk dengan pekerjaan dan lupa meluangkan waktu berdoa.

Bahkan waktu bersosialisasi dengan teman komunitas saja sangat terbatas saking sibuknya macam-macam urusan kerja. Akhirnya orang itu mundur juga.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria. Marta sibuk melayani, menyiapkan segala sesuatu demi tamunya.

Hal itu baik-baik saja. Tidak jelek melayani tamu yang datang. Yang salah adalah dia tidak tulus melakukan pekerjaan itu.

Ia mengeluh dan merasa “diperbudak” dengan pelayanan itu. “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Seandainya Marta tidak iri dan cemburu dengan posisi Maria yang duduk mendengarkan Yesus, pasti Yesus akan mengapresiasi pelayanannya.

Ketika pekerjaan dilakukan dengan keluh kesah dan kecemburuan, nilai kerja itu malah berkurang.

Yesus menghargai Maria yang duduk mendengarkanNya. Yesus ingin mengatakan bahwa doa itu perlu agar kerja makin bermakna.

Doa adalah sumber semangat untuk kerja. Kerja adalah perwujudan dari spiritualitas kita. Ora et labora.

Seperti kopi yang sudah mengendap setelah diaduk-aduk sungguh nikmat rasanya. Begitulah doa menjadi saat tenang, hening, setelah seharian sibuk bekerja.

Doa adalah saat mengendap. Dalam bahasa Jawa, “menep.’ Hidup akan terasa nikmat seperti kopi kalau kita bisa “menep”, mengendapkan semua pengalaman.

Itulah saatnya berdoa. Ada waktu sibuk bekerja. Ada waktu hening berdoa. Keduanya harus seimbang.

Hari ini kami singgah di Salamanca
Terus lanjut menuju ke Fatima
Setelah seharian sibuk bekerja
Biarkan dirimu hening untuk berdoa

Iglesia del Carmen de Abajo, Salamanca.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 07.10.19 PW St. Maria Ratu Rosario Lukas 10:25-37 / Rosario adalah Senjata kita

 

PESTA ini dibuat untuk mengenang peristiwa saat Paus Pius V berdoa rosario bersama umat di Basilika Maria Maggiore untuk pasukan Kristen yang terdesak di Lepanto.

Peristiwa itu terjadi pada 7 Oktober 1571. Berkat doa rsario itu pasukan Kristen menang dalam pertempuran. Menurut pikiran manusia hal itu tak mungkin.

Tetapi karena bantuan Maria, kemenangan bisa terwujud. Maka Paus Gregorius XII menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari raya Maria Ratu Rosario suci dan bulan Oktober sebagai bulan Rosario.

Dalam bacaan Injil hari ini dijelaskan siapakah sesamaku manusia. Sesamaku adalah mereka yang membutuhkan pertolongan. Saling tolong menolong menujukkan martabat kita sebagai manusia yang berbudi luhur.

Masih banyak di sekitar kita, sesama yang menderita, berbeban berat, tertindas, diperlakukan tidak adil. Mereka membutuhkan uluran tangan kita.

Di lain pihak, ada juga orang-orang yang bertindak seperti kaum imam atau Lewi. Mereka congkak dan sombong hati, tidak mau menolong sesama yang menderita.

Dalam diri kita masih ada sikap-sikap seperti mereka itu. Inilah yang harus dikalahkan. Sikap egois dan menghindari masalah itulah yang harus kita singkirkan.

Masih banyak kejahatan, nafsu dan dosa yang ada di sekitar kita. kita tidak mampu menghadapi sendirian. Kita membutuhkan bantuan. Rosario suci bisa menjadi senjata kita.

Berdoa kepada Bunda Maria bisa menolong kita mengalahkan segala kejahatan dan dosa.

Marilah kita rajin berdoa meminta pertolongan kepada Maria. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kita boleh dan harus berharap kepadaNya.

Perut melilit sudah minta roti
Roti dioles dengan jem jambu
Bunda Maria yang baik hati
Doakanlah kami anak-anakmu

Plaza de Espana Madrid, di ujung sebuah taman
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 06.10.19 Minggu Biasa XXVII Lukas 17:5-11 / Iman Sebiji Sesawi

 

KISAH nyata penuh inspiratif seorang bernama Manjhi. Kisah itu telah diangkat dalam film berjudul “Manjhi – The Mountain Man” oleh sutradara India bernama Ketan Mehta.

Berdasarkan pada kisah nyata, film ini membawa kisah Manjhi menjadi terkenal di seluruh dunia sekitar tahun 2015.

Menurut laporan Hindustantimes, Dasrath Manjhi mulai membelah gunung berbatu seluas 91 meter ketika dia terlambat membawa istrinya, Falguni, ke rumah sakit pada tahun 1959.

Manjhi mulai menghabiskan 22 tahun menggali, memecahkan batu menggunakan kapak sampai penduduk desa mengatakan dia gila.

Mengabaikan hinaan dari orang-orang desa, Manjhi akhirnya berhasil mengurangi jarak 70 kilometer dari Gehlaur ke Wazirgang, dan kini hanya butuh satu kilometer dari desanya ke rumah sakit.

Kalau orang tidak mempunyai iman yang kuat, pasti tidak bisa melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal itu.

Hari ini Yesus berkata, “Sekiranya kamu memiliki iman sebesar bisi sesawi, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini, ‘Terbentunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut’ dan pohon itu akan menuruti perintahmu.”

Dengan iman, gunung pun dapat dipindahkan. Biji sesawi itu sangat kecil. Jika iman sebiji sesawi saja bisa memindahkan gunung, apalagi kalau iman itu sungguh kuat.

Manjhi dapat menjadi contoh bagi kita, bahwa tidak ada hal yang mustahil jika kita mempunyai iman yang kuat. Iman itu tertanam dalam niat yang kuat.

Niat yag kuat menggerakkan kita menjadi sebuah tindakan, karya, kerja yang nyata. Kalau tindakan itu kita lakukan terus menerus maka terciptalah habitus atau karakter diri.

Marilah kita mohon iman kepada Tuhan. Iman kita tanamkan dalam niat yang kuat. Niat kita wujudkan dalam tindakan nyata.

Iman akan menjadi perbuatan. Perbuatan akan menjadi habitus. Habitus akan menjadi karakter. Gunung setinggi apa pun bisa ditembus seperti usaha Manjhi itu.

Batu itu adalah benda yang berat
Terkena tetesan air menjadi lemah
Tuhan berilah kami iman yang kuat
Semua akan menjadi kenyataan yang indah

Jakarta, menuju ke kota suci
Rm. A. Joko Purwanto Pr

(Maaf renungan awal yg terlanjur terkirim keliru bacaan Injilnya)

Puncta 05.10.19 Lukas 11:5-13 / Doa Yang Dikabulkan

 

DUA orang kakak beradik berdoa kepada Tuhan. Sang kakak berdoa, “Ya Tuhan saya sedang nganggur, berilah saya pekerjaan yang enak. hanya dengan goyang-goyangkan kaki saja sudah mendatangkan uang.”

Adiknya tidak mau kalah. Ia juga berdoa,”Tuhan, enak sekali kakak saya itu. Saya gak mau kalah dengan dia. Berilah saya pekerjaan yang hanya dengan mengibas-ibaskan tangan saja, saya dapat uang banyak.”

Akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan mereka berdua. Sang kakak memperoleh pekerjaan sebagai tukang jahit dan adiknya jualan sate keliling di komplek perumahan.

Hari ini Tuhan Yesus berkata, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, akan menerima; setiap orang yang mencari. Akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu.”

Yesus membandingkan Allah dengan seorang bapa yang tidak akan memberi batu kalau anaknya minta roti, seekor ular kalau anaknya minta ikan, atau kalajengking kalau anaknya minta telur.

Kalau kita manusia yang berdosa bisa memberi yang baik kepada anak-anak kita, pastilah Allah akan memberikan yang lebih baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.

Yang penting menurut saya adalah jangan memaksakan kehendak kita kepada Allah. Orang meminta itu sangat tergantung dari yang memberi.

Seperti orang-orang yang meminta di perempatan jalan itu, mereka tidak bisa memaksa kepada para sopir untuk memberinya. Mereka hanya menunggu belaskasihan sang pemberi.

Demikian pun kita harus berani terus meminta dengan sabar sampai Tuhan memberikan kepada kita. Kalau kita mulai memaksa, kita akan kecewa. Kalau kecewa, lalu menyalahkan dan menghojat Allah. Dan siapakah kita sampai berani memaksakan kehendak kepada Allah?

Seperti Lazarus miskin yang menunggu belaskasihan orang kaya, tidak mendapat apa-apa, ia tetap sabar menanti. Ketika Lazarus mati, Allah lah yang memberi lebih dari apa yang dia minta.

Kita juga diajak untuk terus sabar meminta. Bisa jadi Allah menguji kesabaran dan kesetiaan kita. Menjadi sabar, rendah hati, pasrah, selalu punya harapan, yakin bahwa Allah itu mahabaik adalah nilai-nilai yang dapat dipetik dari para peminta.

Mungkin hal yang kita minta tidak dikabulkan, tetapi nilai-nilai kebaikan itu kita peroleh dalam diri kita.

Anak-anak Tarakanita bermain di tengah sawah
Berpanas-panas kena sinar matahari
Dengan berani meminta kepada Allah
Kita belajar rendah hati untuk diri sendiri

Cawas, waktu ada acara live in
Rm. A. Joko Purwanto Pr